Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Nasihat Berharga Hazrat Muslih Mau’ud (ra) kepada Para Dai Ilallah & Murabbi

Notes: Uraian dibawah ini berupa intisari pidato HZ Aqdas Muslih Mau’ud (ra) yang kami sarikan dari terjemahan Bapak Mln. Amar Ma’ruf Aziz, Mbsy.

Pidato itu sendiri diucapkan Hazrat Khalifatul Masih II (ra) dihadapan Para Murabbi dan pelajar Madrasah Ahmadiyah pada 26 Januari 1921

Hazrat Aqdas Muslih Mau’ud (ra) bersabda : “Sekarang saya akan beritahukan sesuatu hal yang tidak ada hubungannya dengan akidah, yaitu:

Petunjuk Ke-satu

Sangat penting bahwa Murabbi harus tidak mempunyai keinginan tertentu. Orang orang yang mendengar nasihatnya pun mengetahui bahwa Murabbi tidak mempunyai kepentingan pribadi dengannya. Sebab jika Murabbi mempunyai kepentingan pribadi walaupun dia berbicara masalah sholat, tetap saja orang-orang akan mendengarnya: “Berilah saya sesuatu.” Pengalaman selama ini membuktikan bahwa apabila seorang penasihat memberi ajaran lanjuran atau petunjuk, sesudahnya maka ia meminta, saya perlu ini dan itu. Untuk itu tolonglah disediakan. Hal ini menjadi suatu kebiasaan yang sangat buruk dan akibatnya nasihat yang diberikan tidak lagi didengarkan dengan penuh perhatian.

Jika pada suatu waktu memperoleh sangsi karena ketamakan, maka para Murabbi sebaiknya tinggalkanlah, dalam memberi nasihat serta bertaubat dan beristighfarlah. Namun apabila sudah bertaubat dan hilang kebiasaan buruk tersebut maka berdirilah dengan keadaan tidak menginginkan suatu keuntungan apapun dari mereka.

Kalau ada Murabbi mampu membuktikan keadaan seperti itu, maka nasihatnya akan membekas dan diterima. Jika tidak maka nasihatnya tidak akan ada manfaatnya. Begitu juga diwaktu yang lain pemberi nasihat harus menghindarkan diri dari meminta-minta. Bagi seorang mukmin hal tersebut sangat tidak disukai. Jika seorang pemberi nasihat melakukan hal seperti itu maka wibawanya dan pengaruh dari nasihatnya akan berkurang.

Petunjuk ke-Dua

Hal kedua yang perlu diingat oleh para pemberi nasihat atau Murabbi adalah harus berani. Kalau pemberi nasihat tidak berani, maka nasihatnya tidak akan ada pengaruhnya pada yang lain atau wibawanya di daerah akan berkurang. Murrabi kita dalam hal ini banyak yang tidak peduli akan hal ini. Pada diri mereka ada kelemahan. Di mana ada anggota Jemaat di situ mereka akan pergi kesana memberi nasihat. Tetapi jika tidak ada anggota mereka tidak akan pergi kesana. Sebab didalam hatinya secara tersembunyi ada perasaan takut dihina, akan dipukul oleh orang-orang non Ahmadiyah. Sebenarnya dan seharusnya mereka kesana, di mana tidak ada anggota Ahmadi. Karena dimana telah ditanamkan bibit, disanalah akan berkembang dengan sendirinya. Di mana belum ditanam benihnya disanalah harus ditanam. Inilah sunnatullah. Tidak semua tempat ada anggota Jemaat, tetapi secara terpisah-pisah. Cobalah lihat di Qadian, di mana seluruh penduduknya tidak beriman kepada Hazrat Masih Mau’ud a,s, juga di kota Batala. Tidak semuanya beriman bahkan disana banyak yang menentang dengan sangat kuat. Demikian juga di kota Lahore dan Kalkutta.

