Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Beberapa Hal tentang Jin, Syetan dan Iblis

Allah Ta’ala berfirman,

“Kemudian setan menggelincirkan keduanya dengan perantaraan pohon itu, lalu mengeluarkan keduanya dari keadaan mereka sebelumnya, dan Kami berfirman: ”Pergilah kamu dari sini, sebagian darimu musuh bagi yang lain, dan di bumi inilah tempat kediaman bagimu dan perbekalan hidup sampai suatu masa tertentu.” (QS Al-Baqarah [2]: 37)

Tafsir: Kalimat pertama dalam ayat ini berarti bahwa, suatu wujud yang bersifat setan membujuk Adam As dan istrinya keluar dari tempat mereka itu ditempatkan dan dengan demikian, menjauhkan mereka dari kesenangan yang dinikmati mereka. Seperti diterangkan dalam QS.2: 35 makhluk yang menipu dan menjerumuskan Adam As ke dalam kesusahan itu ialah setan dan bukan Iblis yang dituturkan menolak mengkhidmati Adam As. Jadi, setan di sini tidak merujuk kepada Iblis, tetapi kepada seseorang lain dari kaum di zaman Adam As yang adalah musuhnya.

Kesimpulan ini selanjutnya didukung oleh QS.17: 66 yang menurut ayat itu, Iblis tidak mempunyai daya apa-apa terhadap Adam As. Kata setan, mempunyai arti lebih luas daripada iblis sebab, iblis itu nama yang diberikan kepada roh jahat yang tergolong kepada jin dan yang menolak mengkhidmati Adam As dan yang kemudian menjadi pemimpin dan wakil kekuatan-kekuatan jahat di alam semesta. Setan adalah tiap-tiap wujud atau sesuatu yang jahat dan berbahaya maupun berupa roh atau manusia atau binatang atau penyakit atau tiap sesuatu yang lain. Jadi, Iblis adalah Setan, kawan-kawannya dan sekutu-sekutunya juga disebut setan; musuh-musuh kebenaran pun adalah setan, Orang-orang jahat juga setan, Binatang-binatang yang memudaratkan dan penyakit-penyakit berbahaya pun setan juga. Al-Qur’an, hadis, dan pustaka Arab penuh dengan contoh-contoh, tempat kata “setan” dengan bebasnya dipergunakan mengenai sesuatu atau segala sesuatu itu.

Jin

Allah Ta’ala berfirman,

Dan mereka menjadikan jin-jin sebagai sekutu bagi Allah padahal Dia menciptakan mereka; dan mereka telah mengada-adakan anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan bagi-Nya tanpa ilmu. Mahasuci Dia dan Mahaluhur dari apa yang mereka sifatkan. (QS Al-An’aam [6]: 101)

Tafsir: Jin adalah wujud yang sembunyi atau memencilkan diri dari orangorang awam. Ayat itu berarti bahwa manusia tergelincir bila ia menolak wahyu Ilahi dan mengikuti pertimbangan akalnya sendiri, lalu menyekutukan jin dan malaikat-malaikat dengan Tuhan dan menisbahkan anak laki-laki dan anak perempuan kepada Dia.


Allah Ta’ala berfirman,

“Dan dengan cara demikian Kami telah menjadikan orang-orang jahat di antara manusia dan jin musuh bagi setiap nabi. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya perkataan indah untuk mengelabui. Dan jika Tuhan engkau menghendaki, mereka tidak akan mengerjakannya; maka biarkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan,” (QS Al-An’aam [6]: 113)

Tafsir: Kata-kata “manusia dan jin” yang terdapat pada banyak tempat dalam ayat-ayat Al-Qur’an bukan berarti ada dua jenis makhluk Allah yang berlainan melainkan dua golongan makhluk manusia, Ins (manusia) mengisyaratkan kepada orang-orang awam atau rakyat jelata, sedangkan Jin dikatakan kepada orang-orang besar yang biasa hidup memisahkan diri dari rakyat jelata dan tidak berbaur dengan mereka, boleh dikatakan tinggal tersembunyi dari penglihatan umum.


