Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Pengenalan pada buku-buku Hadhrat Masih Mauud (as)

01 Brahin-i-Ahmadiyya

Jilid pertama dan kedua buku Brahin-i-Ahmadiyya diterbitkan dalam tahun 1880 Masehi. Jilid ketiga dalam tahun 1882 dan jilid keempat pada tahun 1884. Jilid kelima rupanya memang diatur di bawah kendali samawi, memerlukan waktu panjang untuk penerbitannya. Buku terakhir itu baru muncul ke dunia setelah tahun 1905.

Ketika buku ini mulai dikarang dan diterbitkan, saat itu pemerintahan Inggris telah kokoh berkuasa di anak benua India dan bersamanya agama Kristen ikut menyebar menancapkan kukunya dengan kekuatan dan kecepatan penuh. Statistik menunjukkan bahwa penganut Kristen di India dalam tahun 1851 baru berkisar 91.000 orang, sedangkan pada tahun 1881 telah melonjak menjadi 470.000 orang. Suatu kenaikan jumlah pengikut yang luar biasa dan tidak ada tandingannya.

Sasaran utama para misionaris Kristen adalah umat Muslim. Pengikut agama lainnya seperti Hindu juga tidak ketinggalan dalam penyerangannya terhadap umat Muslim. Contohnya antara lain seperti mereka yang berasal dari aliran Arya Samaj yang sangat memusuhi segala sesuatu yang berkaitan dengan agama Islam dan umat Muslim.

Dalam keadaan seperti itulah maka Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, yang kemudian mengemukakan dirinya sebagai Masih Maud dan Imam Mahdi, mengangkat pena guna membuktikan kepada dunia tentang kebenaran Islam dan keutamaan AlQuran. Alasan yang dikemukakan beliau tentang apa yang menjadi dasar penulisan buku Brahin-i-Ahmadiyya adalah:

Biar kiranya menjadi jelas bagi para pencari kebenaran tentang mengapa buku ini diberi judul Brahin-i-Ahmadiyya ala haqiqati kitabilla hil Qur’an wa nubuwwatil Mohammadiyya (bukti-bukti kebenaran Buku Allah - Al Qur’an dan kenabian Muhammad s.a.w.) ialah agar bukti-bukti kebenaran agama Islam, bukti-bukti keunggulan Al-Qur’an Suci dan bukti kebenaran kenabian Rasulullah s.a.w., Khataman Nabiyin, bisa diketahui oleh semua umat dengan sejelas-jelasnya. Adapun mereka yang tidak meyakini kitab suci itu dan rasul pilihan tersebut, kiranya dapat dibungkam dengan bukti-bukti intelektual yang sempurna sehingga mereka tidak lagi dapat membuka mulutnya dengan semena-mena.

Hazrat Ahmad a.s. menawarkan hadiah 10.000 rupee (pada saat itu nilainya sudah besar sekali) kepada siapa saja yang dapat memazulkan bukti-bukti yang diberikan tadi, atau bahkan bisa menyatakan seperlima saja dari bukti-bukti itu ada pada agama, buku suci atau nabinya sendiri. Beliau begitu bergairah ingin agar semua orang memahami hal ini sehingga tantangan tersebut dicetak dengan huruf-huruf yang begitu besar sehingga satu halaman hanya bisa memuat tujuh baris kalimat, dan kesemuanya itu disisipkan pada halaman 24 sampai 52 di buku tersebut.

Ketika para pengikut Kristen dan Hindu melihat buku pertama tersebut, mereka menjadi marah sekali dan mencarut-marut tetapi tanpa relevansi, hanya saja tak ada seorang pun yang berhasil menjawab tantangan beliau. Hazrat Ahmad a.s. kemudian menjelaskan kepada para pembacanya bahwa beliau sama sekali tidak bermaksud melukai hati orang. Apa yang ingin beliau lakukan dan kemukakan adalah membuktikan secara nalar bahwa Islam itu agama yang lebih baik dari semua agama yang ada. Beliau mengemukakan bahwa sudah bukan zamannya lagi menganggap dongeng-dongeng sebagai bukti dari suatu agama yang hidup dan jadi panutan.

Hazrat Ahmad a.s. mengemukakan enam titik pokok dari bukunya tersebut yaitu:

  1. Buku ini membahas semua bukti-bukti yang didasarkan pada dasar-dasar pengetahuan keagamaan; dan semua bukti itu jika dirangkum akan menggambarkan apa itu agama Islam.

  2. Buku ini merangkum 300 bukti-bukti kebenaran Islam yang bersifat kuat, konklusif dan meyakinkan.

  3. Buku ini menjawab tuduhan, cemoohan, keberatan dan pandangan miring dari para musuh Islam seperti kaum Yahudi, Kristen, Parsi, Arya, Brahmana, penyembah berhala, atheis, penganut naturalis (kebatinan) dan mereka yang tidak beragama.

  4. Buku tersebut membahas diskusi tentang dasar-dasar keimanan para pengikut agama lainnya.

  5. Buku itu mengemukakan penjelasan daripada rahasiarahasia perkataan Allah s.w.t. Kebijaksanaan dan keungggulan Al-Qur’an dijelaskan secara gamblang.

  6. Keseluruhan pembahasan diulas secara sempurna dan halus serta sejalan dengan aturan-aturan suatu diskusi. Semua hal disampaikan secara masuk akal sehingga memudahkan pemahaman.

Jilid ketiga buku membahas keadaan menyedihkan umat Muslim dimana Hazrat Ahmad a.s. sangat prihatin dengan kondisi umat seperti itu. Buku tersebut mengulas bukti-bukti internal dan eksternal tentang kebenaran dan keunggulan Al-Qur’an. Topik tersebut dibahas panjang lebar disertai banyak sekali catatan pinggir tentang detil tiap masalah.

Jilid keempat dimulai dengan daftar topik yang akan diulas dalam buku itu. Buku ini menyinggung bukti-bukti perlunya bimbingan wahyu Illahi dan menekankan bahwa kesempurnaan keimanan serta keberadaan Tuhan merupakan kunci bagi keselamatan dimana hal ini bisa dicapai melalui wahyu Illahi.

Buku tersebut juga mengemukakan kesempurnaan dan keunikan penafsiran Surat Al-Fatiha serta beberapa ayat Al-Qur’an lainnya; bahwa ajaran dalam buku Veda umat Hindu tidak mengenal makna Ke-Esaan Tuhan; bahwa tokoh Hindu yaitu Pandit Dayanand akan bungkam dan kabar ghaib tentang kematiannya yang sudah diumumkan pada banyak orang telah terjadi; risalah tentang perbandingan ajaran-ajaran dari Al-Qur’an dan kitab Perjanjian Baru; beberapa kabar ghaib yang telah diumumkan sebelumnya; mukjizat nabi Isa a.s. serta apa yang dimaksud dengan keselamatan haqiqi dan bagaimana cara mencapainya.

Di akhir buku jilid keempat, Hazrat Ahmad a.s. menambahkan catatan yang diberi judul “Kami dan Buku kami.” Di dalamnya beliau menyatakan bahwa ketika beliau memulai penulisan buku ini, keadaan lingkungan sudah berbeda dengan keadaan saat itu. Beliau menyatakan bahwa beliau mengalami kejadian manifestasi Tuhan seperti yang juga dialami oleh nabi Musa a.s. dimana beliau mendengar suara Tuhan yang mengatakan:

“Sesungguhnya Aku-lah Tuhanmu.”

dan sejak itu semua rahasia keagungan keimanan dibukakan kepada beliau, sesuatu yang diluar jangkauan akal dan kemampuan berfikir manusia. Beliau selanjutnya menyatakan bahwa beliau tidak lagi mengendalikan penulisan buku tersebut dan hanya Allah s.w.t. saja yang mengetahui akan menjadi apa bentuknya nanti.

Jilid kelima Brahin-i-Ahmadiyya dicetak 23 tahun kemudian setelah jilid keempat. Jilid kelima diawali dengan deskripsi tentang kebenaran dari suatu agama yang benar dan hidup serta menekankan bahwa suatu agama yang benar dan hidup harus memiliki manifestasi mukjizat kata dan tindakan dari Tuhan yang Maha Kuasa. Agama palsu dan yang tidak hidup dengan sendirinya tidak akan memiliki manifestasi seperti itu.

Hazrat Ahmad a.s. selanjutnya menjelaskan apa yang dimaksud dengan mukjizat dan mengapa mukjizat itu harus ada. Beliau menambahkan bahwa adanya mukjizat yang nyata merupakan tanda-tanda dari suatu agama yang hidup, dan bukan semata didasari oleh hikayat-hikayat lama saja.

Di bab kedua dari buku jilid kelima ini, Hazrat Ahmad a.s. mengemukakan pemenuhan perwujudan dari apa saja yang diulas dalam empat jilid sebelumnya dalam kurun waktu 25 tahun yang telah berlalu. Dalam kurun waktu itu banyak sekali kabar ghaib yang telah terpenuhi dan ratusan wahyu-wahyu telah disampaikan kepada semua umat dimana mereka menjadi saksi akan kebenaran dari hal yang dikemukakan. Beliau juga mengemukakan kepada para pembaca tentang semua bantuan yang diterimanya dari Allah s.w.t. berkenaan dengan semua masalah tersebut. Semua hal ini menurut beliau merupakan bukti kebenaran wujud suci nabi Muhammad s.a.w. dan bahwa hal tersebut juga menjadi bukti tentang kebenaran semua pengakuan beliau sebagai wujud yang mendapat penugasan dari Allah s.w.t. Di buku ini juga dibahas tentang wafatnya nabi Isa a.s. berdasarkan argumentasi beberapa ayat Al-Qur’an.

Pada jilid kelima itu terdapat suplemen yang panjang lebar mengenai penjelasan atas keberatan-keberatan yang dilontarkan orang, khususnya beberapa dari mereka seperti Muhammad Ikramullah dari Shahjahanpur, Maulvi Abu Said Mohammad Hussein, Sayid Muhammad Abdul Wahid dari Benggala dan Rashid Ahmad Gangohi.

Setelah suplemen tadi Hazrat Ahmad a.s. menulis kata penutup. Dalam kata penutup tadi beliau mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya dimaksud dengan Islam, bagaimana begitu sempurna dan unggulnya ajaran-ajaran yang diberikan Al-Qur’an, pemenuhan semua kabar ghaib sebagaimana janji Tuhan kepada beliau dalam keempat jilid sebelumnya, serta penjelasan tentang wahyu dimana beliau disebut sebagai Isa a.s.

Sebagai penutup buku Brahin-i-Ahmadiyya beliau mengemukakan pengakuan bahwa:

Aku harus menyampaikan disini bahwa aku diutus Allah s.w.t. pada saat yang sangat tepat. Sekarang ini adalah saat dimana sebagian besar manusia telah menjadi mirip Yahudi. Mereka tidak lagi murni hatinya dan telah meninggalkan ketakwaan kepada Tuhan dan sebagaimana juga umat Yahudi di zaman nabi Isa a.s., mereka memusuhi kebenaran. Sebagai imbalan atas hal itu, Allah s.w.t. telah memberi nama Al-Masih kepadaku. Bukan hanya aku yang menyeru manusia kepadaku, sesungguhnya abad ini juga telah menyeruku (yaitu kedatanganku adalah kebutuhan masa ini).

02 Purani Tahrirain

(Tulisan-tulisan lama)

Buku Purani Tahrirain (yang berarti tulisan-tulisan lama) memuat artikel dan korespondensi antara Hazrat Ahmad a.s. dengan beberapa tokoh Arya Samaj. Artikel tersebut ditulis tahun 1879 M. dan korespondensi yang berkaitan dengan artikel tadi terjadi tak lama setelah itu. Tulisan-tulisan itu dikumpulkan dan dicetak oleh salah seorang murid Hazrat Ahmad a.s. dalam tahun 1899. Artikel serta koresponden itu membahas tentang tiga hal yaitu:

  1. Kepalsuan teori perbandingan dan penyetaraan ajaran antara Al-Qur’an dan kitab Veda (kitab suci umat Hindu). Bukti-bukti logis yang didasarkan pada ajaran Al-Qur’an dan kenyataan bahwa Tuhan itu ada dan Dia adalah pencipta semua yang ada di alam ini.

  2. Kenyataan tentang wahyu, perlunya ada wahyu serta bukti-bukti bahwa wahyu memang ada.

  3. Kepalsuan kepercayaan Arya bahwa ruh bersifat abadi selamanya dan tidak diciptakan. Penjelasan tentang kenyataan bahwa Tuhan adalah pencipta ruh, sebagaimana Dia juga adalah pencipta semua yang ada.

Seorang anggota kelompok Arya Samaj yang bernama Pandit Kharhak Singh berangkat ke Qadian dan meminta Hazrat Ahmad a.s. untuk berdiskusi tentang beberapa masalah keagamaan. Diskusi memang terlaksana tetapi tidak terlalu berhasil karena Pandit Kharhak Singh tersebut tiba-tiba meninggalkan tempat. Setelah yang bersangkutan pergi, Hazrat Ahmad a.s. menyampaikan kepada tokoh-tokoh penting Arya Samaj artikel yang dibacakannya dalam pertemuan dengan Tuan Singh tadi. Beliau meminta jawaban dan menjanjikan 500 rupee jika bisa membantah artikel tersebut. Dari sana timbullah korespondensi. Ada dua surat dari Shiv Narain dan sebuah antaranya dari Bawa Narain Singh (surat ini tidak dilampirkan dalam buku kecil tersebut). Kesemua ini diterbitkan dalam majalah Aftab pada tanggal 18 Pebruari 1879. Semua surat-surat itu dijawab oleh Hazrat Ahmad a.s.

03 Surma Chashm Arya

Hazrat Ahmad a.s. suatu waktu berpergian ke Hoshiarpur berdasarkan petunjuk Allah s.w.t. Disini beliau menerima wahyu yang menubuwatkan kelahiran seorang putra yang memiliki banyak kelebihan. Setelah turunnya wahyu tersebut, ketika masih berada di kota Hoshiarpur, seorang tokoh Arya yaitu Lala Murli Dhar meminta waktu untuk berdiskusi dan permintaannya dikabulkan. Diskusi itu berlangsung tanggal 11 dan 14 Maret 1886. Lala Murli Dhar tidak mematuhi persyaratan diskusi yang telah ditetapkan sebelumnya dan akibatnya diskusi tidak dapat diselesaikan dan diputus sebagaimana mestinya. Hazrat Ahmad a.s. merasa perlu untuk menjelaskan kepada umat tentang apa yang ingin ditanyakan oleh Murli Dhar dan apa jawaban seharusnya.

Pokok perbincangan dalam buku ini adalah:

  1. Mukjizat nabi Muhammad s.a.w. tentang membelah bulan.

  2. Apakah keselamatan atau safaat itu bersifat abadi atau hanya untuk satu jangka waktu yang terbatas.

  3. Apakah ruh dan badan itu tidak diciptakan serta bersifat abadi atau memang keduanya diciptakan oleh Tuhan.

  4. Perbandingan Al-Qur’an dengan kitab Veda (kitab suci agama Hindu).

Buku tersebut juga berisi tantangan Mubahalah (mengadu kekuatan doa guna membuktikan kebenaran suatu doktrin keagamaan). Buku ditutup dengan tawaran hadiah sebesar 500 rupee bagi siapa saja yang bisa membantah bukti-bukti yang dikemukakan oleh Hazrat Ahmad a.s.

04 Shahna-i-Haq

(Rangkuman Kebenaran)

Buku yang diterbitkan pada tahun 1887 memiliki judul lain yaitu Aryon ki kisi qadr khidmat aur un ke vedon aur nukta chinion ke kucheh mahiyat (artinya penyuluhan singkat bagi kaum Arya dan haqiqat daripada kitab Veda serta kejanggalan-kejanggalan yang dimunculkan). Ketika buku Shurma Chashm Arya diterbitkan, kaum Arya terkejut, tetapi bukannya menanggapi dengan cara yang sopan, mereka menerbitkan sebuah buku yang berisi caci maki yang amat kotor. Mereka memberikan julukan nama-nama buruk kepada Hazrat Ahmad a.s. dan melontarkan cercaan busuk atas Al-Qur’an. Hazrat Ahmad a.s. membalas tindakan mereka dengan mengeluarkan buku Shahna-i-Haq itu. Beliau mengemukakan bahwa ancaman mereka untuk membunuhnya adalah tidak berarti apa-apa sama sekali. Beliau tidak merisaukan nyawanya sendiri dalam menyampaikan kebenaran agama Islam. Beliau juga menyatakan bahwa Lekh Ram dari Peshawar yang menjadi tokoh utama dalam memusuhi beliau serta sangat kasar dalam tanggapannya terhadap Islam dan Pendirinya (nabi Muhammad s.a.w.) adalah seorang yang tidak berpengetahuan dan berperasaan sama sekali.

Di akhir buku itu dicantumkan juga surat dari Alex R. Webb dari Amerika Serikat berikut jawaban dari Hazrat Ahmad a.s.

05 Sabz Ishtihar

(Selebaran Hijau)

Karangan ini diberi nama Sabz Ishtihar karena dicetak di atas kertas berwarna hijau, sedangkan judul asli sebenarnya berbunyi Haqqani taqreer bar waqia - wafat Bashir (artinya pidato penuh kebenaran mengenai meninggalnya Bashir).

Bashir sebagai putra pertama dilahirkan pada tanggal 7 Agustus 1887 dan meninggal tanggal 4 November 1888. Hazrat Ahmad a.s. sebelumnya menerbitkan beberapa selebaran yaitu pada tanggal 20 Pebruari 1886, 8 April 1886 dan tanggal 17 Agustus 1887. Selebaran-selebaran itu mengemukakan tentang akan lahirnya seorang putra yang memiliki banyak kelebihan. Ketika Bashir yang pertama kemudian meninggal, muncullah hujatan dan cemoohan musuh-musuh beliau yang menyatakan bahwa nubuwatan Hazrat Ahmad a.s. tentang kelahiran seorang putra istimewa ternyata bohong karena putra itu sudah meninggal.

Dalam risalahnya (yang diterbitkan di atas kertas berwarna hijau) beliau mengingatkan bahwa dalam selebaran-selebaran tersebut dikatakan akan datangnya dua orang putra. Seorang putra akan datang dan kemudian meninggalkan dunia dalam waktu yang tidak terlalu lama. Adapun putra berikutnya akan berumur panjang dan merupakan pemenuhan daripada nubuwatan tersebut.

Di akhir terbitan ini (yang dicetak pada awal Desember 1888), Hazrat Ahmad a.s. menambahkan catatan berjudul “Tabligh” dimana dikemukakan ajakan kepada umat untuk baiat di tangan beliau. Beliau menyatakan bahwa ia diperintahkan oleh Allah s.w.t. agar memerintahkan kepada mereka para pencari kebenaran supaya melakukan baiat guna kebaikan keimanan dan rahmat Allah s.w.t. bagi mereka sendiri, agar mereka dapat meninggalkan kekotoran, kemalasan dan kedegilan dari hidup mereka. Hazrat Ahmad a.s. menyeru umat untuk mengikuti beliau, bahwa beliau akan mengasihi mereka dan membantu mengurangi beban mereka. Beliau juga menyampaikan bahwa Allah s.w.t. akan membantu mereka melalui doa-doa yang beliau panjatkan asalkan mereka menyiapkan jiwa raganya untuk selalu bertindak sesuai tuntunan ilahi.

06 Fath-i-Islam

(Kemenangan Islam)

Dalam buku yang diterbitkan tahun 1891 ini Hazrat Ahmad a.s. mengungkapkan adanya upaya kaum Kristen untuk membawa umat Muslim ke dalam agama mereka. Beliau menyatakan bahwa kegelapan telah menyelimuti bumi dan kesemrawutan telah menjadi suatu yang niscaya. Perbuatan baik dicemoohkan orang banyak, sedangkan ke dalam benak umat disuntikkan pandangan-pandangan yang beracun.

Beliau mengungkapkan secara jelas ajaran-ajaran agama Kristen yang bisa menjadi ranjau yang akan meledak menghancurkan keimanan dan kebenaran, dan beliau menyatakan bahwa ia diutus Allah s.w.t. untuk mengatasi semua kejahatan itu. Beliau menghimbau umat Muslim agar kalau mereka merasa tidak perlu adanya beliau, sekurang-kurangnya harus ada seorang yang saleh guna menolong mereka dan dunia pada umumnya.

Beliau memaklumkan bahwa ia adalah wujud yang diutus untuk memperbaiki keadaan pada saat yang tepat, guna menghidupkan kembali agama Islam dan menanamkannya di kalbu umat. Beliau menyatakan bahwa kebangkitan kembali agama Islam memerlukan pengurbanan dari kita semua, bahkan kalau perlu nyawa sekali pun.

Hazrat Ahmad a.s. menguraikan pandangan beliau dan menyatakan bahwa untuk mengadakan reformasi umat ada lima hal atau kegiatan yang harus dilakukan, seperti cabang-cabang utama dari suatu pokok kegiatan yaitu:

  1. Menulis buku-buku untuk dicetak dan didistribusikan.

  2. Menerbitkan selebaran-selebaran dan booklet.

  3. Mengkhidmati mereka yang datang ke Qadian untuk mencari pencerahan.

  4. Menulis surat-surat ke berbagai orang di seluruh dunia.

  5. Mengorganisasikan mereka yang telah baiat.

Guna meyakinkan umat bahwa mereka sepatutnya beriman kepadanya, beliau menyatakan bahwa siapa yang meninggalkan beliau berarti meninggalkan Tuhan yang telah mengutusnya, sedangkan mereka yang bergabung dengan beliau berarti juga bergabung bersama Tuhan yang telah mengutusnya. Beliau menyatakan bahwa beliau memegang suluh penerangan di tangannya dan siapa saja yang mendekati beliau akan memperoleh pencerahan, sedangkan mereka yang menjauh karena kecurigaan dan keraguan akan terlempar kedalam kegelapan.

Beliau adalah ibarat benteng yang kokoh dan siapa saja yang memasuki benteng itu akan selamat jiwanya dari para perampok (keimanan) sedangkan mereka yang menjauhi keamanan benteng itu akan menghadapi kematian (keimanan) sehingga musnah tak berbekas.

Hazrat Ahmad a.s. juga mengungkapkan beberapa pengikut setianya seperti antara lain Maulvi Hakim Nur-ud-Din (yang kemudian menjadi Khalifah pertama setelah wafatnya Masih Maud a.s.). Beliau juga menyebutkan dengan kasih dan kekaguman akan halnya Sheikh Mohammad Hussain Muradabadi, Hakim Fazlud Din Bherwi dan Mirza Azim Beg.

Pada penutupan buku itu Hazrat Ahmad a.s. memaklumkan kepada para pembacanya yaitu agar mereka yang ingin bertanya atau mempunyai sanggahan terhadap agama Islam, Al-Qur’an dan nabi Muhammad s.a.w. atau juga terhadap diri beliau sendiri, baik atas pengakuannya maupun karyanya, agar mereka menyuratinya untuk memperoleh jawaban. Beliau menyatakan bahwa ia akan menerbitkan keberatan dan sanggahan mereka berikut jawaban beliau dalam bentuk sebuah buku.

07 Aasmani Faisla

(Keputusan Samawi)

Buku ini diterbitkan dalam bulan Desember 1892. Sebagaimana dinyatakan dalam judulnya, buku ini merupakan sejenis himbauan kepada Mian Maulvi Nazzir Hussain dari Delhi serta muridnya Maulvi Mohammad Hussain dari Batala serta semua mereka yang berpandangan sama, terlepas apakah mereka itu Maulvi atau Sufi atau pun Ajengan, mengajak mereka kepada keputusan samawi.

Buku tersebut menguraikan tentang kebenaran dari diskusi-diskusi yang berlangsung sebelumnya. Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa mereka inilah orang-orang yang menyatakan beliau sebagai kafir, dajjal, pendusta, tidak beriman, tidak beragama, terkutuk serta bukan berasal dari lingkungan manusia bertuhan.

Pada awal buku Hazrat Ahmad a.s. mengingatkan Maulvi Nazir Hussain bahwa yang bersangkutan sendiri tidak lepas dari fatwa kufur dimana ia sebenarnya adalah sebesar-besarnya kafir. Dalam hal umat Muslim yang benar cenderung ingin membawa umat ke dalam rangkulan Islam, sebaliknya dengan Maulvi Nazir Hussain yang cenderung selalu ingin mengkafirkan orang yang beragama Islam.

Hazrat Ahmad a.s. merujuk bukunya Brahin-i-Ahmadiyya dan Surma Chashm Arya serta menyatakan bahwa barang siapa membaca buku-buku itu, pasti akan meyakini bahwa penulisnya adalah seorang pembela besar agama Islam yang tertarik pada upaya pengagungan nabi Muhammad s.a.w. dalam batin umatnya.

Meskipun demikian, Mian Nazir Hussain dan muridnya di Batala tidak ragu tetap mengkafirkan beliau. Hazrat Ahmad a.s. mengajak mereka untuk melihat tanda-tanda samawi dan menyatakan bahwa Allah s.w.t. telah menjanjikan empat macam bantuan samawi bagi mereka yang beriman dan keempat tanda itu menjadi bukti haqiqi yang membedakan mereka yang beriman sempurna yaitu:

  1. Mukminin sejati menerima kabar gembira sebelum terjadinya sesuatu dan kabar gembira itu terkait dengan para mukminin tadi serta kerabat dan karibnya.

  2. Mukminin sejati akan diberikan penjelasan tentang apa yang akan terjadi di masa depan, baik dalam waktu dekat atau di masa yang jauh, berkaitan dengan tokoh-tokoh dunia, atau pun kejadian-kejadian pada skala nasional maupun internasional.

  3. Doa mukminin sejati akan didengar dan dikabulkan Allah s.w.t. serta mereka akan diberitahukan dimuka tentang makbulnya doa mereka.

  4. Para mukminin sejati akan diberikan kemampuan untuk melihat rahasia-rahasia yang tersirat dalam ucapan Allah s.w.t. di dalam Al-Qur’an.

Setelah mengutarakan tanda-tanda dari seorang mukminin sejati, Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa beliau siap jiwa dan raga untuk membuktikan bahwa semua tanda itu ada pada dirinya dan bahwa tanda-tanda itu tidak ada pada diri para Maulvi tersebut. Beliau menguraikan secara rinci bagaimana tanda-tanda itu dapat dicari.

