Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

001 - AL-FAATIHAH

001

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾

001:001 - Aku baca dengan [1] nama [2] Allah [3], Mahapemurah, Mahapenyayang [4]


002

اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿۲﴾

001:002 - Segala [5] puji [6] hanya bagi Allah, Tuhan [7] seluruh alam, [8]


003

الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿۳﴾

001:003 - Maha Pemurah, Maha Penyayang [9]


004

مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿۴﴾

001:004 - Pemilik [10] Hari [11] Pembalasan. [12]


005

اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿۵﴾

001:005 - Hanya Engkau-lah Yang kami sembah [13] dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. [14]


006

اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿۶﴾

001:006 - Tunjukilah kami jalan yang lurus, [15]


007

صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۬ۙ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿۷﴾

001:007 - Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, [16] bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. [17]


Catatan Kaki### 001

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾

001 - Aku baca dengan [1] nama [2] Allah [3], Mahapemurah, Mahapenyayang [4]


002

اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿۲﴾

002 - Segala [5] puji [6] hanya bagi Allah, Tuhan [7] seluruh alam, [8]


003

الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿۳﴾

003 - Maha Pemurah, Maha Penyayang [9].


004

مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿۴﴾

004 - Pemilik [10] Hari [11] Pembalasan. [12]


005

اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿۵﴾

Hanya Engkau-lah Yang kami sembah [13] dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. [14]


006

اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿۶﴾

Tunjukilah kami jalan yang lurus, [15]


007

صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۬ۙ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿۷﴾

Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, [16] bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. [17]


Catatan Kaki

  1. Bā’ adalah kata depan yang dipakai untuk menyatakan beberapa arti dan arti yang lebih tepat di sini ialah “dengan.” Maka kata majemuk Bism itu akan berarti “dengan nama”. Menurut kebiasaan orang Arab, kata Iqra’ atau Aqra’u atau Naqra’u atau Isyra‘ atau Asyra‘u atau Nasyra‘u harus dianggap ada tercantum sebelum ‘Bismillāh’, suatu ungkapan dengan arti “mulailah dengan nama Allah,” atau “Bacalah dengan nama Allah” atau “aku atau kami mulai dengan nama Allah,” atau “aku atau kami baca dengan nama Allah.” Dalam terjemahan ini ucapan ‘Bismillāh’ diterjemahkan “dengan nama Allah,” yang merupakan bentuk yang lebih lazim (Lane).  2

  2. Ism mengandung arti: nama atau sifat (Aqrab). Di sini kata itu dipakai dalam kedua pengertian tersebut. Kata itu merujuk kepada ‘Allah,’ nama wujud Tuhan; dan kepada Al-Rahmān (Maha Pemurah) serta Al-Rahīm (Maha Penyayang). Keduanya nama sifat Allah Swt  2

  3. Allāh adalah nama Dzat Mahaagung, Pemilik Tunggal semua sifat kesempurnaan dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab kata ‘Allah’ tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun. Tidak ada bahasa lain memiliki nama tertentu atau khusus untuk Dzat Yang Mahaagung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain, semuanya nama-penunjuk-sifat (atributif) atau nama pemerian (deskriptif) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak; akan tetapi, kata ‘Allah’ tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak. Kata ‘Allāh’ itu Isim Dzat, dan bukan Isim Musytak, tidak diambil dari kata lain, dan tidak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada kata lain yang sepadan, maka nama ‘Allah’ dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an. Pandangan ini didukung oleh para ahli bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat, kata “Allāh” adalah nama wujud bagi dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya Sendiri, memiliki segala sifat kesempurnaan, dan lafaz ‘al’ adalah tidak terpisahkan dari kata ‘Allah’.  2

