Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Dzikir Khoir Bapak (almarhum) Suripto Hadi Siswoyo

Muhammad Suripto Hadi Siswoyo

Nama lengkap almarhum adalah Muhammad Suripto Hadi Siswoyo. Beliau lahir di RT 04/02 Dusun Krucil, Ds. Winong, Kecamatan Bawang, Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia pada tanggal 14 April 1942 (versi lain 1944) [1]. Ayahanda beliau bernama Daryali sedangkan Ibunda beliau bernama Kartinah.

Pak Suripto sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari sebelum menikah. Beliau menjadi guru agama di Kementrian Agama. Kemudian beliau menikah dengan anggota LI di Madukara. [2]

Istri beliau bernama Titin Suprikhatin. Dalam pernikahannya, beliau mendapatkan 8 putra dan putri. Salah satunya adalah seorang mubalig yang bernama Mln. Irwan Habibullah. Putra putri yang hidup sampai dewasa ada 6 orang, terdiri lima (5) laki laki satu (1) perempuan.

Putra-putri bapak Suripto

Beberapa putra-putri almarhum bapak Suripto antara lain:

  1. Atun Nurul Hidayati, S.Pd.SD, seorang pegawai negeri sipil (PNS) guru SD di Banjarnegara, belum/dalam proses Musiah

  2. Ikhsan Hidayatullah, S.Pd.SD, seorang pegawai negeri sipil (PNS) PNS guru SD di Banjarnegara , Sudah Musi

  3. Arif Irsiyadi, A.Md.Kep., seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Kesehatan Bogor, Sudah Musi

  4. Afton Ridlowi, S.Pd.SD, bekerja Wiraswasta, sudah Musi

  5. Mln. Irwan Habibullah, mubaligh di Sembaban Kalimantan, Sudah Musi

  6. Zaenuda Ikhwanul Aziz, SH, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di BKN Pusat, sudah Musi

Almarhum juga mengasuh seorang anak dari antara saudara beliau yang yatim-piatu. Anak tersebut bernama Nita Hanifah. Alhamdulillah, saat ini ia sudah berkeluarga dan tinggal di Magelang.

Saudara Kandung pak Suripto

Saudara-saudara kandung almarhum bapak Suripto yaitu:

  1. Sarbinah, kakak perempuan, masih hidup

  2. Suwarni, adik perempuan, masih hidup

  3. Munjiah, adik perempuan, masih hidup

  4. Roliyah, adik perempuan masih hidup, Guru Madrasah Ahmadiyah

  5. H. Imam Maryono S,Pd.M.Pd, adik laki-laki, masih hidup, saat ini beliau menjabat sebagai Amirda Jateng 1 dan 2

  6. Mln. Nurhadi, adik laki-laki, masih hidup, saat ini beliau bertugas sebagai Mubaligh di Jemaat Banjarnegara

  7. Nurjanah, adik perempuan, Mantan Ketua LI Jemaat Bawang, beliau telah meninggal tahun 2018.

Pekerjaan dan Aktivitas

Pekerjaan terakhir beliau adalah PNS Guru Pendidikan Agama Islam yg sudah pensiun pada tahun 2002. Beliau juga merupakan salah satu aktivis PRAMUKA dan ketua LKMD/LMD desa Limbangan.

Riwayat Pekerjaan

  1. Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Agama (Depag) sebagai guru agama Islam di SD Seteng Wonosono sejak tahun 1962 hingga 1967.

  2. Mutasi dinas ke SDN Larangan, kecamatan Pagentan, Banjarnegara dari tahun 1968 hingga 1970

  3. Mutasi ke SDN Limbangan, kecamatan Madukara, Banjarnegara mulai tahun 1971 hingga 1987

  4. Ditugaskan di Kantor Urusan Agama Madukara, Banjarnegara mulai tahun 1987 hingga 1995

  5. Ditugaskan kembali sebagai guru agama Tsanawiyah (SMP) mulai tahun 1995 sampai pensiun bahkan setelah pensiun (2004) namun masih tetap diminta mengajar sampai tahun 2008

Riwayat pendidikan

  1. Sekolah Rakyat (setingkat SD) di Mantrianom, tamat tahun 1958

  2. Pendidikan Guru Agama Lengkap Muhammadiyah Banjarnegara, tamat tahun 1961

  3. Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) selama 4 tahun (D1). Lulus tahun 1964

  4. Kuliah di IAIN Purwokerto (namum tidak sampai lulus)

  5. Pendidikan Tinggi D3 lulus 2001

Itulah jenjang pendidikan yang telah ditempuh Pak Suripto sehingga beliau mendapatkan gelar Ahli Madya Pendidikan (A.Md.)

Kisah Baiat

Di tahun 1963, pak Suripto termasuk orang yang mengikuti baiat awal di Krucil. Beliau termasuk pemuda di Krucil yang baiat pertama [2]. Usia pak Suripto ketika itu sekira 21-an tahun. Pak Suripto berbaiat bersama orang tuanya, pak Daryali. Beliau sempat bertemu para awwalin pendiri di Jemaat Bawang-Krucil. [3]

Mln. Nurhadi menceritakan,

Di Bawang-Krucil terdapat seorang tokoh utama Jemaat yang bernama pak Rusydi (pak Basroil). [4] pak Rusydi ini kebetulan mendapatkan warisan Masjid An-Nur dari orang tuanya sehingga beliau menjadi tokoh dan Imam di Krucil.

Pak Mln. Mian Abdul Hayye, seorang mubalig Markazi yang datang ke Krucil. Beliau sering mengadakan Tarbiyat di depan rumah saya (Mln. Nurhadi). Para pemuda yang hadir dalam tarbiyat/pengajian tersebut diantaranya adalah pak Suripto, pak Sukarjo dan pak Basri. Banyak mubalig-mubalig yang datang silih berganti membina Jemaat Bawang-Krucil. [2]

Bapak Suripto resmi menjadi anggota Jemaat Ahmadiyah. Beliau mendapatkan nomer anggota 44540. Lebih lanjut beliau juga menggabungkan diri dalam silsilah pengorbanan yang dinamakan Al-Wasiyat. Beliau mendapatkan nomer wasiyat 66477. Beliau telah mewasiyatkan hartanya demi agama Rp. 26.703.120. Dan wasiyat itu sudah lunas ditunaikan pada tanggal 12 Juni 2020 lalu.

Tempat Tinggal

Dari Krucil, beliau pindah ke Limbangan, kecamatan Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia sekira tahun 1968. Disanalah tempat tinggal beliau hingga wafat pada tanggal 24 Mei 2021.

Menjadi Imam Masjid Desa

Di awal tahun 1970-an beliau terbiasa bertabligh di sekitar tempat tinggal, yakni di Desa Limbangan. Sebelum berdiri Masjid Desa, sholat Jumat, Shalat Tarawih dan semua kegiatan biasa dilaksanakan di Rumah (almarhum) bapak Suripto. Ketika itu anak-anak masih kecil, baru mempunyai tiga anak [5]. Ketika itu bapak (almarhum) Mln. Mohammad Ahmad sering menjadi Imam dan Khotib Jumat.

Di desa Limbangan beliau memprakarsai berdirinya Masjid desa yang didirikan di atas tanah desa. Belasan tahun beliau menjadi Imam Masjid desa.

Mendirikan Masjid Jemaat Madukara

Di tahun 1970-an, Jemaat hanya ada keluarga bapak Suripto di desa Limbangan. Kemudian beberapa penduduk asli desa Limbangan ada yang menyatakan baiat, diantaranya adalah keluarga bapak Kartosuwuryo dan bapak Raji Ahmad yang baiat di tahun 1972. [6]

Awalnya pak Raji selalu menemani pak Suripto dalam pengajian-pengajian kelompok. Satu saat pak Raji diberi buku Ajaranku oleh pak Suripto. Setelah meresapi dan merasa mantap, maka beliau berbaiat di tahun 1972 bersama pak Kartosuwiryo. [6]

Warga desa Limbangan yang lain yang menerima kebenaran Jemaat adalah keluarga bapak Wirya Pawira [7] yang baiat di akhir th 80-an. Setelah mereka baiat, maka dibentuklah Jemaat Madukara.

