Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Keutamaan Alfatihah

Doa yang Paling Baik

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

”Doa paling baik adalah yang mengandung segala kebaikan dan menghindarkan segala kemudharatan. Oleh sebab itu doa “An’amta ‘alaihim – (orang-orang yang telah Engkau beri anugerah (karunia/nikmat) kepada mereka) merupakan doa untuk memperoleh anugerah-anugerah (karunia-karunia) segenap mun’am ‘alaihim (orang yang telah memperoleh anugerah) mulai sejak Hadhrat Adam a.s. sampai masa Rasulullah (saw), sedangkan di dalam “ghairil- maghdhubi ‘alaihim wa laadh-dhaalliin (bukan jalan orang-orang yang telah dimurkai dan bukan pula orang-orang yang sesat” – Al-Fatihah, 5). [1]

Kerendahan Hati Saat Shalat

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

”Salah satu arti Al-Fatihah adalah menaklukkan, ia membuktikan seseorang menjadi beriman atau ingkar. Dengan kata lain ia membedakan antara yang dua tersebut. Ia membukakan hati dan memberikan pengertian. Itulah sebabnya surah Al-Fatihah harus dibaca begitu sering, dan seseorang harus menghayati doa ini dengan khusyuk. Dia menjadikan seseorang betul-betul seperti seorang pengemis dan sangat membutuhkan.

Sebagaimana seorang pengemis merendahkan dirinya dan meminta kemurahan dengan menunjukkan dia sangat membutuhkan atau dengan mengubah nada suaranya, seseorang hendaknya merendah dan kemudian memohon kepada Tuhan mencukupi kebutuhannya.

Kecuali jika orang merendahkan dirinya saat salat dan menjadikan salat sebagai permohonannya, maka salat tidak dapat dinikmati dengan sepenuhnya.” [2]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

”Fatihah juga berarti memenangkan. [Fatihah] ini menjadikan orang mukmin sebagai mukmin, dan menjadikan orang kafir sebagai kafir. Yakni ia menimbulkan suatu perbedaan antara keduanya. [Surah Al Fatihah] ini membukakan kalbu dan menimbulkan suatu kelapangan di dalam dada, oleh karena itu, banyak-banyaklah membaca surah Al-Fatihah, dan penting untuk betul-betul merenungkan doa [Al-Fatihah] ini.

Adalah wajib bagi manusia untuk menjadikan dirinya seperti seorang peminta-minta dan pengemis yang sempurna. Dan seperti seorang faqir serta pengemis yang menyentuh perasaan kasih pada diri orang lain kadang-kadang melalui wajahnya, dan kadang-kadang melalui suaranya. Seperti itu pulalah hendaknya manusia menyampaikan permohonannya di hadapan Allah Ta’ala dengan penuh tadharru’ dan dengan sepenuh hati.

Jadi, selama belum menerapkan tadharu’ dalam salat dan belum menyatakan salat sebagai sarana doa, maka bagaimana mungkin dapat timbul kelezatan di dalam salat?”. [3]

Di Dunia Ini Kehidupan Akhirat Diperlihatkan kepada Orang Mutaki

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Jadi, ini adalah suatu nikmat, bahwa para wali dapat melihat malaikat-malaikat Tuhan. Kehidupan di alam akhirat hanyalah suatu keimanan (kepercayaan). Akan tetapi kehidupan akhirat itu diperlihatkan kepada orang mutaki di dunia ini. Di dalam kehidupan di dunia ini juga mereka menemukan Tuhan, melihat-Nya serta bercakap-cakap dengan-Nya.

Jadi, seandainya hal ini tidak dialami oleh seseorang, maka kematian dan kepergiannya dari dunia ini sangat buruk. Ada perkataan seorang wali, bahwa jika seseorang sepanjang umurnya tidak pernah mendapatkan mimpi yang benar maka kematiannya berbahaya, sebagaimana hal itu pun ditetapkan oleh Al-Quran sebagai tanda orang mukmin. Dengarlah, pada siapa tidak terdapat tanda ini maka di dalam dirinya tidak ada ketakwaan.

Jadi, kita semua hendaknya berdoa semoga kita memperoleh karunia berupa ilham, mimpi, dan kasyaf dari Allah Ta’ala, sebab itu adalah ciri khas orang mukmin, jadi [tanda] ini harus ada. Banyak lagi berkat-berkat lainnya yang diperolah orang mutaki. Misalnya, di dalam surah Al-Fatihah yang terdapat di awal Al-Quran, Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada orang-orang mukmin supaya mereka memanjatkan doa:

Yakni, “Tunjukkanlah kepada kami jalan lurus,, jalan orang-orang yang atas mereka terdapat nikmat dan karunia Engkau”.

