Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Sebelum Melamar

Sebelum melamar atau meminang atau khitbah, tahap ini disebut dengan Ta’aaruf yang berarti perkenalan. Hal ini bisa dilakukan lewat pengurus (Sekretaris Ristanata, ketua atau mubalig), keluarga, teman atau dilakukan secara pribadi.

Apabila kedua belah pihak (pria dan wanita) sudah ada kontak (ta’aruf) sebelum melamar, maka sebaiknya melaksanakan shalat istikharah.

Setelah mencapai tahap keseriusan, maka hendaknya melangsungkan tahap peminangan.

Definisi Melamar

Meminang, dalam bahasa arab disebut dengan khitbah. Kata ini diambil dari akar kata:

khothoba - yakhthubu - khotban - khitbatan

yang artinya adalah meminang. [1]

Al-Khitbah dengan dikasrah huruf ‘kho’-nya berarti pendahuluan dari ikatan pernikahan yang maknanya permintaan seorang laki-laki pada wanita untuk dinikahi. Dan hal ini pada umumnya ada pada laki-laki. Maka yang memulai disebut ‘khoothoban’ (yang meminang) sedang yang lain disebut ‘makhthuuban’ (yang dipinang).

Dalam Bahasa Inggris disebut dengan propose yang artinya mengusulkan, mengajukan, menawarkan, bermaksud, mencalonkan dan melamar.

Setelah diteliti, ternyata akar kata khitbah itu sama dengan akar kata khutbah yang artinya berpidato atau berkhutbah, yaitu:

khothoba - yakhthubu - khotban - khotbatan [2]

Dari akar yang sama terdapat juga kata khootoba dan takhoothoba yang artinya bercakap-cakap. Jadi inti harfiah dari meminang adalah berkomunikasi.

Kata Khitbah dalam Alquran

Kata khitbah hanya satu kali saja dipakai di dalam Alquran. Allah Ta’ala Berfirman:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا عَرَّضْتُمْ بِهِ مِنْ خِطْبَةِ النِّسَاءِ ...

wa laa junaaha ‘alaykum fiimaa ‘arrodhtum min khitbatin-nisaa-i…

“Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu…” (Qs. Al-Baqarah [2]: 236)

Hukum Meminang

Meminang itu sunnah sebelum akad nikah, karena Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam meminang untuk dirinya dan untuk yang lain. Dan tujuan meminang yaitu : mengetahui pendapat yang dipinang, apakah ada setuju atau tidak. Demikian juga untuk mengetahui pendapat walinya.

Meminang: Menawar

Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa berkata :

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَبِيعَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَلَا يَخْطُبَ الرَّجُلُ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَتْرُكَ الْخَاطِبُ قَبْلَهُ، أَوْ يَأْذَنَ لَهُ الْخَاطِبُ

“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang menjual barang yang telah ia jual orang lain. Seorang laki-laki tidak boleh melamar wanita yang telah dilamar saudaranya, hingga saudaranya itu meninggalkannya atau mengizinkannya (untuk melamarnya)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5142]

الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ، فَلَا يَحِلُّ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَبْتَاعَ عَلَى بَيْعِ أَخِيهِ، وَلَا يَخْطُبَ عَلَى خِطْبَةِ أَخِيهِ حَتَّى يَذَرَ

“Seorang mukmin adalah saudara mukmin lainnya. Tidak dihalalkan bagi seorang mukmin membeli barang yang telah dibeli oleh saudaranya. Dan ia pun tidak boleh melamar wanita yang telah dilamar saudaranya hingga saudaranya itu meninggalkan lamarannya” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1414]

Meminang: Meminta Persetujuan

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, “Seorang janda tidak boleh dinikahkan sebelum dimintai pendapatnya dan tidak boleh (pula) seorang gadis dinikahkan hingga dimintai persetujuannya.” Para sahabat pada bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana bentuk persetujuannya itu?” Jawab beliau, ”Yaitu dia diam (ketika dimintai persetujuan).” (Muttafaqun ’alaih: IX:191 no:2166 Muslim II:1036 no:1419, ’Aunul Ma’bud VI:115 no:2078, Tirmidzi II:236 no:1113, Ibnu Majah I:601 no:1871 dan Nasa’i VI:85).

