Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Keteladanan Khalifah Umar bin Khottob (ra) (bagian 2)

Ringkasan Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 11 Juni 2021 (Ihsan 1400 Hijriyah Syamsiyah/30 Syawal 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

أَشْهَدُ أنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ - أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ -

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿۲﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿۳﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿۴﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿۵﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۬ۙ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿۷﴾

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala menyampaikan bahwa suatu ketika suku Banu Bakr, suku afiliasi (sekutu) kaum Quraisy menyerang Bani Khuza’ah, suku afiliasi umat Muslim, yang bertentangan dengan Perjanjian Hudaibiyah. Kemudian, Abu Sufyan pemimpin Makkah pergi ke Madinah untuk menegosiasikan kembali ketentuan Perjanjian Hudaibiyah, tetapi Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam menolak. Kemudian dia pergi ke Hadhrat ‘Umar (ra) dan memintanya untuk bersyafaat (meminta keringanan) atas namanya. Sebagai tanggapan, Hadhrat ‘Umar (ra) mengatakan bahwa bahkan jika beliau hanya memiliki sebatang ranting, beliau akan menggunakannya untuk melawan kaum Quraisy.

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala menyampaikan tentang Penaklukan Makkah bahwa ketika Nabi yang mulia (saw) mendekati Makkah, Abu Sufyan menjadi khawatir. Hadhrat Abbas (ra) pergi menemui Abu Sufyan dan mengatakan kepadanya bahwa dia akan membawanya ke Nabi (saw) sehingga dia bisa mencari perlindungan. Ketika mereka sampai di Nabi yang mulia (saw), Hadhrat ‘Umar (ra) meminta izin Nabi (saw) untuk membunuh Abu Sufyan, tetapi Nabi (saw) akhirnya menyuruh Hadhrat Abbas (ra) untuk membawa Abu Sufyan pergi dan memberikannya dengan perlindungan.

Hadhrat ‘Umar (ra) Diberikan Bendera Selama Pertempuran Khaibar

Pada kesempatan Pertempuran Khaibar, Nabi (saw) memberikan bendera Islam kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) dan kemudian memberikan bendera yang sama kepada Hadhrat ‘Umar (ra). Kemudian, pada hari kedua, Nabi (saw) berkata bahwa dia akan memberikan bendera itu kepada orang yang di tangannya kemenangan akan diraih dan memberikan bendera itu kepada Hadhrat Ali (ra).

Suatu ketika Hadhrat Hatib (ra) telah memberikan sebuah surat kepada seorang wanita yang ditujukan kepada orang Quraisy yang memberitahukan mereka tentang beberapa rencana Nabi yang mulia (saw), yang kemudian dicegat oleh Hadhrat Ali (ra). Nabi (saw) bertanya kepada Hadhrat Hatib (ra) tentang hal ini, dan kemudian memaafkannya.

Hadhrat ‘Umar (ra) meminta Nabi (saw) untuk membunuhnya. Nabi (saw) menanggapinya dan mengatakan bahwa Hadhrat Hatib (ra) telah berpartisipasi dalam Perang Badr, dan Tuhan telah mengampuni mereka yang berpartisipasi dalam pertempuran ini.

Dalam perjalanan kembali dari Pertempuran Hunain, Hadhrat ‘Umar (ra) bertanya kepada Nabi (saw) tentang sumpah yang beliau buat selama Era Kebodohan (zaman jahiliyah) sebelum beliau menerima Islam. Nabi (saw) menyarankan agar beliau menghormatinya, sambil tetap berada dalam batas-batas Islam.

Kedermawanan Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat ‘Umar (ra) dalam pengorbanan demi perang Tabuk

Pada kesempatan Pertempuran Tabuk, Nabi (saw) mengajukan permohonan untuk kontribusi keuangan. Atas hal ini, Hadhrat ‘Umar (ra) berharap untuk menggunakan kesempatan ini dan mengalahkan Hadhrat Abu Bakr (ra) dalam hal jumlah pengorbanan. Oleh karena itu, beliau mengambil setengah dari kekayaannya dan menyerahkannya kepada Nabi (saw). Nabi (saw) bertanya kepadanya apa yang beliau tinggalkan untuk keluarganya, dan beliau menjawab bahwa beliau telah meninggalkan setengahnya untuk keluarganya. Namun kemudian, Hadhrat Abu Bakr (ra) pergi ke Nabi (saw) dan menyerahkan semua kekayaannya kepadanya.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah menyatakan sehubungan dengan kejadian ini, bahwa ini adalah saat ketika orang-orang siap dan rela memberikan semua yang mereka miliki demi Islam.

Sikap Hadhrat ‘Umar (ra) atas Wafatnya Nabi (saw)

Saat kematian Nabi (saw) semakin dekat, Nabi (saw) mengatakan bahwa beliau ingin menulis sesuatu yang dengan mengikutinya tidak ada seorang pun akan tersesat. Hadhrat ‘Umar (ra) berpendapat bahwa karena Nabi (saw) sedang lemah dan sakit, mereka (para Sahabat) seharusnya tidak membuat beliau (saw) kesulitan karena mereka telah memiliki Al-Qur’an. Sahabat yang lain berpendapat bahwa pena dan kertas harus dibawa kepada Nabi (saw). Kedua belah pihak berdebat satu sama lain, di mana Nabi (saw) meminta mereka untuk pergi.