  4. Al-Rahmān (Maha Pemurah) dan Al-Rahīm (Maha Penyayang) keduanya berasal dari akar yang sama. Rahima artinya, ia telah menampakkan kasih-sayang; ia ramah dan baik; ia memaafkan, mengampuni. Kata Rahmah menggabungkan arti Riqqah, ialah “kehalusan” dan Ihsān, ialah “kebaikan,” “kebajikan” (Mufradāt). Al- Rahmān dalam wazan (pola) Fa‘lān, dan Al-Rahīm dalam wazan Fa‘īl. Menurut kaedah gramatika Bahasa Arab, makin banyak jumlah huruf ditambahkan pada akar kata, makin luas dan mendalam pula artinya (Kasysyaf). Wazan (pola kata) fa‘lān mengandung arti keadaan penuh dan keluasan, sedangkan wazan fā‘il menunjukkan arti ulangan dan pemberian ganjaran dengan kemurahan hati kepada mereka yang layak menerimanya (Muhīt). Jadi, di mana kata Al-Rahmān menunjukkan “kasih sayang meliputi alam semesta”, kata Al-Rahīm berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya terbatas, tetapi berulang-ulang ditampakkan.”mengingat arti-arti di atas, Al-Rahmān itu Dzat Yang menampakkan kasih sayang dengan cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa mempertimbangkan usaha atau amal; dan Al-Rahīm itu Dzat Yang menampakkan kasih sayang sebagai imbalan atas amal perbuatan manusia, tetapi menampakkannya dengan murah dan berulang-ulang.

    Kata Al-Rahmān hanya dipakai untuk Allah Swt, sedang Al-Rahīm dipakai pula untuk manusia. Al-Rahmān tidak hanya meliputi orang-orang mukmin dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk. Al-Rahīm terutama tertuju kepada orang-orang yang beriman saja. Menurut Sabda Rasulullah Saw, sifat Al-Rahmān umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Al-Rahīm umumnya bertalian dengan kehidupan yang akan datang (Muhīt). Artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah dunia perbuatan, dan karena alam akhirat itu suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa, maka sifat Al-Rahmān Allah Swt menganugerahi manusia alat dan bahan untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, adapun Sifat Al-Rahīm mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang. Segala benda yang kita perlukan dan atas itu kehidupan kita bergantung adalah semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk kita, sebelum kita berbuat sesuatu yang menyebabkan kita layak menerimanya, atau bahkan sebelum kita dilahirkan; sedang karunia yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang-akan-datang, akan dianugerahkan kepada kita sebagai ganjaran atas amal perbuatan kita. Hal itu menunjukkan bahwa Al-Rahmān itu Pemberi Karunia yang mendahului kelahiran kita, sedang Al-Rahīm itu Pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal perbuatan kita sebagai ganjarannya.

    Bismillāh-ir-Rahmān-ir-Rahīm adalah ayat pertama tiap-tiap surah Al-Qur’an, kecuali Al Bara’ah (At-Taubah) yang sebenarnya bukan surah yang berdiri sendiri, melainkan lanjutan surah Al-Anfal. Ada suatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas yang maksudnya, bila sesuatu surah-baru diwahyukan, biasanya dimulai dengan ‘Bismillāh’, dan tanpa ‘Bismillāh’, Rasulullah Saw tidak mengetahui bahwa surah baru telah dimulai (Daud).

    Hadis ini menunjukkan bahwa (1) ‘Bismillāh’ adalah bagian Al-Qur’an dan bukan suatu tambahan, (2) bahwa surah Bara’ah itu, bukan surah yang berdiri sendiri. Hadis itu menolak pula kepercayaan yang dikemukakan oleh sementara orang bahwa, ‘Bismillāh’ hanya merupakan bagian surah Al-Fatihah saja dan bukan bagian semua surah Al-Qur’an. Selanjutnya, ada riwayat yang menyebutkan Rasulullah Saw bersabda bahwa, ayat Bismillāh itu bagian semua surah Al-Qur’an (Bukhārī dan Qutni).

    Ditempatkannya ‘Bismillāh’ pada permulaan tiap-tiap surah mempunyai arti seperti berikut: Al-Qur’an itu khazanah ilmu Ilahi yang tidak dapat disentuh tanpa karunia khusus dari Tuhan, “Tidak ada yang dapat memahami hakikatnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS.56: 80). Jadi, ‘Bismillāh’ telah ditempatkan pada permulaan tiap surah untuk memperingatkan orang Muslim bahwa, untuk dapat masuk ke dalam Khazanah ilmu Ilahi yang termuat dalam Al-Qur’an dan untuk mendapat faedah darinya ia hendaknya mendekatinya bukan saja dengan hati yang suci, melainkan ia harus pula senantiasa mohon pertolongan Allah Swt.

