Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Al-Masih Al-Mau’ud

Al-Masih Al-Mau’ud berasal dari bahasa arab.

Al-Masih berasal dari akar kata ma-sa-ha yang artinya menyeka, mengepel, menggosok, membersihkan, mencuci, menyeka dan mengusap. [1] Al-Masih di dalam Alquran ditujukan kepada Nabi Isa (as).

Al-Mau’ud berasal dari akar kata wa-‘a-da yang artinya berjanji. Mau’ud berarti dijanjikan [2]

Al-Masih Al-Mau’ud berarti Al-Masih yang dijanjikan kedatangannya oleh Allah Ta’ala dan Rasulullah (saw). Kata Al-masih khusus ditujukan kepada Nabi Isa (as), yang turun diantara umat Nabi Muhammad (saw) yang akan menjadi Imam atau khalifatullah untuk umat Islam. [3]

Sabda Hadhrat Khalifatul Masih V (aba)

Dalam salah satu sabda beliau, Rasulullah s.a.w. menyebut Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sebagai, “nabiullah,” dan Rasul Allah. Kemudian Rasulullah s.a.w. juga bersabda bahwa antara aku dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tidak ada nabi. Kemudian sesuai dengan ayat 4 dari Surat Al-Jumu’ah, wa aakhariina minhum, Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa orang yang akan dibangkitkan di akhir zaman akan menjadi seperti kedatangan beliau sendiri ke dunia.

Dengan kata lain, orang yang akan datang, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. akan benar-benar tenggelam dalam kecintaannya kepada Rasulullah Muhammad saw, sehingga ia akan menjadi –seperti yang terjadi- cerminan/bayangan beliau dan dengan demikian ia akan mencapai gelar nabi setelah dikirim ke dunia.

Ketika menjelaskan ayat dari Sura Al-Jumu’ah ini, Rasulullah s.a.w. telah menempatkan tangan beliau di bahu Hadhrat Salman Farsi ra. dan bersabda bahwa orang yang akan datang di akhir zaman adalah di antara orang-orang ini (Salman Al Farisi) dan merupakan non-Arab.

Rasulullah s.a.w. juga memberitahu kepada kita tanda yang menceritakan hilangnya iman dan iman diangkat ke langit terjauh. Ini adalah tanda zaman bahwa Ulama ini, ulama Islam, maulwi, juga menerima dan mereka mengakui bahwa masa ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menyatakan pendakwaan beliau, kondisi keimanan kaum muslimin sangat miskin seakan-akan iman telah menghilang dari dunia. [4]

“Pada kaum sebelumnya Tuhan sendiri yang mengirim nabi. Kini karena syariat itu telah sempurna dan Rasulullah saw sampai hari kiamat adalah nabi pembawa syariat karena itu Dia telah memulai Khilafat Rasyidah yang secara zahir pemilihannya memang Allah telah tetapkan dengan cara melalui tangan orang-orang namun dengan kesaksian praktis-Nya sendiri dan dengan dukungan-dukungan-Nya Allah telah menisbahkan Khilafat itu sesuai dengan keridhaan-Nya. Walhasil oleh karena kemenangan terakhir dan syariat sempurna Dia akan tegakkan melalui perantaraan Islam, karena itu Dia juga telah mengabarkan bahwa seorang yang dalam penghambaan kepada Rasulullah saw seorang nabi akan diutus yang rinciannya telah Dia terangkan di dalam ‘wa aakhariina minhum lamma yalhaquu bihim’ – “Dan Dia akan membangkitkannya ditengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka, yang belum pernah bergabung dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Surah AlJumu’ah, 62 : 4) Dan penjelasannya oleh Hadhrat Rasulullah saw, ‘laisa bainii wa bainahu nabiyyun’ – “diantaraku dengan dia (Al-Masih) tidak akan ada Nabi.” (Abu Daud). Jadi Hadhrat Masih Mau’ud as adalah Al Masih dan Al Mahdi juga, Nabi juga dan juga Khatamul Khulafa (pengesah para Khalifah). Allah Ta’ala sesudah 14 abad, untuk menyempurnakan janjinya kepada orang-orang mukmin, Dia kemudian mengirim Khalifah yang akibat sebagai ummati mendapat pangkat kenabian yang kemudian menjadi perantara berlangsungnya Khilafat.[5]

Catatan Kaki