Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Nasehat Bagi Mubalig (Seri 2)

Huzur V atba bersabda,

“Setiap Ahmadi mengetahui, bahwa dia harus berkorban demi Allah Ta’ala. Sekalipun muncul banyak penentangan, tapi setiap jemaat Ilahi tidak pernah mundur dari menyampaikan tabligh itu. Tugas tablig ini harus diemban oleh setiap ahmadi. Sampaikanlah (tablig) sembari menciptakan keikhlasan dan kesetiaan di dalam diri, sampaikanlah (tablig) sembari menciptakan perubahan suci di dalam diri, sampaikanlah (tablig) sembari memenuhi janji baiat kita, karena inilah tugas seorang Hawari. Seperti yang telah saya sampaikan pasca Jalsah Salanah UK, bahwa pembuktian tindak lanjut yang besar dalam mengemban tanggung jawab itu sedang berlangsung saat ini di setiap daerah, setiap wilayah, dan setiap negeri. Walhasil, perubahan suci inilah yang telah Hazrat Masih Mau’ud (as) ciptakan di dalam diri kita.

Pada umumnya, kewajiban setiap ahmadi adalah harus berupaya untuk menyampaikan tablig suci itu di daerahnya masing-masing yang dia inginkan. Tapi Al Qur’an Karim menyebutkan satu golongan yang khusus juga, yang akan menyampaikan syi’ar Qur’an Karim. Pertama-tama, mereka (golongan itu) menuntut ilmu agama dan mewakafkan dirinya untuk menyebarkan ilmunya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿۱۰۵﴾

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3] : 105)

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman,

وَ مَا کَانَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لِیَنۡفِرُوۡا کَآفَّۃً ؕ فَلَوۡ لَا نَفَرَ مِنۡ کُلِّ فِرۡقَۃٍ مِّنۡہُمۡ طَآئِفَۃٌ لِّیَتَفَقَّہُوۡا فِی الدِّیۡنِ وَ لِیُنۡذِرُوۡا قَوۡمَہُمۡ اِذَا رَجَعُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ لَعَلَّہُمۡ یَحۡذَرُوۡنَ ﴿۱۲۲﴾٪

Artinya: “tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (At-Taubah [9]: 122)

Pertama-tama, ini merupakan tanggung jawab yang umum. Seperti yang telah saya sampaikan bahwa itulah kebaikan setiap orang yang beriman, yang dengannya (kebaikan), dia akan mendapatkan bagian, jadi sampaikanlah kebaikan itu, jangan biarkan rasa takut apapun menjadi hambatan dalam perjalanan. Tentu bekerja dengan hikmat adalah bagian dari firasat seorang mukmin, tapi nasihat yang baik (Mau’izoh hasanah) pun bisa mendinginkan api permusuhan. Sebagaimana sudah saya sampaikan dalam kesempatan Jalsah UK yang lalu, sebagian besar penduduk dunia sedang gelisah untuk mencari jalan-jalan perdamaian. Jadi tugas inilah yang harus dilakukan oleh setiap kita. Tapi karena tidak setiap orang memiliki pengetahuan yang sempurna dalam hal itu, tidak (setap orang) juga bisa meluangkan waktu (untuk itu), karena itu Allah Ta’ala telah menetapkan satu kelompok dari antara umatnya yang akan mengemban tanggung jawab ini. Dan untuk melaksanakan tanggung jawab ini didalam jemaat terdapat satu nizam wakaf zindegi. Setiap pemuda yang mempersembahkan dirinya untuk menuntut ilmu agama lalu mempersembahkan dirinya untuk menyebarluaskan dan menyampaikannya (ilmu). Dia (pemuda itu) hendaknya berfikir bahwa dia sudah mengikat janji dengan Hazrat Masih Mau’ud as untuk menyebarkan syariat yang telah dibawa oleh Rasulullah (saw) ke dunia ini. Seandainya (dalam melaksanakan tugas itu) jiwa harus melayang, maka biarkanlah melayang, tapi jangan sampai ada kekurangan dalam janji baiat itu. Jadi kenikmatan yang telah kita raih dalam bentuk khair (kebaikan) ini, dan diantara kita yang menuntut ilmu secara mendalam, tugasnya adalah bersiaplah untuk mati dan selamatkanlah dunia ini supaya tidak terjatuh kedalam gejolak api! Tidaklah mungkin setiap orang memiliki ilmu dan pengetahuan seperti yang dimiliki oleh orang yang menuntut ilmu. Tugas para Muballighin dan Mualliminlah untuk menyebarkan ilmu itu, yang dengan karunia Nya Allah telah anugerahkan (ilmu itu) kepadanya. Jemaat telah membelanjakan harta dan waktu untuk mereka (muballighin) dan telah menjadikan mereka layak untuk ikut serta sebagai pejuang yang khusus Hazrat Masih Mau’ud as yang seharusnya digelari sebagai Mujahidin saf awwal Hazrat masih Mau’ud as.

