Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Keteladanan Khalifah Umar bin Khottob (ra) (bagian 5)

Ringkasan Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 02 Juli 2021 (Ihsan 1400 Hijriyah Syamsiyah/21 Dzulqa’idah 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

أَشْهَدُ أنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ - أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ -

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿۲﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿۳﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿۴﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿۵﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۬ۙ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿۷﴾

Hadhrat ‘Umar (ra) sebagai pihak Pemerintah membeli lahan pihak kaum agama lain yang ditaklukkan padahal masa itu sudah umum untuk Merampas harta pihak yang ditaklukan

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala menyampaikan bahwa suatu ketika, ketika Hadhrat ‘Umar (ra) mengalahkan orang-orang Kristen dan Yahudi di Yaman, dia tidak mengambil tanah mereka dari mereka, melainkan dia membelinya.

Usaha Penghapusan Perbudakan dan Penawanan di luar Perang

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala menyatakan: ‘Kamu menginginkan harta dunia, sedangkan Allah menginginkan akhirat untukmu.’ (Al-Qur’an, 8:68) Berdasarkan ayat ini, Khalifah Kedua (ra) telah membuktikan bahwa Islam tidak mengizinkan menjadikan seseorang tawanan selain dari masa perang.

Suatu ketika sekelompok dari Yaman datang ke Hadhrat ‘Umar (ra) dan mengatakan bahwa mereka telah dijadikan tawanan di tanah mereka oleh orang-orang Kristen. Hadhrat ‘Umar (ra) berkata bahwa beliau akan menyelidiki, dan jika ini benar, beliau pasti akan membebaskan mereka dari perbudakan ini.

Khalifah Kedua (ra) membandingkan ini dengan Eropa di mana perbudakan berlanjut sampai abad ke-19, sedangkan Islam menghapus semua bentuk penawanan dan perbudakan.

Sifat Tidak mementingkan diri sendiri dari Hadhrat ‘Umar (ra): Teladan beliau di masa kesusahan makanan akibat lamanya masa musim kering

Suatu ketika pada era Hadhrat ‘Umar (ra), bencana kelaparan melanda Madinah dan sekitarnya, sehingga tahun ini dikenal sebagai ‘Tahun Abu – Tahun Berdebu’. Selama waktu ini, Hadhrat ‘Umar (ra) menulis surat kepada gubernur Mesir, Hazrat Amr bin Aas (ra) meminta bantuan dan bantuan. Amr bin Aas (ra) menjawab dengan mengatakan bahwa ia akan mengirim utusan unta, sejauh unta pertama akan berada di Madinah dan unta terakhir dalam barisan akan tetap berada di Mesir. Demikian pula Gubernur Irak (yang berada di Kufah) dan Syam (yang berada di Damaskus, Suriah) juga mengirimkan bantuan.

Ketika bantuan akan sampai kepada mereka, Hadhrat ‘Umar (ra) menginstruksikan agar bantuan itu diberikan terlebih dahulu kepada mereka yang tinggal di desa-desa. Hadhrat ‘Umar (ra) juga menyiapkan makanan dan pengumuman dibuat bagi siapa saja yang membutuhkan makanan untuk datang dan mengambil apa pun yang mereka butuhkan.

Suatu kali beberapa makanan disajikan kepada Hadhrat ‘Umar (ra) yang berisi beberapa daging. Beliau (ra) bertanya dari mana asalnya dan diberitahu bahwa itu dari salah satu unta yang telah disembelih. Hadhrat ‘Umar (ra) bertanya pemimpin seperti apa beliau (ra), jika beliau (ra) menyimpan bagian terbaik dari makanan untuk diri beliau sendiri dan memberikan sisanya kepada pengikutnya. Karena itu beliau (ra) meminta agar benda itu dibawa pergi dan sesuatu yang lain dibawa kepadanya. Tercatat bahwa Hadhrat ‘Umar (ra) tidak makan daging atau mentega sampai semua orang diberi makan dengan benar dan kembali ke keadaan normal mereka. Tercatat warna kulitnya mulai menggelap karena terbatasnya jumlah makanan yang ia makan.

Hadhrat ‘Umar (ra) meminta jumlah orang yang datang untuk makan harus dihitung. Jika dihitung, ternyata ada 7.000 (tujuh ribu) orang yang ikut makan bersamanya dan di hari lain jumlah itu bertambah menjadi 10.000 (sepuluh ribu). Hal ini berlanjut sampai akhirnya, setelah shalat Hadhrat ‘Umar (ra), hujan turun dan kelaparan berakhir.

Kepemimpinan Teladan Hadhrat ‘Umar (ra): pemasangan alas tikar atau sajadah di Masjid, Sensus (penghitungan dan pendataan penduduk), sistem penjatahan dalam pembagian makanan demi memastikan meratanya bahan makanan pada waktu kesulitan. Penegakkan praktek kesetaraan oleh Nabi (saw). Sistem pemerataan (sama rata) dipraktekkan Nabi (saw) dalam pasukan beliau di peperangan ketika situasi ekstrim dalam hal kekurangan makanan dan di awal masa di Madinah.

Pada awalnya di masjid, shalat dilakukan di tanah, akibatnya dahi para jamaah sering tertutup lumpur (tanah atau debu). Tercatat bahwa Hadhrat ‘Umar (ra) adalah orang pertama yang menginstruksikan agar semacam alas tikar diletakkan di atas tanah untuk memudahkan shalat. Itu juga selama era Hadhrat ‘Umar (ra) bahwa Masjid Nabawi (Masjid Nabawi) direnovasi dan diperluas.

