Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Istighfar

Istigfar (baku) atau Istighfar [1] berasal dari bahasa arab. Akar katanya adalah kata istaghfaro - yastaghfiru (اِسْتَغْفَرَ - يَسْتَغْفِرُ) yang berarti mohon ampunan. [2] Dan akar kata yang paling dalam dari kata ini adalah kata ghofaro - yaghfiru (غَفَرَ - يَغْفِرُ) yang berarti mengampuni, memaafkan, melonggarkan, memberi grasi, membatalkan, membebaskan. [3]

Ghafara al-Matā‘a berarti, ia meletakkan barang-barang itu dalam kantong, lalu menutupi dan melindungi barang-barang itu. Ghufrān dan Maghfirah kedua-duanya merupakan isim masdar (kata benda) dari Ghafara yang berarti perlindungan serta pemeliharaan. Mighfar berarti topi baja, karena topi baja melindungi kepala. [4]

Istighfar dikenal dengan bacaan astaghfirullah (astahfiruLLooh) yang berarti “Saya memohon ampunan kepada Allah”.

Mengenai pengertian Istighar, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

Makna hakiki istighfar adalah permohonan kepada Allah Swt agar kelemahan manusiawi janganlah sampai ditampakkan dan harapan semoga Tuhan mau membantu dengan kekuatan-Nya secara alamiah dan memasukkan mereka ke dalam lingkaran perlindungan-Nya.

Akar kata istighfar adalah ghafara yang mengandung arti menutupi atau menyelimuti. Dengan demikian pengertian dari istighfar ialah agar Tuhan berkenan menutupi kelemahan alamiah si pemohon dengan kekuatan-Nya. Pengertian ini menjadi lebih luas dengan juga menyertakan pengertian menutupi dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Namun pengertian hakikinya adalah permohonan agar Tuhan berkenan memelihara si pemohon terhadap kelemahan alamiah dirinya dan menganugerahkan kepadanya kekuatan dari Wujud-Nya, pengetahuan dari khazanah-Nya dan cahaya dari Nur-Nya.

Fungsi Istighfar

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan istighfar? Istighfar adalah suatu sarana guna memperoleh kekuatan. Inti daripada Ketauhidan Ilahi adalah kenyataan bahwa kondisi kesucian manusia bukanlah milik permanen dirinya melainkan harus diperoleh melalui pengagungan Tuhan sebagai Sumber segala rahmat. Allah Swt secara kiasan mirip dengan jantung yang mengandung persediaan darah bersih, sedangkan istighfar dari seorang manusia sempurna adalah mirip urat nadi yang tersambung ke jantung tersebut guna menarik darah daripadanya dan menyalurkannya ke anggota tubuh yang memerlukan. [5] [6]

Istighfār bukan saja diperlukan oleh orang-orang mukmin awam, melainkan juga oleh wujud-wujud suci, bahkan oleh nabi-nabi Allah. Sementara golongan pertama membawa istighfar untuk mencari perlindungan terhadap dosa-dosa yang akan datang dan pula terhadap akibat-akibat buruk kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat di masa lalu, maka golongan kedua mohon perlindungan terhadap kealpaan dan kelemahan manusiawi yang dapat merintangi kemajuan misi mereka. Nabi-nabi pun, makhluk manusia dan walau mereka terpelihara dari dosa, namun mereka pun diwarisi kekurangan-kekurangan dan kelemahankelemahan insani, maka mereka memerlukan istighfar guna memohon pertolongan dan perlindungan Tuhan. [6]

Janji Baiat

Dalam Janji baiat atau syarat baiat Jemaat Ahmadiyah yang ke-tiga disebutkan bahwa kita hendaknya senantiasa beristighfar atau memohon ampun kepada Allah. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memerintahkan kepada kita agar,

Ia akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu sesuai perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud dan bershalawat bagi Yang Mulia Rasulullah saw; memohon ampunan dari kesalahan dan ‘mohon perlindungan dari dosa’, akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan setulus hati, serta memuji dan mengagungkan-Nya dengan hati yang penuh kecintaan. [7]

Kisah Para Nabi Mengamalkan Istigfar

Nabi Muhammad (saw)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَاۤ  اَرۡسَلۡنَا  مِنۡ  رَّسُوۡلٍ  اِلَّا  لِیُطَاعَ  بِاِذۡنِ  اللّٰہِ  ۚ  وَلَوۡ  اَنَّہُمۡ  اِذ  ظَّلَمُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  جَآءُوۡکَ  فَاسۡتَغۡفَرُوا  اللّٰہَ  وَاسۡتَغۡفَرَ  لَہُمُ  الرَّسُوۡلُ  لَوَجَدُوا  اللّٰہَ  تَوَّابًا  رَّحِیۡمًا [4:65]

Dan tidak Kami utus seorang rasul melainkan supaya ia ditaati dengan izin Allah. Dan jika mereka datang kepada engkau ketika mereka telah menganiaya diri mereka sendiri, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, dan Rasul ini pun (Rasulullah saw) memintakan ampun bagi mereka, niscaya mereka akan mendapati Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. (QS An-Nisaa [4]: 65)

Nabi Ibrahim a.s.

Nabi Ibrahim a.s. berdoa kepada ayah asuhnya (paman) penyembah berhala sekaligus yang menentang ajaran tauhid,

قَالَ  سَلٰمٌ  عَلَیۡکَ  ۖ  سَاَسۡتَغۡفِرُ  لَکَ  رَبِّیۡۤ  ۖ  اِنَّہٗ  کَانَ  بِیۡ  حَفِیًّا [19:48]

Ibrahim berkata, “Selamat sejahtera atas engkau. Aku akan memohon ampunan bagi engkau kepada Tuhan-ku. Sesungguhnya Dia sangat baik terhadapku; (QS Maryam [19]:48)

Kemudian Allah Ta’ala berfirman bahwa Nabi Ibrohim a.s. tetap mendoakan kepada bapaknya sebagai penyembah berhala.

قَدۡ  کَانَتۡ  لَکُمۡ  اُسۡوَۃٌ  حَسَنَۃٌ  فِیۡۤ  اِبۡرٰہِیۡمَ  وَالَّذِیۡنَ  مَعَہٗۤ  اِذۡ  قَالُوۡا  لِقَوۡمِہِمۡ  اِنَّا  بُرَءٰٓؤُا  مِنۡکُمۡ  وَمِمَّا  تَعۡبُدُوۡنَ  مِنۡ  دُوۡنِ  اللّٰہِ  کَفَرۡنَا  بِکُمۡ  وَبَدَا  بَیۡنَنَا  وَبَیۡنَکُمُ  الۡعَدٰوَۃُ  وَالۡبَغۡضَآءُ  اَبَدًا  حَتّٰی  تُؤۡمِنُوۡا  بِاللّٰہِ  وَحۡدَہٗۤ  اِلَّا  قَوۡلَ  اِبۡرٰہِیۡمَ  لِاَبِیۡہِ  لَاَسۡتَغۡفِرَنَّ  لَکَ  وَمَاۤ  اَمۡلِکُ  لَکَ  مِنَ  اللّٰہِ  مِنۡ  شَیۡءٍ  ۖ  رَّبَّنَا  عَلَیۡکَ  تَوَکَّلۡنَا  وَاِلَیۡکَ  اَنَبۡنَا  وَاِلَیۡکَ  الۡمَصِیۡرُ [60:5]

Sesungguhnya bagimu ada contoh yang baik dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang besertanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ”Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari kamu. Dan telah nyata permusuhan dan kebencian di antara kami dan kamu untuk selama-lamanya hingga kamu beriman kepada Allah semata – kecuali yang dikatakan Ibrahim kepada bapaknya sebagai suatu pengecualian, ”Tentu aku akan memohonkan ampunan bagi engkau, meskipun aku tidak berdaya menolong engkau sedikit pun terhadap Allah.” Ia berdoa, “Wahai Tuhan kami, kepada Engkau kami bertawakkal dan kepada Engkau kami tunduk dan kepada Engkau kami akan kembali.” (QS Al-Mumtahanah [60]: 5)

Nabi Yusuf a.s.

Para saudara Nabi Yusuf a.s. meminta maaf dan minta didoakan agar diampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu berkenaan dengan perbuatan mereka terhadap nabi Yusuf,

قَالُوۡا  یٰۤاَبَانَا  اسۡتَغۡفِرۡ  لَنَا  ذُنُوۡبَنَاۤ  اِنَّا  کُنَّا  خٰطِئِیۡنَ [12:98]

قَالَ  سَوۡفَ  اَسۡتَغۡفِرُ  لَکُمۡ  رَبِّیۡۤ  ۖ  اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ [12:99]

Mereka berkata, “Ya, ayah kami, mohonkanlah ampunan bagi kami kepada Allah atas dosa-dosa kami; sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.” (QS. Yusuf [12]:98)

Ia berkata, “Tentu akan kumohonkan pengampunan bagimu kepada Tuhan-ku. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yusuf [12]:99)

Nabi Soleh a.s.

Dalam Alquran dikisahkan bahwa Nabi Soleh a.s. berpesan kepada kaumnya, yaitu Tsamud,

وَاِلٰی  ثَمُوۡدَ  اَخَاہُمۡ  صٰلِحًا  ۚ  قَالَ  یٰقَوۡمِ  اعۡبُدُوا  اللّٰہَ  مَا  لَکُمۡ  مِّنۡ  اِلٰہٍ  غَیۡرُہٗ  ۖ  ہُوَ  اَنۡشَاَکُمۡ  مِّنَ  الۡاَرۡضِ  وَاسۡتَعۡمَرَکُمۡ  فِیۡہَا  فَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ  ثُمَّ  تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ  ۚ  اِنَّ  رَبِّیۡ  قَرِیۡبٌ  مُّجِیۡبٌ [11:62]

Dan kepada kaum Tsamud Kami utus saudara mereka Shaleh. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, tiada bagimu Tuhan selain Dia. Dia-lah yang telah menciptakan kamu dari tanah, dan memakmurkanmu di dalamnya, maka mohon-lah ampunan kepada-Nya. Kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhan-ku itu dekat, dan mengabulkan doa-doa. (QS Hud [11]: 62)

Sebagai bentuk rasa syukur kepada-Nya yang telah memberikan kemakmuran kepada kaum Tsamud, maka kaum tersebut diperintahkan untuk beriman kepada-Nya dan memohon ampun dari segala dosa mereka. Akan tetapi karena mereka tidak mau beriman dan memohon ampun kepada Allah, bahkan menghalang-halangi nabi Soleh a.s. untuk menjalankan tugas dari Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala memberikan keputusan untuk mengazab mereka.

Dalam ayat lain, Nabi Shaleh a.s. berpesan kepada kaumnya,

قَالَ  یٰقَوۡمِ  لِمَ  تَسۡتَعۡجِلُوۡنَ  بِالسَّیِّئَۃِ  قَبۡلَ  الۡحَسَنَۃِ  ۖ  لَوۡلَا  تَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  اللّٰہَ  لَعَلَّکُمۡ  تُرۡحَمُوۡنَ [27:47]

Ia, Shaleh, berkata, “Hai kaumku! Mengapa kamu minta disegerakan keburukan dari pada kebaikan? Mengapa kamu tidak memohon ampun kepada Allah, supaya kamu dikasihi?” (QS An-Naml [27]: 47)

Nabi Hud a.s.