Begitu juga talim dan tarbiyat didalam intern kita sendiri pun adalah tugas yang sangat berat yang telah diserahkan di pundak para Muballighin dan Muallimin, supaya kelemahan-kelemahan yang mengakibatkan kita mahrum dari segala nikmat, yang selalu timbul didalam jemaat kita hilang selamanya. Ketika mereka datang dengan berlari, dan mulai Nampak bahwa dia akan dating, pada saat orang-orang berbondong bondong untuk masuk kedalam jemaat ini, maka tanggung jawab yang dihadapi akan semakin besar, menuntut untuk bekerja lebih giat lagi. Memang, itu adalah tugas setiap ahmadi juga untuk memikirkannya, tapi mereka yang telah serahkan amanat untuk melaksanakan tugas-tugas ini dan mereka yang telah mempersembahkan dirinya untuk tujuan ini bahwa kami akan menjadi sosok Mujahidin saf awal Hazrat Masih mau’ud as. Tugas mereka yang paling ‘tama adalah berfikir (merenungkan). Saat ini para pemuda yang sedang menuntut ilmu di berbagai jamiah yang ada di dunia ini, mereka pun harus berjanji bahwa kami tidak akan membiarkan hasrat-hasrat duniawi jenis apapun menjadi hambatan untuk terpenuhinya janji janji kami. Mereka yang berada di medan pengkhidmatan pun hendaknya memikirkan juga, apakah kita sedang melaksanakan hak-hak sebagai wakaf zindegi? Banyak sekali jumlah waqif e now yang akan selesai dari jamiah-jamiah yang kemudian akan berkhidmat (dilapangan). Hendaknya para wakifin lama (senior) menjadi suri tauladan yang terbaik bagi mereka. Jadi berusahalah dengan keras untuk memenuhi tuntutan wakaf diri dengan penuh keikhlasan. Simpanlah suri tauladan itu dihadapan kita, yakni suri tauladan yang telah dicontohkan oleh para sahabah Rasulullah SAW. Suri tauladan itulah yang harus senantiasa kita pegang yakni suri tauladan yang telah ditegakkan oleh para sahabat ra yang sudah mendapatkan tarbiyat Hazrat Masih Mau’ud as.

Dengan karunia Allah Ta’ala, pada hari ini banyak sekali yang pengorbanannya patut mendapatkan penghormatan. Tapi dalam golongan ini hendaknya genap 100 persen dari orang-orang yang melakukan pengorbanan itu, yang suri tauladannya bisa menjadi penerang jalan (penunjuk jalan) bagi setiap anggota Ahmadi. Jangan berikan peluang (kepada orang-orang) untuk mengajukan keberatan/protes terhadap seorang Murabbi, Muballig, muallim, atau wakif zindegi manapun. Meskipun tidak mungkin sempurna 100 persen, karena (pada tabiat) sebagian orang terdapat kebiasaan suka memprotes, sehingga terus-menerus memprotes, dan memang mereka ingin memprotes, tapi sikap seorang muballigh harus sedemikian rupa sehingga setiap protes yang dilemparkan kepadanya menjadi tamparan bagi yang melontarkannya. Hazrat Masih Mau’ud menerjemahkan ayat :

… یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ...