Hal itu juga selama era Hadhrat ‘Umar (ra) bahwa beliau (ra) berinisiatif mengambil sensus (cacah jiwa) warga, dan juga selama ini Hadhrat ‘Umar (ra) mendirikan sistem penjatahan. Hal ini sesuai dengan kesetaraan yang sama yang ditetapkan oleh Nabi (saw) segera setelah beliau (saw) tiba di Madinah.

Suatu ketika dalam pertempuran, Nabi saw mengetahui beberapa orang tidak memiliki cukup makanan, sementara ada beberapa yang memiliki banyak makanan. Melihat hal ini, Nabi (saw) memerintahkan semua orang yang memiliki sesuatu makanan untuk mengumpulkannya, dan kemudian dibagikan secara merata sehingga semua orang bisa makan. Semua orang makan secara terpisah sampai memungkinkan untuk melakukannya, tetapi ketika risiko sisa lapar muncul, Nabi (saw) memerintahkan agar semua orang makan sama rata. Hal ini bukan untuk mendirikan sosialisme atau komunisme jenis apa pun, melainkan keputusan yang dibuat berdasarkan keadaan pada saat itu. Oleh karena itu, ini adalah contoh yang ditetapkan oleh Nabi (saw).

Berdasarkan contoh yang diberikan oleh Nabi yang mulia (saw), bahwa ketika Islam mulai menyebar jauh dan luas dan berbagai negara mulai bergabung dengan Islam, Hadhrat ‘Umar (ra) menetapkan sistem sensus di untuk menentukan jumlah warga, dan kemudian mendistribusikan makanan di bawah sistem penjatahan untuk memastikan semua yang masuk Islam bisa makan. Oleh karena itu, pemerintah Islam menetapkan sistem, dimana tunjangan penghidupan setiap orang menjadi tanggungjawab pemerintah. Ada yang mengatakan bahwa Soviet-Rusia (zaman pemerintahan Komunis) adalah yang pertama menyediakan penjatahan makanan bagi warganya setelah melakukan sensus. Namun fakta membuktikan konsep ini pertama kali didirikan oleh Islam dan pemerintahnya.

Membangun Sistem Resmi Syura

Pada era Hadhrat ‘Umar (ra), negara-negara pada masa itu dibagi menjadi provinsi-provinsi untuk membantu memfasilitasi pemerintahan. Demikian pula, selama era Hadhrat ‘Umar (ra) sistem Syura (konsultasi) didirikan. Selama pertemuan konsultatif inilah para menteri dari departemen yang berbeda dan gubernur dari berbagai daerah akan bertemu.

Nasehat-Nasehat kepada para Pengurus Pemerintahan

Hadhrat ‘Umar (ra) menetapkan aturan dan pedoman tertentu bagi para pejabat, untuk memastikan bahwa mereka tidak jatuh ke dalam kesombongan atau keduniawian. Juga pada era Hadhrat ‘Umar (ra) perpajakan dibuat lebih ringan sehingga memudahkan warga untuk membayar.

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala mengatakan bahwa beliau akan terus menyoroti kehidupan Hadhrat ‘Umar (ra) dalam khotbah-khotbah mendatang.

Peluncuran Ensiklopedia Ahmadiyah Baru

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala mengatakan bahwa beliau akan membuat pengumuman mengenai peluncuran Ensiklopedia Ahmadiyah yang didirikan oleh Ahmadiyya Archive and Research Center (Pusat Arsip dan Penelitian Ahmadiyah). Mereka mulai mengerjakan proyek ini beberapa waktu yang lalu, dan sekarang situs web ini tersedia untuk kepentingan anggota. Website yang diluncurkan adalah ahmadipedia.org dimana terdapat mesin pencari untuk mencari materi dengan mudah. Hasil pencarian akan menyertakan tautan ke berbagai situs web Jemaat dan video yang relevan, dll.

Ada juga opsi di situs web ini di mana orang dapat mengirim akun historis yang mungkin belum pernah mereka rekam sebelumnya. Setelah verifikasi, akun-akun ini akan dimasukkan ke dalam situs web, sehingga menjadikannya proyek yang akan dilanjutkan dengan bantuan anggota Jemaat. Jika seseorang tidak dapat menemukan materi atau informasi tertentu di situs web, seseorang dapat menghubungi tim pusat, dan mereka akan bekerja untuk menemukan dan menyediakan informasi tersebut. Departemen TI pusat serta muballigh di Pusat Arsip dan Penelitian memainkan peran besar dalam mempersiapkan materi untuk situs web ini.

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala menyampaikan untuk berdoa bagi semua yang terlibat, dan mengatakan bahwa setelah salat Jumat, beliau akan meluncurkan situs web ini.

Khotbah Ke-II

اَلْحَمْدُ لِلَّهْ , اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْه وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَّهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ عِبَادَ اللَّهِ! رَحِمَكُمُ اللَّهُ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ, يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ أُذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Alhamdulillâhi nahmaduhû wa nasta’înuhû wa nastaghfiruhû wa nu-minu bihî wa natawakkalu ‘alayhi wa na’ûdzubillâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluhû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûhu yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

Artinya: “Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal atas-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala memberi mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”