Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Ya’juj dan Ma’juj

Pengertian

Allah Ta’ala menyebutkan kata Ya’juuj dan Ma’juuj secara langsung sebanyak dua kali di dalam Alquran-ul-karim, yaitu QS Al-Kahfi (18): 95 dan QS Al-Anbiyaa (21): 97 [1]. Kata Ya’juj dan Ma’juj berasal dari bahasa arab, seperti yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as),

“Kata Ya’juuj dan Ma’juuj berasal dari akar kata ajij, yang berarti orang yang ahli dalam menggunakan api” [2]

Dalam kamus Al-Ma’aany tertulis,

أَجِج : مفرد المذكر لصيغة مبالغة على وزن فَعِل (أَجِج) في حال يكون مرفوعا أو منصوبا أو مجرورا والمشتق من الفعل (أَجَّ) والذي جذره (ءجج)

Akar kata ajij (أَجِج) mempunyai turunan kata kerja ajja (أَجَّ)

أَجَّ أَجَجْتُ - يَؤُجّ - اؤجُج / أُجَّ - أَجًّا وأَجيجًا - فهو أجوج

Arti dari kata ajja diantaranya: (Api) berkobar, menyalakan, membakar, menggelorakan.

Ya’juj dan Ma’juj adalah dua (golongan) manusia yang telah disebutkan dalam kitab suci terdahulu. Alasan mengapa mereka disebut demikian adalah karena mereka mengembangkan penggunaan Ajij [api] dan akan menguasai secara unggul di muka bumi dan mendominasi setiap keunggulan. Pada saat yang sama, perubahan besar akan ditetapkan dari langit dan akan mengantarkan hari-hari damai dan bersahabat. [3] [4]

Nubuwwatan Alquran

Dalam satu ayat Allah Ta’ala menceritakan perumpamaan tentang dua orang laki-laki,

وَاضۡرِبۡ لَہُمۡ مَّثَلًا رَّجُلَیۡنِ جَعَلۡنَا لِاَحَدِہِمَا جَنَّتَیۡنِ مِنۡ اَعۡنٰبٍ وَّحَفَفۡنٰہُمَا بِنَخۡلٍ وَّجَعَلۡنَا بَیۡنَہُمَا زَرۡعًا

“Dan berikanlah kepada mereka perumpamaan dua orang laki-laki, kepada salah seorang dari keduanya Kami berikan dua bidang kebun anggur, dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma, dan di antara keduanya itu Kami jadikan pula ladang.” (QS Al-Kahfi [18]: 33 dengan basmallah).

Dari ayat ini diuraikan keadaan mengenai dua golongan, ialah umat Kristen dan umat Islam. Kemudian dikemukakan tamsil berikutnya,

فَعَسٰی رَبِّیۡۤ اَنۡ یُّؤۡتِیَنِ خَیۡرًا مِّنۡ جَنَّتِکَ وَیُرۡسِلَ عَلَیۡہَا حُسۡبَانًا مِّنَ السَّمَآءِ فَتُصۡبِحَ صَعِیۡدًا زَلَقًا

Maka boleh jadi Tuhan-ku akan menganugerahkan kepadaku sesuatu yang lebih baik daripada kebun engkau dan mengirimkan kepada kebun engkau petir dari langit sehingga menjadi dataran yang licin. (QS Al-Kahfi [18]: 41 dengan basmallah)

Tafsir: Kata-kata “dari langit” menunjukkan, bahwa tidak akan ada kekuatan dan kekuasaan dunia yang akan sanggup melawan dan menahan secara efektif kekuatan militer bangsa-bangsa Kristen barat itu. Tuhan sendiri akan menciptakan keadaan-keadaan yang akan mendatangkan kehancuran mereka. Kekuatan bangsa-bangsa Ya’jūj dan Ma’jūj yang tak terbendung itu, yang melukiskan kejayaan di bidang kebendaan agama Kristen itulah, yang disinggung oleh Rasulullah Saw ketika menurut riwayat beliau bersabda, “tidak akan ada yang akan mampu melawan mereka.” (Muslim, bab mengenai ‘Dajjal’).

Kemudian di ayat yang lain dijelaskan,

وَیَوۡمَ نُسَیِّرُ الۡجِبَالَ وَتَرَی الۡاَرۡضَ بَارِزَۃً وَّحَشَرۡنٰہُمۡ فَلَمۡ نُغَادِرۡ مِنۡہُمۡ اَحَدًا

Dan ingatlah pada hari, ketika Kami akan memperjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bangsa-bangsa di bumi akan bergerak maju berhadapan satu sama lain untuk berperang; dan akan Kami himpun mereka semuanya, maka tiadalah seorang pun yang Kami tinggalkan di antara mereka. (QS Al-Kahfi [18]: 48 dengan basmallah)

Tafsir: Oleh karena Jibāl (gunung-gunung) berarti pula pembesar-pembesar (Lane), maka ayat ini dapat berarti, bahwa nubuatan mengenai kehancuran mutlak kekuatan-kekuatan kejahatan – Ya’jūj dan Ma’jūj – yang telah disebut dalam beberapa ayat mendahuluinya akan terpenuhi, bila menurut kata-kata Bibel,

“bangsa akan berbangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan; maka akan jadi bala kelaparan dan gempa bumi sini-sana.” (Matius 24: 7) [5].

Ungkapan Hasyarnā-hum, berarti bahwa mereka akan dihimpunkan di medan perang, saling berhadapan dan akan bertarung mati-matian.

Kemudian diceritakan juga mengenai tamsil Nabi Musa (as),

وَاِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِفَتٰٮہُ لَاۤ اَبۡرَحُ حَتّٰۤی اَبۡلُغَ مَجۡمَعَ الۡبَحۡرَیۡنِ اَوۡ اَمۡضِیَ حُقُبًا

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada teman mudanya. “Aku tidak akan berhenti menempuh perjalanan ini sebelum aku sampai ke tempat pertemuan dua lautan, meskipun aku harus berkelana berabad-abad lamanya. (QS Al-Kahfi [18]: 61 dengan basmallah)

Tafsir: Mulai dengan ayat ini masalah isra’ Nabi Musa As dibahas: Seperti telah dikemukakan di atas, para pengikut Nabi Isa As mencapai kekuasaan dan kesejahteraan duniawi yang besar; dan dalam perjalanan mereka yang senantiasa berubah-ubah itu telah dua kali meninggalkan jejak yang tidak dapat dihapuskan dari sejarah dunia. Masa kesejahteraan yang dua kali dialami bangsa-bangsa Kristen itu diumpamakan dalam ayat 33 sebagai “dua kebun.” Masa yang pertama mulai dengan masuknya Kaisar Roma Konstantin ke agama Kristen, tatkala agama Kristen menjadi agama negara, dan keadaan demikian tetap bertahan hingga lahirnya Rasulullah Saw. Masa yang kedua dan yang lebih penting di antara kedua masa ini telah dijelmakan di jaman ini, ketika bangsa-bangsa Kristen dari barat telah memperoleh kekuasaan dan kehormatan begitu besar. sehingga bangsa-bngsa di Asia dan Afrika harus melayani mereka seperti khadim-khadim dan budak-budak sahaya. Di tengah-tengah dua kebun itu mengalir suatu “sungai” (ayat 34). “Sungai” itu menandakan lahirnya dan naiknya ke jenjang kekuasaan agama Islam, yang meninggalkan bekas amat mendalam pada sejarah manusia, di tengah masa peralihan antara kedua kurun jaman tersebut.

Untuk memberikan latar belakang sejarah bagi uraian ini, dan untuk membuatnya nampak seperti suatu keseluruhan yang bersambungan, penjelasan agak terperinci tentang isra Nabi Musa As telah diberikan dalam ayat ini dan beberapa ayat yang berikutnya. Nabi Musa As telah menubuatkan kedatangan seorang nabi yang serupa dengan beliau (Ulangan 18: 18). Nubuatan ini telah disinggung pula dalam Al-Qur’an pada QS.73: 16. Dengan meletakkan uraian mengenai perjalanan rohani Nabi Musa As di tengah-tengah uraian mengenai penghuni-penghuni gua dan Ya’jūj-Ma’jūj – yang melukiskan dua jaman, ialah jaman permulaan agama Kristen dan kemajuannya di jaman kemudian – AlQur’an telah menunjuk kepada kenyataan, bahwa nabi yang dijanjikan dalam nubuatan Nabi Musa As, yang harus pula berlaku sebagai matsil (serupa dengan) beliau, akan muncul di tengah-tengah dua kurun jaman itu. Dengan demikian kejadian-kejadian tersebut telah diuraikan menurut urutannya dalam sejarah.

Dalam kaitannya dengan Zulkarnain, Allah Ta’ala berfirman,

وَیَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنۡ ذِی الۡقَرۡنَیۡنِ ۖ قُلۡ سَاَتۡلُوۡا عَلَیۡکُمۡ مِّنۡہُ ذِکۡرًا

Dan mereka menanyakan pula kepada engkau mengenai Zulqarnain. Katakanlah, “Aku akan segera bacakan kepadamu kisah mengenainya.” (QS Al-Kahfi [18]: 84 dengan basmallah)

Tafsir: Sebelum lebih lanjut mengetahui dan menetapkan siapa Zulqarnain itu, kiranya penting untuk mengemukakan alasan-alasan, apa gerangan yang menjadi sebab riwayat itu mendapat sebutan yang begitu menonjol dalam surah ini. Sebelumnya dalam surah ini telah disinggung dengan sangat jelas dan tegas mengenai dua masa kemajuan besar dalam bidang kebendaan bangsa-bangsa Kristen dari barat itu. Ayat-ayat pembukaannya berisikan uraian agak terperinci mengenai penghuni-penghuni gua. Sesudah menceritakan penindasan yang dialami penghuni-penghuni gua di masa permulaan, dan kemajuan duniawi serta kesejahteraan yang belakangan dicapai oleh penerus-penerus mereka, yaitu bangsa-bangsa Kristen dari Barat, lalu telah dipaparkan secara agak terinci tentang isra’ Nabi Musa As, yang melukiskan kebangkitan Rasulullah Saw. Dipaparkannya itu untuk menunjukkan, bahwa dengan munculnya Rasulullah Saw, masa pertama kesejahteraan dan kemajuan duniawi orang-orang Kristen

akan berakhir. Dan sekalipun bagi mereka masih akan ada kemungkinan untuk mencapai sedikit kemajuan, tetapi mereka akan mencapai puncak kejayaan dan kebesaran duniawi mereka untuk kedua kali itu lama sesudah kebangkitan beliau. Masa kedua kejayaan, kebesaran, dan kemegahan duniawi orang-orang Kristen telah dilukiskan dalam kitab-kitab suci sebagai bangkitnya Ya’jūj-Ma’jūj yang memperoleh kekuasaan luar biasa, hal itu, merupakan masalah inti dalam surah ini. Oleh karena secara politis, Ya’jūj-Ma’jūj dan Zulqarnain bertalian erat antara satu sama lain, sebagaimana akan nampak dari uraian berikutnya maka riwayat Zulqarnain pun telah diuraikan dengan agak mendalam dalam surah ini. Rupa-rupanya Zulqarnain adalah raja yang mendirikan kemaharajaan Media-Persia yang dilukiskan sebagai dua tanduk domba jantan dalam mimpi Nabi Daniel As yang termashur itu. Bunyinya adalah:

“Maka kulihat domba jantan itu menanduk ke barat dan ke utara dan ke selatan, maka seekor binatang pun tiada dapat melawan dia dan seorang pun tiada dapat melepaskan dari kuasanya, dan dibuatnya barang kehendaknya dan diadakannya perkara besar-besar” (Daniel 8: 4, 20, 21).

Sesuai sekali dengan bagian mimpi Daniel ini, Al-Qur’an menyebut tiga perjalanan Zulqarnain (ayat-ayat 87, 91, 94). Kenyataan ini memberikan dukungan kuat kepada kesimpulan, bahwa, Zulqarnain merupakan julukan bagi seorang raja dari Media dan Persia. Dari semua raja Media dan Persia, lukisan yang diberikan dalam Al-Qur’an, sangat mengena sekali kepada Sirus. AlQur’an telah menyebut empat tanda yang kentara sekali mengenai Zulqarnain:

Allah Ta’ala secara langsung menjelaskan mengenai Ya’juj dan Ma’juj,

قَالُوۡا یٰذَا الۡقَرۡنَیۡنِ اِنَّ یَاۡجُوۡجَ وَمَاۡجُوۡجَ مُفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَہَلۡ نَجۡعَلُ لَکَ خَرۡجًا عَلٰۤی اَنۡ تَجۡعَلَ بَیۡنَنَا وَبَیۡنَہُمۡ سَدًّا

Mereka berkata, “Ya Zulkarnain! Sesungguhnya Yajuj dan Majuj membuat kekacauan di bumi; maka bolehkah kami membayar upeti kepadamu dengan syarat engkau membuat sebuah penghalang di antara kami dengan mereka?” (QS Al-Kahfi [18]: 95 dengan basmallah)

Tafsir: Kata-kata Ya’jūj dan Ma’jūj kedua-duanya berasal dari akar kata Ajja yang berarti, ia cepat langkahnya; ia atau sesuatu itu menjadi api yang menyala-nyala (Lane). Ya’jūj dan Ma’jūj itu merujuk kepada bangsa Scythia sebelah timur yang terjauh. Atau, seperti dikatakan oleh beberapa pakar, semua bangsa yang mendiami bagian utara Asia dan Eropa (Enc. Brit. dan Jewish Enc., pada kata “Gog” dan “Magog”; dan Historians’ History of the World, jilid 2 hlm. 582 dan Yehezkiel. 38: 2–6 & 39: 6). Kata-kata ini dapat pula dikenakan kepada bangsa-bangsa Kristen dari Barat oleh karena mereka sangat gemar memakai api yang menyala-nyala dan air yang mendidih, dan disebabkan semua kemajuan kebendaan dan penemuan-penemuan serta ciptaan-ciptaan mereka itu merupakan akibat penggunaan barang-barang tersebut dengan tepat dan sangat luas. Atau kata-kata itu dapat merujuk kepada gerak-gerik bangsa-bangsa itu yang gelisah resah oleh sebab mereka senantiasa mencari-cari kesempatan dengan tidak mengenal lelah dan dengan tidak sabar mengadakan penaklukan-penaklukan baru

Gambaran Ya’jūj-Ma’jūj seperti yang diberikan dalam Bibel, tidak meragukan lagi sedikit pun, cocok dengan beberapa kerajaan Kristen dari Barat: pertama, karena mereka disebut sangat banyak, gagah-perkasa dan berkuasa:

“Maka pada masa itu engkau akan datang naik seperti guruh yang membinasakan dan seperti awan-awan yang menudungi muka tanah, engkau dengan segala bala tentaramu dan beberapa bangsa sertamu” (Yehezkiel 38: 9)…

“Seperti Ya’jūj dan Ma’jūj, supaya menghimpun mereka itu akan berpegang, yang banyaknya mereka itu seperti pasir di pantai laut” (Wahyu 20: 8).

“Daging orang pahlawan akan kamu makan dan darah orang besar di dunia akan kamu minum; domba jantan dan anak kambing dan kambing jantan dan lembu muda, semuanya binatang tambun-tambun dari Bazan! Kamu akan makan lemaknya sampai kenyang dan minum darah sampai mabuk daripada sembelihan, yang telah kusembelih bagi kamu” (Yehezkiel 39: 18, 19).

