Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Mushlih Mau’ud

/assets/images/mushlih-mauud.webp

Mushlih Mau’ud berasal dari kata bahasa arab. Mushlih berasal dari kata sho-la-ha yang artinya menjadi baik, benar, berbudi luhur, tidak memihak, cocok, pantas, menyesuaikan, mencocokkan, membenahi, diperbaiki, bermanfaat [1]

Sedangkan kata Mushlih sendiri berarti orang yang mengadakan perbaikan (pembaharu atau reformer) atau orang yang mengadakan perdamaian [1]

Al-Mau’ud berasal dari akar kata wa-‘a-da yang artinya berjanji. Mau’ud berarti dijanjikan [2]

Jadi Mushlih Mau’ud berarti pembaharu atau reformer yang dijanjikan.

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa dengan perantaraan Mushlih Mau’ud, maka Jemaat akan mendapat kemajuan yang pesat. Beliau hadir untuk meneruskan missi Hadhrat Masih Mau’ud (as)

Rasulullah saw bersabda menubuwatkan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam yang turun ke dunia akan mempunyai istri dan mempunyai keturunan. [3]

Kronologi Turunnya Nubuwwatan Mengenai Hadhrat Mushlih Mau’ud

Ketika itu, Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah meminta sebuah tanda dari Allah Ta’ala dalam rangka mendukung kebenaran Islam, berupaya membuktikan keunggulan Islam di atas agama-agama lain. Serangan yang dilancarkan non-Muslim terhadap Islam telah mencapai intensitas yang sangat tinggi. Beliau juga sedang berupaya keras menagkis serangan-serangan terhadap junjungan yang mulia Rasulullah (saw). Beliau banyak bedoa kepada Allah Ta’ala agar diberikan petunjuk dan kekuatan untuk melaksanakan hal itu.

Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud (as) memohon, berdoa dan bersujud di hadapan Allah Ta’ala seraya berkata, “Wahai Tuhan, aku memohon kepada Engkau agar tunjukanlah suatu tanda Kasih Sayang Engkau, suatu tanda Kedekatan Engkau dan Kekuasaan Engkau; lalu tunjukanlah tanda ini dalam waktu dekat ini sehingga akan dapat dilihat oleh orang-orang yang meminta suatu tanda, sementara mereka sendiri masih hidup untuk dapat memberikan kesaksian.” [4]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengambil keputusan untuk mengasingkan diri demi melakukan doa secara khusus ke hadirat Allah Ta’ala di tempat tertentu selama 40 hari.[5] Beliau hendak memohon Tanda khas dari Allah sebagai pendukung, pembela Islam dan pembela Nabi Muhammad (saw). Sebelum melakukan hal itu, beliau menunaikan shalat Istikharah.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) (as) telah diberitahu oleh (Allah) Yang Gaib bahwa tempat tersebut adalah Hoshiarpur. Beliau bersabda,

“Tuhan Yang Maha Kuasa, Terpujilah nama-Nya, telah memberitahukan kepadaku nama kota tempat aku harus tinggal selama masa menyendiri, itu adalah Hoshiarpur.” [6] [7].

Wahyu dari Allah Ta’ala, dalam bahasa Urdu adalah sebagai berikut,

“Salah satu tujuanmu akan dicapai di Hoshiarpur.” [7] [8]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menulis sepucuk surat kepada Hadhrat Mehr Ali Sahib (ra), sahabat beliau yang tinggal di kota Hoshiarpur itu bahwa beliau akan datang dan tinggal di sana selama dua bulan.

Beliau meminta kepada Hadhrat Mehr Ali Sahib (ra) agar:

Kemudian beliau (as) melakukan perjalanan disertai tiga orang pengiring, yaitu Maulvi Abdullah Sanauri Sahib (ra), Hafiz Muhammad Ali Sahib (ra) dan Fatih Muhammad Khan Sahib (ra).

Hadhrat Masih Mau’ud (as) sampai ke Hoshiarpur tanggal 22 Januari 1886. Dalam berkhalwat selama 40 hari di rumah tersebut, beliau (as) banyak sekali mendapatkan kabar-kabar gaib dari Allah Ta’ala.