Sebagai berikut,”Mereka yang menyeru kepada kebaikan, dan menggunakan amar ma’ruf dan nahii munkar sebagai strateginya. Sekarang perhatikanlah, siapakah yang bisa menyeru kepada kebaikan? Dialah tentunya yang memiliki perhatian untuk mengamalkan kebaikan-kebaikan itu. Seorang yang bodoh dan jahil masih bisa dimaafkan ketika berbuat suatu kesalahan, tapi sangatlah menakutkan jika seorang yang berilmu, yang biasa memberikan nasihat kepada orang lain, tapi dia tidak meinperhatikan kelemahan-kelemahannya sendiri. Jadi orang memiliki ilmu agama, hendaknya banyak merenung, sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda,” Jadikanlah amar ma’ruf dan nahii anil munkar sebagai strategi kita! Perintah untuk mengamalkan yang ma’ruf bisa disampaikan, dan keburukan bisa dicegah, jika dia memiliki keberanian yang sangat besar, kerendah hatian, kepedulian terhadap semangat (jazbaat) orang lain, terbiasa menghadapi kesulitan, dan berupaya untuk sebisa mungkin menjadikan rumah tangga sebagai pemandangan surgawi, karena didalamnya (rumah tangga), istri seorang wakif zindegi memiliki peranan penting. Untuk itu, seorang istri waqif zindegi juga jangan pernah menuntut sesuatu yang bisa merepotkan sang suami, yakni seorang wakif zindegi. Yang terpenting adalah harus lebih banyak berdoa, beribadah, dan mengamalkan nawafil, karena dengan mengharapkan kekuatan tangan kita saja tidak akan bisa mencondongkan seseorang kepada kebaikan, tidak juga bisa mencegah seseorang dari melakukan keburukan. Untuk itu perlu pertolongan Allah Ta’ala. Sedangkan dengan doalah pertolongan (Allah “Ta’ala) bisa diraih.

Kalaulah hal-hal ini ada, maka tuan-tuan akan menjadi Murabbi, Penasihat, Muballig yang terbaik. Jika sebaliknya, tuan-tuan akan termasuk kedalam golongan seperti yang difirmankan, “lima taquuluuna maa laa tafaluwn”. Kenapa kalian mengatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengamalkannya? Tapi disini saya ingin menjelaskan hal ini bahwa perintah ini tidak hanya untuk para waqifin saja, meskipun memang merekalah (wakifin) yang harus paling banyak merenungkannya, bahkan Allah Ta’ala memerintahkan ini kepada seluruh orang mu’mir. Jadi setiap ahmadi harus menegakkan suri tauladannya masing-masing, sehingga di medan pertablighan akan bisa meraih kemajuan. Upaya-upaya jitu sekalipun yang dilakukan oleh seorang Murabbi/muballig, tapi disisi lain sikap para anggota jemaat di lingkungannya justru mengakibatkan kerugian bagi orang lain, maka upaya-upaya jitu tadi tidak akan memberikan hasil. Setiap anggota jemaat hendaknya ingat bahwa mereka juga adalah duta jemaat dan ketika ada upaya yang sinergi (antara anggota dan muballig) maka pada saat itulah akan terus timbul perluasan di medan pertablighan. Kembali kepada para Muballighin, saya ingin menyampaikan sabda Hazrat Masih mau’ud as kepada mereka dan mungkin saja semuanya sudah pernah membacanya, tapi dengan membacanya saja, tidak akan memberikan manfaat, jika tidak diulang secara berkelanjutan. Dalam menjelaskan berkenaan dengan kalimat tafaqqohuu fiddiin Beliau as bersabda, ”Hendaknya terdapat orang-orang yang tafaqqohuu fidiin.” Yakni agama yang telah diajarkan oleh Rasulullah (saw), sehingga kita bisa ber-tafaqquh didalamnya, janganlah hanya ingat seperti burung beo saja, tapi tidak ada kelezatan dalam kebiasaan merenungkannya, dengan begitu tujuannya tidak akan tercapai seperti yang Rasulullah (saw) harapkan. Karena tidak semua orang bisa melakukan hal itu, sehingga Beliau (saw) tidak bersabda, “Jadilah semuanya seperti itu!” Tapi Beliau bersabda, ”Dari antara jemaat dan golongan hendaknya ada sekurang-kurangnya satu orang”, seolah-olah (maksudnya),”Seharusnya ada sebuah jemaat orang-orang yang bisa melakukan tugas-tugas tablig dan syi’ar, juga karena tidak setiap orang memiliki kecondongan dan hobi yang seperti itu.

