Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Berbuka Puasa

Allah Ta’ala berfirman:

...ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّیَامَ اِلَی الَّیۡلِ...

Artinya “…Setelah itu sempurnakanlah puasa dari pagi sampai malam…”. (Al-Baqarah: 188)

Menurut ayat diatas, akhir pelaksanaan puasa itu adalah ketika malam. Di dalam Islam, malam itu diawali dengan terbenamnya matahari.

Rasulullah saw pernah memberikan contoh,

إِذَا رَأَيْتُمْ اللَّيْلَ قَدْ أَقْبَلَ مِنْ هَا هُنَا فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ قِبَلَ الْمَشْرِقِ

“Apabila kalian melihat malam telah datang dari sini, maka orang yang berpuasa telah berbuka.” Beliau menunjuk dengan jarinya ke arah timur. (H.R. Abu Dawud) [1]

Berikut ini keberkahan ketika menyegerakan berbuka puasa:

(1) Mendapat Kebaikan dari Allah Ta’ala

Dalam Hadits Sahih al-Bukhari diriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ عَجِّلُوا الْفِطْرَ فَإِنَّ الْيَهُودَ يُؤَخِّرُونَ

“Manusia akan tetap dalam kebaikan selama mereka bersegera dalam berbuka. Maka segerakanlah berbuka, sebab orang-orang Yahudi mengakhirkannya.” (H.R. Ibnu Majah) [2]

(2) Mendapat Cinta dari Allah Ta’ala

Berdasarkan Hadits Qudsi di dalam Jami’ at-Tirmidzi diriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) menyampaikan wahyu dari Allah Ta’ala,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَحَبُّ عِبَادِي إِلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا

Allah ‘azza wajalla berfirman: “Hambaku yang paling Aku sukai adalah dia yang selalu menyegerakan berbuka.” (HR. Tirmidzi) [3]

Menyegerakan Berbuka Puasa (Takjil)

Menyegerakan berbuka puasa disebut dengan takjil. [4] Namun jika takjil diasumsikan dengan makanan untuk berbuka puasa, sebenarnya hal itu tidak sesuai dengan arti takjil sendiri dalam bahasa arab.

Takjil merupakan kata masdar (kata benda) dari kata ‘ajjala (عَجَّلَ). [5] kata ‘ajjala berarti cepat-cepat, bergegas, mempercepat, mendesak, berlari, bersegera [6]

Berdoa Ketika Berbuka

Rasulullah (saw) mencontohkan berdoa ketika berbuka puasa. Doa tersebut adalah:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

allaahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu (Ya Allah, untukMu aku berpuasa, dan dengan rejeki-Mu aku berbuka). (H.R. Abu Dawud) [7]

Dalam riwayat yang lain,

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

dzahabazh zhamaa’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatil ajru in syaa-allaah (Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah tetap pahala insya Allah). (H.R. Abu Daud) [8]

Pahala Memberi Makanan untuk Orang yang Berbuka Puasa

Di bulan Ramadhan, ada anjuran untuk memberi makan orang lain yang berbuka puasa. Hal ini diriwayatkan dalam Hadits Jami’ at-Tirmidzi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun” (H.R. Tirmidzi) [9]

Catatan Kaki