Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Utang

Utang adalah uang yang dipinjam dari orang lain atau kewajiban membayar kembali apa yang sudah diterima [1]. Utang dalam bahasa Arab ada beberapa kata,

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan kita temukan kata “Hutang” yang dirujukkan pada kata utang. Kata “hutang” tidak diberi makna, yang diberi makna hanyalah utang. Jadi kata yang lebih baku dalam Bahasa Indonesia adalah Utang. [3]

Berhutang

Wajibnya Mengembalikan Utang

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْخُطْبَةِ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ الْعَارِيَةُ مُؤَدَّاةٌ وَالزَّعِيمُ غَارِمٌ وَالدَّيْنُ مَقْضِيٌّ

…dari Abu Umamah ia berkata; Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam khutbahnya ketika haji wada’: “Barang pinjaman itu harus dikembalikan, orang yang menjamin harus membayar jaminannya serta hutang harus dibayar.” (H.R. Tirmidzi). [4]

Orang yang Terbaik adalah yang Paling Baik dalam Melunasi Utang

Diriwayatkan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خِيَارُكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً

…Dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam membayar (hutang).” (H.R. An-Nasai) [5]

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَقَاضَاهُ فَأَغْلَظَ فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ فَإِنَّ لِصَاحِبِ الْحَقِّ مَقَالًا ثُمَّ قَالَ أَعْطُوهُ سِنًّا مِثْلَ سِنِّهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا أَمْثَلَ مِنْ سِنِّهِ فَقَالَ أَعْطُوهُ فَإِنَّ مِنْ خَيْرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ قَضَاءً

…dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Ada seorang laki-laki yang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menagih apa yang dijanjikan kepadanya. Maka para sahabat marah kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarkanlah dia karena bagi orang yang benar ucapannya wajib dipenuhi”. Kemudian Beliau berkata: “Berikanlah untuknya seekor anak unta”. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, tidak ada ‘‘unta lain’’ kecuali yang umurnya lebih tua”. Maka Beliau bersabda: “Berikanlah kepadanya, karena sesungguhnya yang terbaik diantara kalian adalah yang paling baik menunaikan janji (utang)”. (H.R. Al-Bukhari) [6]

Diriwayatkan,

أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ

…Bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menunda pembayaran hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman”. (H.R. Bukhari) [7]

Belum Lunasnya Hutang Menghalangi dari Surga Walaupun Syahid

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

…Dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang mukmin itu terhalang dengan hutangnya, hingga dibayar hutang tersebut.” (H.R. Tirmidzi) [8]

Diriwayatkan,

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْ ثَلَاثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنْ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ

dari Tsauban -mantan budak- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa disaat ruhnya berpisah dengan jasadnya ia terbebas dari tiga hal maka ia akan masuk surga, yaitu; sombong, mencuri ghanimah sebelum dibagi dan hutang.” (H.R. Ibnu Majah) [9]

Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلَّا الدَّيْنَ

…dari Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang mati syahid akan diampuni segala dosa-dosanya kecuali hutang.” (H.R. Muslim) [10]

Diriwayatkan,

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَحْشٍ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ وَضَعَ رَاحَتَهُ عَلَى جَبْهَتِهِ ثُمَّ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا نُزِّلَ مِنْ التَّشْدِيدِ فَسَكَتْنَا وَفَزِعْنَا فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ سَأَلْتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا التَّشْدِيدُ الَّذِي نُزِّلَ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلًا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِيَ ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ أُحْيِيَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

dari Muhammad bin Jahsy, dia berkata; “Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau mendongakkan kepala beliau ke langit kemudian beliau meletakkan telapak tangan beliau pada kening beliau kemudian bersabda: “Subhanallah, apakah yang telah diturunkan dari sikap keras?” kemudian kami diam dan terkejut. Kemudian setelah besok harinya saya bertanya kepada beliau; “Wahai Rasulullah, sikap keras apakah yang telah diturunkan ini? Beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan, kemudian terbunuh, kemudian dihidupkan, kemudian terbunuh dan ia memiliki tanggungan hutang maka ia tidak akan masuk Surga hingga terbayarkan hutangnya.” (H.R. An-Nasai) [11]

Amal Shaleh akan Dipotong sebagai Ganti Utang yang Belum Lunas

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِيَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

…dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal sementara ia mempunyai tanggungan hutang satu dinar atau satu dirham, maka akan diganti dari pahala kebaikannya (amal shaleh) pada hari yang dinar dan dirham tidak berguna lagi.” (H.R. Ibnu Majah) [12]

Rasulullah saw Tidak Mau Menshalatkan Orang yang Masih Mempunyai Utang

Diriwayatkan,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُصَلِّي عَلَى رَجُلٍ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَأُتِيَ بِمَيِّتٍ فَقَالَ أَعَلَيْهِ دَيْنٌ قَالُوا نَعَمْ دِينَارَانِ قَالَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ فَقَالَ أَبُو قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيُّ هُمَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَصَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

dari Jabir ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menshalatkan seseorang yang meninggal dalam keadaan menanggung hutang. Kemudian beliau dihadapkan kepada seorang yang telah meninggal, lalu beliau bertanya: “Apakah ia memiliki tanggungan hutang?” Mereka berkata; Iya, dua dinar. Beliau berkata: “Shalatkan sahabat kalian!” kemudian Abu Qatadah Al Anshari berkata; keduanya menjadi tanggunganku wahai Rasulullah! Jabir berkata; kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menshalatkannya. (H.R. Abu Dawud) [13]

Orang yang Tidak Mau Mengembalikan Utang, akan Dibangkitkan Sebagai Pencuri

Diriwayatkan,

حَدَّثَنَا صُهَيْبُ الْخَيْرِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ يَدِينُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لَا يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا

…telah menceritakan kepada kami Shuhaib Al Khair dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Siapa saja berhutang dan ia berencana untuk tidak membayarnya kepada pemiliknya, maka ia akan menjumpai Allah dengan status sebagai pencuri.” (H.R. Ibnu Majah) [14]

Allah Ta’ala akan Merusak Orang yang Tidak Berniat Membayar Utang

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang mengambil harta manusia (berhutang) disertai maksud akan membayarnya maka Allah akan membayarkannya untuknya, sebaliknya siapa yang mengambilnya dengan maksud merusaknya (merugikannya) maka Allah akan merusak orang itu”. (H.R. Al-Bukhari) [15]

Allah Ta’ala akan Menolong Orang yang Berkeinginan Membayar Utang

Diriwayatkan,

أَنَّ مَيْمُونَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَدَانَتْ فَقِيلَ لَهَا يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ تَسْتَدِينِينَ وَلَيْسَ عِنْدَكِ وَفَاءٌ قَالَتْ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَخَذَ دَيْنًا وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يُؤَدِّيَهُ أَعَانَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ

