Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Keteladanan Khalifah Umar bin Khottob (ra)

Ringkasan Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 04 Juni 2021 (Ihsan 1400 Hijriyah Syamsiyah/Syawal 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

أَشْهَدُ أنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ - أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ -

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿۲﴾ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿۳﴾ مٰلِکِ یَوۡمِ الدِّیۡنِ ؕ﴿۴﴾ اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿۵﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ﴿۶﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۬ۙ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿۷﴾

Pertempuran Hamra al-Asad

Yang Mulia, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad ayyadahuLlahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz menyampaikan bahwa Hadhrat ‘Umar (ra) juga mengambil bagian dalam Pertempuran Hamra al-Asad yang terjadi setelah Pertempuran Uhud. Ada ancaman orang Quraisy menyerang Madinah. Mereka merasa dengan melakukan itu, mereka bisa menghilangkan Islam sama sekali. Oleh karena itu, ketika kaum Muslim mendengar adanya kemungkinan penyerangan, mereka tetap berjaga-jaga di Madinah.

Keesokan paginya, mereka mengetahui bahwa Quraisy memang berada di dekat Madinah sedang merencanakan serangan. RasuluLlah (saw) menyatakan bahwa semua orang yang telah berpartisipasi dalam Perang Uhud harus sekali lagi bersiap untuk berperang. Kemudian, RasuluLlah (saw) memanggil Hadhrat Abu Bakar (ra) dan Hadhrat ‘Umar (ra) untuk memberi tahu mereka tentang situasinya. Mereka berdua menyarankan bahwa untuk menetralisir ancaman ke Madinah, mereka harus pergi ke arah orang-orang Quraisy. Oleh karena itu, umat Islam berangkat dan berhenti di sebuah tempat bernama Hamra al-Asad. Sejak malam, kaum Muslim bermalam di sana, dan diputuskan untuk menyalakan api. Ketika seseorang melihat semua api obor yang telah dinyalakan, sepertinya ada pasukan besar yang hadir. Jadi, ketika salah satu orang Quraisy melihat api-api ini dan melaporkan kembali, orang-orang Quraisy memutuskan untuk mundur kembali ke Makkah.

Pertempuran Bani Mustaliq

Hadhrat ‘Umar (ra) juga mengambil bagian dalam Pertempuran Banu Mustaliq. Ini terjadi pada saat suku-suku Hijaz yang awalnya bersimpati pada perjuangan kaum Muslimin mulai menjadi mangsa hasutan kaum Quraisy. Yang paling utama di antara mereka adalah suku Bani Mustaliq yang berencana menyerang Madinah. Ketika itu Nabi (saw) mengetahui rencana ini dan pasukan besar mereka sedang dipersiapkan. Oleh karena itu, Nabi (saw) berangkat dengan pasukan Muslim menuju suku Bani Mustaliq. Ketika Bani Mustaliq mengetahui kedatangan tentara Muslim, Bani Mustaliq menjadi takut, karena rencana mereka adalah serangan mendadak ke Madinah. Akibatnya, suku-suku lain yang telah mendukung Bani Mustaliq melarikan diri setelah mendengar berita ini.

Namun, Bani Mustaliq tetap bertekad untuk melawan. Nabi (saw) berhenti di sebuah tempat dekat Bani Mustaliq yang disebut Muraisi. RasuluLlah (saw) kemudian menginstruksikan Hadhrat ‘Umar (ra) untuk menginformasikan Bani Mustaliq bahwa jika mereka berhenti menentang Islam, maka akan ada perdamaian dan umat Islam akan kembali ke Madinah. Namun, Bani Mustaliq menolak tawaran perdamaian ini dan mereka mulai menembakkan anak-anak panah. Dengan demikian, kedua belah pihak menembakkan anak-anak panah bolak-balik untuk beberapa waktu, dan kemudian RasuluLlah (saw) memerintahkan serangan segera, yang melumpuhkan Bani Mustaliq.

Dalam perjalanan kembali dari Pertempuran Bani Mustaliq, terjadi perselisihan antara dua orang, satu dari Muhajirin (pendatang Muslim Makkah yang tinggal ke Madinah) dan Ansar (penduduk asli Madinah) dan keduanya memanggil orang-orang mereka untuk membantu mereka. Ketika itu Nabi (saw) memberi tahu mereka bahwa mereka tidak boleh bertengkar karena hal-hal kecil seperti itu. Abdullah bin Ubayy (kepala kaum munafik) juga hadir, dan berkata bahwa sekembalinya ke Madinah, yang terhormat akan menyingkirkan yang tidak terhormat.

