Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Shalat Tahajud

Tahajud adalah satu ibadah nafal yang cantum dalam Alquran. Tahajud, dalam istilah lain dikenal juga dengan qiyaamul-lail yang berarti berdiri di malam hari, yakni untuk melaksanakan shalat malam.

Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan shalat malam pada permulaan surah Al-Muzammil. Rasulullah dan para sahabatnya menegakkan shalat malam dengan sekuat tenaga hingga telapak kaki mereka membengkak. Kemudian Allah Azza wa Jalla memberikan keringanan pada akhir turunnya surah Al Muzammil, sehingga shalat malam yang semula hukumnya wajib menjadi sunnah. [1]

Tahajud Akan Meninggikan Derajat

Allah Ta’ala berfirman,

وَ مِنَ الَّیۡلِ فَتَہَجَّدۡ بِہٖ نَافِلَۃً لَّکَ ٭ۖ عَسٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَکَ رَبُّکَ مَقَامًا مَّحۡمُوۡدًا ﴿۸۰﴾

Dan pada sebagian malam, maka tahajudlah engkau dengan membacanya (Alquran), suatu ibadah tambahan bagi engkau. Semoga Tuhan engkau akan mengangkat engkau ke derajat yang terpuji. (QS Bani Israil [17]: 80)

Tafsir: …Shalat Tahajud paling cocok untuk orang mukmin guna mencapai kemajuan rohaninya, oleh karena dalam kesunyian malam, dalam keadaan menyendiri di hadapan Sang Khaliknya, ia menikmati hubungan khas dengan Tuhan.

Tahajud Menjadikan Penguasaan Diri & Pengendalian Lisan

Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ نَاشِئَۃَ الَّیۡلِ ہِیَ اَشَدُّ وَطۡاً وَّ اَقۡوَمُ قِیۡلًا ؕ﴿۷﴾

Sesungguhnya bangun di waktu malam untuk shalat adalah lebih kuat untuk menguasai diri dan lebih ampuh untuk berbicara. (QS Al Muzzammil [73]: 7)

Tafsir: Bangun malam untuk mendirikan shalat merupakan wahana yang kuat untuk menguasai diri dan dengan ampuhnya mengendalikan kecenderungan dan hasrat jahat seseorang. Merupakan pengalaman nyata semua orang suci, bahwa tiada yang begitu banyak memberi manfaat bagi perkembangan rohani seseorang selain Tahajud atau shalat malam. Di dalam kesunyian dan keheningan malam, semacam kedamaian yang ganjil mengungguli segala sesuatu, saat alam seluruhnya dan manusia diam – karena benar-benar menyendiri bersama Sang Khalik-nya – menikmati hubungan istimewa dengan Dia dan menjadi terang benderang oleh cahaya samawi istimewa yang diberikannya lagi kepada orang-orang lain. Saat itu luar biasa cocoknya bagi seseorang guna mengembangkan kekuatan watak dan membuat pembicaraannya sehat, bernas, dan dapat diandalkan. Ucapan yang jitu dan kemampuan yang tiada terhingga untuk bekerja keras merupakan dua syarat yang perlu bagi seorang Pembaharu agar berhasil di dalam tugasnya. Tahajud membantu memperkembangkan dua syarat itu. Karena telah dapat menguasai pikiran dan ucapannya, orang menjadi dapat menguasai orang-orang lain pula.

