Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Penjelasan tentang Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid

Tahrik Jadid

Skema Tahrik Jadid diprakarsai oleh Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra).

Pada tahun 1934, Ada satu gerakan anti Ahmadiyah yang bernama Majlis-e-Ahrar. Mereka memulai menghasut masyarakat dan mereka menyatakan bahwa mereka tidak akan berhenti hingga mereka menghilangkan Jemaat Ahmadiyah dari muka bumi. Sebagai tanggapan, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II (ra) bersabda:

“Saya melihat bumi tergelincir dari bawah kaki Ahrar. Mereka mengatakan mereka akan melenyapkan Jemaat ini, tetapi Allah Ta’ala telah memberi tahu saya tentang sebuah rencana yang dengannya Jemaat akan menyebar di semua negara di dunia dan tidak seorang pun akan mampu menghancurkannya.”

Maka, pada saat itu beliau memulai skema Tahrik Jadid, yang tentangnya beliau bersabda:

“Tujuan diadakannya Tahrik Jadid adalah untuk memperoleh dana yang dengannya risalah Allah dapat disampaikan sampai ke pelosok bumi dengan mudah dan lancar.”

Awalnya skema ini dimulai sebagai skema yang sementara, tetapi di akhir periode yang kesembilan belas tahun, Hazrat Muslih Ma’ud (ra) bersabda:

“Sekarang sembilan belas tahun (Tahrik Jadid) akan segera berakhir, saya telah memutuskan bahwa Tahrik Jadid akan terus berlanjut hingga nafas terakhir kalian”

Beliau (ra) juga bersabda:

“Saya berharap Tahrik Jadid akan bertahan selama berabad-abad, seperti bintang-bintang di langit. Begitu pula Allah Ta’ala berfirman kepada Hazrat Ibrahim bahwa keturunannya akan tak terhitung jumlahnya. Dan keturunan Hazrat Ibrahim sangat besar pengkhidmatannya kepada keimanan (agama) dan (hal ini) sama dengan yang dilakukan Tahrik Jadid.” [1]

Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) membentuk sebuah komite dan membuatnya bertanggung jawab atas perolehan dana dan membelanjakannya semata-mata untuk penyebaran Islam dan Ahmadiyah di bawah instruksi langsungnya. Badan ini bernama Anjuman-e-Taraqi-e-Islam – dewan untuk keunggulan dan kemajuan Islam.

Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) menunjuk Hazrat Maulvi Sher Ali (ra) sebagai sekretaris komite. Semua usaha tabligh dilakukan oleh Anjuman Taraqi-e-Islam ini selama beberapa dekade berikutnya. Missi ke luar negeri dimulai, para mubalig dikirim ke luar negeri, literatur diterbitkan dan diedarkan ke seluruh dunia dan banyak lagi.

Inisiatif inilah yang kemudian berkembang menjadi Tahrik Jadid pada tahun 1934 oleh Hazrat Khalifatul Masih II ra melalui ilham. Skema ini mengambil alih tugas Anjuman Taraqi-e-Islam tetapi dikembangkan di atas skema yang jauh lebih luas; Perluasan mendunia Jemaat membutuhkan pandangan internasional dan itulah yang menjadi dasar Tahrik Jadid. Berbagai departemen – otonom dalam fungsinya – dikembangkan dan ditunjuk dengan tugas keuangan, publikasi, misi luar negeri, pendidikan, dll. [2].

Dua tujuan utama dari skema ini adalah,

Hazrat Muslih Mau’ud (ra) menekan gerakan anti-Ahmadiyya dengan melintasi perbatasan India dan menyebarkan Jemaat ke setiap sudut dunia – skema baru diumumkan pada tahun 1934 dan diberi nama “Tahrik-e-Jadid” [3].

Artikel terkait:

Waqfi Jadid

Setelah pemisahan anak benua India, anggota Jamaah Ahmadiyah yang tinggal di kota-kota besar dapat mengambil manfaat dari nizam Jamaat dan mendirikan organisasi tambahan. Namun, mereka yang tinggal di desa tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menghidupkan kembali sarana pendidikan dan kesejahteraan moral yang diperlukan untuk membawa perubahan ruhani yang diajarkan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as).

Maka, melalui petunjuk Allah Ta’ala, sebagai solusi atas masalah ini, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) memprakarsai skema Waqf-e-Jadid (Pengkhidmatan Baru) yang diberkahi. Skema ini dimulai pada 27 Desember 1957 (walaupun pertama kali disebutkan olehnya pada 9 Juli 1957, pada saat khutbah Idul Adha). Beliau telah menyatakan:

“Sekarang, saya meluncurkan skema untuk wakaf jenis baru. Saya telah menyebutkannya dalam sebuah khotbah pada 9 Juli 1957 …

Tujuan dari wakaf ini adalah untuk membuat jaringan para muallimin kami [dai yang berkhidmat untuk Waqf-e-Jadid] dari Lahore ke Karachi. Harus ada muallim yang hadir di semua tempat dalam jarak dekat, yaitu 10 hingga 15 mil. Dia harus memulai madrasah atau menjalankan toko dan tinggal dan bekerja di antara orang-orang di area sepanjang waktu. Ini adalah skema yang sangat luas, tetapi saya telah memutuskan untuk mengambil hanya 10 muallim pada awalnya, mengingat biayanya. Ada kemungkinan bahwa beberapa muallim dapat diambil dari Afrika atau negara lain, tetapi bagaimanapun juga, awalnya dengan 10 muallim dan kemudian lebih banyak upaya akan dilakukan untuk meningkatkan jumlah mereka menjadi ribuan.” (Al Fazl, 16 Februari 1957, hal. 3) [4]

Catatan Kaki