Buku tersebut ditutup dengan pemberitahuan bahwa Jalsa akan dilaksanakan secara tahunan pada tanggal 27 sampai 29 Desember. Pemberitahuan ini disampaikan pada tanggal 30 Desember 1891 dan Hazrat Ahmad a.s. meminta para pengikutnya untuk berkumpul pada tanggal 27 Desember tahun depan selama tiga hari. Mengenai Jalsa, beliau mengatakan bahwa para pengikutnya agar mencari kedekatan dengan dirinya, mendengarkan khotbah-khotbah keruhanian dan melaksanakan doa bersama.

08 Ludhiana Debate

Perdebatan Ludhiana terjadi antara Hazrat Ahmad a.s. dengan Maulvi Abu Saeed Muhammad Hussain selama duabelas hari yang berlangsung sejak 20 Juli 1891.

Setelah membaca Fath-i-Islam, Maulvi Mohammad Hussain menyurati Hazrat Ahmad a.s. mengemukakan bahwa sejalan dengan apa yang beliau tulis dalam buku itu berarti beliau telah mengaku menjadi Masih Maud sebagaimana dijanjikan dalam Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah s.a.w. Jika demikian adanya maka beliau harus memberikan konfirmasi dan jawabannya harus tegas dalam bentuk ‘ya’ atau ‘tidak.’

Hazrat Ahmad a.s. menjawab surat itu dan menyatakan bahwa jawabannya adalah ‘ya.’ Maulvi Mohammad Hussain menulis surat lagi kepada Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa beliau sangat salah dalam pengakuannya tersebut dan bahwa beliau harus bertobat.

Tak berapa lama kemudian, setelah membaca Tauzi-hi-Maram, Maulvi Mohammad Hussain kembali menyurati beliau menyatakan ia bertambah yakin bahwa pengakuan beliau sebagai Masih Maud yang akan muncul di akhir zaman adalah sangat salah.

Korespondensi berjalan terus dan hasilnya adalah timbulnya debat di antara mereka. Karena itu terjadi di Ludhiana maka perdebatan itu dikenal sebagai Ludhiana Debate. Topik pembahasan adalah wafatnya nabi Isa Almasih a.s. Maulvi Mohammad Hussain meminta agar diklarifikasikan dulu posisi Hadist sebelum membahas masalah ini dalam perdebatan dan ia mengulang-ulang terus masalah klarifikasi itu selama duabelas hari sehingga perdebatan berakhir tanpa membahas hal wafatnya nabi Isa a.s.

Hazrat Ahmad a.s. memberikan jawaban yang jelas dan terinci atas semua pertanyaannya tentang posisi Hadist tetapi Maulvi tersebut mengulang terus permintaannya karena menurutnya belum ada ketegasan jawaban. Hazrat Ahmad a.s. berpendapat bahwa hanya Hadist yang sejalan dengan Al-Qur’an saja yang dapat diterima. Beliau mengemukakan bahwa yang paling pasti dapat dipedomani umat Muslim adalah Al-Qur’an. Hadist bisa saja menjelaskan Al-Qur’an tetapi tidak boleh bertentangan dengannya. Maulvi Mohammad Hussain bersikeras memposisikan Hadist sama kedudukannya dengan Al-Qur’an dan menekankan bahwa apa yang dikemukakan sebuah Hadist harus diyakini dan dilaksanakan sebagaimana halnya dengan yang dikemukakan Al-Qur’an.

Di akhir perdebatan, Hazrat Ahmad a.s. menyeru kepada umat dengan bersumpah dalam nama Allah s.w.t. bahwa jalan keluarnya adalah agar Maulvi Mohammad Hussain berdoa selama empatpuluh hari sebagaimana yang akan dilakukan juga oleh beliau, agar Allah s.w.t. menunjukkan tanda-tanda samawi. Kalau ia mau melakukan hal itu maka Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa beliau tidak keberatan dibunuh dengan senjata apa pun yang dipilih Maulvi dan beliau akan membayar denda apa pun yang dikenakan karenanya. Hazrat Ahmad a.s. selanjutnya mengatakan:

“Seorang Pemberi Ingat telah datang ke dunia tetapi dunia tidak mau menerimanya. Namun Tuhan akan menerimanya dan akan membuktikan kebenarannya melalui kejadian-kejadian yang luar biasa.”

Ungkapan ini mengakhiri perdebatan tersebut.

09 Delhi Debate

Perdebatan ini terjadi antara Hazrat Ahmad a.s. dan Maulvi Muhammad Bashir Bhopali dalam bulan Oktober 1891.

Ketika perdebatan Ludhiana tidak memberi hasil berarti dari sudut pandang bahwa Maulvi Mohammad Hussain tidak menyentuh topik inti perdebatan yaitu wafatnya nabi Isa a.s., Hazrat Ahmad a.s. mengarah kepada Rashid Ahmad Gangohi, Maulvi Sayid Nazir Hussain dan Maulvi Abdul Haq melalui selebaran-selebaran yang dicetak tanggal 2 Oktober 1891. Pada saat itu beliau sedang berada di Delhi. Dalam selebaran tersebut be liau mengutarakan keyakinannya dan menyatakan pengakuannya beserta penegasan beliau bahwa nabi Isa a.s. telah wafat secara alami. Beliau menghimbau Maulvi Sayid Nazir Hussain dan Maulvi Abdul Haq (keduanya ulama tingkat atas) agar menjelaskan permasalahan tersebut. Ajakan itu tidak mendapat sambutan berarti. Namun kemudian muncul seorang bernama Maulvi Muhammad Bashir yang mengajak berdebat tentang hidup dan wafatnya nabi Isa a.s.

Maulvi Muhammad Bashir mensitir empat buah ayat dari Al-Qur’an yang mengemukakan bahwa nabi Isa a.s. masih tetap hidup tetapi memusatkan klaimnya pada satu ayat saja yang menurutnya adalah dasar dari permasalahan tersebut.

Dalam perdebatan tersebut Hazrat Ahmad a.s. menjelaskan secara rinci bahwa nabi Isa a.s. tidak mungkin masih hidup dan bahwa beliau telah wafat secara alami. Beliau menekankan bahwa karena telah wafat maka tidak mungkin nabi Isa a.s. sendiri yang akan datang untuk memperbaiki dunia, khususnya umat Muslim.

10 Izalai Auham

(Hilangnya Kecurigaan)

Buku ini dimulai dengan ajakan kepada para peragu bahwa mereka sepatutnya maju kemuka guna memperoleh keputusan samawi. Hazrat Ahmad a.s. menantang mereka untuk mempertunjukkan tanda-tanda samawi sebagaimana yang telah beliau lakukan dan beliau menyatakan bahwa mereka akan malu karena mereka tidak akan memperoleh bantuan samawi.

Kemudian beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang apa saja yang dilakukan oleh Al-Masih ini (Hazrat Ahmad a.s.) dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh nabi Isa a.s. yang katanya telah menghidupkan orang mati, menyembuhkan mereka yang buta dan memberikan pendengaran kepada mereka yang tuli.

Beliau memusatkan perhatian umat kepada kenyataan bahwa buku Hadist tidak ada mengatakan bahwa Masih Maud yang dijanjikan akan menghidupkan orang yang mati. Beliau menambahkan bahwa Allah s.w.t. telah mengutusnya untuk memberikan kehidupan ruhani kepada mereka yang mati ruhaninya dan melalui pengajaran itu beliau menekankan bahwa mereka yang hidup melalui dirinya tidak akan mati. Kalau kata pemberi kehidupan itu bisa dilakukan juga oleh orang lain maka beliau akan mengakui bahwa dirinya bukan utusan Tuhan.

Beliau meyakinkan umat Muslim bahwa sudah tiba saatnya bantuan bagi Islam dan kemenangan sudah di ambang, bahwa apa yang beliau kerjakan bukanlah hasil rekayasa manusia melainkan datang dari Tuhan. Tuhanlah yang telah menetapkan penugasan tersebut dan Dia-lah yang berdiri di belakang beliau. Selanjutnya beliau menguraikan berbagai mukjizat yang katanya dilakukan oleh nabi Isa a.s.

Berikutnya beliau membahas tanda-tanda tersembunyi mengenai kedatangan kedua kali nabi Isa a.s. dan sejalan dengan itu beliau memberikan penafsiran pada salah satu surah dalam Al-Qur’an yang bernama Al-Zilzal. Di antara tanda-tanda tersebut beliau menyebutkan gerhana matahari dan bulan, kejatuhan (hujan) bintang-bintang (meteor) dan guncangan kekuatan surgawi. Beliau mengutip juga Injil Matius (pasal 24) mengenai hal ini.

Hazrat Ahmad a.s. memperlihatkan berbagai kontradiksi yang mencolok dalam Injil dan mengingatkan kembali bahwa semua itu harus dianggap sebagai perumpamaan-perumpamaan metaforik.

Surah Al-Zilzal juga mengemukakan beberapa tanda-tanda yang akan muncul di akhir zaman. Setelah menjelaskan semua ini secara rinci, Hazrat Ahmad a.s. kemudian memberikan gambaran umum tentang apa yang disebutnya sebagai ‘Agama kita.’ Beliau menyatakan bahwa intisari ajaran agama yang dianutnya adalah ‘La ilaha illallah Muhammadur rasulullah’ dan beliau meyakini sampai dengan akhir hayatnya bahwa nabi suci Muhammad s.a.w. adalah Khataman Nabiyin dan nabi yang paling sempurna yang berdiri di atas semua nabi yang pernah ada serta melalui tangan beliaulah telah dilengkapkan dan disempurnakan kaidah-kaidah keagamaan. Beliau juga meyakini bahwa Al-Qur’an adalah buku samawi yang terakhir dan terbaik dimana tidak ada satu pun dapat ditambahkan atau dikurangkan daripadanya.

Beliau menjelaskan lebih lanjut hal keimanannya dengan lebih rinci dan menekankan lagi tentang bahwa Masih Maud yang dijanjikan sebagaimana dikemukakan dalam kasyaf dan wahyu dalam buku-buku Fath-i-Islam dan Tauzi-hi-Maram adalah dirinya sendiri. Berikutnya beliau mengemukakan rincian daripada bukti-bukti bahwa dirinya adalah Masih Maud dan beliau mengingatkan para pembacanya bahwa hanya mereka yang meyakini beliau dan telah masuk dalam kelompoknya sajalah yang dapat diyakini sebagai telah memperoleh keselamatan dan akan memperoleh ganjaran serta ketinggian keimanan.

Dalam bagian kedua dari Izalai Auham, beliau mengumumkan bahwa buku tersebut berisi semua jawaban terhadap semua pertanyaan yang dikemukakan oleh orang-orang yang kurang mengerti hal kehidupan dan wafatnya nabi Isa a.s. Beliau menyatakan bahwa siapa pun yang membaca buku ini secara teliti akan menyadari bahwa semua keraguannya telah dihilangkan dan semua pertanyaan telah terjawab.

Hazrat Ahmad a.s. mensitir dan menjelaskan tigapuluh ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa Al-Masih putra Maryam telah wafat.

Mengingat sudah menjadi tujuan hidup beliau untuk mengumandangkan keagungan Al-Qur’an, beliau dalam buku tersebut menyusun bab tersendiri yang diberi nama ‘Keagungan Al-Qur’an sebagaimana dikemukakan oleh Al-Qur’an sendiri.’ Setelah mana beliau kembali mengutip ucapan beberapa orang yang bersaksi yang memaklumkan bahwa mereka telah melihat kasyaf bahwa Hazrat Ahmad a.s. adalah sesungguhnya Masih Maud. Beliau juga menceritakan mengenai beberapa penganut dan pembantunya serta mengemukakan rencana untuk menyiarkan agama Islam ke Eropah dan Amerika.

Di bagian akhir buku terdapat beberapa nasihat bagi mereka yang telah baiat di tangan beliau dan beberapa peringatan bagi mereka yang masih mencari kebenaran. Hazrat Ahmad a.s. juga mengungkapkan pandangan dari Sayid Ahmad Khan K.C.S.I. tentang wahyu serta menjelaskan pandangan agama Islam mengenai hal tersebut.

Beliau juga melemparkan tantangan dengan janji hadiah senilai 1.000 rupee tentang kata Tawaffa (yang merupakan kata kunci dalam semua perbincangan tentang hidup dan wafatnya nabi Isa a.s.) serta mengingatkan bahwa wafatnya nabi Isa a.s. merupakan syarat mendasar bagi pengakuan seseorang sebagai Masih Maud.

11 Nishan-i-Aasman-i-Shahadatul Mulhimin

(Tanda-tanda Samawi)

Nishan-i-Aasmani diterbitkan pada tahun 1892, berisi kesaksian beberapa orang suci yang mendukung pengakuan Hazrat Ahmad a.s. sebagai Masih Maud dan Imam Mahdi. Salah seorang di antaranya adalah Ghulab Shah. Hazrat Ahhmad a.s. mengemukakan bahwa Ghulab Shah telah meninggal tigapuluh tahun sebelumnya. Adalah Mian Karim Bakhs yang telah mendengar dari Ghulab Shah akan datangnya seorang Mahdi. Meskipun mengenai ini sudah juga diulas dalam buku Izalai Auham, dalam buku ini lebih dirinci lagi.

Kabar ghaib lainnya adalah sebagaimana dikemukakan oleh Nimatullah, seorang suci yang amat dihormati, dimana kabar ghaib itu termaktub dalam sebuah syair yang dikarangnya dalam bahasa Parsi. Kabar ghaibnya menyebutkan bahwa nama Masih yang dijanjikan itu sebagai Ahmad dan menggambarkan bahwa Masih Maud akan memperoleh seorang putra yang luar biasa. Hal ini mengingatkan pembacanya kepada sebuah Hadist Rasulullah s.a.w. yang menyatakan bahwa Masih Maud akan menikah dan memperoleh seorang putra. Hazrat Ahmad a.s. mengutip semua bait syair karangan Nimatullah itu serta memberikan penafsiran lengkap atasnya.

Setelah mengutip kabar ghaib tersebut, Hazrat Ahmad a.s. merujuk pada Hadist Rasulullah s.a.w. mengenai bahwa Allah s.w.t. akan mengutus kepada umat Muslim seorang Mujaddid (pembaharu) di awal setiap abad untuk menghidupkan kembali agama Islam. Beliau juga mengemukakan bahwa sebagaimana dikatakan dalam Hadist, para ulama akan menghadang dan memusuhi Masih Maud serta menuduhnya kafir.

Berikutnya Hazrat Ahmad a.s. menyampaikan pernyataan Karim Bakhs Jamalpuri yang mengatakan bahwa ia melakukan itu karena simpatinya terhadap sesama saudara Muslim. Dalam pernyataannya itu Karim Baksh mengatakan bahwa Ghulab Shah tiga kali menyebutkan kalau nama Masih Maud adalah Ghulam Ahmad serta Al-Masih putra Maryam sudah wafat dan tidak akan kembali lagi. Ghulab Shah juga mengatakan kepada Karim Baksh bahwa Ghulam Ahmad akan datang (lahir) di Qadian.

Setelah pernyataan Karim Baksh, Hazrat Ahmad a.s. mengulas tentang kritik yang dilontarkan Maulvi Mohammad Hussain dari Batala atas buku beliau Aasmani Faisla. Beliau menjelaskan mengenai pernyataan-pernyataan dalam buku tersebut dan menyampaikan kepada para pembacanya bahwa Maulvi Batalwi dan atasannya (Sayid Nazir Hussain) mencoba menggiring umat dengan cara menuduh beliau mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dikatakan. Beliau mengungkapkan bahwa hal ini adalah karena hati mereka telah menjadi keras membatu. Beliau mengulang kembali ajakannya agar mereka menunjukkan tanda-tanda samawi sebagaimana yang telah dilakukannya.

Beliau mengajak masyarakat umumnya, khususnya mereka yang mencari kebenaran dan menyadari bahwa nanti Allah s.w.t. akan menghisab mereka, agar mereka jangan mengikuti para ulama zaman ini tanpa sebelumnya melakukan penelitian yang mendalam. Rasulullah s.a.w. pun telah mengingatkan umatnya akan kelakuan para ulama di akhir zaman.

Beliau mengajak umat untuk membersihkan pikiran mereka dari konsep-konsep yang tertanam, mereka perlu memanjatkan doa kepada Allah s.w.t. secara khusus dengan cara salat dua rakaat dengan membaca surah Yasin di rakaat pertama dan surah Al-Ikhlas (duapuluh satu kali) di rakaat kedua, mengucapkan Allahuma salli serta Istighfar masing-masing tigaratus kali. Mereka harus memohon kepada Allah s.w.t. agar Dia menunjukkan kepada mereka akan kebenaran pengakuan beliau.

Beliau menutup buku itu dengan pernyataan bahwa beliau akan menyiarkan agama Islam di seluruh anak benua India. Sebelumnya beliau menghimbau mereka yang memiliki kemampuan untuk membantu agama ini. Beliau mengutarakan bahwa beliau sangat berterima kasih kepada para sahabat yang telah melakukan segalanya bagi perkembangan agama, namun keadaannya sekarang sudah berubah dan dibutuhkan lebih banyak lagi bantuan. Yang dimaksud perkembangan baru itu adalah mulai mengerasnya hadangan dari mereka yang menamakan dirinya Muslim sedemikian rupa dimana mereka melarang orang untuk membaca buku-buku beliau. Beliau meyakini bahwa jika Jemaat tidak mengendur dalam kegiatannya maka semua rintangan itu akan bisa hilang.

Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa sudah menjadi jati dirinya untuk melakukan semua yang mungkin demi reformasi umat secara keseluruhan. Beliau menyatakan bahwa karena keadaan seperti itu maka beliau tidak akan mengistirahatkan penanya sampai semua rintangan bisa diatasi. Rahmat Allah s.w.t. yang menghujani beliau dengan derasnya menjadikan beliau tambah yakin bahwa beliau akan berhasil dan Tuhan tidak akan membiarkan usahanya menjadi sia-sia. Selanjutnya beliau membicarakan beberapa buku yang akan dikarangnya setelah buku ini.

12 Aaina-i-Kamalat-i-Islam

(Cermin Keunggulan Islam)

Buku Aainai Kamalat-i-Islam terdiri dalam dua bagian, satu bagian dalam bahasa Urdu dan bagian lainnya dalam bahasa Arab. Bagian dalam bahasa Urdu diterbitkan pada tahun 1892 sedangkan yang dalam bahasa Arab pada tahun 1893.

Buku ini juga memiliki judul ‘Dafi-ul-wasawis’ (pencerabut keraguan atau kecurigaan). Yang dalam bahasa Arab memiliki sub judul ‘Al-Tabligh’ (penyampaian pesan).

Buku tersebut dimulai dengan ungkapan bahwa seharusnya umat Muslim bersyukur kepada Allah s.w.t. atas buku-buku beliau seperti Fath-i-Islam, Tauzi-hi-Maram dan Izalai Auham dimana melalui buku-buku itu Allah s.w.t. telah memberikan kesempatan kepada seseorang untuk membela agama Islam pada saat yang kritis serta menjawab pertanyaan para non Muslim. Namun ketika begitu beliau mengaku sebagai Masih Maud, mereka menjadi marah luar biasa dan dalam amarahnya itu mereka melontarkan caci maki serta menyatakan dirinya kafir. Maulvi Mohammad Hussain memimpin perlawanan dengan menyiapkan fatwa yang menyatakan beliau adalah kafir dan ia meminta gurunya, Mian Nazir Hussain, untuk menandatanganinya sebagai orang pertama. Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa beliau tidak terkejut karena hal seperti ini selalu dialami orang-orang yang diutus Tuhan. Kebenaran pengakuan mereka akan nyata setelah lewatnya beberapa waktu.

Hazrat Ahmad a.s. menyatakan tidak menghiraukan adanya fatwa kufur yang dilemparkan kepadanya. Apa yang beliau harapkan adalah Allah s.w.t. akan memberi kesempatan padanya untuk membela agama Islam serta untuk menyatakan kelebihan Rasulullah s.a.w. dan kitab suci Al-Qur’an.

Adapun mengenai alasan beliau menulis buku ini adalah karena adanya upaya umat Kristen untuk meruntuhkan Islam sedangkan di sisi lain umat Muslim yang terpesona oleh filosofi Eropah memberikan pandangan yang salah tentang Islam kepada para non Muslim. Sebagai contoh beliau mengutip Sir Sayid Ahmad yang memiliki pandangan amat berbeda tentang wahyu, malaikat, kenabian dan lain-lainnya. Pandangannya itu justru memberikan dukungan kepada mereka yang ingin menyerang Islam.

Karena itulah Hazrat Ahmad a.s. memutuskan menulis buku ini untuk mengumandangkan asas murni dari agama Islam dan menjelaskan kepada para pembacanya apa makna Islam sebenarnya dan apa pentingnya keseluruhan itu bagi para pengikutnya. Beliau ingin memperlihatkan wajah indah Islam ke seluruh dunia.

Dalam buku ini beliau menguraikan keunggulan Islam, wahyu-wahyu nubuwatan, para malaikat beserta fungsinya masing-masing. Beliau juga menjelaskan kepada mereka yang terpesona oleh filosofi modern dimana mereka umumnya mengernyitkan dahi jika mendengar ajaran Islam. Beliau memberikan bukti-bukti argumentasi yang komprehensif bahwa Rasulullah Muhammad s.a.w. itu jauh lebih tinggi derajatnya dibanding nabi Isa a.s. maupun nabi-nabi lainnya. Beliau terpaksa mengutarakan demikian karena pada waktu itu diajarkan luas kepada masyarakat bahwa nabi Isa a.s. lebih tinggi derajatnya daripada Rasulullah s.a.w.

Setelah memberikan rincian mengenai apa itu Islam, selanjutnya beliau menjelaskan bagaimana caranya menjadi seorang Muslim yang baik dan apa yang harus dilakukan seseorang untuk mencapai tingkatan tersebut. Dengan membuktikan bahwa Islam adalah agama yang hidup, beliau meyakinkan umat Muslim bahwa hari kemenangan Islam sudah dekat. Beliau mengagumi pemerintahan Inggris karena telah memberikan kemerdekaan beragama, kedamaian, ketertiban hukum dan mendoakan agar Ratu Inggris mau menerima Islam supaya bisa memperoleh rahmat Tuhan. Beliau menyurati Ratu tersebut menjelaskan mengenai keindahan agama Islam dan AlQur’an. Sebuah surat kabar Kristen bernama Noor Afshan pada tanggal 13 Oktober 1892 menerbitkan sebuah artikel dimana si pengarang mengatakan bahwa sejak manusia berada di planet ini belum pernah ada seorang pun yang mengaku dirinya sebagai kebangkitan dan kehidupan, siapa yang beriman kepada kata-katanya akan hidup selamanya walaupun ia telah mati, atau dengan kata lain ia akan terbebas dari dosa, keingkaran terhadap Tuhan, ketidakacuhan, kematian ruhani serta akan mencapai kehidupan ruhani dan kepatuhan sepenuhnya kepada Tuhan. Pengarang artikel ini mengatakan bahwa satu-satunya orang yang mengakukan hal-hal itu hanyalah nabi Isa a.s. yang juga telah membuktikan apa yang diakukannya itu. Kalau ada orang lain melakukan pengakuan yang sama maka orang itu akan gagal dan ia tidak akan bisa mengerjakan semuanya itu.

Hazrat Ahmad a.s. memberikan jawaban pada artikel ini secara panjang lebar. Beliau mengungkapkan bahwa jika benar nabi Isa a.s. mengaku sebagai kebangkitan dan kehidupan, karena ia seorang nabi utusan Tuhan, maka pengakuannya itu adalah benar dimana kehidupan ruhani akan semarak, baik dalam masa hidup nabi Isa a.s. maupun setelah kepergiannya. Namun nyatanya kebenaran dan kepercayaan akan keesaan Tuhan tidak berkembang dengan baik melalui nabi Isa a.s. tersebut, serta dapat disimpulkan bahwa apa yang telah dicapainya tidak lebih baik dari apa yang dilakukan nabi-nabi lainnya.

Hazrat Ahmad a.s. juga membantah pendapat yang mengatakan bahwa nabi Isa a.s. telah melakukan mukjizat-mukjizat seperti antara lain menghidupkan orang mati. Beliau menyatakan bahwa jika benar nabi Isa a.s melakukan mukjizat seperti itu maka nasib para muridnya tidak akan seburuk kenyataannya dimana yang seorang berkhianat menerima sejumlah uang agar beliau dapat ditangkap sedangkan murid lainnya menyatakan tidak mengenal siapa itu nabi Isa a.s.

Hazrat Ahmad a.s. membandingkan murid-murid nabi Isa a.s. dengan para sahabat Rasulullah s.a.w. dan menguraikan perdedaan di antara mereka. Dari sana beliau membuktikan bahwa sebenarnya Rasulullah s.a.w. yang memberikan kehidupan dan bukan nabi Isa a.s.

Beliau memaklumkan bahwa dirinya ditugaskan Allah s.w.t. untuk mengundang semua ulama yang mengkafirkan dirinya, baik karena perbedaan pandangan atau ketidakmampuan mereka memahami pengakuannya, untuk melakukan tarung doa (mubahala) agar jelas siapa yang benar dan siapa yang salah. Beliau juga mengundang para pendeta Kristen, Hindu, Arya, Brahmana, Sikh, atheis dan kebatinan (naturalist) agar maju kemuka memastikan siapa yang benar. Setelah undangan dan tantangan tersebut, beliau meyakinkan mereka yang beriman atau akan beriman kepadanya bahwa mereka akan dirahmati dan mereka tidak akan kalah.

Bagian kedua buku ini yang ditulis dalam bahasa Arab dengan judul ‘Al-Tabligh’ ditulis karena desakan sahabat dekat beliau yaitu Maulvi Abdul Karim yang menyarankan agar beliau menulis sebuah surat terinci kepada para pemuka agama Islam yang dikenal sebagai Faqir dan Pirzada. Hazrat Ahmad a.s. menyukai saran itu dan berencana menjadikannya sebagai bagian dari buku tersebut dalam bahasa Urdu. Namun beliau memperoleh petunjuk dari Allah s.w.t agar surat itu ditulis dalam bahasa Arab. Ini adalah karangan pertama Hazrat Ahmad a.s. yang menggunakan bahasa Arab.

Pada awal surat itu beliau menyampaikan kepada para Faqir, Zahid serta umat di Arab, India dan negara-negara lainnya bahwa beliau telah diutus untuk memberantas kejahatan yang telah menyelimuti dunia dan mengingatkan mereka kembali akan kaidah-kaidah agama Islam. Beliau juga menghimbau agar mereka jangan memandang rendah terhadap beliau atau menyepelekan.