“Dan ingatlah hari ketika Dia akan menghimpun mereka semua, Dia berfirman, “Hai golongan jin! Sungguh kamu telah menarik banyak manusia ke dalam golonganmu, dan kawan-kawan mereka dari kalangan manusia berkata, “Wahai Tuhan kami, sebagian kami telah mengambil keuntungan dari sebagian yang lainnya, dan kami telah sampai kepada batas waktu kami yang telah Engkau tetapkan bagi kami.” Dia berfirman, Api itulah tempat tinggalmu, kamu akan tinggal lama di dalamnya, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Sesungguhnya Tuhan engkau Mahabijaksana, Maha Mengetahui.” (QS Al-An’aam [6]: 129)

Tafsir: Ma‘syar berarti segolongan orang yang mempunyai urusan dan kepentingan yang sama (Lane). Dalam ayat ini sebutan Jinn jelas menunjukkan orang-orang besar dan orang-orang kuat sebagai lawan kata Ins, yakni golongan orang-orang lemah dan miskin (rakyat jelata).

Ayat ini memberikan bukti lagi atas kenyataan bahwa kata Jin di sini hanya berarti satu golongan manusia, yaitu orang-orang besar dan orang-orang berpengaruh, sebab hanya segolongan manusia juga memeras tenaga golongan lain. Sedangkan Jin sebagai makhluk lain yang bukan-manusia, tak pernah memperbudak manusia. Begitu pun sepanjang pengetahuan kita Utusan-utusan Ilahi tak pernah dibangkitkan dari antara mereka.


”Hai golongan jin dan manusia! Tidakkah telah datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu yang menyampaikan kepadamu tanda-tanda-Ku dan memperingatkan kamu mengenai pertemuan pada harimu ini?” Mereka berkata, “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.” Tetapi kehidupan dunia telah memperdayakan mereka, dan mereka telah menjadi saksi atas diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir” (QS Al-An’aam [6]: 131)

Tafsir: Maksud perkataan ma‘syaral jinni (golongan jin) bukanlah suatu golongan di luar golongan manusia bahkan perkataan jin dan ins ini diisyarahkan kepada orang-orang besar atau bangsa besar dan orang kecil atau bangsa kecil. Kalau pilihan ini tidak benar maka bila datang kepada golongan jin seorang rasul dari antara kalangan jin, kemudian setelah beriman kepadanya mengapa kepada para jin tidak diberikan khabar suka berupa surga. Dari ayat-ayat Al-Qur’an di atas ataupun dari hadis dimanapun tidak didapati satu sebutan mengenai keberadaan jin-jin di surga.


“Dan, sesungguhnya Kami telah menciptakan bagi Jahannam banyak di antara jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi dengan itu mereka tidak memahami, dan mereka mempunyai mata; tetapi dengan itu mereka tidak melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi dengan itu mereka tidak mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orangorang yang lalai.” (QS Al-A’raf [7]: 180)

Tafsir: Huruf Lam (Lā) di sini Lam ‘Āqibat yang menyatakan kesudahan atau akibat. Dengan demikian ayat ini tidak ada hubungannya dengan tujuan kejadian manusia melainkan hanya menyebutkan kesudahan yang patut disesalkan mengenai kehidupan kebanyakan Ins (manusia) dan Jin (kata jin itu juga mempunyai arti golongan manusia yang istimewa, yakni penguasapenguasa atau pemuka-pemuka atau orang-orang besar). Dari cara mereka menjalani hidup mereka dalam berbuat dosa dan kedurhakaan nampak seolah-olah mereka telah diciptakan untuk masuk neraka.


“Dan Dia menciptakan jin-jin dari nyala api.” (QS Ar-Rahman: [55]: 16)

“Dan sebelumnya telah Kami jadikan jin dari api angin yang panas.” (QS Al-Hijr [15]: 28)

Tafsir: Sebuah ungkapan Al-Qur’an yang serupa ini, ialah “manusia dijadikan dari ketergesa-gesaan” (QS.21: 38) menunjukkan, bahwa ayat yang sedang dalam pembahasan ini berarti, bahwa jin memiliki pembawaan seperti api dan bukan bahwa makhluk jin itu sesungguhnya dibuat dari api. Dengan demikian “dijadikannya dari tanah liat” mengandung arti, berpembawaan lemah lembut dan suka tunduk, sedangkan “dijadikannya dari api” mengandung arti, bertabiat seperti api dan mudah menyala.