Satu waktu beliau mendirikan masjid atas nama Jemaat di samping rumah dari tanah yang dibeli dari donatur Ahmadi. Dengan karunia Allah, di tahun 1985 masjid Jemaat tersebut sudah bisa dipakai untuk sholat berjamaah. Beliau menjadi Imam Masjid Jemaat tersebut. Jamaah yang hadir 80% adalah ghair Ahmadi. Jumlah jamaah ketika sholat jumat bisa sekira 50 hingga 60-an orang. Jumlah para mubayyi’in mulai meningkat dengan adanya masjid ini sebagai sarana tablig.

Kisah Pertabligan

Ibu Titin Suprikhatin, istri almarhum menceritakan,

Ibu Titin bersama grup dari Jemaat Krucil pernah ikut mentarbiyati para anggota Lajnah Imaillah di Dusun Jengkol hasil dari pertablgan almarhum bapak Suripto setiap Jumat sekali. Hal itu dilakukan selama beberapa bulan. Setelah itu dilanjutkan ke Dusun Jawaran, Dusun Lengkong dan Desa Bendungan.

Perjalanan itu dilewati melalui Dusun Tripis (Desa Watumalang, Wonosobo). Pernah juga melalui Wonosobo, Desa Binangun dilanjutkan dengan jalan kaki karena ketika itu jalan belum bisa dilalui kendaraan.

Ketika zaman bu Uun (sebagai sadr LI), di tengah perjalanan untuk membimbing para mubayyiin baru, ia menemukan jalan longsor. Ketika itu ia berjalan sendiri. Hampir putus asa tidak melewati jalan tersebut. Tapi ia memberanikan diri untuk melewati jalan yang putus itu. Ia melempar tas yang dibawa lalu merangkak melalui jalur longsor itu. Karena pakaian juga ikut kotor, setelah melalui jalan longsor, ia membersihkan diri.

Ketika pak Suripto melakukan tablig, bu Titin pun ikut berpartisipasi dengan berjalan kaki melewati Desa Sokaraja (Pagentan, Banjarnegara), Desa Tripis (Watumalang, Wonosobo). Pernah ketika jembatan sedang direnovasi, mereka berjalan lewat pematang-pematang sawah dan berakhir di Dusun Jawaran (Desa Pasuruan, Watumalang, Wonosobo). Karena perjalana itu kaki bu Titin bengkak karena berjalan kaki sekira 30 km pulang-pergi.

Dua hari setelah itu, kembali lagi mengadakan perjalanan menuju Dusun Bendungan (Desa Mutisari, Watumalang, Wonosobo). [5]

Pertabligan Ke Jengkol

Kemudian di awal tahun 1990-an pertablighan mulai diarahkan keluar desa Limbangan, yaitu ke dusun Jengkol, desa Karangnangka, kabupaten Banjarnegara. Disini ada kekuarga besar bapak Arja Pawira, salah satu Imam Mushola di dusun Jengkol. Perkenalan dg keluarga ini adalah melalui bapak Pono Edi Soemarga, BA., ketua Jemaat Banjarnegara kala itu. Berkali-kali diadakan kunjungan tabligh di dusun ini sehingga bapak Arja Prawira beserta keluarga besarnya baiat bersama. Mereka ada sekitar 11 orang.

Mendapatkan Interograsi dari Aparat

Sekira di tahun 1991 diadakanlah acara yang cukup besar –jika tidak keliru adalah acara Maulid Nabi (saw)– di satu kelompok mubayyi’in baru. Ketika acara dimulai, hadirlah Muspika Pagentan. Di tengah acara, pak Pono Edi Soemargo, pak Suripto HS, Pak Arja dan saya, Ikhsan Hidayatullah (putera pak Suripto HS) dikumpulkan di sebuah rumah kemudian diintrogasi oleh Polisi. Ketika diintrogasi polisi, Iksan Hidayatullah berusaha untuk merekamnya namun alat rekamnya disita.

Keesokan harinya, keempat orang tersebut dipanggil kembali ke kantor Polisi Pagentan dan diintrogasi di ruang berbeda. Hampir lima jam kami secara bergilir untuk diintrogasi. Tiga orang yakni pak Suripto pak Pono dan Ikhsan diijinkan pulang. Tersisa satu orang, yaitu pak Arja Pawira yang belum boleh untuk pulang. Kami bertiga segera menuju ke dusun jengkol untuk melaporkan hal kejadian itu kepada istri pak Arja agar tetap tenang. Akan tetapi ketika kami baru turun beberapa langkah dari kendaraan –Allohu Akbar– ternyata pak Arja juga turun dari mobil lain di belakang kami, jadi kami tenang dan bisa pulang. Setelah kejadian itu berdirilah Jemaat Jengkol dengan jumlah anggota yang berjumlah ratusan jiwa.

Pertabligan ke Dusun Jawaran

Karena insiden interogasi di Pagentan bapak Suripto kemudian mengalihkan arah tabligh ke daerah lain yaitu dusun Jawaran, Kecamatan Watumalang, kabupaten Wonosobo. Di awal tahun 1991, terdapat kerabat dari seorang mubayyi’iin baru asal dusun Jengkol. Ia bernama bapak Karto. Kebetulan ia adalah seorang Imam sebuah Mushola. Setelah beberapa kali ditablighi, bapak Karto dan bapak Hadi Wiratno serta beberapa anggota Jamaahnya menyatakan baiat kepada Imam Mahdi.

Kelompok mubayyi’iin baru ini terus-menerus dibina. Bapak Suripto Seminggu sekali mengadakan kujungan beserta putranya, Ikhsan. Mereka sering bermalam satu atau dua malam di daerah ini. Hal ini membuahkan hasil, di Jawaran ini ada lebih dari 10 keluarga menyatakan baiat, yakni sekira 40 sampai 50-an mubayiin baru. Dari snilah berdiri Jemaat Jawaran.

Di Jawaran terdapat penentangan dari pihak tertentu, seperti dari Kepala KUA saat itu. Ia melarang pak Suripto mengisi pengajian di seluruh kecamatan Watumalang. Namun masalah tersebut kemudian bisa diatasi dengan baik.

Pak Arja pawira, salah seorang yang baiat di Dusun Jengkol menceritakan,

Pada tahun 1992 akhir pak suripto hampir setiap hari datang ke Jengkol untuk mengajak saya untuk tabligh ke Dusun Jawaran. Pak Suripto sepulang mengajar sore, sekira pukul tiga, beliau datang ke Dusun Jengkol untuk sholat Ashar, Magrib dan Isya. Setelah selesai shalat Isya baru berangkat tabligh ke jawarandengan ditemani saya (Pak Arja pawira), pak siswo dan pak kasanto sebagai penunjuk jalan. Perjalanan tablig ditempuh dengan berjalan kaki dari Dusun Jengkol ke Jawaran karena pada waktu itu belum ada kendaraan. Hal itu dilakukan setiap hari. Kami Berangkat setelah Isya dan pulang pukul satu atau pukul dua dini hari. [8]

Mln. Dian Khaeruddin menyampaikan,

Saya termasuk orang yang paling sering mengawal pak Suripto untuk tablig di masa-masa akhir. Ketika tahun 2016 di Jawaran, pertabligan dilakukan oleh dai setempat. Mereka yang mengakrabkan diri dengan simpatisan. Setelah mereka mulai merasa yakin dengan Jemaat, maka kami kenalkan dengan mbah Suripto. Ada sekitar 50-an orang yang baiat dari 13 kepala keluarga.