Bagi mereka yang berada di medan pengkhidmatan (lapangan), mereka pun hendaknya terus menambah ilmu pengetahuan mereka, juga jamiah-jamiah yang sudah dibuka di berbagai belahan dunia, yang didalamnya (mahasiswa) sedang menuntut ilmu, ingatlah, bahwa mereka harus memiliki kebiasaan berfikir dan merenungkan. Dalam hal keilmuan, sesuai dengan sabda Hazrat Rasulullah (saw), “Harus terus menuntut ilmu, sampai masuk ke liang lahat, karena itu, mereka harus menaruh perhatian terhadap muthalaah dan berfikir, sehingga bisa menjadi sarana untuk bertabligh dalam corak yang lebih baik nantinya.

Para sahabat Rasulullah (saw) juga menuntut ilmu dan mesyi’arkannya, mereka telah memperlihatkan suri tauladan suci, telah merubah hati orang orang. dengan sarana doa, mereka telah menyebarkan langkah ke selatan dan utara, timur dan barat dan telah sedemikian rupa memberikan jawaban-jawaban jitu atas keberatan (para penentang) sehingga membungkam mulut mereka (penentang). Dengan perantaraan beliau-beliaulah riwayat-riwayat hadits pun sampai kepada kita, yang darinya kita mendapatkan ilmu. Mereka yang telah bersama sama Rasulullah (saw). Meskipun Hazrat Abu Hurairah datang di akhir, tapi beliau telah melakukan Ihsan yang agung untuk kita, dengan meriwayatkan (hadits) yang sedemikian rupa banyaknya. Beliau tidak tinggal hidup disana (bersama Rasul SAW) hanya untuk mencari kesenangan semata, tapi beliau terpaksa menahan rasa lapar yang begitu hebatnya, sehinga tak jarang beliau jatuh pingsan.

Sahabat-sahabat Hazrat Masih Mau’ud as juga telah melaksanakan tugas tablig. Para waqifin-e-zindegi khususnya dan anggota Jemaat pada umumnya juga harus menelaah riwayat hidup beliau-beliau (ra). Kita harus mengenang pengorbanan pengorbanan beliau-beliau (ra). Beberapa orang suci terdahulu kita juga ada yang menghabiskan hidupnya demi agama, tapi sayangnya, diantara keturunan mereka, tidak ada satu pun yang maju kedepan untuk tafaqqohuu fiddiin. Sekarang dengan karunia Allah Ta’ala, dengan adanya program waqf-e-nou, timbul perhatian (para ahmadi) akan hal itu, tapi kita pun hendaknya berupaya untuk meraih standard yang telah diperlihatkan oleh orang-orang suci terdahulu, yang dengannya bisa terjalin hubungan yang khas dengan Allah Ta’ala. Mereka tidak memperdulikan gemerlap duniawi dan beberapa orang diantaranya meninggalkan pekerjaannya yang bagus, meninggalkan hal-hal duniawi, dan terus berderap maju untuk mengkhidmati agama. Sedemikian rupa Beliau beliau mendahulukan agama dari pada dunia sehingga tidak pernah terbetik (dalam fikiran mereka) untuk memikirkan hal-hal duniawi. Kita yang hidup jauh dari zaman Hazrat Masih Mau’ud (as), seiring dengan upaya yang khas disertai doa, sembari menuntut ilmu agama, kita pun harus mencari jalan untuk meraih Qurub Ilahi dan Makrifatnya. Kita harus siapkan jiwa kita untuk menghadapi segala kekerasan demi meraih tujuan itu.