Tafsir: QS Al-Hijr [15]: 27-30: Pada ayat-ayat ini ada dua hal yang perlu diperhatikan: yang pertama, manusia itu tidak hanya dijadikan dari tanah liat, tapi dari tanah liat yang telah berbau busuk, kemudian menjadi tanah kering yang mendenting. Ini merupakan topik yang tidak terlintas di pikiran Rasulullah Saw sendiri. Di dalam kitab suci lain pun tidak ada yang menyebutkan penciptaan manusia dari tanah yang mendenting. Masalah ini telah terpecahkan oleh ilmuwan pada masa kini. Kedua, sebelum penciptaan manusia, Jin diciptakan dari udara yang sangat panas bagaikan api tercurah dari langit. Topik ini sama sekali tidak terbayangkan oleh Rasulullah Saw, selama Tuhan Yang Maha Mengetahui yang gaib tidak memberi tahu beliau Saw. Jin yang diciptakan dari ‘nār al-samum’ adalah bakteri-bakteri. Masalah bagaimana terjadinya tanah liat yang telah berbau itu terpecahkan, yaitu, selama bakteri tidak ada, tidak bisa terjadi pencemaran atau proses pencemaran di tanah yang basah.


“Dan dihimpunkan bagi Sulaiman lasykar-lasykarnya bersama-sama, terdiri dari jin, manusia, dan burung, dan mereka dijadikan barisan-barisan yang tertib secara terpisah.” (QS An-Naml [27]: 18)

Tafsir: Jīn di sini dapat diartikan gunung atau suku-suku bangsa yang liar. Ayat yang sedang ditafsirkan ini hendaknya dibandingkan dengan ayat-ayat dalam QS.21: 83; 34: 13 dan QS.38: 38. Agaknya kata itu merujuk kepada anggotaanggota balatentara Nabi Sulaiman AS. Ketiga kata – Jīn, Ins (manusia) dan Tair (burung-burung) – dapat menggambarkan tiga kesatuan lasykarnya. Dalam ayat ini dan dalam QS.34: 13, kata Jīn dipergunakan untuk menggambarkan satu seksi tertentu lasykar itu, sedang dalam QS.21: 83 dan QS.38: 38 kata Syayātīn dipergunakan untuk mengemukakan golongan itu juga. Rupanya Nabi Sulaiman As telah menundukkan dan menaklukkan suku bangsa liar. Itulah kira-kira arti kedua kata Jīn dan Syayātīn, yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari lasykarnya itu dan yang melakukan berbagai tugas berat untuknya. Kata Tair, berarti kuda-kuda yang bergerak cepat yang dapat menggambarkan pasukan berkuda Nabi Sulaiman As. Arti kata ini dikuatkan dalam QS.38: 32-34, di sana Nabi Sulaiman As dilukiskan mempunyai kegemaran yang besar terhadap kuda. Dengan demikian, di mana Jīn dan Ins (manusia) menggambarkan dua unit pasukan infantri Nabi Sulaiman AS, maka Tair (burung-burung) berarti pasukan kavalerinya. Akan tetapi jika Tair dapat dianggap berarti burung-burung yang sebenarnya, maka kata itu akan berarti burung-burung yang dipergunakan oleh Nabi Sulaiman As untuk mengirimkan pesan-pesan perintah. Oleh karena itu burung-burung itu pun merupakan pembantu yang sangat berguna dan perlu sekali bagi lasykarnya. Akan tetapi ketiga perkataan yang dipergunakan dalam arti kiasan itu, dapat diartikan masing-masing “orang-orang besar,” “orang-orang biasa,” dan “orang-orang berkerohanian tinggi.”


Ifrit dari kalangan para jin berkata, “Aku akan membawanya kepada engkau sebelum engkau berdiri dari tempat engkau; dan sesungguhnya aku mempunyai kekuatan atas itu dan terpercaya.” (QS An-Naml [27]:40)

Tafsir: ‘Ifrīt berasal dari kata ‘Afara yang berarti, ia melemparkan dia ke tanah atau menghina dia, ialah suatu kata yang digunakan baik untuk manusia ataupun untuk jin; dan berarti, (1) seorang yang kuat dan gagah-perkasa; (2) tajam, gesit, dan efektif dalam menghadapi sesuatu urusan, melewati batas-batas biasa dalam urusan itu dengan kecerdasan dan kecerdikan; (3) seorang kepala, dan lain-lain (Lane).

‘Ifriit yang dikatakan sebagai jin, bukanlah suatu jin yang dikenal secara umum. Pemimpin-pemimpin kejam dari orang-orang yang tinggal di gunung yang menjadi pengikut Nabi Sulaiman As pun disebut jin.