Kedua, mereka digambarkan sebagai datang dari bagian-bagian bumi sebelah utara dan dari pulau-pulau:

“bahkan, engkau akan datang dari tempatmu, dari sebelah utara sekali, baik engkau, baik beberapa bangsa pun sertamu… (Yehezkiel 38: 15).

Ketiga, mereka akan tersebar di seluruh dunia:

“Maka mereka itu pun naiklah ke tanah yang luas,….” (Wahyu 20: 9).

Keempat, dari kediaman mereka di utara, mereka akan hijrah ke negeri-negeri lain dan menetap di seluruh penjuru dunia, dan di masa peperangan mereka akan datang berkumpul dari jajahan-jajahan mereka yang jauh-jauh:

“Apabila genap seribu tahun itu, maka iblis pun akan dilepaskan pula dari dalam belenggunya, lalu keluar hendak menyesatkan segala bangsa yang ada di dalam empat penjuru alam, seperti Ya’jūj-Ma’jūj, supaya menghimpun mereka itu akan berperang, maka banyaknya mereka itu seperti pasir di pantai laut.” (Wahyu 2: 7-8).

Kitab Yehezkiel menyebut Ya’jūj “sebagai raja Rus, Mesekh dan Tubal,” jelas kata Rus di sini menunjuk kepada Rusia, Mesekh kepada Moskwa, Tubal kepada Tobolsk. Ya’jūj disebut juga sebagian dari tanah Ma’jūj (Yehezkiel 38: 2), dan Ma’jūj menurut para ahli tafsir Bibel merupakan daerah-daerah yang pada jaman purba disebut dengan nama Scythia (termasuk Rusia dan Tartar), yang dari sana pada masa yang lampau telah datang banyak gerombolan manusia liar dan biadab. Oleh sebab Rusia, termasuk dalam daerah Ma’jūj , maka Rus, Meskh, dan Tubal dapat dianggap sebaga ganti Rusia, Moskwa dan Tobolsk. Ma’jūj telah disebutkan pula sebagai nama suatu kaum dalam Yehezkial 39: 6 dan dalam Wahyu 20: 8. Dalam Yehezkiel Ma’jūj telah disebutkan bersama-sama dengan mereka “yang duduk di tepi laut itu dengan sentausanya.”

Menurut kutipan-kutipan tersebut, Ya’jūj dan Ma’jūj menggambarkan beberapa kekuatan besar di Eropa, termasuk Rusia. Dalam Al-Qur’an (QS.18: 95) mereka telah disebut mengadakan serangan-serangan terhadap daerah-daerah yang terletak di perbatasan utara Iran, yang menunjukkan bahwa mereka itu dari suku-suku yang pada umumnya dikenal sebagai bangsa Scythia. Sudah merupakan kenyataan sejarah yang cukup diketahui, bahwa di jaman purba bangsa Scythia terus-menerus bergerak dari Asia ke Eropa dalam rombongan-rombongan yang besar; sedang jalan mereka terletak di sebelah utara pegunungan Kaukasus (Enc Brit. jilid 12, hlm. 263. Edisi 14). Bila gelombang pertama telah menetap di Eropa gelombang-gelombang baru menyusul terus dari timur dan mendesak gelombang-gelombang yang mendahuluinya ke arah lebih barat lagi. Jadi bangsa-bangsa Eropa secara sah telah disebut Ya’jūj dan Ma’jūj dalam nubuatan Bibel. Anehnya kisah dua pahlawan, bernama Ya’jūj dan Ma’jūj , masih tersimpan di Guild Hall (di London) berupa dua patung. Lagi pula, nampak dari kitab Yehezkiel dan Wahyu, bahwa Ya’jūj dan Ma’jūj itu akan muncul di akhir jaman, yaitu di masa menjelang kebangkitan Nabi Isa Al-Masih As untuk kedua kalinya, “dan engkau pun akan mendatang umatku Israil hendak menudungi muka tanah seperti awan-awan” (Yehezkiel 38: 16. Lihat pula Wahyu 20: 7–10). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa nubuatan ini menunjuk kepada suatu kaum yang akan muncul pada masa mendatang yang jauh. Jaman yang ditakdirkan akan munculnya Ya’jūj dan Ma’jūj itu ditandai oleh peperangan-peperangan, gempa bumi, wabah, dan malapetaka yang mengerikan (Lihat pula Edisi Besar Tafsir dalam bahasa Inggris hlm. 1718 – 1720).

Suku bangsa Scythia, yaitu Ya’jūj dan Ma’jūj , menguasai daerah-daerah di sebelah utara dan timur laut Laut Hitam; dan mereka datang dari daerah-daerah itu melalui lembah Darband dan menjarah dan menaklukkan serta memerintah orang-orang Persia. Sirus mengalahkan mereka dan melepaskan orang-orang Persia dari cengkeraman mereka (Historians’ History of the World). Persis di tempat itu, yang menurut Herodotus ada lembah, dan melalui itu bangsa-bangsa Scythia mengadakan serbuan-serbuan terhadap negeri Persia, terdapat sebuah dinding, ialah dinding Darband yang tersohor itu.

Derbent atau Darband adalah sebuah kota di Persia, Kaukasia, di Propinsi Deghestan, di sebelah barat pantai Laut Kaspia… Dan di selatan terletak tanahujung dinding Kaukasus menjorok ke laut, panjangnya 50 mil, yang dinamakan juga dinding Iskandar, menutup lembah sempit Iron Gate (Pintu Besi) atau Caspian Gate (Pintu Gerbang Kaspia). Dinding ini, ketika masih utuh, tingginya 29 kaki dan tebalnya kurang lebih 10 kaki dengan pintu-pintu besinya dan sejumlah besar menara-menara penjagaan, membentuk pertahanan yang kuat di perbatasan Persia.” (Enc. Brit. pada kata “Derbent”).

Bertentangan dengan kenyataan-kenyataan sejarah yang telah terbukti kebenarannya, pada umumnya dianggap, bahwa dinding itu telah dibangun oleh Iskandar Agung. Tetapi gerakan-gerakan militer Iskandar itu tak ubahnya seperti angin puyuh yang ada ketika itu, ia tidak akan sempat mengurus rencana luas apa pun seperti mendirikan dinding yang begitu besar.

Demikian pula wafatnya dalam usia yang begitu muda tidak memberi kepadanya waktu yang cukup untuk menghadapi suatu rencana yang begitu besar. Rupanya anggapan itu telah timbul dari kenyataan, bahwa ahli tafsir Al-Qur’an dari kalangan Kaum Muslimin mempunyai anggapan yang salah, bahwa Zulkarnain itu Iskandar. Bukti-bukti dari kenyataan berikut menunjukkan, bahwa Sirus-lah yang mendirikan dinding itu :

Untuk mematahkan kekuatan bangsa Scythia, Darius, yang menaiki takhta kerajaan sesudah wafat putra Sirus, dengan melalui Yunani menyerang bangsa Scythia itu dari jurusan Eropa. Tidak masuk akal, bahwa ia menempuh perjalanan yang begitu jauh lagi sukar dan mengambil jalan keliling, untuk menyerang kaum itu melalui Eropa Tengah, padahal mereka tinggal sangat dekat kepadanya di sebelah utara. Kesimpulan yang tak dapat dielakkan ialah, bahwa memang ada suatu dinding yang sangat besar, yang hanya mungkin didirikan oleh Sirus sebelum jaman Darius. Seandainya dinding yang menghalangi musuh tidak ada, maka hal itu tidak memungkinkan Darius dengan pasukan yang besar pergi ke sebelah lain dengan mengambil jalan memutar, sambil meninggalkan negeri sendiri terbuka terhadap serangan-serangan musuh dari utara.

(a) Sebelum masa Sirus, bangsa Scythia mengadakan penyerbuan-penyerbuan terus-menerus dengan tiada henti-hentinya terhadap Persia, tetapi sesudah diadakannya penaklukan-penaklukan, penyerbuan-penyerbuan itu terhenti sama sekali. Kenyataan ini membawa kepada kesimpulan yang sangat mungkin, ialah bahwa niscaya Sirus-lah yang telah mendirikan penghalang, yang berhasil menghentikan serangan-serangan itu; dan penghalang itu tentunya Dinding Darband yang tersohor itu, yang dengan keliru dikenal sebagai Dinding Iskandar [6].

Dalam ayat lain dijelaskan,

فَمَا اسۡطٰعُوۡۤا اَنۡ یَّظۡہَرُوۡہُ وَمَا اسۡتَطٰعُوۡا لَہٗ نَقۡبًا

Maka mereka, Yajuj dan Majuj tidak dapat memanjatnya dan tidak dapat melubanginya. (QS Al-Kahfi [18]: 98 dengan basmallah)

Tafsir: Setelah pembuatan dinding itu selesai, maka berhentilah serangan-serangan Ya’jūj dan Ma’jūj dari utara. Dinding itu terlalu tebal untuk dipecahkan dan ditembus, dan terlalu tinggi untuk dipanjat. Dinding itu tingginya 29 kaki dan lebarnya 10 kaki (Enc. Brit.) dan mempunyai pintu-pintu besi dan menara-menara penjagaan. Dinding itu merupakan penjaga batas Persia yang paling ampuh.

Dalam ayat berikutnya dijelaskan,

قَالَ ہٰذَا رَحۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّیۡ ۖ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّیۡ جَعَلَہٗ دَکَّآءَ ۖ وَکَانَ وَعۡدُ رَبِّیۡ حَقًّا

Ia berkata, “Ini adalah rahmat dari Tuhan-ku. Tetapi apabila janji Tuhan-ku telah tiba, Dia akan menghancurkannya berkeping-keping. Dan janji Tuhan-ku itu pasti benar.” (QS Al-Kahfi [18]: 99 dengan basmallah)

Tafsir: Sirus tentunya telah diberitahu melalui ilham, bahwa pada suatu ketika di masa depan Ya’jūj dan Ma’jūj akan sekali lagi tersebar ke tenggara, dan dinding itu akan mampu menahan atau menghentikan gerak maju mereka. Rupanya inilah arti dari kata-kata “dia akan menghancurkannya.” Dalam QS.21: 97 kita diberitahu, bahwa Ya’jūj dan Ma’jūj akan menjulurkan tangan-tangan guritanya ke seluruh dunia. Secara kiasan, “memecahkan dinding” dapat pula menunjuk kepada merosotnya kekuatan politik Islam, terutama kekuatan bangsa Turki di Eropa. Dengan menjadi lemahnya Turki, maka jalan bangsa-bangsa Kristen di Eropa untuk menaklukkan daerah timur menjadi terbuka.

Tambahan: Jaman ketika Ya’juj dan Ma’juj akan keluar itu, semua tembok tidak akan bermanfaat sedikit pun. Kemenangan Ya’juj Ma’juj di seluruh dunia diterangkan laksana gelombang lautan yang tak henti-hentinya menerjang. Awal kemenangan mereka dimulai dari hasil kemenangan di lautan.

Dalam ayat selanjunya dijelaskan,

وَتَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ ۖ وَّنُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا

Dan Kami akan membiarkan sebagian mereka pada hari itu menyerang sebagian yang lain; dan nafiri akan ditiup. Lalu akan Kami himpun mereka itu semuanya. (QS Al-Kahfi [18]: 100 dengan basmallah)

Tafsir: Pada waktu menanjaknya Ya’jūj dan Ma’jūj ke tangga kekuasaan, bangsa-bangsa di seluruh dunia akan berhimpun, sehingga seluruh dunia akan menjadi seperti satu negeri. Dan menurut Bibel, bangsa akan melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan; serta kedengkian, kebencian, dan kejahatan akan merajalela. Isyarat itu nampaknya ditujukan kepada jaman ini. Dalam perang dunia yang lampau seolah-olah mereka telah dilepaskan di dunia; dan manusia gemetar bila mengkhayalkan kebinasaan yang dapat diakibatkan oleh Perang Dunia Ketiga. Menurut Yehezkiel (Pasal 38 dan 39) Uni Soviet itu Ya’jūj dan bangsa-bangsa barat itu Ma’jūj . Di masa sekarang pun mereka sedang bersiap-siap untuk perang Armagedon.

Dalam ayat berikutnya dijelaskan,

وَعَرَضۡنَا جَہَنَّمَ یَوۡمَئِذٍ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ عَرۡضًا

Dan pada hari itu Kami tampakkan neraka Jahanam, berhadapan muka dengan orang-orang kafir, (QS Al-Kahfi [18]: 101 dengan basmallah)

Tafsir: Untuk pembahasan hukuman Tuhan yang amat mengerikan dan membinasakan yang akan turun kepada Ya’jūj dan Ma’jūj itu lihat Surah Ar-Rahman.

Kemudian, Di akhir surat Al-Kahfi, Allah Ta’ala dalam ayat lain berfirman,

قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثۡلُکُمۡ یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰہُکُمۡ اِلٰہٌ وّٰحِدٌ ۖ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صٰلِحًا وَّلَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًۢا

Katakanlah, “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, tetapi telah diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan-mu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka barangsiapa mengharap akan bertemu dengan Tuhan-nya hendaklah ia beramal saleh dan janganlah ia mempersekutukan siapa pun juga dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Al-Kahfi [18]: 111 dengan basmallah)

Tafsir: Rasulullah Saw diriwayatkan telah bersabda bahwa pembaca sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir surah ini menjamin keselamatan seseorang terhadap serangan-serangan rohani dari Dajjal. Hal itu menunjukan bahwa Dajjal dan Ya’jūj-Ma’jūj adalah bangsa yang sama, yaitu bangsa-bangsa Kristen dari Barat; kata Dajjal menggambarkan propaganda keagamaan mereka yang membawa kemudaratan kepada Islam, sedang Ya’jūj-Ma’jūj menggambarkan kekuatan dan kekuasaan mereka di bidang kebendaan dan politik.

Dalam Surat Al-Anbiyaa, Allah Ta’ala berfirman mengenai Ya’juj dan Ma’juj,

حَتّٰۤی اِذَا فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَمَاۡجُوۡجُ وَہُمۡ مِّنۡ کُلِّ حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ

Demikian akan terjadi hingga ketika Yajuj dan Majuj dilepaskan dan mereka akan datang menyerbu dari setiap ketinggian. (QS Al-Anbiya [21] ayat 97 dengan basmallah)

Tafsir: Jika dibaca bersama dengan ayat yang mendahuluinya, maka maksud ayat ini ialah, bahwa hukum alam bekerja demikian rupa, sehingga sekali bila suatu hukum – sesudah mencapai puncak kejayaan dan kemuliaannya – mengalami kebinasaan dan kehancuran, mereka tidak mendapatkan kembali kejayaan mereka yang hilang itu. Ya’jūj-Ma’jūj pun dengan kejayaan dan kemuliaan besar dalam kebendaan tidak dapat mengelakkan diri dari hukum alam. Mereka akan jatuh dan tidak akan bangkit kembali untuk selama-lamanya. Ya’jūj-Ma’jūj atau bangsa-bangsa Kristen Barat telah mencapai segala puncak kekuasaan politik dan telah menyebar ke seluruh dunia. Ungkapan Al-Qur’an berarti, bahwa mereka akan menempati setiap ujung yang membawa keuntungan dan akan menguasai seluruh dunia.

