Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Puasa Syawal

Amalan sunnah adalah sesuatu yang sangat dicintai Allah [1]. Setelah melaksanakan Puasa Ramadhan yang bersifat wajib maka untuk menambah sempurna ibadah tersebut, Allah Ta’ala telah memberikan kesempatan untuk melaksanakan puasa-puasa nafal (sunnah). Salah satu diantaranya adalah puasa di bulan syawal.

Niat Puasa Syawal

Niat itu seyogyanya ada di dalam hati. Tidak ada riwayat mengenai niat yang diucapkan Rasulullah (saw) berkenaan dengan pelaksanaan puasa ini. Jadi cukup niatkan di malam hari atau ketika memulai sahur bahwa kita akan memulai pelaksanaan puasa syawal.

Kapan Dilaksanakan

Puasa Syawal berapa hari? Puasa Syawal dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal [2],

Puasa Syawal dimulai kapan? Puasa Syawal dimulai tanggal 2 Syawal hingga akhir bulan syawal karena tanggal 1 Syawal diharamkan untuk berpuasa [3]. Apakah dilaksanakan secara berurutan atau tidak, itu tidak dipermasalahkan.

Keutamaan Puasa Syawal.

Ganjaran puasa syawal mempunyai pahala seperti pahala puasa yang dikerjakan selama satu tahun [2].

Dalam perhitungan matematis, jika seseorang melaksanakan kebaikan, maka setidaknya akan diganjar 10 kali lipat (QS Al-Anaam [6]: 161 dengan basmallah). Sehingga apabila ia berpuasa Ramadhan 30 hari dan 6 hari di bulan Syawal, maka totalnya adalah 36 hari. Sedangkan 10 kali lipat dari 36 adalah 360 hari. Oleh karena itu logis apabila ganjarannya setara puasa selama satu tahun [4].

Rasulullah (saw) pernah melarang seseorang untuk berpuasa setahun penuh. Tetapi beliau (saw) menyarankan agar melaksanakan Puasa Ramadhan dilanjutkan dengan puasa syawal dan berpuasa setiap hari Rabu dan Kamis [5]. Orang yang berpuasa dengan pola demikian, Rasulullah (saw) menjanjikan surga [6].

Dalam riwayat lainnya, disebutkan bahwa orang yang berpuasa Ramadhan, Syawal, Rabu dan Kamis serta Jum’at akan masuk ke dalam Surga [7].

Dalil-dalil Puasa Syawal

Hadits-hadits tentang puasa syawal bisa dilihat di catatan kaki artikel ini.

Nasehat-nasehat

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Manusia memberikan zakat, maka kadang-kadang ia memberikan yang lain di luar zakat. Di bulan Ramadhan ia berpuasa maka selain itu pun ia kadang-kadang berpuasa. Jika dia berutang maka dia mengembalikan utang itu dalam jumlah yang agak lebih, sebab orang yang meminjamkan telah bersikap peduli [terhadapnya].

Nafal-nafal itu berfungsi sebagai penyempurna fardhu. Pada waktu melakukan nafal di dalam kalbu timbul suatu kekhusyukan dan rasa takut, yakni semoga kekurangan yang telah terjadi dalam fardhu-fardhu itu sekarang dapat terpenuhi. Inilah rahasia bahwa nafal-nafal memiliki hubungan yang sangat besar dengan qurub (kedekatan) Ilahi. Yakni di situ timbul kekhusyukan dan penghambaan serta kondisi inqitha (terputus dari hal-hal selain Allah)…puasa enam hari di bulan Syawal merupakan nafal-nafal.” [8] [9].

Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) bersabda:

“Ada satu perkara lagi yang harus dilakukan dan ini adalah sunnah RasuluLlaah saw yaitu apabila Ramadhan sudah selesai dan Ied sudah lewat, maka RasuluLlaah saw berpuasa lagi selama 6 hari (di bulan Syawal).

Diriwayatkan oleh Hadhrat Ayyub ra bahwa RasuluLlaah saw bersabda:

عنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ"‎

Abu Ayyub al-Anshari ra bercerita bahwa RasuluLlaah saw bersabda, “Siapa saja yang puasa Ramadhan, kemudian dia melanjutkan dengan enam hari pada bulan Syawal maka jadilah puasanya seperti satu tahun.” (HR. Muslim)

Untuk itu menghidupkan sunnah ini adalah kewajiban orang-orang Ahmadi. Pada suatu ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) sangat mementingkan sunnah ini, sehingga di Qadian, ramai sekali orang-orang berpuasa enam hari setelah hari Ied seperti ramainya orang-orang berpuasa di bulan Ramadhan. Akhirnya ketika umur Hadhrat Masih Mau’ud (as) sudah lanjut dan sering sakit, sampai dua atau tiga tahun beliau (as) tidak melakukan sunnah tersebut.