Beliau membuktikan kepada para pembacanya bahwa nabi Isa a.s. telah wafat karena tidak mungkin wujud suci Rasulullah Muhammad s.a.w. terbaring di bawah tanah sedangkan nabi Isa a.s. masih hidup, apalagi di langit pula. Beliau juga mengutip ayat-ayat Al-Qur’an serta Hadist guna membuktikan bahwa nabi Isa a.s. telah wafat. Adapun mengenai kedatangan nabi Isa a.s. kedua kalinya beliau katakan tidak akan datang dari langit dan mestinya telah dilahirkan di dunia saat itu. Dalam artikel bahasa Arab ini beliau juga menghimbau Ratu Inggris agar ia mau menerima Islam karena hanya agama inilah yang bisa diterima di sisi Tuhan. Beliau meminta agar Ratu bertobat dan mendengarkan himbauannya.

Beliau disini juga menjelaskan rincian silsilah dirinya serta catatan biografis dari beberapa ‘sahabat seiman.’

13 Barakatud Dua

(Berkat dari Doa)

Sir Sayid Ahmad Khan (yang disebut dalam buku Aainai Kamalat-i-Islam) menerbitkan sebuah buku berjudul Ad-Dua Wallstijaba yang berisi karangan bahwa pengabulan doa bukanlah suatu kejadian aktual; itu hanyalah sejenis pelipur lara yang dirasakan seseorang ketika selesai salat atau berdoa kepada Tuhannya. Mengingat konsep pemikiran seperti itu sangat bertentangan dengan agama Islam tentang pengertian pengabulan doa sebagaimana diutarakan dalam Al-Qur’an dan Hadist, Hazrat Ahmad a.s. segera menyangkal pandangan Sir Sayid Ahmad tersebut. Muncullah buku Barakatud Dua.

Sir Sayid Ahmad juga menulis sebuah buku lain yang berisi pandangannya tentang dasar-dasar penafsiran Al-Qur’an. Hazrat Ahmad a.s. berpendapat bahwa buku ini juga mengandung kesalahan-kesalahan prinsip. Dalam Barakatud Dua beliau menyampaikan juga pandangannya tentang penafsiran Al-Qur’an. Sir Sayid Ahmad berpendapat bahwa wahyu bukanlah berasal dari sumber lain, karena itu hanyalah perasaan seseorang bahwa ia menerima wahyu. Mengenai ini Hazrat Ahmad a.s. menjelaskan apa sebenarnya haqiqat wahyu itu.

Dalam buku itu beliau mengatakan:

‘Aku melihat ketika wahyu turun padaku (wahyi walayat) bahwa aku berada dalam genggam rangkulan seseorang dan genggaman itu sangat kuat sehingga aku merasa lebur dalam cahaya dia yang menggengamku. Aku merasakan tarikan ke arah-Nya dan aku sama sekali tidak bisa bertahan sama sekali. Dalam keadaan genggaman seperti itulah aku mendengar suatu suara yang amat jelas.’

Hazrat Ahmad a.s. meyakinkan Sayid Ahmad bahwa jika ia menginginkan bukti pengabulan doa maka beliau akan memberikannya namun dengan syarat bahwa jika bukti itu sudah ada maka sewajarnya Sayid Ahmad harus melepaskan pandangan kelirunya. Sebelum menutup bukunya, Hazrat Ahmad a.s. menceritakan salah satu doa beliau yang dikabulkan yaitu yang berkaitan dengan Lekhram. Beliau menghimbau Sayid Ahmad untuk berdoa kepada Allah s.w.t. agar pandangan kelirunya tentang doa bisa dikoreksi dan ini hanya bisa dilakukannya melalui permintaan doa. Dalam buku kecilnya Sayid Ahmad mengungkapkan dasar-dasar penafsiran Al-Qur’an. Hazrat Ahmad a.s. memberikan tujuh dasar pemikiran beliau sendiri dan menekankan bahwa Sayid Ahmad rupanya sama sekali tidak memahami makna penafsiran Al-Qur’an. Ketujuh dasar pemikiran beliau adalah:

  1. Al-Qur’an memberikan penafsiran sendiri atas ayat-ayat yang dikandungnya, dengan kata lain setiap ayat dijelaskan oleh ayat lainnya dan tak ada satu pun yang menafikan ayat lainnya.

  2. Penafsiran kita sewajarnya sejalan dengan penafsiran oleh Rasulullah s.a.w. sendiri.

  3. Penafsiran kita harus sejalan dengan penafsiran dari para sahabat Rasulullah s.a.w.

  4. Kita harus menbersihkan diri kita terlebih dahulu, baru mendalami buku suci tersebut. Hanya mereka yang hatinya bersih saja yang akan dapat memahami Al-Qur’an. Kitab suci Al-Qur’an menyatakan ‘La yamassohu illal mutahharun’ yang berarti tak ada seorang pun yang bisa menyentuh kitab itu kecuali mereka yang hatinya bersih. Menyentuh disini berarti memahami.

  5. Kita harus memahami leksikon bahasa Arab.

  6. Sistem keruhanian dalam kehidupan ini sejalan dengan sistem fisikal dan hal ini harus selalu diingat.

  7. Kita tidak boleh mengabaikan kasyaf dan wahyu para orang suci. Mereka juga memberikan pencerahan pada masalah-masalah keruhanian.

14 Hujjatul Islam

(Bukti Meyakinkan tentang Islam)

Buku Hujjatul Islam diterbitkan tahun 1893 dan sebagaimana tertera pada judulnya, buku ini dimaksudkan sebagai ajakan kepada Dr. Henry Martin Clarke dan beberapa orang Kristen lainnya. Buku ini membuktikan bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama di dunia ini yang hidup, sebagaimana juga ia hidup di masa lalu. Beliau juga menyatakan bahwa agama Kristen telah jatuh dalam kegelapan dan tak ada satu pun bukti yang menunjukkan bahwa agama Kristen itu agama yang hidup. Disini ditetapkan persyaratan dan juga tanggal perdebatan yang akan diselenggarakan tanggal 22 Mei 1893.

Di awal buku Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa walaupun pengikut semua agama menyatakan mencintai Tuhannya, yang perlu dibuktikan adalah apakah Tuhan juga mencintai mereka. Cara untuk mengetahui apakah Tuhan mencintai umat ialah pertama Dia akan membukakan pintu hati mereka dan mereka menjadi yakin akan eksistensi dan kekuasaan-Nya. Kemudian Tuhan akan berbicara kepada mereka. Adalah ‘pembicaraan’ Tuhan itu yang akan memberikan kepuasan sempurna dalam hidup mereka. Hazrat Ahmad a.s. selanjutnya mengatakan bahwa ‘pembicaraan’ dengan umat ini yang menunjukkan bahwa agama mereka adalah agama yang hidup. Hal ini hanya mungkin bagi umat agama Islam saja dan karena itu agama lainnya tidak lagi menjadi agama yang hidup.

Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa pendeta Doctor Henry Martin Clarke te lah menyatakan hasratnya melalui korespondensi bahwa ia sedang mempersiapkan perang salib terhadap umat Muslim dan ia akan melakukannya sedemikian rupa sehingga umat Muslim tidak akan pernah lagi berani menghadapi umat Kristiani. Hazrat Ahmad a.s. yang ditugaskan untuk memenangkan Islam, menyatakan dalam buku ini bahwa menyadari keinginan dari pendeta Doctor Henry Martin Clarke beliau akan mengirim delegasi terdiri dari limabelas orang guna menghadap pendeta itu untuk berdebat. Dari sana ditetapkan bahwa perdebatan dilaksanakan di Amritsar pada tanggal 22 Mei 1893.

Hazrat Ahmad a.s. juga menghimbau Maulvi Mohammad Hussain untuk menyusun tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Hal ini sebelumnya telah dimintakan kepada yang bersangkutan dan buku ini merupakan pengingat kedua.

15 Sach-Chai Ka Izhar

(Ekspresi Kebenaran)

Buku ini juga mengandung korespondensi di antara Hazrat Ahmad a.s. dengan beberapa tokoh agama Kristen.

Buku yang diterbitkan tahun 1893 itu menjelaskan tentang sebuah janji yang dilakukan oleh Abdulla Atham (seorang Kristen) yang menyatakan bahwa jika ia kalah dalam perdebatan maka ia akan masuk agama Islam. Termasuk juga dalam buku tersebut beberapa surat dari beberapa orang Arab terpelajar (dari Hejaz dan Syria) yang membenarkan kebenaran pengakuan Hazrat Ahmad a.s.

Hazrat Ahmad a.s. mengungkapkan bantuan yang diberikan oleh Maulvi Mohammad Hussain melalui surat kabarnya, Ishaatus Sunah, kepada umat Kristen. Bantuan itu berupa pernyataan bahwa Hazrat Ahmad a.s. adalah seorang kafir sehingga umat Kristen bisa menyatakan kalau perdebatan apa pun mengenai masalah agama dengan beliau tidak perlu dilakukan mengingat beliau adalah non Muslim.

Pada bagian akhir buku Hazrat Ahmad a.s. memberikan tanggapan atas selebaran yang dikeluarkan oleh Abdul Haq Ghaznawi. Hazrat Ahmad a.s. mengajak yang bersangkutan dan semua yang terkait untuk tarung doa (mubahala). Jika yang bersangkutan tidak menanggapi tantangan itu maka hal itu menjadi bukti bahwa kabar ghaib tentang yang bersangkutan akan bertobat dan berhenti menghujat beliau sebagai kafir telah menjadi kenyataan.

16 Syahadatul Qur’an

(Kesaksian Al-Qur’an)

Judul lengkap buku ini adalah Shahadatul Qur’an ala Nuzulil Masihilmaud fi Aakhirizzaman yaitu kesaksian Al-Qur’an mengenai turunnya Masih Maud di akhir zaman.

Hazrat Ahmad a.s. menerima sebuah surat dari seseorang bernama Atta Mohammad yang menanyakan apakah beliau adalah Masih yang dijanjikan ataukah orang masih harus menunggu kedatangan yang lain. Penulis surat itu meyakini bahwa nabi Isa a.s. telah wafat, hanya saja ia tidak bisa menerima bahwa kedatangan kembali nabi Isa adalah dari antara umat Muhammad Rasulullah s.a.w. Ia mengatakan bahwa meskipun mengenai ini disebutkan dalam Hadist namun ia merasa Hadist tidak bisa dipercaya sepenuhnya.

Hazrat Ahmad a.s. menjawab pertanyaan tersebut dari tiga sisi:

  1. Apakah nubuwatan yang terdapat di dalam Hadist tentang Masih yang dijanjikan harus dikesampingkan karena Hadist itu dianggap lemah?

  2. Apakah Al-Qur’an ada menyinggung mengenai kedatangan Masih yang dijanjikan?

  3. Bila sudah menjadi kenyataan bahwa kabar ghaib itu sah adanya dan sudah terjadi, bagaimana memastikan bahwa kabar ghaib tersebut terpenuhi dalam diri beliau (Hazrat Ahmad a.s.)?

Pada bagian penutupan buku Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa jika semua yang telah disampaikan itu belum memuaskan Atta Mohammad, maka ia harus menyatakannya demikian dan meminta tanda-tanda dari Allah s.w.t..

Hazrat Ahmad a.s. memberikan catatan tambahan pada buku itu dengan judul ‘Untuk perhatian Pemerintah.’ Dalam catatan ini beliau menyangkal semua propaganda yang mengatakan bahwa beliau menentang pemerintah. Sebagai contoh beliau kemukakan berita yang dilansir surat kabar Ishaatus Sunah yang diterbitkan oleh Maulvi Mohammad Hussain.

17 Tohfi Baghdad

(Sebuah hadiah untuk Baghdad)

Sayid Abdur Razzaq Qadir Baghdadi mengirim sebuah selebaran dan surat dalam bahasa Arab kepada Hazrat Ahmad a.s. dari Hyderabad, Deccan, India.

Tema selebaran dan surat itu menyatakan bahwa pengakuan Hazrat Ahmad a.s. sebagai Masih Maud bertentangan dengan shariat Islam dan beliau bisa dihukum penggal kepala. Ia juga menyatakan bahwa buku beliau Al-Tabligh merupakan kontradiksi terhadap Al-Qur’an.

Hazrat Ahmad a.s. menanggapi secara serius dan mengarang buku Tohfi Baghdad sebagai penjelasan tentang pengakuan beliau, bukti-bukti telah wafatnya nabi Isa a.s., masih berlanjutnya turun wahyu di dalam agama Islam dan kemunculan para mujaddid. Dalam buku ini beliau menyarankan agar Sayid Abdur Razzaq tidak terpengaruh oleh fatwa-fatwa yang dikeluarkan para ulama, dan sebaiknya yang bersangkutan datang dan tinggal bersama beliau untuk mencari kebenaran akan apa yang beliau sampaikan.

Hazrat Ahmad a.s. menyarankan jika ia tidak mungkin datang kepada beliau, agar ia melakukan salat Istikhara selama tujuh hari untuk meminta petunjuk Allah s.w.t. tentang kebenaran pengakuan beliau.

Buku ini ditulis dalam bahasa Arab dan ditulis dalam bulan Juli tahun 1893.

18 Hamamatul Bushra

(Merpati pembawa kabar gembira)

Seorang terpelajar Arab yang juga seorang kaya yaitu Mohammad Ibn Ahmad Makki dari Shob Aamir sedang melakukan kunjungan ke India. Ia mendengar tentang Hazrat Ahmad a.s. dan ia pergi ke Qadian untuk menjumpai beliau. Disana ia kemudian baiat ke dalam Jemaat.

Dalam perjalanan pulang ke Mekah ia menyurati Hazrat Ahmad a.s. bahwa ia telah berbicara kepada orang-orang tentang telah datangnya Masih yang dijanjikan dan ia menceritakan tentang beliau, dimana mereka bergembira mendengar kabar tersebut. Ia juga meminta agar dikirimi buku-buku karangan Hazrat Ahmad a.s. untuk dibagikan kepada mereka yang tertarik. Memenuhi permintaannya itu, Hazrat Ahmad a.s. menulis Hamamatul Bushra di tahun 1894. Dalam buku itu beliau menjelaskan pengakuannya sebagai Masih Maud, uraian tentang kemunculan Dajjal, wafatnya nabi Isa a.s. serta kedatangan Masih yang dijanjikan. Beliau juga menjelaskan keberatan-keberatan yang dilontarkan oleh mereka yang menuduh beliau sebagai kafir serta bagaimana posisi beliau sebenarnya. Dengan kata lain, beliau memberikan argumentasi tentang kebenaran pengakuan beliau.

Buku tersebut sangat bermanfaat bagi mereka yang tinggal di negeri-negeri Arab, mengingat juga karena ditulis dalam bahasa Arab. Di kulit buku Hazrat Ahmad a.s. mencantumkan dua bait syair yang berbunyi:

‘Merpati kami terbang dengan sayap-sayap kasih sayang dan di paruhnya membawa hadiah kedamaian. Ia terbang ke negeri Nabi yang dikasihi Allah s.w.t., penghulu semua nabi dan terbaik dari semua ciptaan yang ada.’

Beliau juga mengatakan bahwa buku ini mengandung rahasia-rahasia ruhani dari Al-Qur’an. Di awal buku beliau mengatakan bagaimana sikap permusuhan terhadap orang-orang suci telah menghanguskan keimanan mereka yang memusuhi itu. Beliau menjelaskan bagaimana hal ini terjadi. Surat Mohammad bin Ahmad yang menjadi dasar buku ini juga dicantumkan.

19 Itmamul Hujja

(Memberikan bukti yang komprehensif dan meyakinkan)

Maulvi Rusul Baba dari Amritsar menerbitkan sebuah buku yang menceritakan bahwa nabi Isa a.s. tidak wafat dan sekarang masih hidup di langit. Ia juga menyatakan bahwa ia akan memberikan hadiah 1.000 rupee bagi siapa saja yang dapat membuktikan bahwa nabi Isa a.s. tidak lagi hidup.

Tentu saja Hazrat Ahmad a.s. tidak melepaskan kesempatan untuk membuktikan bahwa nabi Isa a.s. telah wafat. Maka beliau menerbitkan Itmamul Hujja yang menangkis semua argumentasi Maulvi Rusul Baba serta secara konklusif membuktikan bahwa nabi Isa a.s. sudah tidak ada lagi.

Beliau meminta Rusul Baba untuk menitipkan uang 1.000 rupee itu pada tiga orang yang akan menjadi hakim. Beliau bahkan tidak keberatan jika salah satunya adalah orang yang sangat memusuhi beliau seperti Maulvi Mohammad Hussain sebagai pemutus siapa yang benar antara beliau dengan Rusul Baba. Namun dengan syarat bahwa mereka harus bersumpah demi Allah s.w.t. akan memberikan putusan tidak memihak dan kalau tidak demikian maka kutukan Tuhan akan turun padanya.

Buku Itmamul Hujja dikirimkan dengan pos tercatat kepada Dewan Kota Amritsar, kepada Maulvi Mohammad Hussain dan kepada Maulvi Rusul Baba, namun tak ada seorang pun yang menanggapi.

Rusul Baba termasuk salah seorang musuh paling keras dari Hazrat Ahmad a.s. Ia meninggal tanggal 8 Desember 1902 karena wabah pes.

20 Karamatus Sadiqeen

(Mukjizat Kebenaran)

Dalam bulan Januari 1893 Maulvi Mohammad Hussain menerbitkan artikel dalam surat kabarnya Ishaatus Sunna yang menyatakan bahwa Hazrat Ahmad a.s. tidak menguasai bahasa Arab dan bahwa beliau tidak mengerti terjemah dan tafsir Al-Qur’an sehingga karenanya tidak berhak mendapatkan bantuan samawi. Ia menyebut beliau sebagai pendusta dan dajjal.

Hazrat Ahmad a.s. meminta Maulvi Mohammad Hussain untuk sembarang menunjuk surah mana dalam Al-Qur’an untuk diberikan tafsirnya dalam bahasa Arab serta di akhir tafsir tersebut ditambahkan syair 100 bait yang memuji Muhammad Rasulullah s.a.w. Beliau juga menambahkan bahwa ia boleh meminta bantuan orang lain termasuk gurunya Nazir Hussain.

Maulvi Mohammad Hussain menyatakan siap melakukannya tetapi nyatanya tidak melakukan suatu apa pun. Kebisuannya sebenarnya menggambarkan bahwa ia tidak sanggup memenuhi tantangan tersebut. Melihat situasi demikian Hazrat Ahmad a.s. menulis Karamatus Sadiqeen yang ditulis dalam bahasa Arab. Buku ini berisi juga empat syair pujaan dan tafsir surah AlFatiha.

21 Jang-i-Muqaddas

(Perang Suci)

Jang-i-Muqaddas adalah perdebatan di antara Hazrat Ahmad a.s. sebagai wakil umat Muslim melawan Abdulla Atham yang mewakili umat Kristiani. Perdebatan dimulai tanggal 22 Mei 1893 dan berlanjut sampai 5 Juni 1893. Sesi tersebut diketuai oleh seorang Muslim yaitu Ghulam Qadir Fasih dan seorang Kristiani, pendeta Dr. Henry Martin Clarke.

Pokok bahasan dalam perdebatan tersebut adalah masalah keilahian nabi Isa a.s. Dari pihak Muslim semua berkas makalah ditulis dan disiapkan oleh Hazrat Ahmad a.s., sedangkan dari pihak Kristiani disiapkan oleh Abdulla Atham, kecuali pada hari ia sedang sakit dimana ia digantikan oleh pendeta Dr. Henry Martin Clarke. Pada hari itu Dr. Henry Martin Clarke digantikan pula oleh wakil ketua dari pihak Kristiani yang bernama Ihsanullah.

Dr. Henry Martin Clarke adalah misioner Kristen di Amritsar. Ia merambah juga ke daerah berdekatan lain seperti Jandiyalla. Seorang Muslim bernama Mian Mohammad Baksh merasa terpanggil untuk membela Islam. Ia juga memberikan pengarahan kepada beberapa Muslim lainnya bagaimana mempertahankan Islam terhadap serangan umat Kristiani. Di Jandiyalla itulah bermula perdebatan antara pengikut Kristen dan umat Islam.

Dr. Henry Martin Clarke diberitahukan mengenai situasi tersebut dan ia mengirim surat kepada Mian Mohammad Baksh sebagai perwakilan umat Muslim. Dalam surat itu Dr. Henry Martin Clarke menyatakan bahwa Mian Mohammad Baksh boleh memanggil Muslim siapa saja untuk datang dan berdebat. Mian Mohammad Baksh sebenarnya tidak terlalu menguasai ilmu teologi (keagamaan) dan karena itu ia menyurati Hazrat Ahmad a.s. agar datang membantu umat Muslim di Jandiyalla. Hazrat Ahmad a.s langsung menyetujui. Beliau menulis surat langsung kepada Dr. Henry Martin Clarke. Yang bersangkutan keberatan menghadapi Hazrat Ahmad a.s. dan menulis jawaban bahwa ia menantang umat Muslim di Jandiyalla dan bukan beliau yang dituju. Ia juga berusaha menghindari pertemuan konfrontal dengan Hazrat Ahmad a.s. dengan berkilah bahwa:

Hazrat Ahmad tidak dianggap sebagai seorang Muslim dan karena itu beliau tidak bisa mewakili mereka (umat Muslim).

Membalas surat tersebut Mian Mohammad Baksh menyurati pendeta itu bahwa apa pun perbedaan pendapat yang ada, ia menganggap Hazrat Ahmad a.s. sebagai seorang Muslim dan karena itu beliau ditunjuk guna mewakili umat.

Perdebatan sebagaimana dinyatakan di atas, berlangsung dari tanggal 22 Mei sampai 5 Juni 1893. Pelaksanaan dilakukan di rumah pendeta Dr. Henry Martin Clarke. Semua makalah yang ditulis dan disiapkan kedua pihak ditandatangani oleh wakil ketua rapat.

Pada suatu hari (tanggal 26 Mei 1893) perwakilan Kristen mengajukan tiga orang yaitu seorang buta, seorang lumpuh dan seorang bisu tuli. Mereka meminta Hazrat Ahmad a.s. untuk menyembuhkan mereka. Umat Kristiani merasa bahwa ini adalah kunci keberhasilan mereka namun ternyata malah menjadi bumerang bagi mereka. Hazrat Ahmad a.s. mengemukakan bahwa beliau tidak perlu menunjukkan suatu mukjizat apa pun karena menurut beliau bukan itu juga yang dilakukan oleh nabi Isa a.s. pada zaman dahulu. Namun sepatutnya mereka dari umat Kristiani yang seharusnya menunjukkan mukjizat tersebut kalau saja mereka memang memiliki sedikit keimanan. Nabi Isa a.s. telah menyatakan bahwa jika kamu memiliki keimanan maka kamu dapat mengusir roh jahat dan kamu akan bisa menyembuhkan yang sakit. Begitu perwakilan Kristiani mendengar ini mereka lalu menyingkirkan ketiga orang tersebut secara diam-diam.

Dalam makalahnya yang terakhir (tanggal 5 Juni 1893), Hazrat Ahmad a.s. mengemukakan bahwa Allah s.w.t. telah menyampaikan kepada beliau sebagai jawaban atas doa khusuk beliau pada malam sebelumnya bahwa siapa pun di antara kedua belah pihak jika secara sengaja menyampaikan kedustaan dengan menyembah seorang makhluk biasa sebagai Tuhan dan meninggalkan Tuhan yang sebenarnya maka yang bersangkutan akan masuk neraka dalam kurun waktu limabelas bulan (sejalan dengan sebulan untuk setiap hari perdebatan) dan ia akan sangat dihinakan. Ia akan diselamatkan jika ia beralih kepada kebenaran. Adapun mereka yang berada di pihak yang benar dan menyembah hanya Tuhan yang benar maka ia akan dimuliakan.

Hazrat Ahmad a.s. selanjutnya menyatakan bahwa ketika nubuwatan ini nanti terjadi maka yang buta akan melihat, yang lumpuh akan berjalan dan yang tuli akan mendengar

22 Sirrul Khilafa

(Rahasia Khilafat)

Dalam Sirrul Khilafa yang disusun dalam bahasa Arab dan diterbitkan tahun 1894, Hazrat Ahmad a.s. membahas tentang perbedaan yang ada antara kaum Sunni dan kaum Shiah mengenai masalah khilafat setelah Rasulullah s.a.w.

Beliau mengemukakan bukti yang amat meyakinkan bahwa walaupun Hazrat Abu Bakar r.a., Hazrat Umar r.a., Hazrat Usman r.a. dan Hazrat Ali r.a. kesemuanya adalah khalifah yang memperoleh petunjuk, namun Hazrat Abu Bakar r.a. adalah yang terbaik dari antara mereka dimana beliau seumpama Adam kedua bagi agama Islam. Beliau mengungkapkan bahwa kenyataannya Hazrat Abu Bakar r.a. merupakan pemenuhan dari ayat dalam Al-Qur’an yang mengulas tentang para khalifah.

Beliau membahas keberatan yang diutarakan kaum Shiah atas ketiga orang khalifah pertama tadi dan beliau memberikan penjelasan panjang lebar mengenai hal tersebut. Beliau menantang mereka yang berbeda pandangannya tentang hal ini dalam tarung doa (mubahala) dimana jika dari hasil mubahala tersebut beliau kalah maka beliau akan mengakui bahwa beliau pendusta disamping beliau akan membayar 5.000 rupee. Ternyata tidak ada seorang pun yang berani maju.

Beliau juga menjelaskan kabar ghaib tentang kedatangan Imam Mahdi dimana diberikan bukti-bukti kepada para pembacanya bahwa yang dimaksud adalah diri beliau sendiri.

Alasan mengapa buku ini ditulis dalam bahasa Arab adalah untuk menunjukkan kehampaan pengakuan Maulvi Mohammad Hussain dan lain-lainnya sebagai orang terpelajar. Mereka diberikan waktu duapuluhtujuh hari untuk menulis buku jenis yang sama dan mereka dijanjikan hadiah 27 rupee (satu rupee per hari). Tidak ada seorang pun yang maju menanggapi tantangan tersebut sehingga umat kemudian bisa mengambil kesimpulan akan kebodohan mereka dan ketidakmampuan mereka melakukan apa yang telah dikerjakan Hazrat Ahmad a.s. dengan bantuan Allah s.w.t.