…Bahwa Maimunah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berhutang, kemudian dikatakan kepadanya; “Wahai Ummul Mukminin, engkau berhutang sedangkan engkau tidak mampu melunasi?” Dia berkata; “Sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang mengambil hutang dan dia ingin membayarnya maka Allah ‘azza wajalla akan membantunya.” (H.R. An-Nasai) [16]

Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ اللَّهُ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِيَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ

dari Abdullah bin Ja’far ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah bersama orang yang berhutang sehingga dia melunasi hutangnya, selagi ia tidak berada pada sesuatu yang dibenci Allah.” (H.R. Ibnu Majah) [17]

Memberikan Ihsan dalam Membayar Hutang

Diriwayatkan,

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَضَانِي وَزَادَنِي

dari Jabir radliallahu ‘anhu berkata: “Aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat Beliau berada di masjid, lalu Beliau membayar hutangnya kepadaku dan memberi lebih kepadaku.” (H.R. Al-Bukhari) [18]

Diriwayatkan,

سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ لِي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَيْنٌ فَقَضَانِي وَزَادَنِي

…saya mendengar Jabir bin Abdullah berkata; dahulu aku memiliki piutang pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau membayar piutangku dan memberikan lebih untukku (dari jumlah yang dipinjam).(H.R. Abu Dawud) [19]

Keterangan: Di sini kita mengetahui bahwa pemberian “ihsan” yang disunnahkan itu:

Pemberian Utang

Wajib Mencatat Utang dan Dua Saksi (untuk Transaksi Besar)

Allah Ta’ala berfirman,

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا تَدَایَنۡتُمۡ بِدَیۡنٍ اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی فَاکۡتُبُوۡہُ ؕ وَ لۡیَکۡتُبۡ بَّیۡنَکُمۡ کَاتِبٌۢ بِالۡعَدۡلِ ۪ وَ لَا یَاۡبَ کَاتِبٌ اَنۡ یَّکۡتُبَ کَمَا عَلَّمَہُ اللّٰہُ فَلۡیَکۡتُبۡ ۚ وَ لۡیُمۡلِلِ الَّذِیۡ عَلَیۡہِ الۡحَقُّ وَ لۡیَتَّقِ اللّٰہَ رَبَّہٗ وَ لَا یَبۡخَسۡ مِنۡہُ شَیۡئًا ؕ فَاِنۡ کَانَ الَّذِیۡ عَلَیۡہِ الۡحَقُّ سَفِیۡہًا اَوۡ ضَعِیۡفًا اَوۡ لَا یَسۡتَطِیۡعُ اَنۡ یُّمِلَّ ہُوَ فَلۡیُمۡلِلۡ وَلِیُّہٗ بِالۡعَدۡلِ ؕ وَ اسۡتَشۡہِدُوۡا شَہِیۡدَیۡنِ مِنۡ رِّجَالِکُمۡ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یَکُوۡنَا رَجُلَیۡنِ فَرَجُلٌ وَّ امۡرَاَتٰنِ مِمَّنۡ تَرۡضَوۡنَ مِنَ الشُّہَدَآءِ اَنۡ تَضِلَّ اِحۡدٰٮہُمَا فَتُذَکِّرَ اِحۡدٰٮہُمَا الۡاُخۡرٰی ؕ وَ لَا یَاۡبَ الشُّہَدَآءُ اِذَا مَا دُعُوۡا ؕ وَ لَا تَسۡـَٔمُوۡۤا اَنۡ تَکۡتُبُوۡہُ صَغِیۡرًا اَوۡ کَبِیۡرًا اِلٰۤی اَجَلِہٖ ؕ ذٰلِکُمۡ اَقۡسَطُ عِنۡدَ اللّٰہِ وَ اَقۡوَمُ لِلشَّہَادَۃِ وَ اَدۡنٰۤی اَلَّا تَرۡتَابُوۡۤا اِلَّاۤ اَنۡ تَکُوۡنَ تِجَارَۃً حَاضِرَۃً تُدِیۡرُوۡنَہَا بَیۡنَکُمۡ فَلَیۡسَ عَلَیۡکُمۡ جُنَاحٌ اَلَّا تَکۡتُبُوۡہَا ؕ وَ اَشۡہِدُوۡۤا اِذَا تَبَایَعۡتُمۡ ۪ وَ لَا یُضَآرَّ کَاتِبٌ وَّ لَا شَہِیۡدٌ ۬ؕ وَ اِنۡ تَفۡعَلُوۡا فَاِنَّہٗ فُسُوۡقٌۢ بِکُمۡ ؕ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ وَ یُعَلِّمُکُمُ اللّٰہُ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ ﴿۲۸۳﴾

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu berhutang kepada sesamamu untuk masa tertentu, maka hendaklah menuliskannya, dan hendaklah seorang juru tulis di antaramu menuliskannya dengan jujur, dan janganlah juru tulis itu menolak untuk menuliskan, sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah ia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berhak ‘‘yakni yang berhutang’’ itu mendiktekan dan ia harus bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi darinya sedikit pun. Tetapi jika orang yang berhak itu kurang berakal atau lemah, atau ia tidak mampu mendiktekan maka walinya harus mendiktekan dengan adil. Dan tetapkanlah dua orang saksi laki-laki di antara kamu, tetapi jika tidak ada dua orang laki-laki maka ‘‘boleh’’ seorang lakilaki dan dua orang perempuan dari antara saksi-saksi yang kamu sukai, supaya jika seorang dari kedua ‘‘perempuan’’ keliru, maka seorang lagi dapat mengingatkan yang lain. Dan janganlah saksisaksi itu menolak apabila mereka dipanggil. Dan janganlah kamu enggan menuliskannya, baik kecil maupun besar beserta batas waktu ‘‘pembayarannya’’. Hal demikian adalah lebih adil di sisi Allah dan lebih menegakkan kesaksian serta lebih dekat supaya kamu tidak ragu, kecuali jika perdagangan tunai yang kamu lakukan di antaramu maka tidak ada dosa atasmu jika kamu tidak menuliskannya. Dan tetapkanlah saksi apabila kamu berjual-beli, tetapi juru tulis mau pun saksi janganlah disusahkan, dan jika kamu melakukannya, maka sungguh itu suatu kedurhakaan pada dirimu. Dan takutlah kepada Allah maka Allah akan mengajarimu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Albaqarah [2]: 283 dengan basmallah)

Keterangan: Si peminjamlah yang harus mendikte dan bukan yang memberi pinjaman sebab:

Jika jual beli dilakukan secara kontan, maka akan lebih baik mempunyai catatan sekalipun dalam kondisi seperti itu, misalnya berupa bon kontan atau tanda pembayaran.

