Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Dasar Kemunculan Khalifah Secara Umum

1. Pengertian Khilafat dan Khalifah

Dalam bahasa arab, Khilafat dan Khalifah memiliki akar kata yang sama, yaitu kata “kho-la-fa” yang artinya menggantikan, mengangkat, mengikuti dan mengambil tempat [1].

Sedangkan kata dalam bentuk “kholfun” berarti di belakang, di punggung dan setelah. [1]

1.1. Pengertian Khilafat

Kata Khilafah berarti suksesi atau penggantian. Jamaah pengikut Nabi Allah terus memelihara akidah dan sunnah-sunnah di bawah berkat lembaga Khilafah selama Allah kehendaki. Dalam arti yang ringkas, khilafat adalah sistem kekhalifahan

Sebagaimana Allah mengangkat seorang Nabi, Dia juga yang mengangkat seorang Khalifah. Dia memilih orang yang paling layak untuk menjadi seorang Khalifah, dan membimbing golongan mukmin yang bertakwa untuk mewujudkan Kehendak-Nya melalui suatu proses pemilihan Khalifah. Dengan demikian, mungkin tampaknya Khalifah dipilih oleh sekelompok orang bertakwa, tapi sebenarnya Kehendak Allah-lah yang membimbing jiwa mereka untuk memilih Khalifah Pilihan-Nya. Begitu seorang Khalifah terpilih, dia akan menjadi Khalifah seumur hidupnya sebagai bukti hidup dari Kehendak Tuhan.

Khilafah mengukuhkan kekuasaan Allah di bumi, dan Khalifah berjuang untuk menegakkan kekuasaan itu di dalam jamaah pengikutnya. Bagi orang-orang yang beriman, Khilafah adalah perwujudan Tauhid Ilahi, karena mereka memilih untuk menerima kekuasaan Ilahi melalui pribadi Khalifah. Orang-orang beriman mengambil bagian dari berkat Khilafah dengan memegang teguh iman dan amalan-amalan mereka, bersatu di bawahnya [2].

1.2. Pengertian Khalifah

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda,

Kata Khalifah digunakan untuk orang yang melanjutkan pekerjaan dari pendahulunya. [3].

Kata Khalifah berarti seseorang yang menggantikan orang lain dan melanjutkan pekerjaan pendahulunya. Untuk memahami tugas dari khalifah, kita harus melihat tugas dari pendahulunya [4].

Menurut bahasa arab, Khalifah adalah:

  1. Orang yang menggantikan seseorang (sebelumnya),
  2. Orang yang digantikan oleh seseorang, dan
  3. Orang yang mengeluarkan perintah dan tugas dan membuatnya dilaksanakan (oleh para pengikutnya) [5].

Apakah seorang khalifah harus memiliki kerajaan? Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda,

…Orang yang menggantikan pekerjaan seorang Nabi adalah Khalifah dari Nabi itu. Jika Allah menganugerahkan kerajaan kepada Nabi-Nya, Khalifahnya juga akan berhak atasnya dan Allah pasti akan menjamin kerajaan itu atas dirinya.

…Karena Tuhan telah menganugerahkan kerajaan duniawi dan ruhani kepada Rasulullah (saw), maka khalifahnya juga diberikan kedua karunia ini (kerajaan duniawi dan kerajaan ruhani). Tapi sekarang, karena Tuhan tidak menganugerahkan kerajaan duniawi kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, maka apakah Khalifahnya harus berjuang untuk memilikinya? Mereka yang mengajukan keberatan ini tidak sepenuhnya merenungkan kata ‘Khalifah’ [6].

Peri kehidupan khalifah menurut Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) adalah:

Kalian mempunyai seseorang yang memiliki simpati sejati untuk kalian; Orang yang benar-benar mencintai kalian; Orang yang ikut merasakan rasa sakit dan penderitaan kalian; dan Orang yang selalu berdoa kepada Allah Ta’ala untuk kalian.