    Ayat ‘Bismillāh’ mempunyai juga tujuan penting yang lain. Ayat itu ialah kunci bagi arti dan maksud tiap-tiap surah, karena segala persoalan mengenai urusan akhlak dan rohani, dengan satu atau lain cara, ada pertaliannya dengan dua Sifat Ilahi yang pokok, yaitu Rahmāniyah (Kemurahan) dan Rahīmiyah (Kasih-Sayang). Jadi tiap- tiap surah pada hakikatnya, merupakan uraian terperinci dari beberapa segi Sifat-sifat Ilahi yang tersebut dalam ayat ini.

    Ada tuduhan bahwa kalimah ‘Bismillāh’, itu diambil dari kitab-kitab suci sebelum Al-Qur’an. Jika Sale mengatakan bahwa, kalimah itu diambil dari Zend Avesta, maka Rodwell berpendapat bahwa, orang-orang Arab sebelum Islam mengambilnya dari orang-orang Yahudi, dan kemudian dimasukkan ke dalam Al-Qur’an. Kedua paham itu nyata sekali salah. Pertama, tidak pernah dida‘wakan oleh kaum Muslimin bahwa, kalimah itu dalam bentuk ini atau sebangsanya tidak dikenal sebelum Al-Qur’an diwahyukan. Kedua, keliru sekali mengemukakan sebagai bukti bahwa, karena kalimah itu dalam bentuk yang sama atau serupa kadang-kadang dipakai oleh orang- orang Arab sebelum diwahyukan dalam Al-Qur’an, maka kalimah itu tidak mungkin asalnya dari Allah Swt.

    Sebenarnya Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa, Nabi Sulaiman As memakai kalimah itu dalam suratnya kepada Ratu Saba (QS.27: 31). Apa yang dida’wakan oleh kaum Muslimin – sedang da’wa itu, tidak pernah ada yang membantah, ialah bahwa, di antara kitab-kitab suci, Al-Qur’an adalah yang pertama-tama memakai kalimah itu dengan caranya sendiri. Juga keliru sekali mengatakan bahwa, kalimah itu sudah lazim di antara orang-orang Arab sebelum Islam, sebab kenyataan yang sudah diketahui ialah bahwa, orang-orang Arab mempunyai rasa keseganan menggunakan kata Al-Rahmān sebagai panggilan untuk Allah Swt.

    Selain itu, jika kalimah demikian sudah dikenal sebelumnya, maka hal itu malah mendukung kebenaran ajaran Al-Qur’an bahwa, tidak ada satu kaum pun yang kepada mereka tidak pernah diutus seorang Pemberi Ingat (QS.35: 25), dan juga bahwa, Al- Qur’an itu adalah khazanah semua kebenaran yang kekal dan termaktub dalam kitab- kitab suci sebelumnya (QS.98: 5). Al-Qur’an tentu menambah lebih banyak lagi dan apa pun yang diambil-alihnya, Al-Qur’an memperbaiki bentuk atau pemakaiannya, atau memperbaiki kedua-duanya.  2

  5. Dalam Bahasa Arab al itu lebih-kurang sama artinya dengan kata ‘the’ dalam bahasa Inggris. Kata al dipergunakan untuk menunjukkan keluasan yang berarti, meliputi semua segi atau jenis sesuatu pokok, atau untuk melukiskan kesempurnaan, sekaligus suatu segi keluasan oleh karena meliputi semua tingkat dan derajat. Al dipakai juga untuk menyatakan sesuatu yang telah disebut atau suatu pengertian atau konsep yang ada dalam pikiran.  2

  6. Dalam bahasa Arab dua kata Madh dan Hamd, dipakai dalam arti pujian atau syukur; tetapi jika Madh mungkin pujian palsu, Hamd itu senantiasa benar. Juga, Madh dapat dipakai mengenai perbuatan baik yang tidak dikuasai oleh pelakunya; tetapi Hamd hanya dipakai mengenai perbuatan yang dilakukan dengan kerelaan hati dan dengan kemauan sendiri (Mufradāt). Hamd mengandung pula arti pengaguman, penyanjungan, dan penghormatan terhadap yang dituju oleh pujian itu; dan kerendahan, kehinaan, dan kepatuhan orang yang memberi pujian (Lane). Jadi, Hamd merupakan kata yang paling tepat dipakai di sini, untuk maksud mengutarakan kebaikan, dan puji-pujian yang sungguh wajar lagi layak dan sebagai sanjungan akan kemuliaan Allah Swt Menurut kebiasaan, kata Hamd, kemudian menjadi khusus ditujukan kepada Tuhan.  2