Menetapkan saksi hendaknya dilakukan untuk transaksi-transaksi besar.

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Dia berfirman bahwa terkadang orang yang meminjam utang dapat mengatakan bahwa ia tidak mengetahui syarat‐syarat apapun yang ia harus penuhi dari orang yang meminjamkan utang. Oleh karena itu, Allah telah memberikan hak ini kepada orang yang meminjam utang agar menjauhkan kesalah‐fahaman dalam bentuk apapun yaitu dengan memberikan perintah “Hendaklah kalian menuliskan perjanjian itu supaya waktu yang telah ditetapkan untuk pengembalian jangan ada pertengkaran yang dia bisa timbulkan.” Sesudah perintah itu Dia berfirman, “Bertakwalah kepada Allah.”

Kemudian jika terjadi bisnis langsung atau transaksi dari tangan ke tangan, maka bolehlah itu tidak ditulis. Tetapi di dalamnya pun sejumlah orang yang memang hobinya bertengkar, mereka biasa mencari alasan‐alasan untuk melakukan perkelahian/pertengkaan. Oleh karena itu, orang‐orang yang mengambil utang hendaknya senantiasa setelah meneliti dan memeriksa dengan benar baru hendaknya mengambil barang‐barang itu supaya sesudahnya jangan ada pertengkaran macam apapun.

Tetapi jika dalam bentuk perjanjian bisnis yang memakan waktu panjang di antara kedua belah pihak itu, maka tulislah seperti itu dan tetapkanlah saksi sebagaimana dalam urusan utang‐piutang sebelumnya telah disebutkan. Di sini juga Dia berfirman bahwa bertakwalah kepada Allah. Dan orang yang memberi dan yang mengambil perjanjian/utang hendaknya senantiasa ingat bahwa Dzat Allah senantiasa melihat mereka, dan selain itu juga di dalam Alquran, yakni di beberapa tempat disebutkan berkaitan dengan jual beli; yang dengan mengamalkannya dapat disebarkan kecintaan; dan keselamatan dapat ditegakkan. [20]

Balasan yang Besar Bagi Orang yang Memberikan Utang

Diriwayatkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مَكْتُوبًا الصَّدَقَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا وَالْقَرْضُ بِثَمَانِيَةَ عَشَرَ فَقُلْتُ يَا جِبْرِيلُ مَا بَالُ الْقَرْضِ أَفْضَلُ مِنْ الصَّدَقَةِ قَالَ لِأَنَّ السَّائِلَ يَسْأَلُ وَعِنْدَهُ وَالْمُسْتَقْرِضُ لَا يَسْتَقْرِضُ إِلَّا مِنْ حَاجَةٍ

dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada malam aku diisrakan aku melihat di atas pintu surga tertulis ‘Sedekah akan dikalikan menjadi sepuluh kali lipat, dan memberi pinjaman dengan delapan belas kali lipat’. Maka aku pun bertanya: “Wahai Jibril, apa sebabnya memberi hutang lebih utama ketimbang sedekah?” Jibril menjawab: “Karena saat seorang peminta meminta, (terkadang) ia masih memiliki (harta), sementara orang yang meminta pinjaman, ia tidak meminta pinjaman kecuali karena ada butuh.” (H.R. Ibnu Majah) [21]

Memberikan Utang dengan Batasan dan Ukuran yang Jelas

Diriwayatkan,

سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَهُمْ يُسْلِفُونَ فِي التَّمْرِ السَّنَتَيْنِ وَالثَّلَاثَ فَنَهَاهُمْ وَقَالَ مَنْ أَسْلَفَ سَلَفًا فَلْيُسْلِفْ فِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ

saya mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke Madinah dan mereka melakukan jual beli secara salaf pada kurma selama dalam jangka dua tahun dan tiga tahun. Kemudian beliau melarang mereka dan bersabda: “Barang siapa yang memberikan hutang maka hendaknya ia menghutangi pada takaran yang diketahui, timbangan yang diketahui hingga jangka yang diketahui.” (H.R. An-Nasai) [22]

Santun dalam Menagih Utang

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَعَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ طَالَبَ حَقًّا فَلْيَطْلُبْهُ فِي عَفَافٍ وَافٍ أَوْ غَيْرِ وَافٍ

dari Ibnu Umar dan ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menuntut hak, hendaklah ia menuntut dengan cara terhormat, baik ia menunaikannya atau pun tidak.” (H.R. Ibnu Majah) [23]

Membebaskan Utang dan Menambah Tempo Pembayaran

Islam Menganjurkan untuk Memberi Tangguh atau Membebaskan Utang Bagi Orang yang Berhutang ketika Mengalami Kesempitan

Allah Ta’ala berfirman,

وَ اِنۡ کَانَ ذُوۡ عُسۡرَۃٍ فَنَظِرَۃٌ اِلٰی مَیۡسَرَۃٍ ؕ وَ اَنۡ تَصَدَّقُوۡا خَیۡرٌ لَّکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿۲۸۱﴾

Artinya: Dan jika orang yang berhutang itu masih dalam kesempitan, maka berilah ia tangguh sampai ia merasa lapang, tetapi jika kamu menyedekahkannya, maka akan lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS Albaqarah [2]: 281 dengan basmallah)

Penjelasan: Islam menganjurkan pemberian pinjaman, tetapi pinjaman itu harus untuk maksud baik dan tanpa uang bunga. Jika si peminjam berada dalam keadaan terjepit ketika waktu pengembalian pinjaman telah tiba, ia hendaknya diberi kelonggaran, hingga ia mendapatkan dirinya dalam keadaan yang lebih lapang.

