Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Keteladanan Khalifah Umar bin Khottob (ra) (bagian 3)

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 18 Juni 2021 (Ihsan 1400 Hijriyah Syamsiyah/07 Dzulqa’idah 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

أَشْهَدُ أنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ - أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ -

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿۲﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿۳﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿۴﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿۵﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۬ۙ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿۷﴾

Saat ini tengah dibahas berkenaan dengan Hadhrat ‘Umar ra. Ketika waktu kewafatan Hadhrat Abu Bakr sudah dekat, Hadhrat Abu Bakr memanggil Hadhrat Abdurrahman Bin Auf lalu bersabda: Berikan saya saran berkenaan dengan ‘Umar. Hadhrat Abdurrahman Bin Auf mengatakan: Wahai Khalifah Rasulullah! Demi Tuhan, Hadhrat ‘Umar lebih afdhal dari apa yang ada di benak tuan, kecuali, beliau memiliki tabiat yang keras.

Hadhrat Abu Bakr bersabda: Beliau bersikap keras untuk mengimbangi kelembutan saya. Namun jika kepadanya diserahkan tanggung jawab untuk memimpin, beliau akan melepaskan hal hal seperti itu. Karena saya perhatikan, Ketika saya bersikap keras terhadap seseorang, ‘Umar ra berusaha untuk meyakinkan saya berkenaan dengan orang tersebut. Begitu pula, ketika saya bersikap lembut, ‘Umar ra biasanya meminta saya untuk bersikap tegas pada orang tersebut.

Setelah itu Hadhrat Abu Bakr memanggil Hadhrat ‘Utsman dan meminta pendapat berkenaan dengan Hadhrat ‘Umar. Hadhrat ‘Utsman berkata: Batin beliau lebih baik dari penampilan lahiriah beliau dan tidak ada diantara kami yang menyerupai beliau.

Hadhrat Abu Bakr bersabda kepada Hadhrat Abdurrahman Bin Auf dan Hadhrat ‘Utsman: Apapun yang saya katakan kepada kalian berdua, jangan sampaikan kepada orang siapapun. Begitu pula, Jika saya mengabaikan (tidak memilih- Pent) ‘Umar, maka (pilihan kedua) tidak akan lepas dari ‘Utsman. (Dalam pandangan Hadhrat Abu Bakr, keduanya (Hadhrat ‘Umar dan Hadhrat ‘Utsman) layak untuk memenuhi hak sebagai Khalifah). Hadhrat Abu Bakr bersabda: Dan siapapun yang terpilih diantara mereka berdua nantinya, berhak untuk tidak mengurangi apapun yang berkaitan dengan urusan kalian. Saya akan terlepas dari segala urusan kalian dan menjadi pendahulu kalian (wafat).

Ketika Hadhrat Abu Bakr sakit, Hadhrat Talha Bin Ubaidullah datang menemui beliau. Hadhrat Talha berkata kepada beliau: Tuan telah menetapkan Hadhrat ‘Umar sebagai Khalifah penerus anda bagi umat Islam, padahal tuan sendiri mengetahui bagaimana beliau memperlakukan orang-orang ditengah keberadaan anda, lantas bagaimana keadaannya nanti sepeninggal tuan? Tuan (Hadhrat Abu Bakr) akan pergi berjumpa dengan Tuhan. (di akhirat nanti) Tuhan akan menanyakan kepada anda perihal pengikut anda.

Hadhrat Abu Bakr bersabda: Dudukkan saya. Lalu mereka membantu membuat duduk Hadhrat Abu Bakr. Hadhrat Abu Bakr bersabda: Apakah kamu memperingatkan saya dengan Allah Ta’ala? Ketika saya berjumpa dengan Allah Ta’ala nanti dan Dia bertanya kepadaku, aku akan mengatakan: Saya telah memilih yang terbaik dari antara hamba-Mu untuk menjadi Khalifah bagi mereka.

Ketika Hadhrat Abu Bakr memanggil Hadhrat ‘Utsman secara terpisah untu mencatat wasiyat berkenaan dengan Hadhrat ‘Umar, Hadhrat Abu Bakr bersabda, ‘Tulislah, Bismillaahirrahmaanirrahiim. Berikut ini adalah wasiyat Abu Bakr Bin Quhafah untuk umat Muslim.’

Setelah mengatakan itu, Hadhrat Abu Bakr pingsan. Kemudian Hadhrat ‘Utsman menuliskan sendiri sbb: ‘Aku telah menetapkan ‘Umar Bin Khatab untuk menjadi Khalifah bagi kalian dan aku tidak mengurangi dalam kebaikan berkenaan dengan kalian.’

Lalu Hadhrat Abu Bakr sadarkan diri dan bersabda, ‘Coba bacakan kepada saya, apa yang ditulis?’

Hadhrat ‘Utsman membacakannya untuk beliau. Setelah mendengar itu, Hadhrat Abu Bakr mengucapkan Allahu Akbar dan bersabda: Saya beranggapan bahwa anda khawatir, jika pada saat pingsan tadi saya wafat, jangan sampai timbul perselisihan didalam umat.

Hadhrat ‘Utsman berkata: Ya, benar demikian.