Apabila kita permisalkan hal ini wahyu, maka kita akan mencontohkan lebah madu, tapi memiliki beberapa kekhususan lain lagi, satu kekhususan yang paling menonjol bahwa lebah madu pada umumnya mereka terlihat mati didalam medan pengkhidmatannya. Ketika dia pergi untuk menghisap memanisan yang terdapat pada bunga, maka disanalah dia mati, lain halnya kalau manusia membunuhnya didekat sarangnya, atau terjadi kecelakaan. Pada umumnya mereka mengorbankan nyawanya ketika mengerjakan pekerjannya.

Kemudian kekhususan lain dari (lebah madu) adalah bahwa didalam sarangnya terdapat induk lebah, meskipun dia menginginkan untuk bertelur, tapi dia tidak bertelur disana, karena ini adalah hak dari sang ratu (lebah). Ini adalah pelajaran yang sempurna dalam hal keitaatan dan pengorbanan. Allah Ta’ala tidak memberikan akal kepada mereka (lebah) seperti yang dimiliki oleh manusia. Karena itu Allah Ta’ala sendiri ciptakan hambatan didalamnya, supaya dalam mengutamakan hak sang ratu kalian pun harus mengorbankan diri sendiri. Tapi manusia diciptakan sebagai asyroful makhluqat, diberikan otak yang dengannya dia berfikir, yang dengannya kita diberikan kemahiran dan perintah untuk mengeluarkan sari pati yang baru dalam keilmuan sehingga sampai pada keluasan dan mengantarkannya pada puncaknya. Tapi didalam nizam ruhani, dia diperintahkan untuk mengikuti para nabi dan khalifah. Meskipun kalian memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas, meskipun kalian memiliki kemampuan untuk mengeluarkan saripati penafsiran, meskipun kalian memiliki kerohanian yang tinggi, tapi pada zaman nabi, kalian diperintahkan untuk mengikuti nabi dan pada zaman khalifah kalian diperintahkan untuk mengikuti khalifah. Meskipun kalian merasa memiliki kemahiran dalam mengeluarkan saripati makrifat yang luas, tidak dibenarkan kalau kalian menyebarkan penafsiran sendiri, tanpa seizin khalifah-e-waqt (khilafat yang sedang memimpin), memang ada juga saripati ilmu (point) yang tinggi yang bisa disebut dengan penafsiran (pribadi) yang disenangi dan bisa dicerna oleh pemikiran setiap orang, tapi dengan seizin khalifah-e-waqt lah (penafsiran pribadi yang disenangi) itu akan sampai kepada jemaat dan harus (dengan seizinnyalah). Kalaulah khalifah-e-waqt tidak menyetujui point (penafsiran pribadi yang disenangi) itu, maka tidak akan bermanfaat bagi jemaat. Sesuai dengan sabda Hazrat Rasulullah (saw) bahwa seorang imam adalah tameng.