Memberi Tangguh atau Membebaskan Utang Bisa Mendapatkan Ampunan dari Allah Ta’ala

Diriwayatkan,

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَاتَ رَجُلٌ فَقِيلَ لَهُ قَالَ كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ فَأَتَجَوَّزُ عَنْ الْمُوسِرِ وَأُخَفِّفُ عَنْ الْمُعْسِرِ فَغُفِرَ لَهُ قَالَ أَبُو مَسْعُودٍ سَمِعْتُهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

dari Hudzaifah radliallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada seorang yang mati lalu ia ditanya, dan menjawab; Aku pernah berjual beli dengan banyak orang, aku menagih orang-orang yang dalam kelonggaran saja, dan meringankan siapa yang sedang kesulitan”. Maka orang itu diampuni dosanya”. Berkata, Abu Mas’ud aku mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (H.R. Al-Bukhari) [24]

Diriwayatkan,

أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ وَكَانَ إِذَا رَأَى إِعْسَارَ الْمُعْسِرِ قَالَ لِفَتَاهُ تَجَاوَزْ عَنْهُ لَعَلَّ اللَّهَ تَعَالَى يَتَجَاوَزُ عَنَّا فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ

dia mendengar Abu Hurairah berkata; “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dahulu terdapat seorang laki-laki yang biasa memberikan hutang kepada orang-orang dan apabila ia melihat orang yang dihutangi mengalami kesulitan maka dia berkata kepada pembantunya; “Maafkan dia, semoga Allah ta’ala memaafkan kita. Kemudian dia bertemu dengan Allah dan Dia pun memaafkannya.” (H.R. An-Nasai) [25]

Memberi Tangguh atau Membebaskan Utang Bisa Mendapatkan Naungan dari Allah Ta’ala di Akhirat

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي الْيَسَرِ صَاحِبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُظِلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ فَلْيُنْظِرْ مُعْسِرًا أَوْ لِيَضَعْ لَهُ

dari Abu Al Yasar -seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam- ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang ingin dilindungi Allah dalam lindungan-Nya, hendaklah ia memberi kemudahan atau membebaskan (hutang) orang yang kesusahan.” (H.R. Ibnu Majah) [26]

Memberi Tangguh dalam Pelunasan Utang Bisa Mendapatkan Pahala dari Allah Ta’ala Tiap Hari

Diriwayatkan,

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلُهُ صَدَقَةً قَبْلَ أَنْ يَحِلَّ الدَّينُ فَإِذَا حَلَّ الدَّينُ فأنظره فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلُهُ صَدَقَةً

“Barangsiapa yang memberi penangguhan kepada orang yang kesulitan membayar hutang, maka baginya setiap hari ada pahala sedekah senilai hutang yang ia berikan, sebelum hutang itu lunas. Jika hutang itu belum lunas, lalu dia memberi penangguhan lagi maka baginya setiap hari ada pahala sedekah senilai itu.” (HR. Ahmad) [27]

Orang yang Memberikan Utang Akan Mendapat Pertolongan Allah

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa meringankan satu kesusahan seorang muslim di dunia, maka Allah akan meringankan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba tersebut mau menolong saudaranya.” (H.R. Abu Dawud) [28]

Memberi Tangguh dalam Pelunasan Utang Bisa Mendapatkan Surga dari Allah Ta’ala

Diriwayatkan,

قَالَ حُذَيْفَةُ وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ رَجُلًا كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَتَاهُ الْمَلَكُ لِيَقْبِضَ رُوحَهُ فَقِيلَ لَهُ هَلْ عَمِلْتَ مِنْ خَيْرٍ قَالَ مَا أَعْلَمُ قِيلَ لَهُ انْظُرْ قَالَ مَا أَعْلَمُ شَيْئًا غَيْرَ أَنِّي كُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ فِي الدُّنْيَا وَأُجَازِيهِمْ فَأُنْظِرُ الْمُوسِرَ وَأَتَجَاوَزُ عَنْ الْمُعْسِرِ فَأَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ

…Hudzaifah berkata pula; “Dan aku juga pernah mendengar beliau shallallahu ‘alaihi wasallam besabda: “Ada seorang dari kaum sebelum kalian didatangi malaikat untuk mencabut nyawanya lalu ditanyakan kepadanya; “Apakah kamu pernah beramal kebaikan?”. Orang itu menjawab; “Aku tidak tahu”. Dikatakan kepadanya; “Coba kamu ingat-ingat”. Orang itu kembali menjawab; “Aku tidak tahu apapun, kecuali aku pernah melakukan transaksi jual beli sesama manusia, terhadap yang diberi kelonggaran hartanya pun aku memberi toleransi waktu untuk membayar hutangnya, dan terhadap yang kesulitan aku memaafkan (membebaskan hutang itu). Allah pun kemudian memasukkannya ke surga”… (H.R. Al-Bukhari) [29]

Mendahulukan Pembayaran Utang daripada Wasiyat

Allah Ta’ala memerintahkan agar mendahulukan membayarkan utang dan pemenuhan wasiyat daripada membagikan harta waris,

وَ لَکُمۡ نِصۡفُ مَا تَرَکَ اَزۡوَاجُکُمۡ اِنۡ لَّمۡ یَکُنۡ لَّہُنَّ وَلَدٌ ۚ فَاِنۡ کَانَ لَہُنَّ وَلَدٌ فَلَکُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَکۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِ وَصِیَّۃٍ یُّوۡصِیۡنَ بِہَاۤ اَوۡ دَیۡنٍ ؕ وَ لَہُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَکۡتُمۡ اِنۡ لَّمۡ یَکُنۡ لَّکُمۡ وَلَدٌ ۚ فَاِنۡ کَانَ لَکُمۡ وَلَدٌ فَلَہُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَکۡتُمۡ '''مِّنۡۢ بَعۡدِ وَصِیَّۃٍ تُوۡصُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ دَیۡنٍ ؕ''' وَ اِنۡ کَانَ رَجُلٌ یُّوۡرَثُ کَلٰلَۃً اَوِ امۡرَاَۃٌ وَّ لَہٗۤ اَخٌ اَوۡ اُخۡتٌ فَلِکُلِّ وَاحِدٍ مِّنۡہُمَا السُّدُسُ ۚ فَاِنۡ کَانُوۡۤا اَکۡثَرَ مِنۡ ذٰلِکَ فَہُمۡ شُرَکَآءُ فِی الثُّلُثِ مِنۡۢ بَعۡدِ وَصِیَّۃٍ یُّوۡصٰی بِہَاۤ اَوۡ دَیۡنٍ ۙ غَیۡرَ مُضَآرٍّ ۚ وَصِیَّۃً مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَلِیۡمٌ ﴿ؕ۱۳﴾

Dan bagimu seperdua dari yang ditinggalkan oleh istri-istrimu jika mereka tidak mempunyai anak, tetapi jika mereka mempunyai anak maka untukmu seperempat dari apa yang ditinggalkan mereka ‘'’sesudah melunasi wasiat yang telah diwasiatkannya atau melunasi utang-utang’’’. Dan untuk mereka itu seperempat dari apa yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak, tetapi jika kamu mempunyai anak maka untuk mereka seperdelapan dari yang kamu tinggalkan, sesudah melunasi wasiat yang telah kamu wasiatkan atau melunasi utangutang. Dan jika ada seorang laki-laki atau perempuan sudah tidak mempunyai bapak dan anak yang harta warisnya akan dibagikan, tetapi ia mempunyai seorang saudara laki-laki atau perempuan, maka masing-masing mereka akan mendapat seperenam. Tetapi jika mereka lebih banyak dari itu, maka mereka mendapat sepertiga untuk bersama sesudah melunasi wasiat yang telah diwasiatkannya atau melunasi utang-utang, tanpa mendatangkan kemudaratan kepada siapa pun. Ini adalah perintah dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun. (QS An-Nisa [4]: 13 dengan basmallah)