Tahajud Dilaksanakan oleh Golongan Orang-orang yang Beserta Rasulullah saw

Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ رَبَّکَ یَعۡلَمُ اَنَّکَ تَقُوۡمُ اَدۡنٰی مِنۡ ثُلُثَیِ الَّیۡلِ وَ نِصۡفَہٗ وَ ثُلُثَہٗ وَ طَآئِفَۃٌ مِّنَ الَّذِیۡنَ مَعَکَ ؕ وَ اللّٰہُ یُقَدِّرُ الَّیۡلَ وَ النَّہَارَ ؕ عَلِمَ اَنۡ لَّنۡ تُحۡصُوۡہُ فَتَابَ عَلَیۡکُمۡ فَاقۡرَءُوۡا مَا تَیَسَّرَ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ ؕ عَلِمَ اَنۡ سَیَکُوۡنُ مِنۡکُمۡ مَّرۡضٰی ۙ وَ اٰخَرُوۡنَ یَضۡرِبُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ یَبۡتَغُوۡنَ مِنۡ فَضۡلِ اللّٰہِ ۙ وَ اٰخَرُوۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ۫ۖ فَاقۡرَءُوۡا مَا تَیَسَّرَ مِنۡہُ ۙ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اَقۡرِضُوا اللّٰہَ قَرۡضًا حَسَنًا ؕ وَ مَا تُقَدِّمُوۡا لِاَنۡفُسِکُمۡ مِّنۡ خَیۡرٍ تَجِدُوۡہُ عِنۡدَ اللّٰہِ ہُوَ خَیۡرًا وَّ اَعۡظَمَ اَجۡرًا ؕ وَ اسۡتَغۡفِرُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪۲۱﴾

Sesungguhnya Tuhan engkau mengetahui bahwa engkau berdiri shalat hampir dua pertiga malam, dan kadangkala setengahnya atau sepertiganya, dan begitu pula segolongan orang yang beserta engkau. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Dia mengetahui bahwa kamu tidak dapat mengukur waktu dengan cermat, maka Dia mengasihanimu, maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antaramu yang sakit, dan beberapa yang lainnya yang sedang bepergian di bumi mencari karunia Allah, dan beberapa lainnya berperang di jalan Allah, maka kamu bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an itu, dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan pinjamkanlah kepada Allah pinjaman yang baik. Dan apa pun yang kamu dahulukan untuk dirimu dari kebaikan, kamu akan mendapatkannya di sisi Allah, itu lebih baik dan lebih besar ganjarannya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Al Muzzammil [73]: 21)

Tafsir: Dalam ayat pembukaan surah ini Rasulullah saw diperintahkan supaya berTahajud dengan tetap, sebab Tahajud itu akan memberikan kepada beliau kekuatan yang diperlukan guna melaksanakan kewajiban berat berupa penyampaian Amanat Ilahi yang dalam waktu singkat akan diserahkan kepada beliau. Dalam ayat ini, beliau diberi keyakinan tentang keridaan Ilahi, dan dikatakan kepada beliau bahwa beliau telah melaksanakan perintah Tuhan tentang Tahajud dengan setia – bukan hanya beliau semata tetapi segolongan orang-orang mukmin juga. Perintah itu tidak khusus ditujukan kepada para pengikut Rasulullah, namun karena senantiasa mendambakan mengikuti jejak beliau, mereka pun meniru contoh Rasulullah saw dalam hal ini.

Shalat yang Paling Utama Setelah Shalat Fardhu

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَرْفَعُهُ قَالَ سُئِلَ أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ وَأَيُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ

…dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu -dan ia saya mendengar-marfu’-kannya bahwa; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, “Shalat apakah yang paling utama setelah shalat Maktubah (wajib)? Dan puasa apakah yang paling utama setelah puasa Ramadlan?” maka beliau menjawab: “Seutama-utama shalat setelah shalat Maktubah (wajib) adalah shalat pada sepertiga akhir malam, dan seutama-utama puasa setelah puasa Ramadlan adalah puasa di bulan Muharram.” (H.R. Muslim) [2]

Tahajud Hendaknya dilaksanakan Secara Dawwam

Dalam Hadits Sahih al-Bukhari diriwayatkan,

حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَكُنْ مِثْلَ فُلَانٍ كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

telah menceritakan kepada saya ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash radliallahu ‘anhuma berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepadaku: “ Wahai ‘Abdullah, janganlah kamu seperti fulan, yang dia biasa mendirikan shalat malam namun kemudian meninggalkan shalat malam”. (H.R. Bukhari) [3]

Jumlah Rakaat Tahajud

Diriwayatkan,

أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً كَانَتْ تِلْكَ صَلَاتَهُ تَعْنِي بِاللَّيْلِ فَيَسْجُدُ السَّجْدَةَ مِنْ ذَلِكَ قَدْرَ مَا يَقْرَأُ أَحَدُكُمْ خَمْسِينَ آيَةً قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ وَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ ثُمَّ يَضْطَجِعُ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ لِلصَّلَاةِ

