Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Shalat Witir

Witir dalam bahasa arab ditulis witr yang berarti ganjil [1]. Salat Witir adalah salat yang sering dilaksanakan Rasulullah (saw), yang dikerjakan malam hari antara setelah waktu isya dan sebelum waktu salat subuh, dengan jumlah rakaat yang ganjil. Biasanya salat ini dilakukan setelah salat tarawih atau shalat tahajjud. Shalat witir sangat ditekankan oleh Rasulullah (saw). Apa saja keutamaannya, simak uraian berikut,

Lebih Berharga dari Unta Merah; Kendaraan Termahal di Masanya

Diriwayatkan,

عَنْ خَارِجَةَ بْنِ حُذَافَةَ قَالَ أَبُو الْوَلِيدِ الْعَدَوِيُّ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَمَدَّكُمْ بِصَلَاةٍ وَهِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ وَهِيَ الْوِتْرُ فَجَعَلَهَا لَكُمْ فِيمَا بَيْنَ الْعِشَاءِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ

…dari Kharijah bin Hudzafah, Abu Al Walid Al Adawi berkata; Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam keluar menemui Kami dan bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah menambahkan bagi kalian sebuah shalat yang dia lebih baik bagi kalian dari pada unta merah, yaitu shalat witir, dan telah menjadikannya berada diantara shalat Isya hingga terbit fajar.” (H.R. Abu Dawud) [2]

Unta merah adalah kendaraan dengan kualitas terbaik di masanya. Harta yang paling istimewa di kalangan orang Arab waktu itu.

Shalat Witir Sebagai Amanat dari Allah Ta’ala

Diriwayatkan,

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ زَادَكُمْ صَلَاةً وَهِيَ الْوَتْرُ

dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla telah menambahkan untuk kalian shalat, yaitu shalat witir.” (H.R. Ahmad) [3]

Jadikan Sebagai Shalat Pamungkas di Satu Hari

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

dari ‘Abdullah bin ‘Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

“Jadikanlah akhir shalat malam dengan (shalat) witir.” (H.R. Bukhari) [4]

Allah Mencintai Shalat Witir dan Rasulullah saw Selalu Mengerjakannya

Diriwayatkan,

قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ إِنَّ الْوِتْرَ لَيْسَ بِحَتْمٍ وَلَا كَصَلَاتِكُمْ الْمَكْتُوبَةِ وَلَكِنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْتَرَ ثُمَّ قَالَ يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

Ali bin Abu Thalib berkata, “Shalat witir tidak wajib dan tidak pula seperti shalat maktubah (atau shalat fardhu) kalian, hanya saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengerjakannya, beliau (saw) bersabda:

“Wahai ahli Quran, hendaklah kalian shalat witir, sesungguhnya Allah menyukai shalat witir.” (H.R. Ibnu Majah) [5]

Rasulullah (saw) Menekankan untuk Shalat Witir

Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا الْوِتْرُ حَقٌّ فَمَنْ لَمْ يُوتِرْ فَلَيْسَ مِنَّا

…dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata; saya mendengar Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda:

“Shalat witir adalah sebuah hak, barang siapa yang tidak melakukan shalat witir maka ia bukan dari golongan Kami, shalat witir adalah sebuah hak, barang siapa yang tidak melakukan shalat witir maka bukan dari golongan Kami, (beliau mengulangnya tiga kali)” (H.R. Abu Dawud) [6]

Witir Boleh Dilakukan di Awal Malam hingga Akhir Malam

Diriwayatkan,

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

dari Jabir ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia melakukan witir di awal malam. Dan siapa yang berharap mampu bangun di akhir malam, hendaklah ia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam disaksikan (oleh para malaikat) dan hal itu adalah lebih afdlal (utama).” (H.R. Muslim) [7]

Rasulullah (saw) biasa witir di akhir waktu malam atau waktu sahur. Diriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُلَّ اللَّيْلِ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ

…dari ‘Aisyah ia berkata, “Sepanjang malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat witir dan berhenti pada waktu sahur.” (H.R. Bukhari) [8]

Tidak Ada Dua Witir dalam Satu Malam

Diriwayatkan,

عَنْ قَيْسِ بْنِ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

…dari Qais bin Thalq bin Ali dari ayahnya dia berkata, saya mendengar Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada dua kali witir dalam satu malam.” (H.R. Tirmidzi) [9]

Bacaan yang Disunnahkan Rasulullah (saw) ketika Witir

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ فِي رَكْعَةٍ رَكْعَةٍ

…dari Ibnu Abbas dia berkata, adalah Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat witirnya membaca SABBIHISMA RABBIKAL A’LA dan QUL YAA AYYUHAL KAAFIRUUN dan QUL HUWALLAHU AHAD dalam setiap raka’atnya. (H.R. Tirmidzi) [10]