Diriwayatkan,

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى بِالدَّيْنِ قَبْلَ الْوَصِيَّةِ وَأَنْتُمْ تُقِرُّونَ الْوَصِيَّةَ قَبْلَ الدَّيْنِ

…dari ‘Ali bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih mendahulukan pembayaran hutang, sebelum pelaksanaan wasiat. Sementara kalian lebih mendahulukan wasiat daripada pembayaran hutang. (H.R. Abu Dawud) [30]

Mempersiapkan Harta untuk Melunasi Utang

Diriwayatkan,

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا يَسُرُّنِي أَنْ لَا يَمُرَّ عَلَيَّ ثَلَاثٌ وَعِنْدِي مِنْهُ شَيْءٌ إِلَّا شَيْءٌ أُرْصِدُهُ لِدَيْنٍ

Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku memiliki emas sebesar bukit Uhud yang membuat aku senang tentu tidak akan bersamaku melebihi tiga hari dan bagiku tidak akan ada yang tersisa kecuali satu saja yang aku siapkan untuk membayar hutang”. (H.R. Al-Bukhari) [31]

Utang Puasa

Diriwayatkan bahwa orang yang masih berhutang puasa harus dilunasi oleh ahli warisnya,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal dunia dan memiliki hutang puasa maka walinya (boleh) berpuasa untuknya” (H.R. Al-Bukhari) [32]

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ أَفَأَقْضِيهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى

dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; “Datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meningal dunia dan dia mempunyai kewajiban (hutang) puasa selama sebulan, apakah aku boleh menunaikannya?”. Beliau Shallallahu’alaihiwasallam berkata: “Ya”, Beliau melanjutkan: “Hutang kepada Allah lebih berhaq untuk dibayar”. (H.R. Al-Bukhari) [33]

Utang Haji

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ فَأَتَى أَخُوهَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أُخْتِكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَاقْضُوا اللَّهَ فَهُوَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

…menceritakan dari Ibnu Abbas bahwa terdapat seorang wanita yang bernadzar untuk melakukan haji lalu ia meninggal. Kemudian saudara laki-lakinya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya kepada beliau mengenai hal tersebut, maka beliau bersabda: “Bagaimana pendapatmu apabila saudaramu memiliki hutang, apakah engkau akan membayarnya?” Maka orang tersebut mengatakan; “Iya”. Beliau bersabda: “Bayarlah hutang kepada Allah, Dia lebih berhak untuk ditunaikan hutang-Nya.” (H.R. An-Nasai) [34]

Dari riwayat di atas, kita mengetahui bahwa nazar atau janji merupakan utang.

Berdoa Agar Terhindar dari Utang

Diriwayatkan,

أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنْ الْمَغْرَمِ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

bahwa Aisyah telah mengabarkan kepadanya bahwa dalam shalatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering berdo’a; ‘‘Allahumma inni ‘auudzubika min ‘adzaabil qabri wa a’uudzubika min fitnatil masiihid dajjal wa a’uudzubika min fitnatil mahya wal mamaati, allahumma inni a’uudzubika minal ma’tsmi wal maghrami’’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, aku berlindung dari fitnah Dajjal, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian, ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan hutang).” Maka seseorang bertanya kepada beliau; ‘alangkah seringnya anda memohon perlindungan diri dari lilitan hutang.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya apabila seseorang sudah sering berhutang, maka dia akan berbicara dan berbohong, dan apabila berjanji, maka dia akan mengingkari.” (H.R. Abu Dawud) [35]

Diriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرًا مَا يَدْعُو بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَشَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَأَنْقِ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا أَنْقَيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

…dari ‘Aisyah ia berkata, “Doa yang sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah: ‘‘allahumma inni a’uudzu bika min fitnatinnari wa fitnatil qabri wa syarri fitnatil masiihid dajjal wa syarri fitnatil faqri wa syarri fitnatil ghina allahumma ighsil khathaayaaya bima’its tsalji wa baradi wa antiqi qalbi minal khathaayaaya kamaa anqaita ats tsaubal abyadla minad danas wa baa’id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa’atta bainal masyriqi wal maghribi allahumma inni a’uudzu bika minal kasali wal harami wal ma’tsami wal maghrami’’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah neraka dan siksa neraka, fitnah kubur dan siksa kubur, kejelekkan fitnah Al Masih dajjal, kejelekkan fitnah kafakiran dan kejelekkan fitnah kekayaan. Ya Allah, basuhlah kesalahanku dengan air es dan embun, bersihkan hatiku dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan kain putih dari kotoran. Jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kepikunan, sebab yang mendatangkan dosa dan hutang yang tidak terbayar).” (H.R. An-Nasai) [36]

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْمَغْرَمِ وَالْمَأْثَمِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“…dari Aisyah bahwa Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam selalu mengucapkan: ‘‘allahumma inni a’uudzubika minal kasali wal harami wal maghrami wal ma’tsami, allahumma inni a’uudzubika min ‘adzaabin naar wafitnatin naari wamin fitnatil qabri wa ‘adzaabil qabri wasyarri fitnatil ghaniy wasyarri fitnatil faqri wamin syarri fitnatil masiihid dajjal, allhummaghsil khathaayaya bimaais salji walbaradi wanaqqi qalbii minal khathaayaya kamaa naqqaitats tsaubul abyadl minad danas wabaa’id baini wabainal khathaayaya kamaa baa’adta bainal masyriqi wal maghribi’’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, kepikunan, terlilit hutang, dan dari kesalahan dan dari fitnah neraka serta siksa neraka, dan dari fitnah kubur dan siksa kubur dan dari buruknya fitnah kekayaan dan dari buruknya fitnah kefakiran serta fitnah Al Masih Ad Dajjal. Ya Allah, bersihkanlah kesalahan-kesalahanku dengan air salju dan air embun, sucikanlah hatiku dari kotoran-kotoran sebagaimana Engkau menyucikan baju yang putih dari kotoran. Dan jauhkanlah antara diriku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat.” (H.R. Al-Bukhari) [37]

Hal-Hal Berkaitan dengan Utang

Gadai

Gadai adalah meminjam uang (berhutang) dalam batas waktu tertentu dengan menyerahkan barang sebagai tanggungan, jika telah sampai pada waktunya tidak ditebus, barang itu menjadi hak yang memberi pinjaman.