Berdasarkan kesaksian dari para dai di Jawaran, semangat (kejemaatan) para mubayyi’iin bangkit ketika ada pak Suripto diantara mereka. Ini merupakan kelebihan beliau. [9]

Mln. Hendra Muslih menceritakan,

Saya pernah ikut bertabligh dengan Bapak Suripto ke daerah Jawaran. Beliau membawa tas besar yang di dalamnya berisi brosur-brosur, formulir baiat dan syarat-syarat baiat. Tidak ketinggalan juga foto Imam Mahdi (as) dan para khalifahnya. Beliau bertabligh dengan bahasa Jawa yang terkadang saya sendiri tidak mengerti secara keseluruhan, namun saya sangat menikmati hal itu. Terutama saat beliau menyampaikan kawih (tembang) jawa tentang tanda-tanda akhir zaman sampai akhirnya orang yang ditablighi bersedia untuk baiat.

Saya Pernah menginap di rumah beliau di Madukara. Saya penasaran apa resepnya sehingga beliau tetap bugar dan sehat. Jawabannya adalah sebelum subuh dan minum air putih, makan walaupun hanya satu buah pisang, Insya Allah sehat.

Pertabligan ke Dusun Lengkong

Beberapa bulan fokus bertabligh dan membina mubayiin baru di dusun Jawaran, kemudian pak Suripto memutuskan membuka daerah pertaligan baru, yaitu ke Dusun Lengkong, Desa Binanngun, Kec. Watumalang, Kab. Wonosobo. Kebetulan bapak Karto (mubayyi’in) kenal dengan bapak H. Musholim, salah satu Imam Masjid di Lengkong. Dua hingga tiga bulan bapak Suripto, bapak Karto dan ikhsan terus mengunjungi daerah ini untuk bertabligh. Keluarga besar bapak H. Musholim bersama sekitar empat keluarga lainya akhirnya menyatakan baiat.

Pembinaan dan pertablighan terus dilakukan dalam beberapa bulan. Hampir setiap minggu beliau bersama tim bermalam sehari hingga dua hari di dusun Lengkong. Setelah itu bapak Suripto dan bapak H. Musholim memprogramkan untuk mengadakan baiat masal di madjid Besar Desa Lengkong. Koordinasi dengan Mubaligh Wilayah ketika itu, Mln. Mirajudin Shd dan Pengurus Besar senatiasa dilakukan. Pada suatu hari bada sholat Jumat di awal tahun 1993, diadakan baiat masal yang dipimpin langsung oleh Naib Amir Jemaat Ahmadiyah, bapak Kolonel Lius Ma’ala. Ketika itu sekira 400 orang menyatakan baiat.

Berkat kunjungan yang rutin, Bapak Kolonel Lius Ma’ala Kali kedua memimpin baiat masal dilakukan di desa Gelangan ba’da Maghrib di hari yang sama. Di desa ini seluruh jamaah masjid menyatakan baiat [10]. Dari sinilah berdiri Jemaat Lengkong.

Pertabligan ke Desa Bendungan

Setelah berhasil melalui baiat masal tersebut, kemudian pertablighan diarahkan ke daerah lain. Ada ke Arah Desa Bendungan, berkali kali bapak Suripto mengunjungi dan membina daerah ini, setelah banyak yang baiat, juga pada akhirnya berdirilah Jemaat Bendungan.

Pertabligan ke Desa Kasmaran dan Wonosari

Bapak Mln. Nurhadi mendapatkan info dari mubayin baru bahwa ada anggota Gerakan Ahmadiyah Indonesia atau Ahmadiyah Lahore di Desa kasmaran, kecamatan Pagentan. Setelah itu menjadi sering untuk dikunjungi bersama (almarhum) bapak Suripto sehingga banyak yang menyatakan baiat. Tokohnya saat itu adalah (almarhum) bapak Mohamad Hakim.

Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Begitu yang yang dilakukan bapak Suripto ketika bertablig ke Desa Kasmaran. Bersamaan dengan tabligh ke arah Desa Kasmaran juga dilakukan tabligh ke desa Wonosari. Lambat-laun banyak yang menyatakan baiat dan berdirilah Jemaat Kasmaran juga Jemaat Wonosari.

Jumlah mubaligh pun terus ditambah untuk kantong-kantong mubaligh tersebut, Dan Bapak Suripto bertabligh bersama bapak-bapak mubaligh tersebut. Salah-satunya adalah bapak Mln. Sajid Ahmad Sutikno yang sering mendampingi kegiatan tabligh bapak Suripto.

Kegiatan tabligh terus dilakukan ke arah Desa Wonoroto dan daerah daerah lain di kabupaten Wonosobo.

Kesan terhadap Pribadi Bapak Suripto

Bu Titin Suprikhatin, Istri almarhum menceritakan ketika ditanya, apa (rahasia sukses) pak Suripto dalam mendidik anak-anaknya sehingga bisa sukses, bu Titin menceritakan pandangannya,

Pertama, bapak keras dalam mendidik. Keras di sini adalah anak harus bisa baca Alquran, harus bisa Shalat, melatih anak-anaknya ke Langgar (Musholla milik desa). Ketika ke masjid, anak-anak harus ikut semua. Ada yang sampai digendong.

(Kedua,) Siang-malam bapak (Suripto) mendoakan anak-anaknya agar menjadi anak yang sholeh-sholehah, menjadi Jemaat yang mukhlis.

(Ketiga,) Bapak Suripto semangat dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan Jemaat, semangat dalam bertablig, mengembangkan Jemaat dll sehingga dengan jerih payah itu –hanya berkat karunia Allah– anak-anak menjadi berhasil.

(Keempat,) Kami bedua dengan bapak Suripto tiap malam berdoa dalam Tahajjud, “Yaa Allah Yang Maha Kaya dan Maha Kuasa berikanlah kami anak-anak yang shaleh, anak yang taat kepada agama dan Jemaat, semangat dalam Jemaat, dan kami juga berdoa untuk anak-cucu keturunan-keturunan selanjutnya juga menjadi keturunan yang sholeh-shalehah walaupun kami sudah tidak bisa melihat mereka lagi. Bagi anak-anak yang sedang bertugas atau menjalankan bisnis semoga diberikan keselamatan dan kelancaran”

(Kelima,) Kami biasa puasa sunnah Senin-Kamis dan berdoa agar hidup kami selamat dunia-akhirat untuk anak-anak semua dan Jemaat semuanya [5].

Iksan Hidayatullah, putra pak Suripto menyampaikan bahwa almarhum terbiasa mendidik keluarganya dengan cara:

Mln. Irwan Habibullah, salah satu putra pak Suripto menceritakan,

Sepengetahuan saya dari sejak kecil, pak Suripto adalah sosok yang ahli tahajjud. Setiap malam tidak ada hari tanpa tahajjud. Awalnya beliau sering tahajjud di masjid (Jemaat) yang tempatnya berdampingan dengan rumah. Seorang muallim memberikan nasehat bahwa hendaknya tahajjud dilakukan di rumah saja agar keluarga, termasuk anak-anak bisa melihat. Semenjak itu, beliau mulai tahajjud di rumah. Semenjak itu sebelum beliau tahajjud, beliau keliling mengetuk pintu kamar tidur anak-anaknya. Setelah shalat beberapa rakaat, beliau kembali mengetuk pintu kamar tidur anak-anaknya yang belum bangun untuk tahajjud. Hal ini terus dilakukan hingga tiba waktu shubuh. Hal ini dilakukan setiap hari. Beliau sosok yang sangat mudah untuk bangun Tahajjud.

Sekira enam bulan lalu, pak Suripto bercerita kepada saya sebagai seorang anak. Ketika itu ada salah seorang warga yang tanya, “Apa rahasia kesuksesan dalam mendidik anak-anak?” Beliau menjawab, “Sebenarnya karena saya shalat Tahajjud dan berdoa.” Keberhasilan tablig dan tarbiyat itu juga karena beliau tidak pernah meninggalkan Tahajjud.

Saya melihat pak Suripto itu bukan hanya tokoh dalam Jemaat, tetapi beliau juga adalah ulama untuk masyarakat umum. Bapak (Suripto) pernah cerita bahwa di tahun 1960-an masyarakat Limbangan itu tahu agama Islam itu ya dari bapak (Suripto).

