Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Alquran - Puasa - QS Al-Baqarah (002) ayat 188

اُحِلَّ لَکُمۡ لَیۡلَۃَ الصِّیَامِ الرَّفَثُ اِلٰی نِسَآئِکُمۡ ؕ ہُنَّ لِبَاسٌ لَّکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ لِبَاسٌ لَّہُنَّ ؕ عَلِمَ اللّٰہُ اَنَّکُمۡ کُنۡتُمۡ تَخۡتَانُوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ فَتَابَ عَلَیۡکُمۡ وَ عَفَا عَنۡکُمۡ ۚ فَالۡـٰٔنَ بَاشِرُوۡہُنَّ وَ ابۡتَغُوۡا مَا کَتَبَ اللّٰہُ لَکُمۡ ۪ وَ کُلُوۡا وَ اشۡرَبُوۡا حَتّٰی یَتَبَیَّنَ لَکُمُ الۡخَیۡطُ الۡاَبۡیَضُ مِنَ الۡخَیۡطِ الۡاَسۡوَدِ مِنَ الۡفَجۡرِ۪ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّیَامَ اِلَی الَّیۡلِ ۚ وَ لَا تُبَاشِرُوۡہُنَّ وَ اَنۡتُمۡ عٰکِفُوۡنَ ۙ فِی الۡمَسٰجِدِ ؕ تِلۡکَ حُدُوۡدُ اللّٰہِ فَلَا تَقۡرَبُوۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ اٰیٰتِہٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ ﴿۱۸۸﴾

Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istri-istrimu, mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu senantiasa mengkhianati dirimu sendiri lalu Dia kembali kepadamu dengan kasih sayang dan Dia memperbaiki kesalahanmu. Maka sekarang campurlah dengan mereka dan carilah apa yang ditentukan Allah bagimu, dan, makanlah dan minumlah hingga tampak jelas kepadamu benang putih dan benang hitam dari fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam dan janganlah kamu bercampur dengan mereka ketika kamu beri’tikaf dalam masjid-masjid. Inilah batasbatas ketentuan Allah maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menjelaskan hukum-hukum-Nya bagi manusia supaya mereka terpelihara dari segala keburukan.

Tafsir

Betapa indahnya indahnya Al-Qur’an telah melukiskan dengan kata-kata singkat ini hak dan kedudukan wanita dan tujuan serta arti pernikahan dan hubungan suami istri. Tujuan pokok perkawinan, demikian ayat ini mengatakan, ialah kesentausaan, perlindungan, dan memperhias kedua pihak, sebab memang itulah tujuan mengenakan pakaian (QS.7: 27 dan QS.16: 82). Sudah pasti tujuannya bukan hanya semata-mata pemuasan dorongan seksual. Suami-istri sama-sama menjaga satu sama lain terhadap kejahatan dan keburukan.

Ungkapan ‘Afā Allahu ‘anhu berarti, Tuhan memperbaiki kesalahan hamba-Nya dan membenahi urusannya; menganugerahkan kemuliaan kepadanya. Ungkapan itu berarti pula, Tuhan memberinya keringanan (Muhīt).

Di tempat-tempat di mana siang hari dan malam sangat panjang, (umpamanya dekat Kutub), siang dan malam masing-masing harus dihitung duabelas jam lamanya (Muslim, bab Asyrātus-Sā‘ah).

Dalam I‘tikāf yang seolah-olah merupakan kesempurnaan jiwa puasa, senggama (persetubuhan) dan pendahuluan-pendahuluannya tidak diizinkan sekalipun di waktu malam.