Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Fidyah

Allah Ta’ala berfirman,

… وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ...

“…dan bagi orang-orang yang tidak sanggup berpuasa hendaklah membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin…” (QS Al-Baqarah [2]: 185)

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda tentang ayat di atas, maknanya ialah orang-orang yang tidak mempunyai kekuatan, artinya mereka yang tidak mampu berpuasa di bulan Ramadhan maka harus membayar fidyah. [1]

Salah seorang sahabat, yaitu Ibnu Abbas r.a. telah memberikan tafsir mengenai ayat ini:

عَنْ عَطَاءٍ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقْرَأُ وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فَلَا يُطِيقُونَهُ { فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ } قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لَا يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

Dari Atha dia mendengar Ibnu Abbas membaca ayat; “Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya maka wajib membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin,”, Ibnu Abbas berkata; Ayat ini tidak dimanshukh, namun ayat ini hanya untuk orang yang sudah sangat tua dan nenek tua, yang tidak mampu menjalankannya, maka hendaklah mereka memberi makan setiap hari kepada orang miskin.’ (H.R. Bukhari) [2]

diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ { وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ } يُطِيقُونَهُ يُكَلَّفُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ وَاحِدٍ { فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا } طَعَامُ مِسْكِينٍ آخَرَ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ { فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ } لَا يُرَخَّصُ فِي هَذَا إِلَّا لِلَّذِي لَا يُطِيقُ الصِّيَامَ أَوْ مَرِيضٍ لَا يُشْفَى

Dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah Azza wa Jalla: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (hendaklah) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” Berat menjalankannya artinya: dibebani membayar fidyah, memberi makan satu orang miskin. “Barangsiapa yang dengan kerelaan mengerjakan kebajikan.” Memberi makan seorang miskin yang lain, bukanlah ayat yang mansukh, “tapi itulah yang baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu” dalam hal ini tidak diberikan keringanan kecuali bagi orang yang tidak mampu berpuasa atau sakit yang tidak sembuh-sembuh.” (H.R. An-Nasai) [3]

Pengertian Fidyah

Fidyah dalam bahasa arab (فَدِيَة) berarti tebusan. Jika berkaitan dengan puasa, fidyah berarti memberikan makan kepada orang miskin sejumlah hari ia tidak berpuasa. Besaran fidyah adalah disesuaikan dengan jumlah waktu ia tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Allah Ta’ala berfirman bahwa mereka yang mampu, memiliki kelapangan harta, jika karena suatu sebab mereka tidak dapat berpuasa maka mereka harus memberi fidyah. Dan apakah fidyah itu? Itu adalah memberikan makan kepada fakir miskin yang sesuai dengan apa yang Saudara-saudara sendiri makan, sebab terdapat perintah untuk memperhatikan harga diri orang lain. [4]

Berikanlah dengan Makanan yang Baik

Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,

Oleh karena itu berilah makan (dengan) makanan yang baik, jangan sekali bahwa “saya berpuasa maka saya makan makanan yang bagus. Tetapi karena kalian orang yang berstatus rendah maka sebagai fidyah untuk kalian ini ada tersisa makanan yang mentah”. Tidak! Ini bukanlah kebajikan. Kebajikan Saudara-saudara baru akan terhitung sebagai kebajikan apabila Saudara-saudara demi untuk Tuhan tengah melakukan ini, bukan untuk menganggap bahwa Saudara-saudara tengah berbuat baik kepada orang miskin itu.

Jadi apabila Saudara-saudara memberikan fidyah demi untuk Tuhan maka bisa jadi Allah mengganti sakit yang saudara-saudara derita itu dengan kesehatan. Sebab, Dia berfirman bahwa “kalian berpuasa bagaimanapun juga adalah lebih baik bagi dirimu sendiri”. [4]

Membayar Fidyah dengan Uang

Hadhrat Masih Mau’ud as ditanya, “Jika orang tidak sanggup berpuasa, ia harus memberi makan orang miskin sebagai fidyah maka apakah diperbolehkan untuk mengirim sejumlah itu ke pos candah untuk para yatim di Qadian?”

