Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Lailatul-Qodr

Allah Ta’ala telah menjelaskan Lailatul Qadr dalam surah Al-Qadr, surah yang ke-97 yaitu,

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾ اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰہُ فِیۡ لَیۡلَۃِ الۡقَدۡرِ ۚ﴿ۖ۲﴾ وَ مَاۤ اَدۡرٰٮکَ مَا لَیۡلَۃُ الۡقَدۡرِ ؕ﴿۳﴾ لَیۡلَۃُ الۡقَدۡرِ ۬ۙ خَیۡرٌ مِّنۡ اَلۡفِ شَہۡرٍ ؕ﴿ؔ۴﴾ تَنَزَّلُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ وَ الرُّوۡحُ فِیۡہَا بِاِذۡنِ رَبِّہِمۡ ۚ مِنۡ کُلِّ اَمۡرٍ ۙ﴿ۛ۵﴾ سَلٰمٌ ۟ۛ ہِیَ حَتّٰی مَطۡلَعِ الۡفَجۡرِ ٪﴿۶﴾

Artinya, Aku Baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. [1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Lailatul Qadar [2] Dan apakah engkau tahu apa Lailatul Qadar itu? [3] Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan [4] Di dalamnya turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Tuhan mereka membawa segala urusan, [5] Selamat sejahtera sampai fajar terbit [6]

Secara bahasa, Lailah mengisyaratkan kepada kemuliaan, keagungan, dan kebesaran malam-malam yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan. Sedangkan Qadr berarti, nilai, kecukupan, kebesaran, takdir, nasib, kekuasaan.

Alfun (seribu), yang merupakan bilangan paling tinggi dalam bahasa Arab dan berarti bilangan yang tidak terhitung banyaknya. Ayat itu berarti bahwa Malam Takdir atau Malam Nasib itu nilainya lebih baik daripada semua bulan yang tidak terhitung bilangannya, yaitu, zaman Rasulullah (saw) itu lebih baik dan lebih unggul daripada semua zaman jika dijumlahkan.

Kapankah Lailatul Qadr itu?

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan bahasan ini kepada kita,

Lailatul Qadr tidak hanya suatu malam khusus yang turun selama bulan Ramadhan. Lailatul Qadr itu ada tiga bentuk:

Malam Ganjil dari Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Diriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan”. (H.R. Bukhari) [3]

Malam dari Tujuh Hari Terakhir Ramadhan

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

Dari Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma bahwa ada seorang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyaksilan Lailatul Qadar dalam mimpi terjadi pada tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Aku memandang bahwa mimpi kalian tentang Lailatul Qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mendekatkan diri kepada Allah dengan mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir”. (H.R. Bukhari) [4]

Diriwayatkan,

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai lailatul qadr, beliau bersabda: “Lailatul qadr adalah malam ke dua puluh tujuh.” (H.R. Abu Dawud) [5]

Doa Ketika Lailatul Qodr Tiba

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Dari Aisyah ia berkata; wahai Rasulullah, apabila aku mengetahui malam apakah lailatul qadr, maka apakah yang aku ucapkan padanya? Beliau mengatakan: “Ucapkan; ALLAAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN KARIIMUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ‘ANNII (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi ampunan dan Maha Pemurah, Engkau senang memberikan ampunan, maka ampunilah aku). (H.R. Tirmidzi) [6]

Keutamaan Lailatul Qadr

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Lailatul Qadr memiliki arti penting yang luar biasa namun hari-hari lain pada bulan Ramadhan pun juga memiliki makna yang besar. Memang benar bahwa Lailatul Qadr adalah malam diampuninya dosa-dosa tapi harus diikuti dengan amal-amal setelahnya juga dan demikian pula amal-amal pada 30 hari selama Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman bahwa inilah syarat-syarat penting, bahwa puasa Ramadhan, Lailatul Qadr dan pengampunan atas dosa bersyarat harus dengan adanya faktor keimanan, koreksi diri dan mengharapkan pahala dari-Nya.

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ ...

“…dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya…”. (H.R. Bukhari) [7]

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Jika ada kelemahan di hari-hari awal Ramadhan, hendaklah lakukan upaya untuk memperbaiki kelemahan tersebut di hari-hari kemudian. Hadhrat Rasulullah saw tidak mengatakan bahwa dosa yang akan diampuni ialah dosa orang yang mendapatkan Lailatul Qadr, melainkan beliau saw berkata bahwa setiap orang yang berpuasa dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala serta bermuhasabah diri (mengoreksi diri) dapat berharap Allah memberikan ampunan kepadanya. [2]

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Lihatlah! Bagaimana penzahiran rahmat Allah, rahmaniyyat dan rahimiyyat-Nya. Jadi, beruntunglah orang-orang yang mengambil manfaat dari hari-hari ini. Merupakan termasuk karunia Allah juga yang pada hari-hari terakhir Ramadhan ini menekankan kepada kita untuk mencari lailatul qadr supaya kita menyaksikan pemandangan pengabulan doa, lebih dari sebelumnya. Inipun bukanlah hak kita, melainkan merupakan anugerah dariNya untuk menarik hambaNya mendekat kepadaNya dan inipun merupakan keluasan rahmatNya. [8]

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Dia dibersikan dari sampah dan kekotoran dunia, memiliki keimanan yang teguh serta membersihkan dirinya dari segala kejahatan dengan mengoreksi diri dan mengharapkan pahala-Nya. Itulah Lailatul Qadr baginya.

Jika Lailatul Qadr seperti ini dialami oleh kita dan kita sungguh-sungguh menjadi milik-Nya, menjalankan segala perintah-Nya serta meningkatkan standar ibadah kita, berarti kita telah menemukan tujuan yang telah Allah Ta’ala perintahkan kepada kita. Setiap siang dan malam bagi kita menjadi saat-saat pengabulan doa.

Semoga Allah Ta’ala membuat kita semua merasakan Lailatul Qadr yang merupakan contoh khas pengabulan doa dan yang mengenainya Hadhrat Rasulullah saw telah katakan kepada kita bahwa malam tersebut turun pada satu malam selama hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Semoga dengan merasakannya dapat menjadikan kita tetap berada dalam ketakwaan serta meningkatkan standar ketakwaan kita. Semoga segala dosa yang telah lalu memperoleh ampunan-Nya dan semoga dengan karunia-Nya, Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan kita kekuatan yang khas agar dapat terhindar dari segala dosa di masa depan! [2]

Catatan Kaki