Di bab pertama Hazrat Ahmad a.s. mengulas masalah khilafat secara umum dan membuktikan bahwa Hazrat Abu Bakar r.a., Hazrat Umar r.a. dan Hazrat Usman r.a. tanpa diragukan lagi adalah para khalifah yang mendapat petunjuk. Beliau membantah sekeras-kerasnya pendapat kaum Shiah yang menyatakan bahwa ketiga khalifah pertama adalah penyerobot jabatan. Beliau juga meyakinkan pembacanya bahwa pada saat itu tidak ada orang lain yang lebih berhak menduduki jabatan khalifah. Beliau mengutip ayat Al-Qur’an (yang menyebutkan Layastakh lifannahum) dan beliau juga mengutip Hadist-hadist untuk memperkuat argumentasi beliau.

Pada bab kedua beliau menggiring perhatian pembacanya pada kedatangan Imam Mahdi yang beliau juluki Adam dari umat Muslim dan Khatam dari para Imam. Beliau mengajak mereka melihat kondisi zaman dan mengemukakan apakah bukan sudah saatnya Imam Mahdi muncul untuk memperbaiki dunia. Beliau mengutarakan bahwa beliaulah Mahdi yang dijanjikan serta mengapa beliau disebut juga nabi Isa.

Bagian utama buku ditulis dalam bahasa Arab dengan tambahan sebuah pernyataan dalam bahasa Urdu. Pernyataan ini berkaitan dengan tantangan yang dilontarkan beliau kepada Maulvi Mohammad Hussain dan lain-lainnya diikuti dengan janji hadiah yang menarik.

Pada bagian akhir buku Hazrat Ahmad a.s. menyampaikan sebuah surat kepada para kaum terpelajar agar mereka tidak menghakimi beliau secara tergesa-gesa. Beliau menyatakan bahwa beliau disebut nabi Isa melalui wahyu dan adalah tidak mungkin bagi beliau untuk mengabaikan atau mundur setelah mendengar ini dari Allah s.w.t. sendiri. Beliau menyesali para musuh-musuh beliau yang tidak mau mempedomani Al-Qur’an dan Hadist serta mereka telah menyimpang dari jalan yang benar.

Beliau mengingatkan umat pada kenyataan bahwa walaupun musuh-musuhnya membuat berbagai macam rencana guna menjatuhkan beliau, nyatanya adalah beliau yang diberi keselamatan dan keamanan sedangkan para musuh beliau menjadi orang-orang yang menderita. Beliau juga menunjukkan kesalahan orang banyak yang beranggapan bahwa ketika malaikat turun ke bumi maka posisi mereka di langit menjadi kosong seolah-olah mereka datang dengan tubuh jasmani. Beliau membantah pandangan demikian dan menjelaskan bagaimana cara kerja malaikat yang menggunakan pengaruh dan dampak. Beliau meminta mereka untuk menggunakan akal sehat karena kecantikan daripada agama Islam itu adalah karena sejalan dengan fitrat kita.

Beliau berdoa agar Allah s.w.t. memberikan keridhoan-Nya karena beliau selalu mengikuti Rasulullah s.a.w.

23 Anwarul Islam

(Cahaya Islam)

Saat perdebatan dengan Abdulla Atham, Hazrat Ahmad a.s. menyampaikan kabar ghaib bahwa Atham akan masuk neraka dalam kurun waktu limabelas bulan, kecuali ia berbalik kepada kebenaran. Limabelas bulan telah berlalu dan ternyata Atham masih tetap hidup. Akibatnya umat Kristiani bersorak sorai dan berpawai untuk merayakan kemenangan agama Kristen atas agama Islam. Pawai itu dilaksanakan tanggal 6 Desember 1894. Surat kabar mereka Noor Afshan menulis:

‘Mirza Sahib tidak menjadikan hal beliau sebagai penerima wahyu dan pelaku Al-Masih yang dijanjikan dalam perdebatan itu sebagai suatu pokok masalah. Pokok permasalahan sebenarnya yang beliau harus tunjukkan adalah bahwa agama Muhammad itu benar dan Al-Qur’an adalah buku dari Allah serta menafikan ajaran Kristiani. Kabar ghaib yang beliau sampaikan di akhir perdebatan adalah untuk membuktikan bahwa ajaran Muhammad itu benar dan berasal dari Tuhan.’

Pada waktu itu beberapa ulama Muslim secara tidak tahu malu malah bergabung dengan umat Kristiani ikut merayakannya. Mereka mencemoohkan Hazrat Ahmad a.s. tentang tidak terpenuhinya nubuwatan beliau. Mereka bahkan mencaci-maki beliau. Ketika mereka ini sudah keterlaluan sekali, Hazrat Ahmad a.s. menanggapi mereka dengan mengatakan:

Beberapa orang Muslim yang kurang keimanannya dan sepantasnya disebut sebagai semi Kristen menunjukkan kegembiraan luar biasa karena Abdulla Atham tidak meninggal dalam kurun waktu limabelas bulan. Begitu gembiranya mereka sehingga mereka tidak dapat menahan diri lagi. Mereka menerbitkan beberapa selebaran yang sebagaimana biasa berisi caci maki. Karena kedengkian mereka terhadap diriku maka mereka telah juga menyerang agama Islam, karena harus diingat tujuanku mengadakan perdebatan adalah guna menjunjung dan mendukung agama Islam dan bukan semata untuk membuktikan pengakuanku sebagai Masih Maud. Apa pun anggapan mereka terhadapku, apakah kafir, Syaitan, Dajjal, namun inti perdebatan adalah mengenai kebenaran Rasulullah s.a.w. serta Al-Qur’an.

Selanjutnya Hazrat Ahmad a.s. menulis dan menerbitkan Anwarul Islam pada tanggal 7 September 1894 untuk menjelaskan mengenai pemenuhan kabar ghaib. Kematian Atham dikaitkan dengan persyaratan kalau yang bersangkutan tidak kembali kepada kebenaran. Hazrat Ahmad a.s. menguraikan berbagai bukti yang menunjukkan bahwa Atham sebenarnya terpesona dan ketakutan akan kabar ghaib itu sehingga dalam hati kecilnya sebenarnya ia menerima kebenaran Islam.

Hazrat Ahmad a.s. juga menerbitkan empat buah selebaran yang menawarkan hadiah (1.000 rupee di selebaran pertama, 2.000 rupee di selebaran kedua, 3.000 rupee di selebaran ketiga dan 4.000 rupee di selebaran keempat) ditujukan kepada Abdulla Atham agar yang bersangkutan berani bersumpah demi Tuhan bahwa ia tidak takut akan kabar ghaib tersebut dan bahwa ia tidak tergugah hatinya pada agama Islam. Atham tidak menjawab tantangan tersebut sehingga terbukti kepada dunia bahwa kabar ghaib tersebut telah terpenuhi.

24 Nurul Haq

(Cahaya Kebenaran)

Ketika umat Kristiani menyadari kekalahan besar mereka dalam perdebatan antara Abdulla Atham dengan Hazrat Ahmad a.s. dimana seolah telah patah punggung mereka, salah seorang pendeta mereka yang tadinya beragama Islam yaitu Imadud Din menerbitkan sebuah buku berjudul Tauzinul Aqwal. Isi buku ini sangat kotor dan sangat menghasut begitu rupa sehingga suratkabar-suratkabar Hindu dan sebuah terbitan Kristen menyatakan buku itu amat menyakiti hati orang. Mereka bahkan mengatakan bahwa kalau sampai ada kerusuhan lagi seperti yang terjadi tahun 1857 maka hal itu akan disebabkan oleh tulisan orang tersebut.

Dalam bukunya Imadud Din mencela gaya penulisan Al-Qur’an serta mencaci maki Rasulullah s.a.w. Buku tersebut penuh dengan tuduhan-tuduhan jahat terhadap diri suci Rasulullah s.a.w. serta menghasut pemerintah untuk menindak Hazrat Aahmad a.s. dengan mengatakan bahwa beliau mau menggulingkan pemerintahan yang sah. Ia melancarkan tuduhan bahwa Hazrat Ahmad a.s. menciptakan kerusuhan dan keonaran di dalam negeri dan bahwa beliau tidak kurang adalah seorang pengkhianat. Ia juga menyinggung tentang ‘Jihad dalam Islam’ dimana ia mengatakan ‘Kalau yang bersangkutan (Hazrat Ahmad a.s.) memiliki kekuasaan maka ia tidak akan ragu-ragu pasti melancarkan jihad terhadap pemerintah.’

Buku Nurul Haq ditulis untuk menjawab buku Imadud Din tersebut. Hazrat Ahmad a.s. menjelaskan mengenai keimanan beliau mengenai agama Islam serta membuka kedok mereka yang telah menyebut beliau sebagai kafir. Beliau berbicara mengenai para ulama yang telah tersesat dan tidak menghiraukan sama sekali akan serangan-serangan yang ditujukan kepada agama Islam. Beliau mengungkapkan bahwa begitu beliau menyadari bagaimana umat Muslim telah tersesat, beliau telah menuntun mereka kembali. Tentang bagaimana tanggapan mereka di berbagai tempat, sebagian bergabung dengan beliau sedangkan yang lainnya mengkafirkan beliau tanpa memahami apa arti kata kufr sebenarnya. Beliau menyeru umat Muslim dengan kata-kata:

‘Wahai kalian umat Muslim, berlarilah kamu ke Tuhanmu. Terdapat berbagai kekacauan dan keonaran di sekeliling kalian dan karena itu kalian harus berlaku sedemikian rupa untuk menarik keridhoan Allah s.w.t. Wahai umat, murnikanlah dirimu dan bersihkan isi dadamu. Jangan kalian menyukai bangkai dan lemak makhluk mati dan jangan sampai anjing-anjing menarik kalian kepada hal itu. Kalau kalian akan mati, matilah sebagai Muslim dan jangan kamu mau menerima keadaan lain daripada itu.’

Kemudian di bawah judul ‘Pengumuman’ beliau mencoba menarik perhatian pemerintah (Ratu Inggris) mengenai bahasa kasar daripada orang yang telah menyakiti beliau itu. Beliau membahas mengenai penulis Tauzinul Aqwal tentang bagaimana kasar dan kejamnya penulis itu. Beliau juga membantah bahwa beliau berniat menggulingkan pemerintahan. Beliau meyakinkan Ratu bahwa beliau selalu setia karena beliau beranggapan bahwa pemerintah telah bersikap adil dan mengasihi rakyat negeri. Beliau menyinggung masalah kebebasan beragama dan mengatakan bahwa siapa pun yang hirau akan agamanya pasti akan berterima kasih pada bentuk pemerintah yang demikian.

Beliau mengatakan bahwa dalam kasyafnya beliau sering bertemu dengan nabi Isa a.s. dan bahkan makan bersama. Ketika nabi Isa a.s. ditanyakan mengenai kondisi agama Kristen pada masa kini maka beliau terkejut dan tidak menyukainya. Nabi Isa a.s. lalu berbicara mengenai kebesaran Allah s.w.t. dan menyatakan kerendahan hatinya.

Hazrat Ahmad a.s. kemudian membahas satu per satu tuduhan yang dilontarkan kepadanya serta menyangkalnya. Beliau juga menyatakan kehampaan doktrin ketuhanan dan putra tuhan dari nabi Isa a.s. Beliau menyampaikan bahwa ‘Tuhan’ mereka telah wafat dan mereka hanya menyembah tulang-tulang tua yang telah membusuk sedangkan di lain pihak me reka mencemoohkan beliau yang keruhaniannya hidup dan akan tetap hidup sampai akhir kiamat.

Menyangkut keunggulah gaya Al-Qur’an yang dicemoohkan oleh penulis Tauzinul Aqwal, beliau mengatakan bahwa beliau adalah hamba dari Rasulullah s.a.w. dan kalau ada yang ingin berbicara mengenai gaya penulisan Al-Qur’an, silakan diadu dengan tulisan-tulisan beliau. Beliau melemparkan tantangan kepada penulis itu dan teman-temannya untuk menulis buku seperti Nurul Haq dengan janji hadiah 5.000 rupee.

Beliau mengutarakan sebabnya Nurul Haq ditulis dalam bahasa Arab karena ini merupakan tantangan kepada Imadud Din dan orang Kristen lainnya yang menganggap dirinya ulama serta menyombongkan pengetahuannya. Beliau memberikan waktu dua bulan guna menyiapkan publikasi yang berisi prosa dan syair seperti dicontohkan dalam buku beliau. Kalau mereka sanggup akan disediakan hadiah 5.000 rupee.

Beliau menyatakan bahwa mereka tidak akan sanggup menerima tantangan tersebut dan jika setelah kekalahannya itu mereka tidak juga menghentikan cercaan mereka terhadap Rasulullah s.a.w. maka beliau akan memberi mereka seribu kutukan dan beliau mengajak para pembacanya untuk juga mengutuk Imadud Din dan kawan-kawannya.

Pada bagian akhir bukunya Hazrat Ahmad a.s. mengutarakan doa kepada allah s.w.t.:

‘Ya Allah, bukankah aku datang daripada-Mu? Lihatlah bagaimana kerasnya gerakan yang mengutuk dan mengkafirkan aku. Putuskanlah dari antara kami dengan adil dan kebenaran karena Engkaulah sebaik-baiknya yang mengadili. Ya Allah kirimkanlah bantuan-Mu dari surga untuk membantu hamba-Mu yang kesulitan ini. Aku ini lemah dan hina dan umatku telah meninggalkan aku dan mereka telah menuduhku. Ya Allah tolonglah aku sebagaimana Engkau menolong nabi-Mu Rasulullah s.a.w. pada saat perang Badar serta lindungilah kami ya Allah karena Engkau sebaik-baiknya pelindung. Sesungguhnya Engkaulah Tuhan yang Maha Pengasih dan adalah menjadi fitrat-Mu sebagai pengasih. Berikanlah kami sedikit kasih-Mu dan hujanilah kami dengan pertolongan-Mu, kasihanilah kami, tengoklah kami karena Engkau sebaik-baiknya yang mengasihi.’

Dalam waktu sebulan setelah doa tersebut terjadilah gerhana matahari dan rembulan sebagaimana dinubuwatkan oleh Rasulullah s.a.w. Kejadian ini merupakan tanda keajaiban dan merupakan bantuan Allah s.w.t. kepada Hazrat Ahmad a.s. sebagaimana permintaan beliau kepada-Nya.

Ketika terjadi gerhana matahari dan rembulan sebagaimana nubuwatan Rasulullah s.a.w., para ulama bukannya menjadi sadar malah tambah memusuhi beliau dibanding sebelumnya. Mereka menyatakan bahwa Hadist tentang gerhana itu sifatnya daif sehingga tidak boleh dipedomani. Mereka juga menyatakan bahwa gerhana itu terjadinya tidak sesuai dengan makna yang tercantum dalam Hadist.

Di bagian kedua bukunya ini Hazrat Ahmad a.s. menjelaskan kesahihan Hadist dimaksud dan mementahkan keberatan para ulama tadi.

Kedua bagian buku Nurul Haq ini ditulis dalam bahasa Arab dan diterbitkan pada tahun 1894.

25 Minanur Rahman

(Karunia Tuhan yang Maha Pengasih)

Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa ketika melihat bagaimana para ulama Muslim tidak mengacuhkan apa yang terjadi di sekitar mereka sedangkan para musuh Islam sedang berusaha keras menghapuskan agama Islam dari muka bumi, beliau berdoa dengan tekun kepada Allah s.w.t. agar Dia mengirimkan bantuan-Nya, menghibur diri beliau dan membantunya melakukan apa yang harus dikerjakan guna memenangkan agama Islam.

Beliau mengatakan bahwa doa beliau didengar Allah s.w.t. Suatu saat ketika beliau sedang membaca Al-Qur’an dan sedang merenungi artinya, penglihatan beliau tertarik pada ayat ‘Wa kazalika auhaina ilaika Quranan Arabiyyal-li tunzira ummul Qura wa man haulaha.’ Ayat ini seolah berpendar di mata beliau dan beliau merasakan ayat tersebut merupakan kekayaan pengetahuan dan rahasia keruhanian. Beliau begitu gembira dan meneriakkan ‘Alhamdu lillah.’

Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa menjadi jelas bagi beliau jika ayat tersebut menunjukkan keunggulan bahasa Arab dan bahwa bahasa Arab adalah ibu segala bahasa sedangkan Al-Qur’an adalah ibu segala kitab suci sebelumnya, dan Mekah adalah ibu dari segala negeri. Adalah thema ini yang dikumandangkan Hazrat Ahmad a.s. dalam buku Minanur Rahman. Beliau merencanakan buku tersebut diterbitkan dalam bulan Desember 1895 namun karena satu dan lain sebab ternyata tidak terbit dalam masa hayat beliau. Buku itu baru dicetak tahun 1915.

26 Zia ul Haq

(Cahaya Kebenaran)

Thema buku ini mirip dengan Anwarul Islam dan dimaksudkan sebagai bagian dari buku Minanur Rahman. Hanya saja karena adanya artikel dalam harian Noor Afshan (harian Kristen) yang berkaitan dengan kabar ghaib tentang Abdulla Atham maka dirasa tidak bisa menunda lagi penerbitannya. Karena itu Zia ul Haq yang seharusnya jadi bagian dari Minanur Rahman kemudian dicetak terpisah.

Buku ini diterbitkan tahun 1895. Di dalamnya Hazrat Ahmad a.s. menjelaskan tentang empat selebaran yang dikeluarkan beliau agar Abdulla Atham mau bersumpah demi Tuhan bahwa ia tidak menganggap Islam itu benar. Beliau menyayangkan para pendeta Kristen yang tidak membaca teliti selebaran dimaksud dan masih saja mencemoohkan tentang kabar ghaib yang tidak terpenuhi. Beliau menjelaskan secara rinci susunan kata dalam kabar ghaib tadi serta maknanya. Hazrat Ahmad a.s. mengutip contoh-contoh yang menyatakan bahwa Abdulla Atham terpesona dan ketakutan, serta di dalam hati kecilnya ia mulai mempercayai kebenaran agama Islam.

27 Sath-Bachan

(Perkataan yang benar)

Hazrat Ahmad a.s. mengutarakan bahwa beliau menulis buku ini untuk menangkal tuduhan-tuduhan yang dilancarkan kaum Arya terhadap Baba Nanak, seorang suci yang selalu berkata dan berlaku benar. Bantahan tersebut dimaksudkan agar kaum Arya memahami siapa sebenarnya Baba Nanak dan agar mengikuti langkahnya.

Tujuan lain dari penulisan buku tersebut adalah untuk menunjukkan kepada umat bahwa sebenarnya dari perkataan dan tindakannya, Baba Nanak itu seorang Muslim. Dia menolak kitab Veda serta menganut kepercayaan dan cara hidup Muslim.

Dalam syair yang dikarang Baba Nanak dijelaskan bahwa keselamatan manusia hanya mungkin dicapai dengan meyakini pernyataan Islam ‘La ilaha illallahu Muhammadur Rasululullah.’ Dia melakukan baiat di tangan orang suci Muslim dan menghabiskan waktunya berdoa kepada Allah s.w.t.di makam-makam orang suci Muslim. Dia melaksanakan ibadah haji dua kali dan kain bersulam yang ditinggalkannya adalah bukti murni bahwa dia adalah seorang Muslim karena dipenuhi tulisan-tulisan bernuansa agama Islam.

Meskipun kaum Sikhs yang mengaku sebagai penganut Baba Nanak tidak menyukai konsep pemikiran bahwa tokoh itu seorang Muslim, Hazrat Ahmad a.s. membahasnya dari sudut buku -buku mereka sendiri. Dalam buku ini beliau memberikan paparan sejarah kain bersulam itu serta kisah persinggahan Baba Nanak di berbagai tempat yang dikramatkan bagi orang-orang suci Muslim. Beliau juga mengungkapkan bahwa beliau bukan satu-satunya yang menyatakan bahwa Baba Nanak adalah seorang Muslim karena ada beberapa orang lain yang berpandangan sama seperti yang dikutipkan dari Dictionary of Islam karangan Hughes.

Selanjutnya beliau menjelaskan tentang kriteria agama yang sejalan dengan fitrat manusia. Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa kemerdekaan beragama sebagaimana diberikan oleh pemerintah Inggris di India merupakan rahmat kebebasan dalam usaha membandingkan berbagai agama guna mencari mana yang benar. Beliau mengutarakan bahwa kesempatan yang ada untuk menyiarkan agama Islam saat ini bahkan tidak terdapat pada masa pemerintahan raja-raja sebelumnya. Beliau juga memuji mesin percetakan yang telah sangat memudahkan penyampaian pesan kepada banyak orang.

Kemudian Hazrat Ahmad a.s. mengulas agama Arya, Kristen dan Islam serta memberikan rincian pokok ajaran ketiga agama itu. Dalam pembahasan mengenai agama Islam beliau mengatakan bahwa ajaran-ajaran dalam agama ini amat sejalan dengan fitrat manusia. Beliau mengungkapkan mengenai keimanan akan Tuhan dan mengatakan bahwa kalau pun semua kitab suci musnah, manusia tetap dapat ‘menemui’ Tuhannya dalam alam sebagaimana Dia dipresentasikan oleh agama Islam. Setelah menguraikan rincian pokok ajaran ketiga agama beliau menyerahkan kepada para pembaca untuk menyimpulkan bahwa yang terbaik adalah agama Islam dan dimana sekarang ini merupakan satu-satunya agama yang diridhoi Allah s.w.t.

Beliau juga mengulas tentang Urap para Murid yang lebih dikenal dengan nama Urap Isa (Balm of Jesus). Beliau menyatakan bahwa itu adalah suatu bukti lain tentang masih hidupnya nabi Isa a.s. ketika diturunkan dari kayu salib dan urap ini dibubuhkan pada luka-lukanya.

28 Arya Dharm

(Agama Arya)

Sudah sejak lama para pendeta Kristen memusuhi Islam dan mereka menerbitkan berbagai buku yang kotor tentang wujud suci Rasulullah s.a.w. Kaum Arya di Qadian mengikuti jejak mereka dan menuduh Rasulullah s.a.w. melakukan tindakan-tindakan keji yang dipaparkan dalam selebaran-selebaran yang beredar luas. Hazrat Ahmad a.s. berkesimpulan bahwa selebaran-selebaran itu harus dijawab. Apalagi ketika pemuka kaum Arya yang bernama Pandit Dayanand menghimbau para pengikutnya untuk melaksanakan adat Nayog terhadap isteri-isteri, anak-anak perempuan dan menantu perempuan mereka. Hazrat Ahmad a.s. melakukan penelitian mendalam tentang adat Nayog dan beliau merasa terpanggil untuk membeberkan kejahilan itu secara terbuka, apalagi karena kaum Arya menyalahkan Islam berkaitan dengan masalah perceraian.

Adat Nayog pada intinya mengizinkan seorang wanita yang tidak mempunyai anak dari suaminya untuk bersetubuh dengan laki-laki lain agar memperoleh anak bagi suaminya itu. Rasanya tidak ada yang lebih menjijikkan daripada seorang suami yang memerintahkan isterinya untuk bersetubuh dengan orang lain agar menghasilkan anak baginya. Hazrat Ahmad a.s. mengungkapkan kejahilan itu dalam bukunya dan menyatakan betapa baiknya ajaran agama Islam.

Sebelum menutup bukunya beliau menyampaikan pernyataan kepada para pengikut berbagai agama. Di dalamnya beliau mengatakan bahwa tidaklah pantas membicarakan suatu agama dengan cara melukai perasaan pengikutnya sehingga harus berurusan dengan pemerintah karena keresahan yang ditimbulkannya. Beliau menyampaikan usulan bahwa:

  1. Tidak ada seorang pun yang boleh menuduh kitab suci agama lain tentang hal-hal yang terdapat juga dalam kitab sucinya sendiri.

  2. Jika ada yang telah menjelaskan nama-nama dari buku yang mereka hormati sebagai kitab suci mereka, maka yang lainnya tidak boleh merujuk pada buku lainnya. Rujukan hanya boleh ditujukan kepada buku-buku yang telah dinyatakan mereka sebagai kitab sucinya.

Hal ajaib yang terjadi ialah dimana mestinya usulan itu dapat menghentikan non Muslim menghina Rasulullah s.a.w. malah amat ditentang oleh para pemuka Muslim.

Usulan itu ditandatangani oleh lebih dari empatribu orang dan cukup banyak nama-nama mereka yang dicantumkan dalam buku tersebut. Usulan tersebut bertanggal 23 September 1895.

29 Islami Usul ki Filasafy

(Filsafat Ajaran Islam)

Buku ini sebenarnya merupakan bahan pidato pada Konperensi Keagamaan yang diadakan di Lahore (sekarang bagian dari Pakistan). Konperensi tersebut diselenggarakan oleh seorang Swami Hindu yang mengundang perwakilan dari berbagai agama yang ada guna menjelaskan pokok-pokok ajaran agama mereka masing-masing berkaitan dengan lima pokok pembahasan yaitu:

  1. Kondisi fisik, moral dan spiritual daripada manusia.

  2. Kehidupan setelah kematian.

  3. Tujuan hidup manusia di dunia dan bagaimana cara mencapainya.

  4. Apa dampak tindakan manusia pada kehidupan di dunia dan pada kehidupan akhirat.

  5. Perwujudan Tuhan dan bagaimana mengetahuinya serta apa yang menjadi sumber-sumbernya.

Konperensi itu diselenggarakan dari tanggal 26 Desember 1895 dan bahan pidato Hazrat Ahmad a.s. dibacakan oleh Hazrat Maulvi Abdul Karim, salah seorang sahabat karib beliau. Mengingat bahan pidato ini tidak selesai dibacakan dalam waktu yang tersedia, konperensi diperpanjang satu hari lagi agar bahan pidato itu bisa dibacakan keseluruhannya.

Setelah konperensi sejumlah besar harian suratkabar mengungkapkan kekagumannya akan pidato itu dan menyatakan bahwa pidato itu adalah yang terbaik. Hal tersebut telah diberitahukan terlebih dahulu oleh Allah s.w.t. kepada Hazrat Ahmad a.s. dan beliau menerbitkan sebuah selebaran mengenai hal itu. Sejak saat itu pidato tersebut telah dicetak ulang dalam bentuk buku dalam beberapa kali pencetakan serta dalam jumlah ribuan dimana salah satu edisi ada yang mencapai seratus ribu buku. Buku itu menjadi salah satu yang terkenal dalam literatur Ahmadiyah.

30 Nurul Qur’an I and II

Hazrat Ahmad a.s. ingin menerbitkan sebuah majalah kwartalan yang terbit tiap empat bulan. Nama majalah itu adalah Noorul Qur’an. Cetakan pertama diterbitkan Juni 1895 yang dimaksudkan untuk bulan Juni, Juli dan Agustus. Edisi kedua untuk bulan September, Oktober, Nopember, Desember 1895, Januari, Pebruari, Maret dan April 1896. Edisi pertama mengulas mengenai buku Minanur Rahman dan menguraikan dasar-dasar pemikiran mengapa bahasa Arab adalah ibu dari segala bahasa. Setelah itu menjelaskan mengenai tuntunan keimanan yaitu tentang keunggulan Al-Qur’an dimana beliau meminta para pengikut agama lainnya agar membuktikan bahwa kitab suci mereka memang berasal dari Tuhan.