Rahn (Jaminan Utang)

Barang jaminan atau barang yang diserahkan sebagai tanggungan utang. Nilai barang ini setidaknya sama dengan nilai utang atau bisa lebih besar dari nilai utang.

Riba

Riba adalah semua hutang yang menghasilkan keuntungan atau manfaat maka ia adalah riba. Jadi tidak boleh diakadkan atau disepakati bahwa utang harus dikembalikan lebih.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

“Jika seorang memberikan utang kepada yang lain demi mencari keuntungan dan dia juga yang menentukan besar keuntungannya” [20]

Hiwalah atau Hawalah (pengalihan hutang)

Mengalihkan utang itu diperbolehkan. Misalnya Si-A memberikan utang kepada Si-B. Sedangkan Si-C mempunyai hutang kepada si-B. Maka Si-B bisa mengalihkan utangnya agar si-A menagih kepada si-C

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ وَمَنْ أُتْبِعَ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتَّبِعْ

dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menunda membayar hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman dan apabila seorang dari kalian hutangnya dialihkan kepada orang kaya, hendaklah ia ikuti”. (H.R. Al Bukhari) [38]

Diriwayatkan,

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ فَقَالُوا صَلِّ عَلَيْهَا فَقَالَ هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ قَالُوا لَا قَالَ فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا قَالُوا لَا فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ أُتِيَ بِجَنَازَةٍ أُخْرَى فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلِّ عَلَيْهَا قَالَ هَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ قِيلَ نَعَمْ قَالَ فَهَلْ تَرَكَ شَيْئًا قَالُوا ثَلَاثَةَ دَنَانِيرَ فَصَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ أُتِيَ بِالثَّالِثَةِ فَقَالُوا صَلِّ عَلَيْهَا قَالَ هَلْ تَرَكَ شَيْئًا قَالُوا لَا قَالَ فَهَلْ عَلَيْهِ دَيْنٌ قَالُوا ثَلَاثَةُ دَنَانِيرَ قَالَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ قَالَ أَبُو قَتَادَةَ صَلِّ عَلَيْهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَعَلَيَّ دَيْنُهُ فَصَلَّى عَلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Al Makkiy bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abi ‘Ubaid dari Salamah bin Al Akwa’ radliallahu ‘anhu berkata: “Kami pernah duduk bermajelis dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dihadirkan kepada Beliau satu jenazah kemudian orang-orang berkata: “Shalatilah jenazah ini”. Maka Beliau bertanya: “Apakah orang ini punya hutang?” Mereka berkata: “Tidak”. Kemudian Beliau bertanya kembali: “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Mereka menjawab: “Tidak”. Akhirnya Beliau menyolatkan jenazah tersebut. Kemudian didatangkan lagi jenazah lain kepada Beliau, lalu orang-orang berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, holatilah jenazah ini”. Maka Beliau bertanya: “Apakah orang ini punya hutang?” Dijawab: “Ya”. Kemudian Beliau bertanya kembali: “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Mereka menjawab: “Ada, sebanyak tiga dinar”. Maka Beliau bersabda: “Shalatilah saudaramu ini”. Berkata, Abu Qatadah: “Shalatilah wahai Rasulullah, nanti hutangnya aku yang menanggungnya”. Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyolatkan jenazah itu. (H.R. Al Bukhari) [39]

Wakalah (Mewakilkan Utang)

Misalnya, Si-A mempunyai hutang kepada di-B. Si-A tidak berada di tempat ketika Si-B sedang menagih utang. Si-C adalah pegawai dari S-A. Maka si-B boleh meminta pelunasan hutang kepada Si-C yang telah diberi mandat oleh si-A

Diriwayatkan,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ سَمِعَهُ يُحَدِّثُ قَالَ أَرَدْتُ الْخُرُوجَ إِلَى خَيْبَرَ فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ وَقُلْتُ لَهُ إِنِّي أَرَدْتُ الْخُرُوجَ إِلَى خَيْبَرَ فَقَالَ إِذَا أَتَيْتَ وَكِيلِي فَخُذْ مِنْهُ خَمْسَةَ عَشَرَ وَسْقًا فَإِنْ ابْتَغَى مِنْكَ آيَةً فَضَعْ يَدَكَ عَلَى تَرْقُوَتِهِ

dari Jabir bin Abdullah bahwa ia mendengarnya menceritakan, ia berkata, “Aku ingin pergi ke Khaibar, lalu aku datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku ucapkan salam kemudian berkata, “Sesungguhnya aku ingin pergi ke Khaibar.” Kemudian beliau bersabda: “Apabila engkau datang kepada wakilku, maka ambillah darinya lima belas wasaq, dan apabila ia menginginkan tanda darimu maka letakkan tanganmu pada tulang bahunya!” (H.R. Abu Dawud) [40]

Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw mempunyai janji akan memberikan unta kepada seseorang. Akan tetapi ketika itu salah seorang sahabat bersedia memberi unta kepada orang itu atas nama Rasulullah saw. [6]

Nasehat-Nasehat

Tidak Mengambil Utang Jika Tidak Mampu Melunasi

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Jika kalian menganggap bahwa kalian tidak mampu untuk mengembalikan, dan tidak pula mempunyai penghasilan yang diharapkan dapat menutupi semua itu, dan tidak pula ada harta kekayaan kalian dapat digunakan untuk membayar utang itu, maka janganlah melakukan perjanjian utang, kemudian jangan mengambil utang.

Maka sebelumnya di sini telah diberitahukan bahwa jika ketakwaan itu ada, maka terlebih dahulu renungkanlah, “Apakah bisa kalian membayar atau tidak” karena Allah sangat menekankan untuk menepati janji.

Sepengetahuan saya, misalnya, sejumlah orang datang ke London dan meminjam uang dengan riba dari rentenir. Mereka berdalih, “Kami ini kan melakukannya untuk maksud dan niat baik, yakni untuk datang ke Jalsah dengan cara mengutang.”Padahal, ini benar‐benar merupakan hal yang salah; ini benar‐benar merupakan hal yang menipu diri sendiri. Berkenaan dengan ibadah haji, di dalam Alquran terdapat perintah bahwa jika untuk melaksanakannya tidak ada sarana‐sarana, maka jangan lakukan. [20]

Jangan Berhutang untuk Hal yang Tidak Perlu

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Kemudian di beberapa kesempatan lain juga, ada di antara mereka yang mengutang untuk pengeluaran‐pengeluaran yang tidak perlu, yakni untuk biaya pernikahan dan untuk mengikuti/memeriahkan adat istiadat/adat kebiasaan dan sebagainya. Di Pakistan, India dan sebagainya, laknat –tradisi buruk– utang ini sangat banyak sekali dan di Negara‐negara miskin juga ada.