Kalian memiliki seseorang yang selalu mengkhawatirkan kesejahteraan kalian, orang yang menempatkan dirinya dalam masalah demi kalian, dan orang yang berdoa dengan gelisah di hadapan Tuhannya demi kenyamanan dan kedamaian kalian [7].

2. Dasar Kemunculan Khalifah Secara Umum

Allah Ta’ala berfirman dalam QS An-Nur (24) ayat 56:

وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ وَلَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَلَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ۚ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡـًٔا ۚ وَمَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal saleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka; dan Dia pasti akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridhai bagi mereka; dan pasti Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang durhaka.” [8]

Ayat ini berisikan janji, bahwa Kaum Muslimin akan dianugerahi pimpinan rohani maupun duniawi.

Hadhrat Khalifatul Masih IV (r.h) menjelaskan mengenai ayat ini,

Ayat ini disebut ayat “istikhlaf”. Di dalamnya hal ini dijelaskan, bahwa sebagaimana Allah Swt selalu menjadikan khalifah-khalifah sesudah kewafatan nabi dimasa lalu, sesudah kewafatan Rasulullah Saw pun hal ini akan terus berlangsung. Khilafat itu mengambil cahaya dari nabi dan menyebarkannya. Setiap kali seorang Khalifah akan wafat, Jemaat diliputi perasaan takut, yang dengan karunia-Nya, berkat Khilafat akan merubahnya menjadi perasaan aman. Maka tanda kebenaran Khilafat ialah ia merubah rasa tidak aman menjadi rasa aman. Inilah yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud As di buku ‘Al-Wasiyat’, bahwa sesudah wafatnya seorang nabi atau Khalifah, untuk sementara waktu Jemaat akan merasakan bahwa sekarang musuh akan memadamkan cahaya kenabian itu. Tapi di ayat istikhlaf ini ada janji yang qath‘i, bahwa setiap kali musuh akan gagal. Tujuan kenabian adalah tegaknya tauhid di dunia. Ini juga tanda kebenaran Khilafat, bahwa tujuan akhirnya adalah tegaknya tauhid [8].

3. Jenis-Jenis Khalifah

Beberapa jenis khalifah yang diketahui dari Alquran dan Hadits adalah sebagai berikut:

3.1. Khalifatulloh (Seorang Nabi atau Rasul)

Seorang Nabi atau Rasul (memimpin secara ruhani) (contoh Nabi Adam (as), Nabi Idris (as), Nabi Nuh (as), Nabi Isa (as) dll)

3.2. Khalifatur Rasul

Khalifah yang hadir setelah kedatangan seorang Rasul

Satu kali ada salah seorang sahabat yang memanggil Hadhrat Abu Bakar (ra) dengan khalifatullah namun beliau (ra) menolak. Diriwayatkan,

عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ قِيلَ لِأَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَا خَلِيفَةَ اللَّهِ فَقَالَ أَنَا خَلِيفَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا رَاضٍ بِهِ وَأَنَا رَاضٍ بِهِ وَأَنَا رَاضٍ

Wahai khalifatullah! Ia (Hadhrat Abu Bakar Ash-Shiddiq (ra)) berkata: Saya adalah khalifaturrasuulillaah saw, yakni penerus dari Rasulullah (saw) dan saya rido (dipanggil) dengan itu. (H.R. Ahmad) [9]

3.3. Khalifah Mamlukiyah (Kerajaan)

Apa perbedaan antara khalifah yang mendapatkan bimbingan dengan khalifah yang memimpin kerajaan. Ahli sejarah Islam yang terkenal, Muhammad Ibnu Jarir Al Tabari, menuliskan sebuah peristiwa di bawah ini,

Umar bertanya kepada Salman, “Apakah aku seorang Khalifah atau seorang Raja?” Salman Menjawab, “Jika tuan mengumpulkan pajak dari tanah orang-orang Islam satu Dirham, atau lebih, atau kurang, dan menggunakannya dengan tidak sah, maka tuan adalah seorang Raja bukan Khalifah.” Kemudian Umar menangis.” (At Tabari, Tarikh al-Rusul wal Muluk) [10] [11]

