Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Ramadhan - Bulan Doa, Memohon Berkah atas Nabi Muhammad (saw) dan Mencari Pengampunan

Ringkasan Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 30 April 2021 (Syahadat 1400 Hijriyah Syamsiyah/Ramadhan 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

Yang Mulia, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad ayyadahuLlahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz menyampaikan bahwa dengan rahmat Allah, hari-hari ini kita melewati bulan Ramadhan yang penuh berkah, dan dalam beberapa hari, akan memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan. Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah mencapai keselamatan dari Neraka (itqum minan naar). Oleh karena itu, kita harus memberikan perhatian khusus terhadap doa-doa kita terutama selama sepuluh hari terakhir Ramadhan, agar kita dapat mencapai keridhaan Tuhan Yang Maha Esa dan selamat dari api neraka.

Tolok Ukur Doa Nabi Suci (saw)

Selama Ramadhan, Hudhur ayyadahuLlahu ta’ala mengatakan bahwa keadaan sholat Nabi Muhammad (saw) selama sepuluh hari terakhir Ramadhan bahkan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Mengenai keadaan shalatnya selama bulan Ramadhan, Hadhrat A’ishah (ra) menceritakan bahwa beliau (saw) berusaha lebih keras dalam sholatnya daripada yang terlihat pada waktu lain.

Nabi Muhammad (saw) adalah teladan yang sempurna bagi kita, dan kita harus mencoba untuk menetapkan standar yang sama yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad (saw). Kemudian Allah Ta’ala akan ridho dengan kita, dan kemudian kita akan dianggap sebagai orang yang benar-benar beriman. Oleh karena itu, kita harus membenamkan diri dalam doa, terutama pada hari-hari ini. Para Ahmadi khususnya harus memperhatikan hal ini, karena para Ahmadi di seluruh dunia sedang menghadapi kesulitan besar. Kita harus berdoa agar bisa diselamatkan dari kejahatan para penentang Ahmadiyah. Kita juga harus berdoa agar diselamatkan dari pandemi yang sedang dialami seluruh dunia saat ini.

Mengirim salam kepada Nabi Suci (saw), memohonkan Rahmat dan Berkah atas beliau (saw)

Hudhur ayyadaHuLlahu bersabda bahwa agar doa kita didengar, kita perlu mengirim salam kepada Nabi Muhammad (saw). Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi Muhammad (saw) bersabda bahwa orang yang meninggalkan mengirim salam dan shalawat kepada beliau (saw), meninggalkan jalan menuju surga. Pada kesempatan lain, Nabi (saw) Muhammad bersabda bahwa seseorang yang mengirimkan salam kepada beliau (saw), Tuhan akan mengirimkan sepuluh salam kepada orang itu, dan akan mengangkat mereka hingga sepuluh derajat dan akan mencatat sepuluh perbuatan baik di bawah nama mereka. Ini memberi kita gambaran tentang betapa pentingnya mengirim salam kepada Nabi Muhammad (saw).

Hudhur ayyadaHuLlahu bersabda bahwa kita harus menjadikan pengiriman salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad (saw) sebagai kebiasaan rutin dalam hidup kita. Tidak hanya agar doa-doa kita terkabul, tetapi agar kita dapat memantapkan kesucian sepanjang hidup kita, sehingga kita dapat mencapai kedekatan dengan Tuhan dan meningkatkan ruhani kita. Kita seharusnya tidak hanya mengklaim telah menerima hamba sejati Nabi Muhammad (saw), melainkan juga harus mencerminkan dalam tindakan kita.

Sebuah Wahyu Hadhrat Masih Mau’ud (as)

Mengenai Durood (Shalawat), Hudhur ayyadaHuLlahu memberikan kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud (as), menjelaskan wahyu yang diterima beliau (as) di mana beliau (as) diperintahkan untuk mengirim salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad (saw). Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda bahwa ini membuktikan bahwa segala sesuatu yang beliau (as) terima adalah karena ketaatan dan kepatuhan yang sempurna kepada Nabi Muhammad (saw). Dengan demikian, pangkat Hadhrat Masih Mau’ud (as) dianugerahkan kepada beliau (as) karena beliau (as) adalah hamba sejati Nabi (saw) dan sepenuhnya mengabdi pada beliau (saw) dan memenuhi misi beliau (saw).

