Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Keteladanan Khalifah Umar bin Khottob (ra) (bagian 6)

Ringkasan Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 09 Juli 2021 (Ihsan 1400 Hijriyah Syamsiyah/28 Dzulqa’idah 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya). Pembahasan mengenai salah seorang Khalifah dari Khulafa’ur Rasyidin (Para Khalifah yang Dibimbing dengan Benar) yaitu Hadhrat ‘Umar ibn al-Khaththab radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

أَشْهَدُ أنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ - أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ -

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿۲﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿۳﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿۴﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿۵﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۬ۙ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿۷﴾

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala menyampaikan bahwa Hadhrat ‘Umar (ra) juga memprakarsai sistem Qadha (arbitrase, pengadilan). Peradilan didirikan di setiap wilayah, di mana para Qadhi (hakim) akan diangkat. Hadhrat ‘Umar (ra) menasihati bahwa keadilan harus selalu diutamakan. Suatu ketika, terjadi perselisihan antara Hadhrat ‘Umar (ra) dan Ubayy bin Ka’b (ra). Masalah itu dibawa ke hadapan hakim. Ketika Hadhrat ‘Umar (ra) masuk, hakim menyerahkan kursinya untuk beliau. Hadhrat ‘Umar (ra) mengatakan kepadanya bahwa ini tidak adil, dan beliau duduk di samping Ubayy bin Ka’b untuk menunjukkan bahwa mereka harus diperlakukan sama.

Hadhrat ‘Umar (ra) juga memprakarsai sistem Ifta’ (fatwa). Orang-orang dengan pengetahuan tentang Syariah (hukum Islam) ditunjuk untuk membuat keputusan dan mengeluarkan fatwa. Hadhrat ‘Umar (ra) memastikan hanya mereka yang ditunjuk yang harus memberikan fatwa, untuk menghindari kebingungan dan informasi palsu.

Hadhrat ‘Umar (ra) juga memprakarsai sistem kepolisian. Ini untuk memastikan keselamatan semua warga negara, dan untuk memastikan hukum dan aturan dipatuhi. Hadhrat ‘Umar (ra) juga mendirikan penjara, yang belum pernah ada sebelumnya.

Hadhrat ‘Umar (ra) juga memprakarsai sebuah perbendaharaan. Sebelum era Hadhrat ‘Umar (ra), kekayaan apa pun yang diterima akan langsung dibagikan. Selama era Hadhrat ‘Umar (ra), sejumlah besar pemasukan harta kekayaan diterima dari Bahrain, dan setelah berkonsultasi, diputuskan bahwa perbendaharaan didirikan untuk menyimpan sejumlah besar kekayaan dengan aman. Selanjutnya, sistem perbendaharaan ini juga didirikan di semua provinsi lain. Hadhrat ‘Umar (ra) akan membangun gedung-gedung megah untuk perbendaharaan dan akan ada penjaga di luarnya.

Suatu kali, Hadhrat ‘Utsman (ra) melihat seorang pria berjalan di luar dalam panas yang ekstrim. Ketika pria itu mendekat, beliau menyadari bahwa itu adalah Pemimpin orang beriman, Hadhrat ‘Umar (ra). Hadhrat ‘Utsman (ra) bertanya kepadanya mengapa beliau berada di luar dengan panas seperti itu? Hadhrat ‘Umar (ra) menjawab bahwa seekor unta dari perbendaharaan telah kabur, jadi beliau keluar mencarinya. Beliau (ra) juga mengembalikan satu koin uang yang terjatuh dan seorang sahabat memberikannya pada putranya yang masih anak-anak.

Ada berbagai inisiatif yang dilakukan oleh Hadhrat ‘Umar (ra) untuk kepentingan semua orang. Misalnya, ia mendirikan berbagai kanal sungai dan aliran air untuk menyediakan air bagi semua orang. Hadhrat ‘Umar (ra) juga mendirikan berbagai bangunan, seperti masjid, pengadilan, barak, berbagai kantor, wisma, penginapan dll. Beliau juga mendirikan pos keamanan di sekitar Madinah untuk memastikan keamanan.

Hadhrat ‘Umar (ra) secara resmi membentuk dan mengorganisasi tentara. Beliau membagi tentara menjadi dua bagian; mereka yang akan pergi berperang dan mereka yang menjadi sukarelawan (tentara cadangan). Hadhrat ‘Umar (ra) akan memastikan bahwa pelatihan moral tentara cenderung.