وَیٰقَوۡمِ  اسۡتَغۡفِرُوۡا  رَبَّکُمۡ  ثُمَّ  تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ  یُرۡسِلِ  السَّمَآءَ  عَلَیۡکُمۡ  مِّدۡرَارًا  وَّیَزِدۡکُمۡ  قُوَّۃً  اِلٰی  قُوَّتِکُمۡ  وَلَا  تَتَوَلَّوۡا  مُجۡرِمِیۡنَ [11:53]

“Dan hai kaumku, mohonlah ampunan Tuhan-mu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengirimkan atasmu awan yang menurunkan hujan lebat, dan akan menambahkan kekuatan pada kekuatanmu. Dan janganlah berpaling dari Dia sebagai orang-orang yang berdosa.” (QS Hud [11]: 53)

Allah Ta’ala akan memberikan kasih sayang kepada kaum yang mau meminta ampun kepada-Nya dan bertaubat. Mereka akan diberikan takdir yang baik setelah mereka mau untuk melaksanakannya.

Nabi Dawud a.s.

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ  لَقَدۡ  ظَلَمَکَ  بِسُؤَالِ  نَعۡجَتِکَ  اِلٰی  نِعَاجِہٖ  ۖ  وَاِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنَ  الۡخُلَطَآءِ  لَیَبۡغِیۡ  بَعۡضُہُمۡ  عَلٰی  بَعۡضٍ  اِلَّا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا  وَعَمِلُوا  الصّٰلِحٰتِ  وَقَلِیۡلٌ  مَّا  ہُمۡ  ۗ  وَظَنَّ  دَاوٗدُ  اَنَّمَا  فَتَنّٰہُ  فَاسۡتَغۡفَرَ  رَبَّہٗ  وَخَرَّ  رَاکِعًا  وَّاَنَابَ  [38:25]

Ia, Daud, berkata, “Sungguh ia telah berlaku aniaya terhadap engkau dengan meminta domba betina engkau untuk menambahkannya kepada domba-domba betinanya. Dan sesungguhnya banyak di antara orang-orang yang bersekutu berlaku aniaya sebagian mereka kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah dan beramal saleh, tetapi mereka itu hanyalah sedikit.” Dan Daud mengira bahwa Kami telah mengujinya, maka ia memohon ampun kepada Tuhan dan ia merebahkan diri dalam peribadahan dan kembali kepada-Nya, (QS Shad [38]: 25)

Tafsir: Nabi Daud As tak terkelabui oleh kedua perusuh berkedok sebagai orang-orang biasa yang sedang bersengketa; Ia memahami benar sandiwara itu. Meskipun ia tidak kehilangan akal dan memberikan keputusan seperti seorang hakim yang sehat dan tenang pikirannya, tetapi ia menyadari bahwa kewibawaannya telah melemah di kalangan kaumnya dan bahwa, meskipun tindakan pencegahan telah diambil, ia benar-benar tidak aman terhadap rencana dan rekayasa-rekayasa jahat kalangan musuhnya. Ia merasa bahwa peristiwa itu merupakan peringatan dari Tuhan. Maka ia menempuh jalan satu-satunya, seperti dilakukan orang-orang muttaqi dalam keadaan demikian. Ia berdoa kepada Allah dan memohon perlindungan-Nya terhadap rencana-rencana dan rekayasa jahat musuh-musuhnya. Sindiran yang terkandung di balik ceritera orang-orang yang bersengketa itu adalah bahwa Nabi Daud As itu seorang raja lalim yang memperluas kekuasaannya atas suku-suku bangsa tetangga yang kecil dan lemah.

Kemudian Allah Ta’ala memberikan ampunan terhadap kelemahan-kelemahan manusiawi dari Nabi Daud a.s.,

فَغَفَرۡنَا لَہٗ ذٰلِکَ ؕ وَ اِنَّ لَہٗ عِنۡدَنَا لَزُلۡفٰی وَ حُسۡنَ مَاٰبٍ ﴿۲۶﴾

Maka Kami mengampuni baginya kelemahan itu. Dan sesungguhnya ia mempunyai kedudukan yang dekat di sisi Kami dan sebaik-baik tempat kembali. (QS Shad [38]: 26)

Tafsir: Ungkapan Ghafarnā lahū dapat berarti, “Kami memberikan kepadanya perlindungan Kami,” atau “Kami bereskan urusan-urusannya”.

Nabi Sulaiman a.s.

Nabi Sulaiman a.s. tersenyum ketika mendengar pernyataan dari Suku Naml

فَاعۡلَمۡ  اَنَّہٗ  لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا  اللّٰہُ  وَاسۡتَغۡفِرۡ  لِذَنۡۢبِکَ  وَلِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ  وَالۡمُؤۡمِنٰتِ  ۗ  وَاللّٰہُ  یَعۡلَمُ  مُتَقَلَّبَکُمۡ  وَمَثۡوٰٮکُمۡ [47:20]

Maka ia, Sulaiman, tersenyum kemudian tertawa mendengar perkataannya dan berkata, “Wahai Tuhan-ku! Anugerahkanlah kepada-ku taufik untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang-tuaku, dan untuk berbuat amal saleh yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat Engkau di antara hamba-hamba Engkau yang saleh. (QS An-Naml [27]:20)

Tafsir: Karena Dahika maknanya, ia merasa kagum atau ia merasa senang (Lane). Ayat ini mengandung arti, bahwa Nabi Sulaiman a.s. kagum dan senang sekali dengan pendapat baik yang dikemukakan oleh suku bangsa Naml tentang kekuatan dan kesalehan dirinya dan balatentaranya.

Nabi Nuh a.s.

Nabi Nuh a.s. menyeru kepada umatnya agar beriman dan meminta ampun kepada-Nya sehingga Allah Ta’ala memberikan akibat yang baik.

فَقُلۡتُ  اسۡتَغۡفِرُوۡا  رَبَّکُمۡ  اِنَّہٗ  کَانَ  غَفَّارًا [71:11]

Maka aku berkata, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, “ (QS Nuh [71]: 11)

Akan tetapi karena mereka tidak mau melaksanakannya dan mereka bertambah dalam perlawanan kepada Nabi Nuh a.s. maka Allah Ta’ala memberikan keputusan untuk mengazab mereka.

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَمَنۡ  یَّعۡمَلۡ  سُوۡٓءًا  اَوۡ  یَظۡلِمۡ  نَفۡسَہٗ  ثُمَّ  یَسۡتَغۡفِرِ  اللّٰہَ  یَجِدِ  اللّٰہَ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا [4:111]

Dan barangsiapa melakukan keburukan atau menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, ia akan mendapati Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS An-Nisaa [4]: 111)

Nabi Syu’aib a.s.

Nabi Syu’aib a.s. memerintahkan kepada kaumnya untuk beristighfar kepada Allah,

وَاسۡتَغۡفِرُوۡا  رَبَّکُمۡ  ثُمَّ  تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ  ۚ  اِنَّ  رَبِّیۡ  رَحِیۡمٌ  وَّدُوۡدٌ [11:91]

“Dan mohonlah ampunan kepada Tuhan-mu; kemudian bertobatlah kepada-Nya dengan sepenuhnya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang, Maha Pecinta.” (QS Hud [11]: 91)

Ayat-ayat Istighfar

Allah Ta’ala Melarang Rasulullah saw memintakan Ampun untuk Kaum Munafikin

Kaum munafikin selalu membuat onar di masa Rasulullah saw. Akan tetapi ketika mereka meninggal, beliau saw mensholatkan mereka. Dalam Alquran difirmankan,

اَسۡتَغۡفِرۡ  لَہُمۡ  اَوۡ  لَا  تَسۡتَغۡفِرۡ  لَہُمۡ  اِنۡ  تَسۡتَغۡفِرۡ  لَہُمۡ  سَبۡعِیۡنَ  مَرَّۃً  فَلَنۡ  یَّغۡفِرَ  اللّٰہُ  لَہُمۡ  ۚ  ذٰلِکَ  بِاَنَّہُمۡ  کَفَرُوۡا  بِاللّٰہِ  وَرَسُوۡلِہٖ  ۗ  وَاللّٰہُ  لَا  یَہۡدِی  الۡقَوۡمَ  الۡفٰسِقِیۡنَ [9:80]

Baik engkau memintakan ampunan bagi mereka atau pun engkau tidak memintakan ampunan bagi mereka; sekalipun engkau memintakan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan pernah mengampuni mereka. Hal demikian itu karena mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang durhaka. (QS At-Taubah: 80)

Tafsir: Bilangan “tujuh puluh” tidak berarti satu jumlah tertentu, melainkan dipergunakan di sini untuk menekankan bahwa orang-orang munafik yang telah ditakdirkan akan binasa itu sekali-kali tidak akan diberi ampun, betapapun banyaknya Rasulullah Saw memohonkan ampunan bagi mereka.

وَاِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ تَعَالَوۡا یَسۡتَغۡفِرۡ لَکُمۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ لَوَّوۡا رُءُوۡسَہُمۡ وَرَاَیۡتَہُمۡ یَصُدُّوۡنَ وَہُمۡ مُّسۡتَکۡبِرُوۡنَ [63:6]

سَوَآءٌ  عَلَیۡہِمۡ  اَسۡتَغۡفَرۡتَ  لَہُمۡ  اَمۡ  لَمۡ  تَسۡتَغۡفِرۡ  لَہُمۡ  لَنۡ  یَّغۡفِرَ  اللّٰہُ  لَہُمۡ  ۚ  اِنَّ  اللّٰہَ  لَا  یَہۡدِی  الۡقَوۡمَ  الۡفٰسِقِیۡنَ [63:7]

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah, supaya Rasulullah memohonkan ampunan bagimu,” mereka memalingkan kepala mereka, dan engkau melihat mereka menghalang-halangi kebenaran dan mereka menyombongkan diri. (QS Munafiqun [63]: 6)

Sama saja bagi mereka, apakah engkau memohonkan ampunan bagi mereka atau engkau tidak memohonkan ampunan bagi mereka. Allah sama sekali tidak akan pernah mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang durhaka. (QS Munafiqun [63]: 7)

Walaupun masih ada hubungan kekerabatan, tetap saja beliau saw dilarang untuk meminta ampun bagi kaum munafikin,

Allah Ta’ala berfirman,

مَا  کَانَ  لِلنَّبِیِّ  وَالَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  یَّسۡتَغۡفِرُوۡا  لِلۡمُشۡرِکِیۡنَ  وَلَوۡ  کَانُوۡۤا  اُولِیۡ  قُرۡبٰی  مِنۡۢ  بَعۡدِ  مَا  تَبَیَّنَ  لَہُمۡ  اَنَّہُمۡ  اَصۡحٰبُ  الۡجَحِیۡمِ [9:113]

Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan dari Allah untuk orang-orang musyrik, meskipun mereka kaum kerabat, setelah jelas kepada mereka bahwa mereka itu penghuni Jahanam. (Qs. At-Taubah [9]: 113)

Akibat Baik Bagi Orang-orang yang Bersedia Meminta Ampun

Allah Ta’ala berfirman,

وَاَنِ  اسۡتَغۡفِرُوۡا  رَبَّکُمۡ  ثُمَّ  تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ  یُمَتِّعۡکُمۡ  مَّتٰعًا  حَسَنًا  اِلٰۤی  اَجَلٍ  مُّسَمًّی  وَّیُؤۡتِ  کُلَّ  ذِیۡ  فَضۡلٍ  فَضۡلَہٗ  ۖ  وَاِنۡ  تَوَلَّوۡا  فَاِنِّیۡۤ  اَخَافُ  عَلَیۡکُمۡ  عَذَابَ  یَوۡمٍ  کَبِیۡرٍ [11:4]

Dan supaya kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu, kemudian kembalilah kepada-Nya. Dia akan menyediakan perbekalan yang baik kepadamu sampai saat yang ditentukan dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berhak menerima karunia. Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar. (QS Hud [11]: 4)

Tafsir: Ayat ini menunjukkan, bahwa taraf taubat itu datang kemudian dan lebih tinggi daripada istighfar dalam perkembangan rohani manusia. Taubat itu merupakan perbuatan untuk menghadap kembali kepada Allah dengan ikhlas dan sepenuh hati, setelah memohon perlindungan Allah terhadap akibat-akibat buruk dan dosa-dosa yang sudah-sudah. Cara apakah yang dapat diperkirakan lebih baik daripada cara ini untuk mencapai Qurb Ilahi (kedekatan kepada Tuhan)?