Dalam ayat berikutnya, Allah Ta’ala berfirman,

وَاقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شٰخِصَۃٌ اَبۡصٰرُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ

Sudah dekat janji yang benar; maka sekonyong-konyong akan terbelalak mata orang-orang yang telah ingkar, mereka akan berseru, “Aduhai, celakalah kami! Kami sungguh dalam kelalaian mengenai ini; bahkan, kami orang yang aniaya!” (QS Al-Anbiya [21] ayat 98 dengan basmallah)

Tafsir: Kekuasaan Ya’jūj dan Ma’jūj akan diikuti oleh peristiwa-peristiwa yang membawa bencana di dunia, yang akhirnya akan menyebabkan kejayaan dan kemenangan Islam (QS.61: 10) dan menjadi sebab kekuatan-kekuatan kepalsuan dan kebendaan yang menjelma dalam wujud Ya’jūj dan Ma’jūj itu musnah.

Bila sesudah kehancuran Ya’jūj-Ma’jūj secara mutlak, Islam akan memperoleh kembali kejayaan dan kemuliaannya seperti sediakala, mereka yang telah berputus-asa mengenai kebangkitan kembali, mata kepala mereka sendiri hampir-hampir tidak dapat mempercayainya.

Di akhir surat Al-Anbiyaa, Allah Ta’ala berfirman,

قٰلَ رَبِّ احۡکُمۡ بِالۡحَقِّ ۗ وَرَبُّنَا الرَّحۡمٰنُ الۡمُسۡتَعَانُ عَلٰی مَا تَصِفُوۡنَ

Dan Rasulullah berdoa, “Wahai Tuhan-ku! Hakimilah dengan kebenaran, Tuhan Kami adalah Tuhan Yang Maha Pemurah, yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan.” (QS Al-Anbiya [21] ayat 113 dengan basmallah)

Tafsir: Rasulullah (saw) diperintahkan untuk memanjatkan doa yang tersebut dalam ayat ini sebagai perlindungan terhadap kekuatan-kekuatan buruk yang akan dilepaskan ke dunia di akhir zaman dalam bentuk Ya’jūj dan Ma’jūj. Ternyata dari Bibel, bahwa di masa Ya’jūj dan Ma’jūj, kekuatan fisik tidak akan merupakan satu-satunya bahaya bagi Islam. Ada faktor-faktor lain yang akan merupakan sumber bahaya yang jauh lebih besar bagi Islam. Boleh jadi juga dalam ayat ini Rasulullah Saw dilukiskan berdoa, supaya masa pendudukan Palestina oleh orang-orang Yahudi menjadi sependek mungkin; dan tanah itu dapat kembali kepada pewaris-pewarisnya yang sah, ialah orang-orang Islam.

Penjelasan Ya’juj dan Ma’juj dalam Hadits

Diriwayatkan,

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمًا فَزِعًا يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَحَلَّقَ بِإِصْبَعَيْهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخُبْثُ

…dari Zainab binti Jahsy, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam suatu hari menemuinya dengan gusar seraya mengatakan: “Celaka bangsa arab dari keburukan yang telah dekat, hari ini telah dibuka benteng ya’juj dan Ma’juj seperti ini, “seraya beliau melingkarkan kedua jarinya, telunjuk dan jempol. Zainab binti Jahsy mengatakan, maka aku bertanya; ‘Apakah kita akan juga dibinasakan padahal ditengah-tengah kami masih ada orang-orang shalih? ‘ Nabi menjawab: “Iya, jika kejahatan telah merajalela.” (H.R. Al-Bukhari) [7]

Diriwayatkan,

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ قَالَتْ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَوْمٍ مُحْمَرًّا وَجْهُهُ وَهُوَ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يُرَدِّدُهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَعَقَدَ عَشْرًا قَالَتْ زَيْنَبُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخُبْثُ

…dari Zainab binti Jahsy berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bangun tidur ‘Aisyah wajah memerah, beliau mengucapkan: LAA ILAAHA ILLALLAAH, beliau mengulanginya tiga kali, celakalah bagi bangsa arab karena keburukan yang telah mendekat, saat ini penghalang Ya’juj dan Ma’juj telah dibuka seperti ini -beliau memperagakan jarinya dengan membentuk angka sepuluh–. Berkata Zainab: Aku bertanya: Apakah kami akan binasa padahal di tengah-tengah kami ada orang-orang Shalih? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab: “Ya, bila kekejian kian banyak.” (H.R. At-Tirmidzi) [8]

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَتَحَ اللَّهُ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلَ هَذَا وَعَقَدَ بِيَدِهِ تِسْعِينَ

…dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah membuka benteng Ya’juj dan Ma’juj seperti ini”. Beliau mengilustrasikannya dengan tangan Beliau yang maksudnya sembilan puluh. (H.R. Bukhari) [9]

Diriwayatkan,

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَنَّهَا قَالَتْ اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَوْمِهِ وَهُوَ مُحْمَرٌّ وَجْهُهُ وَهُوَ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَعَقَدَ بِيَدَيْهِ عَشَرَةً قَالَتْ زَيْنَبُ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

…dari Zainab binti Jahsy bahwa dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, lalu beliau bersabda: “Laa ilaaha illallah, sungguh celaka bangsa Arab dari kehancuran yang akan segera tiba. Hari ini telah dibuka pintu keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.” Beliau mengepalkan kesepuluh jari tangannya.” Zainab berkata, “Aku bertanya, “Apakah kita akan celaka wahai Rasulullah, sedangkan di antara kita masih terdapat orang-orang shalih?” beliau menjawab: “Ya, apabila kekejian telah menyebar luas.” (H.R. Ibnu Majah) [10]

Diriwayatkan,

سَمِعَ النَّوَّاسَ بْنَ سَمْعَانَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيُوقِدُ الْمُسْلِمُونَ مِنْ قِسِيِّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَنُشَّابِهِمْ وَأَتْرِسَتِهِمْ سَبْعَ سِنِينَ

dia mendengar An Nawwas bin Sam’an berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kaum Muslimin akan menyalakan uang dirham Ya’juj dan Ma’juj serta anak panah dan perisai mereka selama tujuh tahun.” (H.R. Ibnu Majah) [11]

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُحَجَّنَّ الْبَيْتُ وَلَيُعْتَمَرَنَّ بَعْدَ خُرُوجِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ

…dari Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh pasti akan ada yang berhajji dan ‘umrah ke Baitulloh (Ka’bah) setelah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj”. (H.R. Bukhari) [12]

Diriwayatkan mengenai sepuluh tanda akhir zaman,

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ الْغِفَارِيِّ قَالَ كُنَّا قُعُودًا نَتَحَدَّثُ فِي ظِلِّ غُرْفَةٍ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا السَّاعَةَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ تَكُونَ أَوْ لَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُونَ قَبْلَهَا عَشْرُ آيَاتٍ طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَخُرُوجُ الدَّابَّةِ وَخُرُوجُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَالدَّجَّالُ وَعِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَالدُّخَانُ وَثَلَاثَةُ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ تَخْرُجُ نَارٌ مِنْ الْيَمَنِ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَسُوقُ النَّاسَ إِلَى الْمَحْشَرِ

…dari Hudzaifah bin Asid Al Ghifari ia berkata, “Kami duduk bersama di sisi kamar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil membicarakan seputar hari kiamat, suara kami sangat keras hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi, atau tidak akan datang hari kiamat hingga muncul sepuluh tanda;

  1. terbitnya matahari dari barat,
  2. munculnya Ad-daabbah,
  3. keluarnya Ya’juj dan Ma’juj,
  4. (keluarnya) Dajjal,
  5. (turunnya) Isa putera Maryam,
  6. Asap (Ad-Dukhoon)
  7. tiga gerhana: gerhana di barat,
  8. (gerhana di) timur
  9. dan (gerhana) di Jazirah Arab.
  10. tanda terakhir adalah keluarnya api dari Yaman, dari dasar tanah Adn yang akan menggiring manusia menuju mahsyar.” (H.R. Abu Dawud) [13]

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ يَحْفِرُونَ كُلَّ يَوْمٍ حَتَّى إِذَا كَادُوا يَرَوْنَ شُعَاعَ الشَّمْسِ قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ ارْجِعُوا فَسَنَحْفِرُهُ غَدًا فَيُعِيدُهُ اللَّهُ أَشَدَّ مَا كَانَ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ مُدَّتُهُمْ وَأَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَهُمْ عَلَى النَّاسِ حَفَرُوا حَتَّى إِذَا كَادُوا يَرَوْنَ شُعَاعَ الشَّمْسِ قَالَ الَّذِي عَلَيْهِمْ ارْجِعُوا فَسَتَحْفِرُونَهُ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى وَاسْتَثْنَوْا فَيَعُودُونَ إِلَيْهِ وَهُوَ كَهَيْئَتِهِ حِينَ تَرَكُوهُ فَيَحْفِرُونَهُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى النَّاسِ فَيُنْشِفُونَ الْمَاءَ وَيَتَحَصَّنُ النَّاسُ مِنْهُمْ فِي حُصُونِهِمْ فَيَرْمُونَ بِسِهَامِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ فَتَرْجِعُ عَلَيْهَا الدَّمُ الَّذِي اجْفَظَّ فَيَقُولُونَ قَهَرْنَا أَهْلَ الْأَرْضِ وَعَلَوْنَا أَهْلَ السَّمَاءِ فَيَبْعَثُ اللَّهُ نَغَفًا فِي أَقْفَائِهِمْ فَيَقْتُلُهُمْ بِهَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ دَوَابَّ الْأَرْضِ لَتَسْمَنُ وَتَشْكَرُ شَكَرًا مِنْ لُحُومِهِمْ

…dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj menggali lubang setiap harinya. Ketika mereka nyaris melihat cahaya matahari, maka yang mengusai mereka berseru, ‘Kembalilah, kita akan menggalinya esok hari.’ Maka Allah mengembalikannya melebihi dari yang sebelumnya. Dan ketika masa mereka telah sampai, dan Allah hendak mengirim mereka kepada manusia, maka mereka kembali menggali sampai ketika mereka nyaris melihat cahaya matahari, maka salah satu dari yang mengusai mereka berseru, ‘Kembalilah, kalian akan menggalinya esok hari, jika Allah mengizinkan.’ Maka mereka menunggu, lalu mereka kembali lagi ke tempat penggalian yang bentuknya masih seperti semula disaat mereka meninggalkannya. Maka mereka terus menggalinya dan akhirnya mereka dapat keluar kepada manusia. Lantas mereka menghirup air, dan manusia pun berlindung dari mereka di benteng-benteng. Lalu mereka melemparkan anak panah mereka ke langit, maka anak panah itu kembali dengan berlumuran darah. Maka mereka berkata, ‘Kami telah menundukkan penduduk bumi, dan kami juga telah menguasai penduduk langit.’ Setelah itu Allah mengutus sekelompok ulat di kepala mereka, lalu Allah membunuh mereka dengan binatang tersebut.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bintang-binatang bumi akan menjadi gemuk dan bersyukur berkat daging-daging mereka.” (H.R. Ibnu Majah) [14]

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ يَا آدَمُ فَيَقُولُ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ قَالَ يَقُولُ أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ قَالَ وَمَا بَعْثُ النَّارِ قَالَ مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ فَذَاكَ حِينَ يَشِيبُ الصَّغِيرُ { وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سَكْرَى وَمَا هُمْ بِسَكْرَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ } فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّنَا ذَلِكَ الرَّجُلُ قَالَ أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا وَمِنْكُمْ رَجُلٌ ثُمَّ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَطْمَعُ أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الْجَنَّةِ قَالَ فَحَمِدْنَا اللَّهَ وَكَبَّرْنَا ثُمَّ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَطْمَعُ أَنْ تَكُونُوا شَطْرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِنَّ مَثَلَكُمْ فِي الْأُمَمِ كَمَثَلِ الشَّعَرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الْأَسْوَدِ أَوْ الرَّقْمَةِ فِي ذِرَاعِ الْحِمَارِ

…dari Abu Sa’id mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman; ‘hai Adam’. ‘Baik dan aku penuhi panggilan-MU ya Allah, dan seluruh kebaikan di tangan-Mu,” Jawab Adam. Allah melanjutkan; ‘datangkan utusan-utusan neraka! ‘ Adam menjawab; ‘berapa utusan neraka?’ Tanya Adam. Allah menjawab; ‘Setiap seribu orang, datangkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang.’ Dan ketika itulah anak kecil menjadi beruban karenanya, sebagaimana ayat; ‘Dan setiap orang yang hamil melahirkan bayinya, dan kau lihat manusia mabuk padahal sejatinya mereka tidak mabuk, hanya karena siksa Allah sedemikian dahsyatnya’ [15].” Yang demikian menjadikan mereka gusar, sehingga para sahabat bertanya-tanya; ‘Wahai Rasulullah, siapa diantara kami yang termasuk dijebloskan ke neraka itu! ‘ Nabi menjawab; “Tenanglah kalian, sebab jika Ya’juj dan ma’juj dimasukkan neraka sebanyak seribu, dari kalian hanya satu.” Selanjutnya beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh aku berkeinginan sekiranya kalian menjadi sepertiga penghuni surga.” Kata Abu Said; lantas kami pun memuji Allah dan bertakbir, kemudian Nabi bersabda: “Demi dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh aku berharap jika kalian menjadi separoh penghuni surga, dan permisalan kalian dibandingkan umat lainnya hanyalah bagaikan sehelai rambut putih di kulit sapi hitam atau bagaikan belang hitam di lengan keledai.” (H.R. Bukhari) [16]