Bapak (Suripto) pernah cerita juga bahwa ada seorang penentang Jemaat yang datang ke Desa Limbangan. Nah, yang membela pak Suripto ya masyarakat Limbangan. Bapak Suripto biasa diminta berceramah pidato di masyarakat desa dalam rangka Isra’ Mi’raj, maulid Nabi (saw), Nuzulul Quran, Agustusan dan lain-lain. Oleh karena itu, masyarakat Limbangan sangat memuliakan pak Suripto. Saya menganggap pak Suripto itu ulama untuk masyarakat dan ulama di dalam Jemaat. kami sebagai anak-anak sangat bangga terhadap beliau. Putra-putrinya semuanya aktif di dalam jemaat, bahkan mereka menjadi pengurus. [3]

Mln. Nurhadi mengungkapkan pribadi pak Suripto,

Pak Suripto adalah orang yang mempunyai semangat tinggi dalam pengkhidmatan. Beliau semangat dalam bertablig, semangat beribadah, yang menurut saya luar biasa. Dalam perjalanan seperti apapun, pasti tengah malam beliau mendirikan Tahajjud. Dan yang sangat sering, hari Senin Kamis beliau berpuasa. Ketika berpuasa, beliau membawa makanan agar ketika tiba di tempat tablig itu tidak merepotkan tuan rumah. Jadi antara ibadah dan tablig, beliau sangat luar biasa semangatnya. [2]

Mln. Basyarat Ahmad Sanusi menulis,

Agustus Tahun 2008 saya mutasi dari Jemaat Tawangmangu ke Jemaat Banjarnegara sebuah hal yang lumrah dalam tugas-tugas kemubalighan, namun kepindahan saya ke Banjarnegara terasa istimewa semenjak bertemu dengan Pak Ripto, sapaan akrab Bapak Suripto Hadi Siswoyo. Saat bertemu saya pertama kali beliau sudah berusia 64 tahun, namun kelihatan gagah, badannya yang tinggi besar, senang berjanggut dan selalu berpenampilan Islami nan rapi layaknya pegawai KUA, ternyata memang beliau adalah pensiunan guru Agama yang sangat menyukai kegiatan Pramuka. Kerut-kerut di wajahnya, dengan tutur kata yang santun berwibawa menggambarkan ia sosok pekerja keras yang tangguh dan penyabar.

Terasa istimewa berjumpa dengannya karena kiprahnya dalam pengkhidmatan kepada jemaat terutama dalam pertablighan sangat luar biasa, istimewa dari sifatnya terkait hal ini ia sangat hormat kepada mubaligh, sekalipun lebih muda darinya. Beliau memiliki jargon pantang pulang sebelum ada yang bai’at ia buktikan dalam doa dan karyanya, sehingga di daerah pertablighan yang meliputi dua kabupaten, yaitu Banjarnegara dan Wonosobo telah lahir 10 jemaat lokal yang tumbuh dan berkembang hingga kini dengan anggota hampir menyentuh angka seribuan.

Disamping ada 10 cabang yang telah berdiri, juga ada beberapa kelompok jemaat yang telah terbina namun belum menjadi cabang, seperti kelompok Larangan dan Kelompok Karangkobar masih menginduk ke cabang Pagentan-Kasmaran.

Sepuluh cabang Jemaat telah berdiri atas kerja keras pak Ripto, tentu saja mengundang rasa penasaran saya, apa sebetulnya kunci sukses beliau dalam bertabligh dan selama 9 tahun bekerjasama bertabligh dengan beliau (2008-2017) saya dapat menyimpulkan ada 6 kunci keberhasilan peratablighan beliau:

  1. Mengolah Kerohanian : Pak Suripto senantiasa shalat tepat waktu, tidak pernah meninggalkan puasa Senin-Kamis selain sakit, dawan shalat tahajud (dimanapun berada, secapek apapun beliau tidak pernah tinggalkan tahajud). Setelah bertabligh beliau selalu mendoakan sasaran tabligh agar Allah berkenan mebukakan hidayah.

  2. Memahami Kultur Budaya : dengan basic sebagai guru agama beliau sangat paham psikologi orang, kecenderungan setiap objek tabligh beliau pelajari dengan seksama, pitutur-pitutur jawa beliau hafal atau beliau gubah dalam senandung syair. Sehingga objek tabligh terangkat budayanya dan tertarik oleh nasehat-nasehat dalam syair-syair beliau.

  3. Menyiapkan Sarana Tabligh : kemanapun beliau pergi bertabligh selalu membawa tas besar berisi, buku, brosur dan alat-alat peraga tabligh seperti photo-photo Masih Mau’ud as dan para khalifahnya. Belaiu tunjukan kepada sasaran tabligh dengan cara yang sangat meyakinkan, sehingga mereka menemukan bukti kebenaran.

  4. Menjalin Hubungan Personal yang baik dengan sasaran tabligh : belaiu selalu rapi, ramah, dan hormat kepada setiap orang. Sekalipun dengan petani yang paling sederhana sekalipun beliau selalu memeluknya dengan hangat.

  5. Menerapkan Multi Level Marketing : kelanjutan dari menjalin hubungan personal yang baik dengan sasaran tabligh didapatkan inersircle objek tabligh, siapa saudaranya, siapa teman dekatnya dan dimana mereka sering berkumpul, dari situlah kemudian pertablighan terus merayap berlanjut tanpa henti.

  6. Diskusi dan Evaluasi : kebiasaan beliau setelah bertabligh selalu mendiskusikan perkembangan yang terjadi dengan para mubaligh, mereview dalil-dalil yang disampaikan atau mengevaluasi cara dan alat peraga yang disampaikan cocok atau tidak dengan sasaran tabligh. Dengan cara ini beliau terus belajar lebih baik lagi dan lebih baik lagi.

Pertablighan di daerah Wonosobo berada di kaki Gunung Dieng yang berudara dingin, di usianya yang sudah sepuh pak Suripto selalu menunjukan ghairah bertabligh yang sangat tinggi, seperti tidak ada capeknya padahal dari rumahnya di Limbangan menuju lokasi pertablighan berjarak lebih dari 70 KM dengan medan jalan yang ekstrim. Beliau tidak pernah mendahului berhenti mengobrol, selalu melayani siapapun yang berdiskusi dengan beliau hingga larut malam, ketika di medan tabligh beliau bisa tidur di mana saja, tanpa alas kasur sekalipun. Beliau juga bisa menyesuaikan makan seadanya. Namanya tabligh di pedesaan kadang-kadang orang-orang di sana menyuguhkan busil (sejens rebusan talas), makan nasi jagung dengan ikan asin bakar, dan makanan-makanan lain beliau selalu berusaha menyantap yang dihidangkan tuan rumah secara menyenangkan. Kapan saja saya berjumpa pak Suripto pasti yang dibicarakan adalah tabligh, nampaknya di kepala beliau tersimpan ribuan rencana tabligh, sekali waktu ketika kami istirahat dari menuruni jalan bebatuan Tripis. Beristirahat karena ban motor kami bocor, disela-sela perbaikan ban bocor itu beliau berujar kepada saya, “ saya ingin menghabiskan sisa umur saya untuk terus bertabligh, bertabligh adalah nafas hidup saya, bertabligh adalah sumber kebahagiaan saya, pak Sanusi bisa lihat saya jarang sekali sakit itu karena faedah dari tabligh, pungkasnya. 12

Pak Raji menyebutkan bahwa pak Suripto adalah orang yang mudah bergaul dengan masyarakat desa Limbangan. Beliau pribadi yang baik. Pertabligan beliau maju sekali, banyak yang baiat melalui tangan beliau. [6]

Beliau pribadi yang selalu mengaitkan diri dengan khilafat. Beliau pernah berkirim surat dengan Khalifah III (rh) [13]

Mln. Mirajuddin, Shd. menyampaikan bahwa pak Suripto adalah seorang da’i ilallah yg sukses [14].