Perintah Bagi Kaum Mukminin untuk Beristighfar

Dalam QS Ali ‘Imran ayat 131 orang-orang yang beriman diperintahkan untuk tidak memakan harta riba dan menjadi orang yang bertakwa. Selanjutnya di ayat 134 orang-orang yang beriman diperintahkan untuk bersegera ke arah ampunan dari Allah Ta’ala karena akan diberikan hadiah yang besar.

وَسَارِعُوۡۤا  اِلٰی  مَغۡفِرَۃٍ  مِّنۡ  رَّبِّکُمۡ  وَجَنَّۃٍ  عَرۡضُہَا  السَّمٰوٰتُ  وَالۡاَرۡضُ  اُعِدَّتۡ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ [3:134]

Dan bersegeralah kamu ke arah ampunan dari Tuhan-mu dan surga yang nilainya seluruh langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang bertakwa. (QS Ali ‘Imran [3]: 134)

Kemudian orang-orang yang beriman juga diperintahkan,

وَالَّذِیۡنَ  اِذَا  فَعَلُوۡا  فٰحِشَۃً  اَوۡ  ظَلَمُوۡۤا  اَنۡفُسَہُمۡ  ذَکَرُوا  اللّٰہَ  فَاسۡتَغۡفَرُوۡا  لِذُنُوۡبِہِمۡ  وَمَنۡ  یَّغۡفِرُ  الذُّنُوۡبَ  اِلَّا  اللّٰہُ  وَلَمۡ  یُصِرُّوۡا  عَلٰی  مَا  فَعَلُوۡا  وَہُمۡ  یَعۡلَمُوۡنَ [3:136]

Dan juga orang-orang yang apabila mereka melakukan suatu perbuatan keji atau menganiaya diri mereka sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu mereka memohon ampunan bagi dosa mereka, dan siapakah yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak berkeras hati pada apa yang mereka kerjakan sedangkan mereka mengetahui. (QS Ali ‘Imran [3]: 136)

Allah Ta’ala juga memerintahkan kepada orang yang bertaqwa untuk senantiasa memohon ampunan di waktu pagi (menjelang fajar).

وَبِالۡاَسۡحَارِ  ہُمۡ  یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ [51:19]

Dan di waktu subuh mereka memohon ampunan-Nya. (QS Adz-Dzariyat [51]: 19)

Selain itu, hendaknya kita beristighfar di waktu sebelum subuh atau waktu sahur karena di dalam kamus Almaany, kata wa bil ashaari (وَبِٱلْأَسْحَار) berarti “dan di waktu sahur” karena kata al-ashaari (أَسْحَار) diserap dari kata saharo (سَحَر) yang berarti waktu sebelum fajar atau waktu sahur. [8]

Baiat dan Istighfar

Allah Ta’ala berfirman bahwa jika seseorang melaksanakan baiat kepada Rasulullah saw, maka beliau saw diperintahkan untuk memintakan ampun kepada Allah bagi mereka.

یٰۤاَیُّہَا  النَّبِیُّ  اِذَا  جَآءَکَ  الۡمُؤۡمِنٰتُ  یُبَایِعۡنَکَ  عَلٰۤی  اَنۡ  لَّا  یُشۡرِکۡنَ  بِاللّٰہِ  شَیۡـًٔا  وَّلَا  یَسۡرِقۡنَ  وَلَا  یَزۡنِیۡنَ  وَلَا  یَقۡتُلۡنَ  اَوۡلٰدَہُنَّ  وَلَا  یَاۡتِیۡنَ  بِبُہۡتٰنٍ  یَّفۡتَرِیۡنَہٗ  بَیۡنَ  اَیۡدِیۡہِنَّ  وَاَرۡجُلِہِنَّ  وَلَا  یَعۡصِیۡنَکَ  فِیۡ  مَعۡرُوۡفٍ  ۙ  فَبَایِعۡہُنَّ  وَاسۡتَغۡفِرۡ  لَہُنَّ  اللّٰہَ  ۖ  اِنَّ  اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ [60:13]

Wahai Nabi! Jika datang kepada engkau perempuan-perempuan mukmin hendak baiat kepada engkau bahwa mereka tidak akan menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri dan tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak mereka, tidak akan melemparkan suatu tuduhan yang sengaja dibuat-buat antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakai engkau dalam hal yang baik, maka terimalah baiat mereka dan mintalah ampunan bagi mereka dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Al-Mumtahanah [60]: 13)

Iman dan Istighfar Akan Menghalagi Azab

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا  مَنَعَ  النَّاسَ  اَنۡ  یُّؤۡمِنُوۡۤا  اِذۡ  جَآءَہُمُ  الۡہُدٰی  وَیَسۡتَغۡفِرُوۡا  رَبَّہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ  تَاۡتِیَہُمۡ  سُنَّۃُ  الۡاَوَّلِیۡنَ  اَوۡ  یَاۡتِیَہُمُ  الۡعَذَابُ  قُبُلًا [18:56]

Dan tiada yang menghalangi manusia beriman, ketika petunjuk datang kepada mereka, dan dari memohon ampunan kepada Tuhan mereka, kecuali mereka menunggu-nunggu nasib orang-orang terdahulu menimpa diri mereka, atau azab datang kepada mereka berhadap-hadapan. (QS Al-Kahfi [18]: 56)

Pertolongan akan Datang dengan Syarat Tetap Bersabar, Beristighfar dan Berzikir

Allah Ta’ala berfirman,

فَاصۡبِرۡ  اِنَّ  وَعۡدَ  اللّٰہِ  حَقٌّ  وَّاسۡتَغۡفِرۡ  لِذَنۡۢبِکَ  وَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ  رَبِّکَ  بِالۡعَشِیِّ  وَالۡاِبۡکٰرِ [40:56]

Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mintalah ampunan atas kekhilafanmu dan bertasbihlah dengan pujian Tuhan engkau pada waktu petang dan pagi. (QS Al-Mumin [40]: 56)

Tetap Beristighfar Walaupun Kemenangan Telah Diraih

Allah Ta’ala berfirman,

فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ  رَبِّکَ  وَاسۡتَغۡفِرۡہُ  ۚ  اِنَّہٗ  کَانَ  تَوَّابًۢا [110:4]

Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan engkau dan mohonlah ampunan-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Taubat. (QS An-Nashr [110]: 4)

Tafsir: Karena janji Allah Swt telah menjadi sempurna, dan manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka Rasulullah Saw di sini diperintahkan agar bersyukur kepada Tuhan-nya karena Dia telah memenuhi janji-Nya, agar beliau mendendangkan puji-pujian bagi-Nya.

Di sini dikatakan kepada Rasulullah Saw, bahwa oleh karena kemenangan telah datang kepada beliau dan Islam telah berkuasa di seluruh negeri dan musuh-musuh dahulu telah menjadi pengikut beliau yang mukhlis, maka beliau harus berdoa, supaya Tuhan memaafkan kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap Rasulullah Saw pada masa lampau. Rupa-rupanya inilah arti dan maksud perintah kepada Rasulullah Saw supaya memohon ampunan kepada Tuhan. Atau, arti lainnya adalah bahwa Rasulullah Saw diperintahkan supaya memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para Muallaf kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai. Adalah sangat bermakna, bahwa manakala di dalam Al-Qur’an disebutkan perihal kemenangan atau perihal keberhasilan besar lainnya datang kepada Rasulullah Saw, beliau selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya. Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun, beliau diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau sendiri, melainkan bagi orang-orang lain, yaitu, beliau diperintahkan agar berdoa bilamana ada bahaya datang, ketika para pengikut beliau menyimpang dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam, semoga kiranya Tuhan menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu. Jadi, di sini sama sekali bukan berarti bahwa, Rasulullah Saw beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau sendiri. Menurut Al-Qur’an, beliau menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan dari jalan lurus.

Salah Satu Ciri kaum Munafikin adalah Tidak Mau untuk Meminta Ampun kepada Allah

Allah Ta’ala berfirman,

وَاِذَا  قِیۡلَ  لَہُمۡ  تَعَالَوۡا  یَسۡتَغۡفِرۡ  لَکُمۡ  رَسُوۡلُ  اللّٰہِ  لَوَّوۡا  رُءُوۡسَہُمۡ  وَرَاَیۡتَہُمۡ  یَصُدُّوۡنَ  وَہُمۡ  مُّسۡتَکۡبِرُوۡنَ [63:6]

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah, supaya Rasulullah memohonkan ampunan bagimu,” mereka memalingkan kepala mereka, dan engkau melihat mereka menghalang-halangi kebenaran dan mereka menyombongkan diri. (QS Al-Munafiqun [63]: 6)

Allah Ta’ala Tidak Akan Mengazab Ketika ada yang Beristighfar

Dalam riwayat Bukhārī, Kitab al-Tafsir, Abu Jahal pernah berdoa kepada Allah Ta’ala, “Wahai Allah, jika ini sungguh kebenaran dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (QS Al-Anfaal [8]:33) akan tetapi Allah Ta’ala tidak mengabulkan hal itu karena Rasulullah saw masih ada di tengah-tengah mereka. Namun Allah Ta’ala mengabulkan kalimat terakhir, “datangkanlah kepada kami azab yang pedih”. Abu Jahal bersama beberapa pemimpin Quraisy yang lain, terbunuh dan mayat-ayat mereka dilemparkan ke dalam sebuah lubang.

Penolakan doa Abu Jahal yang ingin melihat kaumnya diazab dengan dihujani baru dari langit, adalah ayat berikut,

وَمَا  کَانَ  اللّٰہُ  لِیُعَذِّبَہُمۡ  وَاَنۡتَ  فِیۡہِمۡ  ۚ  وَمَا  کَانَ  اللّٰہُ  مُعَذِّبَہُمۡ  وَہُمۡ  یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ [8:34]

Tetapi Allah tidak akan mengazab mereka selama engkau berada di tengah-tengah mereka, dan Allah tidak akan mengazab mereka selama mereka memohon ampun. (QS Al-Anfaal [8]:34)

Malaikat Beristigfar bagi Orang-orang yang Beriman (Mukminin)

Allah Ta’ala berfirman,

اَلَّذِیۡنَ  یَحۡمِلُوۡنَ  الۡعَرۡشَ  وَمَنۡ  حَوۡلَہٗ  یُسَبِّحُوۡنَ  بِحَمۡدِ  رَبِّہِمۡ  وَیُؤۡمِنُوۡنَ  بِہٖ  وَیَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  لِلَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا  رَبَّنَا  وَسِعۡتَ  کُلَّ  شَیۡءٍ  رَّحۡمَۃً  وَّعِلۡمًا  فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ  تَابُوۡا  وَاتَّبَعُوۡا  سَبِیۡلَکَ  وَقِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ [40:8]

Dan malaikat-malaikat yang memikul ‘Arasy dan mereka yang ada di sekitarnya, mereka bertasbih dengan memuji Tuhannya, dan mereka beriman kepada-Nya, dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman, “Wahai Tuhan kami! Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu. Maka ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahanam. (QS Al-Mukmin [40]:8)

Orang-orang yang Beriman Diperintahkan Istiqomah dan Beristighfar

Allah Ta’ala berfirman,

قُلۡ  اِنَّمَاۤ  اَنَا۠  بَشَرٌ  مِّثۡلُکُمۡ  یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ  اَنَّمَاۤ  اِلٰہُکُمۡ  اِلٰہٌ  وّٰحِدٌ  فَاسۡتَقِیۡمُوۡۤا  اِلَیۡہِ  وَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ  ۗ  وَوَیۡلٌ  لِّلۡمُشۡرِکِیۡنَ [41:7]