Mengenai bukti bahwa Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah s.w.t. dan bahwa Rasulullah Muhammad s.a.w. adalah nabi yang benar, Hazrat Ahmad a.s. mengutip berbagai ayat Al-Qur’an dan membandingkannya dengan apa yang dikatakan oleh pengikut agama lain tentang kitab suci dan nabi-nabi mereka sendiri. Beliau juga mengulas mengenai masalah keselamatan dan bagaimana pendangan ajaran Islam mengenai hal itu sambil membandingkannya dengan apa yang diajarkan oleh agama Kristen tentang keselamatan dan pengampunan dosa. Beliau juga mengungkapkan bahwa asas Trinitas tidak disebut di dalam Injil sehingga tidak benar menyebutkannya sebagai ajaran murni Kristen.

Edisi kedua Noorul Qur’an berisi jawaban kepada seorang Kristen yang telah mengirim sebuah surat yang menghina Hazrat Ahmad a.s. serta menuduh Rasulullah s.a.w. telah melakukan perbuatan cabul. Jawaban beliau diberikan secara terinci dan menjelaskan keagungan dan kebesaran Rasulullah s.a.w. Tuduhan pengarang surat itu dijawab satu per satu dengan jawaban yang meyakinkan.

Dalam edisi tersebut Hazrat Ahmad a.s. juga menyinggung bagaimana usulan beliau kepada pemerintah agar sewajarnya tidak ada orang yang memburuk-burukkan agama apa pun di luar agamanya yang dianutnya sendiri malah ditolak oleh para ulama Muslim. Beliau menyebutkan nama-nama enam atau tujuh orang dari antaranya. Alasan mengapa usulan itu dikemukakan oleh Hazrat Ahmad a.s. karena beliau melihat banyak sekali buku dan brosur terbitan Kristen (serta agama lainnya) yang menyerang agama Islam dimana buku-buku ini sangat kotor sekali isinya. Literatur demikian akan bisa dikendalikan kalau pemerintah mau menerima usulan Hazrat Ahmad a.s. melalui sebuah undang-undang. Beliau menyatakan bahwa dengan menolak usulan tadi sebenarnya ulama-ulama Muslim itulah yang menjadi musuh Islam.

Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa keagungan agama Islam sangat menentang tindakan menghina agama lainnya. Namun nyatanya, jika buku yang menghina agama Islam dikumpulkan dalam bentuk suatu bukit maka tingginya tidak akan kurang dari 300 meter. Para musuh Islam tidak mau menghentikan kegiatannya. Setiap bulannya ribuan buku yang sangat menghina diterbitkan berbagai percetakan.

Hazrat Ahmad a.s. merasa sangat pedih atas sikap para ulama Islam yang mengacuhkan saja apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka. Beliau bertanya jika ibu-ibu atau bapak-bapak mereka dihinakan seperti hinaan yang dilontarkan kepada Rasulullah s.a.w. apakah mereka akan berdiam diri saja dan apakah mereka tidak akan meluap kemarahannya. Beliau bertanya ‘Mengapa mereka diam saja akan hinaan yang dilontarkan terhadap Rasulullah s.a.w.?’

Hazrat Ahmad a.s. kemudian mengulas sebuah surat lain dari penulis surat Kristiani tersebut dan memberikan tanggapan atas beberapa tuduhan tambahan yang dilontarkannya. Beliau mengungkapkan bagaimana kebohongan memang telah menjadi bahagian dari kehidupan umat Kristen sebagaimana dicontohkan dalam kebiasaan ‘April Mop’ (yang penuh kebohongan). Penulis surat Kristiani itu menyatakan bahwa hanya kitab Injil saja yang telah mengajarkan apa yang dimaksud dengan dosa sebenarnya. Hazrat Ahmad a.s. mengemukakan bahwa betapa anehnya Injil malah tidak ada menunjukkan apa yang dimaksud dengan memberikan jalan kebenaran dan kitab itu tidak menuntun manusia untuk melakukan hal-hal baik yang sangat penting bagi kehidupan di dunia maupun di akhirat.

31 Anjam-i-Atham

(Akhir Atham)

Abdulla Atham adalah sosok dengan siapa Hazrat Ahmad a.s. mengadakan perdebatan dimana pada akhir sesi beliau menyampaikan kabar ghaib bahwa siapa yang mengangkat seorang manusia sebagai Tuhan akan masuk neraka dalam kurun waktu limabelas bulan. Abdulla Atham tidak mati dalam kurun waktu tersebut. Umat Kristiani menganggap ini sebagai kemenangan agama mereka. Hazrat Ahmad a.s. segera memberikan klarifikasi tentang permasalahan tersebut.

Ketika kemudian Abdulla Atham meninggal pada tanggal 27 Juli 1896, Hazrat Ahmad a.s. kemudian menerbitkan buku Anjam-i-Atham tersebut. Buku ini sebenarnya terdiri dari empat booklet yaitu Anjam-i-Atham, Khuda-i-Faisla (keputusan Tuhan), Da’wat-iQaum (ajakan kepada bangsa) dan Maktoob-i-Arabi Banam Ulama (surat kepada para ulama dalam bahasa Arab) namun keseluruhan booklet itu dikenal sebagai Anjam-i-Atham.

Bagian pertama buku mengingatkan umat akan semua kabar ghaib yang telah disampaikan Hazrat Ahmad a.s. mengenai Atham. Beliau mengatakan dengan meninggalnya Abdulla Atham pada tanggal 27 Juli 1896 beliau ingin mengingatkan lagi umat tentang kabar ghaib bahwa jika Atham tidak mau maju kemuka bersumpah menyatakan bahwa ia tidak takut terhadap kabar ghaib itu dan tidak berpaling hatinya kepada Islam maka ia tidak akan dapat menikmati sisa hidupnya sebagaimana yang diharapkannya. Penolakan ajakan bersumpah itu akan mencabut nyawanya. Itulah yang telah terjadi menurut Hazrat Ahmad a.s.

Kemudian Hazrat Ahmad a.s. merujuk pada perdebatan itu dan meminta para pembaca agar memberikan bukti apa yang telah diberikan oleh Atham tentang asas ketuhanan nabi Isa a.s. Beliau mengutip berbagai kejadian yang jelas menunjukkan bagaimana Atham hidup dalam ketakutan selama limabelas bulan setelah perdebatan. Umat mungkin menganggap bahwa permasalahannya selesai dengan kematian Atham. Nyatanya tidak demikian.

Dalam buku ini Hazrat Ahmad a.s. mengungkapkan jika ada dari antara umat Kristiani yang meragukan ucapannya tentang ketakutan yang dialami Atham, agar mereka maju dan bersumpah atas nama Atham untuk menantang apa yang akan terjadi. Beliau menubuwatkan bawa orang itu akan mati dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.

Bagian kedua buku diberi judul ‘Keputusan Tuhan.’ Disitu ada gambar yang melukiskan Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Rohul Kudus dan Hazrat Ahmad a.s. menyebutnya sebagai Komite Tuhan-tuhan umat Kristen.

Pertimbangan mengapa beliau menulis bagian tersebut adalah karena umat Kristiani mengacuhkan saja permintaan yang ditujukan kepada mereka dan mereka tetap saja mencaci maki Rasulullah s.a.w. sehingga sudah saatnya harus ada keputusan dari Allah s.w.t. sendiri yang Maha Mengetahui dimana letaknya kebenaran. Beliau mengungkapkan bahwa beliau sangat menginginkan keputusan demikian dan kalau saja keputusan Tuhan tidak membenarkan beliau maka beliau bersedia melepaskan semua kekayaan beliau yang bernilai tidak kurang dari 10.000 rupee. Beliau juga akan menandatangani pernyataan bahwa agama Kristen telah menang dan beliau telah kalah. Ini adalah tarung doa (mubahala) yang diinginkan oleh Hazrat Ahmad a.s.

Bagian ketiga buku yaitu Da’wat-i-Qaum (ajakan kepada bangsa) juga merupakan tantangan tarung doa yang ditujukan kepada para ulama yang telah menyebut beliau kafir, kazzab (pendusta), dajjal dan penghuni neraka.

Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa mengingat kampanye mengkafirkan beliau itu bertambah keras setiap harinya dimana bukan hanya para ulama namun para Faqir dan kaum Sajjada Nashin pun telah ikut-ikutan maka sudah saatnya meminta keputusan Allah s.w.t. Dasar daripada tarung doa (mubahala) adalah karena beliau mengaku sebagai penerima wahyu serta penugasan dari Allah s.w.t. guna mereformasi dunia. Beliau mengutip beberapa wahyu yang beliau telah terima yang akan menjadikan jelas bagi para pembaca bukunya bahwa beliau memang telah diutus Tuhan.

Beliau mencantumkan sejumlah besar nama-nama ulama Muslim dan menekankan bahwa tidak ada seorang pun dari mereka itu yang akan hidup lebih dari jangka waktu satu tahun jika berani melawan beliau dalam tarung doa. Beliau mengemukakan bahwa jika satu saja yang bisa lolos dari jangka waktu tadi maka beliau akan menyatakan diri beliau sendiri sebagai pendusta.

Mubahala tersebut tidak pernah berlangsung karena tidak ada satu pun dari para ulama itu yang berani menerima tantangan tersebut.

Bagian berikut buku merupakan sebuah surat dalam bahasa Arab yang ditujukan kepada para ulama dan pemuka di India serta di negeri-negeri Islam lainnya. Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa surat itu ditujukan kepada mereka yang telah dikaruniai Allah s.w.t. dengan rahmat pengetahuan dan pemahaman. Surat itu dalam bahasa Arab dengan terjemahan juga dalam bahasa Parsi. Beliau menyatakan bahwa hal itu untuk memperluas ajakannya kepada lebih banyak orang karena disusun dalam bahasa yang digunakan umat Muslim. Beliau membuka himbauan beliau dengan pernyataan bahwa beliau diutus sebagai mujaddid guna menghidupkan kembali agama Islam, sejalan dengan nubuwatan Rasulullah s.a.w. yang mengatakan akan munculnya seorang mujaddid di awal setiap abad.

Beliau selanjutnya mengutip beberapa wahyu yang diturunkan Allah s.w.t. kepadanya dan menguraikan betapa banyak rahmat yang telah beliau terima dari-Nya. Selanjutnya beliau mengulas tentang wafatnya nabi Isa a.s. sambil memberikan bukti-bukti sehingga dapat disimpulkan adalah tidak mungkin jika nabi Isa a.s. akan kembali ke dunia dengan tubuh jasmaninya.

Beliau mengundang umat untuk datang dan tinggal bersama beliau serta menyakinkan mereka bahwa sinar kebenaran pengakuan beliau akan menerangi kalbu mereka dan mereka akan bisa melihat tanda-tanda samawi.

Dalam surat tersebut beliau juga mengungkapkan kegalauan yang ditimbulkan umat Kristiani sehingga sudah saatnya datang pertolongan Tuhan untuk mengamankan Islam terhadap serangan musuh-musuhnya.

Disini juga beliau mengatakan kepada para pembacanya akan kabar gembira yang telah beliau terima tentang kelahiran putra-putra beliau dan bagaimana kabar ghaib itu telah terpenuhi. Beliau merujuk pada kelahiran putra istimewa sebagai pemenuhan kabar ghaib yang beliau terima di Hoshiarpur.

Berikutnya beliau menjelaskan tentang propaganda jahat yang menuduh beliau sebagai musuh pemerintah. Beliau membantah propaganda itu dengan memberikan bukti-bukti dan meminta agar pemerintah memperhatikan hal itu. Selanjutnya adalah suplemen Anjam-i-Atham.

Buku ini merupakan pemenuhan nubuwatan Rasulullah s.a.w. yang menyatakan bahwa Masih Maud memiliki buku yang mencantumkan nama-nama tigaratus tigabelas sahabatnya. Dalam buku inilah beliau mengumumkan nama-nama sahabat beliau sebanyak tigaratus tigabelas orang.

Buku ini bertanggal 27 Januari 1897 dan beliau menutup buku dengan ucapan:

‘Wahai para ulama yang memusuhiku. Kalau kalian merasa ragu, datanglah dan tinggal bersamaku beberapa hari. Aku telah mencoba berbagai cara untuk menyampaikan kebenaran. Kalau kalian tidak dapat membuktikan bahwa aku ini dusta maka seharusnya kalian diam saja. Tanda-tanda dari Allah s.w.t turun bagaikan hujan deras. Apakah tidak ada dari antara kalian yang mau datang kepadaku dengan hati yang murni?

Seorang Pemberi Ingat telah datang ke dunia tetapi dunia tidak mau menerimanya. Namun Tuhan akan menerimanya dan akan membuktikan kebenarannya mengatasi serangan-serangan berat dari musuhnya. Damailah bagi mereka yang mencari kebenaran.’

32 Siraj-i-Munir

(Lampu yang Terang)

Siraj-i-Munir mengulas pemenuhan tigapuluhtujuh kabar ghaib berdasarkan wahyu yang diterima Hazrat Ahmad a.s. Kabar ghaib tentang Lekhram dan Abdulla Atham khusus dirinci secara detil. Di akhir buku Hazrat Ahmad a.s. menyertakan korespondensi beliau dengan seorang tokoh suci yaitu Ghulam Farid dari Chachran Sharif. Dalam suratnya kepada Hazrat Ahmad a.s. yang bersangkutan menunjukkan hormatnya kepada beliau.

Sebagai pengantar pada nubuwatan-nubuwatan yang dikemukakan dalam buku, Hazrat Ahmad a.s. menghimbau umat untuk merenungi masalah tersebut dan memutuskan sendiri apakah bantuan yang telah beliau terima dari Allah s.w.t. itu mungkin terwujud jika beliau itu pendusta. Beliau menyeru mereka agar menjaga diri mereka supaya tidak masuk dalam kelompok orang-orang yang melawan Tuhan karena mereka akan merugi. Beliau menekankan lagi kepada para pembaca bahwa tidak akan ada nabi setelah Muhammad Rasulullah s.a.w. kecuali seorang yang disebut Allah s.w.t. sebagai nabi ‘bayangan’ Rasulullah s.a.w.

Beliau meminta mereka memberikan bukti-bukti yang mendukung pandangan mereka bahwa beliau itu seorang kafir. Beliau mengatakan bahwa beliau tidak pernah menganggap rendah nabi-nabi lain dan beliau tidak pernah melanggar satu pun kaidah keimanan Islam. Lalu mengapa beliau disebut kafir?

Di halaman terakhir buku yang diterbitkan tahun 1897 itu, Hazrat Ahmad a.s. melampirkan pernyataan bahwa jika ada orang Kristen yang dapat membuktikan bahwa nabi Isa a.s. memiliki tanda-tanda sebagaimana telah dipertunjukkan beliau maka beliau akan memberi hadiah 1.000 rupee.

33 Istifta

(Meminta fatwa tentang masalah keagamaan)

Dengan matinya Lekhram sejalan dengan kabar ghaib Hazrat Ahmad a.s., kaum Arya berteriak-teriak dan mengeluarkan berbagai propaganda yang menuduh beliau terlibat dalam pembunuhan Lekhram. Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa beliau memaafkan mereka karena mereka tidak memahami tentang wahyu dari Tuhan dan hal pemenuhan nubuwatan-Nya. Kabar ghaib itu disiarkan tujuhbelas tahun sebelum terbunuhnya Lekhram dan telah terpenuhi sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi keraguan atasnya. Beliau menghimbau umat agar menyaksikan bagaimana kabar ghaib itu telah terlaksana. Untuk keperluan itu beliau menulis buku yang berjudul Istifta. Dalam buku ini beliau merinci kabar ghaib tentang Lekhram dan meminta para pembaca untuk merenunginya.

Beliau mengatakan bahwa menurut Al-Qur’an dan Injil, kriteria kebenaran seorang nabi ditentukan oleh pemenuhan nubuwatan yang disiarkannya dan atas dasar kriteria itulah umat menilai kebenaran pengakuannya. Beliau menyatakan bahwa sejak penerbitan Brahin-i-Ahmadiyya, beliau telah diberitahukan Tuhan bahwa ia akan menghadapi tiga cobaan besar yaitu:

  1. Kasus mengenai Abdulla Atham.

  2. Kekisruhan yang ditimbulkan oleh Maulvi Muhammad Hussain yang belum pernah terjadi dalam sejarah para ulama.

  3. Kekacauan yang ditimbulkan kaum Arya yang sebagian terbesar terkait dengan kegiatan Lekhram serta kematiannya di tangan orang yang tidak dikenal.

Di akhir buku yang dikarang dalam bahasa Arab dan diterbitkan dalam bulan Mei 1897 itu, Hazrat Ahmad a.s. menjelaskan akan menterjemahkan hal-hal di atas ke dalam bahasa Inggris untuk disebarkan di Eropah karena mereka (orang Eropah) memiliki keberanian lebih dalam mencari kebenaran.

34 Hujjatullah

(Bukti meyakinkan dari Tuhan)

Hazrat Ahmad a.s. merujuk pada beberapa buku beliau yang ditulis dalam bahasa Arab dan mengulas ketinggian mutunya. Namun meskipun buku-buku itu demikian tinggi mutunya, Maulvi Mohammad Hussain dari Batala mencoba sekuat tenaganya untuk mencegah orang membacanya. Seharusnya ia membuktikan dahulu bahwa ia memang termasuk orang terpelajar yang mampu membedakan tulisan orang lain sebelum bisa memberikan pembenaran tentang larangannya kepada umat untuk membaca buku-buku itu.

Hazrat Ahmad a.s. menyarankan sebuah metoda. Beliau mengatakan bahwa beliau akan mencampur beberapa tulisan beliau dengan tulisan seorang terpelajar Arab, lalu meminta Maulvi Mohammad Hussain untuk memilah-milahnya. Beliau menawarkan hadiah 50 rupee jika maulvi itu mampu melakukannya.

Beliau kemudian memberikan prosa dan syair yang ditantangkan kepada Maulvi Abdul Haq Ghaznavi dan kawan-kawannya agar mereka juga menerbitkan tulisan dengan standar yang sama. Prosa dan syair itu diterbitkan tanggal 17 Maret 1897 dan beliau memberikan mereka jangka waktu yang sama untuk menjawabnya.

35 Tohfa-i-Qaisariyya

(Anugerah bagi seorang Ratu)

Di awal tulisannya Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa surat ucapan selamat ini berasal dari seorang yang diutus ke dunia untuk menolong manusia dari tambahan-tambahan bid’ah yang telah masuk ke dalam agama sebagaimana dahulu dilakukan juga oleh Jesus a.s. dalam menghadapi umatnya. Surat ini berasal dari seseorang yang ingin mengemukakan kebenaran dalam damai dan kasih serta mengajar manusia untuk mencintai dan menyembah Penciptanya dan serta bagaimana patuh dan setia kepada Sri Ratu.

Surat berbentuk buku tersebut dipersembahkan kepada Ratu melalui pejabat kerajaan pada saat perayaan Jubilee Intan (limapuluh tahun sebagai ratu). Dalam buku itu Hazrat Ahmad a.s. mengemukakan pengakuan beliau dan mengatakan bahwa salah satu bukti pengakuannya adalah bahwa beliau diterima oleh orang banyak.

Hazrat Ahmad a.s. menjelaskan apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan Jihad Islam dan apa perbedaannya dengan anggapan umum. Dijelaskan juga mengenai posisi nabi Isa a.s. yang tidak seharusnya digolongkan sebagai orang terkutuk (karena mati disalib). Beliau menjelaskan apa itu agama Islam sehingga menjadi bentuk ajakan kepada Ratu agar bergabung dalam agama suci ini.

Beliau mengadakan pertemuan untuk mendoakan Ratu dimana doa untuk itu disusun dalam bahasa Urdu, Punjabi, Parsi, Arab dan Inggris.

36 Sirajud Din Isai Ke Char Savalon Ka Jawab

(Menjawab empat pertanyaan Sirajud Din)

Profesor Sirajud Din tadinya adalah seorang Muslim yang kemudian beralih agama menjadi Kristen. Suatu saat kemudian ia pergi ke Qadian dan tinggal bersama Hazrat Ahmad a.s. dimana ia kembali menjadi Muslim. Namun ketika ia kembali ke Lahore dari Qadian, ia kembali masuk Kristen dan menyusun empat buah pertanyaan yang dicetak dalam bentuk buku dan disebarkan kepada banyak orang. Pertanyaan yang diajukannya adalah:

  1. Menurut doktrin Kristen, Jesus datang ke dunia untuk mencintai manusia dan mengorbankan dirinya bagi mereka. Apakah pendiri Islam (Rasulullah s.a.w.) juga datang ke dunia dengan tujuan serupa, serta adakah kata-kata yang lebih bermakna dari kata Kasih dan Pengurbanan?

  2. Jika Islam bermaksud mengajak manusia kepada ke-Esaan Tuhan lalu mengapa penganut Islam di zaman awal memerangi umat Yahudi padahal kitab-kitab Yahudi selalu menekankan ke-Esaan Tuhan? Apa perlunya bagi umat Yahudi dan umat lainnya yang sudah meyakini monotheisme untuk masuk ke dalam Islam?

  3. Mana ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan mengenai kecintaan di antara manusia dan Tuhan, terutama ayat yang mengutarakan tentang kecintaan Tuhan kepada manusia?

  4. Jesus Kristus mengatakan tentang dirinya ‘Datanglah padaku engkau yang lelah dan tertekan agar aku bisa memberimu kelapangan dan aku adalah nur dan aku adalah jalan. Akulah kehidupan dan akulah kebenaran.’ Apakah pendiri Islam ada mengatakan kata-kata seperti ini atau yang serupa dengan itu?

Hazrat Ahmad a.s. menjawab semua pertanyaan tadi secara gamblang dan jelas serta ditambahkan bahwa lebih banyak lagi hal-hal yang lebih baik lagi bisa ditemui di dalam Islam. Buku ini merupakan karya agung mengenai kritik atas doktrin-doktrin Kristen. Di bagian akhir buku, beliau mengundang umat Kristen untuk memperlihatkan tanda-tanda sebagaimana yang telah beliau berikan yaitu bahwa Tuhan berbicara kepada mereka dan mendengar doa mereka. Beliau menegaskan bahwa mereka tidak akan dapat melakukannya karena hal-hal tersebut kini hanya mungkin melalui Islam dan sekarang ini tidak ada pintu lain yang terbuka. Hal itu membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah Perkataan Tuhan dan janji-janji yang dikemukakan Al-Qur’an adalah sama dengan janji-janji Tuhan.

37 Najmul Huda

(Bintang Petunjuk)

Buku ini ditulis dalam waktu satu hari dan diterbitkan tanggal 20 November 1898. Semula buku itu rencananya diterbitkan dalam empat bahasa yaitu Arab, Urdu, Parsi dan Inggris. Naskah awalnya dalam bahasa Arab dimana terjemahnya ke dalam bahasa Urdu dilakukan sendiri oleh Hazrat Ahmad a.s. Terjemahan ke dalam bahasa Parsi dilakukan oleh orang lain.

Sebelum sempat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, beliau memutuskan untuk segera mencetaknya. Jadi buku itu akhirnya diterbitkan tanpa edisi terjemahan bahasa Inggrisnya. Terjemah bahasa Inggris baru kemudian dilakukan setelah wafatnya Hazrat Ahmad a.s.

Pertimbangan yang mendasari penulisan buku itu sebagaimana dijelaskan Hazrat Ahmad a.s. adalah untuk memberikan buktibukti yang meyakinkan akan pengakuan beliau kepada mereka yang tidak mempercayai beliau. Beliau juga mengutarakan keprihatinan kepada umat Muslim yang lalai dan acuh karena adalah untuk kebaikan mereka sendiri jika mereka meyakini beliau.

Hazrat Ahmad a.s. menguraikan arti kata ‘Mohammad’ dan ‘Ahmad’ dan beliau dengan cantiknya menguraikan keagungan Rasulullah Muhammad s.a.w. sehingga pembaca dapat meyakini bahwa Rasulullah s.a.w. adalah sebaik-baiknya nabi. Beliau juga menjelaskan makna penugasan beliau untuk menghancurkan kejahatan Dajjal. Wahyu-wahyu yang beliau terima penuh dengan kabar ghaib tentang masa depan.

Adapun mengenai tanda-tanda yang mendukung pengakuannya, beliau merujuk pada gerhana matahari dan bulan dalam satu bulan Ramadhan. Begitu juga dengan kematian Lekhram yang merupakan bukti lain akan kebenaran kabar ghaib yang diterima beliau dari Allah s.w.t.

38 Zararatul Imam

(Kebutuhan akan seorang Imam)

Hazrat Ahmad a.s. memulai buku ini dengan merujuk pada sebuah Hadist yang mengatakan bahwa mereka yang tidak mengenali imam zamannya akan mati sebagai orang jahil. Hadist ini kiranya cukup bagi seorang yang takut akan Tuhannya untuk mencari siapa yang menjadi Imam dalam zamannya.

Beliau selanjutnya mengatakan bahwa arti kata Imam tidak berarti sembarang orang yang mendapat mimpi, kasyaf atau wahyu saja. Arti kata Imam masih lebih luas lagi dari pengertian tersebut karena yang membedakan adalah apakah namanya telah tersurat di langit sebagai seorang Imam dari zamannya. Ciri-ciri seorang Imam zaman adalah:

  1. Ia harus memiliki karakter yang menonjol kuat. Karena seorang Imam harus menghadapi orang-orang urakan dan bermental rendah maka ia harus memiliki moral tinggi yang menjadikannya dapat menahan amarahnya.

  2. Ia harus memiliki kemampuan Imamat yaitu ia harus memiliki kecenderungan untuk terus maju di jalan yang benar, mencari keridhoan Tuhan, pengagungan Tuhan dan lain-lain ciri seorang Imam.

  3. Ia harus memiliki dasar pengetahuan yang luas. Karena Imamat mengharuskan bahwa yang bersangkutan memiliki kecenderungan untuk terus maju di jalan yang benar maka ia harus mengendalikan semua kekuatannya untuk mencapai tujuan tersebut serta ia harus mensibukkan dirinya dengan doa agar Tuhan memberinya pengetahuan lebih.

  4. Ia haruslah seorang yang bersiteguh pendirian. Ia seharusnya tidak mengenal lelah atau pun putus asa serta tidak boleh mengendur dalam usahanya.