Hudhur ayyadaHuLlahu meriwayatkan kejadian Hadhrat Masih Mau’ud (as), di mana beliau (as) menyatakan bahwa pada suatu malam beliau (as) mengirim (shalawat dan) salam kepada Nabi Muhammad (saw) begitu banyak sehingga hatinya diliputi (kecintaan dan keberkatan). Beliau (as) kemudian melihat dalam mimpi, para malaikat datang kepada beliau (as) dengan bejana cahaya berisi air murni dan manis. Para malaikat berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) bahwa ini adalah berkat karena beliau (as) mengirimkan (shalawat dan) salam kepada Nabi (saw). Pada kesempatan lain, Hadhrat Masih Mau’ud (as) melihat mimpi, dimana orang-orang mencari hamba sejati Nabi (saw). Ketika mereka bertemu dengannya, mereka berkata, ‘Ini adalah orang yang benar-benar mencintai Rasulullah (saw).’

Hudhur ayyadaHuLlahu bersabda bahwa mereka yang telah menerima Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan berusaha untuk menjalankan misinya, bukankah seharusnya kita menjadi orang yang memberi tahu dunia bahwa melalui hamba sejati Nabi (saw), kita telah memahami semangat sejati mengirimkan salam dan shalawat kepada beliau (saw). Khususnya selama bulan Ramadhan, kita tidak hanya berdoa untuk diri kita sendiri, tetapi kita berusaha untuk menyebarkan pesan Nabi (saw) ke seluruh dunia; dan berusaha untuk membantu orang menyadari bahwa ini sajalah iman yang dapat membangun hubungan yang benar antara manusia dan Tuhan dan ini adalah iman yang menyatakan bahwa karena kecintaan terhadap Nabi Muhammad (saw), Tuhan menjawab permohonan doa para hamba-Nya.

Hudhur ayyadaHuLlahu bersabda bahwa tanggung jawab kita untuk menyebarkan pesan ini ke seluruh dunia. Jika kita ingin mengambil bagian dari berkah ini di kehidupan ini dan di akhirat, maka kita harus terus mengirimkan salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad (saw). Jika kita melakukannya, maka kita akan melihat bahwa plot (rancangan) dan skema (usaha terencana) lawan (pihak-pihak yang memusuhi) goyah tepat di depan mata kita. Kita akan melihat diri kita sendiri dan keturunan masa depan kita berjuang dan berkembang secara ruhani. Kita akan melihat contoh luar biasa dari penerimaan doa, baik pada tingkat individu maupun secara kelompok. Namun syaratnya adalah kita harus mengirimkan salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad (saw) dengan keikhlasan sejati.

Hudhur ayyadahullah bersabda bahwa seseorang dapat benar-benar dan dengan ikhlas berdoa hanya jika dia mengetahui apa yang dia katakan. Sekadar mengucapkan kata-kata tidak dapat memiliki dampak yang sama pada hati. Dan jika hati tidak terpengaruh, maka semangat yang diperlukan tidak dapat muncul. Oleh karena itu, perlu diketahui makna di balik kata-kata yang diucapkan dalam doa. Ada banyak di dunia ini yang mengulang kata-kata durood [doa untuk mengirim salam dan shalawat kepada Nabi (saw)] namun mereka tidak tahu apa artinya.

Memahami Durood atau Shalawat

Hudhur ayyadahullah menyampaikan makna durood (Shalawat) dalam terang tulisan Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad (ra), Khalifah Kedua Jemaat Muslim Ahmadiyah.

Hudhur ayyadahullah mengatakan ketika kita berkata, ‘Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin’ - ‘Ya Allah, karuniakanlah rahmat kepada Muhammad (saw)’ itu berarti semoga Allah melimpahkan semua hal yang baik kepada Nabi Muhammad (saw). Kita tidak tahu sejauh mana kebaikan yang bisa Tuhan berikan; jadi kita serahkan kepada Tuhan untuk melimpahkan semua kebaikan yang ada dalam pengetahuan-Nya yang tak terbatas, kepada Nabi Muhammad (saw).