Hadhrat Khalifatul Masih V (atba) bersabda,

”Khilafat pasti akan berdiri (senantiasa ada) di tengah orang-orang Muslim.” Akan tetapi Dia telah berjanji bersyarat dengan beberapa syarat dan syarat pertama dari itu adalah harus ada kamil ithaa’at (ketaatan yang sempurna). Mata rantai (kesinambungan) Khilafat Rasyidah sebelumnya telah terputus karena umat Muslim telah keluar dari bingkai taat (meninggalkan ketaatan). Orang-orang Muslim menjadi mahrum (terlepas) dari Khilafat hakiki apabila mereka sudah meninggalkan ketaatan. Setelah keluar dari ketaatan, sebagian golongan mulai mengatakan, “Kami mensyaratkan baiat kami dengan sebagian syarat yang di dalamnya sebab yang paling besar adalah tuntutan pembalasan atas kesyahidan Hadhrat Usman” atau karena terpedaya dengan perkatan-perkataan sebagian penyebar fitnah, mereka menjadi orang yang keluar dari ketaatan Sekalipun pada waktu itu para sahabat masih ada. Namun ketika keluar dari ketaatan yang sempurna maka mereka dimahrumkan dari Khilafat (tidak mendapat nikmat berkat Khilafat). Sebab, keputusan untuk menjadikan Khalifah Allah Ta’ala sendiri telah mengambil alih di tangan-Nya maka kemudian sesudah perselisihan-perselisihan, sesudah keluar dari taat semua usaha-usaha mereka menjadi Khalifah dan membuat Khalifah menjadi gagal dan sia-sia. Dan Khilafat mengambil corak monarki (kerajaan) [12] [13]

3.4. Perpaduan dari Jenis Khalifah Di atas

4. Dasar Kemunculan Khalifah Rosyidah dan Khalifatul Masih

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

“Mengapa Rasulullah (saw) tidak menetapkan khalifah pengganti beliau? Hikmah yang terkandung di dalamnya adalah, beliau benar-benar mengetahui bahwa Allah Ta’ala sendiri yang akan menetapkan seorang khalifah. Sebab, itu merupakan pekerjaan Allah, dan pilihan Allah tidak mengandung cacat sedikitpun. Demikianlah Allah Ta’ala telah menjadikan Hz. Abu Bakar Shiddiq menjadi khalifah untuk tugas tersebut. Dan di dalam kalbu beliau lah pertama sekali dimasukkan haq/kebenaran.” [14]

4.1. Hadits tentang Khalifah Rasyidah

Diriwayatkan,

الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ

“Khilafah di ummatku selama tigapuluh tahun kemudian setelah itu kerajaan.” (H.R. [At-Tirmidzi, Kitab Fitnah, Bab Kekhilafahan] [15]

4.2. Hadits tentang Khalifatul Masih

Rasulullah (saw) telah menubuwwatkan berdirinya Khilafat dan kerajaan setelah beliau,

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

Artinya, “Kenabian akan tetap berada diantara kalian selama Allah menghendaki. Kemudian akan berlaku masa khilafah yang mengikuti jejak kenabian (khilafah ‘ala minhajin-nubuwwah), dan akan tetap berada selama Allah menghendaki. Kemudian diikuti masa kerajaan yang merusak (mulkan ‘adhan), dan dia akan tetap berada selama Allah menghendaki. Kemudian setelah itu akan muncul kerajaan lalim (mulkan jabbariyyah), dan akan tetap berada selama Allah menghendaki. Kemudian muncul kembali khilafah yang mengikuti jejak kenabian (khilafah ‘ala minhajin nubuwwah).” (H.R. Ahmad) [16]

Dalam hadits diatas Khalifatul Masih itu disebut oleh Rasulullah (saw) dalam corak khilafah ‘ala minhajin nubuwwah atau khilafah yang mengikuti jejak kenabian.