Hadhrat ‘Umar (ra) meminta Nabi (saw) untuk membunuh orang munafik ini, tetapi Nabi (saw) mengatakan bahwa beliau tidak akan memberikan izin, jangan sampai orang mengatakan bahwa beliau membunuh orang-orangnya sendiri. Kemudian, orang-orang munafik itu sendiri menjadi bosan dengan Abdullah bin Ubayy dan mulai berbalik melawannya. RasuluLlah (saw) memberi tahu Hadhrat ‘Umar (ra) bahwa beliau telah menghentikan permintaannya saat itu, karena dia tahu bahwa orangorang yang mendukung Abdullah bin Ubayy akan berbalik padanya setelah melihat kenyataan dan akan membunuhnya sendiri.

Penjelasan Tentang Shalat Saat Perang Khandaq (Perang Parit)

Selama Pertempuran Parit, Hadhrat ‘Umar (ra) pergi menemui RasuluLlah (saw) setelah matahari terbenam, dan mengatakan bahwa beliau tidak bisa melakukan shalat Ashar (salat zuhur). RasuluLlah (saw) mengatakan bahwa beliau juga belum mampu untuk melakukan shalat Ashar, dan karena itu mereka mengerjakan shalat, dan kemudian melakukan shalat Maghrib (shalat setelah matahari terbenam).

Ada pendapat dan catatan berbeda tentang berapa banyak shalat yang tidak dapat mereka kerjakan pada hari itu. Ada beberapa riwayat dan catatan yang mengatakan bahwa RasuluLlah (saw) mengerjakan empat shalat bersama (Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya) pada waktu yang sama. Akan tetapi, Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah membuktikan semua catatan tersebut menjadi lemah, dan menyatakan bahwa sebenarnya hanya shalat Ashar yang dilakukan menjelang berakhirnya waktu yang ditentukan (sudah mendekati Maghrib).

Partisipasi Hadhrat ‘Umar (ra) dalam Perjanjian Hudaibiyah

Hadhrat ‘Umar (ra) juga ikut ambil bagian dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Dalam perjalanan dari Madinah ke Makkah bersama rombongan umat Muslim, di suatu tempat pemberhentian RasuluLlah (saw) memanggil Hadhrat ‘Umar (ra) supaya ia dapat pergi ke Makkah dan memberitahu Quraisy tentang niat kaum Muslim untuk mengunjungi Ka’bah. Hadhrat ‘Umar (ra) mengatakan bahwa dia takut akan hidupnya, karena orang Quraisy tahu betapa dia menentang mereka. Meskipun demikian, Hadhrat ‘Umar (ra) mengatakan bahwa jika Nabi (saw) ingin, dia akan tetap pergi ke Makkah namun Nabi (saw) tetap diam. Kemudian Hadhrat ‘Umar (ra) menyarankan agar Hadhrat Utsman (ra) dikirim, karena Hadhrat Utsman (ra) sangat dihormati oleh orang-orang Quraisy.

Setelah perwakilan kaum Quraisy Makkah mendatangi perkemahan umat Muslim dan saat disepakati perjanjian dan perjanjian sedang ditulis, Abu Jundal, putra Suhail bin Amr, wakil Quraisy, memutuskan untuk melarikan diri ke RasuluLlah (saw), karena dia telah menerima Islam, bagaimanapun dia disiksa untuk ini oleh orang Quraisy. Abu Jundal tiba di Hudaibiyah tepat seperti yang tertulis dalam perjanjian bahwa setiap orang Makkah yang melarikan diri ke kaum Muslim akan dikembalikan lagi ke Makkah. Oleh karena itu, Suhail bin Amr menuntut agar Abu Jundal dikembalikan. Abu Jundal memohon untuk tidak dikembalikan, namun RasuluLlah (saw) mengatakan kepadanya dengan sangat sedih bahwa karena mereka baru saja menyetujui persyaratan perjanjian, mereka tidak dapat menghentikannya untuk dikembalikan lagi ke Makkah.

Melihat ini sangat menyakitkan Hadhrat ‘Umar (ra). Beliau bertanya kepada Nabi (saw), “Apabila betul-betul benar lalu mengapa umat Islam harus menanggung aib (kehinaan) seperti itu?” RasuluLlah (saw) menjawab kepadanya, “Tentu saja saya adalah Utusan yang benar yang diutus oleh Tuhan, dan karena itu, saya telah disadarkan akan kehendak Tuhan bagi umat Islam.”

