Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Mengapa Ahmadi tidak diperbolehkan menikah dengan non-Ahmadi

  • Hadhrat Masih Mau’ud (as), pendiri Jemaat Ahmadiyah tidak memberikan restu jika ada Ahmadi menikah dengan non-Ahmadi [1],
  • Para khalifah setelah beliau, yakni hadhrat Khalifatul Masih telah mengeluarkan mereka dari organisasi jemaat [2],
  • Rasulullah saw merekomendasikan dalam pernikahan hendaknya calon pengantin adalah sekufu. Memang yang terbaik adalah Ahmadi menikah dengan sesama Ahmadi karena mempunyai keyakinan, cara pandang, visi dan missi yang seragam secara ruhani. [3],

  • Menikah sesama Ahmadi merupakan bukti ketaatan kita kepada Imam Mahdi dan Khalifah [4],

  • Bentuk cinta terhadap keyakinannya, bangga dan bersyukur karena dirinya adalah seorang Ahmadi [3],

  • Menikah sesama Ahmadi bisa meminimalisir perselisihan yang terjadi setelah pernikahan [3],

  • Mempunyai cara pandang yang sama dalam mendidik dan membesarkan anak-keturunannya [3],

  • Organisasi berhak membuat aturan untuk melindungi dari kerusakan dan kehancuran. Salah satunya adalah menikah sesama anggotanya.

Bagaimana jika hadir dalam pernikahan Ahmadi dengan ghair Ahmadi?

  • Ahmadi yang menikah dengan ghair Ahmadi adalah telah melanggar aturan organisasi,

  • Ahmadi yang menikah dengan ghair Ahmadi adalah sama artinya tidak mentaati perintah Imam Mahdi dan Khalifah [4],

Jadi, dengan menghadiri pernikahan mereka sama artinya:

  • Merestui dan menyetujui pernikahan mereka,

  • Ikut (berpartisipasi dalam) melanggar aturan dan kedisiplinan yang telah ditetapkan Jemaat [5],

  • Mengikuti jejak mereka yang tidak mentaati perintah Imam Mahdi dan Khalifah,

  • Huzur V (aba) menyatakan, maka sehubungan dengan hal itu Jamaat harus melakukan/melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan untuk mengeluarkannya serta orang-orang (Ahmadi) yang mempunyai kaitan dengan perkawinannya. [6] Ketika berurusan dengan masalah seperti itu dan harus memastikan siapa (saja) yang (ikut) melaksanakan upacara pernikahan tersebut. Jika dia seorang ahmadi maka artinya dia juga bersikap menentang aturan (ketentuan) serta tata cara yang telah ditetapkan oleh Jamaat dan kepadanya dapat dikenakan sangsi yang direkomendasi. [5]

Apa sanksi yang akan didapat jika melanggar?

  • Sanksi sepenuhnya diserahkan kepada Hadhrat Khalifatul Masih

  • Sanksi yang paling ringan biasanya diberikan bimbingan secara khusus

  • Sanksi yang paling berat adalah dikeluarkan dari Jemaat

Selengkapnya, simak di sini

Catatan Kaki

  1. Buku Pedoman Rishta Natah, Majelis Amilah Jamaat Ahmadiyah Indonesia, 2004, hlm. 32 

  2. Buku Pedoman Rishta Natah, Majelis Amilah Jamaat Ahmadiyah Indonesia, 2004, hlm. 32-34 

  3. https://islamrahmah.id/mengapa-kami-hanya-ingin-dan-harus-menikah-dengan-sesama-ahmadi/  2 3 4

  4. Ketaatan kepada Khilafat  2

  5. Buku Pedoman Rishta Natah, Majelis Amilah Jamaat Ahmadiyah Indonesia, 2004, hlm. 39  2

  6. Buku Pedoman Rishta Natah, Majelis Amilah Jamaat Ahmadiyah Indonesia, 2004, hlm. 40