Setelah selesai melakukan konsentrasi doa selama 40 hari, maka pada tanggal 20 Februari 1886 dari Hoshiarpur beliau menerbitkan selebaran-selebaran yang kemudian dikirimkan ke berbagai daerah.

Di tahun 1889, tatkala Hadhrat Masih Mau’ud(as) menerima perintah dari Allah Ta’ala untuk mengambil bai’at pada tahun itu juga “Putra yang dijanjikan” itu lahir ke dunia. [9]

Isi Nubuwwatan tentang Mushlih Mau’ud

Pada tanggal 20 Februari 1886, Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Mulia, Maha Tinggi, Maha Agung, Yang Punya Kuasa untuk melakukan semua Yang Dia Kehendaki (Maha Agung Dia dan Tinggilah Nama-Nya) telah menganugerahkan wahyu kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as):

(Urdu) Aku berikan kepadamu suatu Tanda Rahmat-Ku, sesuai dengan doamu. Aku sudah dengar permohonanmu dan memuliakan doamu dengan pengabulan-Ku melalui perantaraan rahmat-Ku dan membuat perjalananmu (perjalanan ke Hoshiarpur dan Ludhiana) menjadi sumber rahmat bagimu. Suatu Tanda kekuasaan, rahmat dan kedekatan diberikan kepadamu. Tanda kasih sayang dan keberkatan dianugerahkan kepadamu. Kamu diberi kunci keberhasilan dan kemenangan. Damai untukmu, hai sang Pemenang. Tuhan berfirman supaya mereka yang menginginkan hidup, dilepaskan dari cengkeraman maut dan mereka yang terkubur dapat keluar dari padanya, dan supaya keagungan Islam dan kebesaran Perkataan Tuhan menjadi nyata bagi orang-orang itu dan supaya kebenaran tiba dengan segala karunianya dan supaya kepalsuan enyah dengan segala keburukannya, dan supaya orang mengerti bahwa Aku adalah Tuhan Kekuasaan, Aku lakukan apa yang Aku inginkan, dan supaya mereka percaya bahwa Aku beserta engkau, dan supaya orang yang tidak percaya Tuhan, menyangkal dan menolak agama-Nya, Kitab-Nya dan Nabi Suci-Nya Muhammad Saw - Manusia Pilihan, dapat dihadapkan pada Tanda nyata dan supaya jalan orang-orang bersalah menjadi nyata. Bergembiralah, karena seorang anak laki-laki tampan dan suci [10] akan dianugerahkan laksana tamu kamu. Namanya Immanuel dan juga Bashir. Ia telah dianugerahi dengan suatu ruh suci, dan dia akan bebas dari segala ketidakbersihan. Ia adalah nur Allah. Berberkatlah dia yang datang dari langit. Ia akan disertai oleh kurnia [11] [12] yang datang bersamanya [13]. Ia akan mempunyai sifat keagungan, kebesaran dan kemakmuran. Ia akan datang ke dunia dan akan mengobati banyak kerusakan melalui sifat ke-Masih-annya dan melalui berkat Ruh Suci. Ia adalah Kalimat Allah karena rahmat dan kehormatan Allah melengkapinya dengan Kalimat Keagungan. Ia akan sangat cerdas, berkeyakinan dan berhati lembut serta dipenuhi dengan ilmu dunia dan ilmu ruhani. Ia akan membuat tiga menjadi empat. Hari Senin, suatu Senin yang berberkat. (Parsi)

(Putra, berhati gembira, bermartabat tinggi, mulia). (Arab) (Perwujudan dari Yang Awal dan Yang Akhir, perwujudan dari Yang Hak dan Tinggi. Seakan-akan Allah turun dari langit). (Urdu) Kedatangannya akan diberkati besar sekali dan menjadi sumber penjelmaan dari Keagungan Tuhan. Sinar terang datang, sinar yang diurapi Tuhan dengan wewangian keridhoan-Nya. Kami akan limpahkan Ruh Kami kepadanya dan dia akan dinaungi bayangan Tuhan. Dia akan tumbuh cepat dan akan menjadi alat yang akan membebaskan mereka yang terkurung. Kemasyhurannya akan tersebar ke setiap ujung dunia dan manusia [14] akan mendapat kurnia dengan perantarannya. Dia kemudian akan diangkat ke maqam ruhaninya di langit. (Arab) (Ini adalah suatu perkara yang sudah ditakdirkan). [15]