Diriwayatkan,

عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ قَالَ ذَكَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّجَّالَ ذَاتَ غَدَاةٍ فَخَفَّضَ فِيهِ وَرَفَّعَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ النَّخْلِ فَلَمَّا رُحْنَا إِلَيْهِ عَرَفَ ذَلِكَ فِينَا فَقَالَ مَا شَأْنُكُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ غَدَاةً فَخَفَّضْتَ فِيهِ وَرَفَّعْتَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ النَّخْلِ فَقَالَ غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِي عَلَيْكُمْ إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيكُمْ فَأَنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيجُ نَفْسِهِ وَاللَّهُ خَلِيفَتِي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ طَافِئَةٌ كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُورَةِ الْكَهْفِ إِنَّهُ خَارِجٌ خَلَّةً بَيْنَ الشَّأْمِ وَالْعِرَاقِ فَعَاثَ يَمِينًا وَعَاثَ شِمَالًا يَا عِبَادَ اللَّهِ فَاثْبُتُوا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا لَبْثُهُ فِي الْأَرْضِ قَالَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا يَوْمٌ كَسَنَةٍ وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَسَنَةٍ أَتَكْفِينَا فِيهِ صَلَاةُ يَوْمٍ قَالَ لَا اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا إِسْرَاعُهُ فِي الْأَرْضِ قَالَ كَالْغَيْثِ اسْتَدْبَرَتْهُ الرِّيحُ فَيَأْتِي عَلَى الْقَوْمِ فَيَدْعُوهُمْ فَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَجِيبُونَ لَهُ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ وَالْأَرْضَ فَتُنْبِتُ فَتَرُوحُ عَلَيْهِمْ سَارِحَتُهُمْ أَطْوَلَ مَا كَانَتْ ذُرًا وَأَسْبَغَهُ ضُرُوعًا وَأَمَدَّهُ خَوَاصِرَ ثُمَّ يَأْتِي الْقَوْمَ فَيَدْعُوهُمْ فَيَرُدُّونَ عَلَيْهِ قَوْلَهُ فَيَنْصَرِفُ عَنْهُمْ فَيُصْبِحُونَ مُمْحِلِينَ لَيْسَ بِأَيْدِيهِمْ شَيْءٌ مِنْ أَمْوَالِهِمْ وَيَمُرُّ بِالْخَرِبَةِ فَيَقُولُ لَهَا أَخْرِجِي كُنُوزَكِ فَتَتْبَعُهُ كُنُوزُهَا كَيَعَاسِيبِ النَّحْلِ ثُمَّ يَدْعُو رَجُلًا مُمْتَلِئًا شَبَابًا فَيَضْرِبُهُ بِالسَّيْفِ فَيَقْطَعُهُ جَزْلَتَيْنِ رَمْيَةَ الْغَرَضِ ثُمَّ يَدْعُوهُ فَيُقْبِلُ وَيَتَهَلَّلُ وَجْهُهُ يَضْحَكُ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِيَّ دِمَشْقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأْسَهُ قَطَرَ وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ فَلَا يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إِلَّا مَاتَ وَنَفَسُهُ يَنْتَهِي حَيْثُ يَنْتَهِي طَرْفُهُ فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يَأْتِي عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ قَوْمٌ قَدْ عَصَمَهُمْ اللَّهُ مِنْهُ فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَوْحَى اللَّهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لَا يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللَّهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمْ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ فَيُرْسِلُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى الْأَرْضِ فَلَا يَجِدُونَ فِي الْأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلَّا مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللَّهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللَّهِ فَيُرْسِلُ اللَّهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يُرْسِلُ اللَّهُ مَطَرًا لَا يَكُنُّ مِنْهُ بَيْتُ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ فَيَغْسِلُ الْأَرْضَ حَتَّى يَتْرُكَهَا كَالزَّلَفَةِ ثُمَّ يُقَالُ لِلْأَرْضِ أَنْبِتِي ثَمَرَتَكِ وَرُدِّي بَرَكَتَكِ فَيَوْمَئِذٍ تَأْكُلُ الْعِصَابَةُ مِنْ الرُّمَّانَةِ وَيَسْتَظِلُّونَ بِقِحْفِهَا وَيُبَارَكُ فِي الرِّسْلِ حَتَّى أَنَّ اللِّقْحَةَ مِنْ الْإِبِلِ لَتَكْفِي الْفِئَامَ مِنْ النَّاسِ وَاللِّقْحَةَ مِنْ الْبَقَرِ لَتَكْفِي الْقَبِيلَةَ مِنْ النَّاسِ وَاللِّقْحَةَ مِنْ الْغَنَمِ لَتَكْفِي الْفَخِذَ مِنْ النَّاسِ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السَّعْدِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ وَالْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ ابْنُ حُجْرٍ دَخَلَ حَدِيثُ أَحَدِهِمَا فِي حَدِيثِ الْآخَرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَ مَا ذَكَرْنَا وَزَادَ بَعْدَ قَوْلِهِ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ ثُمَّ يَسِيرُونَ حَتَّى يَنْتَهُوا إِلَى جَبَلِ الْخَمَرِ وَهُوَ جَبَلُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَيَقُولُونَ لَقَدْ قَتَلْنَا مَنْ فِي الْأَرْضِ هَلُمَّ فَلْنَقْتُلْ مَنْ فِي السَّمَاءِ فَيَرْمُونَ بِنُشَّابِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ فَيَرُدُّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ نُشَّابَهُمْ مَخْضُوبَةً دَمًا وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ حُجْرٍ فَإِنِّي قَدْ أَنْزَلْتُ عِبَادًا لِي لَا يَدَيْ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ

dari An Nawwas bin Sam’an berkata: Pada suatu pagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyebut Dajjal, beliau melirihkan suara dan mengeraskannya hingga kami mengiranya berada disekelompok pohon kurma. Kami pergi meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu kami kembali lagi, beliau mengetahui hal itu pada kami lalu beliau bertanya: “Kenapa kalian?” kami menjawab: wahai Rasulullah, Tuan menyebut Dajjal pada suatu pagi, Tuan melirihkan dan mengeraskan suara hingga kami mengiranya ada disekelompok pohon kurma, beliau bersabda: “Selain Dajjal yang lebih aku khawatirkan pada kalian, bila ia muncul dan aku berada ditengah-tengah kalian, aku akan mengalahkannya, bukan kalian dan bila ia muncul dan aku sudah tidak ada ditengah-tengah kalian, maka setiap orang adalah pembela dirinya sendiri dan Allah adalah penggantiku atas setiap muslim, ia adalah pemuda ikal, matanya menonjol, mirip ‘Abdu Al ‘Uzza bin Qathan. Siapa pun diantara kalian yang melihatnya hendaklah membaca permulaan surat Al Kahfi, ia muncul diantara Syam dan ‘Irak lalu banyak membuat kerusakan dikanan dan dikiri, wahai hamba-hamba Allah, teguhlah kalian.” Kami bertanya: Berapa lama ia tinggal di bumi? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab: “Empat puluh hari, satu hari seperti setahun, satu hari seperti sebulan, satu hari seperti satu pekan dan hari-hari lainnya seperti hari-hari kalian.” Kami bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Tuan tentang satu hari yang seperti satu tahun, cukupkah bagi kami shalat sehari? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak, tapi perkirakanlah ukurannya.” Kami bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di bumi? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab: Seperti hujan yang diakhiri angin. Ia mendatangi kaum dan menyeru mereka, mereka menerimanya, ia memerintahkan langit agar menurunkan hujan, langit lalu menurunkan hujan, ia memerintahkan bumi agar mengeluarkan tumbuh-tumbuhan, bumi lalu mengeluarkan tumbuh-tumbuhan lalu binatang ternak mereka pergi dengan punuk yang panjang, lambung yang lebar dan kantong susu yang berisi lalu kehancuran datang lalu ia berkata padanya: ‘Keluarkan harta simpananmu.’ Lalu harta simpanannya mengikutinya seperti lebah-lebah jantan. Kemudian ia memanggil seorang pemuda belia, ia menebasnya dengan pedang lalu memutusnya menjadi dua bagian lalu memanggilnya, ia datang memanggut-manggutkan wajahnya seraya tertawa, saat ia seperti itu, tiba-tiba ‘Isa putra Maryam turun di sebelah timur Damaskus di menara putih dengan mengenakan dua baju berwantek za’faran seraya meletakkan kedua tangannya diatas sayap dua malaikat, bila ia menundukkan kepala, air menetas dan bila ia mengangkat kepala keringat bercucuran seperti mutiara, tidaklah orang kafir mencium bau dirinya kecuali mati dan bau nafasnya sejauh matanya memandang. Isa mencari Dajjal hingga menemuinya di pintu Ludd lalu membunuhnya. Setelah itu Isa putra Maryam mendatangi suatu kaum yang dijaga oleh Allah dari Dajjal. Ia mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan tingkatan-tingkatan mereka disurga. Saat mereka seperti itu, Allah mewahyukan padanya: ‘Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hambaKu, tidak ada yang bisa memerangi mereka, karena itu giringlah hamba-hambaKu ke Thur. Allah mengirim Ya’juj dan Ma’juj, ‘Dari segala penjuru mereka datang dengan cepat.’ (Al Anbiyaa: 96) Lalu yang terdepan melintasi danau Thabari dan minum kemudian yang belakang melintasi, mereka berkata: ‘Tadi disini ada airnya.’ nabi Allah Isa dan para sahabatnya dikepung hingga kepala kerbau milik salah seorang dari mereka lebih baik dari seratus dinar milik salah seorang dari kalian saat ini, lalu nabi Allah Isa dan para sahabatnya menginginkan Allah mengirimkan cacing di leher mereka lalu mereka mati seperti matinya satu jiwa, lalu ‘Isa dan para sahabatnya datang, tidak ada satu sejengkal tempat pun melainkan telah dipenuhi oleh bangkai dan bau busuk darah mereka. Lalu Isa dan para sahabatnya berdoa kepada Allah lalu Allah mengirim burung seperti leher unta. Burung itu membawa mereka dan melemparkan mereka seperti yang dikehendaki Allah, lalu Allah mengirim hujan kepada mereka, tidak ada rumah dari bulu atau rumah dari tanah yang menghalangi turunnya hujan, hujan itu membasahi bumi hingga dan meninggalkan genangan dimana-mana. Allah memberkahi kesuburannya hingga hingga sekelompok manusia cukup dengan unta perahan, satu kabilah cukup dengan sapi perahan dan beberapa kerabat mencukupkan diri dengan kambing perahan. Saat mereka seperti itu, tiba-tiba Allah mengirim angin sepoi-sepoi lalu mencabut nyawa setiap orang mukmin dan muslim dibawah ketiak mereka, dan orang-orang yang tersisa adalah manusia-manusia buruk, mereka melakukan hubungan badan secara tenang-terangan seperti keledai kawin. Maka atas mereka itulah kiamat terjadi.” Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr As Sa’di telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Aburrahman bin Yazid bin Jabir dan Al Walid bin Muslim, berkata Ibnu Hujr: Hadits salah satunya membaur pada hadits yang lain. Dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir dengan sanad ini seperti yang telah kami sebutkan, tapi ia menambahkan setelah sabda beliau: “Tadi disini ada airnya, “ “Mereka berjalan hingga sampai gunung khamar, gunung Baitul Maqdis, mereka berkata: ‘Kita telah membunuh orang-orang yang ada di bumi, ayo kita bunuh yang ada di langit.’ Mereka pun melesakkan panah mereka ke langit lalu Allah membalikkan panah mereka bermerah darah.” Disebutkan dalam riwayat Ibnu Hujr: “Sesungguhnya Aku telah menurunkan hamba-hambaKu, tidak ada seorang pun yang bisa memerangi mereka.” (H.R. Muslim) [17]

Sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as)

Saya juga telah membuktikan bahwa penting bagi Hadhrat Masih Mau’ud muncul pada saat Yajuj dan Majuj. Karena Ajij, dimana kata Ya’juj dan Ma’juj berarti ‘api’, Tuhan Yang Maha Kuasa telah mengungkapkan kepadaku bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah orang-orang yang lebih ahli dalam menggunakan api daripada orang lain. Nama mereka sendiri menunjukkan bahwa kapal, kereta api, dan mesin mereka akan berjalan menggunakan (tenaga) api. Mereka akan berperang dengan api. Mereka akan mengungguli semua orang lain dalam memanfaatkan api untuk melayani mereka. Inilah mengapa mereka akan disebut Ya’juj dan Ma’juj. Mereka adalah orang-orang Barat karena mereka unik dalam keahlian mereka dalam menggunakan api. Dalam kitab suci Yahudi juga orang-orang Eropa yang digambarkan sebagai Ya’juj dan Ma’juj. Bahkan nama Moskow, yang merupakan ibu kota kuno Rusia, disebutkan (dalam kitab suci itu) [18]. Dengan demikian telah ditakdirkan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud akan muncul pada masa Ya’juj dan Ma’juj. [19] [4]

Sejarah membuktikan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as) lahir tahun 1835 dan wafat tahun 1908. Sedangkan revolusi industri sudah berjalan sejak 1750-1850. Ketika itu terjadi peralihan dalam penggunaan tenaga kerja yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia kemudian digantikan oleh penggunaan mesin yang berbasis menufaktur. Periode awal dimulai dengan dilakukannya mekanisasi terhadap industri tekstil, pengembangan teknik pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara (penggunaan api). Ekspansi perdagangan turut dikembangkan dengan dibangunnya terusan, perbaikan jalan raya dan rel kereta api (dengan tenaga batubara).[20]

Perselisihan Agama pada Saat Ya juj dan Ma juj

Ada lagi nubuatan dalam Al-Qur’an, yang menubuwwatkan penyatuan ruhani untuk mengikuti penyatuan fisik, yakni:

وَتَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ ۖ وَّنُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا

Dan Kami akan membiarkan sebagian mereka pada hari itu menyerang sebagian yang lain; dan nafiri akan ditiup. Lalu akan Kami himpun mereka itu semuanya. (QS Al-Kahfi [18]: 100 dengan basmallah) [penerbit]

Ini berarti bahwa di hari-hari terakhir, yang akan menjadi zaman Ya’juj dan Ma’juj, orang-orang akan terlibat dalam perselisihan dan perkelahian agama dan bangsa-bangsa akan menyerang bangsa-bangsa seperti gelombang sungai yang satu melawan gelombang lainnya, dan akan ada banyak konflik lainnya. demikian juga. Dengan cara ini, perpecahan besar akan menyebar di dunia dan perselisihan besar, dendam dan kebencian akan muncul di antara orang-orang. Dan ketika peristiwa-peristiwa ini mencapai puncaknya, Tuhan akan meniup terompet-Nya, yaitu, Dia akan mengirimkan suara ke dunia melalui Hadhrat Masih Mau’ud, yang seperti terompet-Nya, dan setelah mendengar suara ini semua orang baik akan berkumpul di bawah panji satu agama. Semua perselisihan akan lenyap dan orang-orang di dunia akan menjadi satu. Dalam ayat lain, Dia berfirman:

وَعَرَضۡنَا جَہَنَّمَ یَوۡمَئِذٍ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ عَرۡضًا

Dan pada hari itu Kami tampakkan neraka Jahanam, berhadapan muka dengan orang-orang kafir, (QS Al-Kahfi [18]: 101 dengan basmallah) [penerbit]

Neraka akan dihadirkan bagi mereka yang tidak menanggapi panggilan Hadhrat Masih Mau’ud pada hari itu. Artinya, Tuhan akan menurunkan berbagai macam malapetaka yang merupakan cicipan awal dari neraka. Kemudian Dia berfirman:

اَلَّذِیۡنَ کَانَتۡ اَعۡیُنُہُمۡ فِیۡ غِطَآءٍ عَنۡ ذِکۡرِیۡ وَکَانُوۡا لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَمۡعًا

Ialah orang-orang, yang mata mereka tertutup tabir terhadap peringatan-Ku, dan mereka tidak mampu mendengar. (QS Al-Kahfi [18]: 102 dengan basmallah) [penerbit]

Artinya, mereka adalah orang-orang yang matanya akan tertutupi dari Seruan dan Pesan Hadhrat Masih Mau’ud. Mereka tidak akan siap bahkan untuk mendengarkannya dan bahkan penuh kebencian terhadapnya. Inilah sebabnya mengapa hukuman akan diturunkan. Di sini kata ‘Terompet’ mengacu pada Hadhrat Masih Mau’ud, karena para Nabi Allah adalah sangkakala-Nya yang di dalamnya Dia menghembuskan suara-Nya ke dalam hati. Ungkapan ini telah digunakan dalam kitab suci terdahulu dan para Nabi Allah telah disebut sebagai terompet-Nya. Sama seperti pemain terompet meniup nadanya kepada terompet, demikian juga Tuhan menghembuskan firman-Nya ke dalam hati para nabi. Referensi tentang Ya’juj dan Ma’juj juga secara meyakinkan membuktikan bahwa terompet yang disebutkan di sini adalah Hadhrat Masih Mau’ud, karena sepenuhnya ditetapkan oleh Hadits otentik bahwa Hadhrat Masih Mau’ud akan muncul di zaman Ya’juj dan Ma’juj.