Hadhrat Abu Bakr bersabda: Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kepadamu dari pihak Islam dan umat muslim. Yakni Hadhrat Abu Bakr tidak berkeberatan atas apa yang ditulis oleh Hadhrat ‘Utsman berkenaan dengan penetapan Hadhrat ‘Umar sebagai Khalifah.

Tertulis dalam Tarikh Tabari bahwa Muhammad Bin Ibrahim Bin Harits meriwayatkan, Hadhrat Abu Bakr memanggil Hadhrat ‘Utsman secara terpisah dan bersabda: Tulislah Bismillaahirrahmaanirrahiim. Persetujuan ini diterbitkan oleh Abu Bakr Bin Abu Quhafah teruntuk Umat Muslim, amma Ba’du. Setelah mengucapkan itu Hadhrat Abu Bakr pingsan.

Seperti yang disebutkan tadi, Ketika sadarkan diri beliau memerintahkan Hadhrat ‘Utsman untuk memperdengarkan apa yang telah ditulis.

Setelah mendengarnya, Hadhrat Abu Bakr bersabda: Allahu Akbar. Bersabda: Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kebaikan padamu dari pihak Islam dan Umat Islam atas kalimat yang telah anda tulis ini. Hadhrat Abu Bakr membiarkan tulisn tersebut dan tidak merubahnya.

Dalam satu Riwayat, Hadhrat Abu Bakr memanggil Hadhrat ‘Utsman lalu bersabda: Berikanlah masukan kepadau perihal orang yang akan ditetapkan sebagai khalifah selanjutnya. Demi Tuhan! Dalam pandanganku, anda layak untuk dimintai musyawarah.

Hadhrat ‘Utsman berkata: ‘Umar.

Hadhrat Abu Bakr bersabda: Tulislah. Lalu Hadhrat ‘Utsman mencatatnya. Setelah menuliskan nama tersebut, kemudian Hadhrat Abu Bakr pingsan. Setelah sadarkan diri, Hadhrat Abu Bakr bersabda: Tulislah nama ‘Umar.

Dalam Riwayat lain dikatakan, Hadhrat Aisyah meriwayatkan, Hadhrat ‘Utsman tengah mencatat wasiyat yang didiktekan oleh Hadhrat Abu Bakr. Lalu Hadhrat Abu Bakr pingsan. Kemudian Hadhrat ‘Utsman menuliskan nama Hadhrat ‘Umar.. Setelah sadarkan diri, Hadhrat Abu Bakr bertanya: apa yang kamu tulis?

Hadhrat ‘Utsman menjawab: Saya telah menuliskan nama ‘Umar.

Hadhrat Abu Bakr bersabda: Kamu telah menulis apa yang ingin saya katakan. Jika anda menuliskan nama anda juga, andapun layak untuk itu.

Dalam satu Riwayat disebutkan bahwa Ketika Hadhrat Abu Bakr jatuh sakit, beliau ra menyampaikan pesan kepada Hadhrat Ali, Hadhrat ‘Utsman dan beberapa orang dari kalangan Muhajirin dan anshar lalu bersabda: Sekarang telah tiba saatnya, seperti apa yang kalian saksikan dan tidak ada yang berdiri untuk memberikan instruksi kepada kalian. Jika kalian menghendaki, kalian bisa memilih salah seorang diantara kalian, namun jika kalian menghendaki aku akan pilihkan sendiri untuk kalian. Mereka berkata: Mohon tuan pilihkan untuk kami.

Hadhrat Abu Bakr bersabda kepada Hadhrat ‘Utsman: Tulislah! Ini merupakan ikrar janji yang disampaikan oleh Abu Bakr Bin Abu Qahafah pada masa masa akhir sebelum meninggalkan dunia ini dan merupakan janji pertama ketika menjelang masuk ke alam Akhirat, dimana para pendosa akan taubat, orang kafir akan beriman, pendusta akan membenarkan. Janji itu adalah mereka memberikan kesaksian bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah dan Muhammad Saw adalah hambaNya dan RasulNya. Saya tetapkan Khalifah.

Setelah mengatakan itu, Hadhrat Abu Bakr pingsan.

Kemudian Hadhrat ‘Utsman sendiri berinisiatif menulis nama ‘Umar Bin Khattab.

Setelah Hadhrat Abu Bakr sadarkan diri, beliau bersabda: Apakah anda telah menuliskan sesuatu?

Hadhrat ‘Utsman menjawab: Ya, saya menulis ‘Umar Bin Khatab.

Mendengar itu Hadhrat Abu Bakr bersabda: Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmatNya padamu. Jika seandainya anda menulis nama anda sendiri, andapun layak untuk itu (menjadi Khalifah).

Hadhrat Abu Bakr bersabda: Tulislah bahwa aku menetapkan ‘Umar Bin Khatab sebagai Khalifah penggantiku bagi kalian dan aku ridha kepadanya bagi kalian. Setelah menulis wasiyat, Hadhrat Abu Bakr bersabda: Bacakan wasiyat ini di hadapan orang-orang.