Dan kepada Sulaiman Kami tundukkan angin, perjalanan paginya sama dengan sebulan perjalanan dan perjalanan petangnya sama dengan sebulan perjalanan. Dan Kami mengalirkan sumber cairan tembaga untuknya. Dan sebagian jin-jin ada yang bekerja di bawah perintahnya dengan izin Tuhannya. Dan Kami berfirman bahwa barangsiapa dari mereka menyimpang dari perintah Kami, Kami membuatnya merasakan azab api yang menyala-nyala. (QS Saba’ [34]: 13)

Tafsir: Maksud dijadikannya angin taat kepada beliau, bukanlah berarti bahwa beliau As membuat penemuan piring terbang, sebagaimana sebagian mufasir menceritakan kisah seperti itu, tapi yang dimaksud di sini adalah angin kencang yang bertiup dari pantai ke lautan yang berubah arah setiap bulan. Dan dengan kekuatan angin ini perahu melaju, dan kemudian kembali. Inilah yang diinginkan oleh ayat ini. Nabi Daud As diberi kekuatan atas besi. Sedangkan Nabi Sulaiman As diberi kecerdasan yang luar biasa yaitu menemukan tambang tembaga, dan diajari cara mengolahnya di berbagai industri. Tentang jin, sudah diterangkan saat menerangkan tentang Nabi Daud As yang dimaksud adalah orang-orang gunung yang gagah dan tangguh. Ayat berikutnya menerangkan bagaimana mereka sangat rajin dan tangguh di dalam memikul tanggung jawab yang tidak mungkin bisa dikerjakan oleh orang biasa. Di dalam penjelasan secara detail diterangkan pertama tentang benteng besar, kemudian tentang patung, kuali yang sangat besar sebesar kolam, dan periuk yang sangat besar dan berat sehingga tidak bisa dipindahkan ke tempat lain. Dan periuk itu untuk mempersiapkan makan tentara agung beliau As. Setelah menyebut tentang nikmat-nikmat itu, ditekankan bukan hanya kepada Nabi Daud As, tapi juga kepada anak keturunan beliau As tentang pentingnya bersyukur, yakni sepanjang mereka bersyukur nikmat ini tidak akan ditarik. Kemudian di masa keturunan Nabi Sulaiman As nikmat ini terputus, karena mereka tidak punya kemampuan kerohanian dan hikmat kebijaksanaan.


Mereka berkata, “Mahasuci Engkau, Engkaulah Pelindung kami terhadap mereka. Tidak, bahkan mereka menyembah jin, kepadanyalah kebanyakan mereka beriman.” (QS Saba’ [34]: 42)

Tafsir: Saba’ ayat 41-42 : Diterangkan tentang orang musyrik yang menjadikan orang-orang besarnya sebagai tuhan. Di sini yang dimaksud jin adalah para pemimpin ini. Orang-orang musyrik terkadang menjadikan malaikat sebagai sembahan. Ini hanya tuduhan palsu kepada malaikat. Dan malaikat akan menzahirkan ketidakterlibatan mereka dari hal itu pada hari kiamat.


Katakanlah, “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya serombongan jin mendengar AlQur’an,” maka mereka berkata, “Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Quran yang sangat menakjubkan, (QS Al-Jin [72]: 2)

Dan ingatlah ketika Kami hadapkan kepada engkau segolongan dari jin yang ingin mendengarkan Al-Qur’an, maka ketika mereka hadir saat pembacaannya mereka berkata satu sama lain, “Diamlah dan dengarkanlah!” Dan ketika telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan (QS Al-Ahqaf [46]: 30)

Tafsir: Golongan jin yang diisyaratkan dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi dari Nashibin, atau seperti sumber lain mengatakan, adalah orang-orang Yahudi dari Maushal atau Ninewe, Irak. Karena takut akan tentangan dari orang-orang Mekah, mereka menjumpai Rasulullah Saw pada waktu malam, dan setelah mendengarkan pembacaan Al-Qur’an dan tutur kata Rasulullah Saw mereka masuk Islam dan menyampaikan agama baru itu kepada kaum mereka yang juga dengan suka hati menerimanya (Bayan, jilid ke-8). Lihat juga QS.72:2.