Hadhrat ‘Umar (ra) memahami bahwa Tuhan sendiri telah menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah lengkap dan tidak ada yang tertinggal darinya. Oleh karena itu, setelah mendengar Hadhrat ‘Umar (ra) mengatakan bahwa mereka memiliki Al-Qur’an, Nabi (saw) berpandangan tidak perlu menulis apa pun dan meminta semua orang untuk pergi.

Ketika Nabi (saw) meninggal, Hadhrat ‘Umar (ra) mengatakan bahwa Nabi (saw) tidak meninggal, dan beliau (saw) pasti akan kembali, karena Hadhrat ‘Umar (ra) tidak siap untuk menerima fakta ini. Hadhrat Abu Bakr (ra) menjelaskan kepada Hadhrat ‘Umar (ra) bahwa Nabi (saw) telah meninggal dunia, dan mengutip Al-Qur’an untuk membantunya memahami bahwa kematian tidak dapat dihindari, dan hal ini juga terjadi pada Nabi (saw). Misalnya, beliau mengutip ayat,

وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوۡلٌ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ ۚ اَفَا۠ئِنۡ مَّاتَ اَوۡ قُتِلَ انۡقَلَبۡتُمۡ عَلٰۤی اَعۡقٰبِکُمۡ ۚ وَمَنۡ یَّنۡقَلِبۡ عَلٰی عَقِبَیۡہِ فَلَنۡ یَّضُرَّ اللّٰہَ شَیۡـًٔا ۗ وَسَیَجۡزِی اللّٰہُ الشّٰکِرِیۡنَ

Dan Muhammad hanyalah seorang Utusan. Sesungguhnya semua Rasul telah berlalu sebelumnya. Jika kemudian ia mati atau dibunuh, apakah kalian akan berbalik murtad? Dan barang siapa berbalik maka tidak akan merugikan Allah sama sekali. Dan Allah pasti akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”(Al-Qur’an, Surah Ali Imran, 3:145)

Setelah mendengar ayat ini, semua orang mulai menangis deras, seolah-olah mereka baru pertama kali mendengar ayat ini. Mendengar ini membantu semua orang memahami fakta bahwa Nabi yang mulia (saw) telah meninggal.

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang meyampaikan bahwa meskipun Hadhrat ‘Umar (ra) mengatakan bahwa beliau akan membunuh siapa pun yang mengatakan bahwa Nabi yang mulia (saw) telah mati karena syok yang disebabkannya, beliau melakukan pengkhidmatan besar dengan memahami arti sebenarnya dari ayat yang disampaikan dan mengetahui bahwa itu berarti tidak ada nabi yang bisa tetap hidup dan masuk surga, melainkan semua harus meninggal. Jadi, dengan memahami hal ini dan mengubah pendiriannya, ia menghindari munculnya kesalahpahaman dan kekacauan. Demikian pula, semua Sahabat (ra) yang mengetahui dan memahami Al-Qur’an, semua mengerti bahwa Al-Qur’an menyatakan semua nabi telah meninggal, dan tidak ada yang bisa tetap hidup.

Para Sahabat (ra) melakukan Ikrar Kesetiaan kepada Hadhrat Abu Bakr (ra)

Ketika tiba saatnya untuk memilih seorang Khalifah, ada beberapa yang menyarankan agar Hadhrat ‘Umar (ra) menjadi Khalifah. Namun, Hadhrat ‘Umar (ra) membantah ini dan mengatakan bahwa beliau akan berjanji setia kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) sebagai Khalifah. Beliau kemudian mengambil tangan Hadhrat Abu Bakr (ra) untuk berjanji setia kepadanya dan yang lainnya mengikuti. Setelah wafatnya Nabi (saw), beberapa gangguan muncul. Setelah meminta Hadhrat Abu Bakr (ra), Hadhrat ‘Umar (ra) akan berangkat untuk memerangi mereka yang menimbulkan kekacauan.

Kompilasi Al-Qur’an Dimulai

Selama kekhalifahan Hadhrat Abu Bakr (ra), ada banyak huffaz [mereka yang telah menghafal AlQur’an] yang mati syahid. Hadhrat ‘Umar (ra) menyarankan kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) agar AlQur’an dikompilasi menjadi sebuah buku untuk menjaganya. Oleh karena itu, Hadhrat ‘Umar (ra) memulai tugas menyusun teks Al-Qur’an yang telah ditulis di berbagai tempat ketika diturunkan. Oleh karena itu, berbagai ayat akan ditemukan tertulis pada daun, cabang, tulang dan kulit binatang. Misalnya, ayat berikut ditemukan ditulis pada selembar kulit:

لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalangan kamu sendiri; menyedihkan baginya adalah bahwa Anda harus jatuh ke dalam kesulitan; dia sangat menginginkan kesejahteraan Anda; dan kepada orang-orang mukmin dia penyayang lagi penyayang.” (Al-Qur’an, at-Taubah, 9:128)

Naskah asli dari Al-Qur’an tetap dengan Hadhrat Abu Bakr (ra). Setelah kewafatannya, naskah itu tetap dalam kepemilikan Hadhrat Hafshah putri Hadhrat ‘Umar (ra) dan kemudian diberikan kepada Hadhrat ‘Utsman (ra).

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala mengatakan bahwa beliau akan terus menyoroti kehidupan Hadhrat ‘Umar (ra) dalam khotbah-khotbah mendatang.