Di dalam nubuwwatan diatas terdapat 52 poin nubuwwatan. Dan dalam waktu sembilan tahun putra yang dijanjikan itu akan lahir dan akan menyandang semua keistimewaan seperti yang telah diuraikan diatas. [9]

Proses Nubuwwatan

Setelah Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyiarkan selebaran kabar gaib (nubuatan) itu lahirlah seorang puteri di tengah-tengah keluarga beliau (as) yang diberi nama Ismat. Timbullah kritikan dan tuduhan yang sangat ramai mengatakan bahwa nubuatan beliau itu salah dan bohong karena yang lahir adalah seorang putri; bukan seorang putra.

Setelah beberapa lama, lahirlah seorang putera yang diberi nama Bashir, yang kemudian disebut Basyir awal. Kemudian putera ini meninggal dalam keadaan masih kanak-kanak. Timbullah ejekan dengan suara riuh dimana-mana.

Tanggal 12 Januari 1989 tiga tahun setelah nubuatan itu disebarkan putera yang dijanjikan itu telah lahir dan diberi nama Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad.[9]

Pemenuhan Nubuwwatan

Nubuwwatan mengenai Mushlih Mau’ud ini ternyata sempurna dalam diri Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra), Khalifatul Masih ke-II (ra). Beliau lahir 12-Jan-1889. Beliau diamanahi menjadi khalifah pada tanggal 14-Mar-1914 ketika berumur 25 tahun. [16]

Beberapa tanda yang sempurna dalam diri beliau:

“Engkaulah Mushlih Mau’ud itu” [18]

Cara Allah Ta’ala Mengajarkan Ilmu Alquran

Bagaimana Allah Ta’ala telah mengajarkan ilmu Alquran kepada beliau (ra), dijelaskan bahwa:

“Saya melihat dalam mimpi bahwa saya sedang berdiri di suatu tempat yang sangat luas sambil menghadap ke arah timur. Tiba-tiba terdengar suara dari langit seperti suara lonceng berdenting. Lama kelamaan suara itu semakin keras sehingga menggema meliputi seluruh langit. Setelah itu apa yang saya lihat, suara itu berubah menjadi sebuah bingkai (frame) gambar (photo) Kemudian bingkai gambar (foto) itu mulai bergerak-gerak sambil menampilkan sebuah gambar sesorang yang sangat tampan. Lama kelamaan gambar atau photo itu mulai bergerak dan akhirnya tiba-tiba berubah menjadi sebuah wujud manusia di hadapan saya. Ia berkata:

“Saya Malaikat Tuhan, Allah Swt telah mengirim saya kepada engkau untuk mengajarkan tafsir Surah Al Fatihah.”

Saya katakan kepadanya: “Ajarlah saya!” Diapun mulai mengajar saya terus mengajar tanpa berhenti, sehingga ketika sampai kepada ayat

اِيَّاكَ نَعْبَُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

“Hanya Engkau kami sembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan,”

Malaikat itu berkata: “Berapapun banyaknya para ahli tafsir dimasa lampau sampai sekarang yang telah menafsirkan surah ini, tafsir mereka baru sampai kepada ayat ini. Akan tetapi saya akan mengajarkan terus kepada engkau sampai selesai.”

Saya katakan kepadanya: “Ajarkanlah semua kepada saya! Maka ia terus mengajarkan kepada saya sehingga tafsir surah Al Fatihah itu selesai.” [9]

Pendakwaan Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) Sebagai Mushlih Mau’ud

Walaupun Hadhrat Masih Mau’ud (as), Hadhrat Hakim Nuruddin dan Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) mengetahui bahwa ciri-ciri Mushlih Mau’ud terdapat pada diri Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra). Akan tetapi tanpa petunjuk dari Allah Ta’ala, beliau-beliau itu tidak bisa memberikan pendakwaan tentang Mushlih Mau’ud.