Jin-jin yang disebut dalam ayat ini bukanlah jin-jin yang digambarkan secara umum, akan tetapi mereka itu adalah para pemimpin besar suatu kaum yang telah mengambil keputusan setelah melihat sendiri mengenai kabar tentang Rasulullah Saw. Maka, setelah mereka kembali kepada kaumnya, mereka menceritakan khabar suka mengenai kebenaran Rasulullah Saw.

Isyarat ini mungkin tertuju kepada segolongan orang Yahudi dari Nashibin. Mereka bukan bangsa Arab dan karena merupakan orang-orang asing, mereka disebut “jin,” yang berarti antara lain ‘orang asing’ (Lane). Peristiwa yang disebut dalam ayat ini, agaknya lain dari peristiwa yang disebut dalam QS.46: 30-33, meskipun ayat ini dianggap oleh beberapa sumber merujuk kepada ayat-ayat itu, sebab kata-kata yang diucapkan oleh “jin” dalam ayat ini mempunyai kemiripan dengan kata-kata yang diucapkan oleh segolongan jin yang disebut dalam QS.46: 30-33.


Mereka berkata, “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan apa yang ada sebelumnya; dan membimbing kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus;” (QS Al-Ahqaf [46]:31)

Tafsir: Ayat ini menunjukkan bahwa golongan jin yang disebut dalam ayat sebelumnya adalah orang-orang Yahudi, sebab mereka mengatakan tentang Al-Qur’an sebagai “kitab yang telah diturunkan sesudah Musa.”


“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu.” (QS AL-DZĀRIYĀT [51]: 57)

Tafsir: Di ayat ini yang dimaksud dengan jin dan manusia adalah pembesar–pembesar dan orangorang awam, bangsa yang besar dan bangsa yang kecil. Tujuan dijadikan keduanya adalah untuk beribadah kepada Allah Swt. Kalau yang dimaksud jin adalah makhluk jin yang dikenal secara umum, maka mereka pun tentu harus mendapat ganjaran karena beribadat yakni mereka pun harus diberi khabar gembira untuk masuk surga, tetapi dimanapun tidak disebutkan bahwa para jin itu akan masuk surga.


“Maka yang manakah di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu berdua yang kamu dustakan, hai jin dan manusia?” (QS A-Rahman [55]: 14)

Tafsir: Bentuk ganda dalam kata Tukadz-dzibān boleh dipergunakan untuk dua golongan – jin dan manusia – seperti diisyaratkan dalam ayat 34, atau dapat berarti golongan manusia, yaitu, orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, pemimpin-pemimpin dan para pengikut mereka, si kaya dan si miskin atau bangsa-bangsa kulit putih dan bangsa-bangsa kulit berwama. Atau, bentuk ganda itu mungkin telah dipergunakan guna memberikan tekanan arti dalam menyatakan kewibawaan perintah yang terkandung dalam berbagai ayat. Bentuk ganda demikian biasa dipergunakan dalam bahasa Arab. Lihat juga QS.50: 25. Menurut riwayat, Rasulullah Saw pernah bersabda bahwa bila ayat ini dibacakan, orang-orang mukmin yang hadir hendaknya memberi tanggapan dengan mengucapkan kata-kata, “Tiada dari nikmat-nikmat Engkau, ya Tuhan kami, yang kami ingkari, dan kepunyaan Allah-lah segala puji” (Katsir).


“Hai, golongan jin dan manusia, seandainya kamu memiliki kesanggupan untuk menembus batas-batas langit dan bumi, maka tembuslah. Namun kamu tidak akan dapat menembusnya kecuali dengan kekuasaan” (QS A-Rahman [55]: 34)

Tafsir: Di ayat ini diterangkan tentang golongan jin dan manusia. Jin telah dipahami sebagai mahluk aneh dan ajaib. Pada jaman itu (untuk Jin) dapat dikatakan ‘aqtharu samawati wal ardhi’ (mereka berusaha keluar dari langit dan bumi), akan tetapi untuk ‘Ins’ (manusia) tidaklah dapat dibayangkan bahwa mereka pun dapat ‘aqtharu samawati wal ardhi’. Di sini satu hal yang perlu perhatian secara khusus, yaitu bahwasanya Allah Swt tidak hanya berfirman, ‘aqtharul ardhi’ (menembus bumi), akan tetapi berfirman ‘menembus langit dan bumi’ yakni akan berusaha melintasi seluruh alam semesta hanya dengan sekali loncatan saja. Yang dimaksud ‘illa bi sulthan’ adalah ‘mereka akan berusaha, tapi mereka akan berhasil hanya dengan pembuktian yang kuat saja mereka itu akan dapat berhasil’. Inilah yang terjadi pada zaman ini. Para ahli Astronomi yang mencermati secara mendalam hanya dengan pembuktian dalil-dalil yang unggul dapat meraih informasi dari jarak sejauh 20 milyar tahun cahaya. Secara fisik hal ini tidak mungkin dilakukan.