Hadhrat ‘Umar (ra) menginstruksikan bahwa tidak ada tentara yang akan pergi ke daerah taklukan untuk melakukan bisnis karena hal ini akan menurunkan keterampilan mereka sebagai tentara. Hari ini, kita melihat bahwa orang-orang di kalangan ketentaraan selalu mencari untuk melakukan bisnis di daerah di mana mereka memiliki koloni pertahanan.

Hadhrat ‘Umar (ra) memastikan bahwa setiap prajurit terampil dalam berenang, memanah, dan bahwa mereka dapat berlari tanpa alas kaki (sepatu atau sandal). Dia menginstruksikan bahwa tentara tidak boleh menunggang kuda dengan kaki mereka di sanggurdi pelana, sehingga mereka dapat dengan mudah melompat ke medan perang. Tentara akan diberikan cuti setiap empat bulan untuk mengunjungi keluarga mereka.

Selama era Hadhrat ‘Umar (ra), bahkan mereka yang bukan Muslim (Kristen, Majusi atau Yahudi) atau bukan Arab (orang Yunani, Romawi atau yang lainnya) mendapat kesempatan ditugaskan di posisi tinggi. Ada catatan bahwa ada orang-orang dari berbagai latar belakang yang diangkat ke pangkat tinggi di tentara. Hari ini, pemerintah Pakistan tidak mengizinkan orang-orang Ahmadiyah menjadi bagian dari tentara, padahal jika kita melihat sejarah, para perwira Ahmadi telah memberikan pengorbanan terbesar demi Pakistan.

Hadhrat ‘Umar (ra) akan memastikan pengendalian harga pasar dan akan memastikan bahwa harga barang tidak akan menjadi terlalu rendah, karena dapat melemahkan vendor lain. Suatu ketika, Hadhrat ‘Umar (ra) sedang berjalan-jalan di pasar ketika dia melihat seseorang menjual anggur kering dengan harga yang sangat murah, yang tidak dapat dilakukan oleh pedagang lain. Hadhrat ‘Umar (ra) menginstruksikan bahwa ia harus mengambil barang-barangnya dari pasar, atau menjualnya dengan harga yang sama dengan pedagang Madinah lainnya, yang merupakan tempat yang cocok dan layak.

Hadhrat ‘Umar (ra) menaruh perhatian besar pada pendidikan. Sekolah didirikan di semua provinsi, di mana orang-orang terpelajar diangkat sebagai guru, dan gaji juga ditetapkan untuk guru-guru ini.

Kalender Hijriah resmi ditetapkan pada era Hadhrat ‘Umar (ra). Para sahabat mulai mencatat tanggal dari waktu migrasi Nabi (saw). Kemudian, Hadhrat ‘Umar (ra) merasa perlu untuk mencatat tanggal. Seseorang menasihati Hadhrat ‘Umar (ra) bahwa dia melihat orang-orang di Yaman mencatat tanggal menurut tahun dan bulan. Hadhrat ‘Umar (ra) mengatakan bahwa cara ini harus diterapkan.

Ada berbagai riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi yang mulia (saw) mencatat tanggal pada kesempatan tertentu. Namun, pada era Hadhrat ‘Umar (ra) kalender Hijriah resmi ditetapkan. Diputuskan untuk memulai kalender sejak saat migrasi, karena tanggal lain seperti kelahiran Nabi (saw) atau tanggal beliau (saw) diangkat sebagai nabi tidak sepenuhnya jelas.

Koin Islam juga didirikan selama era Hadhrat ‘Umar (ra). Koin ini memiliki ukiran kalimat seperti Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) dan Muhammad Rasulullah (Muhammad (saw) Rasul Allah) terukir pada mereka.

Berdasarkan kutipan dari buku karya ‘Allamah Syibli Nu’mani dalam bukunya “Al-Faaruuq”: Ada lebih dari 40 pokok kebijakan yang diantaranya ialah kompilasi Al-Qur’an di masa Khalifah Abu Bakr (ra) atas gagasan beliau, kebijakan pada masa Khilafat beliau diantaranya ialah lampu-lampu penerangan di Masjid-Masjid, shalat tarawih berjamaah dan lain sebagainya.

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala menyampaikan bahwa beliau akan terus menyoroti kehidupan Hadhrat ‘Umar (ra) dalam khotbah-khotbah mendatang.

