Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Sahur

Sahur secara bahasa diambil dari kata sa-ha-ro (سَحَر) yang berarti waktu sebelum fajar, sahur, di akhir malam. [1] Sedangkan kata ashaar (أَسْحَار) berarti pada waktu sahur. [2]

Mengenai kata sahur, Allah Ta’ala berfirman dalam dua ayat,

اَلصّٰبِرِیۡنَ وَالصّٰدِقِیۡنَ وَالۡقٰنِتِیۡنَ وَالۡمُنۡفِقِیۡنَ وَالۡمُسۡتَغۡفِرِیۡنَ بِالۡاَسۡحَارِ [3:18]

Orang-orang yang sabar, yang benar, yang taat, dan yang berinfak di jalan Allah dan orang-orang yang memohon ampun di bagian akhir malam (QS Ali ‘Imran’ [3]: 18)

وَبِالۡاَسۡحَارِ ہُمۡ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ [51:19]

Dan di waktu sahur mereka memohon ampunan (Allah) (QS AL-Dzariyat [51]: 19)

Jadi, di hari-hari lain selain Ramadhan, Allah Ta’ala memerintahkan kita bahwa sebelum fajar tiba, kita diperintahkan banyak-banyak beristigfar atau memohon ampun kepada Allah.

Keberkahan Sahur

Diriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah kalian, karena didalam sahur ada keberkahan”. (H.R. Bukhari) [3]

Dalam Hadits Sunan an-Nasai diriwayatkan,

دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَتَسَحَّرُ فَقَالَ إِنَّهَا بَرَكَةٌ أَعْطَاكُمْ اللَّهُ إِيَّاهَا فَلَا تَدَعُوهُ

…Aku pernah masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang makan sahur, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya itu adalah berkah yang Allah berikan kepada kalian, maka janganlah kalian meninggalkannya.” (H.R. An-Nasai) [4]

Berkennaan dengan dua hadits di atas, keduanya membicarakan mengenai keberkahan. Menurut kamus Al-Maany, بَرَكة (berkah) berarti kemakmuran, kebaikan, kebahagiaan, peningkatan derajat ruhani [5].

Sahur Membantu Menopang Puasa

Dalam Hadits Sunan Ibnu Majah diriwayatkan,

اسْتَعِينُوا بِطَعَامِ السَّحَرِ عَلَى صِيَامِ النَّهَارِ وَبِالْقَيْلُولَةِ عَلَى قِيَامِ اللَّيْلِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Manfaatkanlah makan sahur untuk menolongmu puasa di siang hari, dan tidur siang untuk bangun malam. “ (H.R. Ibnu Majah) [6]

Sahur Mendekati Shubuh

Diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari,

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Zaid bin Tsabit radliallahu ‘anhu berkata: “Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian Beliau pergi untuk melakanakan shalat. Aku bertanya: “Berapa antara adzan (Shubuh) dan sahur?”. Dia menjawab: “Sebanyak ukuran bacaan lima puluh ayat”. (HR. Bukhari) [7]

Sunnahnya, kita berhenti makan sahur sekira bacaan 50 ayat Alquran, yakni sekira 10 menit sebelum Shubuh.

Kapan Sahur Harus Dihentikan (Imsak)

Menghentikan sahur untuk memulai ibadah puasa dikenal dengan Imsak yang artinya “menahan”. [8] Azan Shubuh bukan batas untuk berhenti Sahur. Menurut Alquran QS Albaqarah (2):188 dijelaskan, Allah Ta’ala berfirman:

...وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ ...

Artinya “…Makan dan minumlah kalian (sahur) sampai tampak kepada kalian benang putih terpisah dari benang hitam (cahaya di cakrawala) pada waktu fajar. Setelah itu sempurnakanlah puasa dari pagi sampai malam…”. (Al-Baqarah: 188)

Jadi batas berhentinya sahur (imsak) itu adalah ketika sudah terbit fajar. Hal ini selaras Hadits Sahih Bukhari berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَمْنَعَنَّ أَحَدَكُمْ أَذَانُ بِلَالٍ مِنْ سُحُورِهِ فَإِنَّهُ يُؤَذِّنُ لِيَنْتَبِهَ نَائِمُكُمْ وَلِيَرْجِعَ قَائِمُكُمْ وَلَيْسَ الْفَجْرُ أَنْ يَقُولَ هَكَذَا وَلَكِنْ هَكَذَا يَعْتَرِضُ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ

Dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah salah seorang dari kalian terhalang dengan adzannya Bilal untuk makan sahur. Sebab ia adzan untuk membangunkan kalian dan mengembalikan orang yang shalat (untuk berdiri saat duduk istirahat). Dan fajar itu bukan dengan mengatakan seperti ini, tetapi seperti ini -sambil menunjuk pada arah ufuk langit-. “ (H.R. Ibnu Majah) [9]

Fajar (dalam bahasa Arab ditulis فَجْرٌ fajrun) berarti cahaya kemerah-merahan di langit menjelang matahari terbit [10]

Walaupun demikian, sesuai sunnah Rasulullah (saw), beberapa menit sebelum Shalat Shubuh (sekira bacaan 50 ayat Alquran), beliau (saw) telah menghentikan sahur. [7]

Catatan Kaki