Kemudian, ketika kita berdoa, ‘Allahumma baarik ‘alaa Muhammadin’ - ‘Ya Allah, karuniakanlah keberkahan kepada Muhammad (saw)’, kita berdoa kepada Tuhan untuk menambahkan berkah yang dianugerahkan kepada Nabi (saw) seperti didoakan sebelumnya. Ini juga berlaku untuk doa yang Nabi Muhammad (saw) panjatkan untuk umatnya. Jadi, kita juga bisa mendapatkan manfaat dari doa ini.

Hudhur ayyadaHuLlahu bersabda bahwa hanya mengucapkan kata-kata ini saja tidak cukup. Doa ini tidak hanya harus dilakukan dengan ketulusan hati, tindakan kita juga harus mencerminkannya. Kita tidak bisa seperti mereka yang turun ke jalan dengan berapi-api menyatakan cinta mereka kepada Nabi Muhammad (saw), namun mereka memblokir jalan-jalan dan bahkan menghalangi orang sakit untuk mencapai rumah sakit dengan tindakan unjuk rasa bersifat kekerasan mereka. Oleh karena itu, tindakan kita juga harus mencerminkan kata-kata yang kita ucapkan, dan tindakan kita harus mencerminkan ajaran sejati Nabi Muhammad (saw). Hanya dengan begitu kita bisa mendapatkan keuntungan dari mengirimkan salam kepada Nabi (saw).

Hudhur ayyadahullah bersabda bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa sendiri telah memerintahkan orang-orang beriman untuk mengirim salam dan shalawat kepada Nabi (saw). Dinyatakan dalam AlQur’an: “Allah Ta’ala dan para malaikat-Nya mengirimkan salawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, kamu juga harus mengirimkan salawat kepada Nabi (saw).” (33:57) Fakta bahwa Tuhan dan malaikat-Nya mengirimkan salam dan shalawat kepada Nabi (saw) menunjukkan betapa pentingnya untuk kita melakukannya. Lebih jauh, kita belajar dari hal ini bahwa dengan terus mengirimkan salam dan shalawat, pangkat Nabi (saw) terus meningkat.

Saat kita mengirimkan salam dan shalawat, maka kita juga akan mengambil bagian dari berkahnya. Kemudian, ketika kita menerima berkah ini, kita harus bersyukur, dan kita bisa bersyukur dengan mengirimkan salam dan shalawat kepada Nabi (saw) lebih dari sebelumnya. Ini pada gilirannya akan memberi kita lebih banyak berkah, dan siklus pengiriman salam dan menerima berkah akan terus berlanjut.

Semoga kita dapat memenuhi tanggung jawab mengirimkan salam dan shalawat kepada Nabi (saw).

Hudhur (atba) kemudian melafalkan durood sharif:

”Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim; Engkau Yang Terpuji, Yang Mulia! Ya Allah, karuniakanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim; Engkau Yang Terpuji, Yang Mulia!”

Pentingnya Memohon Maghfirah (Pengampunan)

Hudhur ayyadaHuLlahu mengatakan bahwa hal kedua yang ingin beliau arahkan perhatian adalah memohon pengampunan, khususnya melalui doa berikut: ‘Aku mencari pengampunan dari Allah, Tuhanku, untuk semua dosaku, dan berpaling kepada-Nya.’

Hudhur ayyadaHuLlahu mengutip Hadhrat Masih Mau’ud (as) dalam penjelasan mengenai hal ini, menyatakan bahwa doa ini berarti semoga Tuhan menutupi kesalahan yang telah dilakukan, dan semoga Tuhan menyelamatkan orang yang mencari pertobatan dari kelemahan bawaan yang dimiliki setiap orang. memiliki. Sama seperti Tuhan telah menciptakan manusia, Dia juga telah menciptakan sarana bagi manusia untuk diselamatkan dari keterpurukan. Karena itu, Tuhan telah memerintahkan bahwa kita harus mencari pengampunan, dan kita hanya bisa diselamatkan dari keterpurukan dengan terus menerus mencari pengampunan dari-Nya.

Beristighfar (memohon pengampunan Allah melalui doa) ini juga memungkinkan seseorang untuk memenuhi perintah-perintah Tuhan. Istighfar itu tidak harus didoakan hanya setelah seseorang melakukan kesalahan, melainkan harus dilakukan secara terus menerus, sehingga seseorang juga dapat diselamatkan dari potensi melakukan kesalahan di masa depan, dan dengan demikian mencapai kedekatan dengan Tuhan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memohon pengampunan baik ketika kesalahan dilakukan dan bahkan ketika kesalahan itu tidak dilakukan. Setan selalu siap menyerang kapan saja. Karena itu, Tuhan menyatakan bahwa untuk diselamatkan dari serangan semacam itu, kita harus terus-menerus menggunakan doa ini.