Untuk rakaat ketiga (bacaan setelah surat Al-Ikhlas), diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ جُرَيْجٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يُوتِرُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ قَالَ وَفِي الثَّالِثَةِ بِقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ

dari Abdul Aziz bin Juraij berkata; aku bertanya kepada Aisyah ummul mukminin radhiyAllahu; surat apakah yang dibaca Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam ketika melakukan witir? Kemudian ia menyebutkan maknanya; dan pada raka’at yang ketiga beliau membaca “Qul Huwallaahu Ahad” dan “Mu’awwidzatain” (Surat Al Falaq dan An Naas). (H.R. Abu Dawud) [11]

Jika Lupa Shalat Witir

Jika di malam hari kita lupa melaksanakan witir, maka hendaklah dilaksanakan sesuai riwayat berikut ini,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَامَ عَنْ الْوِتْرِ أَوْ نَسِيَهُ فَلْيُصَلِّ إِذَا أَصْبَحَ أَوْ ذَكَرَهُ

…dari Abu Sa’id ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa kehilangan shalat witir karena tidur atau lupa, hendaklah ia kerjakan ketika bangun (subuh) atau teringat.” (H.R. Ibnu Majah) [12]

Witir Boleh Ditambah dengan Bacaan Qunut

Qunut dilakukan di Rakaat Terakhir Witir

Diriwayatkan,

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي آخِرِ وِتْرِهِ ...

dari Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam di akhir (rakaat) shalat witirnya… (H.R. Abu Dawud) [13]

Qunut Boleh Dilakukan Setelah Ruku’

Diriwayatkan,

عَنْ مُحَمَّدٍ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ الْقُنُوتِ فَقَالَ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوعِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Muhammad ia berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang qunut, maka ia pun menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan qunut setelah rukuk. “ (H.R. Ibnu Majah) [14]

Qunut Boleh Dilakukan Sebelum Ruku’

Diriwayatkan,

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُوتِرُ فَيَقْنُتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Maimun Ar-Raqqi berkata, telah menceritakan kepada kami Makhlad bin Yazid dari Sufyan dari Zubaid Al Yami dari Sa’id bin ‘Abdurrahman bin Abza dari Bapaknya dari Ubai bin Ka’b berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat witir dan qunut sebelum rukuk. “ (H.R. Ibnu Majah) [15]

Bacaan Qunut

Diriwayatkan,

قَالَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَلَّمَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Al Hasan bin Ali radliallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam mengajariku beberapa kalimat yang saya ucapkan dalam shalat witir, yaitu:

ALLAHUMMAHDINI FIIMAN HADAIT, WA’AAFINI FIIMAN ‘AFAIT, WATAWALLANII FIIMAN TAWALLAIT, WABAARIK LII FIIMA A’THAIT, WAQINII SYARRAMA QADLAIT, FAINNAKA TAQDLI WALAA YUQDLA ‘ALAIK, WAINNAHU LAA YADZILLU MAN WAALAIT, TABAARAKTA RABBANA WATA’AALAIT (H.R. Tirmizi) [16]

Diriwayatkan,

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي آخِرِ وِتْرِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سُخْطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

dari Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam di akhir shalat witirnya membaca:

“ALLAAHUMMA INNII A’UUDZU BIRIDHAAKA MIN SAKHATHIKA WA BIMU’AAFAATIK, MIN ‘UQUUBATIK, WA A’UUDZU BIKA MINKA LAA UHSHII TSANAA-AN ‘ALAIK, ANTA KAMAA ATSNAITA ‘ALAA NAFSIK.”

(Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaanMU dari murkaMu dan kepada ampunanMu dari adzabMu, dan aku berlindung kepadaMu dariMu, aku tidak dapat menghitung pujian kepadaMu, Engkau sebagaimana yang telah Engkau puji diri-Mu). (H.R. Abu Dawud) [13]

Jumlah Raka’at Shalat Witir

Ada persoalan mengenai shalat Tarawih: “Tatkala Tarawih itu sendiri merupakan Tahajud, maka apa pendapat Tuan mengenai shalat duapuluh raka’at? Sebab Tahajud dan witir itu sebelas raka’at.” Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:

“Sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah yang delapan raka’at, dan itu beliau kerjakan pada waktu Tahajud, dan itulah yang paling afdhal (utama), namun mengerjakan pada bagian awal malam adalah dibenarkan.

Di dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa. Rasulullah saw. mengerjakannya di bagian awal malam. Yang duapuluh raka’at dikerjakan belakangan, namun sunnah Rasulullah saw. adalah yang telah dipaparkan pertama tadi.”. [17]

Catatan Kaki