Kekuatan Eropa adalah Ya’juj dan Ma’juj

Di satu sisi, terbukti dari Alkitab bahwa orang-orang Kristen di Eropa adalah Yajuj dan Majuj, dan di sisi lain, Al-Qur’an telah menyebutkan tanda-tanda khusus tentang Yajuj dan Majuj yang hanya dapat diterapkan pada kekuatan Eropa, seperti, misalnya, tertulis bahwa mereka akan mendaki setiap ketinggian, yaitu, mereka akan mengatasi semua kekuatan lain dan menjadi yang tertinggi dalam semua hal duniawi. Demikian pula, juga disebutkan dalam hadits bahwa tidak ada negara yang akan mampu melawan mereka. Dengan demikian, secara meyakinkan ditetapkan bahwa kekuatan-kekuatan ini adalah Yajuj dan Majuj. Menolak hal ini adalah sikap keras kepala dan penentangan terhadap Firman Tuhan. Siapa yang dapat menyangkal bahwa sesuai dengan Firman Allah SWT dan penjelasan Nabi (Muhammad saw), ini adalah orang-orang yang dalam kekuatan duniawi mereka, lebih unggul dari semua orang. Mereka tidak ada bandingannya dalam seni perang dan tata negara. Penemuan dan mesin mereka telah membentuk pola baru, baik dalam perang maupun dalam kenyamanan dan kemewahan duniawi. Mereka telah membawa revolusi yang luar biasa dalam budaya umat manusia dan telah menunjukkan penguasaan dalam tata negara dan dalam menyediakan peralatan untuk perang dan perdamaian, yang tidak ada bandingannya sejak penciptaan dunia.

Jadi, berabad-abad setelah kenabian Nabi Suci (Muhammad saw), kebangkitan kekuatan Eropa adalah peristiwa sesuai dengan tanda yang ditentukan dalam nubuatannya. Sebagaimana Tuhan telah mengungkapkan arti Yajuj dan Majuj dan peristiwa-peristiwa telah membuktikan bahwa suatu kaum tertentu cocok dengan tanda-tanda yang telah disebutkan, penolakan untuk mengakui hal ini berarti penyangkalan terhadap kebenaran yang telah mantap. Tidak ada yang bisa menghentikan seseorang dari bertahan dalam penyangkalannya, tetapi setiap orang yang berpikiran adil yang mencari kebenaran akan (memahaminya), setelah diberitahu tentang semua rincian ini, (mereka) bersaksi dengan penuh keyakinan bahwa orang-orang ini adalah Yajuj dan Majuj. [21] [4]

Tampaknya ada kontradiksi dalam Hadits, karena di satu sisi dinyatakan bahwa, pada saat kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud, Ya’juj dan Ma’juj telah menyebar ke seluruh dunia, dan di lain dinyatakan bahwa orang-orang Kristen akan menang di dunia; misalnya, dikatakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as akan mematahkan salib, yang berarti bahwa orang-orang Nasrani akan mendominasi pada saat itu. Hadis lain juga menunjukkan bahwa orang Romawi, yaitu, orang-orang Kristen, akan berkuasa. Pada zaman Nabi Suci (damai dan berkah Allah besertanya) Kekaisaran Romawi adalah Kristen, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

غُلِبَتِ الرُّوۡمُ - فِیۡۤ اَدۡنَی الۡاَرۡضِ وَہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ غَلَبِہِمۡ سَیَغۡلِبُوۡنَ

‘Orang Romawi telah dikalahkan, di negeri terdekat, dan mereka, setelah kekalahan mereka, akan menang.’—Al-Rum, 30:3-4 [Penerbit]

Di sini kata Roma mengacu pada orang Kristen. Beberapa hadis juga menunjukkan bahwa pada saat munculnya Hadhrat Masih Mau’ud, Dajjal akan menjadi yang paling unggul di seluruh dunia kecuali Mekah.

Sekarang, apakah Maulavi Sahib akan memberi tahu kita bagaimana kontradiksi ini dapat diakurkan? Jika Dajjal menguasai bumi, di manakah letak kekuasaan kaum Nasrani, dan kemana Yajuj dan Majuj akan pergi, kerajaan dunia siapa yang dinubuwwatkan oleh Al-Qur’an? Inilah kesalahan-kesalahan yang diderita oleh orang-orang yang menolakku dan menyebutku kafir. Peristiwa membuktikan bahwa karakteristik Yajuj dan Majuj dan Dajjal dapat ditemukan di negara-negara Eropa. Seperti yang dijelaskan oleh Hadits tentang Yajuj dan Majuj, tidak ada kekuatan yang dapat menahan mereka dalam pertempuran dan Hadhrat Masih Mau’ud juga hanya akan meminta bantuan doa untuk melawan mereka. Karakteristik ini tidak diragukan lagi ditemukan di kekuatan Eropa. Al-Qur’an juga menegaskan hal ini, seperti yang difirmankan:

...وَہُمۡ مِّنۡ کُلِّ حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ

‘Dan mereka akan bergegas dari setiap ketinggian.’—Al-Anbiya’, 21:97 [Penerbit]

Tentang Dajjal, disebutkan dalam hadits bahwa ia akan menggunakan tipu daya dan menciptakan kerusakan dan kekacauan agama. Menurut Al-Qur’an, karakteristik khusus ini dimiliki oleh para ulama Kristen. Seperti difirmankan:

...یُحَرِّفُوۡنَ الۡکَلِمَ عَنۡ مَّوَاضِعِہٖ...

‘Mereka memutarbalikkan kata-kata dari tempat yang semestinya.’—Al-Nisa’, 4:47 [Penerbit]

Semua ini menunjukkan bahwa ketiga kelompok ini sebenarnya adalah satu. Itulah sebabnya Surah Al-Fatihah mengajarkan secara definitif bahwa kita harus mencari keamanan dari kerusakan orang-orang Kristen. Kami tidak diajarkan untuk berdoa untuk keamanan terhadap Dajjal. Seandainya ada Dajjal lain, yang kerusakannya lebih besar dari para ulama Kristen, Firman Allah tidak akan pernah mengabaikan kerusakan yang lebih besar dan mengajarkan kita untuk berdoa untuk keamanan terhadap kerusakan orang-orang Kristen, kita juga tidak akan diperingatkan bahwa kejahatan Kristen sedemikian rupa sehingga dapat mengoyak surga dan menghancurkan gunung-gunung menjadi berkeping-keping. Sebaliknya, kita akan diperingatkan bahwa kejahatan Dajjal adalah seperti yang dapat menyebabkan langit dan bumi terbelah. Mengabaikan kerusakan yang lebih besar dan memperingatkan terhadap yang lebih kecil akan sama sekali tidak masuk akal. [22] [4]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menulis,

Al-Qur’an Suci kemudian menetapkan bahwa di hari-hari terakhir orang-orang Kristen akan mendominasi bumi, dan mereka akan menjadi penyebab segala macam kerusakan merajalela. Gelombang bencana akan meningkat di semua sisi dan akan turun dari setiap ketinggian…. Mereka akan memiliki kekuatan dan kekuasaan harta yang besar, di mana semua kekuatan dan negara lain akan tampak tidak berdaya. Mereka juga akan menikmati keunggulan dalam semua jenis ilmu dan sains dan membangun industri baru yang luar biasa. Mereka juga akan menjadi dominan dalam kebijakan, proyek, dan administrasi yang baik, dan akan menunjukkan tekad yang besar dalam urusan duniawi mereka dan juga akan unggul dalam usaha mereka untuk menyebarkan kepercayaan mereka. Mereka akan menyalip semua negara lain dalam kebijakan sosial, pertanian dan komersial mereka, seperti juga dalam segala hal lainnya. Inilah arti dari:

...وَہُمۡ مِّنۡ کُلِّ حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ

‘Mereka akan bergegas keluar dari setiap ketinggian.’ Ta Ha, 21:97

Hadab berarti dataran tinggi dan Nasal berarti berlari ke depan dan unggul. Dengan kata lain, mereka akan meninggalkan bangsa lain dalam hal apapun yang besar dan bergengsi. Ini adalah tanda utama orang-orang akhir zaman yang ditunjuk sebagai Yajuj dan Majuj dan ini juga merupakan tanda dari kelompok ulama Kristen yang jahat yang disebut Al-Masihid-Dajjal. Karena Hadab berarti bagian bumi yang ditinggikan, ini menunjukkan bahwa mereka akan mencapai semua ketinggian duniawi tetapi akan kehilangan ketinggian spiritual. Ini membuktikan bahwa orang-orang ini disebut Yajuj dan Majuj mengingat dominasi nasional mereka. Di antara mereka adalah orang-orang yang tidak meninggalkan kebutuhan bisnis yang terlewat dalam menyebarkan kesesatan dan akibatnya dikenal sebagai Dajjal Besar. Dan Allah Ta’ala telah berfirman bahwa pada puncak kesesatan, terompet akan ditiup dan orang-orang dari semua agama akan berkumpul di satu tempat. [23]

Sekarang saya akan menjelaskan arti dari ayat-ayat dalam Surah AlKahfi yang berhubungan dengan kisah Dzulkarnain, dan nubuwwatan yang dikandungnya tentang saya, yang telah diberitahukan kepada saya oleh Allah SWT. Saya tidak menyangkal arti dari ayat-ayat ini yang berhubungan dengan masa lalu, tetapi apa yang diwahyukan kepada saya adalah tentang masa depan.

Nubuat tentang Hadhrat Masih Mau’ud dalam Surat Al-Kahfi

Al-Qur’an bukanlah buku cerita lama. Setiap peristiwa yang disebutkan di dalamnya adalah kenabian, dan kisah Dzulkarnain mengandung nubuat tentang masa Hadhrat Masih Mau’ud.

Didalam Alquran tertulis,

وَیَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنۡ ذِی الۡقَرۡنَیۡنِ ۖ قُلۡ سَاَتۡلُوۡا عَلَیۡکُمۡ مِّنۡہُ ذِکۡرًا

Dan mereka menanyakan pula kepada engkau mengenai Zulqarnain. Katakanlah, “Aku akan segera bacakan kepadamu kisah mengenainya.” (QS Al-Kahfi [18]: 84 dengan basmallah)

Kemudian difirmankan:

اِنَّا مَکَّنَّا لَہٗ فِی الۡاَرۡضِ وَاٰتَیۡنٰہُ مِنۡ کُلِّ شَیۡءٍ سَبَبًا

‘Kami akan menjadikannya di bumi, yaitu Hadhrat Masih Mau’ud, yang juga dikenal sebagai Dzulkarnain, sedemikian rupa sehingga tidak ada yang bisa menyakitinya; dan Kami akan memberinya semua sarana untuk mencapai tujuannya dan akan membuat segalanya mudah dan jelas baginya.’ – Al-Kahf, 18:85

Ingat, wahyu yang sama tentang saya diterbitkan dalam volume sebelumnya dari Brahin-e-Ahmadiyyah, di mana Allah Ta’ala berfirman:

alam naj’al laka sahuulatan fii kulli amr

‘Bukankah Kami telah memfasilitasi segalanya untukmu?’ Bukankah Kami telah memberimu semua sarana untuk komunikasi dan penyebaran kebenaran? Tentu saja, saya telah diberikan semua sarana untuk menyebarkan kebenaran yang bahkan tidak tersedia pada zaman nabi lain. Sarana komunikasi telah terbuka antar bangsa; perjalanan menjadi begitu mudah sehingga perjalanan bertahun-tahun sekarang hanya membutuhkan beberapa hari; transmisi berita sedemikian rupa sehingga dalam beberapa menit pesan dapat dikirim melalui ribuan mil; teks-teks kuno bangsa-bangsa yang tidak terlihat telah mulai diterbitkan; sarana telah tersedia untuk pengiriman segala sesuatu di mana diperlukan; kesulitan dalam penerbitan buku telah dihilangkan dengan diperkenalkannya mesin cetak, sedemikian rupa sehingga lebih banyak salinan buku dapat dicetak dalam sepuluh hari daripada sebelumnya dalam sepuluh tahun! Sebuah tulisan sekarang dapat diterbitkan di seluruh dunia dalam waktu empat puluh hari, sedangkan sebelumnya seorang pria tidak dapat mencapai ini bahkan dalam seratus tahun.

Allah Ta’ala berfirman dalam Alquran,

فَاَتۡبَعَ سَبَبًا - حَتّٰۤی اِذَا بَلَغَ مَغۡرِبَ الشَّمۡسِ وَجَدَہَا تَغۡرُبُ فِیۡ عَیۡنٍ حَمِئَۃٍ وَّوَجَدَ عِنۡدَہَا قَوۡمًا ۗ قُلۡنَا یٰذَا الۡقَرۡنَیۡنِ اِمَّاۤ اَنۡ تُعَذِّبَ وَاِمَّاۤ اَنۡ تَتَّخِذَ فِیۡہِمۡ حُسۡنًا - قَالَ اَمَّا مَنۡ ظَلَمَ فَسَوۡفَ نُعَذِّبُہٗ ثُمَّ یُرَدُّ اِلٰی رَبِّہٖ فَیُعَذِّبُہٗ عَذَابًا نُّکۡرًا - وَاَمَّا مَنۡ اٰمَنَ وَعَمِلَ صٰلِحًا فَلَہٗ جَزَآءَۨ الۡحُسۡنٰی ۖ وَسَنَقُوۡلُ لَہٗ مِنۡ اَمۡرِنَا یُسۡرًا

‘Ketika Dzulkarnain (yakni Hadhrat Masih Mau’ud), dilengkapi dengan segala sarana, dia akan mengikuti jalan tertentu, (yaitu, dia akan memutuskan untuk mereformasi orang-orang Barat). Dia akan menemukan bahwa matahari kebenaran dan ketakwaan telah terbenam di kolam berlumpur, di dekatnya dia akan menemukan orang-orang dalam kegelapan. (Ini adalah orang-orang Kristen dari Barat yang akan tenggelam dalam kegelapan; mereka tidak akan memiliki matahari untuk mendapatkan cahaya, juga tidak akan memiliki air bersih untuk diminum, yaitu, baik dalam amal dan ajaran mereka akan berada dalam keadaan yang mengerikan; mereka akan kehilangan cahaya ruhani dan air ruhani.) Kemudian Kami akan mengatakan kepada Dzulkarnain (Hadhrat Masih Mau’ud): Terserah engkau untuk menghukum mereka atau memperlakukan mereka dengan kebaikan. Dzulkarnain (Hadhrat Masih Mau’ud) akan berkata: Kami hanya menginginkan orang-orang yang zalim untuk dihukum. Mereka akan dihukum di dunia ini (melalui doa kami), dan akan menderita siksaan yang berat di akhirat. Tetapi orang yang tidak mengingkari kebenaran dan melakukan perbuatan baik akan mendapatkan pahalanya. Dia akan diminta hanya untuk melakukan apa yang bisa dilakukan dengan fasilitas dan kemudahan.’ – Al-Kahf, 18: 86-89