…bahwa ‘Aisyah mengabarkan kepadanya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat sebelas rakaat, begitulah cara beliau shalat -yakni shalat tahajud-. Dalam shalat tersebut beliau sujud seperti lamanya kalian membaca sekitar lima puluh ayat sebelum mengangkat kepalanya. Dan beliau mengerjakan shalat dua rakaat sebelum melaksanakan shalat subuh. Kemudian beliau berbaring pada sebelah tubuh sebelah kanan hingga datang mu’adzin (membangunkan) untuk shalat.” (H.R. Bukhari) [4]

Cara Rasulullah (saw) Melaksanakan Shalat Tahajud

Diriwayatkan,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ إِنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ صَلَاةُ اللَّيْلِ قَالَ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata; Ada seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bagaimana cara shalat malam?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “ Dua dua (raka’at) dan jika kamu khawatir masuk waktu Shubuh witirlah dengan satu raka’at”. (H.R. Bukhari) [5]

Abdul Aziz Sialkoti [secara keliru] menjelaskan di Lailpur bahwa Rasulullah saw. tidak memerintahkan shalat Tahajjud seperti yang diamalkan oleh umat Islam, melainkan beliau hanyalah bangun dan membaca Quran Syarif. Kemudian dia mengatakan bahwa itu jugalah yang merupakan keyakinan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Melalui Munshi Nabi Bakhs Sahib dan Maulwi Nuruddin Sahib hal ini dipertanyakan kebenarannya kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Mengenai hal itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda (1 Nopember 1903):

“Sama-sekali bukan keyakinan saya bahwa Rasulullah saw. bangun dan hanya membaca Quran Syarif saja. Saya suatu kali memang telah menerangkan bahwa jika seseorang dalam keadaan sakit atau karena sebab-sebab tertentu dia tidak dapat menunaikan nafal-nafal Tahajjud maka dia boleh saja bangun lalu membaca istighfar, shalawat, dan Al-Fatihah.

Rasulullah saw. selalu mengerjakan nafal-nafal. Beliau sering sekali melakukan 11 rakaat, yakni 8 raka’at nafal, dan 3 raka’at witir. Kadang-kadang semua itu beliau lakukan sekaligus, dan kadang-kadang beliau kerjakan dua raka’at kemudian beliau tidur, lalu bangun lagi dan mengerjakan dua raka’at, kemudian tidur.

Ringkasnya, dengan cara diselingi tidur lalu bangun mengerjakan nafal-nafal, seperti yang di amalkan saat ini. Yaitu pengamalan yang terus-menerus berlangsung selama 14 abad ini.”. [6]

Sikat Gigi Sebelum Tahajud

Diriwayatkan,

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

dari Hudzaifah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila hendak melaksanakan shalat malam beliau menggosok mulutnya dengan siwak.” (H.R. An-Nasai) [7]

Batas Waktu Tahajud

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ فَقَدْ ذَهَبَ كُلُّ صَلَاةِ اللَّيْلِ وَالْوِتْرُ فَأَوْتِرُوا قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ

…dari Ibnu Umar dari Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Jika fajar telah terbit, dan telah habis waktu untuk mengerjakan shalat malam serta shalat witir, maka kerjakanlah shalat witir sebelum terbitnya fajar (matahari).” (H.R. Tirmidzi) [8]

Pentingnya Tahajud

Diriwayatkan,

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا لَا تَدَعْ قِيَامَ اللَّيْلِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَدَعُهُ وَكَانَ إِذَا مَرِضَ أَوْ كَسِلَ صَلَّى قَاعِدًا

Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Janganlah kamu meninggalkan shalat malam (qiyamul lail), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkannya, bahkan apabila beliau sedang sakit atau kepayahan, beliau shalat dengan duduk.” (H.R. Abu Dawud) [9]

Ketika Rasulullah (saw) sudah dalam usia lanjut, beliau tetap melaksanakan tahajud. Diriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي شَيْءٍ مِنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ جَالِسًا حَتَّى إِذَا كَبِرَ قَرَأَ جَالِسًا فَإِذَا بَقِيَ عَلَيْهِ مِنْ السُّورَةِ ثَلَاثُونَ أَوْ أَرْبَعُونَ آيَةً قَامَ فَقَرَأَهُنَّ ثُمَّ رَكَعَ

…dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Tidak pernah aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat dalam shalat malam dalam keadaan duduk kecuali ketika Beliau sudah berusia lanjut, ketika usia tua itu Beliau membaca dalam keadaan duduk. Namun bila surat yang dibacanya tinggal tersisa sekitar tiga puluh atau empat puluh ayat, maka Beliau berdiri dan melanjutkan bacaannya itu dengan berdiri. Kemudian Beliau ruku’”. (H.R. Bukhari) [10]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan,

“Jika seluruh umur ini dilewatkan di dalam pekerjaan-pekedaan duniawi, maka apa yang telah dikumpulkan untuk akhirat? Bangunlah secara khusus untuk tahajud dan dirikanlah dengan penuh minat dan khusuk. Dikarenakan di antara salat-salat itu ada pekerjaan maka akan timbul ujian. Pemberi rezeki adalah Allah Ta’ala. Hendaknya dirikan shalat pada waktunya. Zhuhur dan Asar kadang-kadang bisa dijamak. Allah Ta’ala mengetahui bahwa akan ada orang-orang yang lemah (‘uzur), untuk itulah kelonggaran ini diberikan. Namun kelonggaran ini tidak dilakukan untuk menjamak tiga shalat.

Tatkala di dalam pekerjaan dan hal-hal lainnya menusia mendapat hukuman [dari pimpinan], seandainya menanggung derita itu demi Allah Ta’ala maka betapa indahnya”. [11]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

Saya tidak mengerti apa beda siang dan malam. Bedanya hanya terang dan gelap, terang pun bisa saja secara buatan. Pada malam terdapat sebuah berkat, yakni Allah pun telah menetapkan malam sebagai waktu untuk menganugerahkan karunia-karunia-Nya. Untuk itulah tahajjud diperintahkan malam hari. Pada malam hari [manusia] terlepas dari urusan-urusan lain, dan tidak terganggu oleh kesibukan, juga pekerjaan dapat dilakukan dengan hati yang tenang. Pada malam hari jika hanya tidur dan tergeletak bagai mayat, apalah yang dapat diraih?”. [12]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Bangunlah di waktu malam dan berdoalah supaya Allah memperlihatkan jalan-Nya kepada kalian. Para sahabat Rasulullah saw. pun telah memperoleh tarbiyat (pendidikan) secara bertahap. Bagaimana mereka itu sebelumnya? Adalah bagaikan penyemaian bibit [oleh] seorang petani, kemudian Rasulullah saw. mengairinya. Beliau saw. telah banyak memanjatkan doa bagi mereka. Benihnya bagus, dan tanahnya pun baik, maka akibat pengairan itu telah muncullah buah-buah yang bagus. Sebagaimana Rasulullah saw. berjalan, seperti itulah mereka berjalan. Mereka tidak menunggu siang atau malam.

Bertobatlah kalian dengan hati yang benar. Bangunlah untuk tahajjud, berdoalah, luruskan (perbaikilah) hati. Tinggalkanlah kelemahan-kelemahan, dan buatlah ucapan serta amalan kalian bersesuaian dengan kehendak Allah Ta’ala.

Yakinlah, bahwa barangsiapa senantiasa mengingat nasihat ini dan secara amalan nyata memanjatkan doa, dan secara nyata membawa permohonan (doa) ke hadapan Allah, maka Allah Ta’ala akan mengaruniainya, dan di dalam hatinya akan timbul perubahan. Janganlah kalian berputus asa terhadap Allah Ta’ala”. [13] [14]

Jika Berhalangan Tahajud

... وَكَانَ إِذَا شَغَلَهُ عَنْ قِيَامِ اللَّيْلِ نَوْمٌ أَوْ مَرَضٌ أَوْ وَجَعٌ صَلَّى مِنْ النَّهَارِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً ...

(Hadhrat Aisyah menceritakan mengenai) Rasulullah (saw) jika berhalangan untuk shalat malam karena ketiduran atau sakit, maka beliau mengerjakan shalat dua belas rakaat pada siang harinya. [1]

Catatan Kaki