  5. Ia harus selalu meminta pertolongan Tuhannya. Apa pun tantangan yang dihadapinya, ia hanya bertumpu kepada Allah s.w.t. dan meminta pertolongan-Nya dan meyakini bahwa pertolongan itu akan datang.

  6. Ia harus sedemikian rupa sehingga Tuhan memberinya kasyaf dan wahyu. Terutama melalui wahyulah seorang Imam memperoleh pengetahuan spiritual dari Tuhannya.

Setelah menguraikan persyaratan seorang Imam zaman, lalu beliau menyatakan bahwa dirinyalah yang menjadi Imam zaman sekarang dan beliau telah memenuhi semua persyaratan di atas. Buku ini juga mencantumkan sebuah surat dari Maulvi Abdul Karim kepada salah sahabatnya. Tercantum juga catatan tentang pajak penghasilan dan sebuah tanda baru dari Tuhan.

39 Ayyamus Sulh

(Hari-hari Kedamaian)

Sebelum memulai buku ini Hazrat Ahmad a.s. telah menerbitkan sebuah maklumat kepada khalayak ramai. Dalam maklumat dijelaskan bahwa meskipun buku ini merupakan jawaban terhadap serangan-serangan umat Kristen namun beliau telah melakukannya dengan menggunakan kata-kata yang halus. Walaupun penerbitan Kristen berjudul Ummahatul Momineen telah membakar hati umat, Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa sepantasnya memang umat Muslim perlu membalas dengan kata-kata yang setimpal atas cercaan mereka terhadap Rasulullah s.a.w. namun beliau tidak mau menggunakan kata-kata yang kasar. Beliau menyatakan bahwa salah satu alasan dari penugasan beliau adalah meyakini nabi Isa a.s. sebagai salah seorang nabi Allah, karena itu beliau tidak sanggup menggunakan kata-kata yang menghina statusnya itu.

Buku ini dimulai dengan pernyataan penting tentang selebaran Hazrat Ahmad a.s. tertanggal 6 Pebruari 1898 mengenai posisi beliau menghadapi wabah pes yang sedang berkecamuk di India. Beliau mengatakan ada orang-orang yang salah paham. Mereka menyatakan ada kontradiksi mengenai pernyataan mengenai penggunaan obat guna mengatasi wabah dan bahwa wabah itu diakibatkan oleh kelakuan salah manusia.

Mengenai hal tersebut beliau memberikan penjelasan mengenai keterkaitan antara doa dan cara-cara yang digunakan untuk menghindari penyakit. Beliau menjelaskan mengapa doa merupakan kewajiban bagi seorang Muslim dengan alasan-alasan sebagai berikut:

  1. Agar manusia selalu mencari Tuhannya dan dengan cara itu memperkuat keimanannya akan ke-Esaan Tuhan dan ia meyakini bahwa hanya Allah s.w.t. semata yang jadi Pemberi.

  2. Agar keyakinannya akan dikabulkannya doa menjadi lebih kuat.

  3. Ketika doanya dikabulkan dari sudut arah lain maka akan bertambah pengetahuannya akan rahasia-rahasia keTuhanan sehingga mempertebal keyakinannya pada kebijaksanaan Tuhan.

  4. Ketika pengabulan doanya dikuatkan melalui kasyaf atau kabar ghaib maka pemenuhan kabar ghaib itu akan memperkuat keimanannya terhadap Tuhan sehingga bertambah kecintaannya kepada Tuhan dan terhindar ia dari dosa serta tercapai baginya keselamatan ruhani. Berikutnya beliau mendefinisikan arti kata Iman sebagai menerimakan kebenaran walaupun keseluruhannya masih buram dimana hatinya masih bertarung melawan keraguan dan kecurigaan. Orang yang beriman adalah mereka yang meyakini suatu kebenaran dan ia cenderung ingin dikenal sebagai orang yang benar di pandangan Tuhan. Allah s.w.t. senantiasa selalu berkenan dengan orang-orang seperti itu dan Dia akan membuka pintu-pintu rahmat baginya.

Tentang bagaimana memastikan kebenaran seseorang yang melakukan pengakuan sebagai wujud suci, ada empat hal perlu diperhatikan yaitu:

  1. Adanya ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist yang berkaitan dengan tanda-tanda kemunculan wujud suci tersebut serta saat kemunculannya.

  2. Adanya bukti-bukti intelektual yang bersifat konklusif, tidak dapat dipungkiri dan tidak dapat dielakkan.

  3. Adanya bantuan samawi yang diberikan Tuhan kepadanya, termasuk pemakbulan doa-doanya.

  4. Adanya kesaksian dari orang-orang saleh melalui kasyaf atau kabar ghaib mengenai kebenaran wujud suci tadi walaupun yang bersangkutan tidak berada disana.

Hazrat Ahmad a.s. mengingatkan para pembacanya bahwa pengakuan beliau didasarkan pada telah wafatnya nabi Isa a.s. karena jika nabi itu masih hidup dan akan kembali, bagaimana mungkin pengakuan seseorang sebagai Masih Maud bisa dianggap benar? Beliau menyerukan mereka agar memelihara keimanan mereka supaya jangan karena kecerobohan lalu mereka menjadi orang yang merugi. Beliau juga mengungkapkan bahwa Allah s.w.t. telah memerangi musuh-musuh beliau sebanyak lima kali. Mirip dengan sebuah pertarungan dimana musuh-musuh beliau telah dikalahkan yaitu:

  1. Musuh yang bernama Atham.

  2. Ia yang bernama Lekhram.

  3. Konperensi keagamaan dimana pidato beliau diputuskan sebagai yang terbaik.

  4. Tuntutan pengadilan yang diajukan Dr. Clarke, dan

  5. Kasus yang berkaitan dengan Mirza Ahmad Baig dari Hoshiarpur.

Berkaitan dengan wabah pes yang sedang berkecamuk di Bombay dan berbagai tempat lainnya, Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa beliau melihat kasyaf yang menunjukkan wabah itu sedang menyebar ke Punjab, tetapi sebenarnya bisa dielakkan jika umat mau berpaling kepada hal-hal yang baik.

40 Masih Hindustan Main

(Jesus di India)

Hazrat Ahmad a.s. mengarang buku ini dalam bulan April 1896 dan diterbitkan pada tanggal 20 November 1908. Buku ini ditulis dengan tujuan untuk mengkoreksi pandangan salah umat Kristiani maupun Muslim yang menganggap nabi Isa a.s. telah terangkat ke langit dalam keadaan hidup dan pada akhir zaman akan turun kembali ke bumi. Perbedaan keyakinan antara keduanya hanya berkisar tentang bahwa umat Kristiani meyakini kalau Jesus a.s. telah wafat di kayu salib untuk kemudian dibangkitkan lagi dan terbang ke langit dengan tubuh jasmaninya serta sekarang ini sedang bersanding bersama bapaknya menunggu kembali ke bumi untuk menghakimi kelakuan manusia dan mereka yang tidak beriman padanya dan pada ibunya sebagai tuhan-tuhan dengan ancaman neraka. Adapun umat Muslim meyakini kalau nabi Isa a.s. tersebut tidak disalib sehingga tidak mempermasalahkan kewafatannya, tetapi sesosok malaikat mengangkat tubuh jasmani beliau ke langit dan sampai sekarang masih ada di sana dalam keadaan hidup. Di akhir zaman menurut mereka katanya beliau akan turun dengan menopangkan tangannya di bahu dua malaikat dimana tempat mendaratnya adalah dekat menara Damaskus, menghakimi mereka yang tidak menerima Islam dengan cara membunuhnya langsung.

Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa penulisan buku ini guna meluruskan pandangan keliru semua orang tadi. Beliau bermaksud menulis sepuluh bab dengan sebuah epilog namun setelah menulis empat bab dirasa sudah mencukupi. Keempat bab tersebut mengulas tentang:

  1. Bukti-bukti yang menyatakan bahwa nabi Isa a.s. diturunkan dari salib dalam keadaan masih hidup sebagaimana dinyatakan dalam kitab Injil.

  2. Bukti-bukti yang menunjukkan bahwa nabi Isa a.s. selamat dari kematian di atas salib menurut Al-Qur’an dan Hadist.

  3. Bukti-bukti yang diberikan oleh buku-buku kedokteran atau pertabiban. Buku itu menceritakan bahwa nabi Isa a.s. diturunkan dari salib dalam keadaan masih hidup dan luka-luka beliau diurapi obat-obatan yang menyembuhkan.

  4. Bukti-bukti dari buku-buku sejarah yang menceritakan bahwa nabi Isa a.s. mengembara ke Nasibain, Afghanistan dan India.

Buku tersebut mencantumkan juga peta perjalanan nabi Isa a.s. di India.

Hazrat Ahmad a.s. mengemukakan keyakinan beliau bahwa siapa pun yang membaca buku beliau itu, baik ia Muslim, Kristen atau pun Yahudi, ia akan meyakini bahwa pandangan yang mengatakan nabi Isa a.s. terbang ke langit sebagai suatu kebohongan dan karangan saja.

41 Raaz-i-Haqiqat

(Rahasia Kebenaran)

Buku yang diterbitkan tanggal 30 November 1898 ini menceritakan sejarah hidup nabi Isa a.s. Disamping itu juga menjelaskan masalah tujuan sebenarnya dari tarung doa (mubahala) yang dilontarkan Hazrat Ahmad a.s.

Di awal buku Hazrat Ahmad a.s. mengarahkan perhatian para pengikut beliau tentang tarung doa dengan Maulvi Mohammad Hussain yang akan menunjukkan hasilnya pada tanggal 15 Januari 1900. Karena itu mereka agar selalu mengikuti bagaimana hasil akhir mubahala. Beliau menasihati anggota Jemaat agar selalu bertaqwa dan jangan membalas caci maki mereka yang memusuhi dengan makian juga. Beliau menyatakan bahwa kebenaran pada awalnya selalu terlihat lemah namun sudah ditakdirkan nantinya akan menguat. Beliau mencontohkan kehidupan Rasulullah s.a.w. di Mekah dimana saat itu musuh-musuh Islam sangat kuat sekali. Nyatanya Rasulullah s.a.w. kemudian memperoleh kemenangan di atas musuh-musuh beliau.

Pada bagian epilog buku, hazrat Ahmad a.s. menyampaikan syukur kepada allah s.w.t. atas dibuktikannya bahwa makam yang berada di Khanyar, Srinagar, yang katanya makam Yuz Asaf, ternyata adalah makam nabi Isa a.s. sehingga hal itu telah tambah menguatkan pengakuan beliau

42 Tohfa-i-Ghaznaviyya

(Hadiah bagi kaum Ghaznavi)

Buku yang ditulis tahun 1900 ini diterbitkan pada tanggal 3 Oktober 1902. Buku tersebut merupakan tanggapan terhadap selebaran yang dikeluarkan oleh Maulvi Abdul Haq Ghaznavi. Selebaran itu menggunakan kata-kata yang kasar dan mengandung cemoohan terhadap Hazrat Ahmad a.s.

Mengenai pokok bahasan selebaran itu, Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa:

‘Selebaran itu merupakan tombak bercula dua. Pertama, Mian Abdul Haq mengungkapkan beberapa kabar ghaib yang sudah terpenuhi atau akan segera terpenuhi dimana ia telah menggiring orang agar mereka berfikir bahwa kabar ghaib itu ternyata tidak terpenuhi. Serangannya yang kedua berkaitan dengan kriteria kebenaran yang aku kemukakan di dalam salah satu selebaranku mengenai bahwa yang mender ita sakit dapat disembuhkan melalui doa. Mian Abdul Haq tidak setuju melakukannya dan alasan yang dikemukakannya adalah karena tidak mungkin mengumpulkan semua pemuka dari seluruh pelosok India dan Punjab karena tidak ada yang memikul biayanya.’

Dalam buku tersebut Hazrat Ahmad a.s memberikan jawaban jitu atas kedua serangan itu dan beliau juga mengutarakan rahmat yang diterima dari Allah s.w.t. sehubungan dengan mubahala yang diadakan dengan Mian Abdul Haq. Rahmat tersebut berupa bantuan Allah s.w.t. bagi kemajuan Jemaat, perwujudan tanda-tanda Illahi serta bantuan keuangan yang diterima dari berbagai penjuru.

Hazrat Ahmad a.s. juga menyampaikan perkataan Maulvi Abdulla Ghaznavi sebagaimana disitir oleh Munshi Mohammad Yaqub bahwa ‘ada sebuah sinar turun dari langit dan sinar itu adalah Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian.’

Maulvi Abdulla Ghaznavi juga melihat sebuah kasyaf yang dikutip oleh Hazrat Ahmad a.s. berdasarkan pernyataan Hafiz Mohammad Yusuf. Dalam kasyaf itu ia melihat sebuah cahaya turun dari langit dan sinar itu menunjuk ke Qadian, namun keturunannya tidak mampu menikmati sinar tadi.

Hazrat Ahmad a.s. kemudian mengajak Mian Abdul Haq untuk mengutip dari ayat Al-Qur’an atau Hadist mana pun yang memberikan arti lain pada kata ‘tawaffaitani’ selain dari arti menyebabkan mati. Dapatkah kata itu diartikan sebagai diterbangkan ke langit atau turun dari sana? Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa jika benar doa Maulvi Abdul Haq dikabulkan Tuhan sebagaimana doa beliau, atau ia dapat mengarang dalam bahasa Arab seperti beliau atau ia mampu memperlihatkan tanda-tanda samawi maka beliau akan mengakui dirinya adalah seorang pendusta.

Sebelum menutup bukunya, beliau menulis beberapa halaman dalam bahasa Arab. Di halaman-halaman itu beliau menyampaikan argumentasi tentang wafatnya nabi Isa a.s. dan tentang kebenaran pengakuan beliau.

43 Haqiqatul Mahdi

(Kebenaran wujud Mahdi)

Dalam buku yang diterbitkan Pebruari 1899 beliau membandingkan pandangan beliau tentang kedatangan Imam Mahdi dengan pandangan mereka yang disebut Ahli Hadist atau Wahabi. Kaum Wahabi berpandangan bahwa kedatangan Imam Mahdi akan bersimbah darah, sedangkan keyakinan beliau kedatangan Imam Mahdi itu justru akan membawa kemajuan Islam secara damai.

Hazrat Ahmad a.s. mengharap pernyataan itu dibaca oleh para pejabat negara. Beliau menguraikan pengakuan beliau dan jenis kabar-kabar ghaib yang disampaikan kepada publik. Beliau menghimbau pemerintah agar melihat sisi mana yang benar. Beliau menambahkan pernyataan terinci mengenai keyakinan beliau, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Parsi, disertai ajakan kepada Maulvi Mohammad Hussain untuk melakukan hal yang sama. Pernyataan itu nantinya akan dikirim ke berbagai negeri agar penduduk disana bisa menilai keyakinan dan pandangan siapa dari antara mereka berdua yang dianggap sehat dan bisa diterima akal.

44 Tiryaqul Qulub

(Penyejuk Hati)

Buku ini dimulai di akhir Juli 1899. Dimulai dengan sebuah syair karangan Hazrat Ahmad a.s. yang menggambarkan seperti apa seharusnya seorang manusia yang sempurna. Beliau kemudian menguraikan tanda-tanda samawi yang telah diberikan Allah s.w.t. guna membantu beliau dan beliau meminta para pengikut agama lainnya untuk juga memberikan tanda-tanda samawi seperti yang telah dilakukannya. Beliau mendasarkan ajakan itu pada prinsip bahwa suatu agama yang hidup akan selalu menghasilkan orang-orang yang bertindak selaku wakil atau pembantu dari nabinya. Bahwa agama itu masih tetap hidup dapat dilihat dari rahmat keruhanian yang ditunjukkannya. Adalah mutlak bagi seseorang yang dipanuti serta berlaku sebagai perantara dan pemberi keselamatan, berwujud sebagai seorang nabi dengan melihat rahmat-rahmat keruhanian yang ditunjukkannya. Hazrat Ahmad a.s. setelah menguraikan prinsip itu menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menyamai beliau dalam kemampuan memperlihatkan tanda-tanda samawi. Mereka yang tidak meyakini beliau, terutama mereka yang disebut sebagai pemuka-pemuka agamanya masing-masing, diminta agar berkumpul dalam suatu pertemuan untuk masing-masing berdoa meminta tanda-tanda samawi dalam kurun waktu satu tahun.

Dalam suplemen buku itu beliau mengutarakan kabar ghaib tentang Lekhram dan mencatat nama-nama 200 dari 4.000 orang yang mengakui bahwa kabar ghaib itu telah terpenuhi.

Dalam suplemen kedua, beliau menguraikan tanda-tanda yang telah muncul sebagai pemenuhan kabar-kabar ghaib sampai dengan tanggal 20 Agustus 1899. Di suplemen ketiga beliau menyampaikan himbauan kepada pemerintah yang ditulis tanggal 27 September 1899. Suplemen keempat tertanggal 22 Oktober 1899 mengemukakan sebuah wahyu dengan kabar ghaib. Dalam suplemen kelima Hazrat Ahmad a.s. mendoakan agar Allah s.w.t. memberikan keputusan samawi mengenai pengakuan beliau agar menjadi jelas bagi umat.

Berikutnya adalah sebuah pernyataan dimana beliau memberikan nama atau sebutan kepada para pengikut beliau. Beliau mengatakan:

‘Rasulullah s.a.w. memiliki dua nama yaitu Muhammad dan Ahmad. Arti kata Mohammad mengindikasikan bahwa beliau akan menghukum dengan pedang mereka yang menyerang beliau dengan pedang, sedangkan kata Ahmad mengindikasikan bahwa beliau akan menebarkan kedamaian kesekelilingnya. Signifikasi nama Ahmad dinyatakan pertama kali di Mekah dan akan muncul lagi di akhir zaman sedangkan signifikasi nama Muhammad dinyatakan di Medina dimana beliau perlu menundukkan musuh-musuh beliau yang menyerang dengan pedang.’

Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa karena sekarang ini saatnya ketika signifikasi kata ‘Ahmad’ akan diwujudkan maka beliau menyebut para pengikut beliau sebagai Jemaat Ahmadiyah. Berbicara kepada anggota Jemaat, Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa mereka harus menyadari kalau mereka itu pembawa kedamaian dan bahwa Jemaat tidak ada kaitannya dengan peperangan. Beliau memberikan ucapan selamat kepada mereka dan mendoakan agar nama itu membawa berkat bagi mereka. Pernyataan ini bertanggal 4 November 1900 dan merupakan penutup buku Tiryaqul Qulub.

Perlu dikemukakan disini bahwa pada kulit judul buku ini Hazrat Ahmad a.s. menulis dalam bahasa Arab:

‘Sesungguhnya buku ini akan menghilangkan kecurigaan. Di dalamnya ada kesembuhan bagi umat, kedamaian bagi hati serta akan menghilangkan kegalauan keadaan dan kunamakan Tiryaqul Qulub (penyejuk hati).’

45 Khutba Ilhamiya

(Khotbah Ilham)

Pada saat hari raya Idul Adha tanggal 11 April 1900 Hazrat Ahmad a.s. menyampaikan khutbah dalam bahasa Arab dan berdasarkan instruksi beliau, khutbah itu dicatat kata demi kata oleh Hazrat Maulvi Nurud Din dan Hazrat Maulvi Abdul Karim. Beliau yang mengetahui bahwa khutbah itu merupakan wahyu menginstruksikan kedua sahabat agar bertanya jika mereka terlewat satu kata pun agar tidak ada kata yang hilang.

Buku Khutba-i-Ilhamiyya terdiri atas lima bab. Salah satunya adalah khutbah itu sendiri (yang diwahyukan) sedangkan empat bab lainnya ditulis kemudian. Dalam khutbah tersebut Hazrat Ahmad a.s. menguraikan filosofi mengenai pengurbanan. Adapun pada empat bab lainnya, beliau menguraikan hal pengakuan beliau dalam kaitannya dengan petunjuk Al-Qur’an dan Hadist. Dilampiri sebuah suplemen berupa selebaran atau pengumuman tentang Minarutul Masih (Menara Masih Maud). Disitu beliau menjelaskan mengenai menara itu serta tujuannya, sedangkan yang merupakan masjid Masih Maud adalah Masjid Aqsa. Pengumuman itu bertanggal 28 Mei 1900.

Seperti dijelaskan di atas, khutbah itu sendiri dibacakan tanggal 11 Oktober 1900 dan keempat bab berikutnya ditulis antara Mei 1900 sampai Oktober 1902 sehingga bisa disimpulkan bahwa buku ini selesai Oktober 1902.

Perlu dicatat disini bahwa sebelum Idul Adha itu Hazrat Ahmad a.s. mengambil waktu khusus untuk berdoa bagi dirinya dan para sahabat. Beliau meminta mereka yang ada di Qadian untuk menyerahkan nama-nama mereka berikut alamat agar beliau bisa mengingatnya di dalam doa beliau. Pada hari Idul Adha beliau memberitahukan kepada Maulvi Abdul Karim bahwa beliau ditugasi Allah s.w.t. untuk menyampaikan beberapa kata dalam bahasa Arab kepada kaum dan beliau merasa yang dimaksud adalah umat saat salat Idul Adha. Karena itu beliau menyampaikan khutbah dalam bahasa Arab. Setelah akhir khutbah atas permintaan hadirin maka Maulvi Abdul Karim menyampaikan terjemah khutbah dalam bahasa Urdu.

Hazrat Ahmad a.s. menyampaikan bahwa semua doa yang beliau panjatkan sehari sebelumnya telah dikabulkan dimana khutbah dalam bahasa Arab itu pun merupakan bukti kemakbulannya. Beliau bersyukur kepada Allah s.w.t. atas khutbah itu dan atas dikabulkannya doa beliau.

Saat Maulvi Abdul Karim menyampaikan terjemah khutbah dalam bahasa Urdu, Hazrat Ahmad a.s. melakukan sujud syukur dan ketika beliau mengangkat kepala, beliau mengatakan telah melihat kata ‘Mubarak’ (berberkat) ditulis dengan tinta merah serta merupakan indikasi kemakbulan doa.

Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa ketika beliau menyampaikan khutbah dalam bahasa Arab, Allah s.w.t. memberikan beliau kekuatan dan kata-kata seperti mengalir dari mulut beliau secara spontan di luar kendali beliau sendiri.

‘Kata-kata itu mengalir seperti mata air tersembunyi yang menyembur keluar dan aku tidak tahu apakah aku yang berbicara atau malaikat yang berbicara melalui lidahku. Kalimat demi kalimat disampaikan dan setiap kalimat merupakan tanda dari Allah s.w.t. bagiku.’

Dalam salah satu bab yang ditulis kemudian, Hazrat Ahmad a.s. membahas kondisi dunia dan beliau mencoba meyakinkan pembacanya bahwa kedatangan beliau merupakan kebutuhan zaman.

46 Roidad-i-Jalsa-i-Dua

(Minuta pertemuan Doa)

Tanggal 2 Pebruari 1900 adalah hari raya Idul Fitri. Hazrat Ahmad a.s. meminta para anggota Jemaat untuk mengadakan pertemuan hari itu guna mendoakan keberhasilan pemerintahan Inggris. Salat Id dipimpin oleh Maulvi Nurud Din sedangkan khutbah disampaikan oleh Hazrat Ahmad a.s. Dalam khutbah itu beliau mengutip surah Annaas dari Al-Qur’an dan mengingatkan hadirin akan tugas mereka kepada pemerintah, apalagi karena kebaikan pemerintahan yang dapat dilihat dalam banyak hal. Setelah khutbah Hazrat Ahmad a.s. mengajak hadirin mendoakan kemenangan pemerintah Inggris yang sedang berperang di Transvaal. Beliau juga mengumpulkan sumbangan untuk dikirim kepada mereka yang terluka dalam perang itu. Karena pertemuan diadakan untuk memanjatkan doa maka disebut sebagai Pertemuan Doa.

47 Lujja-tun-Nur

(Samudra Cahaya)

Hazrat Ahmad a.s. mendapat wahyu yang menyatakan bahwa penduduk berbagai negeri Muslim lainnya akan menerima beliau dan raja-raja akan mencari berkat dari jubah beliau. Beliau merencanakan membuat sebuah buku kompilasi dari semua detil petunjuk Allah s.w.t. kepada beliau dan menjadikan buku itu sebagai bukti meyakinkan akan pengakuan beliau. Beliau menyatakan bahwa buku itu akan merupakan persembahan kepada pemuka-pemuka Arab dan Syria serta menjadi rahmat bagi orang-orang yang bertakwa.

Judul buku menyatakan bahwa Lujja-tun-Nur dialamatkan kepada para ulama Arab, Syria, Baghdad, Iraq dan Khurasan agar arus perwujudan Tuhan mengalir di kalangan mukminin.

Dalam bab pertama buku, Hazrat Ahmad a.s. menguraikan biografi beliau, wahyu-wahyu yang telah diterima serta penjelasan tentang kebutuhan zaman dan mengapa Tuhan mengutus beliau sebagai pembaharu (mujaddid). Beliau juga menguraikan tentang terpilah-pilahnya fraksi di antara umat Muslim sehingga sudah saatnya harus datang seorang hakim adil yang akan menghilangkan selisih di antara mereka dan membawa kembali umat ke dalam kemurnian agama Islam.

Tadinya beliau ingin menulis banyak bab dalam buku itu, namun baru selesai satu bab, perhatian beliau beralih ke masalah lain yang penting dan mendesak sehingga akhirnya hanya jadi satu bab itu saja. Beliau mengungkapkan bahwa musuh-musuh Islam sudah kalah dan mereka tidak lagi berada dalam posisi bisa menyerang Islam. Beliau juga menyatakan bahwa semua persyaratan yang harus dimiliki seorang pembaharu, berkat rahmat Allah s.w.t. ada pada diri beliau dan Allah s.w.t. telah amat memberkati beliau.

Beliau membantah tuduhan musuh-musuh beliau bahwa beliau telah menggunakan bahasa menghina bagi para ulama yang saleh. Beliau mengatakan:

‘Aku berlindung kepada Allah s.w.t. dari sikap menghina kepada para ulama yang alim dan saleh, baik yang berasal dari umat Muslim, Arya maupun Kristen atau pun pengikut agama lainnya. Aku hanya merujuk pada mereka yang telah melampaui batas yaitu mereka yang bodoh dan tidak berakal. Adapun mereka yang tidak menghina, aku selalu memperlakukan mereka dengan baik, aku menghormati mereka dan mencintai mereka sebagai saudara sendiri.’

