Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Tanya-Jawab Puasa

Apa manfaat dan tujuan puasa?

Beberapa manfaat puasa adalah:

  • Menjadi Benteng atau Perisai (Pemutus Syahwat),

  • Mendapatkan Dua Kegembiraan dari Allah Ta’ala,

  • Meningkatnya Akhlak dan Ruhani,

  • Memperoleh Kesehatan Jasmani,

  • Meraih Ketakwaan sebagai tujuan utama puasa.

Penjelasan selengkapnya bisa dibaca di sini

Apa yang termasuk rukun puasa?

Yang merupakan rukun puasa itu adalah:

  • Niat

  • Melaksanakan puasa dan menahan diri dari yang membatalkannya

Apa saja syarat wajib puasa?

Syarat-syarat yang menjadikan puasa itu menjadi wajib bagi seseorang adalah sebagai berikut,

  • Laki-laki dan perempuan yang baligh (dewasa secara jasmani dan ruhani),

  • Berakal,

  • Sehat dan kuat berpuasa,

  • Mengetahui masuknya bulan Ramadhan baik dengan ru’ya, hisab maupun khabar yang diketahui orang banyak.

Apa yang termasuk syarat sah puasa?

Hal-hal yang menentukan puasa kita sah atau tidak adalah sebagai berikut,

  • Beragama Islam,

  • Tamyiiz (bisa membedakan yang baik dan yang buruk) atau Balligh (dewasa secara jasmani dan ruhani),

  • Suci dari Haid (datang bulan) dan suci dari Nifas (bagi wanita setelah melahirkan),

  • Puasa ketika hari diperbolehkan untuk berpuasa,

  • Tidak ada hal yang membatalkan puasa.

Apakah Niat itu Perlu?

Rasulullah saw bersabda bahwa segala amal itu akan diberikan balasan atau ganjaran tergantung kepada niatnya. [1] Dan manusia akan dikumpulkan sesuai dengan niat mereka masing-masing. [2] Jadi niat merupakan salah satu dari syarat bahwa puasa bisa sah.

Kapan Niat Puasa itu?

Niat adalah sesuatu yang ada di dalam hati. Sah atau tidaknya puasa tergantung apakah ketika sebelum fajar ia sudah berniat berpuasa atau tidak. Jika ia tidak berniat sebelum fajar, maka tidak sah puasanya. [3] Tapi pernah juga Rasulullah (saw) ketika malam hari, bertanya kepada istri beliau, Aisyah (ra) bahwa apakah ada makanan di rumah. Hadhrat Aisyah (ra) menjawab, “tidak”. Dan ketika malam itu Rasulullah (saw) berniat puasa untuk keesokan harinya [4]. Hadhrat Hafsah (ra) juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda bahwa bukan merupakan puasa jika tidak diniatkan dari malam hari. [5]

Apa lafadz niat puasa?

Dari riwayat-riwayat mengenai niat, Rasulullah (saw) tidak mengungkapkan secara zahir (dengan bacaan khusus) untuk niat puasa ini. Oleh karena itu, cukup diungkapkan di dalam hati bahwa saya bermaksud berpuasa atau saya sedang sahur dengan tujuan puasa.

Bagaimana doa buka puasa yang benar atau Sahih?

Doa buka puasa yang dicontohkan atau disunnahkan oleh Rasulullah (saw) adalah:

(A) Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthortu [6]

dan

(B) Dzahabazh-zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah [7]

Hal apa saja yang membatalkan puasa?

Beberapa hal yang membatalkan puasa, yaitu:

  • Sengaja Makan dan minum Ketika Puasa,

  • Muntah dengan Disengaja,

  • Berhubungan Suami-Istri Ketika Puasa,

  • Keluar darah Haid atau Nifas,

  • Menghirup Air Terlalu Dalam Ketika Berwudhu,

  • Menerima Tranfusi Darah,

  • Menerima suntikan obat,

  • Keluar dari Islam (murtad).

Penjelasan Selengkapnya, silakan baca di sini

Apa Hukuman bagi yang membatalkan puasa secara sengaja?

Jika seseorang sengaja membatalkan puasa, maka sebenarnya ia tidak bisa menggantinya walaupun puasa seumur hidup. Walaupun begitu hukuman membatalkan puasa dengan sengaja adalah cukup berat. Rasulullah (saw) pernah menyampaikan pilihan hukuman untuk membatalkan puasa satu hari adalah:

  • Membebaskan seorang budak,

  • Berpuasa dua bulan berturut-turut,

  • Memberi makan enam puluh orang miskin,

Penjelasan selengkapnya, silakan baca di sini

Bagaimana cara mengganti puasa suami istri yang berhubungan pada siang hari?

Bagi suami-istri yang melakukan hubungan suami istri ketika puasa, maka Rasulullah (saw) memberi petunjuk untuk melaksanakan salah satu dari antara hal berikut:

  • Membebaskan seorang budak,

  • Berpuasa dua bulan berturut-turut,

  • Memberi makan enam puluh orang miskin,

Penjelasan selengkapnya, silakan baca di sini

Apa contoh ibadah sunnah yang dilakukan pada saat puasa di bulan ramadan?