Mln. Sajid Ahmad Sutikno menyampaikan bahwa dirinya pernah bertugas di wilayah Banjarnegara dan Wonosobo selama 10 tahun. Ia sering bertablig bersama pak Suripto. Ia menyampaikan bahwa pak Suripto adalah seorang yang mulia, baik dan pejuang pertablighan yang sejati. Banyak orang yang baiat berkat pertablighan beliau. Sulit rasanya mencari padanannya. Beliau orang yang begitu gila dalam bertabligh. Layak untuk ditauladani. Semangat beliau tidak pernah luntur dalam bertablig. Bisa dikatakan, setelah pensiun hingga sakit parahnya, sebagian besar waktunya digunakan untuk bertabligh. Meskipun dalam kesulitan keuangan, namun beliau tetap berangkat bertabligh. Beliau selalu membawa dua tas besar yang berat, dan satu tas kecil berisi buku, brosur dan peraga tabligh. Kebiasaan beliau, jika berangkat bertabligh adalah selalu membawa bekal dari rumah berupa Busil/umbi talas, ubi dan pisang rebus yang dimasukkan kedalam Tas. Beliau dekat kepada siapapun. Ketika beliau menginap di rumah misi, kebiasaan sebelum beliau tahajud adalah mandi sekira jam 2 pagi. Tabligh beliau pernah hingga larut malam, bahkan sering juga sampai jam tiga pagi. Saya dan pak Suripto rela menginap di rumah-rumah warga kampung yang jauh dari kota. Beliau pernah diusir warga, diancam akan dilukai, disidang oleh pamong desa dan kyai setempat. Tidak jarang kami terjatuh dari motor di jalan tanjakan, terjal, serta rusak. Pernah pada suatu hari karena motor tidak kuat menanjak, beliau loncat dan beliau mendorong dari bawah. Saya menjadi saksi bahwa bapak Suripto adalah seorang yang rajin menablighkan Islam Ahmadiyah. [15].

Mln. Dian Khaeruddin menyampaikan,

Pak Suripto adalah pribadi yang kharismatik. Beliau tenang ketika bertablig. [9]

Mln. Ridwan Buton, Dosen Al-Qur’an & Bahasa Arab Jamiah Ahmadiyah Indonesia menyampaikan,

Dalam pandangan saya AlMarhum Bapak Suripto adalah figur yang tenang dan berkharisma serta penuh wibawa.

Mln. Muhammad Ahmad Hery Yanto menulis,

Alhamdulillah saya mempunyai kenangan bersama almarhum tatkala PKL jamiah di tahun 2003 di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Banjarnegara dan kabupaten Temanggung selama satu bulan. kami keliling di beberapa cabang. Saat kunjungan di cabang Madukara bersama Mln. Ismail Firdaus (satu angkatan XI), kami tinggal di rumah almarhum hampir selama dua minggu. Bapak Suripto bersama istri mengkhidmati kami (yang saat itu masih sebagai mahasiswa Jamiah) dengan tulus dan ikhlas. Beliau berbagi pengalaman-pengalaman tabligh. Beliau mengantarkan kami silaturahmi ke kepala Desa dan beberapa aparat desa. Beliau juga mengajak kami tapak tilas tabligh beliau dengan berjalan kaki menelusuri kali tulis (sungai) yang jaraknya lumayan jauh. Kami mengira jaraknya mencapai puluhan kilo. Setiap bertemu seseorang, beliau selalu mengucap salam dan menyapa tanpa mengenal lelah. Bagi saya pribadi, ini adalah guru dan pengalaman yang sangat berharga.

Pak Arja Pawira, menyampaikan kesannya terhadap pak Suripto,

Pak ripto adalah sosok yang gigih dan tak kenal lelah dalam bertabligh. Beliau tidak pernah tersinggung walaupun ada ejekan, mungkin hinaan bahkan ppenderitaan. Pernah suatu waktu kami (pak Arja, pak Suripto dan pak Sis) berangkat untuk tabligh pagi-pagi. Kami dari jengkol sarapan terlebih dulu kemudian berangkat tablig. Singkat cerita, dalam bertabligh tersebut tidak ada satu orang pun yang menyuguhi makanan dll. Jadi seharian dari pagi hingga malam, kami menahan lapar. Tapi karena kegigihan dan mau menahan segala penderitaan, ejekan dll, pak Suripto berhasil membaiatkan banyak orang. Bukan hanya di Dusun Jengkol, tetapi juga di Jawaran, Lengkong, Bendungan, Wonosari dll. [8]

Mln. Ahmad Suparja Hidayat, mubda Jateng-2 menceritakan,

Saya mengenal dekat almarhum hanya tiga-setengah bulan belakangan ini. Saya merasa nyaman ketika berbincang-bincang dengan beliau ketika beliau menceritakan pengalaman-pengalaman tabligh yang sangat menyentuh hati.

Beliau seorang Da’i pemberani, tak pernah merasa takut ketika mendapat berbagai ancaman dari orang-orang yang menteror dan mengintimidasi beliau. Beliau seorang sosok yang mempunyai magnet/daya tarik sehingga pengalaman-pengalaman tabligh yang beliau ceritakan sangat menarik dan menyentuh hati sehingga timbul keinginan ingin menjadi seperti beliau. Beliau sosok yang penyabar. Ketika saya menjenguk beliau beberapa hari sebelum kewafatannya, kondisi beliau sangat drop secara drastis. Sambil berbaring di tempat tidur beliau menghadapinya dengan penuh kesabaran dan sama-sekali tidak mengaduh apalagi mengeluh. Sungguh luar biasa sabar dan tabahnya almarhum. [16]

Mln. Nasiruddin Ahmadi, Mubda Jateng-1 menceritakan,

Disisi lain, saya mengenal pribadi beliau adalah seorang sosok Ayah, Ahmadi yang lembut, ulet, tidak mudah menyerah dalam mencapai tujuan, semangat, bijaksana, disiplin dan tegas dalam mendidik putra-putrinya agar selalu berada dilingkungan Jemaat. Dan ini terbukti, seluruh putra-putri H. Suripto menjadi orang-orang yang berhasil dunia dan akhirat nya. Selain berhasil dalam bidang Pertabligan beliau juga sukses dalam mendidik keluarga. Anak keturunan beliau hampir Semuanya yang menjadi pengurus Jemaat, dan sangat aktif didalam kejemaatannya. Semoga kita bisa meniru apa yang sudah dilakukan oleh Bapak Haji Suripto. [17]

Ada satu kesaksian dari salah satu warga Limbangan yang bernama bapak Suradi [18]. Ia dikenal sebagai tokoh kejawen yang sangat simpati terhadap Jemaat. Ia menceritakan bahwa di tahun 2002 atau 2003 bapak Kartasentana [19] menyebutkan,

“Sing dematna wong sing adem ora gemrungsung mesjid kidul”

Bapak Suradi mengaku bahwa ia mendapatkan ‘suara’ pada tanggal 23-Mei-2021,

“Wringin ijo ninggal” – artinya “Pohon beringin (pengayom masyarakat desa) telah meninggal”

Bapak Suradi juga menyatakan,

“Mbah Ripto adalah termasuk guru (spiritual) saya. (Setelah pak Ripto meninggal,) kewibawaan desa luntur. Harus membangun bibit baru lagi.” [wa_iksan_hidayatullah_20210603]

Pengkhidmatan dalam Jemaat

01. Sebagai Dai

Pengkhidmatan utama bapak Suripto adalah seorang dai Jemaat Ahmadiyah. Beliau mampu menyampaikan kebenaran Jemaat melalui syair-syair berbahasa Jawa. Sebagai Dai, Beliau berhasil membaiatkan hingga ribuan orang.

02. Sebagai Ketua Cabang

Dahulu kala, Jemaat Bawang-Krucil menjadi pusat dari beberapa ranting, yaitu: Banjarnegara dan Madukara. Ketika Madukara masih ranting sampai beberapa periode, pak Suripto terus menjadi ketua [2]. Setelah banyak orang baiat, dibentuklah Madukara menjadi cabang.

Mln. Irwan Habibullah, putra pak Suripto menceritakan,

Di tahun 2018, bapak Suripto pernah bercerita bahwa beliau menjadi ketua Jemaat sejak 1983-sekarang (2018). Setelah itu karena beliau sdh melemah fisiknya dan untuk regenerasi maka ketua dijabat oleh mas Afton, putranya [20].