Jadi, ini merupakan mata rantai manakala utang diambil tanpa keperluan yang tidak penting, maka kepadanya hendaknya dikatakan bahwa dia tengah terjerat dalam lingkaran putaran setan, dengan demikian kerukunan rumah tangga menjadi berantakan. Kondisi yang ada setelah berhutang adalah keadaan hati menjadi tidak menentu; Hubungan suami‐istri dan anak‐anak menjadi rusak; Di rumah‐rumah terjadi kezaliman. Demi kebahagiaan sementara, mereka menjerat diri mereka dalam kesulitan‐kesulitan walaupun utang tanpa riba yang mereka ambil. Jangankan mengambil utang riba, mengambil utang biasa pun sama sekali merupakan hal tercela. [20]

Nasehat bagi Orang yang Berhutang

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Dengan sangat menyesal saya katakan bahwa sejumlah orang tidak menghiraukan hal-hal itu dan di kalangan Jemaat kitapun terdapat orang-orang yang sangat kurang memberikan perhatian terhadap kasus penunaian utang-piutang mereka. Ini merupakan hal yang bertentangan dengan keadilan. Rasulullah saw. tidak menyembahyangkan jenazah orang-orang yang seperti itu. Jadi setiap orang di antara kalian ingatlah dengan sebaik-baiknya bahwa seyogianya jangan ada yang malas dalam membayar hutang piutang dan seyogianya berlari jauh dari segenap corak khianat dan penipuan karena ini bertentangan dengan perintah Tuhan yang Dia firmankan dalam ayat ini “Sesungguhnya Allah menyuruh [kalian] berlaku adil dan berbuat kebajikan dan memberi kepada kaum kerabat”, (QS. An-Nahl 91). [41]

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Dan bagi orang yang berhutang pun hendaklah ingat bahwa bukanlah maksudnya bahwa jika seorang telah memberikan utang, lalu si peminjam mengatakan padanya, “Saya tidak memiliki kelonggaran.” Diapun juga hendaknya senantiasa ingat bahwa manakala telah menetapkan waktu sebuah perjanjian, maka perlu menepati perjanjian itu. Selanjutnya, dari pada membuat alasan apapun yang terjadi, hendaknya berusaha membayar utang dan jika tidak ada taufik untuk membayarnya, maka sambil berpegang teguh pada kebenaran, beritahukanlah semua kondisi kalian itu kepada si pemberi utang, mintalah tempo/tenggang waktu kepadanya dan inilah hal‐hal yang akan meningkatkan kasih sayang dan perdamaian diantara orang yang mengambil utang dan yang memeberikan utang. Dan jika satu dengan yang lain berusaha untuk saling tipu, maka khususnya mereka yang berhutang, jangan terfikirkan bahwa Allah akan memaafkan kalian karena merasa bahwa “saya ada dalam keadaan miskin”. Hendaknya senantiasa diingat bahwa orang yang menyembunyikan kebenaran itulah yang pendusta dan seorang yang pedusta, dia senantiasa berdiri melawan Tuhan dan Allah tidak menyukainya. [20]

Huzur II r.a. menjelaskan QS Albaqarah 282,

Jika seorang di antara kalian merasa puas (yakin) berkenaan dengan seorang saudaranya (seorang muslim) dan memberikan uang pinjaman tanpa tanggungan, maka merupakan kewajiban orang yang diberikan uang (utang) atau yang diyakini jujur mengembalikan uang tanpa hujjat dan komentar pada saat pihak yang memberikan pinjaman meminta (menagih), dan bertakwalah kepada Allah. Di sini utang itu dinyatakan sebagai amanat, yang di dalamnya terdapat hikmah bahwa di dunia pada umumnya penunaian (pengembalian) amanat dianggap penting, tetapi dalam hal kaitan pembayaran utang diambil sikap menganggap mudah, malas, dan menganggap tidak wajib. Oleh karena itu berfirman bahwa pada pandangan Tuhan utang juga merupakan suatu corak amanat…. Dari ayat ini juga dapat dipetik sebuah pelajaran umum terkait dengan perlindungan terhadap segenap macam amanat dan pengembaliannya pada waktunya, yang ke arah mana ayat lain, ‘dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya’ (QS AlMu’minuun 9). Di dalam inipun diisyarahkan dan dinasihatkan bahwa suatu cabang penting dalam urusan-urusan sosial jual beli adalah menitipkan amanat kepada orang lain. Jadi, jangan hanya dalam kasus hutang piutang saja, tetapi dalam perkara amanatpun kalian seyogianya bertakwa. Jangan sampai terjadi orang yang mengambil (menagih) amanat datang lalu kalian saat pengembaliannya mulai mencari alasan-alasan” [41]

Nasehat bagi Pemberi Hutang

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Jika seorang yang memberi hutang berfikir, “Seandainya saya berada pada posisi orang yang berhutang, maka apakah saya tidak mengharapkan keringanan? atau tidak mengharapkan tenggang waktu?” Seperti itulah hendaknya kalian memperlakukan orang yang berhutang kepada kalian. Dan demikian juga bagi orang meminjam utang, jika ia berfikir, “ Seandainya saya sebagai orang yang memberikan utang, maka apakah saya bisa sabar menghadapi orang yang meminjam utang seperti itu?” Maka perlakukanlah orang yang meminjam utang seperti itu. Maka jika pemikiran kedua belah pihak bisa berjalan seperti ini, maka itu akan memberikan hasil yang positif, dan itu akan membawa hubungan‐hubungan di antara kedua belah pihak akan menjadi bertambah baik. Dengan demikian, mereka akan tergolong di antara orang yang mengamalkan hadits bahwa untuk bisa dikatakan sebagai orang‐orang Islam hakiki, maka apa yang diri kalian sukai, sukailah itu untuk saudara kalian juga. Jadi ini merupakan sebuah hukum/perintah bahwa orang yang mengamalkan itu tidak ada yang dia sebarkan kecuali kedamaian, cinta dan keselamatan.