Kemudian Hadhrat ‘Utsman mengumpulkan umat muslim dan beliau mengirimkan surat dengan melalui bekas budak beliau. Pada saat itu Hadhrat ‘Umar Bersama dengannya. Hadhrat ‘Umar berkata kepada orang-orang yang tengah berkumpul: Diam dan simaklah perkataan Khalifah Rasulullah karena beliau (Hadhrat Abu Bakr) tidak mengurangi bagian kalian dalam itikad baik. Kemudian orang-orang duduk dengan tenang.

Lalu wasiyyat dibacakan di hadapan hadirin. Hadirin telah mendengarnya dan taat. Saat itu Hadhrat Abu Bakr mengarah kepada kumpulan orang dan bersabda: Apakah kalian setuju dengan orang yang telah saya angkat sebagai Khalifah? Karena saya tidaklah menetapkan Khalifah dari antara kerabat saya, sesungguhnya saya menetapkan ‘Umar sebagai Khalifah bagi kalian. Untuk itu dengarkanlah dan taatlah pada perintahnya. Demi Tuhan! Sesungguhnya saya telah menimbang dan merenungkan dengan baik berkenaan dengan hal ini dan tidak ada yang saya kurangi.

Orang-orang mengatakan: Kami telah mendengarnya dan kami taat.

Hadhrat Abu Bakr lalu memanggil Hadhrat ‘Umar dan bersabda: Saya telah menetapkan anda untuk menjadi Khalifah atas para sahabat Rasulullah. Kemudian beliau mewasiyatkan kepada Hadhrat ‘Umar untuk menempuh jalan takwa, ‘Wahai ‘Umar! Wahai ‘Umar! Sesungguhnya ada perbuatan yang harus dikerjakan untuk Allah pada malam hari dan tidak diterima jika dikerjakan pada siang hari. Ada juga perbuatan yang harus dikerjakan untuk Allah pada siang hari dan tidak akan diterima jika dikerjakan pada malam hari. Sesungguhnya ibadah nafal tidak akan diterima sebelum ibadah fardu dilaksanakan.

Wahai ‘Umar! Tidakkah kamu melihat bahwa ketahuilah bahwa orang-orang yang memiliki timbangan amalan kebaikan yang berat di akhirat, adalah mereka yang selalu mengikuti kebenaran di dunia. Kebenaran itulah yang memberatkan timbangan mereka. Sungguh, timbangan tidak akan menjadi berat kecuali di atasnya ada kebenaran.

Adapun orang-orang yang memiliki timbangan amal kebaikan yang ringan di akhirat adalah mereka yang mengikuti kebatilan selama hidup di dunia. Kebatilan itulah yang membuat timbangan mereka menjadi ringan. Sungguh, timbangan tidak akan menjadi ringan kecuali di atasnya ada kebatilan.

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah menurunkan ayat yang mengandung harapan bersamaan dengan ayat yang mengandung kesulitan, dan ayat yang mengandung kesulitan bersamaan ayat yang mengandung harapan? Hal ini dimaksudkan agar manusia selalu berharap dan takut kepada Allah, tidak membinasakan dirinya serta tidak memohon kepada Allah pada sesuatu yang tidak benar.

Wahai ‘Umar! Tidakkah kamu melihat bahwa Allah Ta’ala mengingat para penghuni neraka semata mata disebabkan oleh amalan buruknya. Jadi, ketika kamu mengingat mereka, katakanlah bahwa sesungguhnya aku berharap agar aku tidak termasuk diantara mereka. Dan Allah Ta’ala mengingat para penghuni surga semata mata disebabkan oleh amalan baiknya. Karena Allah Ta’ala telah memaafkan keburukan mereka. Jadi, Ketika kamu mengingat mereka, katakanlah bahwa Apakah amalanku seperti amalan mereka? Tanyakanlah kepada hatimu.’”

Ketika waktu kewafatan Hadhrat Abu Bakr telah dekat, beliau bersabda: Kembalikanlah harta umat muslim yang ada pada saya, saya tidak ingin menggunakan harta itu walaupun sedikit. Beberapa lahan tanah yang terletak diberbagai tempat saya peruntukkan untuk umat Muslim sebagai ganti dari harta yang saya ambil dari Baitul Maal sebagai nafkah.

Lahan tanah, unta, pedang, budak belian tukang politur dan kain cadar seharga 5 dirham, semuanya telah diberikan kepada Hadhrat ‘Umar. Ketika Hadhrat ‘Umar melihat semua barang itu, beliau mengatakan: Hadhrat Abu Bakr telah menyulitkan orang yang menjadi pengganti beliau.

Hadhrat Khalifatul Masih pertama menjelaskan, “Ada yang bertanya kepada Hadhrat ‘Umar, Saat ini kami tidak melihat sifat kasar pada diri anda seperti yang kami dapati pada masa jahiliyah.

Hadhrat ‘Umar menjawab: Sifat kasar itu masih ada, namun saat ini hanya ditampakkan Ketika menghadapi orang Kafir.’”

Hadhrat Muslih Mauud ra bersabda: Orang-orang berkata kepada Hadhrat Abu Bakr ra: Anda telah menetapkan ‘Umar ra sebagai pengganti sepeninggal anda, adapaun beliau memiliki tabiat yang kasar, karena beliau orangnya galak.

Hadhrat Abu Bakr bersabda: Gejolak amarah beliau akan Nampak selama saya masih ada, namun jika saya telah tiada nanti, dengan sendirinya beliau akan menjadi lembut.