Beliau as menjawab,

“Tidak masalah dalam hal itu. Jika ia memberi makan orang miskin di wilayahnya atau mengirimkan uang untuk pos para anak yatim dan miskin di tempat ini.” [5] [1]

Siapa yang Diperbolehkan membayar Fidyah

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam menjawab sebuah pertanyaan bersabda:

“Hanya fidyah ini bisa untuk orang tua sepuh atau bisa untuk orang-orang serupa itu yang sama sekali tidak pernah dapat mampu melakukan puasa…“ [6] [7]

Fidyah atas puasa Ramadhan menjadi keharusan bagi orang yang mampu (dalam segi harta) yang mana di masa yang akan datang tidak dapat mengqadha/mengganti puasa tersebut, seperti orang tua, orang yang lemah, orang yang sakit menahun, perempuan yang hamil dan sedang menyusui. [8]

Membayar Fidyah agar Mendapatkan Taufiq Allah Ta’ala

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

”Suatu ketika saya berpikir tentang perintah membayar Fidyah. Tahulah saya kemudian bahwa itu demi taufik untuk kesanggupan berpuasa. Tuhan adalah Pemberi taufik (kesempatan, kondisi dan kekuatan) atas segala hal. Maka dari itu, kita harus meminta segala sesuatu kepada-Nya saja. Dia adalah yang Maha Mutlak Yang memiliki Kekuatan untuk memberikan kekuatan pada orang yang lemah untuk berpuasa. Maka dari itu, maksud fidyah ialah untuk mendapatkan kekuatan itu yang mana adalah karunia dari Tuhan. Hal yang tepat menurut pandangan saya ialah orang yang luput berpuasa harus berdoa dengan amat sangat, ‘Wahai Tuhanku, Ini adalah Bulanmu yang penuh berkat, dan hamba merasa kehilangan berkat karena hamba tidak dapat berpuasa. Hamba tidak tahu apakah di masa mendapat hamba dapat berpuasa untuk puasa-puasa yang tertinggal atau tidak, apakah hamba akan masih hidup ataukah akan sudah mati…karuniakanlah hamba taufik untuk itu.’ Jika seseorang berdoa dengan tulus ikhlas seperti itu, saya yakin Allah akan memberkati hati yang demikian dengan kekuatan.” [9] [1]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

(Allah Ta’ala berfirman,)

… وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ...

“…dan bagi orang-orang yang tidak sanggup berpuasa hendaklah membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin…” (QS Al-Baqarah [2]: 185)

Suatu ketika timbul pertanyaan dalam fikiran saya bahwa untuk apa fidyah ini ditetapkan? Maka dapat dimaklumi bahwa itu adalah untuk mendapatkan taufik supaya dari itu dapat diraih taufik untuk berpuasa. Zat Allah sematalah yang menganugerahkan taufik dan seyogianya harus memohon segala sesuatunya hanya kepada Tuhan. Allah adalah Penguasa mutlak. Jika Dia menghendaki maka Dia dapat menganugerahkan taufik kepada seorang yang terkena penyakit paru-paru (sekali pun) untuk berpuasa.

Jadi, maksud fidyah adalah supaya meraih taufik untuk itu dan ini dapat diraih dengan karunia Allah. Karena itu menurut saya manusia harus benar-benar berdoa, ‘Ya Allah, ini merupakan bulan-Mu yang penuh berkat dan saya tengah luput dari itu. Mana dapat diketahui, apakah tahun depan saya akan hidup atau tidak, atau saya dapat melaksanakan puasa yang tertinggal itu atau tidak’. Dan andaikata dia memohon taufik kepada-Nya maka saya yakin Dia akan menganugerahkan kemampuan pada hati sanubari orang seperti itu”. [10] [7]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Bagi mereka yang terdapat rintangan-rintangan sementara dalam melakukan puasa andaikata dia memberikan fidyah maka karena keberkatan itu Allah dapat juga memberikan taufik. Dan berikanlah juga fidyah dan seiring dengan itu berdoa pulalah kepada-Nya”. [7]

Catatan Kaki