“Dan sesungguhnya ada beberapa orang dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa orang dari jin, maka dengan demikian mereka telah menambah kesombongan jin.” (QS Al-Jinn [72]: 7)

Tafsir: Karena kata Rijāl hanya dipakai mengenai manusia, ayat ini menunjukkan bahwa “serombongan jin” yang tersebut dalam ayat ini dan dalam Surah al-Ahqaf itu adalah manusia dan bukan suatu jenis makhluk lain mana pun. Kata Arab jin di sini, dapat berarti orang-orang besar dan berpengaruh, dan Ins – orang-orang rendah dan hina, yang dengan mengikuti golongan tersebut pertama dan mencari lindungan mereka itu, meningkatkan kesombongan dan keangkuhan mereka.

Tafsir QS Al-Jinn [72] ayat 2-10: Di dalam ayat-ayat tersebut ada dua hal patut diterangkan secara khusus, yakni Jin yang hadir di hadapan Rasulullah Saw adalah pembesar-pembesar dari suatu kaum dan itu bukanlah Jin sungguhan yang ada dalam khayalan. Oleh karena itu, mereka pun di tempat itu telah menyalakan api untuk memasak makanannya dan para sahabat ra kemudian telah melihat sisa-sisa bahan bakar dan bekas-bekas makanan yang mereka buat. Tentang mereka ini kuat dugaan bahwa mereka adalah satu delegasi orang-orang Bani Israil yang tinggal di Afganistan yang adalah para pemuka dan pemimpin kaumnya. Mereka telah memutuskan untuk menyelidiki langsung setelah mendengar pendakwaan Rasulullah Saw. Mereka bukan hanya berdialog panjang lebar lalu menerima kebenaran beliau Saw dengan sepenuh hati, bahkan mereka menolak akidah yang merusak, yaitu sebagimana yang dilakukan orang-orang bodoh yang menganggap bahwa Allah Ta’ala tidak akan mengutus nabi lagi. Setelah mereka kembali kepada kaumnya dan saat itu mereka membuat seluruh Afganistan menjadi Muslim.


“Dari jin dan manusia.” (QS An-Naas [114]: 7)

Tafsir: Si Jahat membisikkan pikiran-pikiran jahat ke dalam hati golongan Jīn (orang-orang besar) maupun golongan Nās (orang-orang awam), tanpa seorang pun terkecuali. Atau, ayat ini dapat juga berarti, bahwa si pembisik pikiran jahat itu, terdapat di antara golongan Jin (orang-orang besar) dan orang-orang awam.

Syetan

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang beriman, mereka berkata: “Kami pun telah beriman”. Tetapi apabila mereka pergi kepada pemimpin-pemimpin mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami beserta kamu, kami hanya berolok-olok.” (QS Al-Baqarah [2]: 15)

Tafsir: Syayātīn berarti, para pemimpin pendurhaka (menurut Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Qatadah dan Mujahid). Rasulullah Saw diriwayatkan bersabda, “seorang pengendara (kuda yang bepergian) sendirian adalah Syaitān, dua pengendara pun sepasang Syaitān, tetapi tiga orang pengendara, adalah satu ‘pasukan pengendara’ (Dawud). Hadis ini mendukung pandangan bahwa, kata Syaitān tidak selamanya berarti setan.


“Hai manusia, makanlah dari apa yang halal dan thayib, di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 169)

Tafsir: Larangan terhadap mengikuti setan segera menyusul perintah yang berhubungan dengan makanan, yang mengisyaratkan kepada pengaruh perbuatan-perbuatan jasmani terhadap keadaan akhlak dan rohani manusia. Penggunaan makanan haram dan tidak sehat dapat merugikan kemampuan akhlak dan merintangi perkembangan rohaninya. Lihat pula QS.23: 52.