  7. Kata kerja Rabba berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan); (b) Wujud yang memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang Menyempurnakan, dengan cara setingkat demi setingkat (Mufradāt dan Lane). Dan jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt.  2

  8. Al-‘Ālamīn adalah jamak dari al-‘Ālam, berasal dari akar kata ‘Ilm yang berarti “mengetahui.”kata itu bukan saja telah dikenakan kepada semua wujud atau benda yang dengan sarana itu orang dapat mengetahui Al-Khāliq – Maha Pencipta (Aqrab), kata tersebut dikenakan bukan saja kepada segala macam wujud atau benda yang dijadikan, tetapi pula kepada golongan-golongannya secara kolektif, sehingga orang berkata ‘Ālam al-Ins, artinya: alam manusia atau ‘Ālam al-Hayawān yakni alam binatang.

    Kata al-’Ālamīn tidak hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud berakal – manusia dan malaikat – saja, Al-Qur’an pun mengenakannya kepada semua benda yang diciptakan (QS.26:24-29 dan QS.41:10). Akan tetapi tentu saja kadang-kadang kata itu dipakai dalam arti yang terbatas (QS.2:123). Di sini kata itu dipakai dalam arti yang seluas-luasnya dan mengandung arti “segala sesuatu yang ada selain Allah” yakni benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa dan mencakup juga benda-benda langit – matahari, bulan, bintang, dan sebagainya.

    Ungkapan “segala puji bagi Allah” lebih luas dan lebih mendalam artinya daripada “aku memuji Allah,” sebab manusia hanya dapat memuji Allah Swt menurut pengetahuannya, sedangkan anak kalimat “segala puji bagi Allah” meliputi bukan saja puji-pujian yang diketahui manusia bahkan juga puji-pujian yang tidak diketahuinya. Allah Swt layak mendapat puji-pujian setiap waktu, terlepas dari pengetahuan atau kesadaran manusia yang tidak sempurna.

    Tambahan pula kata al-Hamd adalah masdar dan karena itu dapat diartikan kedua-duanya, sebagai pokok kalimat atau sebagai tujuan kalimat. Diartikan sebagai pokok, “Alhamdulillāhi” berarti hanyalah Allah Swt yang berhak memberikan pujian sejati;dan diartikan sesuai tujuan kalimat, “Alhamdulillāhi” berarti bahwa segala pujian sejati dan tiap-tiap macam pujian yang sempurna hanya layak bagi Allah Swt semata-mata. Untuk huruf al lihat catatan nomor 5.

    Ayat ini mengacu kepada hukum evolusi di dunia, artinya bahwa segala sesuatu mengalami perkembangan dan bahwa perkembangan itu terus-menerus – dan terlaksana secara bertahap. Rabb adalah Wujud Yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berkembang setingkat demi setingkat. Ayat itu menjelaskan pula bahwa prinsip evolusi tidak bertentangan dengan kepercayaan kepada Allah Swt Tetapi proses evolusi yang disebut di sini, tidak sama dengan teori evolusi seperti biasanya diartikan. Kata-kata itu dipergunakan dalam arti umum.

    Selanjutnya ayat ini merujuk kepada kenyataan bahwa manusia dijadikan untuk kemajuan tak terbatas, sebab ungkapan Rabbul-‘Ālamīn mengandung arti bahwa Allah Swt mengembangkan segala sesuatu dari tingkatan rendah kepada yang lebih tinggi, dan hal itu hanya mungkin jika tiap-tiap tingkatan itu diikuti oleh tingkatan lain dalam proses yang tiada henti-hentinya.  2

  9. Dalam ungkapan ‘Bismillāh’, sifat Al-Rahmān dan Al-Rahīm berlaku sebagai kunci arti seluruh surah. Sifat-sifat itu disebut di sini memenuhi satu tujuan tambahan. Sifat-sifat itu dipakai di sini, sebagai mata rantai antara Sifat “Rabbul-‘Ālamīn” dan “Māliki Yaumiddīn”.  2