03. Seorang Qadhi di Dewan Qodho

Selain itu, beliau juga berkhidmat sebagai salah satu Qoodhi dalam Dewan Qodho Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Beliau diterima oleh Huzur V (atba) sebagai anggota dewan Qodho mulai tahun 2016 hingga beliau wafat [21].

Mln. Isa Mujahid Islam menceritakan,

Tanggal 11-Juni-2019 ada satu keluarga yang sudah sepakat untuk bercerai. Mereka sudah melakukan mediasi melalui saya sebagai mubalig lokal dengan menghadirkan beberapa dari keluarga besar mereka. Setelah dilakukan mediasi malah tidak membuahkan hasil yang baik. Mereka tetap memutuskan untuk bercerai. Di akhir pertemuan, saya sampaikan bahwa sebagai anggota Jemaat yang taat, jika seorang anggota memang harus bercerai, maka prosesnya harus melalui Dewan Qadha terlebih dahulu.

Karena di wilayah saya bertugas terdapat pak Suritpo Hadi Siswoyo sebagai salah satu Qadhi dalam jajaran Dewan Qadha, maka saya putuskan untuk meminta bantuan beliau untuk menyelesaikan permasalahan ini. Dengan karunia Allah Ta’ala, pada tanggal 13-Juni-2019 bapak Suripto Hadi Siswoyo bersedia datang jauh-jauh dari Madukara untuk menjadi mediator di tempat tugas saya. Dengan bahasa beliau yang tenang dan khas, mulailah beliau memberikan nasehat-nasehat kepada mereka dengan bahasa yang halus dan jelas.

Seperti panah yang menancap tepat pada sasaran. Semua akar masalah mereka keluarkan dengan mudahnya. Keduanya tersadar dan bersedia melakukan ishlah atau perbaikan dalam keluarga. kemudian mereka berjanji akan saling memahami dan lebih saling pengertian satu sama lain. Inilah kelebihan pak Suripto yang mampu meluluhkan hati manusia dengan mudahnya. Acara ditutup dengan doa yang dihiasi dengan tetesan air mata semua pihak. Begitu indah dan syahdunya suasana kala itu. [22]

Mubayyi’in melalui tangan Beliau

Mln. Irwan Habibullah dan Iksan Hidayatullah, keduanya putra pak Suripto. Mereka menceritakan,

Sekira satu tahun lalu bapak Suripto pernah menyampaikan kepada saya melalui telpon bahwa sebenarnya orang yang pernah menyatakan baiat (melalui tangan bapak Suripto) itu bisa mencapai 6.000 orang. Akan tetapi manusia, sebagian ada yang menghilang dengan berbagai macam sebab. Jadi kalau bapak Suripto ditanya bapak Suripto biasa menjawab, “(yang pernah baiat di tangan saya ada) sekitar 3.000 orang.” [23] [24]

Mln. Nurhadi menceritakan,

Mulai bulan Januari 1994, saya bertugas di Jawa Tengah. Waktu itu pak Ripto sudah berhasil membaiatkan di Dusun Jengkol dan Jawaran. Pada saat itu ada sekira 150 orang. Di Jawaran lebih banyak yang baiat, yaitu sekira 300-an jiwa lebih. Ketika itu saya membina Jemaat Jengkol dan Jawaran.

Ketika itu di Lengkong baiat 600 orang. Di Bendungan baiat sekira 400 orang. Di Wonosari baiat 200-an orang. Lalu di beberapa kelompok juga ada yang baiat. [2]

Jemaat yang Bediri dengan Peran Beliau

Perjuangan pak Suripto telah berbuah manis. Beberapa Jemaat yang berdiri melalui sarana pertabligan beliau dan tim adalah:

Beberapa Kisah Tablig

Mln. Dian Khaeruddin dan Iksan Hidayatullah menyampaikan,

Pak Suripto sering menceritakan satu kisah tentang pertolongan Allah Ta’ala ketika bertablig. Di malam hari, sepulang bertablig, beliau berjalan kaki dengan berbekal senter untuk menerangi jalan. Saat itu belum ada motor sebagai sarana tablig. Tiba-tiba dari atas jalan, macan loncat di atas kepala beliau. Dengan karunia Allah Ta’ala, beliau sampai rumah dengan selamat. [9] [24]

Kegiatan Keberhasilan tabligh beliau menarik bagi jemaat-jemaat lain untuk melihat dari dekat. Pernah satu hari, beliau menerima kunjungan satu rombongan bus besar sekira 60-an orang bermalam di rumah beliau dari Bandung, Jawa Barat yg ingin melihat daerah mubayyi’iin baru di Jengkol, Jawaran dan Lengkong. [24]

Mln. Nurhadi menceritakan bahwa satu yang terkesan dalam perjalanan tablig, Pak Suripto pernah mengatakan,

“Saya tidak akan pulang sebelum ada yang baiat.”

itu sering diucapkan. Mungkin saya sering mendengar sekira 10 kali.

Pak Suripto itu jika menginap di suatu tempat, jika belum mendapatkan Mubayyi’in, maka beliau tidak pulang. Ini bisa berlangsung hingga tiga hari. Pernah dari kantor langsung berangkat tablig, lalu pulang tablig langsung bekerja ke kantor. Jadi pernah membawa tas yang sudah ada ganti pakaian (dinas) untuk besok.

pak Suripto selalu membawa persiapan yang matang untuk bertablig. Kadang-kadang saya (Mln. Nurhadi) merasa repot karena beliau membawa tas berat karena berisi buku-buku. Tapi karena hal itu menjadi keberhasilan yang sangat nyata, ya saya (Mln. Nurhadi) mengikuti. Kala itu mudah sekali berhadapan dengan Imam Masjid, memasuki masjid, bertemu kepala desa karena pak Suripto masih dinas di Kementrian Agama. [2]

Mln. Sajid Ahmad Sutikno menyampaikan ada kisah lucu. Suatu saat, setelah kami selesai bertablig dengan warga desa di daerah Wonosobo gunung, karena terlalu fokus memikirkan tabligh dan mengobrol, beliau menyampaikan dalam bahasa Jawa,

“Sirae nyong kok isis lan adem ya. Ya, Allah lah helm ngonne nyong ndhi”?

Padahal ketika itu kami sudah berangkat cukup jauh sekira empat kilometer. Kami pun kembali mengambil helm dari rumah warga yang kami tabligi. [15]

Mln. Irwan Habibullah (putra almarhum) menceritakan,

Semangat tablig beliau bangkit mulai tahun 1991-an. Beliau melanglang buana bertablig ke daerah Banjarnegara dan Wonosobo. Ketika saya masih SMA, saya pernah diajak tablig bersama beliau ke Kasmaran, Lengkong, Watumalang dll. Kita berangkat melalui perbukitan Banjarnegara menuju Wonosobo, menitipkan motor kepada warga, lalu menyebrang sungai, melewati persawahan-persawahan, naik-turun bukit, dari satu mapung ke kampung lainnya. Saya kira perjalanan itu hingga puluhan kilometer. Perjalanan itu luar biasa dan berat. Saya mengakui bahwa fisik pak Suripto memang kuat.

Ketika gencar-gencarnya beliau bertablig, beliau masih dinas sebagai seorang guru. Beliau meminta kepala sekolah agar jadwal mengajar beliau dipadatkan, Senin-Kamis. Selesai mengajar di hari kamis, beliau langsung berangkat tablig, tidak pulang dulu. Hari Minggu sore atau malam baru pulang. Ketika bertablig, beliau banyak jalan kaki. Jadi, ketika pulang beliau minta dipijit. Pernah satu kali beliau pulang tablig hari Senin pagi.

Ketika beliau pulang, beliau membawa formulir baiat –yang sudah ditandatangani– begitu banyak. Kadang formulir berjumlah puluhan. Di Jemaat Madukara, kita membuat Buku Induk untuk mencatat data-data mubayyi’iin baru tersebut. Anak-anak beliau, mas Iksan, Afton, Irwan keteteran menulis data hasil pertabligan. Ini belum selesai, sudah datang lagi formulir yang harus dicatat.