Kemudian Hadhrat ‘Umar (ra) bertanya kepada Nabi (saw), “Bukankah Anda mengatakan bahwa kita akan melakukan ziarah (Umrah) di Ka’bah Suci?” RasuluLlah (saw) mengatakan, “Memang saya telah mengatakannya, namun tidak merinci bahwa Umrah tersebut akan terjadi pada tahun itu juga. Pasti, umat Islam akan memasuki Makkah dan melakukan haji.”

Kemudian, Hadhrat ‘Umar (ra) mengatakan bahwa beliau menyesali kelemahan ini yang terjadi karena emosi beliau sehingga sampai mengatakan hal itu kepada Rasulullah (saw) dan banyak beristighfar atas hal itu.

Hadhrat ‘Umar (ra) juga menandatangani Perjanjian Hudaibiyah sebagai saksi. Ada dua salinan perjanjian yang dibuat, satu yang Suhail bin Amr bawa kembali ke Makkah bersamanya, dan salinan yang lainnya dibawa pulang oleh RasuluLlah (saw) ke Madinah.

Turunnya ayat Al-Qur’an setelah Perjanjian Hudaibiyah yang menyadarkan para Sahabat

Dalam perjalanan kembali dari Hudaibiyah, Nabi (saw) memberi tahu umat Islam ayat-ayat berikut:

اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا

لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَمَا تَاَخَّرَ وَیُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَیَہۡدِیَکَ صِرٰطًا مُّسۡتَقِیۡمًا

وَیَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا

Sesungguhnya Kami telah memberi kepada engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi engkau di masa lalu dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau dan di masa yang akan datang, dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau; dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus; Dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa.” (Al-Qur’an Surah al-Fath, 48:2-4)

لَّقَدۡ صَدَقَ اللّٰہُ رَسُوۡلَہُ الرُّءۡیَا بِالۡحَقِّ ۖ لَتَدۡخُلُنَّ الۡمَسۡجِدَ الۡحَرَامَ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ اٰمِنِیۡنَ مُحَلِّقِیۡنَ رُءُوۡسَکُمۡ وَمُقَصِّرِیۡنَ لَا تَخَافُوۡنَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمۡ تَعۡلَمُوۡا فَجَعَلَ مِنۡ دُوۡنِ ذٰلِکَ فَتۡحًا قَرِیۡبًا

”Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan kepada Rasulullah (saw) rukya dengan benar, kamu pasti akan masuk Masjidil Haram jika Allah menghendaki dengan aman, dengan mencukur habis rambut kepalamu atau memotong pendek tanpa rasa takut. Tetapi Dia mengetahui apa yang kamu tidak ketahui, Dia sebenarnya telah menetapkan bagimu selain itu satu kemenangan yang dekat.” (Al-Qur’an Surah al-Fath, 48:28)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa jika umat Islam memasuki Makkah tahun itu, tidak akan mendapatkan keamanan dan kedamaian. Namun sekarang, karena telah disepakatinya perjanjian damai antara kaum Makkah dan umat Islam maka umat Islam akan dapat memasuki Makkah dan melakukan ziarah dengan damai. Setelah Perjanjian Hudaibiyah, ada beberapa sahabat (ra) yang resah dan mempertanyakan bagaimana ini bisa dianggap sebagai kemenangan bagi mereka, namun setelah mendengar ayat-ayat ini, masalah itu menjadi sangat jelas dan mereka menjadi yakin bahwa ini pastilah suatu kemenangan yang besar.

Hudhur ayyadahuLlahu ta’ala mengatakan bahwa setelah ayat-ayat ini diturunkan, Nabi (saw) memanggil Hadhrat ‘Umar (ra) dan membacakan ayat-ayat yang diwahyukan kepadanya, di mana Hadhrat ‘Umar (ra) juga yakin bahwa perjanjian ini yang Nabi (saw) buat yang awalnya dianggap sebagai sumber aib bagi umat Islam, sebenarnya merupakan kemenangan besar.

Hudhur ayyadahuLlahu ta’ala mengatakan bahwa beliau akan terus menyoroti insiden dari kehidupan Hadhrat ‘Umar (ra) di masa depan (khotbah-khotbah yang akan datang –pent).