“Sesungguhnya ia hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji dan menyuruh kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 170)

Tafsir: Mula-mula Setan mendorong manusia melakukan perbuatanperbuatan yang keburukannya tidak nampak jelas, sedangkan pengaruhnya hanya terbatas pada pelakunya. Kemudian, selangkah demi selangkah setan menjadikannya orang durhaka yang keras dan menjadikannya kehilangan segala rasa kesopanan.


“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam kepatuhan seutuhnya dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya ia bagimu musuh yang nyata.” (QS Al-Baqarah [2]: 209)


“Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan, karena itu barangsiapa ingkar kepada Tāghūt dan beriman kepada Allah, maka sungguh ia telah berpegang kepada suatu pegangan yang sangat kuat lagi tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 257)

Tafsir: Tāghūt adalah orang yang bertindak melampaui batas-batas kewajaran; Setan; orang-orang yang menyesatkan orang lain dari jalan lurus dan benar; segala bentuk berhala. Kata itu dipakai baik dalam bentuk mufrad maupun jamak (QS.2: 258 dan QS.4: 61).


Setan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan, dan menyuruhmu berbuat kekejian, padahal Allah menjanjikan kepadamu ampunan dan karunia dari-Nya. Dan Allah Mahaluas karunia-Nya, Maha Mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 269)

Tafsir: Faqara berarti: ia membuat lubang ke dalam mutiara; Faqura berarti, ia menjadi miskin dan kekurangan dan Faqira berarti, ia mengidap penyakit tulang punggung. Jadi Faqr berarti kemiskinan; kekurangan atau keperluan yang sangat memberatkan kehidupan si miskin; kesusahan atau kecemasan atau kegelisahan pikir (Lane).

Ayat ini melenyapkan prarasa takut yang dibisikkan setan bahwa membelanjakan harta dengan sukarela di jalan Allah dapat menjadikan seseorang jatuh miskin; sebaliknya ayat itu menerangkan dengan tegas bahwa bila orang-orang kaya tidak membelanjakan dengan sukarela dalam urusan yang baik, akibatnya ialah faqr nasional, artinya, negeri akan menderita dalam bidang ekonomi dan akan mengalami kemerosotan akhlak, karena bila keperluan ekonomi anggota-anggota masyarakat yang kurang beruntung tidak terpenuhi secara layak, mereka akan cenderung menempuh Fahsyā’ (cara yang buruk dan bertentangan dengan akhlak baik) untuk mencari nafkah mereka.


“Orang-orang yang memakan riba mereka tidak berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang dirasuk setan dengan penyakit gila. Hal itu karena mereka berkata, “Sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba”, padahal Allah menghalalkan jualbeli dan mengharamkan riba Maka siapa yang kepadanya telah sampai peringatan dari Tuhannya lalu berhenti dari pelanggaran itu maka baginyalah apa yang ia terima di masa lalu, sedangkan urusannya terserah kepada Allah. Dan siapa kembali memakan riba, maka mereka adalah penghuni Api, mereka tinggal lama di dalamnya.” (QS Al-Baqarah [2]: 276)


“Sesungguhnya yang demikian itu adalah setan yang menakut-nakuti sahabat-sahabatnya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu orang-orang beriman.” (QS Ali ‘Imran [3]: 176)

Tafsir: Kata-kata itu berarti: (1) setan berupaya membuat orang-orang mukmin takut terhadap orang-orang kafir, sahabat-sahabatnya (2) dengan rencananya, setan hanya berhasil menakut-nakuti temannya sendiri, yaitu, orang-orang kafir.


“Dan mengenai orang-orang yang menginfakkan harta mereka agar dilihat manusia, mereka tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada Hari Kemudian, mereka adalah kawan-kawan setan. Dan barangsiapa yang menjadikan setan sebagai kawan bagi dirinya, maka ia adalah seburuk-buruk kawan.” (QS AN-Nisa [4]: 39)


“Apakah engkau tidak pernah melihat orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau dan kepada apa yang diturunkan sebelum engkau? Mereka ingin berhakim kepada orang-orang yang melampaui batas, padahal mereka sungguh telah diperintahkan supaya menolaknya, dan setan ingin menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS AN-Nisa [4]: 61)


“Orang-orang beriman berperang di jalan Allah, sedang-kan orang-orang kafir berperang di jalan setan. Karena itu perangilah olehmu kawan-kawan setan; sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS AN-Nisa [4]: 77)