  10. Mālik berarti majikan atau orang yang memiliki hak atas sesuatu serta memiliki kekuasaan untuk memperlakukannya dengan sekehendaknya (Aqrab).  2

  11. Yaum berarti, waktu mutlak, hari mulai matahari terbit hingga terbenamnya; masa sekarang (Aqrab).  2

  12. Dīn berarti: pembalasan atau ganjaran; peradilan atau perhitungan; kekuasaan atau pemerintahan; kepatuhan; agama, dan sebagainya (Lane). Keempat sifat Allah Swt yakni: “Tuhan seluruh alam”, “Pemurah,” “Penyayang” dan “Pemilik Hari Pembalasan” adalah sifat-sifat pokok. Sifat-sifat lain hanya menjelaskan dan merupakan semacam tafsiran tentang keempat sifat tadi, laksana empat buah tiang di atasnya terletak ‘Arasy (Singgasana) Allah Yang Mahakuasa.

    Urutan keempat sifat itu seperti dituturkan di atas, memberikan penjelasan bagaimana Allah Swt menampakkan sifat-sifat-Nya kepada manusia. Sifat Rabbul- ‘Ālamīn (Tuhan seluruh alam) mengandung arti, bahwa seiring dengan dijadikannya manusia Dia pun menjadikan lingkungan yang diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan ruhaninya.

    Sifat Al-Rahmān (Maha Pemurah) mulai berlaku sesudah itu dan dengan perantaraan itu, Dia seolah-olah menyerahkan kepada manusia sarana-sarana dan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan akhlak dan ruhaninya. Dan jika manusia memakai sarana-sarana yang dianugerahkan kepadanya itu secara tepat maka sifat Al- Rahīm (Maha Penyayang) mulai berlaku untuk mengganjar amalnya. Yang terakhir sekali sifat “Māliki Yaumiddīn” (Pemilik Hari Pembalasan) mempertunjukkan hasil terakhir dan kolektif amal perbuatan manusia, dengan demikian pelaksanaan pembalasan mencapai kesempurnaan.

    Sungguhpun perhitungan terakhir dan sempurna akan terjadi pada Hari Pembalasan, tetapi proses pembalasan itu terus berlaku bahkan dalam kehidupan ini juga, dengan perbedaan bahwa dalam kehidupan ini perbuatan manusia seringkali diadili dan diganjar oleh orang lain – para raja, para penguasa, dan sebagainya – oleh karena itu senantiasa ada kemungkinan adanya kekeliruan. Tetapi pada Hari Pembalasan, kedaulatan Allah Swt itu mandiri dan mutlak dan tindakan pembalasan itu seluruhnya ada dalam kekuasaan-Nya. Ketika itu tidak akan terdapat kesalahan, tiada hukuman yang tidak tepat, tiada ganjaran yang tidak adil.

    Pemakaian kata Mālik (Pemilik) dimaksudkan pula untuk mengacu kepada kenyataan bahwa Allah Swt tidak seperti seorang hakim yang harus menjatuhkan keputusan benar sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan. Selaku Mālik (Pemilik), Dia dapat mengampuni dan menampakkan kasih-sayang-Nya, kapan saja dan dengan cara apa pun sekehendak-Nya.

    Dengan mengambil Dīn dalam arti agama, maka kata-kata “Māliki Yaumiddīn” (Yang memiliki waktu agama) akan berarti bahwa bila suatu agama sejati diturunkan maka umat manusia menyaksikan suatu penjelmaan kekuasaan dan takdir Ilahi yang luar biasa, dan bila agama itu mundur maka nampaknya seolah-olah seluruh alam berjalan secara mekanis, tanpa pengawasan atau pengaturan Sang Khāliq (Pencipta) dan al-Mālik (Pemilik).  2

  13. ‘Ibādah berarti: merendahkan diri, penyerahan diri, ketaatan, dan berbakti sepenuhnya. ‘Ibādah mengandung pula arti iman kepada Tauhid Ilahi, dan pernyataan iman itu dengan perbuatan. Kata itu berarti pula penerimaan kesan atau cap dari sesuatu. Dalam arti ini maka ‘Ibādah akan berarti: menerima kesan atau cap dari Sifat-sifat Ilahi dan meresapkan serta mencerminkan sifat-sifat itu dalam dirinya sendiri.  2