Ingatlah! Orang-orang yang belum tahu mengenai hal ini, dengarlah nasihat ini. Dan orang-orang yang lalai, mulailah giat! Sekarang saya anjurkan kepada semua anggota Jema’at harus berpuasa enam hari itu, kecuali orang-orang yang berhalangan dan sakit atau sudah uzur. Jika tidak dapat melakukannya secara berurutan selama enam hari dapat juga dilakukan selang-seling selama bulan Syawal. [10]

Hadhrat Khalifatul Masih V (atba) bersabda,

Inilah Tuhan kita yang senantiasa menurunkan karunia-karunia-Nya kepada para hamba-Nya setiap saat. Dia memberi ganjaran atas setiap kebaikan sepuluh kali lipat. Sebagai contoh, di bulan Ramadhan, Dia telah memberikan kita bagian pahala 300 hari puasa berbanding 30, sebagaimana terdapat pada hadits ini, “Sekiranya seseorang berpuasa enam hari pada bulan Syawal juga, tentu Allah akan memberinya ganjaran puasanya setahun penuh.” [2] Inilah Tuhan yang kita imani itu dan kita berpegang teguh pada dahan-dahan pohon-Nya. Dia Yang meminta pengorbanan dari seorang hamba, Dia ganjar pengorbanan itu tanpa perhitungan. Allah Ta’ala meminta dari kita pengorbanan puasa 30 hari, lalu Dia menerimanya dengan karunia-Nya dan memberikan balasan kepada kita berlipat-lipat ganda. [11]

Catatan Kaki

  1. Diriwayatkan:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

    …dari Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-KU, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya.” (H.R. Bukhari, Kitab Hal-hal yang melunakkan hati, Bab Tawadhu’

  2. Diriwayatkan,

    عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

    dari Abu Ayyub Al Anshari radliallahu ‘anhu, bahwa ia telah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka yang demikian itu seolah-olah berpuasa satu tahun.” (H.R. Muslim, Kitab Puasa, Bab Sunahnya puasa enam hari di bulan Syawal 2 3

  3. Diriwayatkan,

    عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ الْأَضْحَى

    …dari Abu Sa’id dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau melarang puasa pada hari raya Idul Fitri dan Iedul Adha.” (H.R. Ibnu Majah, Kitab Puasa, Bab Larangan puasa pada hari Idul fitri dan adha

  4. diriwayatkan,

    عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ { مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا }

    …dari Tsauban pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Bahwasanya beliau bersabda: “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Iedul Fitri, maka seakan ia berpuasa setahun secara sempurna. Dan barangsiapa berbuat satu kebaikan maka ia akan mendapat sepuluh pahala yang semisal.” (H.R. Ibnu Majah, Kitab Puasa, Bab Puasa enam hari di bulan Syawal

  5. Diriwayatkan,

    عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقُرَشِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَأَلْتُ أَوْ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِ الدَّهْرِ فَقَالَ إِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا صُمْ رَمَضَانَ وَالَّذِي يَلِيهِ وَكُلَّ أَرْبِعَاءَ وَخَمِيسٍ فَإِذَا أَنْتَ قَدْ صُمْتَ الدَّهْرَ

    …dari ‘Ubaidullah bin Muslim Al Qurasyi, dari ayahnya, ia berkata; saya bertanya atau Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai puasa setahun, lalu beliau berkata; sesungguhnya keluargamu memiliki hak atasmu. Berpuasalah pada Bulan Ramadhan dan setelahnya, serta setiap hari Rabu dan Kamis, maka engkau telah melakukan puasa setahun. (H.R. Abu Dawud, Kitab Puasa, Bab Puasa Syawal

  6. Diriwayatkan,

    عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ الْمَخْزُومِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَرِيفٌ مِنْ عُرَفَاءِ قُرَيْشٍ عَنْ أَبِيهِ سَمِعَهُ مِنْ فَلْقِ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَشَوَّالَ وَالْأَرْبِعَاءَ وَالْخَمِيسَ دَخَلَ الْجَنَّةَ

    dari [Ikrimah Khalid Al Makhzumi] berkata; telah menceritakan kepadaku [orang yang punya pengetahuan dari kalangan Quraish] dari [Bapaknya] telah mendengar dari seseorang yang berada disisi Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan, syawal, Rabu dan Kamis, maka akan masuk surga”. (H.R. Ahmad

  7. Diriwayatkan,

    عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَرِيفٌ مِنْ عُرَفَاءِ قُرَيْشٍ حَدَّثَنِي أَبِي أَنَّهُ سَمِعَ مِنْ فَلْقِ فِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَشَوَّالًا وَالْأَرْبِعَاءَ وَالْخَمِيسَ وَالْجُمُعَةَ دَخَلَ الْجَنَّةَ

    dari [‘Ikrimah bin Khalid] berkata telah menceritakan kepadaku [salah seorang pemimpin Quraisy], telah menceritakan kepadaku [Bapakku] dia telah mendengar dari majlis subuh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, Syawal, Rabu dan Kamis serta Jum’at maka akan masuk surga.” (H.R. Ahmad

  8. Malfuzat, jld. II, hlm. 199 

  9. H.R. At-Tirmidzi, Kitab Shalat, Shalat, yang pertama kali dihisab 

  10. Al-Fazl, 8 Juni 1922 

  11. Khotbah Idul Fitri Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz, Tanggal 2 Ikha 1387 HS/Oktober 2008, Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK