Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Alquran - Puasa - QS An-Nisa (004) ayat 93

وَ مَا کَانَ لِمُؤۡمِنٍ اَنۡ یَّقۡتُلَ مُؤۡمِنًا اِلَّا خَطَـًٔا ۚ وَ مَنۡ قَتَلَ مُؤۡمِنًا خَطَـًٔا فَتَحۡرِیۡرُ رَقَبَۃٍ مُّؤۡمِنَۃٍ وَّ دِیَۃٌ مُّسَلَّمَۃٌ اِلٰۤی اَہۡلِہٖۤ اِلَّاۤ اَنۡ یَّصَّدَّقُوۡا ؕ فَاِنۡ کَانَ مِنۡ قَوۡمٍ عَدُوٍّ لَّکُمۡ وَ ہُوَ مُؤۡمِنٌ فَتَحۡرِیۡرُ رَقَبَۃٍ مُّؤۡمِنَۃٍ ؕ وَ اِنۡ کَانَ مِنۡ قَوۡمٍۭ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَہُمۡ مِّیۡثَاقٌ فَدِیَۃٌ مُّسَلَّمَۃٌ اِلٰۤی اَہۡلِہٖ وَ تَحۡرِیۡرُ رَقَبَۃٍ مُّؤۡمِنَۃٍ ۚ فَمَنۡ لَّمۡ یَجِدۡ فَصِیَامُ شَہۡرَیۡنِ مُتَتَابِعَیۡنِ ۫ تَوۡبَۃً مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَلِیۡمًا حَکِیۡمًا ﴿۹۳﴾

Dan tidak patut bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin lainnya kecuali tanpa sengaja. Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin tanpa sengaja, maka hendaklah ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang mukmin dan membayar tebusan untuk diserahkan kepada ahli warisnya, kecuali jika mereka merelakan sebagai sedekah. Tetapi jika ia yang terbunuh itu dari kaum yang bermusuhan denganmu, dan ia seorang mukmin maka cukuplah memerdekakan seorang hamba sahaya mukmin; dan jika ia dari kaum yang antara kamu dan mereka ada suatu perjanjian persekutuan, maka bayarlah tebusan untuk diserahkan kepada ahli warisnya dan memerdekakan pula seorang hamba sahaya mukmin. Maka barangsiapa tidak memperoleh hamba sahaya, ia wajib berpuasa dua bulan berturut-turut, keringanan ini suatu kasih sayang dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.

Tafsir:

Karena bila terjadi perang sungguhan, maka ada kemungkinan seorang Muslim terbunuh oleh orang Muslim lain tanpa disengaja, maka ayat ini memberi peringatan pada waktunya kepada kaum Muslimin agar senantiasa berjaga-jaga terhadap kemungkinan serupa itu.

Andaikata orang yang terbunuh itu seorang mukmin, tetapi kebetulan warga satu kaum yang tidak bersahabat, maka si pembunuhnya hanya diharuskan membebaskan seorang budak mukmin, dan kepadanya tidak dikenakan diyat (uang darah), sebab uang yang dibayarkan kepada kaum yang tak bersahabat akan memperbesar kekuatan militer mereka untuk melawan Islam. Dalam anak kalimat “dan jika ia dari kaum yang di antara kamu dan mereka ada suatu perjanjian persekutuan,” kata-kata “dan ia sendiri seorang mukmin” tidak diulang, untuk mengisyaratkan bahwa hukum yang berlaku untuk Dzimmī (orang-orang kafir yang berada di bawah perlindungan kaum Muslimin), atau Mu‘āhid (orang-orang kafir berasal dari suatu kaum yang bersekutu dengan kaum Muslimin) sama seperti yang berlaku untuk kaum Muslimin.

Patut diperhatikan bahwa orang-orang kafir yang bersekutu dengan kaum Muslimin tidak hanya disejajarkan dengan kaum Muslimin, tetapi bahkan telah diadakan perbedaan yang lebih menguntungkan mereka. Dalam keadaan seorang Muslim terbunuh, maka tuntutan membayar uang denda telah diletakkan sesudah perintah membebaskan seorang budak; sedang bila seseorang dari kaum yang ada dalam persekutuan dengan kaum Muslimin mati terbunuh, urutannya terbalik; tuntutan membayar kepada ahli warisnya diletakkan sebelum tuntutan membebaskan seorang budak. Ini dilakukan untuk menekankan kepada kaum Muslimin perlunya memperlihatkan penghormatan istimewa terhadap perjanjian dan persetujuan-persetujuan. Pembayaran uang denda adalah satu kewajiban yang harus ditepati oleh kaum Muslimin terhadap orang-orang kafir, dengan siapa mereka telah membuat persetujuan dan perjanjian; dan justru dengan tujuan memberikan ajaran bahwa mereka harus memberi perhatian khusus kepada persetujuanpersetujuan dan perjanjian-perjanjian itulah, maka perintah membayar uang denda yang berlaku untuk mereka, telah diletakkan sebelum perintah membebaskan seorang budak.