Dari situ dapat diketahui bahwa Allah Ta’ala terus menumbuhkan kebenaran seperti itu. Begitulah Allah Ta’ala terus menumbuhkan tempat-tempat seperti itu, supaya sekelilingnya mendapat pengaruh. Suatu pemikiran bahwa disuatu tempat semua penduduknya dijadikan Ahmadi dan kemudian terus maju kedepan adalah suatu pemikiran yang salah. Sebab seandainya harus seperti itu dan nyatanya di Qadian tidak semua orang menerima Hazrat Masih Mau’ud (as). Maka kita tidak bisa melangkah kedepan. Hal ini tidak boleh terjadi, karena kadang-kadang ada suatu tabiat yang hanya dalam waktu 10 sampai 20 hari saja sudah bisa menerima. Ada yang lebih lama dari itu, ada yang 2 sampai 3 tahun ada pula yang 10 sampai 15 tahun. Dan setiap tempat ada yang bertabiat seperti itu.

Kalau hanya disebabkan orang-orang yang dalam jangka waktu panjang baru menerima kemudian para Murabbi tidak pergi ketempat lain dimana disana ada orang yang bisa menerima cepat orang-orang itu akan lepas dari tangan kita. Dan mereka tidak akan dapat kita satukan. Para Da’i dan Murabbi belum bisa memahami hal itu yang akibatnya ribuan bahkan ratusan ribu orang yang sampai sekarang masih luput dari kebenaran. Para Da’i Murabbi harus segera pergi ke tempat-tempat itu, maka akan banyak orang yang menerima. Karena disetiap tempat terdapat orang yang dengan cepat dapat menerima kebenaran. Oleh karena itu kita harus segera bertabligh disetiap tempat.

Ada teman yang memberitahukan, dia bertemu seseorang didalam kereta api, hanya dengan beberapa perkataan saja dia dapat menerima dan sekarang dia datang kesini. Walau gaji orang itu hanya 3 rupee dan mendapat tunjangan makan dan pakaian namun orang ini sangat ikhlas dan selalu mencari khabar tentang kebenaran, tetapi hanya dengan sekali bertemu saja dia sudah menjadi Ahmadi. Hendaknya kita perlu memperluas pengaruh di daerah tertentu. Tetapi karena kelemahan para Da’i dan Murabbi maka hal itu tidak tercapai. Murabbi/da’i harus berani.

Suatu kebenaran yang terjadi bahwa dengan keberanian Murabbi itu sehingga membawa pengaruh pada yang lain. Dengan melihat keberanian itu orang dapat menerima kebenaran. Itulah sebabnya banyak orang Hindu dan orang Islam yang menjadi Kristen, karena keberanian para Pendeta menyampaikan ajaran Al-Masih dan menimbulkan pengaruh darinya. Maka Murabbi harus berani dan hendaknya jangan takut pada siapapun dan harus pergi kedaerah yang belum ada pertablighan.

Kebenaran adalah sesuatu dimana seluruh dunia memendangnya penuh hormat. Para Murabbi harus menjadi yang paling berani karena ia menjadi contoh bagi yang lain.

Bagaimana orang Afrika menjadi kristen? Pertama-tama seorang wanita pergi kesana untuk memberi pengobatan. Itulah sebabnya Wahsyi (orang yang tinggal di hutan) tidak mengatakan apa-apa. Tapi pada suatu hari mereka marah dan memotong-motong para pembantu wanita tersebut lalu dimakannya. Salah satu pembantu yang sudah menjadi Kristen melaporkan hal itu kesuatu tempat yang ada orang-orang Inggris sejauh 300 mil tentang terbunuhnya wanita itu dan diteruskan ke Inggris. Ketika berita itu sampai ketempat misi wanita yang terbunuh berasal, banyak wanita yang mengajukan permohonan untuk dikirim sebagai Missionaris untuk berangkat kesana dengan biaya sendiri. Akibatnya semua penduduk Uganda telah memeluk agama Kristen. Pada awalnya sang wanita itu bekerja sendirian disana selama 7 tahun. Ketika beliau meninggal dunia maka semuanya menjadi berani akibat keberanian wanita tersebut. Dengan tidak menghiraukan akan bahaya, yang lainnya mengajukan permohonan untuk pergi kesana.

Maka keberanian seorang Murabbi akan membawa faedah yang besar bagi orang lain. Oleh karena itu timbulkanlah keberaniaan pada diri Murabbi yang lain. Saya telah mempelajari tentang akhlak bahwa 70% dari dosa itu terjadi karena tidak adanya keberanian. Seandainya keberanian ada, maka dosa yang timbul tidak akan sebanyak itu.