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) di tahun 1944 menyampaikan dengan sumpah atas nama Allah Ta’ala bahwa beliau adalah Mushlih Mau’ud. Hal ini disampaikan kepada para anggota rapat-rapat di Kota Hosyiarpur, Lahore dan Delhi. [18]

Di dalam Khotbah Hadhrat Khalifatul Masih ke-II (ra) tanggal 4-Peb-1944 disampaikan bahwa beliau mendapatkan kabar gaib dari Allah Ta’ala bahwa beliau adalah Mushlih Mau’ud, putra yang dijanjikan itu. [16] [20]

Khotbah tersebut diterbitkan secara luas melalui surat kabar Al-Fazl. Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) menyampaikan,

“Allah Ta’ala telah berfirman bahwa kabar-kabar gaib tentang Mushlih Mau’ud yang lagi membuktikan zaman ini menurut nur dan berkat-berkat seperti zaman Hadhrat Masih Mau’ud (as) khabar gaib ini telah sempurna dengan perantaraanku. Dan tanda-tanda dan bukti-bukti pun telah menyatakan bahwa khabar-gaib ini telah sempurna dengan perantaraan diriku juga” [20]

Beliau (ra) bersabda : “Sayalah Mushlih Mau’ud dan dengan perantaraan saya Islam akan tersebar ke seluruh pelosok dunia, dan Tauhid akan ditegakkan diatas dunia.” [9]

Catatan Kaki

  1. Kamus Almaany kata sho-la-ha  2

  2. Kamus Almaany dari kata wa-‘a-da 

  3. Hadits Kitab Misykat 

  4. Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz tanggal 20 Februari 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK. 

  5. Berkhalwat adalah satu kegiatan ruhani dengan cara menyendiri di tempat terpencil selama 40 hari. Dalam kesempatan itu hampir seluruh waktu digunakan untuk berdoa. Hal ini pernah dilakukan Nabi Musa a.s. 

  6. Maktubat-e-Ahmadiyyah, vol. 5, no. 3, hal. 10; Surat no. 20, kepada Chaudhary Rustam Ali 

  7. Tadhkirah, Neratja Press: Mei 2014, Cetakan I, hlm. 123  2

  8. Al-Badr, vol. 6, no. 36, 5 September 1907, hal. 10 

  9. Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz tanggal 20 Pebruari 2009/Nubuwwah 1387 HS di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.  2 3 4 5 6 7 8 9 10

  10. ‘Seorang anak lelaki yang tampan dan suci akan datang sebagai tamumu… yang datang dari langit’. Kalimat ini… mengisyaratkan usia pendek, karena seorang tamu akan datang dan pergi dalam beberapa hari dan pergi dengan sangat cepat. Kalimat ini merujuk pada Pembaharu Yang Dijanjikan (Muslih Mau’ud) dan akan berlanjut sampai akhir…. Nubuwat tgl 20 Februari.. mengandung dua nubuwat, yang satu mengandung kesalahan.. Kemudian.. kesalahan ini diperbaiki melalui wahyu yang turun berikutnya. (Maktubat-e-Ahmadiyyah, vol. 5, hal. 43-44, tanggal 4 Desember 1888, kepada Hadhrat Khalifatul Masih I) 

  11. Wahyu telah menjadi jelas yaitu…. nubuwat tentang Muslih Mau’ud diawali dengan perkataan; ‘Ia akan didampingi dengan kurnia yang akan datang bersamanya’. Kemudian, wahyu tentang Muslih Mau’ud itu disebut Fadl (kurnia). (Haqqani-Taqrir bar Waqiah Wafat-e-Bashir, 1 Desember 1888; Sabz Ishtihar, hal. 21, catatan kaki; Ruhani Khaza’in, vol. 2, hal. 467, catatan kaki) 

  12. Catatan Mirza Bashir Ahmad ra : Terkait dengan wahyu ini, telah lahir putra Masih Mau’ud as pada 7 Agustus 1887, yaitu sebelum kelahiran Muslih Mau’ud (Pembaharu Yang Dijanjikan). Putra yang baru lahir itu berusia pendek, ia wafat dalam November 1888. Karenanya, kalimat dalam wahyu yang berbunyi; ‘Ia akan didampingi dengan kurnia yang datang bersamanya’, seorang putra yang lahir dengan nama Fadl dalam wahyu itu, serta juga diberi nama Mahmud, dan Bashir II dan juga Fadl-e-Umar. Dia lahir pada 12 Januari 1889 dan memperoleh kurnia menjadi Khalifah pada 14 Maret 1914. Segala puji bagi Allah atas semua ini. 