Beberapa ibadah sunnah yang disunnahkan oleh Rasulullah (saw) adalah:

  • Makan sahur [8],

  • Sahur Mendekati Shubuh [8],

  • Menyegerakan dalam Berbuka Puasa [9],

  • Berbuka dengan Kurma atau Air Putih [10],

  • Berdoa Ketika Berbuka [6] [7],

  • Banyak Bersedekah [11],

  • Memperlihatkan Akhlak yang Baik [12],

  • Banyak membaca Alquran [13],

  • Shalat Tarawih [14],

  • Melaksanakan I’tikaf [15],

Selengkapnya bisa simak di sini

Bagaimana jika sakit di bulan puasa?

Allah Ta’ala telah mensyariatkan (dalam QS Albaqarah 185) bahwa orang yang sakit, hendaknya ia tidak berpuasa Ramadhan. Setelah ia sehat, ia diperkenankan untuk kembali melakukan puasa.

Ketika bulan Ramadhan berlalu, hendaklah ia mengganti puasa sebanyak yang ia tinggalkan ketika sakit.

Apa batasan sakit yang boleh untuk tidak puasa?

Allah Ta’ala tidak memberikan batasan sakit yang boleh meninggalkan puasa Ramadhan (dan menggantinya di lain hari). [16] Jadi batasan sakit itu adalah hati kita yang bisa mempertimbangkannya.

Beberapa rekomendasi yang mungkin adalah:

  • sakit yang dikhawatirkan dengan berpuasa bisa menyebabkan bertambah lama sakitnya,

  • sakit yang dikhawatirkan menimbulkan penyakit lainnya,

  • sakit yang dikhawatirkan menimbulkan kondisi yang bahaya,

  • sakit yang menjadikannya tidak kuat berpuasa (qiyas dari kata yuthiiquunahuu),

  • sakit yang dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian,

  • sakit yang mempengaruhi seluruh tubuh,

  • sakit permanen (yang akan terasa sulit jika berpuasa),

Rukhshoh atau keringanan untuk berpuasa ini tidak berlaku bagi sakit yang ringan-ringan saja.

Kenapa perempuan yang sedang haid tidak boleh melaksanakan salat dan puasa?

Wanita atau perempuan yang mengalami haid, secara syariat sedang dalam keadaan tidak suci atau kotor. [17] Islam telah melarang orang yang sedang haid dan nifas untuk tidak melaksanakan:

  • shalat [18] [19] [20],

  • puasa [19],

  • berhubungan suami-istri [21],

  • Thawaf mengelilingi ka’bah [22].

Apa yang boleh dilakukan wanita haid?

Beberapa yang boleh dilakukan wanita haid diantaranya:

  • tidur satu selimut bersama suami [23] [24],

  • suami istri saling bercumbu dengan penghalang kain sarung [25],

  • boleh masuk masjid (tidak untuk shalat) [26] [27],

  • mencuci kepala suami dan menyisirnya [28],

  • dicium suami [24],

  • makan dan minum dalam piring dan gelas yang sama [29],

  • berdzikir kapanpun dalam setiap keadaan [30],

  • menyaksikan khotbah hari raya idul fitri dan idul adha walaupun jauh dari tempat shalat id [31],

  • melakukan seluruh manasik haji selain thawwaf [32],

  • melakukan kegiatan apa saja selain berhubungan suami-istri [33],

Apakah ibu hamil dan menyusui boleh untuk berpuasa?

Wanita hamil dan menyusui tidak diperkenankan untuk berpuasa Ramadhan. Rasulullah (saw) pernah memerintahkan agar wanita hamil dan menyusui tidak melakukan puasa Ramadhan. [34]

Sebagai seorang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hendaknya kita amalkan keringanan yang diperintahkan ini agar ibu dan bayinya diberikan kesehatan dan keberkahan.

Bagaimana cara mengganti puasa yang ditinggalkan oleh orang yang hamil dan menyusui?

Orang hamil dan menyusui dalam Alquran Albaqarah ayat 185 (dengan basmallah) bisa dikategorikan yuthiiquunahuu, yakni orang yang bersusah-payah dalam melakukan puasa. Jadi, mereka diperintahkan cukup membayar fidyah.

Puasa apa yang termasuk puasa wajib?

  • Puasa Ramadhan (puasa yang telah ditetapkan wajib oleh Allah Ta’ala bagi orang-orang Muslim) [35],

  • Puasa Qadha (puasa untuk mengganti sehari atau beberapa hari puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena sakit, bepergian (safar), atau haid) [36],

  • Puasa Nadhar (janji puasa yang dilakukan karena syarat-syarat tertentu) [37],

  • Puasa Kifarat (puasa yang dibebankan karena melakukan pelanggaran syariat tertentu) [38],

Puasa sunnah setelah hari raya idul fitri adalah puasa?