Singkatnya, ayat-ayat ini berisi nubuwwatan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud (as) akan muncul pada saat orang-orang Barat akan tenggelam dalam kegelapan. Matahari kebenaran akan sepenuhnya hilang dari mata mereka dan akan terbenam di kolam yang kotor dan bau, (yaitu, alih-alih kebenaran, mereka (justru) akan dipenuhi dengan keyakinan dan perbuatan busuk). Itu akan menjadi air yang akan mereka minum. Mereka tidak akan memiliki cahaya sama sekali dan akan berkubang dalam kegelapan. Inilah persisnya kondisi iman Kristen saat ini, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qur’an, dan pusat besar Kekristenan juga ada di negara-negara Barat. Kemudian Allah Ta’ala berfirman:

ثُمَّ اَتۡبَعَ سَبَبًا - حَتّٰۤی اِذَا بَلَغَ مَطۡلِعَ الشَّمۡسِ وَجَدَہَا تَطۡلُعُ عَلٰی قَوۡمٍ لَّمۡ نَجۡعَل لَّہُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہَا سِتۡرًا - کَذٰلِکَ وَقَدۡ اَحَطۡنَا بِمَا لَدَیۡہِ خُبۡرًا

Artinya, ‘Dzulkarnain (Hadhrat Masih Mau’ud yang akan dilengkapi dengan segala sarana) akan mengikuti jalan lain, (yaitu, dia akan mengamati keadaan orang-orang Timur) dan akan menemukan suatu kaum di tempat terbitnya matahari kebenaran. Mereka yang begitu bodohnya sehingga mereka tidak akan memiliki sarana untuk melindungi diri dari silau matahari (yaitu, mereka akan hangus oleh panas yang dihasilkan oleh ketaatan mereka secara tekstual dan kelakuan keras mereka), dan mereka tidak akan menyadarinya dari kebenaran. Dzulkarnain (Hadhrat Masih Mau’ud) akan memiliki semua sarana kedamaian dan kebahagiaan sejati yang Kami ketahui, tetapi orang-orang tidak akan menerimanya. Mereka tidak akan memiliki tempat berlindung dari sorotan ekstremisme mereka—tidak ada rumah, atau pohon rindang, atau pakaian yang cocok untuk melindungi mereka dari panas. Dengan cara ini terbitnya matahari kebenaran akan membawa kehancuran mereka.’ – Al-Kahf, 18:90-92

Ini adalah contoh orang-orang yang memiliki cahaya matahari petunjuk yang tersedia bagi mereka, dan yang tidak seperti mereka yang mataharinya telah terbenam, tetapi mereka tidak mendapatkan manfaat dari matahari petunjuk; hanya kulit mereka yang hangus, kulit mereka menjadi gelap dan mereka kehilangan penglihatan.

Pembagian ini menunjukkan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as akan bertemu dengan tiga jenis orang dalam perjalanan misinya. (1) Pertama, dia akan bertemu dengan orang-orang yang telah kehilangan matahari petunjuk dan berkubang di kolam yang berlumpur dan gelap. (2) Pertemuan kedua dengan orang-orang yang duduk di bawah sinar matahari dengan kondisi telanjang bulat, yaitu, mereka tidak berperilaku dengan hormat, kerendahan hati, sopan santun dan niat baik. Mereka adalah pemuja ajaran secara tekstual, seolah-olah ingin melawan matahari. Dengan demikian mereka juga kehilangan manfaat dari matahari, dan yang mereka dapatkan hanyalah kulit mereka yang terbakar. Hal ini mengacu pada kaum Muslimin di mana Hadhrat Masih Mau’ud muncul, tetapi mereka mengingkarinya dan menentangnya dan tidak berperilaku dengan kerendahan hati dan keadilan, dan akibatnya menjauhkan diri mereka dari nasib yang baik.

Kemudian Allah Ta’ala lebih lanjut berfirman:

ثُمَّ اَتۡبَعَ سَبَبًا - حَتّٰۤی اِذَا بَلَغَ بَیۡنَ السَّدَّیۡنِ وَجَدَ مِنۡ دُوۡنِہِمَا قَوۡمًا لَّا یَکَادُوۡنَ یَفۡقَہُوۡنَ قَوۡلًا - قَالُوۡا یٰذَا الۡقَرۡنَیۡنِ اِنَّ یَاۡجُوۡجَ وَمَاۡجُوۡجَ مُفۡسِدُوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَہَلۡ نَجۡعَلُ لَکَ خَرۡجًا عَلٰۤی اَنۡ تَجۡعَلَ بَیۡنَنَا وَبَیۡنَہُمۡ سَدًّا - قَالَ مَا مَکَّنِّیۡ فِیۡہِ رَبِّیۡ خَیۡرٌ فَاَعِیۡنُوۡنِیۡ بِقُوَّۃٍ اَجۡعَلۡ بَیۡنَکُمۡ وَبَیۡنَہُمۡ رَدۡمًا - اٰتُوۡنِیۡ زُبَرَ الۡحَدِیۡدِ ۖ حَتّٰۤی اِذَا سَاوٰی بَیۡنَ الصَّدَفَیۡنِ قَالَ انۡفُخُوۡا ۖ حَتّٰۤی اِذَا جَعَلَہٗ نَارًا قَالَ اٰتُوۡنِیۡۤ اُفۡرِغۡ عَلَیۡہِ قِطۡرًا - فَمَا اسۡطٰعُوۡۤا اَنۡ یَّظۡہَرُوۡہُ وَمَا اسۡتَطٰعُوۡا لَہٗ نَقۡبًا - قَالَ ہٰذَا رَحۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّیۡ ۖ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّیۡ جَعَلَہٗ دَکَّآءَ ۖ وَکَانَ وَعۡدُ رَبِّیۡ حَقًّا - ۞ وَتَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ ۖ وَّنُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا - وَعَرَضۡنَا جَہَنَّمَ یَوۡمَئِذٍ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ عَرۡضًا - اَلَّذِیۡنَ کَانَتۡ اَعۡیُنُہُمۡ فِیۡ غِطَآءٍ عَنۡ ذِکۡرِیۡ وَکَانُوۡا لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَمۡعًا - اَفَحَسِبَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَنۡ یَّتَّخِذُوۡا عِبَادِیۡ مِنۡ دُوۡنِیۡۤ اَوۡلِیَآءَ ۚ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ نُزُلًا

Dzulkarnain (Hadhrat Masih Mau’ud) kemudian akan mengikuti jalan lain dan akan menemukan dirinya pada saat yang sangat kritis, yang dapat digambarkan sebagai antara dua penghalang atau gunung. Ini berarti bahwa dia akan menemukan saat ketika orang-orang di kedua sisi akan ketakutan, dan kekuatan kegelapan, bekerja sama dengan kekuatan negara, akan menghadirkan pertunjukan yang menakjubkan. Di bawah kedua kekuatan ini dia akan menemukan orang-orang yang akan sulit untuk memahaminya, yaitu, mereka akan menjadi korban dari kepercayaan yang salah yang menyebabkan mereka akan sulit untuk memahami petunjuk yang akan dia berikan kepada mereka. Tapi pada akhirnya mereka akan mengerti dia. Ini adalah jenis orang ketiga yang akan mendapat manfaat dari bimbingan Hadhrat Masih Mau’ud. Mereka akan berkata kepadanya: ‘Dzulkarnain, Ya’juj dan Ma’juj telah memenuhi negeri dengan kekacauan. Jika engkau mau, izinkan kami mengumpulkan dana untuk engkau sehingga engkau dapat membangun penghalang antara mereka dan kami.’ Dia akan menjawab: ‘Kekuatan yang diberikan Tuhan kepada saya lebih baik daripada dana kalian, tetapi jika kalian mau, kalian dapat membantu saya sesuai dengan kemampuan kalian sehingga saya dapat membangun tembok antara kalian dan musuh kalian (yaitu, dia akan mengajukan bukti dan argumen yang meyakinkan bahwa musuh mereka tidak punya alasan untuk mengkritik atau keberatan terhadap agama mereka.) Dia akan berkata kepada mereka: ‘Bawakan saya lempengan besi sehingga gerakan mereka dapat dihentikan, (yaitu, berpegang teguh pada ajaran dan argumen saya, sabar, dan menahan serangan musuh seperti tembok besi) Kemudian tiup api ke dalam besi sampai tampak seperti api itu sendiri (yaitu, menjadikan api cinta untuk Tuhan sampai kalian sendiri mengambil sifat Ilahi)… — Al-Kahf, 18: 93-103

Setelah ayat-ayat ini, Allah Ta’ala melanjutkan dengan berfirman: Kemudian Dzulkarnain (Hadhrat Masih Mau’ud) akan berkata kepada orang-orang yang takut kepada Yajuj dan Majuj: ‘Bawakan saya tembaga sehingga saya dapat mencairkannya dan menuangkannya ke dinding. Setelah itu, Yajuj dan Majuj tidak akan memiliki kekuatan untuk membukanya atau membuat lubang di dalamnya.’

Di sini perlu dicatat bahwa meskipun besi merupakan tamsil dari kualitas api ketika dibiarkan di dalamnya untuk waktu yang lama, tidak mudah meleleh. Tembaga, di sisi lain, meleleh dengan sangat cepat; dan perlu bagi seorang pencari untuk melebur di jalan Tuhan. Ini berarti bahwa Hadhrat Masih Mau’ud akan membutuhkan hati yang bersemangat dan watak yang lembut seperti yang akan meleleh di bawah pengaruh tanda-tanda Ilahi. Tanda-tanda ini tidak berpengaruh pada orang yang keras hati. Seseorang hanya bisa menjadi kebal terhadap serangan setan ketika dia menjadi tabah seperti besi dan besi itu menjadi seperti api ketika disentuh oleh api cinta Ilahi, kemudian hati yang meleleh harus meleleh dan menutupi besi untuk mengamankannya dari kehancuran dan pembusukan. Inilah tiga kondisi yang jika digabungkan akan membentuk tembok yang tidak dapat ditembus atau ditembus oleh jiwa setan. Kemudian Tuhan berfirman bahwa semua ini akan terjadi karena kasih karunia-Nya. Tangan-Nyalah yang akan menyelesaikan segala sesuatu dan rancangan manusia tidak akan mendapat bagian di dalamnya. Ketika Hari Penghakiman mendekat, kejahatan akan berkuasa sekali lagi. Ini adalah janji Tuhan.

Zaman Hadhrat Masih Mau’ud

Kemudian Dia berfirman bahwa pada zaman Dzulkarnain (Hadhrat Masih Mau’ud), semua orang akan bangkit mendukung agama mereka masing-masing dan akan saling menyerang seperti gelombang laut. Kemudian terompet akan ditiup dari langit, yaitu, Allah akan membangkitkan Hadhrat Masih Mau’ud dan menciptakan umat ketiga yang kepadanya Dia akan menunjukkan tanda-tanda agung hingga semua orang baik berkumpul di bawah panji Islam. Mereka akan menjawab panggilan Hadhrat Masih Mau’ud dan akan berlari ke arahnya; maka hanya akan ada satu gembala dan satu kawanan. Hari-hari itu akan sulit dan Tuhan akan menampakkan wajah-Nya dengan tanda-tanda yang menakjubkan. Mereka yang bertahan dalam keingkaran akan merasakan neraka di dunia ini dalam bentuk bencana. Allah berfirman: Inilah orang-orang yang matanya tertutup dari Firman-Ku, dan telinganya tidak mengindahkan perintah-perintah-Ku. Apakah orang-orang kafir membayangkan bahwa mereka dapat mengikuti orang-orang yang rendah hati menjadi (seperti sifat) Tuhan dan bahwa saya harus menolak? Kami akan membuka neraka di dunia ini sebagai hiburan bagi orang-orang kafir, yaitu, tanda-tanda besar dan mengerikan akan muncul.

Semua tanda-tanda ini akan menjadi saksi tentang kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud. Lihat, betapa rahmat Yang Maha Pemurah telah melimpahkan semua nikmat ini kepada orang yang rendah hati ini, yang dicap kafir dan Dajjal oleh lawan-lawannya! [24]

Satu kali Hakim Mirza Mahmud Irani, dalam suratnya tertanggal 2 September 1902, telah meminta saya untuk menjelaskan arti dari ayat berikut:

...وَجَدَہَا تَغۡرُبُ فِیۡ عَیۡنٍ حَمِئَۃٍ...

‘Dia menemukannya terbenam di genangan air keruh.’—Al-Kahfi, 18:87 [Penerbit]

Pertama-tama, biarlah jelas bahwa ayat ini menyimpan banyak makna tersembunyi yang tidak mungkin tercakup, dan di bawah makna yang tampak ada makna tersembunyi. Makna yang diwahyukan Allah kepadaku adalah bahwa ayat ini, digabungkan dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, berisi nubuat tentang Hadhrat Masih Mau’ud dan merinci waktu kemunculannya. Penjelasannya adalah Hadhrat Masih Mau’ud juga Dzulkarnain, karena kata Arab qarn berkonotasi satu abad dan ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa kelahiran dan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud akan berlangsung selama dua abad. Saya telah hidup dalam dua abad menurut setiap kalender yang dikenal, baik itu Islam, Kristen atau Bikramjiti. Kelahiran dan kedatangan saya tidak terbatas pada satu abad, dan dalam pengertian ini saya adalah Dzulkarnain. Dalam beberapa hadis juga Hadhrat Masih Mau’ud disebut Dzulkarnain dalam pengertian yang sama seperti yang baru saja saya sebutkan.

Penafsiran ayat berikutnya dalam konteks nubuatan adalah bahwa ada dua umat besar yang telah diberi kabar gembira tentang Kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud dan yang merupakan penerima utama misinya. Dalam ayat-ayat ini, Allah SWT menggambarkan secara metaforis bahwa Hadhrat Masih Mau’ud, yaitu Dzulkarnain, akan bertemu dengan dua umat dalam perjalanannya. Dia akan menemukan orang-orang yang duduk dalam kegelapan di dekat kolam air yang berbau busuk, yang tidak layak untuk diminum, dan penuh dengan lumpur yang bau sehingga tidak dapat lagi digambarkan sebagai air. Inilah orang-orang Kristen yang berada dalam kegelapan dan yang, karena kesalahan mereka sendiri, telah mengubah mata air Mesianik menjadi kolam lumpur yang bau.

Dalam perjalanannya yang kedua, Hadhrat Masih Mau’ud, Dzulkarnain, menemui suatu kaum yang sedang duduk di bawah terik matahari tanpa tempat berteduh untuk melindungi mereka. Mereka tidak mendapatkan cahaya dari matahari, kecuali tubuh mereka hangus oleh nyalanya dan kulit mereka menjadi gelap. Inilah kaum Muslimin, yang, meskipun diberkahi dengan matahari Keesaan Ilahi, tidak memperoleh manfaat nyata darinya, tetapi hangus oleh nyalanya. Dengan kata lain, mereka telah kehilangan keindahan sejati dan kualitas moral sejati dari iman dan sebaliknya mengambil bagian dari dendam, kebencian, amarah yang berapi-api, dan kekejaman.