“Tidak lain yang mereka seru selain Dia kecuali benda-benda mati, dan tidak lain yang mereka seru kecuali setan yang durhaka,” (QS AN-Nisa [4]: 118)


“Dan pasti akan aku sesatkan mereka, dan pasti akan aku janjikan kepada mereka harapanharapan kosong, dan pasti akan aku suruh mereka memotong telinga binatang-binatang ternak, dan pasti akan aku suruh mereka merubah makhluk Allah.” Dan barangsiapa mengambil setan menjadi pelindung selain Allah, ia pasti mengalami kerugian yang nyata.” (QS AN-Nisa [4]: 120)


“Ia memberikan janji kepada mereka dan menimbulkan harapan kosong kepada mereka, dan tidak ada yang dijanjikan setan kepada mereka kecuali tipuan belaka.” (QS AN-Nisa [4]: 121)


Katakanlah, “Maukah aku beritahukan kepadamu yang lebih buruk dari itu tentang pembalasan dari sisi Allah? Yaitu orang-orang yang dilaknat Allah, kepadanya Dia murka dan menjadikan sebagian dari mereka kera-kera, babi-babi dan yang menyembah setan. Mereka itu berada di tempat yang buruk dan tersesat jauh dari jalan lurus. (QS Al-Maidah [5]: 61)

Tafsir: Kata-kata “kera” dan “babi” telah dipergunakan di sini dalam artian kiasan. Kebiasaan tertentu merupakan ciri khas binatang-binatang tertentu pula. Ciri-ciri khas itu tidak dapat digambarkan sepenuhnya kalau binatang yang mempunyai kebiasaan itu tidak disebut namanya dengan jelas. Kera terkenal karena sifat penirunya dan babi ditandai oleh kebiasaan-kebiasaan kotor dan tidak bermalu dan juga oleh kebodohannya. Ungkapan, “yang menyembah setan,” menunjukkan bahwa kata-kata “kera” dan “babi” telah dipergunakan di sini secara kiasan.


“Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya arak, judi, berhala-berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah suatu kekejian dari perbuatan setan, maka jauhilah semua itu supaya kamu berhasil.” (QS Al-Maidah [5]: 91)

Iblis

“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Tunduklah kamu kepada Adam”, lalu mereka tunduk kecuali Iblis, ia menolak dan takabur, dan ia sejak semula termasuk yang ingkar.” (QS Al-Baqarah [2]: 35)

Tafsir: Kata Iblīs berasal dari Ablasa, yang berarti, (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang Tuhan; (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya. Berdasarkan akar-katanya, arti kata Iblis itu, suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatan, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Tuhan oleh sikap pembangkangannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya.

Iblis seringkali dianggap sama dengan setan, tetapi dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa Iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab ia di sini dilukiskan tidak patuh kepada Allah Swt, sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66: 7). Allah Swt telah murka kepada Iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam As, tetapi Iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi Iblis, perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat, sebagai penjaga berbagai bagian alam semesta, dengan sendirinya mencakup juga semua wujud. Seperti dinyatakan di atas, Iblis sesungguhnya nama sifat yang – berdasarkan arti akar katanya – diberikan, kepada roh jahat yang bertolak belakang dengan malaikat. Diberi nama demikian, karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali miskin dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Tuhan.

Bahwa Iblīs bukanlah Syaitān – yang disebut dalam dalam QS.2:37 jelas dari kenyataan bahwa Al-Qur’an menyebut kedua nama itu berdampingan, manakala riwayat Adam As dituturkan. Tetapi, di mana-mana dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu. Kapan saja Al-Qur’an membicarakan makhluk yang – berbeda dari para malaikat – menolak berbakti kepada Adam As, maka Al-Qur’an senantiasa menyebutnya dengan nama Iblis. Bila Al-Qur’an membicarakan wujud yang menipu Adam As dan menjadi sebab Adam As diusir dari “kebun,” maka Al-Qur’an menyebutnya dengan nama Syaitān.

Perbedaan ini – yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Qur’an, sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37; 7:12, 21; 15:32; 17:62; 18:51; 20:117, 121; dan QS.38:75) – jelas memperlihatkan bahwa Iblis itu berbeda dari setan yang menipu Adam As dan merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam As sendiri. Di tempat lain Al-Qur’an mengatakan bahwa, iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan – berlainan dari para malaikat – mampu menaati atau menentang Allah Swt (QS.7: 12, 13).