Hal ini diajarkan supaya manusia – dengan menggalang semangat yang tinggi – melaluinya dapat memahami kehendak Sang Khaliq (Pencipta). Dan kehendak-Nya itu adalah supaya umat ini jangan menjalani hidupnya seperti binatang, melainkan supaya segenap tabir-Nya terbuka.

Sebagaimana akidah orang-orang Syi’ah, bahwa setelah Imam yang keduabelas tidak ada lagi kewalian, maka bertentangan dengan itu melalui doa [Al-Fatihah] ini, bahwa dari sejak semula Tuhan telah memiliki iradah (kehendak), yaitu barangsiapa barangsiapa yang mutaki (bertakwa) serta sesuai dengan kehendak Tuhan, maka dia dapat meraih derajat-derajat yang diperoleh oleh para nabi dan sufi.

Dari doa ini pun dapat diketahui, bahwa manusia itu memperoleh kekuatan (kemampuan) yang sangat besar, yang akan menampakkan dirinya dan yang akan berkembang jauh. Yaa, seekor kambing dikarenakan bukan manusia maka kekuatannya (kemampuannya) tidak akan dapat berkembang.

Manusia yang memiliki semangat tinggi, ketika mendengar tentang keadaan para rasul dan nabi, menginginkan supaya bukan saja dia mempercayai anugerah-anugerah yang telah diperoleh oleh kelompok (jemaat) suci itu, melainkan supaya secara bertahap dia dapat memperoleh ilmul-yaqin, ‘ainul-yaqin dan haqul-yaqin akan anugerah-anugerah tersebut.”. [4]

Tiga Tingkatan Ilmu

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Ilmu memiliki tiga tingkatan: ‘ilmul-yaqin, ainul-yaqin, dan haqul-yaqin. Misalnya, timbulnya keyakinan akan api setelah melihat asap yang mengepul dari suatu tempat, adalah suatu ilmul-yaqin. Akan tetapi menyaksikan api itu sendiri dengan mata adalah ‘ainul-yaqin, dan yang lebih tinggi dari itu adalah tingkatan haqul-yaqin, yakni meyakini akan adanya api melalui panas bakar setelah memasukkan tangan ke dalam api tersebut.

Jadi, betapa buruknya nasib orang yang tidak memperoleh tingkatan apa pun dari ketihga tingkatan [yakin] tersebut. Sesuai dengan ayat ini, orang yang pada dirinya tidak terdapat karunia Allah Ta’ala, berarti ia terperangkap di dalam taqlid buta (mengikuti sesuatu secara membuta - pent.). Allah Ta’ala berfirman:

(“dan orang-orang yang berjihad di dalam [jalan] Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” – Al-Ankabūt, 70).

Yakni, “Orang-orang yang berusaha gigih di jalan Kami, niscaya Kami akan mmeperlihatkan jalan Kami kepadanya.” Ini adalah suatu janji dan di sana terdapat doa ini: Ihdinash-shirātal-mustaqīm (“tunjukkanlah kami jalan yang lurus” - Al-Fatihah, 6).

Jadi, dengan memperhatikan hal ini manusia hendaknya memanjatkan doa dengan penuh tadharu di dalam shalat, dan timbulkanlah keinginan untuk menjadi orang-orang yang termasuk di antara mereka – yaitu mereka yang telah memperoleh kemajuan dan bashirat (penglihatan ruhani). Jangan sampai nanti diambil (berangkat) dari dunia ini dalam keadaan tanpa bashirat dan buta. Dia berfirman:

(“Barangsiapa yang buta di dunia ini di akhirat pun dia akan buta” – Bani Israil, 73). [5]

Ganjaran Didapat Sesuai dengan Qurub (Kedekatan) kepada Allah Ta’ala

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

”Aku sudah berkali-kali mengatakan, bahwa sejauh mana seseorang itu memperoleh kedekatan, maka sejauh itu pula dia akan mendapatkan perhitungan (ganjaran). Ahli-bait pun dahulu memiliki nilai yang besar dalam memperoleh perhitungan (ganjaran). Orang-orang yang jauh, mereka tidak layak untuk memperoleh perhitungan (ganjaran). Namun kalian harus, sebab jika kalian tidak memiliki keimanan yang lebih baik daripada mereka, maka apalah bedanya antara kalian dengan mereka?

Kalian berada dibawah pemantauan ribuan orang. Mereka bagaikan mata-mata pemerintah yang memperhatikan gerak-gerik kalian. Mereka benar. Tatkala para sahabat Masih a.s. sudah sewarna dengan para sahabah radhiallāhu ‘anhum, apakah kalian juga demikian? Jika kalian tidak demikian, maka kelian berada dalam keadaan terancam (bahaya).