Dengan cara ini, Allah Ta’ala telah menunjukkan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud, Dzulkarnain, akan muncul pada saat orang-orang Nasrani berada dalam kegelapan dan di dalam lumpur busuk, yang disebut Hama’ dalam bahasa Arab, akan menjadi bagian mereka. Kaum Muslim untuk bagian mereka hanya akan memiliki keyakinan kering pada Keesaan Tuhan dan mereka akan menderita dari sengatan sinar matahari kefanatikan dan kebinatangan dan tidak ada nilai ruhani yang suci.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud, yaitu Dzulkarnain, akan menjumpai suatu kaum yang akan menderita di tangan Yajuj dan Majuj. Orang-orang ini akan sangat religius dan saleh secara alami, dan akan mencari bantuan Dzulkarnain (Hadhrat Masih Mau’ud) melawan agresi Yajuj dan Majuj. Dan dia akan mendirikan benteng yang gemilang bagi mereka, dengan kata lain, dia akan mengajari mereka argumen-argumen yang kuat untuk mendukung Islam yang pada akhirnya akan menolak serangan Yajuj dan Majuj. Dia akan menghapus air mata mereka, membantu mereka dalam segala hal dan berdiri di samping mereka. Inilah orang-orang yang menerima saya.

Ini adalah nubuatan agung yang menceritakan tentang kedatanganku, zamanku dan Jemaatku. Berbahagialah dia yang membaca nubuatan ini dengan teliti. Nubuatan seperti itu adalah ciri khas Al-Qur’an, yang menceritakan tentang seseorang di masa lalu, tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk meramalkan masa depan. Misalnya, Surah Yusuf, yang di bagian mukanya hanya sebuah narasi, mengandung ramalan tersembunyi bahwa Yusuf pada awalnya dipandang rendah oleh saudara-saudaranya tetapi pada akhirnya diangkat menjadi pemimpin mereka, hal yang sama akan terjadi dengan orang Quraisy. Mereka menolak Nabi Suci (saw) dan mengusirnya dari Mekah. Tetapi dia telah ditolak menjadi pemimpin mereka. [25]

Mereka akan mengatakan kepadanya: ‘Wahai Dzul-Qarnain! Ya’juj dan Ma’juj telah memenuhi negeri dengan kekacauan. Jika engkau mau, izinkan kami mengumpulkan dana untuk engkau sehingga engkau dapat mendirikan penghalang antara mereka dengan kami.’ Dia akan menjawab: ‘Kekuatan yang Tuhan berikan kepadaku lebih baik daripada dana kalian, tetapi jika kalian mau, kalian dapat membantuku sesuai dengan kemampuan kalian sehingga saya dapat mendirikan tembok antara kalian dan mereka.’ Artinya, dia akan mengajukan bukti dan argumen yang meyakinkan sehingga musuh mereka tidak akan memiliki dasar untuk mengkritik atau berkeberatan terhadap agama mereka. ‘Ambilkan saya lempengan besi sehingga gerakan mereka bisa dihentikan’; yaitu, berpegang teguh pada ajaran dan argumen saya, sepenuhnya mengadopsi ketabahan, dan membangun diri Anda seperti tembok besi untuk mengusir serangan musuh. ‘Kemudian tiuplah api ke dalam besi sampai menjadi seperti api’; yaitu, berilah bahan bakar api cinta untuk Tuhan sampai kalian sendiri seperti sifat Tuhan [26].

Beberapa Negara Penjajah

Penjajahan yang dilakukan negara-negara eropa diawali oleh Imperium kolonial yakni diawali Zaman Penjelajahan Eropa. Zaman itu merupakan Zaman Pelayaran yang dimulai dengan lomba penjelajahan antara kekuatan laut paling maju pada masa itu. Portugal dan Spanyol memulainya pada abad ke-15 [27].

Imperium Kolonial

Dikutip dari Hermeneutika Pascakolonial (2004) karya Mudji Sutrisno, kolonialisme berasal dari kata latin colonia artinya pertanian atau permukiman. Pengertian kolonialisme adalah politik yang dijalankan mengenai suatu koloni, suatu bagian dari imperium. Awalnya hal ini dikaitkan dengan oang-orang Romawi yang bermukim di negeri-negeri lain dengan tetap mempertahankan kewarganegaraan mereka.

Kata kolonialisme kemudian diartikan sebagai penaklukan dan penguasaan atas tanah dan harta penduduk asli oleh penduduk pendatang. Terkadang pembentukan komunitas (koloni) baru ini ditandai dengan usaha membubarkan dan membentuk kembali komunitas yang sudah ada dengan melibatkan praktek perdagangan, penjarahan, pembunuhan massal, perbudakan, dan pemberontakan. Sistem penguasaan ini umumnya ditandai dengan kewajiban daerah-daerah koloni membayar pajak atau upeti kepada kerajaan pusat. [28]

Dari daftar imperium-imperium di atas, mayoritas kerajaan tersebut adalah berasal dari negara-negara Eropa.

Beberapa Negara Penjajah dari Eropa

Perancis

Prancis mempunyai area kekuasaan lebih dari sepuluh juta kilometer persegi. Kekuasaan Prancis banyak terletak di benua Afrika. Oleh karena itu, negara-negara di benua Afrika rata-rata menggunakan bahasa Prancis dalam kehidupan sehari-hari. [29]

Spanyol

Pada era kolonialisme, Spanyol merupakan negara Eropa yang cukup aktif dalam menjelajah dan mencari negara-negara baru untuk dijajah.

Spanyol memulai jajahannya di wilayah Amerika Selatan pada era 1500-an. Mereka mulai menjelajah Meksiko, Kuba, Puerto Rico, dan negara sekitarnya [29].

Turki

Turki dahulu dikenal dengan Kekaisaran Ottoman juga pernah memiliki wilayah jajahan yang sangat luas. Wilayah tersebut bahkan mencakup tiga benua utama, yakni Eropa, Asia, dan Afrika [29].

Belanda

Indonesia dahulu bernama Hindia Belanda yang merupakan salah satu jajahan terluasnya.

Selain itu pula, jajahannya mencakup Belgia, Brazil, Pantai Gading, Luxembourg, Amerika, Sri Lanka, Taiwan, Afrika Selatan, dan Suriname [29].

Inggris

Negara dengan wilayah jajahan paling luas di dunia adalah Inggris.

Negara Ratu Elizabeth ini menduduki banyak negara di seluruh penjuru dunia.

Area kekuasaan Inggris meliputi Amerika Serikat, Kenya, Uganda, Kepulauan Zanzibar, India, Sri Lanka, Bangladesh, Pakistan, Malaysia, Hong Kong, Singapura, Kepulauan Salomon, dan masih banyak lagi [29].

Periode Keemasan Imperium Britania terjadi tahun 1815 - 1914, ketika kekuasaan Raja George III hingga Raja George V. Kekuasaannya mencapai lebih dari 10.000.000 mil² (26,000,000 km²) luas wilayah dan sekitar 400 juta penduduk menjadi bagian dari Imperium Britania. Era keemasan Imperium Britania didukung oleh berbagai penemuan teknologi selama masa Revolusi Industri seperti kapal Uap dan Telegraf. Berdasaarkan Wikipedia, negara-negara jajahan inggris mencapai 94 negara [30].

Portugal

Portugal mendirikan kekuasaan kolonial dari Brasil, di Amerika Selatan, hingga beberapa koloni di Afrika (terutama Guinea Portugis, Tanjung Verde, São Tomé dan Príncipe, Angola dan Mozambik), di India Portugis (terutama Bombay dan Goa), di Tiongkok (Makau), dan Oseania (terutama Timor, khususnya Timor Timur), di antara banyak jajahan yang lebih kecil atau tidak berlangsung lama [27].

Catatan Kaki

  1. Pencarian kata Ya’juj dalam openquran.com 

  2. The words Ya’juj and Ma’juj are derived from the root word ajij, which means people who are well versed in the use of fire. Barahin Ahmadiyah, Jilid V, halaman 151 

  3. Yajuj [Gog] and Majuj [Magog] are two peoples who have been mentioned in earlier scriptures. The reason why they are so called is that they make extensive use of Ajij [fire], and would reign supreme on earth and dominate every height. At the same time, a great change will be ordained from heaven and will usher in days of peace and amity. (Lecture Sialkot, Ruhani Khaza’in, vol. 20, p. 211) 

  4. The Essence of Islam Volume III  2 3 4

  5. Sebab, bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan akan melawan kerajaan, dan di berbagai tempat akan ada kelaparan dan gempa bumi. 

  6. Lokasi Dinding Darbent atau Derbent 

  7. H.R. Al-Bukhari, Kitab Fitnah, Ya’juj dan Ma’juj 

  8. H.R. At-Tirmidzi, Kitab Fitnah, Ya’juj-Ma’juj muncul 

  9. H.R. Al-Bukhari, Kitab Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang para Nabi, Kisah Ya’juj dan Ma’juj 

  10. H.R. Ibnu Majah, Kitab Fitnah, Fitnah yang akan terjadi 

  11. H.R. Ibnu Majah, Kitab Fitnah, Fitnah dajjal, keluarnya Isa putera Maryam, keluarya Ya’juj dan Ma’juj 

  12. H.R. Al-Bukhari, Kitab Hajji, Bab Firman Allah “Allah telah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid…” 

  13. H.R. Abu Dawud, Kitab Peperangan Besar, Bab Tanda-tanda kiamat 

  14. H.R. Ibnu Majah, Kitab Fitnah, Fitnah dajjal, keluarnya Isa putera Maryam, keluarya Ya’juj dan Ma’juj 

  15. QS Al-Hajj ayat 3 dengan basmallah 

  16. H.R. Al-Bukhari, Kitab Hal-hal yang melunakkan hati, Bab Firman Allah “Kegoncangan hari kiamat adalah perkara besar” 

  17. H.R. Muslim, Kitab Fitnah dan tanda kiamat, Bab Dajjal dan sifatnya 

  18. Dalam terjemah Alkitab Terjemah Lama (1954), Kitab Yehezkiel 38:2 tertulis,

    “Hai anak Adam! tujukanlah mukamu kepada Juj dan tanah Majuj, raja Rus, Mesekh dan Tubal, dan bernubuatlah akan halnya;

    Dalam ayat tersebut tertulis kata Rus, Mesekh dan Tubal. Rus di sini merunjuk kepada Rusia, Mesekh kepada Moskwa, Tubal kepada Tobolsk [penerbit] 

  19. I have also proved that it is essential for the Promised Messiah to appear at the time of Gog and Magog. Since Ajij, from which the words Gog and Magog are derived, means ‘fire’, God Almighty has disclosed to me that Gog and Magog are a people who are greater experts in the use of fire than any other people. Their very names indicate that their ships, trains and machines will be run by fire. They will fight their battles with fire. They will excel all other people in harnessing fire to their service. This is why they will be called Gog and Magog. These are the people of the West, as they are unique in their expertise in the use of fire. In Jewish scriptures too it was the people of Europe who were described as Gog and Magog. Even the name of Moscow, which is the ancient capital of Russia, is mentioned. Thus it was preordained that the Promised Messiah would appear in the time of Gog and Magog. (Ayyam-us-Sulh, Ruhani Khaza’in, vol. 14, pp. 424-425) 

  20. Wikipedia - Revolusi Industri 

  21. Religious Disputes at the Time of Gog and Magog

    There is yet another prophecy in the Holy Qur’an, which predicts a spiritual union to follow physical union. It is as follows:

    Al-Kahf, 18:100

    This means that in the latter days, which will be the age of Gog and Magog, people will become involved in religious disputes and fights and nations will attack nations just as one wave of a river surges against another, and there will be many other conflicts as well. In this way, great division will spread in the world and great contentions, rancour and hatred will be generated among the peoples. And when these events reach their climax, God will blow His trumpet, that is to say, He will transmit a voice to the world through the Promised Messiah, who is like His trumpet, and upon hearing this voice all good people will come together under the banner of one religion. All dissension will disappear and the people of the world will become one. In another verse, He says:

    Al-Kahf, 18:101

    Hell will be presented to those who do not respond to the call of the Promised Messiah on that day. That is to say, God will send down various kinds of calamities which will be a foretaste of hell. Then He says:

    Al-Kahf, 18:102

    Meaning that these will be people whose eyes will be veiled against the Call and Message of the Promised Messiah. They will not be prepared even to listen to him and will be full of aversion for him. This is why the punishment will be sent down. Here the word ‘Trumpet’ refers to the Promised Messiah, inasmuch as the Prophets of God are His trumpets into whose hearts He breathes His voice. This idiom has been employed in earlier scriptures, and Prophets of God have been called His trumpets. Just as the trumpeter blows his tune into the trumpet, so does God breath His Word into the hearts of Prophets. The reference to Gog and Magog also conclusively proves that the trumpet mentioned here is the Promised Messiah, for it is fully established by the authentic Ahadith that the Promised Messiah would appear in the age of Gog and Magog.

    European Powers are Gog and Magog

    On the one hand, it is proved from the Bible that the Christians of Europe are Gog and Magog, and, on the other, the Holy Qur’an has mentioned specific signs concerning Gog and Magog which can only be applied to European powers, as, for instance, it is written that they will scale every height, i.e., they will overcome all other powers and be supreme in all worldly matters. Similarly, it is also mentioned in the Ahadith that no country will be able to stand up to them. Thus it is conclusively established that these powers are Gog and Magog. To deny this is sheer obstinacy and opposition to God’s Word. Who can deny that in accordance with the Word of God Almighty and the explanation of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be upon him), these are the people who, in their worldly power, are superior to every other people. They have no equal in the art of war and statecraft. Their inventions and machines have established new patterns, both in war and in worldly comforts and luxuries. They have brought about an amazing revolution in the culture of mankind and have displayed such mastery in statecraft and in providing equipment for war and peace, as has no parallel since the creation of the world.

    Thus, centuries after the prophecy of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be upon him), the rise of European powers is the event in accordance with the sign specified in his prophecy. As God has disclosed the meaning of Gog and Magog and events have proven that a certain people fit the signs that have been mentioned, refusal to acknowledge this would be denial of an established verity. No one can stop a person from persisting in his denial, but every just-minded one who is a seeker after truth would, on being informed of all these particulars, testify with full confidence that these people are Gog and Magog. (Chashma-e-Ma‘rifat, Ruhani Khaza’in, vol. 23, pp. 83-88) 

  22. There would seem to be a contradiction in the Ahadith, for on the one hand it is stated that, at the time of the advent of the Promised Messiah, Gog and Magog will have spread all over the world, and, on the other, it is stated that the Christians will prevail in the world; for instance, it is said that the Promised Messiah will break the cross, which means that the Christians will be dominant at that time. Another Hadith also indicates that the Romans, i.e., the Christians, will be in power. At the time of the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) the Roman Empire was Christian, as Allah says in the Holy Qur’an:

    ‘The Romans have been defeated, in the land nearby, and they, after their defeat, will be victorious.’—Al-Rum, 30:3-4 [Publisher]

    Here the word Romans refers to Christians. Some Ahadith also indicate that at the time of the appearance of the Promised Messiah, Dajjal would be supreme all over the world with the exception of Mecca.