Petunjuk ke-Tiga

Hal ketiga yang penting bagi Murabbi adalah Harus berbaur dalam kesedihan orang-orang itu. Dimanapun para Murabbi dan Da’i pergi maka berbuat baiklah sehingga orang merasa bahwa para Murabbi/Da’i selalu ada bersama mereka dalam suka maupun duka. Kalau orang-orang telah membuktikan hal seperti itu maka kebencian orang terhadap agama akan hilang. Maka sangat penting bagi Murabbi dimanapun dia pergi disana harus dibuktikan kepada orang orang, bahwa mereka merasakan adanya kebersamaan dalam suka maupun duka. Kalau hal itu terbukti maka dalam pikiran orang-orang pada Da’i/murabbi ada bersama mereka. Maka kata-katanya akan didengarkan dan juga akan timbul pengaruh didalamnya.

Petunjuk ke-Empat

Hal ke empat yang penting bagi Murabbi/Da’i “Dia tidak buta akan pengetahuan umum, Karena dari situ akan timbul pengaruh yang besar.” Misalnya ada yang bertanya, “Dimana Pulau Jawa? sebenarnya itu hal sepele. Tetapi jika tidak bisa menjawab maka orang akan menganggap rendah. Maka dari itu Murabbi harus tahu masalah ilmu pengetahuan umum supaya jangan ada yang mengira ia buta akan hal itu. Tidak penting apakah bahwa ia mengetahui setiap ilmu, tetapi sedikit sedikit ia mengenal.

Hazrat Kalifatul Masih (ra) Awal sering menceritakan suatu kejadian bahwa beliau (ra) pergi menjenguk orang sakit. Di sana juga hadir seorang Tabib. Beliau bertanya. “ketika memasang termometer apakah melihat kearah yang sakit atau tidak?” Tabib berkata, “Kalau tuan ingin memberi Obat dari Inggris, maka saya akan pergi. Hazrat Khalifatul Masih Awal (ra) bersabda : “Termometer itu bukan obat tetapi suatu alat untuk digunakan mengetahui suhu badan yang sakit, bahwa sampai berapa derajatkah panasnya”. Tabib itu berkata, Baik itu alat atau sesuatu yang lain, yang pasti segala sesuatu dari Inggris itu panas adanya dan yang sakit sebelumnya sudah begitu panas badannya”.

Bagi para Murabbi itu sangat perlu mengenal tentang majelis dan jangan menampakan ketidaktahuannya tentang sesuatu hal yang sampai ketingkat kebodohan yang sangat rendah. Hz Shahib (as) selalu memperdengarkan cerita bahwa ilmu majelis itu sangat penting. Kalau orang belum mengenalnya maka orang lain akan memandang rendah. Begitu juga dengan tata tertib, di majelis itu adalah ilmu yang sangat penting. Bagi Murabbi sangat perlu untuk mengetahui ilmu tentang Biografi, sejarah, Perhitungan (Hisab), Ilmu Pengobatan, tata cara berbicara, Tata tertib majelis dan lain sebagainya. Dan bukanlah suatu pekerjaan yang sulit, hanya memerlukan sedikit kerja keras. Untuk itu setiap ilmu pertama-tama harus baca dari buku-buku.

Kemudian harus tahu tentang kejadian kejadian yang sedang terjadi, misalnya kalau ada yang bertanya : “Mr. Gandi itu siapa?” Kalau dijawab tidak tahu maka semua orang akan tertawa dan menganggap rendah padanya. Oleh sebab itu adalah sangat perlu mengetahui apa-apa yang terjadi pada kebanyakan orang dan yang terjadi setiap harinya.

Petunjuk Ke-Lima

Hal kelima yang penting bagi murabbi adalah, “Murabbi tidak boleh kotor/jorok”. Rasulullah (saw) bersabda bahwa jika ada yang meludah di masjid adalah suatu kesalahan besar dan kafarah ludah itu harus dikubur (Musnad Ahmad Bin Handal Jilid III halaman 173) [1] . Tabiat Hazrat Masih mau’ud (as) begitu sederhana, tetapi suatu hari beliau (as) berhenti makan bersama orang-orang luar. Sebabnya ialah ada orang yang mencampuradukan makanannya seperti, “sawi, kue, nasi manis, kuah dan lain-lain baru dimakan. Beliau (as) sangat tidak suka padanya, sehingga membuat beliau hampir muntah, lalu beliau meninggalkan tempat itu dan melanjutkan makan sendiri. Dengan demikian orang-orang luput dari berkat beliau yang biasanya mereka dapat waktu makan bersama beliau. Kemudian Hazrat Sahib (as) bersabda “Tabiat saya juga tidak suka kepada orang yang seenaknya mencukur habis rambutnya. Dan kalau saya melihatnya kepala saya mulai terasa pusing. Tetapi maksud saya dalam menampakkan kebersihan bukanlah hanya memakai dasi dan membentuk rambut sedemikian rupa. Karena sebagian dari itu adalah sia-sia dan sebagian lainnya tidak perlu. Tetapi yang penting dalam kebersihan adalah jangan terkena kotoran dan jangan ada yang berbau tidak sedap. Hal itu sangat perlu untuk diperhatikan. Ya ini juga jangan sampai terjadi dimana pakaian dan badan tidak dibersihkan karena kalau ini terjadi maka pekerjaan akan rusak.

Petunjuk ke-Enam

Petunjuk keenam bagi Murabbi adalah tentang Kelalaian. Kalau Murabbi mengadakan perjalanan, maka dia banyak makan biaya. Menurut saya yang baik untuk Murabbi ini adalah, bawalah biaya secukupnya, makan semurah mungkin dan kalau harus menyewa penginapan maka carilah yang murah. Jadi maksud saya jangan mengambil biaya pengeluaran yang harus diutamakan, karena hal itu tidak diperkenankan.

Petunjuk ke-Tujuh

Hal ketujuh bagi Murabbi adalah jangan ingin menang sendiri. Banyak orang yang hancur disebabkan hal itu. Maka Murabbi juga hendaknya jangan terlalu memperhatikan hal itu, bahwa, “Saya mengatakan sesuatu disuatu tempat dan mendapat pujian sedemikian rupa atau hasilnya membuat para penentang terdiam”.

Kadang-kadang kebiasaan orang suka memperdengarkan bahwa, “Kami telah mengatakan sesuatu dan begitu hebat pengaruhnya sampai-sampai orang begitu menyukainya”, Keinginan mereka ialah agar orang-orang memujinya. Tidak diragukan lagi bahwa hasil pekerjaannya dan memperdengarkan keberhasilan juga diperlukan. Sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud (as) selalu menceritakan. Tetapi ini adalah sesuatu yang maqom/kedudukannya sangat tinggi, bukan suatu keadaan yang baru dimulai. Maka hendaknya para Murabbi jangan suka memuji ceramah/makalah sendiri, tetapi dikatakanlah sesuatu yang ditanyakan kepada mereka dan katakanlah apa yang dikatakan mereka.

Tidaklah baik bagi Murabbi, “Saya telah menangkap musuh sedemikian rupa, sehingga ia menjadi heran dan mukanya menjadi pucat”. Satu katapun jangan sampai keluar dari mulut kalian yang menampakan kebagusan kalian. Tugas kalian adalah menjelaskan suatu kejadian.

Penunjuk ke-Delapan

Hal kedelapan adalah, jadilah orang yang displin dalam ibadah. Tanpa itu para Murabbi tidak akan dapat mengalahkan dunia dan tidak dapat mengalahkan dirimu sendiri. Mengerjakan sholat Tahajud sangatlah penting, dahulu tidak mengerjakan sholat tahajud adalah suatu aib. Bagi Murabbi mengerjakan sholat tahajud sangat dan sangatlah penting sekali. Kalau tidak bisa mengerjakan delapan rakaat, paling sedikit dua rakaat. Kalau ini juga tidak bisa dikerjakan maka sebelum sholat subuh bacalah istighfar dan majulah sedikit demi sedikit. Selain itu biasakanlah menyibukkan diri dengan Zikir Illahi dan Ibadah -ibadah lain, karena tanpa semua itu ruh tidak akan mendapat nur/cahaya.

Petunjuk Ke-Sembilan

Hal kesembilan untuk Murabbi adalah “Doa”. Doa adalah jalan untuk meraih/menarik ridha Allah ta’ala. kalau ada orang yang mengerjakan ibadah tetapi tidak memperhatikan Doa, maka itu merupakansuatu kesombongan, dan ia merasa tidak perlupertolongan dan anugerah dari Allah (swt).