Walaupun ini merupakan kondisi awal, namun kita tidak bisa memperhitungkan maut (kematian), sebab maut (kematian) adalah suatu mutlak yang dihadapi oleh oleh setiap orang. Jika memang demikian halnya, maka kenapa kalian teledor (lalai)? Kalau ada orang yang tidak menjalin hubungan denganku, itu lain masalahnya, akan tetapi tatkala kalian sudah datang kepadaku, kalian telah menerima pengakuanku serta mempercayai bahwa aku adalah Masih, maka seakan-akan kalian telah menyatakan bahwa kalian adalah sama seperti para sahabah mulia r.a..

Nah, apakah para sahabah r.a. pernah enggan untuk melangkah dengan penuh ketulusan dan kesetiaan? Apakah pada mereka terdapat kemalasan? Apakah mereka orang-orang yang menyakitkan hati? Apakah mereka tidak bisa mengendalikan dorongan-dorongan hati mereka? Bukankah mereka itu orang-orang yang senantiasa merendahkan diri? Bahkan di dalam diri mereka terdapat sikap merendahkan diri yang paling dalam sekali.

Maka berdoalah, semoga Allah Ta’ala memberi taufik seperti itu kepada kalian. Sebab tidak ada seorang pun dapat menjalani kehidupan yang hina serta rendah hati selama Allah Ta’ala tidak membantunya. Simaklah diri sendiri, dan seandainya kalian menemukan diri kalian lemah bagaikan seorang bayi maka jangan takut. Bagaikan para sahabah, teruslah panjatkan doa “Ihdinash-shirātal mustaqīm” (bimbinglah kami pada jalan yang lurus - Al-Fatihah, 6)”. [6]

Kecintaan Terhadap Allah Ta’ala

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

Namun syaratnya adalah terdapat kecintaan dan keikhlasan terhadap Allah Ta’ala. Kecintaan terhadap Allah adalah sesuatu yang menghanguskan kehidupan rendah (hina) manusia lalu menjadikannya sebagai seorang manusia yang baru dan bersih. Saat itu dia menjadi melihat sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya, dan dia mendengar sesuatu yang tidak pernah dia dengar sebelumnya.

Ringkasnya, hidangan karunia dan berkat-berkat yang telah disediakan Allah Ta’ala bagi manusia, untuk meraihnya dan untuk memanfaatkannya, Allah Ta’ala juga telah menganugerahkan potensi-potensi (kemampuan-kemampuan). Sebab jika Dia hanya menganugerahkan potensi-potensi itu saja, tetapi tidak menyediakan sarana (bahan), maka itu pun merupakan suatu kekurangan. Atau, jika yang ada hanya sarana (bahan) tetapi potensi-potensi tidak diberikan maka apa gunanya? Namun tidak. Tidak demikian halnya. Dia telah menganugerahkan potensi-potensi, dan Dia juga telah menyediakan sarana-sarana (bahan).

Seperti halnya di satu sisi Dia telah menciptakan sarana (bahan) berupa makanan, di sisi lain Dia juga telah menyiapkan mata, lidah, gigi, lambung, hati untuk tugas tersebut. Dan tumpuan semua pekerjaan itu diletakkan pada makanan. Jika di dalam perut tidak ada sedikit pun, maka dari mana datangnya darah untuk jantung? Dan dari mana timbulnya gizi?

Demikian juga, pertama-tama Allah Ta’ala telah memberikan karunia ini, yakni mengutus Rasulullah (saw) dengan memberikan kepada beliau Islam yang merupakan agama sempurna. Dan beliau (saw) dinyatakan-Nya sebagai Khātamun Nabiyyīn. Dan Dia telah menganugerahkan Quran Syarif yang merupakan Kitab yang penghabisan – yakni sesudahnya dan hingga Kiamat tidak akan ada Kitab lain, dan tidak pula ada nabi baru yang akan membawa syariat baru – kemudian, potensi pikiran dan renungan yang ada, jika kita tidak memanfaatkannya serta tidak melangkahkan kaki ke arah Allah Ta’ala maka betapa kita merupakan orang yang malas dan tidak bersyukur.