Ada satu hal yang cukup menyedihkan. Pernah satu kali pak Suripto kehujanan ketika pulang tablig. Beliau membawa puluhan formulir baiat para mubayyi’iin baru. Pakaian, tas bahkan formulirnya juga basah sehingga tulisan-tulisannya luntur. Karena formulir tersebut tidak layak untuk dikirim ke PB karena tulisan tidak terbaca, maka pak Suripto memutuskan untuk kembali mendatangi orang-orang yang sebelumnya mengisi formulir baiat. [3]

Mln. Nurhadi menceritakan,

Berkenaan dengan pertabligan yang dilakukan pak Suripto, saya (Mln. Nurhadi) menganggap beliau luar biasa dalam tenaga dan perjalanan dan tinggi semangatnya dalam bertablig. Dulu sepulang dari kantor saya (Mln. Nurhadi) menjemput dan ba’da Dzuhur berangkat bersama.

Misalnya dari Banjarnegara hingga Windusari memakai motor. Tapi dari Windusari hingga Dusun Lengkong dan Dusun Jawaran pak Suripto berjalan kaki karena medannya memang tidak bisa dilalui motor. Di tahun 1994 di Dusun Lengkong baru satu orang yang mempunyai sepeda motor. [2]

Mln. Dian Khaeruddin menyampaikan,

Di tahun 2013, ketika di Klampok, saya bertablig kepada seorang yang sudah tua. Orang tersebut ternyata kenal dengan pak Suripto karena sudah beberapa kali bertemu. Saya sudah beberapa kali tablig kepadanya; saya ajak ke rumah missi, diperlihatkan MTA TV, tanya-jawab. Ada ketertarikan untuk baiat. Namun ketika ditawari untuk baiat, ia menolak.

Ketika ada rapat mubalig di Klampok, pak Suripto diikutkan dalam rapat tersebut. Seusai rapat, pak Ripto saya ajak ke rumah simpatisan tersebut. Dalam beberapa saat ditabligi oleh pak Ripto, ia mau untuk baiat.

Ini mungkin karena ada bentuk komunikasi yang khas oleh pak Ripto ketika bertablig sehingga bisa menarik orang untuk baiat; masuk ke dalam Jemaat. [9]

Pengalaman tablig yang sewarna dikisahkan oleh Mln. Ahmad Fatih,

Ketika saya bertugas di Jemaat Bendungan di tahun 2016, saya beberapa kali bertablig dengan seseorang. Namun ketika ditawari untuk baiat, ia belum mau masuk ke dalam Jemaat.

Satu waktu, seusai rapat mubalig di Jemaat Bendungan, pak Suripto saya ajak kepada simpatisan tersebut. Ketika di sana pak Suripto hanya menerangkan tentang 10 syarat baiat, orang tersebut bersedia untuk baiat.

Kesan saya terhadap pak Suripto, saya lihat aura beliau sangat luar biasa. Ketika seseorang melihat beliau, otomatis tertarik untuk masuk ke dalam Jemaat. [25]

Beberapa Buah Rabtah

Mln. Irwan Habibullah (putra almarhum) menceritakan,

Sekira tahun 1993 atau 1994, Amir Nasional, bapak Ir. Syarif Ahmad Lubis berkunjung ke Madukara. Sebelumnya, pak Suripto mengundang secara lisan kepada kepala desa, Camat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan aparat keamanan bahwa Pimpinan Nasional Jemaat Ahmadiyah dari Jakarta akan datang ke Limbangan-Madukara.

Pada saat Amir Nasional sudah hadir di Madukara, 100 orang hadir. Muspika, kepala desa, aparat, tokoh agama, tokoh masyarakat dll. Di masjid Jemaat Madukara, itu kepala desa memberikan sambutan. Begitu juga Camat, Danramil , kapolsek, Kepala KUA, dll. Setelah itu makan bersama.

Pak Amir bertanya kepada pak Suripto, “Kenapa bisa seperti ini?”. Amir Nasional menyatakan kekagumannya. pak Suripto menjawab, “ya memang seperti ini. Saya itu dekat dengan masyarakat dan pejabat.” [3]

Beberapa buah hasil rabtah pak Suripto dan tim diantaranya

Macapat Jawa

Beliau mempunyai cara yang unik dalam bertabligh, yaitu menggunakan metode pendekatan budaya Jawa. Materi tabligh selalu ditutup dengan tembang Jawa Macapat seperti tanda akhir jaman, kedatangan Imam Mahdi, dll. [15] Salah satunya ada pada video di bawah ini [26]:

Video di bawah ini juga menunjukkan bahwa beliau terbiasa tablig menggunakan pendekatan budaya Jawa [27].

Ada beberapa tulisan syair jawa yang sempat dibukukan oleh Mln. Basyarat Ahmad Sanusi. Syair-syair tersebut bisa diunduh di sini.

Mulaqat dengan Huzur IV (rh)

Di tahun 2000, ketika ada mulaqat perkeluarga dengan Huzur IV (rh) di Yogyakarta. Huzur berkeliling menyalami para keluarga Ahmadi yang bermulaqat. Ketika bersalaman di keluarga besar pak Suripto, pak Mln. Mirajuddin memperkenalkan pak Suripto kepada Huzur IV (rh) dengan menyampaikan beberapa patah kata dalam bahasa Urdu. Lalu Huzur menyalami kembali pak Suripto. Jadi Huzur menyalami pak Suripto dua kali. [3]

Mimpi yang Benar

Pak Suripto pernah bercerita bahwa di tahun 2000, beliau mimpi diundang oleh Huzur IV (rh) untuk datang ke London. Beberapa hari setelah itu, ada telpon dari PB lewat pak Pono di Sokanandi bahwa pak Suripto agar bersiap-siap membuat paspor karena diundang mengikuti Jalsah di London. Dan beliau berangkat ke London bersama Mln. Nurhadi. [3]

Mln. Nasiruddin Ahmadi, Mubda Jateng-1 menceritakan,

Sekitar tahun 1990-an waktu itu saya melakukan salat istikharah selama lebih kurang dua minggu yang Tujuannya untuk menentukan jalan hidup dan masa depan saya, apakah masih bekerja di suatu perusahaan Instrumens Medical di Jakarta atau saya harus mengikuti pendidikan di Jamiah Ahmadiyah Indonesia untuk bisa menjadi sebagai Muballigh. Cita-cita ini sudah tertanam sejak masa kecil.

Di tengah kegamangan ini, saya melakukan solat istikharah. Dalam rangkaian mimpi diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala salah satunya adalah:

“Saya sedang berada di atas ketinggian, yaitu berada di atas menara yang cukup tinggi. Saat itu ada suara yang sangat gemuruh dengan ucapan Takbir yang sangat keras. Naraiiii…Takbir…Allahu Akbar! Takbir ini terdengar berulang-ulang.

Selanjutnya ada pengumuman, “Ahmadiyah Lahore berbondong-bondong baiat ke Ahmadiyah Qadian. Ahmadiyah Lahore bergabung dengan Ahmadiyah qadian!” Pengumuman itu disambut dengan teriakan Takbir yang sangat luar biasa….Naraeeei Takbir…Allahu Akbar!

Setelah mimpi ini, saya konsultasikan dengan bapak Mln. Uung Kurnia Fadhal Ahmad, yang saat itu menjadi mubaligh di Bogor. Beliau menjawab: “Menara menandakan ketinggian rohani, dan tuan berada di posisi itu, Insya Allah Ta’ala kejadian, pembaitan, ini akan terjadi”.

Saat itu Saya teringat dan pernah mendengar ada seorang da’i yang sangat potensial dan aktif dalam melakukan pertalighan berasal dari daerah Wonosobo dan Banjarnegara, yaitu bapak Suripto HS.