Berkenaan dengan Hadhrat ‘Umar ra, Hadhrat Masih Mauud as bersabda: Berkenaan dengan sifat kasar beliau diriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Hadhrat ‘Umar: Sebelum datang Islam, anda adalah seorang yang galak.

Hadhrat ‘Umar menjawab: Sifat itu bahkan masih melekat dalam diri saya sampai saat ini. Namun bedanya, dahulu bukan pada tempatnya, tapi kalau saat ini sifat keras saya pada tempatnya.’”

Jami’ Bin Syidad meriwayatkan dari kerabat dekat bahwa: Saya mendengar Hadhrat ‘Umar pernah mengatakan: Ya Tuhan aku sangat lemah, maka berikanlah aku kekuatan. aku sungguh keras/kasar, maka lunakkanlah hatiku, aku kikir, untuk itu jadikanlah aku dermawan.

Pidato pertama yang disampaikan oleh Hadhrat ‘Umar setelah terpilih sebagai Khalifah terdapat dalam beragam Riwayat. Salah satunya diriwayatkan bahwa Hamid Bin Halal meriwayatkan, Orang yang hadir pada saat kewafatan Hadhrat Abu Bakr memberitahukan kepada kami bahwa setelah selesai dari proses pemakaman Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat ‘Umar merapikan tanah yang ada diatas kuburan, dengan tangan sendiri lalu berdiri pada tempatnya dan bersabda: Allah telah menguji kalian dengan diriku dan menguji diriku lewat kalian. Sepeninggal kedua sahabatku, sekarang aku ada di tengah-tengah kalian.

Demi Tuhan! Apapun urusan kalian yang dihadirkan kehadapanku, maka tidak ada yang akan memperhatikannya selain dari aku. Adapun urusan yang tidak dihadapkan kepadaku, aku akan tetapkan untuknya orang yang Tangguh dan amanah yang akan mengawasi kalian. Kalau orang-orang berlaku baik, maka akan kuperlakukan dengan baik, tetapi kalau berbuat jahat, maka aku akan menghukumnya.”

Hasan mengatakan: kami beranggapan bahwa pidato pertama yang disampaikan oleh Hadhrat ‘Umar adalah: beliau menyampaikan puji sanjung kehadirat Ilahi Rabbi lalu bersabda: Amma Ba’du, Allah telah menguji kalian dengan diriku dan menguji diriku melalui kalian. Sepeninggal kedua sahabatku, sekarang aku ada di tengah-tengah kalian. Apapun urusan kalian yang dihadirkan kehadapanku , maka tidak ada yang akan memperhatikannya selain dari aku. Adapun urusan yang tidak dihadapkan kepadaku, aku akan tetapkan untuknya orang yang Tangguh dan amanah yang akan mengawasi kalian. Kalau orang-orang berlaku baik, maka akan kuperlakukan dengan baik, tetapi kalau berbuat jahat, maka aku akan menghukumnya.” Semoga Allah mengampuni kalian.

Jami’ Bin Syidad meriwayatkan dari ayahnya, Ketika Hadhrat ‘Umar menaiki mimbar, kalimat pertama yang beliau sabdakan adalah “Ya Allah, aku ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku, Ya Allah aku sangat lemah, maka berikanlah kekuatan, Ya Allah aku ini kikir, jadikanlah aku dermawan bermurah hati.”

Jami’ Bin Syidad meriwayatkan dari ayahnya, Ketika Hadhrat ‘Umar terpilih sebagai Khalifah, beliau naik mimbar dan bersabda: Saya akan sampaikan beberapa patah kata, maka jawablah dengan amin. Itulah ucapan pertama yang beliau sampaikan Ketika terpilih sebagai Khalifah.

Husein Mauri meriwayatkan, Hadhrat ‘Umar bersabda: Sesungguhnya orang-orang Arab laksana unta jinak yang dengan patuh mengikuti penggembalanya. Oleh karena itu, penggembala hendaklah memperhatikan hewan yang hendak dibawa itu. Adapun aku demi tuhan ka’bah, aku akan membawa mereka berada di atas jalan yang lurus.

Riwayat yang terdahulu yang menyebutkan untuk menjawab Amin, tidak diterangkan lebih lanjut. Atau Riwayat unt aini penjelasannya yang lebih lanjut. Alhasil, paska terpilih sebagai Khalifah, pada hari ketiga, beliau menyampaikan pidato lengkap, sebagai berikut: Ketika Hadhrat ‘Umar mengetahui bahwa orang-orang khawatir dengan terpilihnya beliau sebagai Khalifah, Maka atas perintah beliau diserukanlah Ash-sholaatu jaami’ (shalat akan dimulai) secara lantang kepada orang-orang, sehingga orangorang pun hadir. Lalu (Hadhrat ‘Umar) naik ke atas mimbar di tempat Hadhrat Abu Bakr biasa menginjakkan kaki.