Nabi Musa (as) saja berkata kepada Tuhan, “Kalau ada kebaikan yang turun kepada ku dari Engkau maka itu sangat aku butuhkan.” Nabi Musa (as) saja membutuhkan Allah ta’ala. Tentu seoranng Mukmin biasa kenapa tidak membutuhkan Allah ta’ala. Murabbi hendaknya bekerja disertai dengan do’a, dan dalam hal atau keadaan bagaimanapun jangan sampai meninggalkan do’a.

Petunjuk Ke-Sepuluh

Hal kesepuluh bagi Murabbi adalah, Persiapan yang baik. Kalau didalamnya tidak ada persiapan yang baik, maka wilayah amalnya akan sangat terbatas dan wilayah amalnya akan habis saat ia meninggal dunia.

Oleh sebab itu dia harus berfikir akan hal itu yakni pekerjaan yang ia mulai jangan sampai habis seiring dengan kematiannya, tetapi setelah ia wafatpun pekerjaan itu terus berlanjut. Dan ini hanya dapat terlaksana kalau ia menunjuk Qoo-im makomnya (wakilnya). Lihatlah bagaimana Rasulullah (saw) juga menciptakan Mubaligh.

Bagaimana jika para Murabbi kita tidak memberi perhatian terhadap hal itu, mereka tidak berusaha mengangkat wakilnya dimanapun mereka pergi dan tidak berusaha untuk menciptakan orang supaya bekerja agar persiapan dan pekerjaannya terus berjalan dengan tertib.

Kalau Murabbi melihat bahwa ada seseorang yang lebih pantas dari yang lain dan memiliki kemauan, maka ajarkanlah dalil-dalil dari berbagai masalah kepadanya dan terus perhatikan apakah mereka telah hafal dalil pertama atau belum. Dan juga katakanlah kepadanya, “Setelah kami maka beliaulah yang menjalankan da’wah ilallah dan berikan laporan kepada kami setiap saat”.

Dari itu kemanapun Murabbi pergi disana mereka harus mengerjakan da’wah Ilallah dan ajarkan caranya berdebat. Berdebat tidaklah sama dengan menyampaikan makalah.

Oleh karena itu ajarkanlah cara berdebat tentang agama-agama pada mereka, supaya tercipta orang-orang yang dapat bekerja setelah ditinggal oleh Murabbi.

Petunjuk Ke-Sebelas

Petunjuk kesebelas yang harus diperhatikan oleh para Murabbi adalah, suatu hal yang sangat sensitif. Banyak orang yang tidak memberi perhatian kearah itu sehingga kadang-kadang mendapat kekalahan dan kehinaan. Saya mendapat faedah dari hal itu, tapi sayang banyak orang tidak mengambil faedahnya, yaitu :

  1. Jangan sekali-kali menganggap enteng lawan.

  2. Jangan sekali-kali berpikiran bahwa kamu tidak kuat melawannya.

  3. Jangan berpikir, saya jarang tampil dalam perdebatan karena itu saya kurang berpengalaman akan hal itu.

  4. Jangan mempunyai pikiran bahwa lawan itu orang awam, kurang ilmu, bodoh sehingga untuk apa memperhatikan.

  5. Jangan menganggap remeh terhadap anak kecil, mereka tetap dianggap kuat.

Anggaplah semua itu sebagai ujian dan harus dihadapi dengan sungguh-sungguh oleh karena itu harus ditanamkan dalam hati bahwa kita dipihak yang benar dan tidak ada harus ditakuti.

Percayalah bahwa Allah akan selalu menolong kita. Dengan perantaraannya kita dapat mengalahkan musuh. Berpegang teguh dan percaya penuh bahwa Allah-lah yang bisa menolong kita dan kita akan berhasil. Yakinlah bahwa kalau musuh kuat maka penolong kitapun sangat kuat, sehingga musuh tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jadi dua hal yang harus diyakini yaitu:

  1. Tuhan tidak akan membiarkan protes keluar dari mulut musuh.

  2. Jikapun keluar protes dari musuh, maka Tuhanlah yang akan memberikan jawaban

Catatan Kaki

  1. Diriwayatkan,

    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا

    dari Anas bin Malik (ra) dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Meludah di masjid adalah kesalahan dan kafarahnya menimbunnya.” H.R. Ahmad