Seiring dengan berjalannya waktu, dua tahun setelah saya di Jamiah Ahmadiyah Indonesia, ada informasi yang mencengangkan terjadi. Ternyata penggenapan dari mimpi saya ini terjadi tahun 1993-an. Pada saat itu di daerah Jawaran terjadi pertablighan dan pembaiatan ratusan kelompok Ahmadi Lahore yang hijrah ke induk-semangnya, Ahmadiyah Qadian. Disusul dengan berhasilnya pertablighan dan berbaiatnya para Ahmadi Lahore ke dalam Jemaat Ahmadiyah Indonesia pada tahun 1994-1995 di Lengkong, Bendungan, Wonosari, Kasmaran dan daerah lainnya di Kab. Wonosobo.

Peranan Haji Suripto sangat besar dalam kesuksesan pertablighan ini, yang tentunya bekerjasama dengan Para Muballigh dan Dai lainnya. Dan juga, tentunya peranan istri beliau pun tidak bisa diabaikan dalam mencapai kesuksesan semua ini. Itulah sekilas penggenapan mimpi saya tahun 1990-an dan penggenapan nya tahun 1993-1995. [17]

Kewafatan dan Donor Mata

Almarhum bapak Suripto adalah seorang pendonor mata. Sebelum kewafatannya beliau meminta agar kornea mata beliau diambil agar bermanfaat bagi kemanusiaan. Ada satu yang menarik dalam proses eksisi kornea mata almarhum. Secara medis, almarhum meninggal tanggal 24-Mei-2021 pukul 00.00 WIB sedangkan pelaksana eksisi itu tiba sekira pukul 09.30 WIB.

Petugas eksisi kornea adalah anak dan menantu almarhum. Ajaibnya, setelah diperiksa, ternyata kornea mata beliau masih bisa dimanfaatkan. Walaupun 9,5 jam telah berlalu, namun pak Arif Irsyiyadi (putra almarhum) menyatakan, “ini seperti kornea mata orang yang baru satu jam meninggal.” [28]

Setelah itu sekira 30 menit proses eksisi kornea mata, almarhum dikebumikan di pemakaman Mushi, Krucil, Winong, Bawang, Banjarnegara.

Beberapa warga Desa Limbangan menyampaikan pasca kewafatan bapak Suripto bahwa hujan turun lima menit setelah beliau meninggal. Kemudian lima hari berturut-turut setelah beliau dimakamkan, turun hujan sangat besar padahal bulan ini adalah bulan Mei dan dua bulan sebelumnya sangat sulit turun hujan.

Mln. Sufni, bercerita,

“Alam turut menangis atas kewafatan beliau”

Iksan Hidayatullah juga juga sempat mengucapkan hal serupa kepada istri ketika hujan besar ketika mengadakan perjalanan menggunakan mobil ke Desa Limbangan.

Mln. Ahmad Suparja Hidayat, mubda Jateng-2 menceritakan,

Waktu pemakaman almarhum bapak Suripto HS, selain dihadiri oleh sejumlah besar anggota jemaat, juga dihadiri oleh sejumlah besar orang ghair Ahmadi. Diantaranya: tokoh masyarakat, tokoh agama, para pegawai pamong desa dan lain-lain. Saya mendapat amanat untuk memimpin doa sambil berdiri di sisi makam almarhum. Tidak terasa saya berdoa dengan dipenuhi rasa haru sambil menangis terisak-isak dan banyak mencucurkan air mata. Salah seorang anak almarhum menceritakan kepada saya bahwa lafal doa yang diucapkan sangat menyentuh di hatinya dan katanya mungkin saja orang2 ghair juga pada heran melihat pemandangan seperti itu. Kejadian itu sangat alami mengalir begitu saja. Saya sendiri sangat heran dibuatnya. Selama ini belum pernah saya alami ketika memimpin doa untuk orang lain sesedih ketika mendoakan jenazah almarhum bapak Suripto. Sepertinya saya kehilangan seseorang yang paling saya sayangi dan cintai. [16]

Catatan Kaki

  1. Ada dua versi tahun kelahiran akibat sistem administrasi pemerintahan pada zaman dulu yang belum rapi. Menurut teman teman almarhum yg seusia, diriwayatkan bahwa beliau lahir tahun 1942. Namun secara resmi menurut catatan pemerintah dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) tercatat bahwa beliau lahir tanggal 12 April 1944. 

  2. Wawancara dengan Mln. Nurhadi tanggal 25 Mei 2021 di rumah Mubalig di Bawang-Krucil.  2 3 4 5 6 7 8

  3. Wawancara dengan Mln. Irwan Habibullah tanggal 25 Mei 2021  2 3 4 5 6 7

  4. Pak Rusydi adalah ayahanda dari pak Mln. Basyiruddin 

  5. Wawancara Iksan Hidayatullah dengan ibu Titin Suprikhatin, istri pak Suripto pada tanggal 4-Juni-2021 di Desa Madukara  2 3

  6. Wawancara dengan Raji Ahmad tanggal 26 Mei 2021 pkl 15.30 di masjid Al-Husna. [dengarkan]  2 3

  7. Bapak Wirya Pawira adalah ayahanda dari Mln. Malik Ismedi Ahmad 

  8. Wawancara Mln. Ahmad Fatih dengan pak Arja pawira pada tanggal 26 Mei 2021  2

  9. Wawancara dengan Mln. Dian Khaeruddin menyampaikan, tanggal 24 Mei 2021  2 3 4

  10. Foto prosesi baiat masal tersebut terdapat di buku Souvenir seabad Ahmadiyah 

  11. Pesan teks Whatsapp Iksan Hidayatullah tanggal 27-Mei-2021 pukul 08.31 

  12. Tabligh Sarana Kebahagiaan, Kenangan Bersama Mbah Suripto. Tulisan karya Mln. Basyarat Ahmad Sanusi. 

  13. Surat balasan dari Hadhrat Khalifatul Masih III (rh) kepada bapak Suripto 

  14. Pesan teks Whatsapp Mln. Mirajuddin (di grup Missi-Indonesia) tanggal 24-Mei-2021 

  15. Pesan teks Whatsapp Mln. Sajid Ahmad Sutikno (di grup Missi-Indonesia) tanggal 24-Mei-2021  2 3

  16. Tulisan yang dikirim Mln. Suparja Hidayat dari Wonosobo melalui pesan Whatsapp tanggal 28 Mei 2021  2

  17. Tulisan dari Mln. Nasiruddin Ahmadi yang dikirim melalui pesan Whatsaapp dari Purwokerto tanggal 31 Mei 2021  2

  18. Bapak Suradi adalah kakak dari ibu Tumini, istri pak Tunut (Pak Tunut dan Istrinya telah lama baiat). 

  19. Bapak Kertasentana (sudah meninggal) dianggap oleh warga desa Limbangan sebagai “orang pintar” yang banyak dimintai bantuan orang-orang hingga di luar. Dan kemampuannya turun kepada bapak Suradi. 

  20. Percakapan pribadi penulis dengan Mln. Irwan Habibullah melalui Whatsapp di tanggal 25 Mei 2021 pukul 08.33 WIB. 

  21. Surat Persetujuan Huzur V (atba) bahwa pak Suripto menjadi anggota Dewan Qadha 

  22. Tulisan Mln. Isa Mujahid Islam di Bawang tanggal 13 Juni 2019 

  23. Percakapan pribadi penulis dengan Mln. Irwan Habibullah melalui Whatsapp di tanggal 25 Mei 2021 pukul 16.26. 

  24. Tulisan Iksan Hidayatullah (putra [alm] pak Suripto Hadi Siswoyo). Ditulis di Bawang tanggal 25 Mei 2021.  2 3

  25. Wawancara dengan Ahmad Fatih tanggal 24 Mei 2021 di rumah Mubalig Jemaat Bawang-Krucil. 

  26. Video yang direkam oleh Mln. Yudhi Wahyuddin pada 13 Maret 2021 di kediaman pak Suripto 

  27. Video yang diunduh dari Facebook Hasan Ibnu Saguh 

  28. Kesaksian Isa Mujahid Islam yang berada di tempat ketika eksisi dilaksanakan.