Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Alquran - Puasa - QS Al-Baqarah (002) ayat 186

شَہۡرُ رَمَضَانَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ فِیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ ہُدًی لِّلنَّاسِ وَ بَیِّنٰتٍ مِّنَ الۡہُدٰی وَ الۡفُرۡقَانِ ۚ فَمَنۡ شَہِدَ مِنۡکُمُ الشَّہۡرَ فَلۡیَصُمۡہُ ؕ وَ مَنۡ کَانَ مَرِیۡضًا اَوۡ عَلٰی سَفَرٍ فَعِدَّۃٌ مِّنۡ اَیَّامٍ اُخَرَ ؕ یُرِیۡدُ اللّٰہُ بِکُمُ الۡیُسۡرَ وَ لَا یُرِیۡدُ بِکُمُ الۡعُسۡرَ ۫ وَ لِتُکۡمِلُوا الۡعِدَّۃَ وَ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰٮکُمۡ وَ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ ﴿۱۸۶﴾

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya AlQur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata mengenai petunjuk dan Furqān. Maka barangsiapa di antaramu hadir pada bulan ini hendaklah ia berpuasa di dalamnya, tetapi barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka berpuasalah sebanyak bilangan itu pada hari-hari lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan Dia tidak menghendaki kesukaran bagimu, Dia menghendaki supaya kamu menyempurnakan bilangan itu dan supaya kamu mengagungkan Allah, karena Dia telah memberi petunjuk kepadamu dan supaya kamu bersyukur.

Tafsir:

Ramadān itu bulan kesembilan tahun Qamariyah. Kata itu asalnya dari Ramada. Orang mengatakan Ramada al-Sā’imu, artinya, bagian-dalam tubuh orang yang berpuasa menjadi sangat panas dan haus karena berpuasa (Lane). Bulan itu disebut seperti itu karena (1) puasa di bulan itu menimbulkan panas disebabkan haus; (2) beribadah di bulan ini, membakar habis bekas-bekas dosa manusia (‘Asakir dan Mardawaih); dan (3) karena ibadah-ibadah di bulan itu, menimbulkan dalam hati manusia kehangatan cinta kepada Khalik-nya dan kepada sesama manusia. Kata Ramadān itu istilah asli Islam, sedangkan nama sebelumnya ialah Nātiq (Qadīr).

Kata Al-Qur’an diderivasi dari Qara’a yang berarti, ia membaca; ia menyampaikan atau memberi pesan; ia mengumpulkan benda itu. Jadi, Qur’ān berarti: (1) sebuah kitab yang dimaksudkan untuk dibaca. Al-Qur’an adalah kitab yang paling banyak dibaca di dunia (Enc. Brit.); (2) sebuah kitab atau pesan yang harus diteruskan dan disampaikan kepada dunia. Di antara kitab-kitab wahyu, Al-Qur’an merupakan satu-satunya yang ajarannya mutlak tidak terbatas; sebab, jika semua kitab wahyu lainnya ditujukan untuk zaman yang khusus dan kaum yang khusus pula, maka Al-Qur’an dimaksudkan untuk segala zaman dan segala kaum dan bangsa (QS.34: 29); (3) sebuah kitab yang memuat segala kebenaran; Al-Qur’an sungguh merupakan khasanah ilmu yang mengandung, bukan saja segala kebenaran abadi yang terkandung dalam kitab-kitab wahyu terdahulu (QS.98: 4), melainkan juga segala kebenaran yang diperlukan umat manusia pada setiap zaman dan dalam setiap keadaan (QS.18: 50).

Adalah pada tanggal 24 Ramadhan, Rasulullah Saw menerima wahyu pertama Al-Qur’an (Jarīr); dan dalam bulan Ramadhan pulalah seluruh wahyu diperdengarkan ulang oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah Saw setiap tahun. Kebiasaan itu terus dilakukan hingga tahun terakhir hayat Rasulullah Saw, dimana seluruh Al-Qur’an diulangi kepada beliau dua kali oleh Malaikat Jibril itu di bulan Ramadhan itu (Bukhārī). Jadi, dari segi yang lain dapat juga dikatakan bahwa seluruh Al-Qur’an telah diwahyukan dalam bulan Ramadhan.

Kalimat ini bukan suatu pengulangan yang tidak perlu, sebab dalam ayat sebelumnya kalimat ini merupakan bagian ayat itu dengan tujuan mempersiapkan landasan untuk perintah berpuasa; maka dalam ayat ini, kalimat itu merupakan bagian perintah itu sendiri. Tetapi, Al-Qur’an dengan sangat bijaksana mencegah diri dari menghinggakan (mendefinisikan) istilahistilah “sakit” dan “dalam perjalanan” dengan membiarkan istilah-istilah itu dihinggakan oleh kelaziman orang-orang dan oleh kondisi yang sedang dihadapi.