Katakanlah, “Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, telah diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Mahaesa; maka tetaplah di jalan yang lurus kepadanya dan mintalah ampunan kepada-Nya.” Dan celakalah bagi orang-orang musyrik. (QS Haa Mim Sajdah [41]:7)

Perintah untuk Beristigfar

Allah Ta’ala berfirman,

۞  اِنَّ  رَبَّکَ  یَعۡلَمُ  اَنَّکَ  تَقُوۡمُ  اَدۡنٰی  مِنۡ  ثُلُثَیِ  الَّیۡلِ  وَنِصۡفَہٗ  وَثُلُثَہٗ  وَطَآئِفَۃٌ  مِّنَ  الَّذِیۡنَ  مَعَکَ  ۚ  وَاللّٰہُ  یُقَدِّرُ  الَّیۡلَ  وَالنَّہَارَ  ۚ  عَلِمَ  اَنۡ  لَّنۡ  تُحۡصُوۡہُ  فَتَابَ  عَلَیۡکُمۡ  ۖ  فَاقۡرَءُوۡا  مَا  تَیَسَّرَ  مِنَ  الۡقُرۡاٰنِ  ۚ  عَلِمَ  اَنۡ  سَیَکُوۡنُ  مِنۡکُمۡ  مَّرۡضٰی  ۙ  وَاٰخَرُوۡنَ  یَضۡرِبُوۡنَ  فِی  الۡاَرۡضِ  یَبۡتَغُوۡنَ  مِنۡ  فَضۡلِ  اللّٰہِ  ۙ  وَاٰخَرُوۡنَ  یُقٰتِلُوۡنَ  فِیۡ  سَبِیۡلِ  اللّٰہِ  ۖ  فَاقۡرَءُوۡا  مَا  تَیَسَّرَ  مِنۡہُ  ۚ  وَاَقِیۡمُوا  الصَّلٰوۃَ  وَاٰتُوا  الزَّکٰوۃَ  وَاَقۡرِضُوا  اللّٰہَ  قَرۡضًا  حَسَنًا  ۚ  وَمَا  تُقَدِّمُوۡا  لِاَنۡفُسِکُمۡ  مِّنۡ  خَیۡرٍ  تَجِدُوۡہُ  عِنۡدَ  اللّٰہِ  ہُوَ  خَیۡرًا  وَّاَعۡظَمَ  اَجۡرًا  ۚ  وَاسۡتَغۡفِرُوا  اللّٰہَ  ۖ  اِنَّ  اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌۢ [73:21]

Sesungguhnya Tuhan engkau mengetahui bahwa engkau berdiri shalat hampir dua pertiga malam, dan kadangkala setengahnya atau sepertiganya, dan begitu pula segolongan orang yang beserta engkau. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Dia mengetahui bahwa kamu tidak dapat mengukur waktu dengan cermat, maka Dia mengasihanimu, maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antaramu yang sakit, dan beberapa yang lainnya yang sedang bepergian di bumi mencari karunia Allah, dan beberapa lainnya berperang di jalan Allah, maka kamu bacalah apa yang mudah dari Al-Qur’an itu, dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan pinjamkanlah kepada Allah pinjaman yang baik. Dan apa pun yang kamu dahulukan untuk dirimu dari kebaikan, kamu akan mendapatkannya di sisi Allah, itu lebih baik dan lebih besar ganjarannya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Al-Muzammil [73]: 21)

Beristighfar ketika Melaksanakan Ibadah Haji

Dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya yang membahas masalah haji, Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ  اَفِیۡضُوۡا  مِنۡ  حَیۡثُ  اَفَاضَ  النَّاسُ  وَاسۡتَغۡفِرُوا  اللّٰہَ  ۚ  اِنَّ  اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ [2:200]

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya manusia, dan mohonlah ampunan kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (QS AlBaqarah [2]: 200)

Keterangan: Jika Tsumma diartikan “dan” sedangkan “kembali” yang disebut dalam ayat ini mengacu kepada perjalanan kembali dari Arafah, maka annās akan berarti “orang-orang lain”, tetapi jika kata Tsumma diartikan “kemudian” dan “kembali” tersebut di sini diartikan mengisyaratkan kepada perjalanan kembali dari Masy‘aril-Harām, maka annās akan berarti “semua orang” dan kedua arti ini didukung oleh tata bahasa Arab

Sebelum Islam lahir, kaum Quraisy dan Banu Kinanah yang dikenal sebagai Hums tidak ikut dengan para peziarah lainnya ke Arafah, tetapi berhenti sebentar di Masy ‘ar al-Harām, menunggu untuk bergabung dengan orang-orang yang pulang dari ‘Arafah. Dalam ayat ini dan ayat sebelumnya mereka itu diminta supaya tidak berhenti di Masy ‘ar alHarām, melainkan harus terus menuju ke ‘Arafah dan berbuat seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain. Sesudah kembali dari ‘Arafah menuju ke Masy‘ar al-Harām para peziarah harus terus menuju Mina, tempat hewan-hewan kurban disembelih dan dengan demikian berakhirlah keadaan ihram.

Memohonkan Ampun untuk Orang-Orang Mukmin

Allah Ta’ala berfirman,

فَبِمَا  رَحۡمَۃٍ  مِّنَ  اللّٰہِ  لِنۡتَ  لَہُمۡ  ۖ  وَلَوۡ  کُنۡتَ  فَظًّا  غَلِیۡظَ  الۡقَلۡبِ  لَانۡفَضُّوۡا  مِنۡ  حَوۡلِکَ  ۖ  فَاعۡفُ  عَنۡہُمۡ  وَاسۡتَغۡفِرۡ  لَہُمۡ  وَشَاوِرۡہُمۡ  فِی  الۡاَمۡرِ  ۖ  فَاِذَا  عَزَمۡتَ  فَتَوَکَّلۡ  عَلَی  اللّٰہِ  ۚ  اِنَّ  اللّٰہَ  یُحِبُّ  الۡمُتَوَکِّلِیۡنَ [3:160]

Maka karena rahmat dari Allah-lah engkau bersikap lemah-lembut terhadap mereka, dan seandainya engkau kasar dan keras hati, niscaya mereka akan bercerai-berai dari sekitar engkau, karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan yang penting, dan apabila engkau telah mengambil suatu ketetapan maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. (QS Ali-‘Imran [3]: 160)

Perintah Beristighfar

Rasulullah saw diperintah Allah Ta’ala untuk memintakan ampun untuk orang-orang Muslim

وَاسۡتَغۡفِرِ  اللّٰہَ  ۖ  اِنَّ  اللّٰہَ  کَانَ  غَفُوۡرًا  رَّحِیۡمًا [4:107]

Dan mohonlah ampun kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS An-Nisa [4]:107)

Tafsir: Istighfār merupakan kunci segala kemajuan rohani. Istighfar itu tidak semata-mata berarti minta dengan lisan untuk pengampunan, tetapi meluas ke perbuatan-perbuatan yang membawa kepada penutupan dosa-dosa dan kealpaan-kealpaan.

اَفَلَا  یَتُوۡبُوۡنَ  اِلَی  اللّٰہِ  وَیَسۡتَغۡفِرُوۡنَہٗ  ۚ  وَاللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ [5:75]

Apakah mereka tidak bertobat kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya, padahal Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang? (QS Al-Maidah [5]: 75)

Tafsir: Tidak ada pengorbanan orang lain yang diperlukan manusia untuk mencapai najat (keselamatan). Tuhan sendiri dapat mengampuni semua dosa. Hanya hati yang benar-benar menyesal dan bertobatlah diperlukan untuk menarik pengampunan-Nya.

Memintakan Ampunan kepada Allah untuk Orang-orang yang Beriman

Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّمَا  الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا  بِاللّٰہِ  وَرَسُوۡلِہٖ  وَاِذَا  کَانُوۡا  مَعَہٗ  عَلٰۤی  اَمۡرٍ  جَامِعٍ  لَّمۡ  یَذۡہَبُوۡا  حَتّٰی  یَسۡتَـٔۡذِنُوۡہُ  ۚ  اِنَّ  الَّذِیۡنَ  یَسۡتَـٔۡذِنُوۡنَکَ  اُولٰٓئِکَ  الَّذِیۡنَ  یُؤۡمِنُوۡنَ  بِاللّٰہِ  وَرَسُوۡلِہٖ  ۚ  فَاِذَا  اسۡتَـٔۡذَنُوۡکَ  لِبَعۡضِ  شَاۡنِہِمۡ  فَاۡذَنۡ  لِّمَنۡ  شِئۡتَ  مِنۡہُمۡ  وَاسۡتَغۡفِرۡ  لَہُمُ  اللّٰہَ  ۚ  اِنَّ  اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ [24:63]

Sesungguhnya mukmin yang sejati ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka yang apabila mereka ada besertanya untuk suatu urusan kepentingan umum yang telah mengumpulkan mereka itu bersama-sama, mereka tidak pergi sebelum mereka minta izin kepadanya. Sesungguhnya, orang-orang yang minta izin kepada engkau, mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka, apabila mereka minta izin kepada engkau untuk suatu urusan mereka yang penting sekali, berilah izin siapa yang engkau kehendaki dari mereka, dan mintakanlah ampunan bagi mereka dari Allah. Sesungguhnya Allah itu Mahapengampun, Mahapenyayang (QS An-Nur [24]: 63).

Para Malaikat Meristighfar kepada Allah untuk Orang-orang yang Beriman

Allah Ta’ala berfirman,

تَکَادُ  السَّمٰوٰتُ  یَتَفَطَّرۡنَ  مِنۡ  فَوۡقِہِنَّ  ۚ  وَالۡمَلٰٓئِکَۃُ  یُسَبِّحُوۡنَ  بِحَمۡدِ  رَبِّہِمۡ  وَیَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  لِمَنۡ  فِی  الۡاَرۡضِ  ۗ  اَلَاۤ  اِنَّ  اللّٰہَ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ [42:6]

Hampir saja seluruh langit pecah dari atas mereka dan para malaikat bertasbih dengan pujian Tuhan mereka dan memohonkan ampunan bagi mereka di bumi. Ingatlah, sesungguhnya Allah Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Asy-Syura [42]: 6)

Tafsir: Dosa manusia itu besar, namun lebih besar lagi adalah rahmat Tuhan, yang lebih cemerlang dari semua sifat Ilahi lainnya. Rahmat Tuhan dan permohonan ampunan para malaikat untuk manusia, bergabung bersamasama menjadi satu, menyelamatkan manusia dari hukuman Ilahi, dan manusia diberi tangguh agar dapat memperbaiki diri.

Ketika bencana besar dari langit menimpa orang-orang dunia, pada saat itu para malaikat langit pun beristighfar untuk hamba-hamba Allah yang suci. Malaikat sendiri tidak berdosa, tetapi mereka beristighfar untuk hamba-hamba Tuhan.

Perintah untuk Meminta Ampun untuk Orang Tua

Allah Ta’ala berfirman yang merupakan doa Nabi Ibrohim a.s.,

رَبَّنَا  اغۡفِرۡ  لِیۡ  وَلِوٰلِدَیَّ  وَلِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ  یَوۡمَ  یَقُوۡمُ  الۡحِسَابُ [14:42]

”Wahai Tuhan kami! Ampunilah aku, kedua orangtuaku dan orang-orang mukmin pada Hari diadakannya perhitungan.” (QS Ibrahim [14]: 42)

Tafsir: Yang menjadi sebab, mengapa para nabi Allah biasa membaca istighfar, padahal mereka pada hakikatnya dijamin untuk mendapat perlindungan terhadap setan, ialah kesadaran mereka tentang kesucian dan keagungan Allah di satu pihak, dan mengenai kelemahan diri mereka sendiri di pihak lain. Kesadaran akan kelemahan insani itulah yang mendorong mereka untuk berdoa dengan merendahkan diri kepada Allah, supaya Dia “menutupi” mereka dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya, agar supaya wujud mereka sendiri hilang dan tenggelam sepenuhnya dalam wujud-Nya.