Hal ini diperkuat dengan nubuwwatan yang disampaikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as). Beliau (as) menjelaskan bahwa beliau (as) adalah Kudrat awwal dan akan ada Kudrat tsaniyah (Qudrat kedua) sepeninggal beliau. Beliau (as) menjelaskan,

Jangan hendaknya hatimu jadi kusut, karena bagimu perlu pula melihat Kudrat yang Kedua. Kedatangannya kepadamu membawa kebaikan bagimu, karena ia selamanya akan tinggal bersama kamu, dan sampai hari kiamat silsilahnya tidak akan berakhir. Kudrat yang Kedua itu tidak dapat datang sebelum aku pergi; akan tetapi bila aku pergi, maka Tuhan akan mengirimkan Kudrat yang Kedua itu kepadamu, yang akan tinggal bersama kamu selama-lamanya; sebagaimana janji Allah Ta’ala dalam “Barāhīn-e-Ahmadiyah”. Dan janji itu bukan untuk aku, melainkan untuk kamu, seperti firman Allah Ta’ala:

“Aku akan menjadikan Jemaat ini, yakni pengikut-pengikut engkau menang di atas golongan-golongan lain sampai kiamat.”

Oleh karena itu tidaklah dapat dihindari bahwa kamu akan menyaksikan hari perpisahan denganku, sehingga sesudah itu barulah datang Hari yang menjadi Hari Perjanjian yang kekal. Tuhan kita adalah Tuhan yang menepati janji, setia dan benar. Dia akan memperlihatkan kepadamu segala apa yang sudah Dia janjikan. Meskipun masa ini adalah masa akhir dunia, serta banyak bala-bencana yang masih akan terjadi, namun demikian dunia ini akan tetap ada hingga segala hal yang telah dikabarkan Tuhan itu terjadi semuanya. Aku datang dari Tuhan sebagai sebuah penzahiran Kudrat Ilahi dan aku adalah Kudrat Tuhan yang berjasad. Kemudian sesudah aku tiada, akan ada lagi beberapa wujud lain yang akan menjadi mazhar penampakkan Kudrat Kedua.

Oleh sebab itu, sambil menanti kedatangan Kudrat Tuhan yang kedua itu, kamu semua hendaklah senantiasa sibuk berdoa. Dan hendaklah tiap Jemaat orang-orang saleh tanpa kecuali, di tiap negeri, senantiasa terus menerus berdoa sehingga mudah-mudahan Kudrat Kedua itu turun dari Langit, dan menzahirkan kepada kamu bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Anggaplah ajalmu telah dekat karena kamu tidak tahu kapan saat itu akan tiba. [17]

5. Missi yang Diemban Seorang Khalifatul Masih

Berkenaan dengan missi atau tugas seorang khalifah, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan,

Untuk memahami fungsi dari khalifah, kita harus melihat missi pendahulunya. Allah telah menjelaskan pekerjaan Nabi Suci (saw) besertanya (sesuai surah Ali-‘Imran, 3:165), yakni sebagai berikut:

  1. Membacakan ayat-ayat Allah kepada orang-orang,
  2. Mensucikan mereka,
  3. Mengajari mereka kitab dan
  4. Mengajarkan hikmah (kebijaksanaan)

Saya juga menjelaskan bahwa keempat tugas Nabi ini tidak dapat dilakukan oleh ‘Anjuman’ atau organisasi mana pun. Tugas-tugas tersebut hanya dapat dilakukan oleh orang yang ditunjuk oleh Allah sendiri (Nabi) dan orang yang berhak (menjabat) sebagai Khalifah [4].