  14. Kata-kata “hanya Engkau-lah yang kami sembah” telah ditempatkan sebelum kata-kata “hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan”, untuk menunjukkan bahwa sesudah orang mengetahui kebesaran Sifat-sifat Allah Swt, maka dorongan pertama yang timbul dalam hatinya ialah beribadah kepada-Nya. Pikiran untuk mohon pertolongan Allah Swt datang sesudah adanya dorongan untuk beribadah. Orang ingin beribadah kepada Allah Swt, tetapi ia menyadari bahwa untuk berbuat demikian ia memerlukan pertolongan-Nya.

    Pemakaian bentuk jamak (kami) dalam ayat ini mengarahkan perhatian kita kepada dua pokok yang sangat penting: (a) bahwa manusia tidak hidup seorang diri di bumi ini, melainkan ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat di sekitarnya, karena itu ia hendaknya berusaha jangan berjalan sendiri, tetapi harus menarik orang-orang lain juga bersama dia melangkah di jalan Allah; (b) bahwa selama manusia tidak mengubah lingkungannya ia belum aman.

    Layak dicatat pula, bahwa Allah Swt dalam keempat ayat pertama disebut dalam bentuk ‘orang ketiga’, tetapi dalam ayat ini tiba-tiba Dia dipanggil dalam bentuk ‘orang kedua’ (Engkau). Renungan atas keempat sifat Ilahi itu membangkitkan dalam diri manusia keinginan yang tak tertahankan untuk dapat melihat Khāliq-nya (Pencipta-nya), begitu mendalam serta kuat hasratnya untuk mempersembahkan pengabdian sepenuh hatinya kepada-Nya, sehingga untuk memenuhi hasrat jiwanya itu bentuk ‘orang ketiga’ yang dipakai pada keempat ayat permulaan telah diubah menjadi bentuk ‘orang kedua’ (Engkau) dalam ayat ini.  2

  15. Doa ini meliputi seluruh keperluan manusia – kebendaan dan rohani, untuk masa ini dan masa yang akan datang. Orang beriman berdoa agar kepadanya ditunjukkan jalan lurus – jalan terpendek. Kadang-kadang kepada manusia diperlihatkan jalan yang benar dan lurus itu, tetapi ia tidak dibimbing kepadanya, atau jika pun dibimbing ke sana, ia tidak teguh pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir.

    Doa tersebut menghendaki agar orang beriman tidak merasa puas dengan hanya diperlihatkan kepadanya suatu jalan, atau juga dengan dibimbing pada jalan itu, tetapi ia harus senantiasa terus menerus mengikutinya hingga mencapai tujuannya, dan inilah makna Hidayah, yang berarti menunjukkan jalan yang lurus (QS.90:11), membimbing ke jalan yang lurus (QS.29:70), dan membuat orang mengikuti jalan yang lurus (QS.7:44) (Mufradāt dan Baqa).

    Pada hakikatnya, manusia memerlukan pertolongan Allah Swt pada tiap-tiap langkah dan pada setiap saat, dan sangat perlu sekali baginya agar ia senantiasa mengajukan kepada-Nya permohonan yang terkandung dalam ayat ini. Oleh karena itu doa terus-menerus itu memang sangat perlu. Selama kita mempunyai keperluan- keperluan yang belum kesampaian dan keperluan-keperluan yang belum terpenuhi dan tujuan-tujuan yang belum tercapai maka kita selamanya memerlukan doa.  2

  16. Orang beriman sejati tidak akan puas hanya dengan dibimbing ke jalan yang lurus atau dengan melakukan beberapa amal saleh tertentu saja. Ia menempatkan tujuannya jauh lebih tinggi dan berusaha mencapai kedudukan saat Allah Swt mulai menganugerahkan karunia-karunia istimewa kepada hamba-hamba-Nya. Ia melihat kepada contoh-contoh karunia Ilahi yang dianugerahkan kepada para hamba pilihan Ilahi, lalu memperoleh dorongan semangat dari mereka. Ia bahkan tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi ia berusaha keras dan berdoa supaya digolongkan di antara “orang-orang yang telah mendapat nikmat” dan menjadi seorang dari antara mereka.

