Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Bagaimana Hukum Jual Beli Rambut

Allah Ta’ala telah memberikan keleluasaan kepada manusia untuk melaksanakan jual beli demi memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti yang tercantum dalam ayat,

...وَ اَحَلَّ اللّٰہُ الۡبَیۡعَ وَ حَرَّمَ الرِّبٰوا ؕ...

“… Dan Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba …” (QS Al-Baqarah [2]: 276 dengan basmallah)

Namun bagaimana jika yang diperjual-belikan itu adalah rambut manusia? Dan sebenarnya untuk apa rambut manusia diperjual belikan?

Berdasarkan pantauan lewat media detik.com [1] bahwa rambut-rambut yang dikumpulkan oleh para pengumpul rambut akan disetorkan pada pabrik rambut palsu (rambut imitasi). Oleh karena itu kita mengetahui bahwa rambut yang dijual-belikan itu akan dibuat produk menjadi rambut-palsu atau wig dan produk tersebut digunakan untuk “menyambung rambut”.

Allah Ta’ala Memberikan Laknat Bagi Penyambungan Rambut

Allah Ta’ala telah memberikan laknat untuk menyambung rambut. Dalam satu riwayat disebutkan,

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ قَالَ نَافِعٌ الْوَشْمُ فِي اللِّثَةِ

…dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah melaknat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang minta untuk disambung rambutnya, wanita yang mentato dan wanita yang minta untuk ditato.” (H.R. Tirmidzi) [2]

Rasulullah (saw) Memberikan Laknat Bagi Penyambungan Rambut

Selain Allah Ta’ala memberikan laknat pada penyambung rambut, Rasulullah (saw) pun sama-sama memberikan laknat bagi orang yang menyambung rambut. Diriwayatkan,

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ قَالَتْ لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ

…dari Asma’ binti Abu Bakr dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya.” (H.R. Bukhari) [3]

Pernah satu kali ada seorang wanita yang rontok rambutnya dan akan disambung dengan rambut palsu. Rasulullah (saw) tetap tidak memperbolehkan hal itu dilakukan. Diriwayatkan,

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أَنْكَحْتُ ابْنَتِي ثُمَّ أَصَابَهَا شَكْوَى فَتَمَرَّقَ رَأْسُهَا وَزَوْجُهَا يَسْتَحِثُّنِي بِهَا أَفَأَصِلُ رَأْسَهَا فَسَبَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوَاصِلَةَ وَالْمُسْتَوْصِلَةَ

dari Asma’ binti Abu Bakr radliallahu ‘anhuma bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata; “Sesungguhnya saya hendak menikahkan putriku, ternyata putriku menderita suatu penyakit yang menyebabkan rambutnya rontok sedangkan calon suaminya sangat kasihan kepadanya, apakah saya boleh menyambung rambutnya?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutuk orang yang menyambung rambutnya dan yang minta disambung rambutnya.” (H.R. Bukhari) [4]

Jadi menurut hadits diatas, Rasulullah (saw) menyatakan ketidaksukaannya yang sangat terhadap menyambung rambut.

Bani Israil Pernah Diazab Karena Menyambung Rambut

Selain itu, kita telah diberikan pelajaran bahwa kaum Bani Israil pernah diazab akibat menyambung rambut. Oleh karena itu, jangan kaum Muslimin pun ikut terkena azab dari hal yang sama. Diriwayatkan,

سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ بِالْمَدِينَةِ وَأَخْرَجَ مِنْ كُمِّهِ قُصَّةً مِنْ شَعْرٍ فَقَالَ يَا أَهْلَ الْمَدِينَةِ أَيْنَ عُلَمَاؤُكُمْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى عَنْ مِثْلِ هَذِهِ وَقَالَ إِنَّمَا هَلَكَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ حِينَ اتَّخَذَ نِسَاؤُهُمْ مِثْلَ هَذَا

…Aku mendengar Mu’awiyah berkhutbah di atas mimbar Madinah, ia mengeluarkan rambut dari dalam saku bajunya seraya mengatakan, “Wahai penduduk Madinah, dimanakah ulama kalian! Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari yang seperti ini, beliau bersabda: “Bani Israil celaka ketika wanita-wanita mereka mengambil (menyambung rambut) yang seperti ini.” (H.R. Nasai) [5]

Rasulullah (saw) Tidak Menyukai Kepalsuan

Rasulullah (saw) menyebut menyambung rambut itu sebagai Az-Zuur yang berarti kepalsuan atau kebohongan. Dan Rasulullah (saw) mengutuk hal ini.

قَدِمَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ الْمَدِينَةَ آخِرَ قَدْمَةٍ قَدِمَهَا فَخَطَبَنَا فَأَخْرَجَ كُبَّةً مِنْ شَعَرٍ فَقَالَ مَا كُنْتُ أُرَى أَنَّ أَحَدًا يَفْعَلُ هَذَا غَيْرَ الْيَهُودِ وَإِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمَّاهُ الزُّورَ يَعْنِي الْوِصَالَ فِي الشَّعَرِ

…Mu’awiyah bin Abu Sufyan mengunjungi Madinah pada kunjungannya yang terakhir lalu dia memberikan khotbah sambil memegang jambul rambutnya lalu berkata; “Aku belum pernah melihat seorang pun yang melakukan hal seperti ini kecuali orang Yahudi dan sesungguhnya Nabi Shallallu ‘alaihi wa salam menamakannya dengan az-Zuur (kepalsuan) yaitu menyambung rambut dengan rambut palsu”. (H.R. Bukhari) [6]

Kesimpulan

Jadi, jual-beli sesuatu yang mengakibatkan laknat Allah Ta’ala, laknat Rasulullah (saw) dan mengakibatkan azab tentu saja hal itu mendatangkan buruk walaupun tidak dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits diatas. Oleh karena itu menjual atau membeli rambut juga merupakan hal yang sangat tidak disukai Allah dan Rasul-Nya sehingga kita (sebagai kaum Muslimin) sekuat mungkin bisa menghindari.

Catatan Kaki