  13. Catatan Maulana Abdul Latif Bahawalpuri: Dalam selebaran At-Tabligh, lampiran dari Aina-e-Kamalat-e-Islam, Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan uraian lanjutan tentang tanda Muslih Mau’ud sebagai berikut: (Arab) Kurnia akan datang dengan kedatangannya. Ia adalah nur, keberkatan, suci dan mutaqi. Ia akan menyebarkan kurnia dan akan memberi makan manusia dengan makanan suci dan akan menjadi penolong agama…. Ia akan menjadi salah satu Tanda Kami dan akan menjadi panji pertolongan-Ku, sehingga orang yang mengingkarimu akan mengetahui bahwa Aku beserta kamu melalui rahmat-Ku yang terbuka. Ia penuh pemahaman, cerdas dan rupawan. Kalbunya akan penuh dengan ilmu, batinnya Iembut, dan dadanya akan dipenuhi ketenteraman. Ia akan dianugerahi ruh Al-Masih dan akan dikurniai dengan jiwa yang membawa keamanan. Hari Senin, Senin yang berberkat, jiwa berberkat akan tiba pada hari itu. (Aina-e-Kamalat-e-Islam, (At-Tabligh), hal. 577-578; Ruhani Khaza’in, vol. 5, hal. 577-578) 

  14. Ini bukan hanya sekedar wahyu, melainkan juga suatu bentuk Tanda Samawi yang dipertunjukkan Tuhan Maha Kuasa untuk memperlihatkan kebenaran, kebesaran, kemuliaan dan belas kasih dari Nabi Muhammad saw . Tanda ini seratus kali Iebih besar, lebih baik, lebih sempurna, lebih agung dan Iebih lengkap dibandingkan menghidupkan kembali orang yang mati. Menghidupkan orang mati, berarti menghidupkan kembali ruhaninya, dengan cara berdoa kepada Allah… Kejadian seperti itu, mungkin banyak menimbulkan pertanyaan kritis… Dalam hal ini, Tuhan Yang Maha Kuasa, melalui Rahmat dan Kemurahan-Nya serta berkat karunia dari Khãtamul Anbiyã S.a.w. (Meterai para Nabi), dengan menerima doa dari hamba yang lemah ini, berjanji akan mengirimkan suatu orang yang diberkati, yang mewujudkan karunia tersembunyi akan tersiar ke seluruh bumi. Tampaknya, itu seperti menghidupkan orang yang mati, tetapi Tanda ini jauh lebih baik dari menghidupkan orang mati. Menghidupkan orang mati, berarti mengembalikan ruh dengan perantaraan doa. Tetapi makna kedua ruh ini, memiliki perbedaan yang besar. (Maklumat hari Senin, 22 Maret 1886; Majmuah Ishtiharat, vol. 1, hal. 114-115) 

  15. Tadhkirah, Neratja Press: Mei 2014, Cetakan I, hlm. 125-128 

  16. Khabar Gaib Mushlih Mau’ud dalam Zaman Sekarang Ini, Malik Aziz Ahmad Khan, Jemaat Ahmadiyah Indonesia Jemaat Bandung: 15-11-2000, Cetakan ke-III, hlm. 7  2

  17. Khabar Gaib Mushlih Mau’ud dalam Zaman Sekarang Ini, Malik Aziz Ahmad Khan, Jemaat Ahmadiyah Indonesia Jemaat Bandung: 15-11-2000, Cetakan ke-III, hlm. 12  2 3

  18. Khabar Gaib Mushlih Mau’ud dalam Zaman Sekarang Ini, Malik Aziz Ahmad Khan, Jemaat Ahmadiyah Indonesia Jemaat Bandung: 15-11-2000, Cetakan ke-III, hlm. 49  2

  19. Khabar Gaib Mushlih Mau’ud dalam Zaman Sekarang Ini, Malik Aziz Ahmad Khan, Jemaat Ahmadiyah Indonesia Jemaat Bandung: 15-11-2000, Cetakan ke-III, hlm. 51 

  20. Surat Kabar Al-Fazl 16-Pebruari-1944  2