Setelah bulan Ramadhan adalah bulan Syawal, maka puasa setelah Bulan Ramadhan atau puasa setelah Hari Raya Idul Fitri dinamakan Puasa Syawal. [39]

Berapa hari puasa sunnah setelah hari raya idul fitri?

Puasa Syawal itu disunnahkan oleh Rasulullah (saw) dilaksanakan selama enam hari. [39]

Apakah Puasa syawal harus dilaksanakan enam hari berturut-turut?

Puasa syawal adalah enam hari di bulan syawal. Tidak ada riwayat yang mengkhususkan agar dilaksanakan harus berurutan. Puasa ini bisa dilaksanakan kapan saja, namun di dalam bulan Syawal.

Apa ganjaran Puasa syawal?

Rasulullah saw bersabda bahwa barangsiapa berpuasa pada Bulan Ramadhan kemudian melanjutkan dengan puasa enam hari di Bulan Syawal maka seolah-olah ia berpuasa satu tahun penuh. [39]

Tidak Menemukan Pertanyaan yang cocok?

Ajukan pertanyaan anda dengan mengirimkan ke nomor Whatsapp/Telegram: 0812-1313-0862

Jika sudah ditemukan jawabannya, insya Allah pertanyaan beserta jawabannya akan diposting di halaman ini.

Catatan Kaki

  1. H.R. Ibnu Majah, Kitab Zuhud, Bab Niat 

  2. H.R. Ibnu Majah, Kitab Zuhud, Bab Niat 

  3. H.R. Abu Dawud, Kitab Puasa, Bab Niat dalam puasa 

  4. H.R. Ibnu Majah, Kitab Puasa, Bab Kewajiban untuk (niat) puasa sejak malam, dan bolehnya memilih saat puasa 

  5. H.R. Ibnu Majah, Kitab Puasa, Bab Kewajiban untuk (niat) puasa sejak malam, dan bolehnya memilih saat puasa 

  6. H.R. Abu Dawud, Kitab Puasa, Doa saat buka puasa  2

  7. H.R. Abu Dawud, Kitab Puasa, Doa saat buka puasa  2

  8. H.R. Al-Bukhari, Kitab Shaum, Berapa waktu antara sahur hingga shalat subuh  2

  9. H.R. Al-Bukhari, Kitab Shaum, Bab Menyegerakan buka puasa 

  10. H.R. At-Tirmidzi, Kitab Puasa, Bab Yang disunnnahkan untuk berbuka 

  11. H.R. Al-Bukhari, Kitab Shaum, Bab Di bulan ramadan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lebih banyak beramal kebaikan 

  12. H.R. Al-Bukhari, Kitab Shaum, Keutamaan puasa 

  13. H.R. Al-Bukhari, Kitab Keutamaan Al Quran, Jibril membacakan Al-Qur’an kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam 

  14. H.R. An-Nasa’i, Kitab Puasa, Bab Ganjaran bagi yang shalat malam ramadhan dan puasa karena iman dan ihtisab 

  15. H.R. Al-Bukhari, Kitab I’tikaf, Bab Iktikaf di sepuluh hari terkahir 

  16. Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz pada 03 Juni 2016 di Baitul Futuh, London halaman 20 

  17. https://www.hadits.id/hadits/majah/636 

  18. https://www.hadits.id/hadits/bukhari/295 

  19. https://www.hadits.id/hadits/tirmidzi/120  2

  20. https://www.hadits.id/hadits/majah/939 

  21. https://www.hadits.id/hadits/tirmidzi/126 

  22. https://www.hadits.id/hadits/muslim/2114 

  23. https://www.hadits.id/hadits/muslim/444 

  24. https://www.hadits.id/hadits/bukhari/311  2

  25. https://www.hadits.id/hadits/muslim/442 

  26. https://www.hadits.id/hadits/nasai/272 

  27. https://www.hadits.id/hadits/tirmidzi/124 

  28. https://www.hadits.id/hadits/bukhari/286 

  29. https://www.hadits.id/hadits/nasai/277 

  30. https://www.hadits.id/hadits/muslim/558 

  31. https://www.hadits.id/hadits/bukhari/313 

  32. https://www.hadits.id/hadits/bukhari/294 

  33. https://www.hadits.id/hadits/nasai/286 

  34. https://www.hadits.id/hadits/tirmidzi/649 

  35. Alquran Surah Al-Baqarah (002) ayat 184 (dengan basmallah) 

  36. Alquran Surah Al-Baqarah (002) ayat 185 (dengan basmallah) 

  37. https://www.hadits.id/hadits/bukhari/6212 dan https://www.hadits.id/hadits/bukhari/6202 

  38. H.R. Al-Bukhari, Kitab Kafarat sumpah, Membayar kaffarat sepuluh orang miskin, dekat maupun jauh 

  39. H.R. Abu Dawud, Kitab Puasa, Puasa enam hari di bulan Syawwal  2 3