    Orang-orang yang telah mendapat nikmat itu telah disebut dalam QS.4:70. Doa itu umum dan tidak untuk sesuatu karunia tertentu. Orang beriman memohon kepada Allah Swt agar menganugerahkan karunia rohani yang tertinggi kepadanya, dan terserah kepada Dia untuk menganugerahkan kepadanya karunia yang dianggap-Nya pantas dan layak bagi orang beriman itu menerimanya.  2

  17. Surah Al-Fatihah membuka suatu tertib indah dalam susunan kata-katanya dan kalimat-kalimatnya. surah ini dapat dibagi dalam dua bagian yang sama. Separuhnya yang pertama bertalian dengan Allah Swt, separuhnya yang kedua dengan manusia, dan tiap bagian bertalian satu sama lain dengan cara yang sangat menarik.

    Berkenaan dengan nama Allah – yang menunjuk kepada Dzat Yang memiliki segala sifat mulia yang tersebut dalam bagian pertama – kita dapati kata-kata, “hanya Engkau-lah yang kami sembah” dalam bagian yang kedua. Segera setelah seorang ‘Abid (yang melakukan ibadah) ingat bahwa Allah Swt bebas dari segala cacat dan kekurangan dan memiliki segala sifat sempurna, maka seruan “hanya Engkau-lah yang kami sembah” dengan sendirinya timbul dari hati sanubarinya. Dan sesuai dengan sifat “Tuhan seluruh alam” tercantum kata-kata “hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan” dalam bagian kedua.

    Setelah seorang Muslim mengetahui bahwa Allah Swt adalah Khāliq (Pencipta) dan Pemelihara seluruh alam dan Sumber dari segala kemajuan, ia segera berlindung kepada-Nya sambil berkata “hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Kemudian, sesuai dengan sifat Al-Rahmān – yakni Pemberi karunia tak berbilang dan Pemberi dengan cuma-cuma segala keperluan kita – tercantum kata-kata Tunjukilah kami jalan yang lurus dalam bagian kedua, sebab karunia terbesar yang tersedia bagi manusia adalah petunjuk yang disediakan Allah Swt baginya dengan menurunkan wahyu dengan perantaraan rasul-rasul-Nya.

    Sesuai dengan sifat Al-Rahīm – yakni Pemberi ganjaran terbaik untuk amal perbuatan manusia dalam bagian pertama – kita jumpai kata-kata “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka” dalam bagian kedua, sebab memang Al- Rahīm-lah yang menganugerahkan nikmat-nikmat yang layak bagi hamba-hamba-Nya yang khas. Demikian pula sesuai dengan “Pemilik Hari Pembalasan kita dapatkan “Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan (mereka) yang sesat.”

    Apabila terlintas dalam pikiran manusia bahwa ia harus memberikan pertanggungjawaban atas amal perbuatannya ia takut menemui kegagalan, maka dengan merenungkan sifat Pemilik Hari Pembalasan ia mulai berdoa kepada Allah Swt supaya ia dipelihara dari murka-Nya dan dari tersesat dari jalan lurus.

    Sifat khusus lainnya pada doa yang terkandung dalam surah ini yaitu doa tersebut mengimbau naluri-naluri manusia yang dalam dengan cara yang wajar sekali. Dalam fitrat manusia ada dua pendorong yang merangsangnya untuk berserah diri yaitu cinta dan takut. Sebagian orang tergerak oleh cinta, sedangkan yang lain terdorong oleh takut. Dorongan cinta memang lebih mulia, tetapi mungkin ada – dan sungguh- sungguh ada – orang-orang yang hatinya tidak tergerak oleh cinta, mereka hanya menyerah karena pengaruh takut.

    Dalam Al-Fatihah kedua pendorong manusia itu telah diimbau. Mula-mula muncul sifat-sifat Ilahi yang membangkitkan cinta: “Pencipta dan Pemelihara seluruh alam, Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Kemudian segera mengikutinya sifat Pemilik Hari Pembalasan, yang memperingatkan manusia bahwa bila ia tidak memperbaiki tingkah-lakunya dan tidak menyambut cinta dengan baik maka ia harus bersedia mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Allah Swt Dengan demikian pendorong kepada takut dipergunakan berdampingan dengan pendorong kepada cinta.