Hazrat Ahmad a.s. menyampaikan kabar ghaib bahwa Allah s.w.t. akan menolong beliau sedemikian rupa sehingga pesan-pesan beliau akan mencapai seluruh penjuru dunia.

Buku ini ditulis dalam bahasa Arab pada tahun 1900 dan terjemah bahasa Parsinya diterbitkan tahun 1910.

48 Government Angrezi Aur Jihad

(Pemerintah Inggris dan Jihad)

Buku yang diterbitkan tanggal 22 Mei 1900 ini menguraikan tentang makna Jihad dan filosofi yang mendasarinya. Merujuk pada Al-Qur’an dan Hadist, Hazrat Ahmad a.s. membuktikan bahwa pertempuran yang harus dilakukan umat Muslim pada masa awal Islam adalah karena mereka dipaksa, dimana keadaan tersebut merupakan phasa yang bersifat sementara dan terpaksa diambil untuk menciptakan kemerdekaan beragama. Islam menurut beliau adalah agama yang lebih mencerminkan kedamaian dan kemerdekaan beragama dibanding agama-agama lainnya.

Hazrat Ahmad a.s. merinci masalah Jihad dalam banyak buku beliau dan menguraikan bahwa tujuan kedatangan beliau adalah memenangkan Islam di atas agama-agama lainnya melalui argumentasi. Kritik utama yang dilontarkan para ahli filosofi Eropah dan orientalis adalah bahwa Islam disebarkan melalui ujung pedang. Pandangan seperti itu harus diperbaiki dan karena itulah Hazrat Ahmad a.s. sering membahas masalah Jihad dalam berbagai karangan beliau. Beliau juga perlu mengupas masalah ini karena:

  1. Beliau mengaku sebagai Masih Maud dan umumnya umat Muslim beranggapan bahwa Masih Maud dan Imam Mahdi akan mengangkat pedang untuk memaksa mereka yang non Muslim ke dalam agama Islam. Beliau harus menghapus pandangan demikian.

  2. Beberapa tahun sebelum pengakuan beliau sendiri, di Sudan ada seorang bernama Mahdi yang memberontak melawan tentara Inggris walau kemudian ia dikalahkan. Pemerintahan Inggris tidak ingin ada kejadian serupa di daerah lain.

  3. Beberapa ulama sibuk melaporkan Hazrat Ahmad a.s. kepada pemerintah sebagai orang yang akan memberontak. Kebohongan mereka itu harus ditelanjangi.

  4. Misionaris Kristen yang tidak kuat menghadapi serangan beliau terhadap mereka, merasa itu suatu cara yang baik melawan Hazrat Ahmad a.s. dengan menanamkan kesan bahwa beliau anti pemerintah.

  5. Beberapa tahun sebelum pengakuan beliau sebagai Masih Maud dan Imam Mahdi, terjadi pemberontakan di India pada tahun 1857. Pemerintah memperkirakan bahwa pemberontakan itu adalah hasil rekayasa umat Muslim yang ingin meraih kembali kejayaan masa lalu.

Karena masalah-masalah di atas maka Hazrat Ahmad a.s. merasa perlu menjelaskan perihal Jihad di banyak buku beliau. Beliau menganggap adalah salah melawan pemerintah yang tidak mencampuri kehidupan keagamaan rakyat serta selalu menjaga hukum dan ketertiban demi keamanan rakyatnya. Berbicara kepada mereka yang menuduhnya menjilat pemerintahan Inggris, beliau mengatakan:

‘Wahai kalian orang bodoh. Aku tidak menjilat pemerintah ini. Adalah suatu kenyataan bahwa Al-Qur’an melarang melawan pemerintah yang tidak mencampuri kehidupan dan pelaksanaan keagamaan serta tidak menggunakan pedang guna melarang pengembangan agama, atau pun melakukan perang keagamaan.’

Beliau menjelaskan makna sepenuhnya dari arti kata Jihad yang menurut beliau memang mengharuskan adanya pergulatan. Beliau merinci pandangan keliru para ulama tentang Jihad dan bagaimana mereka telah mengecoh umat untuk menjalankan kekerasan. Karena adanya para ulama yang berpandangan miring mengenai Jihad itu maka misionaris Kristen mencekoki umatnya dengan kisah dan cerita palsu yang memelintir pandangan tentang Islam melalui berbagai penerbitan sehingga muncul kegelisahan dan kemarahan umat mereka. Beliau mengemukakan bahwa hal demikian bisa saja berlaku sebelum ini namun setelah kedatangan beliau maka tidak ada lagi alasan melakukan hal-hal seperti itu. Beliau menyeru anggota Jemaat agar menjauhi kekejian tindakan kasar dan mereka harus selalu menghindari timbulnya kekacauan dan gangguan serta mereka harus selalu mengasihi sesama umat manusia. Mereka harus membersihkan kalbu mereka agar mereka bisa menyamai para malaikat. Kekotoran adalah agama yang tidak mengenal kasih terhadap sesama manusia. Beliau menyatakan bahwa menyebut penyerangan atas mereka yang non Muslim sebagai jihad bukanlah Jihad yang dimaksud dalam agama Islam.

Hazrat Ahmad a.s. menyarankan kepada pemerintah agar mengeluarkan larangan tentang menyiarkan tulisan yang menghantam agama lain. Pelarangan tersebut bisa saja diuji coba untuk periode beberapa tahun.

Dalam suplemen buku itu Hazrat Ahmad a.s. menguraikan pengakuan beliau sebagai Al-Masih Kristiani yang datang kedua kalinya dan juga sebagai Mahdi yang diyakini umat Muslim.

Beliau menyatakan bahwa bukan maksudnya beliau adalah benar-benar Jesus Kristus.

‘Mereka yang belum membaca buku-bukuku bisa terkecoh bahwa dikiranya aku menyakini paham trans-migrasi (beralih rupa) namun itu jauh dari kebenaran.’

Beliau selanjutnya menjelaskan tentang tanggung jawab yang diletakkan di bahu beliau sebagai pengemban citra dari kedua nabi mulia itu (nabi Isa a.s. dan Rasulullah s.a.w.). Beliau menghimbau pemerintah untuk mengundang pengikut berbagai agama agar mereka memperlihatkan tanda-tanda samawi atau nubuwatan yang harus dipenuhi. Hal itu akan menyelesaikan kebenaran pengakuan beliau atau membuktikan sebaliknya.

49 Tohfa-i-Golarhvyiyya

(Hadiah bagi Golarhvi)

Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa buku ini diterbitkan dengan tujuan agar kebenaran lebih mudah dimengerti oleh orang awam dan beliau menawarkan hadiah 50 rupee jika kaum Golarhvi mampu menjawab dan menyangkal argumentasi beliau. Tawaran hadiah 50 rupee itu dicantumkan pada halaman dalam judul buku. Buku itu sendiri diawali dengan tawaran hadiah 500 rupee kepada Hafiz Mohammad Yusuf dan banyak orang lain yang namanya tercantum dalam teks. Nama pertama yang disebut adalah Maulvi Pir Mehr Ali Golarhvi.

Menurut beliau, Hafiz Mohammad Yusuf telah menyatakan dalam sebuah pertemuan bahwa mereka yang mengaku palsu sebagai penerima wahyu bisa saja memiliki umur duapuluh tiga tahun setelah pengakuannya atau bahkan lebih dari itu. Dengan kata lain, ia menyatakan bahwa umur seseorang yang mengaku sebagai mujaddid bisa saja lebih dari duapuluh tiga tahun setelah pengakuannya tetapi itu tidak menjadikan bahwa yang bersangkutan adalah benar. Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa pendapat Hafiz Mohammad Yusuf itu salah. Beliau mengutip Al-Qur’an untuk menguatkan pendapat beliau (wa low taqaawala alaina ba’zal aqaweel laakhazna minho bil yamin summa laqata’na minhulwatin).

Seharusnya Hafiz Mohammad Yusuf tidak menentang ayat Al-Qur’an dan sebaiknya yang bersangkutan bertanya kepada beliau mengenai bukti kebenaran pengakuan beliau.

Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa sebagaimana banyaknya tanda-tanda Allah s.w.t. berkenaan dengan beliau yang telah terpenuhi, beliau juga ingin menyampaikan sisi lain kepada umat bahwa beliau telah hidup lebih dari duapuluh tiga tahun setelah pengakuan beliau sebagai penerima wahyu Allah s.w.t. Beliau menawarkan hadiah 500 rupee bagi mereka yang dapat membuktikan bahwa ada orang yang bisa melampaui duapuluh tiga tahun setelah berdusta mengaku telah menerima wahyu Tuhan. Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa beliau sendiri telah menerima wahyu sejak jauh sebelumnya sebagaimana bisa ditemukan dalam buku Brahin-i-Ahmadiyya.

Dalam buku ini ada sebuah bab mengenai Jihad dimana Hazrat Ahmas a.s. menyatakan bahwa Jihad sekarang ini ditunda sesuai dengan petunjuk Hadist dan baru akan dilaksanakan kembali jika kondisi sebagaimana dijelaskan Allah s.w.t. dan Rasul-Nya memang mengharuskan. Berikutnya adalah sebuah surat dalam bahasa Arab yang ditujukan kepada umat Muslim di Punjab, India, Arab, Persia dan negara-negara lainnya mengenai penghentian Jihad tersebut. Beliau mengajak mereka untuk bertanding mengenai siapa yang bisa memberikan kabar ghaib tentang masa depan; kalau itu tidak mungkin maka bertanding mengenai siapa yang doanya didengar Tuhan; dan jika itu juga tidak bisa maka bertanding menulis tafsir AlQur’an. Siapa yang menang di antaranya sepantasnya dianggap yang terbaik dari semua.

Bab berikutnya merupakan jawaban terhadap Pir Mehr Ali Shah Golarhvi. Hazrat Ahmad a.s. telah meminta kepada yang bersangkutan untuk sembarang mengutip beberapa ayat Al-Qur’an lalu menuliskan tafsirnya. Barang siapa yang mampu menulis tafsir yang lebih baik maka ia harus dianggap berada di pihak yang benar. Tetapi Mehr Ali menolak permintaan itu dan malah mengeluarkan selebaran yang menantang beliau untuk berdebat dan jika Hazrat Ahmad a.s. kalah maka beliau harus baiat di tangan Mehr Ali, baru setelah itu akan menulis tafsir dimaksud.

Hazrat Ahmad a.s. menelanjangi kehampaan tuntutan yang bersangkutan dengan mengatakan apa lagi kegunaannya menulis tafsir jika yang satu sudah menyatakan baiat di tangan yang lainnya. Beliau menunjuk pada buku-buku beliau yang telah diterbitkan (hampir empatpuluh pada saat itu) dan menyatakan bahwa mengenai masalah apa pun yang akan didebatkan sudah ada dan jelas di dalam buku-buku tersebut. Bersamaan dengan itu beliau menjelaskan lagi kewafatan nabi Isa a.s. sesuai petunjuk Al-Qur’an dan Hadist. Beliau mengutip beberapa ayat dari Al-Qur’an dan risalah Hadist berkaitan.

Setelah membuktikan wafatnya nabi Isa a.s. lalu Hazrat Ahmad a.s. mengatakan langkah berikutnya adalah menunjukkan bahwa Masih Maud haruslah seorang yang berasal dari pengikut Rasulullah s.a.w. Disini pun beliau mengutip Al-Qur’an dan Hadist dan diperlihatkan bahwa tidak mungkin Masih Maud itu pengikut agama lain.

Di bagian epilog, beliau menyampaikan bahwa menurut AlQur’an dan berbagai literatur masa lalu, tanda-tanda kedatangan Masih Maud di akhir zaman adalah munculnya tiga tipe manusia yaitu:

  1. Masihud Dajjal yaitu wakil dari Iblis (Syaitan). Mereka adalah pribadi atau orang-orang yang menutupi kebenaran dan menyesatkan manusia.

  2. Munculnya Juj dan Majuj (Gog and Magog). Menurut kitab Taurat yang dimaksud Juj dan Majuj adalah mereka yang berada di negeri-negeri barat. Cukup banyak tanda-tanda mereka itu sehingga tidak diragukan siapa yang dimaksud dengan Juj dan Majuj.

  3. Para cacing tanah yaitu orang-orang yang berbicara tentang Tuhan dan mereka merasa gembira karena mereka percaya pada Tuhan namun ruh samawi tidak masuk dalam kalbu mereka sehingga mereka sebenarnya hanya cacing yang melata di tanah.

Dalam epilog tersebut beliau mengutip nubuwatan nabi Daniel dalam bahasa Iberani berikut terjemahan dan tafsirnya dalam bahasa Urdu. Selain itu ada suplemen dalam buku tersebut yang menguraikan tentang bukti-bukti yang menyatakan beliau adalah Masih Maud.

50 Arba’een 1, 2, 3, 4

(Empatpuluh brosur, 1 - 4)

Judul lengkapnya adalah Arba’een-li itmami Hujjati alal mukhalifin yaitu Empatpuluh brosur yang memberikan bukti meyakinkan kepada para lawan.

Hazrat Ahmad a.s. merencanakan penerbitan empatpuluh brosur dengan selang waktu limabelas hari mengenai bukti-bukti kebenaran pengakuan sebagai Masih Maud. Rencananya setiap brosur terdiri dari satu atau dua halaman, atau paling banyak empat halaman. Namun kemudian ternyata kalau edisi kedua, ketiga dan keempat menjadi sedemikian tebalnya sehingga beliau merasa bahwa kebutuhannya telah terpenuhi dan karena itu penerbitan selanjutnya dihentikan. Judul Arba’een tetap melekat sebagaimana rencana semula.

Pada edisi pertama beliau menyampaikan bahwa beliau diutus guna mereformasi dunia dan bahwa beliau harus melaksanakan penugasannya itu seperti apa yang dilakukan nabi Isa a.s. Karena itulah beliau diberi julukan Masih Maud. Beliau ditugaskan untuk mengemukakan tanda-tanda yang berada di luar kemampuan manusia serta secara lemah lembut dan rendah hati mencoba menarik manusia mendekat ke arah beliau. Dengan cara itulah beliau harus menyebarkan cahaya kebenaran.

Berikutnya beliau mengatakan bahwa sumber utama simpati beliau kepada manusia adalah karena beliau telah menemukan tambang emas dan permata yang ingin beliau bagikan kepada umat manusia. Tambang permata itu adalah Allah s.w.t. sebagai Tuhan sempurna yang diperkenalkan oleh nabi Muhammad s.a.w. kepada umat manusia. Allah s.w.t. telah memberikan sebutan Masih Maud kepada beliau dan memang sudah menjadi tuntutan zaman akan kedatangannya. Beliau mengajak umat untuk bertanding dengan beliau memperlihatkan tanda-tanda samawi dan jika ada yang mampu melakukannya atau memberikan tafsir Al-Qur’an sebagaimana yang beliau lakukan maka beliau akan mengakui kesalahan pengakuannya.

Beliau menyeru para misionaris Kristen untuk memperhatikan hal-hal yang dikemukakannya. Mereka itulah yang telah berteriak-teriak dengan suara besar bahwa Rasulullah s.a.w. tidak bisa memperlihatkan mukjizat apa pun. Setelah bertemu dengan beliau, apakah mereka masih bisa secara jujur mengatakan hal yang sama?

51 Arba’een No. 2

Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa mengingat manusia diciptakan untuk mengenal Tuhan dan menyembah-Nya maka Tuhan pun menyukai manusia yang melakukannya. Karena itu setiap kali kegelapan menyelimuti bumi dan manusia menjauhi wilayah keruhanian serta hanya mengejar keduniawian, dimana mereka mencemoohkan nabi-nabi masa lalu maka muncullah kecemburuan Allah s.w.t. untuk memanifestasikan wujud-Nya dan untuk itu Dia sengaja mengirim seorang pembaharu guna menggiring manusia kembali kepada-Nya.

Beliau selanjutnya mengemukakan bahwa beliau adalah wujud yang diutus di awal abad ke empatbelas untuk menghidupkan kembali keimanan serta menggambarkan kepada umat bagaimana perwujudan Allah s.w.t. Beliau menjelaskan tanda-tanda samawi yang mendukung pengakuan beliau. Guna meyakinkan umat akan kebenaran pengakuan itu beliau bersumpah dalam nama Allah s.w.t. dan memberitahukan mereka bahwa sumpah palsu tidak akan mungkin menghasilkan sesuatu yang baik.

Beberapa orang menyampaikan keberatan penggunaan ‘Alai his sa latu wassalam’ yang digandengkan dengan nama Hazrat Ahmad a.s. Beliau menunjukkan kesalahan mereka dengan mengatakan bahwa beliau adalah Masih Maud serta mengingatkan bahwa Rasulullah s.a.w. sendiri mengatakan barang siapa yang bertemu beliau (Masih Maud) agar menyampaikan salam Rasulullah s.a.w kepadanya. Lagi pula ada ratusan rujukan dalam tafsir Hadist dimana istilah itu dikemukakan berkaitan dengan Masih Maud yang ditunggu kedatangannya.

Beliau mengutarakan diterimanya wahyu yang menyatakan bahwa Allah s.w.t. telah melimpahkan kehormatan yang luar biasa kepada beliau; lalu mengapa umat tidak melakukan hal yang sama.

Beliau menukilkan bukti-bukti kebenaran pengakuan beliau serta menjelaskan secara rinci fakta-fakta telah wafatnya nabi Isa a.s. Beliau meminta agar para ulama berdoa kepada Allah s.w.t. bahwa jika beliau berdusta dalam pengakuannya dan hanya merupakan noda pada nama Islam, agar beliau dilenyapkan dari muka bumi. Beliau sendiri akan berdoa agar Allah s.w.t. memperlihatkan tanda-tanda yang jelas. Kenyataan sebenarnya adalah beliau menantang mubahala. Semuanya itu menggambarkan bagaimana semangat beliau untuk menunjukkan kepada dunia bahwa pengakuannya sebagai Masih Maud bukanlah suatu yang palsu. Beliau bersedih hati karena umat tidak berusaha memahami dan mereka mengalami begitu banyak kerugian kehidupan ruhani mereka.

52 Arba’een No. 3

Edisi ini mengulang selebaran yang menawarkan hadiah 500 rupee sebagaimana muncul di buku Tohfa-i-Golarhviyya.

53 Arba’een No. 4

Hazrat Ahmad a.s. mengawali edisi ini dengan memberikan intisari dari Arba’een No. 3 yang dilanjutkan dengan kutipan nubuwatan dari kitab Taurat mengenai nabi palsu, disamping juga kutipan nubuwatan dari kitab-kitab lainya. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa walaupun rencana semula akan menerbitkan empatpuluh edisi Arba’een, beliau akan menyudahinya setelah edisi keempat. Pertimbangan yang diberikan adalah karena pada awalnya beliau memperkirakan setiap brosur akan terdiri dari satu atau dua halaman, atau paling banyak empat halaman. Namun kemudian ternyata kalau edisi kedua, ketiga dan keempat menjadi sedemikian tebalnya sehingga beliau merasa bahwa kebutuhannya telah terpenuhi dan karena itu penerbitan selanjutnya dihentikan. Berikutnya beliau memberikan beberapa nasihat kepada para pengikut Jemaat. Beliau menyeru mereka untuk memperkuat keimanan, meluruskan jalan dan mencoba mencari keridhoan Allah s.w.t. Beliau mengingatkan bahwa mereka hidup di dunia ini ibarat sedang singgah di sebuah warung untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat asalnya masing-masing. Janganlah mereka tenggelam dalam masalah dunia dan seharusnya mereka memanfaatkan waktu yang sedikit itu dengan sebaik-baiknya.

Selanjutnya beliau mengingatkan mereka yang tergesa-gesa mencela beliau sehingga mereka kehilangan rahmat keimanan. Beliau menghimbau mereka agar jangan terbius oleh keraguan dan kecurigaan mereka sendiri. Beliau meminta mereka agar meneliti lagi tuduhan-tuduhan mereka kepada beliau yang menyatakan bahwa beliau telah menyalahgunakan uang yang mereka bayarkan untuk membeli buku Brahin-i-Ahmadiyya. Beliau mengatakan jika ada yang merasa bahwa beliau berhutang apa pun kepada mereka, tolong beritahukan dan uang mereka akan dikembalikan, tetapi tentunya dengan syarat mereka juga mengembalikan buku Brahin-i-Ahmadiyya yang telah mereka terima. Pernyataan ini bertanggal 15 Desember 1900.

Berikutnya adalah sebuah maklumat dengan huruf-huruf tebal tentang pertarungan ruhani demi Islam. Hazrat Ahmad a.s. mengingatkan pembacanya akan kondisi umat Muslim yang seperti seorang anak kecil di mulut serigala. Beliau mengemukakan bahwa agama Islam menghadapi bahaya dari dua sisi yaitu (1) dari dalam yaitu akibat dari percekcokan dan perpecahan internal di antara umat Muslim, dan (2) serangan dari non Muslim yang tidak pernah sedemikian gencarnya sepanjang sejarah kehidupan manusia. Beliau menyampaikan bahwa dalam keadaan seperti itulah Allah s.w.t. mengutus beliau untuk menghidupkan kembali agama mulia ini dan menjadikannya agama dominan di dunia. Beliau juga menunjuk pada kasyaf-kasyaf yang diterima oleh beberapa orang-orang saleh dari Allah s.w.t. bahwa beliau adalah Mujaddid abad ini.

Dalam suplemen Arba’een No. 3 dan No. 4 beliau mengajak umat Muslim untuk mempertimbangkan kembali pengakuan beliau. Allah s.w.t. telah menghujani beliau dengan rahmat-Nya dan ini tidak akan terjadi kecuali pada orang yang amat dekat dan disayangi Tuhan. Beliau mengulangi lagi bukti-bukti kebenaran pengakuan beliau. Beliau menasihati para ulama agar jangan menghina beliau, jika mereka beranggapan bahwa pengakuannya itu palsu, silakan mereka berkumpul di sebuah mesjid dan mendoakan agar Allah s.w.t. menghukum beliau. Kalau mereka memang berada di pihak yang benar, beliau menjamin bahwa beliau tidak akan berkembang, bahkan pasti beliau dan pekerjaan beliau akan musnah sia-sia.

Pada bagian akhir ajakan itu beliau menekankan lagi bahwa rahmat Allah s.w.t. sedang menghujani beliau sehingga doa-doa mereka itu tidak akan diterima Tuhan, betapa kuatnya pun mereka berdoa. Beliau menutup ajakan itu dengan kata-kata:

‘Tanda-tanda samawi dari Allah s.w.t. mengucur deras seperti hujan sedangkan mereka yang tidak beruntung duduk di kejauhan meneriakkan penolakan. Apa yang dapat dilakukan bagi orang yang hatinya telah terkunci? Ya Allah, kasihanilah umat Muslim. Amin.’

Beliau juga mengutip beberapa ayat dari kitab Injil dalam bahasa Iberani dan memberikan terjemah dan tafsirnya dalam bahasa Urdu. Kutipan itu mengungkapkan nubuwatan tentang nabi-nabi palsu dan diambil dari kitab Ulangan (Deuteronomy) pasal 18 ayat 18-20. Ajakan itu bertanggal 29 Desember 1900.

54 Ijaz-i-Ahmadi

(Mukjizat Ahmad)

Ijaz-i-Ahmadi diselesaikan dalam waktu lima hari, merupakan suplemen dari buku Nuzulul Masih dan diterbitkan 15 November 1902, antara lain berisi tawaran hadiah sebesar 10.000 rupee. Pada halaman judul dijelaskan bahwa buku ini ditulis untuk memenuhi permintaan Maulvi Sana Ullah, salah seorang musuh Hazrat Ahmad a.s. yang paling keras. Buku ini juga menyebutkan nama-nama Pir Mehr Ali Shah, Maulvi Asghar Ali dan Maulvi Ali Haiti (seorang penganut Shiah). Hazrat Ahmad a.s. mengatakan bahwa:

‘Langit telah menjadi saksi bagiku, begitu juga bumi, namun kebanyakan manusia di dunia ini menolakku.’

Beliau mengingatkan kabar ghaib tentang Lekhram secara rinci dan pemenuhannya. Beliau menunjuk sebuah buku yang dikarang seorang Yahudi yang mengatakan bahwa Jesus Kristus tidak ada menunjukkan satu pun mukjizat dan tidak ada nubuwatannya yang terpenuhi, sama seperti yang dilakukan oleh Sana Ullah atau Mohammad Hussain. Beliau lalu bertanya kepada mereka:

‘Katakan padaku, apa bedanya Yahudi ini dengan Maulvi Mohammad Hussain atau Mian Sana Ullah; tidakkah kalbu mereka serupa? Lihatlah bagaimana mereka berdusta dengan mengatakan bahwa tidak ada satu pun nubuwatanku yang terpenuhi padahal semua kabarghaibku itu telah menjadi kenyataan.’

Beliau menyambung dengan:

‘Alangkah ganjilnya, mereka yang memusuhi aku telah melakukan penolakan sedemikian rupa sehingga mereka kehilangan iman Islamnya, karena penolakan mereka sama seperti yang dilakukan terhadap para nabi sebelumnya. Kalau saja mereka memiliki taqwa, tidak akan mereka melakukan penolakan seperti itu.’

Beliau mengingatkan bahwa hampir duabelas tahun berlalu sebelum beliau menyadari bahwa Allah s.w.t. menyebut beliau sebagai Masih Maud dengan kata-kata yang tegas dalam Brahini-Ahmadiyya karena beliau sendiri selama itu masih berpegang pada kepercayaan tradisional yang mengatakan bahwa nabi Isa a.s. akan datang kedua kalinya dengan tubuh jasmaninya sendiri. Setelah duabelas tahun itulah segalanya menjadi jelas bagi beliau. Kemudian turunlah wahyu demi wahyu yang menyatakan secara jelas bahwa beliaulah Al-Masih yang dijanjikan.

Beliau melontarkan tantangan mubahala kepada Maulvi Sana Ullah, lengkap dengan memberikan redaksi perkataan yang akan digunakan. Beliau menambahkan sebuah syair dalam bahasa Arab yang menurut beliau juga dapat menjadi tanda bagi umat karena tidak akan ada lagi yang mampu mengarang syair sejenis. Pada penutupan buku diumumkan penawaran hadiah 10.000 rupee bagi siapa pun yang mampu mengarang syair seperti disebutkan di atas.

55 REVIEW

(Rangkuman)

Buku ini merupakan rangkuman dari perdebatan di antara Abu Saeed Mohammad Hussain dengan Maulvi Abdulah. Yang disebut pertama menekankan berlebihan masalah kesahihan Hadist sedangkan yang kedua malah menolak sama sekali adanya Hadist.