--o0o--

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala menyampaikan bahwa beliau akan mengimami shalat jenazah gaib (in absentia) dari anggota yang meninggal berikut: Yth. Tn. Surpito Hadi Siswoyo dari Indonesia yang meninggal dunia bulan lalu. Almarhum menerima Ahmadiyah ketika berusia 21 tahun. Almarhum meninggalkan istri dan delapan anaknya, salah satunya berkhidmat sebagai Muballigh, Almarhum mengkhidmati Jemaat dalam berbagai kapasitas. Almarhum sangat bersemangat untuk menyebarkan pesan Islam Ahmadiyah. Almarhum memperlakukan semua orang dengan sangat hormat. Itu adalah keinginannya untuk terus bertabligh sampai hari-hari terakhirnya. Semoga Allah memperlakukannya dengan pengampunan dan melimpahkan rahmat-Nya dan mengangkat derajatnya di surga.

Chauhdary Bashir Ahmad Bhatti Sahib yang meninggal bulan lalu. Putranya melayani sebagai Muballigh di Tanzania. Almarhum adalah orang yang berbudi luhur, dan teratur dalam doa dan puasa. Almarhum menghadiri Jalsah Salanah (Konvensi Tahunan) di Qadian sejak usia dini. Almarhum adalah seorang Ahmadi yang tak kenal takut dan akan menghadapi permusuhan dengan keberanian besar. Almarhum meninggalkan dua putri dan lima putra. Semoga Allah mengangkat derajatnya di surga dan memungkinkan anak-anaknya untuk meneruskan sifat-sifat luhurnya. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada putranya, karena ia tidak dapat menghadiri pemakaman karena berada di bidang tugas.

Hameedullah Khadim Malhi Sahib dari Rabwah. Almarhum adalah cucu Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Almarhum adalah orang yang berbudi luhur yang teratur dalam shalat dan puasa. Almarhum adalah seorang Ahmadi yang sangat berani. Salah satu putranya berkhidmat sebagai Waqif Zindegi. Semoga Allah memperlakukan Almarhum dengan pengampunan dan limpahan rahmat-Nya.

Muhammad Ali Khan Sahib dari Peshawar yang wafat di usia 89 tahun. Almarhum telah mewasiatkan kekayaannya untuk Jemaat. Almarhum meninggalkan tiga putri dan tujuh putra. Almarhum menerima Ahmadiyyat di tangan Khalifah Kedua (ra) dan tetap menjadi Ahmadi yang setia sejak saat itu. Almarhum mengkhidmati Jemaat dalam berbagai kapasitas. Almarhum mencintai AlQur’an dan akan mempelajari kitab-kitab Hadhrat Masih Mau’ud (as). Almarhum adalah orang yang sangat berbudi luhur, dan juga secara finansial mendukung mereka yang membutuhkan. Kerabat Almarhum mencoba meyakinkannya untuk meninggalkan Ahmadiyah tetapi tidak berhasil. Akhirnya kerabatnya meninggalkannya, tapi Almarhum tetap teguh pada Ahmadiyah. Semoga Allah memperlakukannya dengan pengampunan dan limpahan rahmat-Nya dan mengangkat derajatnya di surga.

Sahibzada Mahdi Latif Sahib dari Amerika Serikat. Almarhum adalah cucu Sahibzada Abdul Latif Shaheed. Almarhum telah mempelajari kitab-kitab Hadhrat Masih Mau’ud (as) dengan sangat mendalam. Almarhum teratur dalam menjalankan shalat serta nafal-nafal. Almarhum sangat mencintai Khilafat. Almarhum rendah hati dan memiliki hasrat yang besar untuk menyebarkan iman. Semoga Allah memperlakukannya dengan pengampunan dan melimpahkan rahmat-Nya dan mengangkat derajatnya di surga.

Faizan Ahmad Samir Sahib dari Rabwah yang meninggal dunia pada usia 16 tahun karena komplikasi Covid-19. Almarhum adalah anak yang baik dan lembut. Almarhum serius tentang studinya dan menghindari membuang-buang waktu. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada orang tua dan keluarganya, dan semoga Allah memperlakukannya dengan pengampunan, melimpahkan rahmatNya dan mengangkat derajatnya di surga.

Khotbah Ke-II

اَلْحَمْدُ لِلَّهْ , اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْه وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَّهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ عِبَادَ اللَّهِ! رَحِمَكُمُ اللَّهُ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ, يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ أُذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Alhamdulillâhi nahmaduhû wa nasta’înuhû wa nastaghfiruhû wa nu-minu bihî wa natawakkalu ‘alayhi wa na’ûdzubillâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluhû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûhu yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

Artinya: “Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal atas-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala memberi mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”