    Tetapi karena kasih-sayang Allah Swt jauh mengatasi sifat murka-Nya, maka sifat ini pun – yang merupakan satu-satunya sifat pokok yang bertujuan membangkitkan takut – tidak dibiarkan tanpa menyebut kasih-sayang. Pada hakikatnya di sini pun kasih-sayang Allah Swt mengatasi murka-Nya, sebab telah terkandung juga dalam sifat ini bahwa kita tidak akan menghadap seorang hakim melainkan menghadap Tuhan Yang berkuasa mengampuni dan yang hanya akan menyiksa bila siksaan itu sangat perlu sekali.

    Pendek kata, Al-Fatihah merupakan khazanah ilmu rohani yang menakjubkan. Al-Fatihah adalah surah pendek dengan tujuh ayat ringkas tetapi benar-benar merupakan tambang ilmu dan hikmah. Tepat sekali disebut “Induk Kitab” sebab Al- Fatihah itu intisari dan pati Al-Qur’an. Mulai dengan nama Allah – Sumber pokok pancaran segala karunia, rahmat dan berkat – surah ini melanjutkan penuturan keempat sifat pokok Allah Swt yakni: (1) Yang menjadikan dan memelihara seluruh alam; (2) Maha Pemurah yang mengadakan jaminan untuk segala keperluan manusia, bahkan sebelum ia dilahirkan serta tanpa suatu usaha apa pun dari pihak manusia untuk memperolehnya; (3) Maha Penyayang, Yang menetapkan hasil sebaik mungkin amal perbuatan manusia dan Yang mengganjarnya dengan amat berlimpah-limpah; dan (4) Pemilik Hari Pembalasan, di hadapan-Nya manusia harus mempertanggungjawabkan amal perbuatannya dan Yang akan menurunkan siksaan kepada si jahat, tetapi tidak akan berlaku terhadap makhluk-Nya semata-mata sebagai hakim, melainkan sebagai majikannya yang melunakkan hukuman dengan kasih-sayang, dan yang sangat cenderung mengampuni, kapan saja pengampunan akan membawa hasil yang baik.

    Itulah citra Tuhan dalam agama Islam – sebagaimana dikemukakan pada bagian paling awal dari Al-Qur’an – mengenai Dzat Yang kekuasaan serta kedaulatan-Nya tak ada hingganya dan kasih-sayang serta kemurahan-Nya tiada batasnya. Kemudian datanglah pernyataan manusia bahwa mengingat Tuhannya adalah pemilik semua sifat agung dan luhur maka ia bersedia bahkan berhasrat menyembah Dia dan menjatuhkan diri pada kaki-Nya dalam pengabdian yang sempurna.

    Tetapi Allah Swt mengetahui bahwa manusia itu lemah dan mudah keliru serta tergelincir, maka Dia mendorong hamba-hamba-Nya agar mohon pertolongan-Nya pada setiap derap langkah majunya dan setiap keperluan yang dihadapinya. Akhirnya datanglah doa yang padat dan berjangkauan jauh, suatu doa yang di dalamnya manusia memohon kepada Khāliq-nya, untuk membimbingnya ke jalan yang lurus dalam segala urusan rohani dan duniawi, baik mengenai keperluan-keperluannya sekarang atau pun di hari depan. Ia berdoa kepada Allah Swt agar ia bukan saja dapat menghadapi segala cobaan dan ujian dengan tabah, tetapi juga selaku “orang-orang terpilih” menghadapinya dengan cara yang sebaik-baiknya dan menjadi penerima karunia dan berkat Allah Swt yang paling banyak dan paling besar, agar ia selamanya terus melangkah maju pada jalan yang lurus, maju terus makin dekat dan lebih dekat lagi kepada Allah Swt dan Junjungannya, tanpa terantuk-antuk di perjalanannya seperti telah terjadi pada banyak dari antara mereka yang hidup di masa yang lampau.

    Itulah pokok surah pembukaan Al-Qur’an yang dengan suatu bentuk atau cara lain senantiasa diulangi dalam seluruh kandungan batang tubuh kitab suci itu (Al- Qur’an).  2