Allah Ta’ala berfirman yang merupakan doa Nabi Nuh a.s.

رَّبِّ  اغۡفِرۡ  لِیۡ  وَلِوٰلِدَیَّ  وَلِمَنۡ  دَخَلَ  بَیۡتِیَ  مُؤۡمِنًا  وَّلِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ  وَالۡمُؤۡمِنٰتِ  وَلَا  تَزِدِ  الظّٰلِمِیۡنَ  اِلَّا  تَبَارًۢا [71:29].

“Wahai Tuhan-ku! Ampunilah aku dan ibu-bapakku, dan bagi orang-orang yang memasuki rumahku sebagai mukmin, dan bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin. Dan Engkau tidak menambah kepada orang-orang yang aniaya kecuali kebinasaan.” (QS Nuh [71]: 29)

Tafsir: Nabi-nabi Allah sarat dengan nilai-nilai kebajikan manusiawi. Doa Nabi Nuh As menunjukkan bahwa perlawanan terhadapnya tentu berlangsung sangat lama, gigih, dan tidak kunjung berkurang, dan bahwa segala usaha membawa kaumnya kepada jalan lurus telah kandas dan gagal serta tidak ada kemungkinan yang tinggal untuk penambahan lebih lanjut jumlah pengikut yang kecil itu, dan pula bahwa para penentangnya telah melampaui batas-batas yang wajar dalam menentang dan menganiaya ia dengan para pengikutnya, dan dalam berkecimpung di dalam perbuatan-perbuatan jahat. Keadaan telah begitu jauh sehingga seorang yang begitu berpembawaan kasih sayang seperti Nabi Nuh As terpaksa berdoa buruk untuk kaumnya. Dalam keadaan yang sama, sikap Rasulullah Saw terhadap para penentang beliau menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok. Dalam pertempuran Uhud, ketika dua buah gigi beliau patah dan beliau terluka parah serta darah beliau mengucur dengan derasnya, kata-kata yang keluar dari mulut beliau hanyalah, “betapa suatu kaum akan memperoleh keselamatan, sedang mereka telah melukai nabi mereka dan melumuri mukanya dengan darah, karena kesalahan yang tidak lain selain ia telah mengajak mereka kepada Tuhan. Ya, Tuhan-ku! Ampunilah kiranya kaumku ini, sebab mereka tidak mengetahui apa yang mereka perbuat” (Zurqani dan Hisyam).

وَاخۡفِضۡ  لَہُمَا  جَنَاحَ  الذُّلِّ  مِنَ  الرَّحۡمَۃِ  وَقُل  رَّبِّ  ارۡحَمۡہُمَا  کَمَا  رَبَّیَانِیۡ  صَغِیۡرًا [17:25]

“Dan rendahkanlah sayap kerendahan hati terhadap keduanya karena kasih-sayang.” Dan katakanlah, ”Wahai Tuhan! Kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidikku semasa aku kecil.” (QS Bani Israil [17]: 25)

Tafsir: Ayat ini dengan suatu perumpamaan yang indah mengajarkan dan menanamkan kasih-sayang terhadap kedua orang tua. Oleh karena cinta-kasih orang tua tidak dapat dibalas dengan sepadan, maka dianjurkan supaya kekurangan dalam hal ini ditutup dengan jalan berdoa bagi mereka. Doa ini menunjukkan, bahwa dalam usia lanjut orangtua memerlukan perlakuan dengan penuh perhatian dan kasih-sayang seperti layaknya anak-anak kecil dijaga dan diperhatikan dalam masa kanak-kanaknya oleh orangtua mereka.

Hadits-Hadits Istighfar

Bentuk Keberuntungan

Diriwayatkan,

سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بُسْرٍ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُوبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيرًا

Saya mendengar Abdullah bin Busr dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan didalam catatan amalnya istighfar yang banyak.” (H.R. Ibnu Majah) [9]

Keutamaan Istighfar

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

Dari Abu Hurairah dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Demi Dzat yang jiwaku di tangannya, seandainya kamu sekalian tidak berbuat dosa sama sekali, niscaya Allah akan memusnahkan kalian. Setelah itu, Allah akan mengganti kalian dengan umat yang pernah berdosa. Kemudian mereka akan memohon ampunan kepada Allah dan Allah pun pasti akan mengampuni mereka.’” (H.R. Muslim) [10]

Diriwayatkan,

حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِي يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik ia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, tidaklah engkau berdoa kepadaKu dan berharap kepadaKu melainkan Aku ampuni dosa yang ada padamu dan Aku tidak perduli, wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit kemudian engkau meminta ampun kepadaKu niscaya aku akan mengampunimu, dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepadaKu dengan membawa kesalahan kepenuh bumi kemudian engkau menemuiKu dengan tidak mensekutukan sesuatu denganKu niscaya aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi.” (H.R. Tirmidzi) [11]

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ أَحَدِكُمْ مِنْ أَحَدِكُمْ بِضَالَّتِهِ إِذَا وَجَدَهَا

dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Allah lebih senang dengan taubat seseorang diantara kalian daripada senangnya seseorang diantara kalian karena mendapatkan barangnya yang hilang.” (H.R. Tirmidzi) [12]

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ فَيَقُولُونَ جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا لَا قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ قَالَ فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai beberapa malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, maka mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah. Apabila majelis dzikir itu telah usai, maka mereka juga berpisah dan naik ke langit.’ Kemudian Rasulullah meneruskan sabdanya: ‘Selanjutnya mereka ditanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang sebenarnya Maha Tahu tentang mereka: ‘Kalian datang dari mana? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memohon kepada-Mu ya Allah.’ Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apa yang mereka minta? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka memohon surga-Mu ya Allah.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya lagi: ‘Apakah mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihatnya ya Allah.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu ya Allah.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala balik bertanya: ‘Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Mereka meminta perlindungan kepada-Mu dari neraka-Mu ya Allah.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya: ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat menjawab; ‘Belum. Mereka belum pernah melihat neraka-Mu ya Allah.’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? ‘ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, sepertinya mereka juga memohon ampun (beristighfar) kepada-Mu? ‘ Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: ‘Ketahuilah hai para malaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka.’ Para malaikat berkata; ‘Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka.’ Maka Allah menjawab: ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya Aku akan mengampuni orang tersebut. Sesungguhnya mereka itu adalah suatu kaum yang teman duduknya tak bakalan celaka karena mereka.’ (H.R. Muslim) [13]

Istighfar Merupakan Sunnah Rasulullah saw

Diriwayatkan,

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Abu Hurairah berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali.” (H.R. Bukhari) [14]

Diriwayatkan,

عَنْ الْأَغَرِّ الْمُزَنِيِّ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

dari Al Aghar Al Muzanni, -salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, - Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari dzikir kepada Allah, susungguhnya Aku beristighfar seratus kali dalam sehari.” (H.R. Muslim) [15]

Sunnah Rasulullah saw untuk Mengiringi Doa dengan Istighfar

Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعْجِبُهُ أَنْ يَدْعُوَ ثَلَاثًا وَيَسْتَغْفِرَ ثَلَاثًا

Dari Abdullah bahwa Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam senang berdoa tiga kali dan beristighfar tiga kali. (H.R. Abu Dawud) [16]

Sunnah untuk Beristighfar Ketika Gerhana

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ فَقَامَ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ فَقَامَ يُصَلِّي بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ مَا رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِي صَلَاتِهِ قَطُّ ثُمَّ قَالَ إِنَّ هَذِهِ الْآيَاتِ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ

Dari Abu Musa dia berkata; “Saat terjadi gerhana matahari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dengan rasa takut, beliau khawatir akan terjadi kiamat. Beliau mendatangi masjid, lalu berdiri, ruku’, dan sujud dengan waktu yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan hal itu dalam shalatnya. Kemudian beliau bersabda: “Ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang Dia kirimkan bukan karena kematian ataupun kelahiran seseorang, tetapi Allah mengirimnya untuk memberi rasa takut kepada hamba-Nya. Jika kalian melihatnya, maka segeralah berdzikir dan berdoa serta meminta ampunan kepada-Nya.” (H.R. An-Nasai) [17]

Berdoa setelah Istighfar

Diriwayatkan,

سَمِعَ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Bahwasanya ia mendengar Tsauban –hamba sahaya Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam– Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam jika selesai shalat maka beliau beristighfar tiga kali, lalu berdoa: “Ya Allah, Engkau Maha Pemberi Selamat dan dari-Mu-lah keselamatan. Maha Suci Engkau wahai pemilik keluhuran dan kemuliaan.” (H.R. An-Nasai) [18]

Hamba Allah Ta’ala yang Diharapkan Rasulullah saw

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ الَّذِينَ إِذَا أَحْسَنُوا اسْتَبْشَرُوا وَإِذَا أَسَاءُوا اسْتَغْفَرُوا

Dari ‘Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan do’a: “Ya Allah, jadikanlah aku di antara orang-orang yang apabila berbuat baik mereka meminta kabar gembira dan apabila berbuat keburukan, mereka meminta ampun.” (H.R. Ibnu Majah) [19]

Memperoleh Akibat yang Baik

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

dari Ibnu Abbas bahwa ia bercerita kepadanya, ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah pasti akan selalu memberikannya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari segala kegundahan serta Allah akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (H.R. Abu Dawud) [20]

Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

dari Abdullah bin ‘Abbas dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang menekuni istighfar, Allah akan menjadikan dari setiap kesedihan kelonggaran, dan dari setiap kesempitan jalan keluar dan memberi rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka.” (H.R. Ibnu Majah) [21]

Meminta Ampun kepada Allah Melalui Shalat Nafal

Diriwayatkan,

سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كُنْتُ رَجُلًا إِذَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا نَفَعَنِي اللَّهُ مِنْهُ بِمَا شَاءَ أَنْ يَنْفَعَنِي وَإِذَا حَدَّثَنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِهِ اسْتَحْلَفْتُهُ فَإِذَا حَلَفَ لِي صَدَّقْتُهُ قَالَ وَحَدَّثَنِي أَبُو بَكْرٍ وَصَدَقَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ثُمَّ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ { وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ } إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

aku mendengar Ali radliallahu ‘anhu berkata; aku adalah seorang laki-laki yang apabila mendengar dari Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam sebuah hadits maka Allah memberiku manfaat dari haditsnya sesuai dengan kehendakNya. Dan apabila ada seseorang diantara para sahabatnya menceritakan kepadaku maka aku memintanya agar bersumpah, apabila ia bersumpah maka aku membenarkannya. Ali berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Bakr dan Abu Bakr radliallahu ‘anhu telah benar bahwa ia berkata; aku mendengar Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba melakukan dosa kemudian ia bersuci dengan baik, kemudian berdiri untuk melakukan shalat dua raka’at kemudian meminta ampun kepada Allah, kecuali Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (H.R. Abu Dawud) [22]

Bukanlah Seorang Pendosa Jika Ia Beristighfar

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَصَرَّ مَنْ اسْتَغْفَرَ وَإِنْ عَادَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةٍ

dari Abu Bakr radliallahu ‘anhu ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa’alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah disebut pendosa, yaitu orang yang meminta ampunan walaupun ia kembali melakukan dosa dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali.” (H.R. Abu Dawud) [23]

Meminta Ampunlah Sebelum Habis Nafas

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai ke tenggorokan.” (H.R. Tirmizi) [24]

Memintakan Ampun untuk Orang yang Baru Dimakamkan

Diriwayatkan,

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ

Dari Utsman bin ‘Affan, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” (H.R. Abu Dawud) [25]

Nasehat kepada Para Wanita untuk Beristighfar

Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتْ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِي لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ قَالَ أَمَّا نُقْصَانِ الْعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ الْعَقْلِ وَتَمْكُثُ اللَّيَالِيَ مَا تُصَلِّي وَتُفْطِرُ فِي رَمَضَانَ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ الدِّينِ

Dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Wahai para wanita, perbanyaklah sedekah dan istighfar, sungguh saya melihat kebanyakan kalian adalah penghuni neraka.” Lalu seorang wanita berbadan gemuk dari mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa kami yang paling banyak masuk ke dalam neraka?” Beliau menjawab: “Kalian banyak melaknat dan mengkhianati perlakuan suami, saya tidak pernah melihat makhluk berakal yang akal dan agamanya kurang selain kalian.” Wanita tersebut kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang di maksud dengan kekurangan akal dan agama?” beliau menjawab: “Adapun akalnya kurang disebabkan karena kesaksian dua orang wanita sama dengan kesaksian seorang laki-laki, ini termasuk dari kekurangan akal. Kalian berdiam beberapa hati tidak shalat dan berbuka di bulan Ramadan adalah bukti kurangnya agama kalian.” (H.R. Ibnu Majah) [26]

Beberapa Bacaan Istighfar

Dalam kehidupan Yang Mulia Rasulullah saw banyak sekali riwayat-riwayat yang menyebutkan kalimat-kalimat Istighfar. Akan tetapi kami kutipkan beberapa diantaranya saja.