Hazrat Ahmad a.s. menunjukkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan kedua orang itu yaitu:

  1. Al-Qur’an yang merupakan perkataan Tuhan dan tidak ada yang melebihinya, adalah tulisan yang paling sahih dan tak ada keraguan sama sekali mengenainya.

  2. Yang kedua adalah apa yang disebut sebagai kebiasaan atau sunnah yang biasa dilakukan Rasulullah s.a.w. Kalau aku berbicara mengenai kebiasaan atau sunnah, aku tidak mengkaitkannya dengan terminologi Hadist. Aku tidak menganggap Hadist dan sunnah sebagai sama dan serupa. Keduanya berbeda satu sama lain. Kebiasaan atau sunnah adalah sesuatu yang dilakukan Rasulullah s.a.w. dan telah dilakukan sejak awal diturunkannya Al-Qur’an. Atau kita bisa meninjaunya dari sudut bahwa Al-Qur’an adalah perkataan Allah s.w.t. sedangkan kebiasaan (sunnah) adalah apa yang dilakukan Rasulullah s.a.w. Sudah menjadi praktek atau kebiasaan Tuhan bahwa para nabi membawa perkataan Tuhan sebagai petunjuk bagi umatnya dan mereka melaksanakan petunjuk itu sambil mengajak yang lain untuk melakukan hal yang sama sehingga praktek itu tidak diragukan sama sekali.

  3. Yang ketiga yang berkaitan dengan petunjuk adalah Hadist dan yang dimaksud dengan Hadist adalah mengenai apa yang dilakukan dan diucapkan Rasulullah s.a.w. dalam bentuk rekaman catatan yang dikumpulkan beberapa orang dalam kurun waktu selama hampir 150 tahun setelah kepergian beliau. Jadi perbedaan antara sunnah dengan Hadist ialah sunnah merupakan penggambaran praktis yang berlangsung terus menerus dan dikerjakan oleh Rasulullah s.a.w. sendiri dan kedudukannya hanya berada di bawah AlQur’an. Sebagaimana beliau ditugaskan Allah s.w.t. untuk menyebarkan ajaran Al-Qur’an, maka sunnah menggambarkan kepada umat cara pelaksanaannya.

56 Mawahibur Rahman

(Hadiah dari Tuhan)

Pada halaman judul buku Hazrat Ahmad a.s. mengatakan:

‘Aku menyusun buku ini dengan pertolongan Allah yang Maha Pengasih dan aku bersumpah demi Allah bahwa buku ini dususun dengan pertolongan Allah s.w.t. dan bukan bantuan manusia, dan sesungguhnya ini merupakan tanda akbar bagi mereka yang berfikir dan takut akan wujud yang Menghakimi, serta aku memberinya nama Mawahibur Rahman. Dan aku, Ghulam Ahmad, adalah hamba Allah yang Esa, semoga Allah melindungi dan menolongku. Dia telah menjadikan kotaku Qadian sebagai rumah damai dan tempat para malaikat agung telah turun.’

Mustafa Kamal Pasha, editor dari Al-Lewa yang diterbitkan di Mesir telah menerima sebuah booklet dalam bahasa Inggris yang berisi pengakuan Hazrat Ahmad a.s. sebagai Masih Maud serta tentang janji Allah s.w.t. bahwa beliau dan para pengikutnya yang muttaqi akan selamat dari wabah pes. Booklet itu juga menyatakan bahwa karena hal itu merupakan janji Tuhan maka Hazrat Ahmad a.s. menyatakan tidak perlu bagi beliau dan mereka yang tinggal di rumah beliau untuk divaksin. Editor itu memprotes booklet itu dan mengatakan bahwa menyuruh orang untuk tidak divaksin adalah bertentangan dengan hukum alam, karena orang tetap harus melakukan apa yang diperlukan untuk menangkal penyakit dan ia menambahkan bahwa hal itu juga bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an. Ia mengutip ayat ‘wa la tulqu bi aidikum ilattah lokati.’

Untuk menjawab keberatan tersebut maka Hazrat Ahmad a.s. menulis Mawahibur Rahman dalam bahasa Arab dan diterbitkan dalam bulan Januari 1903. Sebagai tambahan bagi editor itu, beliau juga mengutarakan keyakinan Jemaat dan tanda-tanda yang ditunjukkan Allah s.w.t. selama tiga tahun berselang.

Dalam buku tersebut ada sebuah bab berjudul ‘Kepercayaan kami’ dan sebuah bab lainnya berjudul ‘Ajaran bagi Jemaat.’ Dalam bab ‘Kepercayaan kami’ Hazrat Ahmad a.s. mengatakan:

‘Sesungguhnya kami adalah Muslim, kami beriman kepada Furqan, buku dari Allah s.w.t., dan kami percaya bahwa Penghulu kami, Mohammad, adalah nabi dan rasul-Nya dan bahwa beliau telah membawa agama yang paling sempurna. Kami juga menyakini bahwa beliau adalah Khatamul Anbiya dan tidak ada lagi nabi setelah beliau kecuali ia yang dibesarkan beliau sendiri dengan rahmatnya dan diturunkan sejalan dengan janji beliau. Allah s.w.t. berbicara dengan teman-teman-Nya di dalam Umat ini.’

Kemudian dalam bab ‘Ajaran bagi Jemaat’ beliau memberikan rincian keimanan yang menjadikan seseorang itu disebut Muslim. Beliau mengatakan:

‘Tidak ada seorang pun yang dapat bergabung dalam Jemaat ini kecuali ia berperilaku sebagai seorang Muslim yang mengikuti kitab Allah s.w.t.dan sunnah Penghulu kami yang adalah sebaik-baiknya mahluk yaitu Rasulullah s.a.w.’

Berikutnya beliau menguraikan keimanan kepada Allah s.w.t., Rasul-Nya, hari kiamat, surga dan neraka. Dengan cara demikian beliau mengutarakan keseluruhan ajaran Islam dan menyeru para pengikut beliau untuk patuh mengikutinya, karena Ahmadiyah bukanlah suatu yang baru, ia adalah Jemaat yang sederhana dan murni Islam.

57 Naseem-i-Dawat

(Ajakan yang sejuk)

Di awal tahun 1903 beberapa orang yang baru masuk Islam mencetak sebuah selebaran yang ditujukan kepada kaum Arya dan Sikh secara amat lemah lembut, untuk membuktikan kebenaran agama mereka melalui doa dan mubahala atau dengan cara mengadakan konperensi keagamaan. Tanggal 8 Pebruari 1903 kaum Arya menerbitkan jawaban terhadap selebaran itu yang berisi dengan kata-kata yang amat kotor, dimana antara lain mereka menyebut Rasulullah s.a.w dengan cara yang sangat keterlaluan dan menuduh beliau dengan segala macam tuduhan keji. Kaum Arya dalam selebaran mereka itu juga memaki-maki Hazrat Ahmad a.s. dan para pengikut beliau dengan cara yang kotor.

Untuk menjawab selebaran itulah Hazrat Ahmad a.s. menulis buku Naseem-i-Dawat. Sebenarnya beliau kurang berkenan menanggapi selebaran tadi, tetapi beliau menerima perintah samawi untuk menjawabnya. Beliau mengatakan:

‘Tuhan telah memberikan aku wahyu khusus yang mengatakan “Engkau harus menjawabnya dan Aku berada besertamu.”

Selanjutnya beliau mengatakan:

‘Aku amat bergembira menerima wahyu ini karena aku merasa bahwa aku tidak sendirian dalam menanggapi selebaran tersebut. Segera aku bangkit dengan kekuatan dari Allah s.w.t. dan aku menulis jawaban ini dengan bantuan yang aku terima daripada-Nya. Berkat bantuan-Nya aku memutuskan akan tetap sopan dan halus dalam jawabanku meskipun mereka telah begitu menghina Rasulullah s.a.w., sedangkan mengenai hasil akhirnya biar Allah s.w.t. yang menentukan. Namun sebelum aku mulai menulis jawaban ini, aku ingin mengingatkan anggota Jemaat agar mereka bersabar walaupun para musuh melontarkan kata-kata keji kepada Muhammad Rasulullah s.a.w. atau kepada diriku atau juga kepada beberapa anggota Jemaat. Aku memahami bahwa sulit menahan perasaan kita jika ada yang menghina diri kita atau pimpinan agama kita, namun aku ingatkan jika kalian tidak bersabar lalu dimana letak perbedaan antara mereka dengan kalian? Hal seperti ini tidak terjadi hanya pada diri kalian saja, tetapi juga sudah dialami oleh umat-umat samawi sebelum kalian. Setiap ajakan kepada kebenaran selalu akan ditentang manusia. Karena kalian adalah pewaris kebenaran maka sudah biasanya umat dunia memusuhi kalian.’

Salah satu pokok bahasan yang dikemukakan kaum Arya adalah seharusnya orang jangan sampai masuk Islam atau agama lain sebelum membaca keempat kitab Veda. Hazrat Ahmad a.s. mengatakan kepada para pembaca tentang apa yang secukupnya diketahui sebelum seseorang memutuskan akan masuk ke agama mana. Beliau mengemukakan tiga hal. Pertama, apa pandangan yang dikemukakan agama bersangkutan mengenai Tuhan? Kedua, apa yang diajarkan agama bersangkutan tentang fitrat manusia serta bagaimana perlakuan agama itu mengenai hubungan antar manusia dan adakah hambatan dalam penyatuan manusia dalam satu ikatan? Atau apakah agama itu mengajarkan moral yang tinggi atau bahkan membawa manusia ke perbuatan keji? Ketiga, agama bersangkutan jangan memberikan Tuhan palsu atau Tuhan yang hanya ada dalam dongengdongeng masa lalu.

Setelah mengutarakan ketiga hal tersebut secara rinci, Hazrat Ahmad a.s. memberikan perbandingan ajaran Kristen, agama Arya dan ajaran Al-Qur’an. Perbandingan ini meliputi tiga bab dan sangat mendetil.

58 Sanatum Dharam

Dalam buku yang diterbitkan tanggal 8 Maret 1903 ini, Hazrat Ahmad mencoba membantu para pengikut Sanatan Dharam untuk memahami beberapa segi agama mereka. Beliau mengungkit masalah Nayog yaitu tentang seorang isteri yang diperintahkan bersetubuh dengan laki-laki lain demi mendapatkan keturunan. Beliau berkata kepada kaum Arya bagaimana jijiknya ajaran agama mereka itu bagi kesadaran kemanusiaan. Di bagian epilog buku itu Hazrat Ahmad a.s. mengulang dengan kata-kata lain apa yang telah beliau kemukakan dalam buku Naseem-i-Dawat mengenai dasar tentang beralih agama.

59 Tazkiratush Shahadatain

(Narasi tentang dua orang Sahid)

Tazkiratush Shahadatain diterbitkan tahun 1903 dan terdiri atas dua bagian. Satu bagian menceriterakan insiden yang berakhir dengan sahidnya Hazrat Sahibzada Abdul Latif r.a. yang adalah seorang kepala suku bangsa Khost di Afghanistan, serta muridnya Hazrat Mian Abdur Rahman r.a. Semuanya itu ditulis dalam bahasa Urdu. Bagian lain dari buku ditulis dalam bahasa Arab dan berisi tiga brosur yaitu Al waqto waq tud Duai-wa-la waqtul malahim wa Qatlil a’dai (sekarang adalah waktunya untuk berdoa dan bukan waktu untuk berperang memenggal kepala musuh), Zikro Haqiqatul Wahyi was Zarabhusulihi (keterangan mengenai kebenaran wahyu dan bagaimana memperolehnya) dan yang ketiga adalah Alamatul Moqarra’bin (tanda-tanda mereka yang dekat dengan Tuhan).

Tema dasar dari Tazkiratush Shahadatain adalah disahidkannya dua orang pertama suhada Jemaat Ahmadiyah serta bagaimana cara mereka dahulu menerima Ahmadiyah. Kedua kejadian itu terjadi sejalan dengan wahyu yang dikemukakan dalan Brahin-i-Ahmadiyya yang berbunyi Shatani Tuzbahanikullo man alaiha fan yang artinya dua domba akan disembelih dan semua orang harus mati. Pemenuhan kabar ghaib ini memberikan bukti yang meyakinkan akan kebenaran pengakuan Hazrat Ahmad a.s.

Hazrat Ahmad a.s. menjelaskan secara rinci semua argumentasi yang berhasil meyakinkan Hazrat Sahibzada Abdul Latif tentang kebenaran pengakuan beliau dimana beliau memberikan enambelas ciri persamaan beliau dengan nabi Isa a.s. Detil dari kejadian disahidkannya mereka memang sangat mengerikan dan mendirikan bulu roma serta membuat darah memuncak namun Hazrat Ahmad a.s. menyeru para pengikut agar lebih mementingkan agama di atas masalah duniawi serta memikul kesulitan dengan lapang dada. Bersamaan dengan seruan itu beliau mengutarakan secara singkat hal keyakinan yang harus dipegang oleh anggota Jemaat. Tentang kebenaran pengakuannya beliau mengatakan:

‘Kalian tidak akan menemukan cacat dalam kehidupanku sebelum pengakuanku, tidak juga kalian dapat menuduhku berpura-pura atau dusta atau menipu. Kalau kalian bisa menemukan hal-hal seperti itu, mungkin saja kalian akan mengatakan bahwa karena ia terbiasa berdusta maka pengakuannya pun pasti dusta. Adakah di antara kalian yang dapat mengkritik kehidupanku sebelum pengakuanku? Ini semata adalah rahmat Allah s.w.t. bahwa dari awal kehidupanku Dia telah menjaga diriku di jalan yang benar (taqwa) dan terdapat bukti kebenaran pengakuanku dalam kenyataan ini bagi mereka yang bisa berfikir.’

Beliau juga memberi kabar ghaib tentang masa depan yang cemerlang bagi Jemaat Ahmadiyah dan beliau mengatakan:

‘Wahai umat, dengarkan, nubuwatan ini berasal dari Dia yang telah menciptakan langit dan bumi yang mengatakan bahwa Dia akan menjadikan jemaat-Nya ini menyebar ke seluruh negeri dan para pengikutku akan unggul dalam masalah pembuktian dan argumentasi di atas semua lainnya. Hari-hari itu telah dekat, bahkan sangat dekat, ketika agama ini (Islam) akan menjadi agama dunia yang dihormati semua orang.’

Di bagian awal buku Hazrat Ahmad a.s. menyatakan kepada para pembaca bahwa ketika dunia sudah dipenuhi dosa dan pengingkaran terhadap Tuhan maka Dia mengirim beliau guna mereformasi manusia. Beliau mengatakan bahwa setelah menerima perintah dari Tuhan maka beliau mulai menyerukan kepada umat tentang apa yang harus dikerjakan sehubungan dengan penugasan beliau, baik melalui pidato maupun tulisan. Beliau menyatakan bahwa yang ditugasi sebagai pembaharu agama (mujaddid) di awal abad empatbelas tidak lain adalah beliau sendiri. Beliau ditugaskan guna mengembalikan ke dunia keimanan yang telah terbang ke langit, serta melalui rahmat Allah s.w.t. beliau akan mengembalikan manusia ke jalan yang benar sambil menunjukkan dan menghapus kesalahankesalahan yang mereka perbuat.

Kemudian beliau memberikan tanda-tanda yang akan terjadi saat kedatangan Pembaharu dari abad keempatbelas sebagaimana dikemukakan dalam Hadist. Beliau mengutip beberapa wahyu dalam bahasa Arab dan memberikan terjemahnya dalam bahasa Urdu.

Setelah mengutip beberapa wahyu itu beliau kemudian menceritakan apa yang terjadi pada saat kesahidan. Kemudian tambahan detil hal pengakuan beliau serta pemenuhan tanda-tanda sebagaimana saat diceritakan kepada Hazrat Sahibzada Abdul Latif sehingga yang beersangkutan meyakini pengakuan beliau itu.

Tentang kedatangan nabi Isa a.s. yang kedua kalinya, beliau mengatakan kalau memang ada yang harus kembali lagi ke dunia maka yang paling pantas adalah Muhammad Rasulullah s.a.w. dan bukannya nabi Isa a.s.

Beliau kemudian bersumpah demi Allah bahwa telah lebih dari duaratus ribu tanda-tanda yang diperlihatkan kepada beliau dan tak kurang dari sepuluh ribu orang yang melihat penampakan Rasulullah s.a.w. dalam mimpi mereka dimana Rasulullah s.a.w. telah membenarkan pengakuan beliau. Sebagian dari mereka yang menerima pengakuan beliau adalah para pemuka yang mempunyai pengikut ratusan ribu orang.

Hazrat Ahmad a.s. mengemukakan dan menerangkan juga beberapa kabar ghaib yang menurut umat belum terpenuhi.

Setelah menceriterakan kejadian yang berujung pada kesyahidan Hazrat Sahibzada Abdul Latif, beliau mengatakan:

‘Wahai Abdul Latif, semoga Allah menghujani engkau dengan ribuan rahmat-Nya, karena engkau telah menunjukkan kesungguhanmu di dalam masa hidupku.’

Terdapat sebuah bab terpisah yang berjudul ‘Beberapa nasihat bagi Jemaatku.’ Di dalamnya beliau menyeru kepada anggota Jemaat agar mereka menyiapkan diri mereka untuk kehidupan ukhrawi sebagaimana yang telah dilakukan para sahabat Rasulullah s.a.w. Beliau mengatakan bahwa merugilah mereka yang pikirannya terpusat hanya kepada masalah dunia dan kalau ada dari mereka yang menjadi anggota Jemaat maka yang bersangkutan harus ingat bahwa keanggotaanya itu tidak berarti apa-apa, karena ia setamsil dahan kering yang tidak akan pernah menghasilkan buah.

Di bagian berbahasa Arab dari buku itu, brosur pertama menerangkan perlunya orang memahami apakah Islam itu dan apa makna sesungguhnya. Penjelasan demikian harus dilakukan melalui mulut dan pena. Beliau mencela pembunuhan seseorang hanya karena yang bersangkutan adalah bukan Muslim. Beliau juga mengingatkan bahwa doa bisa sangat membantu guna meyakinkan orang tentang kebenaran suatu agama, karena itu seharusnya mereka mendoakan orang-orang yang sampai saat ini belum menyadari keindahan Islam.

Beliau mengatakan, ketika orang diminta untuk percaya, mereka umumnya akan berkata: Perlukah kami percaya pada ia yang tidak sepaham dengan orang-orang terpelajar kita? Mereka puas dengan kehidupan duniawi mereka dan menolak beliau karena tidak percaya bahwa beliau diutus oleh Tuhan.

Tema dari brosur kedua dalam bahasa Arab itu adalah tentang fakta-fakta mengenai wahyu dan bagaimana cara memperolehnya. Di bagian awal Hazrat Ahmad a.s. menunjukkan bahwa wahyu adalah matahari perkataan Tuhan yang timbul dari cakrawala hati mereka yang muttaqi untuk menghilangkan kegelapan. Kemudian beliau menjelaskan ciri-ciri dari orang muttaqi berkaitan dengan karakter dan perilaku serta perhatian mereka pada pengagungan Allah s.w.t.

Brosur ketiga mengulas tentang ciri-ciri mereka yang sangat dekat dengan Tuhan. Tanda-tanda ini banyak sekali dan terutama tentang kurangnya perhatian mereka terhadap masalah duniawi serta kecenderungan mereka untuk berlaku baik dan mematuhi perintah Tuhan. Mereka ini tidak menyangkal kebenaran dan mereka tidak mengkhianati Imam zaman meskipun mereka dilemparkan ke dalam api sekalipun serta tidak kehilangan keimanannya meski tubuhnya dipotong berkeping-keping. Beliau mencontohkan Hazrat Sahibzada Abdul Latif. Beliau kemudian berkata:

‘Dengan rahmat Allah s.w.t. aku termasuk sahabat-Nya, tidakkah kalian mengenalku? Aku telah diutus dengan tanda-tanda yang jelas, tidakkah kalian melihatnya? Gerhana matahari dan bulan serta ditinggalkannya unta sebagai kendaraan, tidakkah kalian merenunginya? Wahai manusia, aku adalah Masih yang diutus pada saat yang tepat. Aku datang dari langit beserta bukti-bukti dan aku telah memperlihatkan tanda-tanda Tuhan bagimu dan bagi mereka lainnya. Zaman ini menjadi saksi dan Allah s.w.t. telah bersaksi di dalam Al-Qur’an tentang pengakuanku. Wahai umat, jangan tergesa menuduhku pendusta, apa yang terjadi pada kalian sehingga kalian tidak berlaku sebagai orang yang muttaqi (mereka yang takut akan Tuhannya)?.’

Di bagian akhir brosur beliau mengatakan:

‘Kalian menuduhku sebagai kafir dan karenanya kalian telah menganiaya diri sendiri, sedangkan mengenai diriku, aku menyerahkan semua permasalahanku kepada Allah s.w.t. dan segera kalian akan merasakan akibatnya.’

60 Siratul Abdal

(Ciri-ciri orang saleh)

Buku yang ditulis dalam bahasa Arab ini merupakan literatur yang teramat indah. Hazrat Ahmad a.s. memulai dengan peringatan bagi umat bahwa beliau di utus Allah s.w.t. melalui wahyu dimana beliau diutus kepada mereka, para malaikat telah turun dari langit dan kediaman beliau (Qadian) menjadi tempat yang disucikan. Beliau selanjutnya menyatakan bahwa kalau saja manusia mau berfikir maka mereka akan melihat apa yang beliau lihat dan mereka akan minum air yang murni (menerima pengetahuan dari langit) dan keimanan mereka akan bertambah. Beliau mengetengahkan pengakuan beliau sebagai Masih Maud dan beliau menawarkan kabar-kabar gembira bagi mereka yang muttaqi. Mengenai orang-orang muttaqi ini beliau menggambarkan ciri-ciri mereka dan bagaimana membedakan mereka satu dari yang lainnya.

Sebenarnya buku ini merupakan kelanjutan dari buku Alamatul Muqarrabeen dan di sini beliau memberikan secara lebih jelas ciri-ciri mereka yang diutus Tuhan guna mereformasi dunia. Beliau juga merinci rahmat yang berlimpah diterima dunia karena adanya para pembaharu itu. Hazrat Ahmad a.s. mengaku bahwa beliau memiliki semua ciri-ciri itu dan beliau adalah mujaddid sebenarnya yang diutus Tuhan untuk membawa kembali manusia kembali ke pintu-Nya.

61 Islam Aur Mulk Ke Dusrey Mazahab

(Islam dan berbagai agama di negeri ini)

Ini adalah pidato yang disampaikan Hazrat Ahmad a.s. pada tanggal 3 Desember 1904 di Lahore. Dikenal juga dengan nama Wejangan Lahore.

Dalam buku ini Hazrat Ahmad a.s. membandingkan ajaran agama Islam dengan agama Hindu dan Kristen serta memberikan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa Islam adalah yang terbaik dan sepatutnya dianut semua manusia.

Tema yang diuraikan beliau menyangkut kondisi semaraknya dosa di dunia sebagai akibat dari kurangnya kesadaran akan Tuhan. Tambah mendalam seseorang meyakini kekuasaan Tuhan akan tambah khusuk yang bersangkutan mengerjakan hal-hal yang baik. Bertambah jauh ia dari Tuhan maka akan bertambah ia bergelimang dosa.

Hazrat Ahmad a.s. menjelaskan bahwa penebusan dosa yang diajarkan agama Kristen tidak akan dapat menyembuhkan penyakit itu, tidak juga akan menjadi lebih baik melalui ajaran kitab Veda. Kesadaran yang sempurna akan Tuhan hanya mungkin melalui wahyu (berbicara dengan dan mendengarkan Tuhan) dan hanyalah Islam saja yang dapat menciptakan kondisi kejiwaan yang kondusif kepada wahyu Tuhan, sedangkan umat Hindu dan Kristen tidak meyakini bahwa Tuhan masih berbicara.

Hazrat Ahmad a.s. menyatakan bahwa agama terdiri dari dua bagian yaitu:

  1. Keyakinan (keimanan), dan

  2. Amal, pelaksanaan, praktek.

Dasar keimanan adalah keyakinan kita akan eksistensi Tuhan dan segala sifat-Nya. Beliau memperjelas bahasan tersebut dan membuktikan kepada para pendengarnya bahwa Trinitas yang diajarkan agama Kristen serta kenihilan ciptaan jasad dan jiwa oleh Tuhan sebagaimana diajarkan kitab Veda adalah jelas tidak mungkin benar.

Membahas tentang pelaksanaan atau perbuatan, Hazrat Ahmad a.s. menguraikan bahwa menurut Islam ada tiga tingkatan kewajiban kita terhadap sesama manusia dimana beliau merujuk pada ayat Innallaha ya’morobil adli wal Ihsani wa eeta’zil Qurba.

Hazrat Ahmad a.s. juga membandingkan ajaran agama Islam dengan agama-agama lain berkaitan dengan pengampunan dan balas dendam.

Sebelum menyudahi buku, beliau menyampaikan pengakuan beliau sebagai Masih Maud dan mengutip bukti-bukti kebenaran pengakuannya serta menyebutkan beberapa kabar ghaib yang telah terpenuhi sampai saat itu.

62 ISLAM

Buku ini juga merupakan pidato yang disampaikan Hazrat Ahmad a.s. pada tanggal 2 November di Sialkot dan dikenal dengan nama Wejangan Sialkot.

Dalam pidato ini Hazrat Ahmad a.s. membandingkan ajaran agama Islam dengan agama-agama lainnya. Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dibantah bahwa semua agama pada awalnya berasal dari Tuhan dan karena itu benar adanya. Namun setelah agama Islam diturunkan maka Allah s.w.t. tidak lagi memperhatikan agama-agama tersebut. Sekarang ini hanya agama Islam saja yang memiliki serangkaian pembaharu (mujaddid).

Dalam pidato inilah beliau mengemukakan pengakuan bahwa beliau adalah juga Krishna bagi umat Hindu. Beliau mengatakan:

‘Raja Krishna sebagaimana dinyatakan kepadaku, adalah seorang yang sempurna dimana tidak ada yang menyerupainya di dalam sejarah orang-orang suci agama Hindu. Beliau adalah nabi di zamannya kepada siapa malaikat Jibrail telah turun atas perintah Allah s.w.t.’

Hazrat Ahmad a.s. juga mencoba menarik perhatian kaum Hindu mengenai kesalahan pandangan mereka dan di akhir buku memberikan bukti-bukti kebenaran pengakuan beliau dan kabar-kabar ghaib yang diterimanya, dimana walaupun diterima di masa-masa yang sulit tetapi telah menjadi kenyataan semua.