Ketika semua telah berdatangan, yakni orang-orang telah berkumpul, beliau berdiri lalu seperti biasa mengucapkan kalimat puji sanjung kepada Allah dan shalawat kepada nabi (saw). lalu (Hadhrat ‘Umar) bersabda, “saya mendengar bahwa orang-orang takut dengan sifat keras saya, dan segan akan sikap tegas saya. Mereka berkata, “Umar pun bersikap keras kepada kami di masa Rasulullah (saw) masih ada di antara kami. Sikap keras ini pun berlanjut ketika Abu Bakr menjadi pemimpin kami. Kini tak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi tatkala segala kewenangan ada di tangan (Hadhrat ‘Umar)”. Apa yang dikatakannya adalah benar.

Memang saya ada bersama Rasulullah (saw), dan saya adalah hamba dan khadim beliau; dan mengenai Rasulullah saw., tidak ada seorangpun yang tidak mengenal sifat lembut dan belas kasih beliau. Allah Ta’ala telah menamai beliau dengan (sifat) itu dan memberi nama beliau dengan julukan rouufun dan rohiim sementara saya adalah pedang yang terhunus, dimana jika beliau menghendaki, saya akan menutupnya atau membiarkannya terhunus untuk menebas siapapun, hingga pada akhirnya Rasulullah (saw) pun wafat. Beliau rida kepada saya dan saya bersyukur pada Allah akan keberuntungan yang turun atas saya ini.

Lalu Abu Bakr menjadi pimpinan untuk semua, dan beliau merupakan sosok di mana tidak ada seorang pun yang tidak mengenal kehalusan hati dan kelembutan budi beliau, dan saya adalah khadim serta penolongnya. Saya menyelaraskan sifat keras saya dengan kelembutan hatinya dan menjadi pedang yang terhunus baginya, di tangannya lah apakah saya harus menutupnya atau menghunuskannya. Dalam keadaan demikianlah saya terus bersamanya hingga Allah yang Maha Kuasa mewafatkannya dan ia rida kepada saya. Alhamdulillah, saya merasa beruntung atas hal ini.

Lalu, wahai manusia, saya telah menjadi pemimpin atas urusan-urusan Anda semua. Kini yakinlah bahwa sifat keras itu telah mencair, namun ia akan muncul di hadapan mereka yang bersikap aniaya kepada orang-orang Islam. Saya lembut di hadapan Anda semua, namun sikap keras itu akan zahir di hadapan para musuh. Adapun terhadap orang-orang yang suci, bertakwa, dan memiliki kemuliaan, saya akan menjadi lebih lembut daripada kelembutan yang mereka perlihatkan diantara mereka, dan saya tidak akan membiarkan seorang pun yang bersikap aniaya kepada yang lain kecuali dengan membelenggu kedua kakinya diatas bumi hingga ia benar-benar memahami kebenaran (yakni saya akan bersikap sangat keras).

Wahai segenap manusia! Banyak sekali hak-hak kalian atas diri saya, yang [ingin] saya sampaikan kepada kalian. kalian dapat menuntut saya atas ini semua: Anda berhak untuk mengetahui kemana saja harta ini akan saya pergunakan; dan terhadap harta ganimah yang Allah Ta’ala berikan kepadamu, saya [berhak] agar membelanjakannya demi pekerjaan Allah Ta’ala. Saya memiliki kewajiban untuk membelanjakan harta itu sesuai dengan kebutuhannya, dan saya memiliki kewajiban untuk terus memberi tunjangan untuk memenuhi kebutuhanmu, dan saya memiliki kewajiban untuk menjaga kalian agar jangan jatuh kedalam kebinasaan. Lalu tatkala kalian bergabung untuk perang dan meninggalkan rumahmu, maka saya akan menjadi ayah bagi anak dan keluargamu hingga kalian pulang kembali. Saya mengatakan hal ini dan memohonkan ampunan kepada Allah bagi saya dan kalian.

Dalam menjelaskan masa kekhalifahan Hadhrat ‘Umar, Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) bersabda: Ayat ini [1],

...تُؤَدُّوا الۡاَمٰنٰتِ اِلٰۤی اَہۡلِہَا...

senantiasa hadir di mata umat Islam; yakni, bagi mereka yang berkemampuan dalam mengelola perkara pemerintahan, hendaknya amanat ini dibebankan kepada mereka. Lalu tatkala amanat ini telah dibebankan pada beberapa orang, maka hendaknya mereka memperhatikan perintah syariat ini yaitu supaya mereka memerintah dengan kejujuran dan keadilan. Lalu apabila engkau mengabaikan keadilan, apabila engkau tidak mengutamakan kejujuran, dan berlaku khianat terhadap amanat ini, maka yakinlah bahwa Tuhan akan mengambil perhitungan, dan engkau akan mendapat hukuman atas kejahatan ini. Inilah hal yang sangat membekas dan melekat pada kepribadian Hadhrat ‘Umar (ra), dimana manusia akan bergetar mendengarnya.

Hadhrat ‘Umar yang merupakan khalifah kedua Islam, beliau telah sedemikian banyak berkorban demi kemajuan Islam dan umat muslim, hingga para penulis eropa yang di kesehariannya mereka terus melontarkan keberatan kepada Rasulullah (saw) (di mana di dalam berbagai bukunya mereka dengan sangat keji menuliskan tentang Rasulullah (saw.) bahwa na’udzubillah beliau tidak berlaku jujur) mereka dengan terpaksa harus menyebutkan tentang Abu Bakr dan ‘Umar bahwa kerja keras dan pengorbanan yang dilakukan oleh keduanya tidak ditemukan bandingannya dalam pemerintahan apapun di dunia. Secara khusus tentang jasa Hadhrat ‘Umar (ra), mereka sangat memujinya dan mengatakan bahwa inilah sosok yang siang malam dan dengan sangat tekun telah memenuhi kewajibannya untuk menyebarkan dan memajukan Islam.