Bacaan Pertama

Setelah Shalat hendaknya membaca istigfar. Diriwayatkan,

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ 'أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ'

dari Tsauban dia berkata; “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai shalat, beliau akan beristighfar (meminta ampunan) tiga kali dan memanjatkan doa allaahumma antas salaam waminkas salaam tabaarakta dzal jalaalil wal ikroom (Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Maha Besar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan.” Kata Walid; maka kukatakan kepada Auza’i “Lalu bagaimana bila hendak meminta ampunan?” Jawabnya; ‘Engkau ucapkan saja ‘Astaghfirullah, Astaghfirullah’.” (H.R. Muslim) [27]

Bacaan Kedua

Rasulullah saw membaca istigfar ketika ruku’ dan sujud. Diriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ _'سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ_' قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَاكَ تُكْثِرُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَقَالَ خَبَّرَنِي رَبِّي أَنِّي سَأَرَى عَلَامَةً فِي أُمَّتِي فَإِذَا رَأَيْتُهَا أَكْثَرْتُ مِنْ قَوْلِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فَقَدْ رَأَيْتُهَا { إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ } فَتْحُ مَكَّةَ { وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا }

dari Aisyah ra dia berkata, “Dahulu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam memperbanyak pertakataan, subhaanallooh wabihamdihi astaghfirullah wa atuubu ilaihi Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, saya memohon ampunan kepada Allah dan saya bertaubat kepadaNya’.” Aisyah berkata, “Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya melihatmu memperbanyak perkataan, subhaanallooh ‘Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepadaNya’. Maka beliau menjawab, ‘Rabbku telah mengabarkan kepadaku bahwa aku akan melihat suatu tanda pada umatku, ketika aku melihatnya maka aku memperbanyak membaca, ‘Mahasuci Allah dan dengan memujiNya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepadaNya’, maka sungguh aku telah melihatnya, yaitu (ketika pertolongan Allah datang dan pembukaanNya) yaitu pembukaan (fath) Makkah, dan dan kamu telah melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, lalu bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan memohon ampunlah, sesungguhnya Dia Maha Pemberi taubat’.” (H.R. Muslim) [28]

Bacaan Ketiga

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ يَقُولُ _'رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ_' مِائَةَ مَرَّةٍ

Dari Ibnu Umar dia berkata; “Apabila kami menghitung ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam suatu majlis: “‘Rabbighfirli watub ‘alayya innaka anta tawwabur rahim’ (Ya Rabbku ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkaulah Maha penerima taubat dan maha penyayang” beliau mengucapkannya sebanyak seratus kali.” (H.R. Ibnu Majah)

Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Adab, Bab Istighfar

Bacaan Keempat

Diriwayatkan,

سَمِعْتُ بِلَالَ بْنَ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ مَوْلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُنِيهِ عَنْ جَدِّي أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ _'أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ_' غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ

saya mendengar Bilal bin Yasar bin Zaid mantan budak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata; aku mendengar ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku bahwa ia mendengar Rasulullah shallla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mengucapkan; ‘astaghfirullaahal ladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaih’ (aku memohon ampun kepada Allah Dzat yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, yang Maha Hidup dan Yang terus mengurus makhluk-Nya, dan aku bertaubat kepadaNya), maka dia pasti akan diampuni walaupun dia pernah lari dari medan pertempuran.” (H.R. Abu Dawud) [29]

Bacaan Kelima

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ _'رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ_'

dari Ibnu Umar, ia berkata; sungguh Kami telah menghitung ucapan Rasulullah shallla Allahu ‘alaihi wa sallam dalam satu majlis beliau “‘rabbighfirlii wa tub ‘alayya, innakat tawwaabur rahiim’” (Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang) sebanyak seratus kali. (H.R. Abu Dawud) [30]

Bacaan Keenam

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي بَكْرٍ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ _'اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَبِيرًا_' وَقَالَ قُتَيْبَةُ كَثِيرًا _'وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ_' _'فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ_'

dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radliallahu ‘anhu bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Ajari aku suatu doa yang dapat aku panjatkan dalam shalatku.” Beliau Shallallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ucapkanlah, ‘allahumma innii zholamtu nafsii zhulman kabiiroo (aw katsiiroo) wa laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta faghfir lii maghfirotam min ‘indika warhamnii innaka antal ghofuurur-rohiim’ (Ya Allah, aku telah berbuat aniaya kepada diriku sendiri dengan aniaya yang besar, -Qutaibah berkata; yang banyak-, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau, ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, serta kasihinilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (H.R. Muslim) [31]

Bacaan Ketujuh

Diriwayatkan,

حَدَّثَنِي شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ _'اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ_' قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنْ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

telah menceritakan kepadaku Syaddad bin Aus radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah; kamu mengucapkan: _allahumma anta rabbi laa ilaaha illa anta khalaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatha’tu a’uudzu bika min syarri maa shana’tu abuu’u laka bidzanbi wa abuu’u laka bini’matika ‘alayya faghfirli fa innahu laa yaghfiru adz dzunuuba illa anta__’ (Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui dosaku kepada-Mu dan aku akui nikmat-Mu kepadaku, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain-Mu) ‘.” Beliau bersabda: ‘Jika ia mengucapkan di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk dari penghuni surga. Dan jika ia membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk dari penghuni surga.’ (H.R. Bukhari) [32]

Sabda-Sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tentang Istighfar

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

Setelah menciptakan manusia, Tuhan tidak lalu melepaskan diri darinya. Sebagaimana Dia itu Pencipta manusia dan segala fitrat jasmani dan ruhani yang ada pada diri manusia, Dia juga bersifat Dzat yang Tegak Dengan Sendiri-Nya (Al-Qoyyum) dengan pengertian bahwa Dia akan memelihara dan membantu segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya. Karena itu perlu selalu diingat oleh manusia bahwa mengingat ia telah diciptakan Tuhan maka ia harus menjaga karakteristik dirinya melalui fitrat Tuhan sebagai Sang Maha Pemelihara.

Dengan demikian adalah suatu kebutuhan alamiah bahwa manusia diperintahkan untuk selalu beristighfar sebagaimana tersirat dalam ayat:

اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ

“Allah, tiada yang patut disembah selain Dia, yang Maha Hidup, yang Tegak atas Dzat-Nya Sendir.” (QS. 2, Al-Baqarah: 256).

Ketika manusia sudah diciptakan maka fungsi penciptaan telah selesai tetapi fungsi pemeliharaan terus berlanjut selamanya dan karena itu istighfar selalu diperlukan sepanjang waktu. Setiap fitrat Ilahi memiliki suatu rahmat dan istighfar dibutuhkan guna memperoleh rahmat dari fitrat Tegak atas Dzat-Nya Sendiri (Al-Qoyyum). Hal yang sama juga diindikasikan dalam Surat Al-Fatihah:

اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿۵﴾

“Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.” (QS. 1, Al-Fatihah: 5)

yakni, dengan memohonkan pertolongan berdasar fitrat-Nya sebagai Yang Maha Pemelihara (Rabb) dan Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri agar kami ini dipeliharakan dari kejatuhan dan kelemahan kami jangan menjadi nyata terlihat karena akan mengakibatkan kami kurang dalam menyembah- Engkau.

Dengan demikian jelas bahwa makna hakiki dari istighfar adalah bukan karena telah terjadi suatu kesalahan, tetapi agar jangan sampai terjadi kesalahan apa pun. Manusia yang menyadari kelemahan dirinya secara alamiah berusaha memperoleh kekuatan dari Tuhan layaknya seperti seorang anak mencari susu ibunya. Sebagaimana Allah Yang Maha Kuasa sejak awal sudah mengaruniakan lidah, mata, hati, telinga dan lain-lain, Dia juga telah membekali diri manusia dengan hasrat untuk ber-_istighfar_ serta perasaan ketergantungan kepada Tuhan untuk bantuan pertolongan. Hal ini diindikasikan dalam ayat:

...وَ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ؕ...

“Mohonlah ampunan untuk kelemahan-kelemahan insani engkau dan juga untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad [47]: 20).

Maksud dari ayat ini adalah perintah bagi Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memohonkan supaya fitrat beliau dipeliharakan dari kelemahan- kelemahan yang bersifat insani dan fitrat tersebut agar diperkuat supaya kelemahan beliau tidak menjadi tampak. Beliau juga diperintahkan untuk berdoa sebagai syafaat bagi manusia laki-laki dan perempuan yang beriman kepada beliau sehingga mereka itu terpelihara dari hukuman atas segala kesalahan yang telah mereka lakukan disamping memelihara mereka terhadap laku dosa dalam sisa umur mereka selanjutnya.

Ayat ini mengandung filosofi yang amat luhur tentang syafaat dan pemeliharaan terhadap dosa. Ayat ini mengindikasikan bahwa manusia sebenarnya bisa mencapai derajat perlindungan yang tinggi terhadap dosa dan memperoleh syafaat jika beliau (Hadhrat Rasulullah Saw) secara terus menerus berdoa bagi penekanan terhadap kelemahan dirinya sendiri dan menyelamatkan umat lainnya dari racun dosa. Beliau memperoleh kekuatan dari Tuhan berkat doa beliau dan berhasrat agar mereka yang terkait dengan wujud beliau karena tali keimanan, juga mendapatkan manfaat dari kekuatan Ilahi tersebut.

Seorang yang tidak punya dosa tetap saja perlu berdoa kepada Allah Swt agar mendapat kekuatan mengingat fitrat manusia sendiri tidak ada memiliki keunggulan tersebut dan selalu bergantung kepada-Nya, tidak mempunyai kekuatan sendiri karena bergantung pada bantuan kekuatan dari Tuhan serta tidak ada padanya nur sendiri yang sempurna melainkan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya.