Jadi ini juga maksud dari Tafaqqohuu fiddin bahwa ilmu agama yang kalian dapatkan, untuk menyebarkannyapun hendaklah mengikuti (perintah) imam dan dengan seizinnya. Kalaulah ini tidak ada, maka pemikiran tentang khilafat alaa minhajin nubuwwah pun akan keliru. Sehingga akan terlahir para faqih yang menjelaskan agama menurut akal dan ilmunya saja. Pada niyatnya tidak ada yang bisa diragukan, pada saat dia dilahirkan kedunia ini, dia pun memerlukan zaman itu, tapi dia telah melenyapkan kesatuan itu. Sekarang ketika Allah Ta’ala berfirman kepada Hazrat Masih Mau’ud as, bahwa, ”Kumpulkanlah seluruh umat Islam yang ada di bumi ini di dalam agama yang wahid”, maksudnya adalah hilangkanlah firqah-firqah dan jadilah ummatan wahidah. Seperti yang telah saya sampaikan, bahwa silahkan saja mengeluarkan sari pati ilmu (penafsiran pribadi yang disukai) sesukanya dan memang harus keluar, tapi (ingatlah bahwa ilmu) yang mendapat dukungan dari khilafatlah, yang akan tersebar. Dan ketika kita tegak didalam keyakinan bahwa khilafat akan tegak dalam golongan orang-orang yang beribadah dan melakukan amal shaleh dan sesuai dengan nubuatan Rasulullah (saw) dan sabda Hazrat Masih Mau’ud as mereka pasti akan mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala. Kemudian ada lagi satu pelajaran yang bisa diambil dari lebah madu yaitu mereka setiap saat selalu siaga untuk melindungi ratunya. Adalah kewajiban setiap anggota jemaat, apakah dia waqif zindegi atau anggota biasa, memang bagaimanapun (kedudukan) seorang ahmadi tidak pernah umum (biasa), mereka yang sudah baiat kepada Hazrat Masih Mau’ud (as), tidaklah umum lagi, mereka itu sesuatu yang penting dan memiliki satu kedudukan. Setiap saat mereka hendaknya menjadikan suri tauladan Hazrat Talhah ra dihadapannya, (sahabat) yang telah menghalangi wajah Rasulullah (saw) (dari anak panah) dengan tangannya pada saat perang Uhud. Hari ini, akulah yang paling pertama yang harus menjaga Rasulullah (saw). Ketika anak panah mengenai tangan beliau (ra), beliau tidak merintih kesakitan, tidak juga berteriak ‘ah uh’, karena, (beliau beranggapan) kalaulah saya meneriakkan ‘uh ah’, maka tangan saya akan bergerak, sehingga (anak panah) akan mengenai Rasulullah (saw). Akhirnya, setelah peperangan itu tangan beliau terpotong dan tidak berguna lagi.

Hazrat Masih Mau’ud (as) juga mengharapkan hal yang sama dari setiap Ahmadi. Beliau bersabda, “Setelah menisbahkan banwa kami adalah ahmadi, janganlah mencemarkan nama baik kami.” Jadi setiap Ahmadi adalah penting dan sangatlah penting. Senantiasalah memahami bahwa sekarang dibelakang tangan tuan terdapat wajah Ahmadiyah dan Islam yang hakiki, janganlah pernah membiarkannya rugi, siaplah setiap saat. Setiap ahmadi yang telah berjanji untuk mengorbankan jiwa, harta, waktu, dan kehormatan untuk melindungi Khilafat Ahmadiyah, penuhilah janji itu.dan ini akan terlaksana, jika setiap ahmadi menjadi orang yang menjaga shalat-shalatnya dan memperhatikan amalan-amalannnya.

Selanjutnya lebah madu memberikan satu pelajaran lagi kepada kita bahwa untuk satu sendok madu, mereka (lebah) menempuh jarak ribuan mil. Sebagian mengatakan bahwa mereka (lebah) menempuh jarak 2000 mil. Kerja keras ini mereka lakukan dengan mengamalkan wahyu yang telah Allah Ta’ala sampaikan kepada lebah yang kecil itu. Kita yang terhitung sebagai ashraful makhluqat, kita yang menganggap dan mendakwakan bahwa kita adalah umat yang terbaik, yang telah diciptkan untuk memberikan petunjuk kepada seluruh manusia, kita yang menganggap diri kita mengimani Rasulullah (saw) secara sempurna dan mengikutsertakan dirinya dalam baiat kepada imam zaman dan pecinta sejati Rasulullah (saw) menjadi begitu pentingnya tanggung jawab kita untuk menyampaikan pesan itu di lingkungan kita dengan kerja keras. (pesan) yang telah Allah Ta’ala turunkan kepada kita dengan perantaraan Hazrat Rasulullah (saw), yang saat ini merupakan sarana untuk tegaknya dunia.