Namun demikian kita lihat bagaimana Hadhrat ‘Umar. Di hadapannya, meskipun beliau telah menyelesaikan ribuan pekerjaan, meskipun beliau telah memberi ribuan pengurbanan, meskipun beliau telah melewati ribuan kesulitan, ayat ini senantiasa ada [dalam diri beliau], yaitu [1]

...اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُکُمۡ اَنۡ تُؤَدُّوا الۡاَمٰنٰتِ اِلٰۤی اَہۡلِہَا...

lalu

...وَاِذَا حَکَمۡتُمۡ بَیۡنَ النَّاسِ اَنۡ تَحۡکُمُوۡا بِالۡعَدۡلِ...

Yakni tatkala Tuhan memerintahkan kalian untuk melakukan suatu tugas, dan orang-orang di tempatmu dan kerabatmu memilih kalian untuk memimpin, maka menjadi kewajiban bagimu untuk berlaku adil dan menyerahkan segenap kekuatanmu untuk kebaikan dan kemajuan umat manusia.

Alhasil, betapa pedihnya peristiwa yang dialami Hadhrat ‘Umar ini, tatkala ada seorang yang dangkal, yang menganggap beliau sebagai zalim, dengan kejinya telah menusuk beliau dengan pisau sehingga beliau pun yakin akan kewafatan beliau; dan di atas tempat tidur, beliau dengan sangat pilu dan meronta berkali-kali mengucapkan,

Allahumma laa ‘alayya wa laa lii. Allahumma laa ‘alayya wa laa lii.

Wahai Tuhan, Engkau telah menegakkan [amanat] pemerintahan ini atas diriku, dan Engkau telah meletakkan satu amanat [ini] diatas pundakku. Aku tidak tahu apakah diriku telah menjalankan sepenuhnya kewajibanku ini ataukah tidak. Kini waktu kematianku telah dekat dan aku akan meninggalkan dunia ini dan datang menuju Engkau. Wahai Tuhanku, Aku tidak mengharapkan ganjaran terbaik atas apapun amalku, dan aku tidak mengharapkan hadiah apapun. Tetapi wahai Tuhanku, aku hanya berharap Engkau berbelas kasih padakudan memaafkanku. Dan apabila terdapat kesalahan dalam memenuhi tanggung jawabku ini, kiranya Engkau memaafkanku.

Umar adalah insan berderajat mulia, dimana contoh keadilan seperti yang dicontohkan beliau amatlah sedikit di dunia ini. Yaitu sebagaimana ayat

...وَاِذَا حَکَمۡتُمۡ بَیۡنَ النَّاسِ اَنۡ تَحۡکُمُوۡا بِالۡعَدۡلِ...

Tatkala beliau wafat, beliau wafat dalam keadaan yang sedemikian resah dan gelisah, dimana meskipun dengan segenap hasil pengkhidmatan yang telah beliau persembahkan demi kebaikan negeri dan segenap manusia, bersama segenap pengkhidmatan beliau demi kemajuan Islam, semua itu sangatlah hina dimata beliau.

Seluruh pengkhidmatan yang baik di pandangan segenap muslim di negeri beliau, seluruh pengkhidmatan yang juga baik di pandangan kaum non muslim yang hidup di negeri beliau, seluruh pengkhidmatan yang tidak hanya dianggap baik oleh orang muslim dan non muslim di negeri beliau, bahkan oleh mereka yang di luar negeri beliau sekalipun, seluruh pengkhidmatan yang tidak hanya dianggap baik oleh orang-orang di masa beliau tetapi juga mereka yang ada sekarang setelah berlalu 1300 tahun lamanya, meskipun mereka menyerang junjungan beliau [yaitu Rasulullah (saw)], tatkala menyebut pengkhidmatan Hadhrat ‘Umar, mereka berkata, “tidak diragukan lagi, ‘Umar adalah sosok Istimewa di dalam jasa-jasanya”. Semua pengkhidmatan yang pada pandangan Hadhrat ‘Umar adalah sangat hina, hingga dengan gelisah beliau mengatakan,

Allahumma laa ‘alayya wa laa lii.

yaitu “wahai Tuhanku, ada satu amanat yang telah diletakkan diatas pundakku. Aku tidak tahu apakah aku telah memenuhi kewajibanku ataukah tidak. Oleh karena itu, hanya inilah yang kumohonkan supaya kiranya Engkau memaafkan kelemahan-kelemahanku, dan lindungilah aku dari hukuman”.

Lalu Hadhrat Muslih Mau’ud di dalam satu ceramah “Pembawa kebaikan bagi Dunia” menjelaskan: Hadhrat ‘Umar ada satu sosok dimana meskipun para sejarawan kristen menuliskan hal yang berbeda terkait Rasulullah (saw), mereka menulis bahwa tidak ada seseorang pun di dunia ini yang memerintah seperti beliau. Mereka melontarkan celaan kepada Rasulullah (saw) namun memuji Hadhrat ‘Umar (ra).