Dari Khansa’ binti Khiddam al-Anshariyah radhiyallahu’anha bahwa ayahnya pernah mengawinkanya sedang ia dalam keadaan janda, maka ia tidak mau. Kemudian ia datang menemui Rasulullah saw., maka kemudian beliau membatalkan pernikahannya.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 0830, fathul Bari IX: 194 no: 5138,’Aunul Ma’bud VI: 127 no: 2087, Ibnu Majah I: 602 1873 dan Nasa’i VI: 86).

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa ada seorang gadis datang kepada Nabi saw., lalu mengadu bahwa bapaknya telah mengawinkan dirinya padahal ia tidak mau, maka kemudian Nabi saw. menyerahkan sepenuhnya kepadanya antara membatalkan perkawinannya atau meneruskannya.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah:152 dan Ibnu Majah I:603 no:1875).

Meminang: Hanya diperbolehkan Sebatas melihat, Belum Bebas untuk Bergaul

Hadits Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata: “Saya mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam lalu saya menceritakan kepada Beliau perihal seorang wanita yang saya lamar, maka Beliau bersabda: “Pergilah kamu (kepadanya) dan lihatlah dirinya, karena hal itu akan membuat kasih sayang diantara kalian akan langgeng.” (HR An-Nasa’i no. 6/69, Ath-Tirmidzi no. 1087, dan Ibnu Majah no. 1866 potongan pertama dari hadits dikuatkan dalam riwayat Muslim no. 2/1040 dari hadits Abu Hurairah)

“Jika salah seorang diantara kalian melamar seorang wanita, maka tidak mengapa baginya untuk melihat kepadanya, jika memang dia melihatnya hanya untuk pelamarannya. Walaupun wanita tersebut tidak mengetahui (dirinya sedang dilihat).” (HR Al-Bukhari no. 5/424 dengan sanad yang shahih)

Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila seseorang diantara kalian meminang wanita, maka apabila dia bisa melihat apa yang mendorongya untuk menikahinya, maka lakukanlah.” (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya. Hadits shahih menurut Hakim)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ، ثنا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلانَ ، ثنا الْحَارِثُ بْنُ عِمْرَانَ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ ، عَنْ نَافِعٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، عَنْ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " لا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا "

“Tidaklah seorang laki-laki berkholwat dengan wanita, maka yang ketiganya adalah syetan”. (HR Ahmad dan Tirmizi)

عن ابن عباس رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فلا يخلون بامرأة ليس بينها وبينه محرم.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah berdua-duaan dengan seorang wanita (padahal) tidak ada diantara si wanita dan diantara laki-laki itu muhrimnya” (HR Tabrani)

Syarat Peminangan

  1. Tidak terikat perkawinan dengan orang lain
  2. Tidak berada dalam masa iddah Thalak raj’i
  3. Tidak berada dalam pinangan orang lain

Kebiasaan dalam Peminangan

Dalam tahap peminangan biasa dilakukan:

  1. Menentukan Waktu Akad (Disesuaikan dengan waktu-waktu tidak haid)
  2. Menentukan Tempat Akad (biasanya di rumah keluarga wanita)
  3. Menentukan Waktu Walimah (Disesuaikan dengan waktu-waktu tidak haid)
  4. Menentukan Tempat Walimah (biasanya di rumah keluarga laki-laki)
  5. Menentukan mahar atau mas kawin.
  6. (Menentukan biaya pernikahan)

Anjuran Memilih Pasangan

“Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan karena agamanya dan pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dari shahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu)

Mempercepat Pernikahan

“Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah memiliki kemampuan maka hendaknya dia menikah, karena hal tersebut lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya dia berpuasa karena puasa adalah benteng baginya” (HR. Al-Bukhary dan Muslim)

Catatan Kaki

  1. Kamus Arab-Indonesia, Prof DR. Mahmud Yunus, PT HidaKarya Agung Jakarta, hlm. 118 

  2. Sumber: Kamus Arab-Indonesia, Prof DR. Mahmud Yunus, PT HidaKarya Agung Jakarta, hlm. 117