6. Kriteria Seseorang Dikatakan Taat Atau Memiliki Ikatan dengan Khalifah

6.1. Taat kepada Khilafat

Rasulullah (saw) bersabda,

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk:

  1. bertakwa kepada Allah,
  2. senantiasa taat dan mendengar meskipun yang memerintah adalah seorang budak habsyi yang hitam.
  3. Sesungguhnya orang-orang yang hidup setelahku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka, hendaklah kalian berpegang dengan sunahku,
  4. (berpegang teguh kepada) sunah para khalifah yang lurus dan mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham (sekuat mungkin).
  5. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam urusan agama), sebab setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setaip bid’ah adalah sesat.”

(H.R. Abu Dawud, Kitab Sunnah, Berpegang teguh dengan sunnah) [18]

Hadhrat Hakim Maulvi Nooruddin (ra) bersabda bahwa tidak ada gunanya hanya bersumpah setia (baiat), atau beliau menerima sumpah setia dari orang lain, karena hal seperti ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Sebaliknya, aspek yang menonjol ialah keharusan ketaatan penuh kepada Khilafat [19]

Hudhur V ayyadahuLLahu ta’ala menyatakan bahwa Jemaat berkembang pesat. Terjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa disebarkan ke seluruh dunia. MTA dimulai hanya dengan satu saluran, dan sekarang ada delapan saluran dan studio yang didirikan di seluruh dunia. Pesan Jemaat juga disebarkan melalui Media Sosial. Jalan baru yang sedang dibuka, seperti Mulaqat Virtual, dimana Khalifatul Masih yang berada di Inggris bertemu dengan orang-orang dari seluruh dunia dan orang-orang dapat menerima bimbingan langsung dari Khalifah mereka.

Hudhur V ayyadahuLlahu ta’ala menyatakan bahwa karunia Tuhan yang berhubungan dengan Khilafat tidak terhitung banyaknya. Namun, jika kita ingin mendapatkan manfaat maka kita harus memenuhi tanggung jawab kita; kita harus benar-benar taat pada Khilafat dan menanamkan hal yang sama pada generasi mendatang.

Semoga kita selalu teguh, dan semoga kita dapat memenuhi janji baiat kita sehingga kita dapat melihat janji Tuhan dan kemenangan Jemaat. Semoga ibadah dan perbuatan kita mencapai keridhaan Tuhan. Semoga kita benar-benar memahami karunia Khilafat dan dapat menjelaskannya kepada generasi mendatang sehingga mereka dapat memperoleh manfaat dari Khilafat juga [19].

6.2. Ikatan dengan Khilafat

Ikatan Khilafat hakikatnya adalah ikatan pemenuhan kita terhadap Janji Baiat. Janji Baiat itu hakikatnya merupakan perjanjian kita kepada Allah Ta’ala melalui Hadhrat Masih Mau’ud (as). Ketika beliau sudah wafat, maka janji tersebut kita selalu ucapkan melalui Hadhrat Khalifah-e-waqt sebagai wakil beliau.

janji tersebut adalah syarat baiat yang ke-10, yaitu Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini “Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud” semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.[20]

Huzur V (atba) menjelaskan tentang kewajiban para Ahmadi. Salah satunya adalah menjalin ikatan dengan khilafat. Beliau (atba) menjelaskan,

Kita juga (hendaknya) terus mengajarkan anak-anak kita supaya senantiasa bersyukur kepada Allah Ta‟ala karena Dia telah memperbaiki kondisi keuangan kita setelah datang ke sini kemudian menceritakan kepada mereka bahwa sebagai rasa syukur atas kesempatan akademis yang mereka dapatkan, hendaknya mereka menjalin hubungan yang kuat dengan Nizam Jemaat serta ikatan kesetiaan dan ketaatan dengan Khilafat.

Begitu pula, merupakan kewajiban bagi setiap Ahmadi untuk senantiasa memiliki hubungan yang kuat dengan Nizam Jemaat serta ikatan kesetiaan dan ketaatan dengan Khilafat seperti yang telah mereka janjikan pada saat baiat. Dengan karunia Allah, para mubayi’ baru, khususnya mereka yang telah menerima da’wa Hadhrat Masih Mau’ud as dengan penuh keyakinan dan pengetahuan yang sempurna, senantiasa merenungkan janji mereka dan juga syarat-syarat baiat. Mereka juga menulis surat kepada saya sehubungan dengan hal ini [21].