Sosok demikian, yang senantiasa dekat dengan beliau (saw), ia berharap agar di waktu wafat mendapatkan tempat di dekat telapak kaki Rasulullah (saw). Seandainya di dalam suatu tindakan Rasulullah (saw) terdapat suatu hal dimana beliau (saw) tidak melangkah sesuai dengan keridaan Tuhan, maka apakah sosok yang sampai pada derajat tinggi seperti Hadhrat ‘Umar ini akan memiliki suatu harapan agar mendapat tempat di dekat telapak kaki beliau (saw)?

Hadhrat Muslih Mau’ud berupaya membuktikan bahwa hanya karena pengkhidmatan kepada wujud Rasulullah (saw) dan tarbiyat beliau (saw) sajalah Hadhrat ‘Umar telah berjasa dalam menjunjung keadilan dan memiliki jiwa yang sedemikian takwa terhadap Tuhan.

Mengenai bagaimana kecintaan Hadhrat ‘Umar kepada Ahli Bait, Hadhrat Muslih Mau’ud bersabda: Hadhrat Aisyah hidup lama sepeninggal Rasulullah (saw). di masa Hadhrat ‘Umar ketika mendapat kemenangan atas Iran, saat itu dibawa juga alat penggiling gandum yang dapat menggiling sampai halus. Ketika tempat penggilingan pertama dibuka di Madinah, Hadhrat ‘Umar memerintahkan agar hasil tepung pertama-tama dipersembahkan sebagai hadiah kepada Hadhrat Aisyah (r.anha), sehingga atas petunjuk beliau, tepung yang pertama dikirim ke hadapan Hadhrat Aisyah (r.anha), dan pembantu beliau pun menyiapkan adonan roti yang halus darinya. Para wanita Madinah yang belum pernah melihat tepung yang sedemikian halus itu lalu berkumpul di rumah Hadhrat Aisyah untuk melihat seperti apa tepung tersebut dan bagaimana roti yang dibuat darinya. Sepanjang halaman penuh dengan para wanita dan mereka menunggu bagaimana roti yang dibuat dari tepung itu.

Saat itu Hadhrat Muslih Mau’ud berkata kepada para wanita, “Anda sekalian mungkin berpikir bahwa itu adalah tepung yang berbeda. Itu bukanlah tepung yang berbeda. Itu hanyalah tepung yang lebih sederhana dari yang sehari-hari kita makan, dan bahkan lebih sederhana lagi. Tepung itu lebih sederhana dari yang kini dinikmati oleh wanita yang teramat miskin sekalipun. Namun demikian, tepung [dari iran itu] sangat lebih baik dari tepung yang umum di Madinah saat itu. Alhasil para wanita pun menyiapkan roti dari tepung itu dan mereka pun terheran. Mereka meletakkan jemari mereka di lembaran roti itu dan langsung berkata, “alangkah lembutnya roti ini. Apakah di dunia ini ada tepung yang dapat lebih baik lagi dari ini?”

Roti telah dihidangkan, namun kisah gejolak cinta Hadhrat Aisyah terhadap Rasulullah (saw) barulah dimulai, dan betapa tinggi gejolak rasa cinta beliau terhadap wujud Rasulullah (saw). Hadhrat Aisyah pun mengambil sedikit dari lembaran roti yang kecil itu dan memasukkannya di mulut beliau. Semua wanita yang ada disana pun melihat wajah Hadhrat Aisyah. Mereka berpikir bahwa setelah mencicipinya, Hadhrat Aisyah akan merasakah hal yang berbeda karena ini roti yang lembut, dan beliau akan menikmatinya, menyukainya, dan mengungkapkan bagaimana rasanya. Namun tatkala keratan roti itu masuk pada mulut Hadhrat Aisyah, roti itu tetap di tempatnya, sementara itu dari kedua mata beliau, air mata pun mengalir.

Para wanita bertanya, “Wahai Ibu, tepung ini sangatlah baik, dan roti yang darinya pun sangat lembut dan tiada bandingnya. Lantas apa yang terjadi pada anda? Hingga anda tak dapat mengunyahnya, dan anda lantas menangis? Apakah ada kekurangan di tepung ini?

Hadhrat Aisyah bersabda, “tidak ada kekurangan di tepung ini. Aku hanyalah teringat hari-hari tatkala Rasulullah (saw) menjalani akhir kehidupannya. Saat itu beliau (saw) telah sangat lemah, dan beliau tidak sanggup memakan makanan yang keras; meski demikian, di hari-hari itu kami mengolah roti dari gandum yang keras bagaikan batu dan memberikannya kepada beliau. Lalu Hadhrat Aisyah bersabda, “sosok yang karenanya kita telah menerima nikmat-nikmat ini, sosok itu telah pergi dan luput dari nikmat-nikmat ini. Sementara itu, kita yang meraih semua kehormatan ini karenanya, kita tengah menikmati karunia-karunia ini”. Beliau bersabda demikian dan mengeluarkan keratan roti itu lalu bersabda, “singkirkanlah lembaran roti ini dari hadapan saya. Ini mengingatkan saya pada masa-masa Rasulullah (saw), yang ini sangat menyesakkan leher saya, dan saya tidak sanggup memakan roti ini”.