Hendaknya senantiasa diingat bahwa jika kalian ingin mengambil bagian dari rahmat dan karunia Allah, maka bersikap lemah lembutlah kepada saudara kalian yang berhutang, dan berikanlah faedah/keuntungan kepada mereka. Maka faedah ini kemudian akan menjadikan kalian meraih karunia Allah. Bagi seorang Islam, dan khususnya seorang Ahmadi, hendaknya memberikan perhatian ke arah itu. Jika dari segi harta Allah telah memberikan kelebihan pada seseorang, maka cara hakiki untuk bersyukur atas karunia itu adalah dengan cara menolong saudara‐ saudara kalian yang lemah dari segi harta. Jika kalian bersikap keras hati, maka ingatlah! Allah berfirman bahwa Allah Maha Perkasa dan dengan kalian pun Dia bisa berlaku keras. Jadi, rasa takut kepada Allah dan bertakwa pada‐Nya merupakan sesuatu yang sangat penting.

Mengenai utang yang kalian berikan, perhatikanlah kondisi ekonomi orang yang berhutang itu karena memperhatikan dengan cara seperti itu akan meningkatkan kecintaan dan kasih sayang diantara sesama. Hendaklah kalian senantiasa memperhatikan kesukaran orang yang memiliki utang, dan jika orang yang memberikan utang itu sedemikian rupa mempunyai kelapangan, maka maafkanlah utang orang yang terpaksa berhutang kalau mereka memang benar‐benar berhutang karena terpaksa. Hal ini adalah untuk mencari keridhoan Allah, maka lakukanlah hal ini juga. Perbuatan kalian ini akan mendekatkan kalian dengan Allah. [20]

Cara Pelunasan Utang Menunjukkan Keimanan Seseorang

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa ada disebutkan tentang seseorang yang membawa pergi amanat orang lain entah kemana yang terkumpul padanya. Dalam mengomentari hal itu beliau bersabda:

“Sangat jarang sekali orang-orang tulus dalam hal pelunasan utang dan pengembalian amanat. Orang-orang tidak menghiraukannya padahal ini merupakan perkara yang sangat penting. Rasulullah saw. tidak menyembahyangkan jenazah orang yang menanggung beban utang. Umum disaksikan bahwa pada saat meminjam utang orang-orang bersikap tulus dengan permohonan yang santun, namun pada saat pengembalian tidak dengan wajah yang berseri-seri, tetapi pada saat itu pasti ada saja rasa perasan sempit dan adanya rasa tidak nyaman. Dari itulah dapat diketahui iman yang tulus dan benar.” [42] [41]

Catatan kaki:

  1. KBBI dalam kata utang diakses 7-Jan-2021 

  2. Kata Hutang dalam Kamus Almaany diakses 7-Jan-2021 

  3. Petunjuk Praktis Bahasa tentang Utang 

  4. Hadits Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Jual beli, Bab Pinjaman harus dikembalikan 

  5. Hadits Sunan An-Nasa’i, Kitab Jual-beli, Bab Dorongan agar melunasi hutang dengan baik 

  6. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Wakalah (perwakilan), Bab Mewakilkan dalam pembayaran hutang  2

  7. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Mencari pinjaman dan melunasi hutang, Bab Menunda pembayaran bagi orang yang mampu adakah kezhaliman 

  8. Hadits Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Jenazah, Bab Sabda nabi ShollAllahu ‘alaihi wa Salam ‘Jiwa’ 

  9. Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Hukum-hukum, Bab Teguran keras dalam masalah hutang 

  10. Hadits Shahih Muslim, Kitab Kepemimpinan, Bab Barangsiapa membunuh di jalan Allah maka dosanya akan terhapus 

  11. Hadits Sunan An-Nasa’i, Kitab Jual-beli, Bab Teguran keras masalah hutang 

  12. Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Hukum-hukum, Bab Teguran keras dalam masalah hutang 

  13. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Jual beli, Bab Teguran keras dalam hal hutang 

  14. Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Hukum-hukum, Bab Berhutang dan berniat untuk tidak membayarnya 

  15. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Mencari pinjaman dan melunasi hutang, Bab Barangsiapa menghambil harta milik orang lain dan ia ingin mengembalikannya, atau merusaknya 

  16. Hadits Sunan An-Nasa’i, Kitab Jual-beli, Bab Mudah membayar hutang 

  17. Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Hukum-hukum, Bab Berhutang dan berniat membayarnya 

  18. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Hibah, keutamaannya dan anjuran melakukannya, Bab Hibah yang telah diambil dan yang belum, hibah yang telah dibagi dan yang belum 

  19. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Jual beli, Bab Bagus adalam pembayaran hutang 

  20. Khotbah Jumʹat Hadhrat Khalifatul Masih Vatba Tanggal 15 Juni 2007/Ihsan 1386 HS Di Masjid Baitul Futuh, London, UK  2 3 4 5 6

  21. Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Hukum-hukum, Bab Memberi pinjaman 

  22. Hadits Sunan An-Nasa’i, Kitab Jual-beli, Bab Membeli buah-buahan dengan uang ditangguhkan 

  23. Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Hukum-hukum, Bab Minta hak pembayaran dengan baik 

  24. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Mencari pinjaman dan melunasi hutang, Bab Baik dalam meminta pembayaran 

  25. Hadits Sunan An-Nasa’i, Kitab Jual-beli, Bab Interaksi hartawi dengan baik dan santun dalam tagih menagih 

  26. Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Hukum-hukum, Bab Memberi perpanjangan waktu kepada orang kesusahan 

  27. H.R. Ahmad Syakir 

  28. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Adab, Bab Menolong sesama muslim 

  29. H.R Al-Bukhari, Kitab Bani Israil, Kitab Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang para Nabi 

  30. Hadits Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Washiyat, Bab Lebih mendahulukan hutang sebelum wasiat 

  31. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Mencari pinjaman dan melunasi hutang, Bab Membayar hutang 

  32. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Shaum, Bab Orang yang wafat dan meninggalkan hutang puasa 

  33. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Shaum, Bab Orang yang wafat dan meninggalkan hutang puasa 

  34. Hadits Sunan An-Nasa’i, Kitab Manasik haji, Bab Menghajikan mayyit yang bernadzar untuk haji 

  35. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, Doa dalam shalat 

  36. Hadits Sunan An-Nasa’i, Kitab Meminta perlindungan, Bab Meminta perlindungan dari keburukan fitnah kubur 

  37. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Doa, Bab Memminta perlindungan dari kepikunan, fitnah dunia 

  38. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Hawalah (pengalihan hutang), Bab Jika hutang dipindahkan kepada orang yang mampu maka ia tidak boleh menolak 

  39. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Hawalah (pengalihan hutang), Bab Memindahkan hutang orang yang sudah meninggal itu dibolehkan 

  40. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Peradilan, Bab Penjelasan tentang al Wakalah (perwakilan) 

  41. Khutbah Jum’ah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba. Tanggal 6 Februari 2004 Di Mesjid Baitul-futuh,Morden, London – UK  2 3

  42. Malfuzhat jilid 5 hlm. 265 Cetakan baru