Huzur V (atba) menjelaskan bagaimana agar kita mendapatkan berkat-berkat khilafat,

7. Pencapaian Khilafat Ahmadiyah

Dalam sejarah tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat pencapaian-pencapaian luar biasa dalam kepemimpinan para Khalifatul Masih. Berikut ini akan kami uraikan sebagian sejarah dalam di zaman khalifatul masih.

7.1 Khalifatul Masih Awwal (ra)

7.2. Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra)

7.3. Khalifatul Masih Ats-Tsalits (rh)

7.4. Khalifatul Masih Ar-Rabi’ (rh)

7.5. Khalifatul Masih Al-Khomis (atba)

8. Hal-Hal yang Perlu Diingat dan Dipahami Tentang Keitaatan kepada Khilafat

  1. Unta memiliki rasa ketaatan. Unta berjalan dalam satu garis panjang dan dipimpin oleh unta berpengalaman di depan. Selebihnya mengikutinya dengan kecepatan yang sama dan tidak ada yang punya rencana atau cita-cita untuk berjalan sejajar dengan yang memimpin mereka, seperti hewan lain, misalnya kuda. Karena itu, di dalam ayat pertama, Allah telah menggunakan kata Arab khusus untuk unta, [yaitu ibil] guna menarik perhatian pada landasan umum unta yang bepergian dalam satu baris panjang dan dengan demikian telah menekankan pada perlunya Imam untuk menjaga persatuan.

  2. Makna unta bepergian dalam satu barisan adalah bahwa Imam diperlukan untuk memandu perjalanan hidup dan untuk menghindari tersesat. Unta tidak lalai dalam melakukan perjalanan panjang, artinya bahwa mereka menyimpan air. [mereka sekali minum, sangat banyak volume air yang diminum, untuk perjalanan berhari-hari, baru minum lagi, red.] Demikian pula orang-orang mukmin sejati harus sadar dan siap untuk perjalanan hidup mereka dan menyiapkan perbekalan, dan perbekalan terbaik dalam hidup adalah ketakwaan.

  3. Baginda Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ الإمام جُنّة “ (Al-Imaamu junnatun) bahwa Imam adalah seperti perisai. Selama anda berada di belakang perisai, anda akan terlindungi dari serangan setan. Makna dari tetap berada di belakang perisai ialah ketaatan yang sempurna kepada Imam. Berjalan pada barisan secara lurus dalam batas-batas wilayah yang telah ditentukan. Bila sedikit saja keluar dari barisan tersebut, maka akan tersesat dan membahayakan.

  4. Beberapa pengurus bertindak atas instruksi yang diterima dari Khalifah-e-waqt tetapi dengan sedikit ragu-ragu. Ini tidak memperlihatkan ketaatan. Ketaatan adalah ketika sesuatu diikuti secara langsung dan sepenuhnya.

  5. Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra bersabda, “Serahkanlah diri kalian kepada Imam layaknya mayat di tangan orang yang memandikannya. Suatu mayat tidak bisa bergerak ke sana kemari, melainkan digerakkan sesuai keinginan yang memandikannya.”

  6. Khilafat didirikan setelah menerima Imam Zaman dan semua orang berjanji untuk bekerja untuk melanggengkan Khilafat.

  7. Keputusan Ma’ruf adalah keputusan yang dibuat berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Sesuai nubuatan Nabi saw, Khilafat akan didirikan mengikuti kenabian dan menurut Hadhrat Masih Mau’ud as Khilafat tersebut adalah kekal. Dengan demikian, Khilafat tidak dapat berjalan bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Inilah makna dari ma’ruf.