Diriwayatkan oleh Hadhrat Ibnu Abbas bahwa ketika di masa Hadhrat ‘Umar, para sahabat Rasulullah (saw) telah memenangkan daerah Madain, (Madain adalah ibu kota pemerintahan Kisra), maka beliau memerintahkan untuk meletakkan karpet kulit di Masjid, dan memberikan petunjuk tentang harta-harta ganimah yang di simpan di dalam lembaran karpet itu. Kemudian para sahabat Rasulullah (saw) pun berkumpul. Orang paling pertama untuk mengambil harta ganimah itu adalah Hadhrat Hasan bin Ali.

Hadhrat Hasan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, dari harta yang telah Allah Ta’ala berikan kepada umat muslim ini, berikanlah yang menjadi bagian hak saya darinya ”. Lalu Hadhrat ‘Umar menjawab dengan ungkapan yang sangat senang dan hormat kepada beliau dan memerintahkan untuk memberi 1.000 dirham kepada Hadhrat Hasan. Lalu Hadhrat Hasan pergi dan Hadhrat Husain bin Ali pun maju menuju beliau dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, dari harta yang telah Allah Ta’ala berikan kepada umat muslim ini, berikanlah yang menjadi bagian hak saya darinya”. Lalu Hadhrat ‘Umar menjawab dengan ungkapan yang sangat senang dan hormat kepada beliau dan memerintahkan untuk memberi 1.000 dirham kepada Hadhrat Husain. Lalu putra Hadhrat ‘Umar, yaitu Hadhrat Abdullah bin ‘Umar datang dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, dari harta yang telah Allah Ta’ala berikan kepada umat muslim ini, berikanlah yang menjadi bagian hak saya darinya”. Lalu Hadhrat ‘Umar menjawab dengan ungkapan yang sangat senang dan hormat kepadanya dan memerintahkan untuk memberi 500 dirham kepada Hadhrat Abdullah. Atas hal ini Hadhrat Abdullah bin ‘Umar berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya adalah pria tangguh yang senantiasa menghunuskan pedang di depan Rasulullah (saw), sementara Hasan dan Husain saat itu masihlah seperti anak kecil yang kesana kemari di lorong-lorong Madinah, namun anda memberikan kepada keduanya masingmasing 1.000 dirham sementara saya 500 dirham” [2]

Hadhrat ‘Umar bersabda, “ “Pergilah dan bawalah ke hadapanku seorang ayah yang seperti ayah mereka berdua, seorang ibu yang seperti ibu mereka berdua, seorang kakek yang seperti kakek mereka berdua, dan seorang nenek yang seperti nenek mereka berdua, seorang paman dari pihak ayah yang seperti paman dari pihak ayah mereka berdua, seorang paman dari pihak ibu yang seperti paman dari pihak ibu mereka berdua, dan seorang bibi yang seperti bibi mereka berdua, dan tentu saja engkau tidak akan bisa membawanya ke hadapanku.”

Diriwayatkan dari Abu Ja’far bahwa ketika Hadhrat ‘Umar (ra) berniat untuk menetapkan gaji bagi orang-orang dan pendapat beliau lebih baik dari pendapat semua orang. Orang-orang berkata, “Mulailah dari diri anda sendiri?”

Beliau (ra) bersabda, “Tidak”. Lalu beliau (ra) memulai dari kerabat yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Pertama beliau menetapkan bagian Hadhrat Abbas (ra) dan kemudian Hadhrat Ali (ra)

Hadhrat ‘Umar bin Khattab (ra) menghormati Hadhrat Imam Hasan (ra) dan Hadhrat Imam Husain (ra) dan menaikkan mereka ke tunggangan, serta memberikan kepada mereka sebagaimana beliau memberikan kepada ayahanda mereka. Suatu kali datang beberapa setelan pakaian dari Yaman, maka beliau membagikannya kepada putra para sahabat dan tidak memberikan satu pun kepada mereka berdua, dan beliau (ra) bersabda, “Di antara semua ini tidak ada yang layak untuk mereka berdua.” Lantas beliau (ra) mengirim pesan kepada utusan dari Yaman, maka ia membuatkan setelan pakaian yang pantas untuk mereka berdua.

Riwayat ini in syaa Allah masih akan berlanjut pada kesempatan yang akan datang.

Khotbah Ke-II

اَلْحَمْدُ لِلَّهْ , اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْه وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَّهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ عِبَادَ اللَّهِ! رَحِمَكُمُ اللَّهُ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ, يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ أُذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Alhamdulillâhi nahmaduhû wa nasta’înuhû wa nastaghfiruhû wa nu-minu bihî wa natawakkalu ‘alayhi wa na’ûdzubillâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluhû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûhu yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

Artinya: “Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal atas-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala memberi mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

Catatan Kaki

  1. QS An-Nisaa ayat 59 dengan basmallah  2

  2. ‘Abdullah bin ‘Umar lahir di zaman Makkah sedangkan Imam Hasan dan Imam Husain lahir di zaman Madinah. Jadi, beliau lebih dewasa