Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Alquran - Puasa - QS Al-Baqarah (002) ayat 197

وَ اَتِمُّوا الۡحَجَّ وَ الۡعُمۡرَۃَ لِلّٰہِ ؕ فَاِنۡ اُحۡصِرۡتُمۡ فَمَا اسۡتَیۡسَرَ مِنَ الۡہَدۡیِ ۚ وَ لَا تَحۡلِقُوۡا رُءُوۡسَکُمۡ حَتّٰی یَبۡلُغَ الۡہَدۡیُ مَحِلَّہٗ ؕ فَمَنۡ کَانَ مِنۡکُمۡ مَّرِیۡضًا اَوۡ بِہٖۤ اَذًی مِّنۡ رَّاۡسِہٖ فَفِدۡیَۃٌ مِّنۡ صِیَامٍ اَوۡ صَدَقَۃٍ اَوۡ نُسُکٍ ۚ فَاِذَاۤ اَمِنۡتُمۡ ٝ فَمَنۡ تَمَتَّعَ بِالۡعُمۡرَۃِ اِلَی الۡحَجِّ فَمَا اسۡتَیۡسَرَ مِنَ الۡہَدۡیِ ۚ فَمَنۡ لَّمۡ یَجِدۡ فَصِیَامُ ثَلٰثَۃِ اَیَّامٍ فِی الۡحَجِّ وَ سَبۡعَۃٍ اِذَا رَجَعۡتُمۡ ؕ تِلۡکَ عَشَرَۃٌ کَامِلَۃٌ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ لَّمۡ یَکُنۡ اَہۡلُہٗ حَاضِرِی الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ ؕ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ وَ اعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿۱۹۷﴾٪

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umroh karena Allah. Tetapi jika kamu terhalang, maka sembelihlah hewan yang mudah didapat, dan janganlah mencukur kepalamu sebelum hewan kurban sampai ke tempat penyembelihannya. Dan barangsiapa di antaramu sakit atau ada gangguan sakit di kepala, maka ia harus membayar fidyah dengan puasa, atau sedekah atau kurban. Lalu apabila kamu telah aman maka barangsiapa mengambil faedah mengerjakan umrah bersama-sama dengan ibadah haji hendaklah ia berkurban dengan yang mudah didapat, dan barangsiapa tidak mendapatkannya, hendaklah ia berpuasa tiga hari di musim haji dan tujuh hari setelah kamu kembali. Inilah sepuluh hari yang sempurna. Yang demikian itu bagi orang yang keluarganya tidak tinggal dekat Masjidilharam. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah sangat keras dalam menghukum.

Tafsir:

Dengan ayat ini dimulai masalah ibadah haji. Jihad dan ibadah haji memiliki hubungannya satu sama lain dan keduanya merupakan satu bentuk pengorbanan yang harus dilakukan oleh seorang mukmin yang sejati dan mukhlis di jalan Allah, suatu masalah yang dimulai dengan QS.2:178. Ibadah haji itu taraf akhir dalam perkembangan rohani manusia. Tingkat-tingkat lainnya seperti shalat, puasa, dan jihad telah dibahas terlebih dahulu.

‘Umrah atau haji kecil terdiri atas memasuki tingkat Ihrām, bertawaf sekitar Ka’bah tujuh kali, berlari-lari antara Shafa dan Marwah, dan menyembelih hewan kurban walaupun tidak wajib hukumnya. ‘Umrah dapat dilakukan sembarang waktu sepanjang tahun, sedang ibadah haji dilakukan hanya dalam bulan Zulhijah.

Kata-kata “jika kamu terhalang” mengisyaratkan kepada keadaan bila seorang calon haji terhalang penyakit, atau oleh keadaan perang, atau oleh sebab-sebab lain yang tidak memungkinkan seseorang berkunjung ke Ka’bah guna melaksanakan ibadah haji atau ‘umrah.

Umrah dan naik haji dapat digabungkan dengan dua cara: (a) calon haji yang berniat melakukan umrah secara terpisah, harus memasuki keadaan ihram dan melaksanakan upacara-upacaranya dan kembali kepada keadaan biasa. Kemudian, pada hari kedelapan Zulhijah ia harus memasuki lagi keadaan ihram dan melakukan upacara naik haji yang telah ditetapkan. Cara penggabungan ‘umrah dan ibadah haji demikian disebut Tamattu’ yang secara harfiah berarti “mengambil faedah dari sesuatu.”(b) calon haji dapat melakukan ‘umrah dan naik haji sekaligus. Dalam hal ini ia harus memasuki keadaan ihram dengan niat untuk itu dan harus tetap dalam keadaan demikian hingga akhir.

Penggabungan ibadah haji dan ‘umrah itu disebut Qirān yang secara harfiah berarti “menggabungkan dua hal menjadi satu.” Baik dalam Tamattu’ maupun Qirān diwajibkan menyembelih hewan kurban. Dalam ayat yang dibahas ini kata Tamattu’ tidak dipakai dalam pengertian teknis dan mencakup Qirān pula.

Puasa yang disebut dalam anak kalimat “hendaklah ia berpuasa tiga hari di (musim) haji adalah lain dan terpisah dari puasa tersebut di atas. Puasa yang disebut pertama dimaksudkan untuk mereka yang tidak dapat mencukur kepala, sedang puasa ini dimaksudkan untuk mereka yang tidak mampu menyembelih hewan kurban dalam keadaan Tamattu.’ Tiga hari yang disebut itu sebaiknya hari ke-11, ke-12, dan ke-13 Zulhijah. Tujuh hari puasa sisanya dapat dilakukan kemudian setelah orang itu tiba kembali ke rumah.

Kata-kata ini berarti bahwa izin menggabungkan ibadah haji dan umrah itu tidak dimaksudkan untuk para penghuni Mekah, tetapi untuk mereka yang datang dari luar. Tetapi, oleh sebagian orang kata-kata ‘Masjid al-Harām’ telah diperluas hingga meliputi seluruh Harām, yaitu daerah yang dinyatakan suci di Mekah dan sekitarnya.