Contoh Belas Kasihan Tuhan

Hudhur ayyadahullah bersabda bahwa rahmat Tuhan sangat luas. Pada kenyataannya, Tuhan Yang Maha Esa sendiri telah menyatakan bahwa rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Hal ini dijelaskan melalui kisah yang diceritakan oleh Nabi (saw). Ada orang yang telah melakukan 99 pembunuhan. Dia merasa tidak enak dan pergi ke seseorang untuk menanyakan apakah dia bisa diampuni. Orang itu berkata bahwa setelah melakukan 99 pembunuhan, tidak ada cara baginya untuk diampuni; jadi dia membunuh orang itu, dan dengan demikian membunuh 100 orang.

Dia kemudian pergi ke orang lain dengan pertanyaan yang sama. Orang itu mengatakan kepadanya bahwa pintu belas kasihan Tuhan selalu terbuka, dan mengatakan kepadanya bahwa dia harus pergi ke tempat ini dan itu di mana dia akan menemukan orang-orang yang berdoa kepada Tuhan. Dia harus bergabung dengan mereka dan mencari pengampunan. Namun, dia tidak akan pernah bisa kembali ke kota asalnya, karena pertobatan sejati adalah tidak pernah kembali. Jadi, dia berangkat ke tempat itu, tetapi dia mati di sepanjang jalan.

Malaikat Rahmat (belas kasihan) dan malaikat Adzab (hukuman) datang untuk menentukan nasibnya. Malaikat untuk hukuman mengatakan bahwa dia harus dihukum atas kejahatannya, sedangkan malaikat untuk belas kasihan mencarinya untuk diampuni. Diputuskan bahwa akan terlihat apakah dia lebih dekat dengan asal perjalanannya atau lebih dekat ke tujuan yang diinginkannya, dan itu akan menentukan bagaimana nasibnya nantinya. Ketika mereka mengukur, dia hanya sedikit lebih dekat ke tujuannya, jadi Tuhan menunjukkan belas kasihan dan dia dibawa ke surga.

Hudhur ayyadaHuLlahu berkata bahwa ini adalah pertanyaan yang banyak anak muda tanyakan saat ini, tentang seberapa luas sebenarnya pengampunan Tuhan itu, dan apakah mereka dapat diampuni. Ini adalah fakta yang diketahui bahwa Tuhan berpaling dengan belas kasihan kepada mereka yang berpaling kepada-Nya.

Nabi (saw) bersabda bahwa orang yang berjalan menuju Tuhan, Tuhan berlari ke arah mereka. Dengan demikian, bulan Ramadhan adalah kesempatan utama untuk berpaling kepada Tuhan, dan mencari pengampunan dan bertobat.

Hudhur ayyadahullah bersabda bahwa sebagai Ahmadi yang menghadapi kesulitan besar, solusinya adalah kita menjalin hubungan dengan Tuhan. Ketika kita melakukannya, dan ketika daya tahan kita dan permintaan pengampunan kita diterima oleh Tuhan, maka kita akan diselamatkan dari cengkeraman para penentang.

Hudhur ayyadahullah bersabda bahwa dalam doa kita selama Ramadhan, kita harus berdoa agar diselamatkan dari kejahatan para penentang. Kita harus berdoa bagi mereka yang mengalami kesulitan, agar mereka diberikan kemudahan. Para Ahmadi di Pakistan juga harus berdoa secara khusus.

Hudhur ayyadahullah juga berdoa agar kita semua bisa diselamatkan dari pandemi saat ini yang sedang dihadapi dunia.

Hudhur ayyadaHuLlahu berdoa semoga kita menjadi orang yang dengan tulus mengirim salam kepada Nabi Muhammad (saw) dan benar-benar mencari pengampunan.

Penterjemah/Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Sumber: The Review of Religions. Ringkasan disiapkan oleh Redaksi The Review of Religio. CATATAN: Tim Alislam bertanggung jawab penuh atas segala kesalahan atau miskomunikasi dalam Sinopsis Khotbah Jumat ini.