Fitrat yang sempurna dibekali dengan daya tarik yang mampu menarik kekuatan dari atas kepada dirinya yang berasal dari khazanah kekuatan yang ada pada Tuhan. Para malaikat memperoleh kekuatan dari khazanah tersebut sebagaimana juga para manusia sempurna yang mendapatkan kekuatan agar bebas dosa serta mendapatkan rahmat dari sumber tadi melalui saluran penghambaan kepada Ilahi. Karena itu dari antara manusia, ia dianggap suci dari dosa secara sempurna bila mampu menarik ke dalam dirinya kekuatan Ilahi melalui istighfar serta terus menyibukkan dirinya dengan berdoa memohon agar nur tetap turun kepadanya. [33]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

Istighfar dan Tobat adalah dua hal yang terpisah. Dari satu sudut pandang, istighfar didahulukan sebelum pertobatan karena istighfar merupakan permohonan bantuan dan kekuatan dari Allah sedangkan Tobat berarti berdiri di atas kakinya sendiri.

Sudah menjadi Sunatullah, ketika seorang manusia memohon bantuan kepada-Nya, Dia akan menganugerahkan kekuatan dan dengan kekuatan itu si pemohon akan mampu berdiri di atas kakinya sendiri guna melakukan suatu hal yang baik yang disebut sebagai “berpaling kepada Tuhan.” Keadaan ini merupakan akibat alamiah dari istighfar. Dianjurkan kepada para pencari agar mereka memohonkan kekuatan kepada Allah dalam segala keadaan. Sebelum ia mendapatkan kekuatan dari Tuhan-nya, seorang pencari tidak akan bisa melakukan apa pun.

Kekuatan melakukan pertobatan didapat setelah istighfar. Tanpa adanya istighfar maka fitrat pertobatan tidak berfungsi. Jika kalian mengikuti istighfar dengan pertobatan, maka hasilnya akan sebagaimana dinyatakan dalam ayat:

...یُمَتِّعۡکُمۡ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی...

“Dia akan menganugerahkan barang-barang perbekalan yang baik sampai saat yang ditentukan.” (QS. 11, Hud: 4).

Demikian itulah cara Ilahi dimana mereka yang melakukan pertobatan setelah istighfar akan memperoleh keluhuran derajat yang mereka dambakan. Setiap indera mempunyai keterbatasan dalam mencapai keluhuran derajat karena tidak setiap orang bisa menjadi Nabi, Rasul, Siddiq atau pun Syahid. (Malfuzat, vol. II, hal. 68-69). [33]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

Allah Ta’ala berfirman,

وَّ اَنِ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ

“Supaya kamu minta ampunan kepada Tuhan-mu, kemudian kembalilah kepada-Nya.” (QS. 11, Hud: 4).

Ingatlah bahwa umat Islam telah dikaruniai dengan dua hal yaitu, pertama adalah cara memperoleh kekuatan, dan yang kedua ialah penampakan kekuatan yang telah diperoleh tersebut. Istighfar merupakan cara untuk mendapatkan kekuatan, atau dengan kata lain mencari bantuan. Para kaum Sufi menyatakan bahwa sebagaimana kekuatan jasmani dapat ditingkatkan melalui olah jasmani, begitu pula istighfar sebagai suatu olah rohani. Cara demikian itulah yang harus dilakukan jika jiwa ingin mendapatkan kekuatan dan hati memperoleh keteguhan. Mereka yang menginginkan kekuatan, harus selalu beristighfar. (Malfuzat, vol. II, hal. 67).[33]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

Pintu gerbang rahmat dan kasih Ilahi tidak pernah ditutup. Siapa pun yang berpaling kepada-Nya dengan hati yang tulus dan lurus, maka Dia bersifat Maha Pengampun dan Maha Penyayang serta menerima pertobatan. Adalah suatu kedurhakaan mempertanyakan berapa banyaknya pendosa yang akan diampuni Allah Swt. Khazanah rahmat-Nya tidak mengenal batas. Dia tidak berkekurangan apa pun dan gerbang- gerbang menuju kepada-Nya tidak dihalangi. Barangsiapa yang tiba di hadirat-Nya akan mencapai derajat tinggi. Semua itu merupakan janji yang hakiki. Seseorang yang berputus-asa akan Tuhan Yang Maha Kuasa dimana maut di akhir hayatnya tiba dalam keadaan ia sedang tidak menyadari, adalah orang yang amat sial karena ia akan menemukan pintu rahmat dalam keadaan terhalang oleh dirinya sendiri. (Malfuzat, vol. III, hal. 296-297). [33]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

Ada orang-orang yang memang menyadari apa yang namanya dosa, tetapi juga ada orang yang tidak mengenal apakah itu. Karena itulah Allah Swt telah mengajarkan istighfar dalam segala situasi agar manusia menyibukkan dirinya dengan beristighfar guna memelihara dirinya dari segala dosa, baik yang bersifat internal atau pun eksternal, apakah disadari atau pun tidak. Sepatutnya setiap manusia selalu memintakan ampun untuk segala macam dosa, baik yang dilakukan tangan, kaki, lidah, hidung, telinga atau pun mata. Kita ini sebaiknya berdoa sebagaimana doa Adam as yaitu:

رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ اَنۡفُسَنَا ٜ وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ

“Wahai Tuhan kami, kami telah berlaku aniaya terhadap diri kami dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihani kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang merugi.” (QS. 7, Al-Araf: 24).

Doa ini telah dikabulkan. Janganlah hidup tanpa kesadaran. Mereka yang selalu sadar akan diselamatkan dari musibah yang berada di luar kemampuan dirinya memikul. Tidak akan ada kesialan menimpanya tanpa perintah Tuhan. Karena itulah aku telah diajari sebuah doa melalui sebuah wahyu:

Robbi kullu syai’in khoodimuka, robbi fahfadznii, wanshurnii, warhamnii

“Ya Tuhan-ku, segalanya adalah khadim dan tunduk kepada-Mu, karena itu ya Tuhan-ku jagalah aku, tolonglah aku dan kasihanilah aku.” (Malfuzat, vol. IV, hal. 275-276). [33]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

Ketidak-acuhan sering muncul karena sebab-sebab yang tidak diketahui. Terkadang tanpa disadari seseorang, hatinya tiba-tiba dipenuhi karat dan kegelapan. Karena itulah perlu selalu beristighfar. Dengan cara itu bisa dihindari kalbunya dijangkiti noda karat dan kegelapan.

Umat Kristiani beranggapan bahwa istighfar menunjukkan si pelakunya telah melakukan suatu dosa. Padahal hakikat daripada istighfar adalah sebagai penjagaan agar manusia tidak melakukan dosa. Bila istighfar bermakna sebagai permohonan ampun atas dosa yang telah dilakukan, lalu istilah apa yang akan digunakan untuk menekan kecenderungan dosa di masa depan?

Semua Nabi-nabi memerlukan istighfar. Tambah rajin seseorang ber istighfar akan menjadi tambah suci kalbunya. Makna hakiki daripada istighfar adalah Tuhan telah menyelamatkan dirinya. Menyebut seseorang suci mengandung arti bahwa yang bersangkutan telah diampuni. (Malfuzat, vol. IV, hal. 255). [33]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

Karena itu bangkitlah dan bertobat serta menangkan keridhaan Ilahi melalui amal saleh. Ingatlah bahwa hukuman bagi keimanan yang keliru akan diterima di akhirat. Apakah seseorang itu Hindu, Kristen atau pun Muslim akan ditentukan di Hari Penghisaban nanti. Namun orang- orang yang melampaui batas dalam melakukan pelanggaran, kedurhakaan dan kekejian, akan menerima hukumannya di dunia ini juga. Orang-orang seperti itu tidak akan mungkin lolos dari hukuman Tuhan.

Dengan demikian bergegaslah kalian mencari keridhoan Ilahi dan buatlah perdamaian dengan Tuhan-mu sebelum datang hari yang mengerikan yang telah diwartakan oleh para Nabi. Dia itu sesungguhnya Maha Pemurah. Berdasarkan satu saat saja pertobatan yang melumatkan hati, Dia bisa mengampuni dosa-dosa sepanjang rentang waktu lebih dari tujuhpuluh tahun. Jangan pernah mengatakan bahwa pertobatan tidak akan diterima. Ingatlah bahwa kalian bukan diselamatkan oleh apa yang kalian lakukan. Adalah rahmat Ilahi yang menyelamatkan kalian dan bukan hasil perbuatan kalian sendiri. “Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, karuniakan kepada kami rahmat-Mu. Kami ini adalah hamba- Mu semata dan kami bersujud di hadirat-Mu. Amin.” (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 174, London, 1984). [33]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda:

“Ini merupakan kehendak Allah bahwa barangsiapa yang bertaubah, berdoa dan beristighfar atau memberikan sedekah dan berinfak maka musibah akan ditahan (ditangguhkan)”. [34]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda:

“Jika bala musibah sudah tengah datang maka tidak dapat disingkirkan. Maka dari itu, ada keharusan bagi seseorang untuk terus berdoa dan banyak-banyak beristighfar sebelum datangnya musibah dan penyingkirannya. Dengan demikian, Allah Ta’ala melindunginya saat terjadi bala musibah.” [35]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Dosa merupakan seekor ulat yang menyatu (bercampur) dengan darah manusia, dan obatnya hanya dapat dengan istighfar. Apa istighfar itu? Istighfar itu adalah supaya Allah melindungi manusia dari pengaruhpengaruh buruk dosa yang pernah dilakukan manusia; dan manusia diselamatkan dari dosa yang belum keluar dan masih dalam potensi manusia [untuk melakukannya], itu jangan tiba saat kedatangannya”. Yakni kendati potensi [untuk berbuat dosa] itu ada dalam diri manusia sekalipun, jangan pernah manusia melakukannya, karena itu manusia hendaknya melakukan istighfar, “Dan dosa itu dari dalam terbakar dengan sendirinya menjadi abu”. Yakni supaya akibat istighfar itu disitulah [potensi dosa] menjadi habis.

“Saat ini adalah merupakan waktu untuk merasa takut. Oleh karena itu sibukkanlah diri dalam taubah dan istighfar dan senantiasa sibuk dalam mengintrospeksi diri. Setiap penganut agama-agama dan mazhab, dan setiap penganut ahli kitab mengimani bahwa dengan sedekah dan infak azab dapat tertangguhkan kedatangannya. Tetapi manakala setelah azab itu turun kemudian baru bertaubah maka itu tidak akan terhindarkan” – Terkait dengan kondisi dunia kitapun juga hendaknya berdoa dan harus beristighfar. Semoga Allah melindungi segenap orang Ahmadi – “Jadi kalian mulailah kini beristighfar dan bertaubah dari sejak sekarang, dan sibukanlah diri dalam bertaubah supaya jangan sampai giliran kalian. semoga Allah senantiasa melindungi kalian”. (Malfuzhat jilid 3:218 Edisi Baru).[34]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Cahaya yang dianugerahkan kepada seseorang itu bersifat sementara.” (cahaya keagamaan atau cahaya keruhanian yang diperoleh oleh seseorang itu terbatas waktunya. Ia sementara saja.) “Istighfar diperlukan demi menjaga dan mempertahankan cahaya itu selamanya. Penyebab para Nabi senantiasa beristighfar ialah mereka selalu memahami hal-hal ini dan takut bila selimut nur yang dianugerahkan kepada mereka diambil (dicabut).