    Now will any Maulavi Sahib tell us how this contradiction can be reconciled? If Dajjal prevails over the earth, where will the dominion of the Christians lie, and where will Gog and Magog go, whose world empire is foretold by the Holy Qur’an? These are the errors from which those who reject me and call me a disbeliever suffer. Events bear out that the characteristics of both Gog and Magog and of the Dajjal are to be found in the European powers. As described by the Ahadith concerning Gog and Magog, no power will be able to withstand them in battle, and the Promised Messiah too will only have recourse to prayer against them. These characteristics are unquestionably found in the European powers. The Holy Qur’an too confirms this, as it says:

    ‘And they shall hasten forth from every height.’—Al-Anbiya’, 21:97 [Publisher]

    About Dajjal, it is stated in Ahadith that he will use deception and create religious mischief and turmoil. According to the Holy Qur’an, this particular characteristic belongs to the Christian clerics. For instance it says:

    ‘They pervert the words from their proper places.’—Al-Nisa’, 4:47 [Publisher]

    All this shows that all these three groups are actually one. That is why Surah Al-Fatihah teaches definitively that we should seek security against the mischief of Christians. We have not been taught to pray for security against Dajjal. Had there been another Dajjal, whose mischief was to be greater than that of the Christian clergy, the Word of God would never have ignored the greater mischief and taught us to pray for security against the mischief of the Christians, nor would we have been warned that the Christian mischief was such that it might rend heaven apart and shatter the mountains into pieces. Instead, we would have been warned that the evil of the Dajjal is such as might well cause heaven and earth to rent asunder. To ignore a greater mischief and warn against a smaller one would have been totally unreasonable. (Chashma-e-Ma‘rifat, Ruhani Khaza’in, vol. 23, pp 85-87, footnote) 

  23. The Holy Qur’an then specifies that in the latter days the Christians will dominate the earth, and they shall be the cause of all kinds of mischief running rampant. Waves of calamities will rise on all sides and will race down from every height….They will possess great material strength and dominion, against which all other powers and states will seem powerless. They will also enjoy supremacy in all kinds of knowledge and sciences and establish new and wonderful industries. They will also be dominant in their policies, projects, and good administration, and will show great resolve in their worldly enterprises and will also excel in their endeavour to spread their faith. They will leave behind all other nations in their social, agricultural and commercial policies, as indeed in everything else. This is the meaning of:

    ming-kulli hadabiy-yansiluun

    ‘They shall hasten forth from every height.’ Ta Ha, 21:97

    Hadab means high ground and Nasal means to run ahead and to excel. In other words, they will leave behind every other nation in whatever is great and prestigious. This is the major sign of the people of the latter days who were designated as Gog and Magog and this is also the sign of the mischievous group of Christian clerics who are called the Promised Dajjal. Since Hadab means an elevated part of the earth, this indicates that they will achieve all earthly heights but will be deprived of the spiritual heights. This proves that these people are called Gog and Magog in view of their national dominance. Among them are the people who have left no stone unturned in spreading misguidance and consequently came to be known as the Great Dajjal. And God Almighty has said that at the height of misguidance, the trumpet will be blown and people of all faiths will be assembled at one place. (Shahadat-ul-Qur’an, Ruhani Khaza’in, vol. 6, pp. 361-362) 

  24. I will now set out the meanings of the verses in Surah AlKahf which relate the story of Dhulqarnain, and the prophecy they contain about me, of which I have been informed by God Almighty. I do not deny the meaning of these verses which relates to the past, but what has been revealed to me is about the future.

    Prophecy about the Promised Messiah in Surah Al-Kahf

    The Holy Qur’an is not a book of old stories. Every event mentioned in it is a prophecy, and the story of Dhulqarnain contains the prophecy about the time of the Promised Messiah.

    The Holy Qur’an says:

    Al-Kahf, 18:84

    ‘They enquire from thee about Dhulqarnain. Tell them that for the moment I shall relate to only you a little about him.’ Then it says:

    Al-Kahf, 18:85

    ‘We shall establish him on earth, i.e., the Promised Messiah, who will also be known as Dhulqarnain, in such a way that no one will be able to harm him; and We shall provide him with all the means for achieving his purpose and shall make everything easy and plain for him.’

    Remember, the same revelation concerning me was published in the previous volumes of Brahin-e-Ahmadiyyah, in which God Almighty said:

    alam naj’al laka sahuulatan fii kulli amr

    ‘Have We not facilitated everything for you?’ Have We not provided you with all the means for the communication and propagation of the truth? Of course, I have been provided with all the means for the propagation of the truth which were not even available at the time of anyother prophet. Means of communication have opened between nations; travel has become so easy that a journey of years now takes only a few days; transmission of news is such that within minutes messages can be sent over thousands of miles; ancient texts of nations which were out of sight have begun to be published; means have become available for the delivery of everything where it is needed; difficulties in the publication of books have been removed with the introduction of the printing press, so much so that more copies of a book can be printed in ten days than was previously possible in ten years! A piece of writing can now be published throughout the world within forty days, whereas previously a man could not achieve this even in a hundred years.

    Then Allah says in the Holy Qur’an:

    Al-Kahf, 18: 86-89
    

    ‘When Dhulqarnain (who is the Promised Messiah), is furnished with all the means, he will follow a certain path, (i.e., he will resolve to reform the people of the West). He will find that the sun of truth and righteousness has set in a muddy pool, near which he will find a people in the darkness. (These are the Christians of the West who will be steeped in darkness; they will have no sun to get light from, nor will they have clean water to drink, i.e., both in practice and doctrine they will be in a terrible state; they will be bereft of spiritual light and spiritual water.) Then We shall say to Dhulqarnain (the Promised Messiah): It is up to you either to punish them or to treat them with kindness. Dhulqarnain (the Promised Messiah) will say: We only desire the wrongdoers to be punished. They will be punished in this life (through our supplications), and will suffer severe torment in the hereafter. But he who does not deny the truth and does good deeds will have his reward. He will be required only to do what can be done with facility and ease.’

    In short, these verses contain a prophecy that the Promised Messiah will appear at a time when the people of the West will be steeped in darkness. The sun of truth will completely disappear from their eyes and will set in a dirty, stinking pool, (i.e., instead of truth, they will be infested with foul beliefs and deeds). That will be the water they will drink. They will have no light whatsoever and will wallow in darkness. This exactly is the condition of the Christian faith today, as described by the Holy Qur’an, and the great centre of Christianity is also in the Western countries. Then God Almighty says:

    Al-Kahf, 18:90-92

    That is, ‘Dhulqarnain (the Promised Messiah who will be equipped with every means) shall follow another path, (i.e., he will observe the state of the people of the East) and will discover a people at the place of the rising of the sun of truth who will be so ignorant that they will have no means of protecting themselves from the glare of the sun (i.e., they will be scorched by the heat generated by their adherence to the letter and their extremism), and they will be unaware of the truth. Dhulqarnain (the Promised Messiah) will have all the means of true peace and happiness of which We are aware, but the people will not accept them. They will have no shelter against the glare of their extremism—neither houses, nor shady trees nor suitable clothes to protect them from the heat. In this way the rising sun of truth will bring about their ruin.’

    This is an instance of people who have the light of the sun of guidance available to them, and who are not like those whose sun has set, but they derive no benefit from the sun of guidance; only their skins are scorched, their complexion is darkened and they lose their eyesight.

    This division indicates that the Promised Messiah will encounter three kinds of people in the course of his mission. (1) First, he will encounter a people who have lost the sun of guidance and are wallowing in a muddy and dark pool. (2) His second encounter will be with a people who are sitting in the sun stark naked, i.e., they do not behave with respect, humility, courtesy and goodwill. They are worshippers of the letter, as if they want to fight the sun. Thus they too are deprived of the benefit of the sun, and all they get is their skins burnt. This refers to the Muslims among whom the Promised Messiah appeared, but they denied him and opposed him and did not behave with modesty and fairness, and consequently deprive themselves of good fortune.

    Then Allah Almighty further says:

    Dhulqarnain (the Promised Messiah) will then follow another course and will find himself at a very critical time, which can be described as between two barriers or mountains. This means that he will find a time when people on either side will be in fear, and the powers of darkness, in collaboration with the powers of state, will present an awe-striking spectacle. Under both these powers he will find a people who will find it difficult to understand him, i.e., they will be the victims of false beliefs on account of which they will find it difficult to understand the guidance which he will present to them. But in the end they will understand him. These are the third kind of people who will benefit from the guidance of the Promised Messiah. They will say to him: ‘Dhulqarnain, Gog and Magog have filled the land with disorder. If you so please, let us collect a fund for you so that you may erect a barrier between them and us.’ He will say in reply: ‘The power God has given me is better than your funds, but if you be so inclined, you can help me according to your means so that I may erect a wall between you and your opponents (i.e., he would put forth such conclusive proofs and arguments that their enemies will not be left with any ground for criticism or objection against their religion.) He will say to them: ‘Bring me slabs of iron so that their movement can be stopped, (i.e., hold fast to my teachings and my arguments, be steadfast, and block the enemy’s onslaught like a wall of iron.) Then blow fire into the iron until it appears to be fire itself (i.e., feed the flames of love for God until you yourselves assume the Divine complexion)…

    After these verses, God Almighty goes on to say: Then Dhulqarnain (the Promised Messiah) will say to the people who are afraid of Gog and Magog: ‘Bring me copper so that I may melt it and pour it over the wall. Thereafter, Gog and Magog will not have the power to scale it or to make holes in it.’

    Here it should be noted that though iron assumes the qualities of fire when left in it for a long time, it does not melt easily. Copper, on the other hand, melts very quickly; and it is necessary for a seeker to melt in the path of God. This means that the Promised Messiah will need such eager hearts and mild dispositions as would melt under the influence of Divine signs. These signs have no effect on the hard-hearted. A person can only become immune to Satanic attacks when he becomes steadfast like iron and that iron becomes like fire when touched by the fire of Divine love, and then the melted heart should melt and cover the iron to secure it against disintegration and decay. These are the three conditions which, when combined, form a wall which cannot be scaled or bored through by the spirit of Satan. Then God says that all this will come about by His grace. It is His hands which will accomplish everything and human design will have no part in it. When the Day of Judgement approaches, mischief will reign supreme once again. This is the promise of God.

    Time of the Promised Messiah

    Then He says that at the time of Dhulqarnain (Promised Messiah) all people will rise up in support of their own religion and will attack each other like the waves of the sea. Then the trumpet will be blown in heaven, i.e., God will raise the Promised Messiah and create a third people for whom He will show great signs until all good people gather under the banner of Islam. They will respond to the call of the Promised Messiah and will run towards him; then there will be only one shepherd and one flock. Those days will be hard and God will reveal His countenance with awe-striking signs. Those who persist in disbelief will experience hell in this very world in the shape of calamities. God says: These are the people whose eyes were veiled against My Words, and their ears heeded not My commandments. Did the disbelievers imagine that they could take humble men to be God and that I should stand dismissed? We shall reveal hell in this very world as entertainment for the disbelievers, i.e., great and terrible signs will appear.

    All these signs will testify to the truth of the Promised Messiah. See, how the grace of the Beneficent One has bestowed all these favours on this humble one, who is labelled a disbeliever and Dajjal by his opponents! [Brahin-e-Ahmadiyyah part V, Ruhani Khaza’in, vol. 21, pp 119-126] 

  25. One Hakim Mirza Mahmud Irani, in his letter dated 2 September 1902, has asked me to explain the meanings of the verse:

    ‘He found it setting in a pool of murky water.’—Al-Kahf, 18:87 [Publisher]

    First of all, let it be clear that this verse holds many a hidden meaning which it is not possible to encompass, and under its apparent meanings lie hidden meanings. The meaning which God has disclosed to me is that this verse, taken together with the preceding and following verses, comprises a prophecy about the Promised Messiah and specifies the time of his appearance. The explanation is that the Promised Messiah is also Dhulqarnain, as the Arabic word qarn connotes a century and the Qur’anic verse indicates that the birth and advent of the Promised Messiah will cover two centuries. I have lived in two centuries according to every known calendar, be it Islamic, Christian or Bikramjiti. My birth and advent have not been confined to a single century, and in this sense I am Dhulqarnain. In some Ahadith too the Promised Messiah has been called Dhulqarnain in the same sense as I have just mentioned.

    The interpretation of the rest of the verse in the context of prophecy is that there are two major peoples who have been given the glad tiding of the Coming of the Promised Messiah, and who are the primary addressees of his mission. In these verses, God Almighty describes metaphorically that the Promised Messiah, who is Dhulqarnain, will encounter two peoples in the course of his journey. He will find a people sitting in the dark by an evil smelling pool of water, which is not fit for drinking, and is so full of stinking mud that it can no longer be described as water. These are the Christians who are in the dark and who, out of their own wrongdoing, have converted the Messianic spring into a pool of stinking mud.

    In the course of his second journey, the Promised Messiah, who is Dhulqarnain, came upon a people sitting in the blazing sun without any shelter to protect them. They get no light from the sun, except that their bodies are scorched by its blaze and their skins become dark. These are the Muslims, who, despite being blessed with the sun of Divine Unity, have not derived real benefit from it, but to be scorched by its blaze. In other words, they have lost the true beauty and true moral qualities of faith and have instead partaken of rancour, malice, fiery temper and beastliness.

    In this manner, Allah the Almighty has indicated that the Promised Messiah, who is Dhulqarnain, will appear at a time when the Christians will be in darkness, and stinking mud, which is called Hama’ in Arabic, will be their lot. The Muslims for their share will have only a dry belief in the Unity of God and they will suffer from the sunburns of bigotry and beastliness and no spiritual value shall remain unstained.

    Then the Promised Messiah, who is Dhulqarnain, will come across a people who will be suffering at the hands of Gog and Magog. These people will be deeply religious and pious by nature, and will seek the help of Dhulqarnain (the Promised Messiah) against the aggression of Gog and Magog. And he will erect a bright rampart for them, in other words, he will teach them such strong arguments in support of Islam as will finally repulse the attacks of Gog and Magog. He will wipe their tears, help them in every way and stand by them. These are the people who accept me.

    This is a grand prophecy which tells about my advent, my time and my Jama‘at. Blessed is he who reads these prophecies with care. Such prophecies are typical of the Holy Qur’an, whereby it tells about someone in the past, but its real purpose is to foretell the future. For instance, Surah Yusuf, which on the face of it is only a narrative, contains the hidden prophecy that as Josephas was initially looked down upon by his brothers but was made their chief in the end, the same would happen with the Quraish. They rejected the Holy Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) and expelled him from Mecca. But he who was rejected came to be their leader and their chief. (Lecture Lahore, Ruhani Khaza’in, vol. 20, pp. 199-200) 

  26. They would say to him: ‘O Dhul-Qarnain! Ya’juj and Ma’juj have filled the land with disorder. If you so please, let us collect a fund for you so that you may erect a barrier between them and us.’ He would say in reply: ‘The power God has given me is better than your funds, but if you be so inclined, you can help me according to your means so that I may erect a wall between you and them.’ That is, he would put forth such conclusive proofs and arguments that their enemies would not be left with any basis for criticism or objection against their religion. ‘Bring me slabs of iron so that their movement can be stopped’; that is, hold fast to my teachings and my arguments, fully adopt steadfastness, and build yourselves like unto a wall of iron to repel the enemy’s onslaught. ‘Then blow fire into the iron until it becomes like fire’; that is, feed the flames of love for God until you yourselves assume the complexion of the Divine (Barahin Ahmadiyah, Jilid V, halaman 152) 

  27. Wikipedia - Imperium Kolonial  2

  28. Kompas - Pengertian Kolonialisme dan Imperialisme. Penulis dan Editor: Serafica Gischa. 

  29. Grid - Termasuk Belanda, Berikut Negara yang Memiliki Kekuasaan dan Dinobatkan Sebagai Penjajah Terluas di Dunia  2 3 4 5

  30. Wikipedia - Daftar negara jajahan Imperium Britania