  8. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa ketika benar-benar menjalankan ketaatan menghasilkan cahaya di dalam hati. beliau mengatakan usaha kerohanian tidak dibutuhkan sebanyak dibutuhkannya ketaatan. beliau juga mengatakan persatuan tidak dapat dibangun tanpa ketaatan.

  9. Kita sendiri dan menyebarkan pesan kebenaran dan ini harus dilakukan mengikuti Khalifah-e-waqt. Agar diselamatkan dari kehancuran kita perlu untuk meningkatkan derajat ketaatan kita. Tidak peduli berapa banyak musuh-musuh Ahmadiyah menganiaya kita Allah akan membawa kita ke tujuan, tetapi ketaatan adalah syaratnya dan ketaatan harus sempurna.

  10. Jika petunjuk dari Khalifah-e-waqt tidak sepenuhnya dipahami, daripada mengira-ngira penafsirannya, hendaknya menulis surat kepada Khalifah-e-waqt dan meminta saran lebih lanjut.

  11. Jika setiap anggota Jemaat taat, kita akan menuju ke arah ketinggian rohaniah, iman kita akan sekuat gunung dan sebagai hasilnya pesan Islam akan menyebar ke segala penjuru di dunia.

  12. Kita tidak perlu takut atau bersikap defensif (bertahan), pemerintahan duniawi bukanlah tujuan kita. Tugas kita adalah untuk menanamkan kasih sayang Allah dalam hati dan kita akan terus melakukan hal ini dan untuk ini setiap Ahmadi harus benar-benar taat kepada Khilafat.

  13. Love for All Hatred For None.

9. Catatan Kaki

  1. Kamus Almaany pencarian Kata kho-la-fa  2

  2. Ahmadiyah.id - Khilafat 

  3. Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Barakat-e-Khilafat atau Blessings-of-Khilafat halaman 7. 

  4. Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Barakat-e-Khilafat atau Blessings-of-Khilafat halaman 9.  2

  5. Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Barakat-e-Khilafat atau Blessings-of-Khilafat halaman 13. 

  6. Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Barakat-e-Khilafat atau Blessings-of-Khilafat halaman 12. 

  7. Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Barakat-e-Khilafat atau Blessings-of-Khilafat halaman 6. 

  8. Alquran Surah An-Nuur (24) ayat 56 dengan basmallah  2

  9. Atsar - Khalifah Abu Bakar Rido bergelar Khalifaturrasuulullah (saw) 

  10. Bernard Lewis, The Arabs in History, Oxford University Press, New York, 1993 

  11. Ahmadiyah.id - Berdirinya Khilafah Islam, Keruntuhan Dan Kebangkitannya Kembali 

  12. Khotbah Jum’at Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz tanggal 20 Mei 2011 di Mesjid Baitul Futuh, London. 

  13. Pustaka Isa - Tafsir ayat Istikhlaf 

  14. Malfuzhat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, Jld. 10 h. 229/MI 04.10.2000 

  15. Pustaka Isa - Hadits - Khalifah - Tiga Puluh Tahun Masa Kekhalifahan 

  16. Hadits - Khalifah - Masa Kekhalifahan dan Kerajaan 

  17. [Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as), Al-Wasiyat, Penerbit: Neratja Press, Cetakan Ke: ke-tiga belas, Tahun Terbit: 2018, hlm 8-9] 

  18. Hadits - Khalifah - Memegang Teguh Khalifah agar Selamat 

  19. Ringkasan Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 28 Mei 2021 (Hijrah 1400 Hijriyah Syamsiyah/Syawal 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris  2

  20. Pustaka Isa - Baiat 

  21. Ringkasan Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu‟minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz 9 Oktober 2015 di Masjid Nur, Nunspeet, Holland (Belanda) 

  22. Alislam.org - Terhubung dengan Khilafat: Pedoman Pemuda Muslim Masa Kini, Pidato Huzur V (atba) dalam Ijtima Khuddam UK tahun 2015 

  23. Alislam.org - Tanggal-tanggal penting 

  24. Pustaka Isa - Khalifah Islam Saat Ini