Sejarah nabi-nabi memberitahukan kepada kita bahwa orang-orang yang mengingkari para nabi, mereka menjadi sasaran cengkraman, kadang bentuk hukumannya dengan perantaraan air, kadang dengan taufan batu, kadang dengan gempa, kadang dengan angin taufan. Mereka yang mengingkari para nabi, mengolok olokan para nabi dan yang memberikan kesulitan kepada mereka (nabi-nabi), mereka selalu dicengkram oleh Allah Ta’ala. … Jadi, ini adalah pesan, yang harus kita sampaikan ke setiap penjuru dunia, supaya dunia bisa selamat dari kehancuran, supaya dari pada menentang (para nabi), kalian terimalah pesan itu! Jadi saat ini, untuk mengambil manfaat dari agama yang langgeng sampai hari kiamat itu dan mujizat yang langgeng sampai harii kiamat itu, kita harus memberikan perhatian akan tanggung jawab kita masing-masing. Sainpaikanlah kepada dunia, kemarilah! Ambillah bagian dari mukjizat ini, yang berkaitan erat dengan pengamalan talim rasa cinta dan kasih sayang Rasulullah (saw) dan huququllooh dan huququl ‘ibad.

(Suatu hari-pent) Hazrat Muslih Mau’ud (ra) memperhatikan seorang musisi, seorang pemain music (seniman), ”Kami berada didalam satu ceramah yang dikumandangkan 1500 tahun yang lalu, yang dengannya telah tercipta satu perubahan di dunia ini dan telah menggiring Arab dan non-arab kehadapan singgasana Allah Ta’ala. (Juga) Seorang “seniman” yang terhitung 120 tahun dari sekarang, yang telah didendangkan oleh Masih Muhammadi yang kedua kalinya, yang telah merebahkan benteng tuhan-tuhan palsu, yang telah meniup terompet pemerintahan Tuhan yang Maha Esa dan menyelamatkan (manusia) dari keyakinan yang menganggap seorang hamba sebagai Tuhan, (seniman) yang telah mengumumkan kepada dunia untuk berkumpul di kaki Hazrat Aqdas Muhammad Rasulullah (saw). Juga dialah seorang “seniman” yakni Hazrat Muslih Mau’ud (ra) yang telah memberikan perhatian akan hal tersebut kepada jemaat 50, 60 tahun yang lalu dari sekarang, seperti yang telah saya katakan. Supaya dunia menyaksikan pemandangan tegaknya kerajaan samawi, saat ini merekalah para “seniman” yang penting untuk kehidupan dan kelanggengan hidup kita, kehidupan dan kelanggengan dunia, Jadi, wahai orang-orang yang mencari perlindungan dari benteng zaman, kita harus mengangkat suara “seniman” itu dari sanggarnya dengan keagungan, (“seniman”) yang akan mengungguli para seniman seniman duniawi sehingga akan mulai terdengar satu teriakan di dunia ini, yaitu teriakan Allohuakbar, dan akan mulai dibaca satu kalimat, yakni kalimat laa ilaaha illallooh. Saya ingatkan lagi bahwa di tahun ini Ahmadi yang tinggal di utara, barat, timur, selatan, jadikanlah teriakan (yel yel) itu sebagai tanda bermulanya penegakan dengan keagungan yang khas dan dengan tekad baru. Semoga permulaan abad baru Jemaat Ahmadiyah dan tahun pertama ini menjadi batu pertama kecondongan untuk membawa inqilab di dunia ini. Semoga suara yel-yel dan dendangan “seniman” itu mulai terdengar di Eropa dan Asia, Afrika dan Amerika, dan di jazirah secara serentak. Bangkitlah dan gunakanlah seluruh kemampuan kita hanya untuk pekerjaan itu, semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kalian, semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua. Aamiin.

Sumber

Khutbah Penutupan Hazrat Khalifatul Masih Al Khamis pada Kesempatan Jalsah Salanah Jerman 2009, Petunjuk Untuk Para Murabbiyan Dan Muballighin