“Makna istighfar adalah seseorang menjaga keberadaan cahaya yang telah ia peroleh dari Allah Ta’ala, bahkan memperoleh lagi tambahan cahaya. Wasilah-wasilah (saranasarana) mencapai itu ialah shalat lima waktu, (shalat lima waktu termasuk juga sarana untuk meraih maghfirat dan nuur [cahaya] karena seseorang dalam shalatnya juga beristighfar dan bertaubat. Ia meminta dimaafkan. Ia memohon ampun kepada Allah Ta’ala.) “…supaya orang yang shalat meminta cahaya itu dari Allah setiap hari sembari membukakan hatinya di hadapan-Nya. Siapa yang mempunyai bashirah akan paham bahwa shalat ialah mi’raaj. Shalat ialah doa yang penuh tadharru’ dan ibtihaal yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit.” (Malfuzhat jilid 7, h. 124-125, edisi 1985, terbitan UK.) [35]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Makna istighfar ialah supaya seseorang tidak melakukan sesuatu yang jelas-jelas dosa dan supaya kekuatan dosa tidak tampak.” (artinya, kesempatan dan kekuatan yang memungkinkan seseorang melakukan dosa tidak muncul.) [35]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Kalimat ‘al-Hayyu’ menuntut ibadah karena Dia-lah Pencipta segala sesuatu dan setelah penciptaan, tidak pernah Dia tinggalkan. Contohnya, bila seorang pembangun membangun sebuah bangunan, lalu si pembangun meninggal, akan rusaklah sebagian dari bangunannya. (Jiwa pembuat bangunan meninggal, akan ada kerusakan pada bangunannya sedikit demi sedikit dan juga ada perubahan disebabkan kematiannya.) Namun, manusia senantiasa memerlukan Allah Ta’ala. Maka dari itu, secara terus-menerus mintalah kekuatan dan pertolongan kepada Allah Ta’ala. Dan inilah istighfar yang sebenarnya.” (Al-Hakam, 17-03-1902, Malfuzhat jilid 3, h. 217, edisi 1985, terbitan UK.) [35]

Kisah-kisah tentang Istighfar

Kisah Rasulullah saw Dilarang Menshalati Orang Munafik

Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا تُوُفِّيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُبَيٍّ جَاءَ ابْنُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ أَنْ يُعْطِيَهُ قَمِيصَهُ يُكَفِّنُ فِيهِ أَبَاهُ فَأَعْطَاهُ ثُمَّ سَأَلَهُ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُصَلِّيَ عَلَيْهِ فَقَامَ عُمَرُ فَأَخَذَ بِثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تُصَلِّي عَلَيْهِ وَقَدْ نَهَاكَ رَبُّكَ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا خَيَّرَنِي اللَّهُ فَقَالَ { اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً } وَسَأَزِيدُهُ عَلَى السَّبْعِينَ قَالَ إِنَّهُ مُنَافِقٌ قَالَ فَصَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ }

…dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma dia berkata; “Ketika Abdullah bin Ubay meninggal dunia. anak laki-lakinya -yaitu Abdulah bin Abdullah- datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya memohon kepada beIiau agar sudi memberikan baju beliau kepada Abdullah untuk kain kafan ayahnya, Abdullah bin Ubay bin Salul. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bajunya kepada Abdullah. setelah itu, Abdullah juga memohon Rasulullah agar beliau berkenan menshalati jenazah ayahnya. Kemudian Rasulullah pun bersiap-siap untuk menshalati jenazah Abdullah bin Ubay, hingga akhirnya Umar berdiri dan menarik baju Rasulullah seraya berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau akan menshalati jenazah Abdullah bin Ubay sedangkan Allah telah melarang untuk menshalatinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan pilihan kepadaku.” Lalu beliau membacakan ayat yang berbunyi; “Kamu memohonkan ampun bagi orang-orang munafik atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka, maka hal itu adalah sama saja. sekalipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali (Qs. At-Taubah 9: 80). Oleh karena itu, aku akan menambah istighfar lebih dari tujuh puluh kali untuknya.” Umar bin Khaththab berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Ia adalah orang munafik?.” Tetapi, rupanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap saja menshalatinya, hingga Allah menurunkan ayat Al Qur’an: “Janganlah kamu sekali-kali menshalati jenazah seorang di antara orang-orang munafik dan janganlah kamu berdiri di atas kuburnya.” (Qs. At-Taubah 9: 84). (H.R. Bukhari) [36]

Kisah Imam Ahmad bin Hanbal dan Penjual Roti

Kisah berawal dari keinginan Imam Hambali untuk pergi ke Basrah. Beliau tidak tahu sama sekali mengapa beliau ingin sekali pergi ke Bashrah, salah satu kota di Irak, padahal saat itu beliau tidak punya janji dengan seseorang dan tidak ada keperluan yang jelas. Imam Ahmad memutuskan pergi seorang diri menuju ke kota Bashrah.

Imam Ahmad bercerita bahwa beliau tiba di Basrah bertepatan masuk waktu Isya. Beliau ikut shalat berjamaah isya di masjid. Setelah hati beliau merasa tenang, beliau ingin beristirahat. Begitu selesai shalat dan jamaah bubar, sambil melepas lelah dan karena sudah larut malam, beliau ingin tidur di dalam masjid. Tiba-tiba marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya “kenapa pak tua, ada keperluan apa di sini?”

Marbot tersebut tidak mengetahui kalau beliau adalah Imam Ahmad. Karena sangat tawadhu, Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya. Padahal di Irak ketika itu, siapa orang yang tak kenal dengan imam Ahmad, seorang ulama besar, ahli hadits, sangat shalih dan zuhud. Kala itu belum ada foto sehingga orang tidak tahu wajah beliau, hanya namanya sudah terkenal.

Imam Ahmad menjawab kepada marbot tersebut, “Saya hanya ingin istirahat, saya seorang musafir.”

Marbot pun tetap melarang, bahkan lebih keras lagi, “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid!“.

Imam Ahmad bercerita bahhwa beliau didorong-dorong oleh marbot itu dan dipaksa keluar dari masjid. Setelah berada di luar masjid, pintu masjid pun dikunci. Beliau memutuskan untuk tidur di teras masjid. Ketika beliau berbaring di sana, Marbot tersebut kembali menghampiri beliau sambil marah-marah. “Mau apa lagi di sini pak tua?” Kata marbot. “Saya hanya mau tidur saja, saya musafir, saya tidak punya tempat untuk tidur” kata imam Ahmad.

Lalu marbot tersebut berkata, “Tidak boleh tidur di dalam masjid, di teras juga gak boleh.” Singkatnya, Imam Ahmad diusir dari area masjid. Imam Ahmad bercerita, “saya didorong-dorong hingga jalan”.

Tidak jauh dari sana, ada penjual roti yang malam-malam sedang sibuk membuat adonan. Pedagang tersebut melihat kejadian itu. Ketika imam Ahmad sudah keluar dari area masjid, penjual roti itu memanggil Imam Ahmad dari jauh, “Mari pak tua, anda boleh menginap di tempat saya. Saya punya tempat untuk istirahat, walaupun kecil”.

Penjual roti tersebut mempunyai perilaku khas, yakni membuat adonan roti, ia senantiasa melafalkan istighfar, “Astaghfirullah, Astaghfirullah, Astaghfirullah“. Tukang roti itu terus melafalkan istighfar ketika memberi garam, memecah telur, mencampur gandum dan lain-lain.

Ketika Imam Ahmad yang sudah ingin istirahat, mendengar lafaz istighfar yang terus diucapkan oleh tukang roti, beliau penasaran dan memutuskan untuk bertanya, “Sudah berapa lama anda lakukan hal seperti ini?”

Orang itu menjawab, “Sudah sangat lama, sejak saya mulai berjualan roti ini, kurang lebih selama 30 tahun“.

Imam Ahmad bertanya, “apa hasil dari perbuatanmu ini?”

Pedagang roti pun menjawab “Berkat istighfar ini tidak ada satupun keinginan yang saya minta melainkan dikabulkan Allah. Semua yang saya minta, Allah pun mewujudkan. Semua diijabah oleh Allah kecuali satu yang belum Allah beri.”

Imam Ahmad penasaran lantas bertanya, “Apa itu?”

Kata pedagang roti “Saya selalu berdoa memohon kepada Allah agar saya dipertemukan dengan Imam Ahmad bin Hanbal”.

Seketika itu juga imam Ahmad terkejut “Allahu Akbar! Allah telah mendatangkan saya jauh-jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalan, ternyata karena istighfarmu…”

Penjual roti itu pun takjub sekaligus kaget, seraya memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad. Ia pun langsung bersyukur dan memeluk Imam Ahmad saking bangga dan terharunya. [37]

Catatan Kaki

  1. kata yang tidak baku dalam KBBI 

  2. Kamus Almaany dalam kata istaghfaro 

  3. Kamus Almaany dalam kata ghofaro 

  4. Tafsir QS Al-Mumin [40] ayat 56, Tafsir No 2612. Alquran dengan Terjemah dan Tafsir terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Hlm. 1625 

  5. Review of Religions-Urdu, vol. I, hal. 187-190 

  6. Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Neratja Press, 2017, hlm. 223-226 tentang Pengertian Istighfar  2

  7. Janji Bai’at Di dalam Jemaat Ahmadiyah Disusun oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani, Masih Mau’ud dan Imam Mahdi a.s. 

  8. Kamus Almaany dari kata ashaar 

  9. Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Adab, Bab Istighfar 

  10. Hadits Shahih Muslim, Kitab Tabuat, Dosa menjadi lebur dengan istighfar 

  11. Hadits Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Do’a, Keutamaan taubat, istighfar, dan rahmat Allah kepada hamba-Nya 

  12. Hadits Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Do’a, Keutamaan taubat, istighfar, dan rahmat Allah kepada hamba-Nya 

  13. Hadits Shahih Muslim, Kitab Dzikir, doa, taubat dan istighfar, Bab Keutamaan majlis dzikir 

  14. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Doa, Istighfar nabi ShollAllahu ‘alaihi wa Salam sehari-semalam 

  15. Hadits Shahih Muslim, Kitab Dzikir, doa, taubat dan istighfar, Bab Sunahnya istighfar dan memperbanyaknya 

  16. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, Penjelasan tentang istighfar 

  17. Hadits Sunan An-Nasa’i, Kitab Shalat kusuf (Gerhana), Bab Perintah banyak istighfar ketika gerhana 

  18. Hadits Sunan An-Nasa’i, Kitab Sahwi (Lupa), Baba Istighfar setelah salam 

  19. Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Adab, Bab Istighfar 

  20. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, Bab Penjelasan tentang istighfar 

  21. Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Adab, Bab Istighfar 

  22. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, Penjelasan tentang istighfar 

  23. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, Bab Penjelasan tentang istighfar 

  24. Hadits Jami’ At-Tirmidzi, Kitab Do’a, Bab Keutamaan taubat, istighfar, dan rahmat Allah kepada hamba-Nya 

  25. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Jenazah, Bab Istighfar untuk mayit di sisi kuburnya saat akan berlalu 

  26. Hadits Sunan Ibnu Majah, Kitab Fitnah, Fitnah wanita 

  27. Hadits Shahih Muslim, Kitab Masjid dan tempat-tempat shalat, Bab Sunahnya dzikir setelah shalat 

  28. Hadits Shahih Muslim, Kitab Shalat, Bab Apa yang dibaca saat rukuk dan sujud 

  29. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, Bab Penjelasan tentang istighfar 

  30. Hadits Sunan Abu Dawud, Kitab Shalat, Bab Penjelasan tentang istighfar 

  31. Hadits Shahih Muslim, Kitab Dzikir, doa, taubat dan istighfar, Bab Sunahnya tidak mengeraskan suara dalam berdoa 

  32. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Doa, Bab Istighfar paling utama 

  33. Istigfar dan Tobat  2 3 4 5 6 7

  34. Khutbah Jumat Hadhrat Khalifatul Masih V Atba. Tanggal 26-11-2004 di Baitul-Futuh, Morden, London, Inggris  2

  35. Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 02 Februari 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)  2 3 4

  36. Hadits Shahih Al-Bukhari, Kitab Tafsir Al Quran, Bab Surat At Taubah ayat 80 

  37. Manaqib Imam Ahmad Bin Hambal oleh Abul Faraj Ibnu Al-Jauzi; dikutip dari https://sendal-uwais.com/kisah-imam-ahmad-bin-hanbal-dan-pedagang-roti/