Renungkanlah, di dalam surah pertama [Al-Quran] ini, betapa Dia telah memberitahukan jalan karunia yang sangat lapang. Di dalam surah itu – yang dinamakan Khātimul Kitāb dan Ummul Kitāb – dengan jelas diberitahukan apa yang menjadi tujuan hidup manusia dan jalan apa untuk meraihnya? “Iyyāka na’budu – [hanya kepada Engkau-lah kami menyembah]” (Al-Fatihah:5). Itu merupakan tujuan dan maksud hakiki bagi manusia. Dan hal itu diterangkan lebih dahulu dari “Iyyāka nasta’īn – [hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan]” (Al-Fatihah:5), hal itu menunjukkan bahwa, pertama-tama yang paling penting adalah sejauh kemampuan, asa, dan pemahaman yang dimiliki manusia, hendaknya manusia berusaha dan berjuang keras menempuh perjalanan keridhaan Allah Ta’ala, dan memanfaatkan sepenuhnya potensi-potensi anugerah Allah Ta’ala, dan sesudah itu barulah memanjatkan doa untuk kesempurnaan dan perolehan hasilnya yang baik”. [7]

Tujuan Hidup Manusia dan Menempuh Shiratal-mustaqim

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

Maksud dan tujuan hidup manusia adalah menempuh shirāthal mustaqīm (jalan lurus) dan mencarinya. Yaitu yang telah diterangkan di dalam surah ini sebagai berikut: “Ihdinash shiraathal mustaqiim shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim” – Wahai Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” (Al-Fatihah, 6-7).

Ini adalah tujuan doa yang yang dipanjatkan di dalam setiap salat dan setiap rakaat. Pengucapan doa ini sekian banyak kali menunjukkan betapa pentingnya doa in. Jemaatku hendaknya ingat, ini bukanlah hal yang biasa. Dan tujuannya bukannya sekedar mengucapkannya begitu saja dari mulut bagai burung beo, melainkan doa ini merupakan sebuah resep yang mujarab dan resep yang tidak akan meleset, untuk menjadikan manusia sebagai insan kamil (manusia sempurna). Doa ini hendaknya harus dijadikan sebagai motto utama setiap saat. Dan hendaknya selalu diingat seperti jimat.

Di dalam ayat ini dipanjatkan doa untuk meraih empat macam kesempurnaan. Jika manusia meraih keempat macam kesempurnaan ini berarti dia telah memenuhi hak (tujuan) pemanjatan doa dan penciptaan manusia. Dan juga akan terpenuhi hak untuk memanfaatkan potensi-potensi serta kemampuan yang telah dianugerahkan kepadanya.

Hal ini hendaknya jangan pernah dilupakan, bahwa sebagian isi Al-Qurabn Syarif memberikan penafsiran dan penjelasan terhadap sebagian isi lainnya. Di satu tempat jika suatu perkara itu dipaparkan secara garis besar saja, maka di tempatt lain perkara itu dipaparkan secara terbuka.

Jadi, penjelasan kedua menafsirkan penjelasan pertama. Jadi, di sini dimana Dia berfirman: “Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim – (jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” – Al-Fatihah, 7), itu merupakan bentuk garis besar. Namun di tempat lain dipaparkan tafsir mengenai orang-orang yang telah memperoleh nikmat (anugerah) tersebut:

(“Yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqiin, syuhada (saksi-saksi), orang-orang salih” - An-Nisa, 70).

Yakni, orang-orang yang telah memperoleh anugerah itu terdiri dari empat macam: nabi, shiddiq, syahid, dan salih. Keempat kemuliaan ini terkumpul di dalam diri para nabi, sebab [nabi] itu merupakan kesempurnaan yang tertinggi

Merupakan kewajiban setiap manusia untuk berusaha keras melakukan upaya gigih – sesuai cara yang telah diperlihatkan oleh Rasulullah (saw) – guna meraih kesempurnaan-kesempurnaan tersebut.” [8]

Rasulullah (saw) Manifestasi Empat Sifat Besar Allah Ta’ala

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Empat sifat Allah Ta’ala yang telah dipaparkan dalam Surah Al-Fatihah, Rasulullah (saw) merupakan manifestasinya yang sempurna. Misalnya, sifat pertama, Rabbul ‘Aalamiin (Tuhan seluruh alam). Rasulullah s.a.w. juga merupakan manifestasi sifat itu. Yakni Allah Taala sendiri berfirman, “Wa maa arsalnaaka illaa rahmatan- lil ‘aalamiin (dan Kami tiada mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam - Al-Anbiya, 108).

Sebagaimana Rabbul ‘Aalamiin itu menginginkan ketuhanan yang mencapai seluruhnya, demikian pula berkat-berkat Rasulullah (saw) dan petunjuk serta tabligh beliau adalah untuk seluruh dunia dan seluruh alam.

Kemudian sifat kedua, Rahmaan (Yang Maha Pemurah). Rasulullah s.a.w. juga merupakan manifestasi sempurna sifat ini., sebab tidak ada tuntutan imbalan bagi berkat-berkat yang beliau bawa.

Lalu, beliau (saw) juga merupakan manifestasi Rahimiyyat (Maha Penyayang). Kerja-keras yang telah beliau lakukan bersama para sahabah beliau, dan penderitaan-penderitaan yang beliau alami dalam melakukan pengkhidmatan-pengkhidmatan tersebut tidaklah sia-sia, melainkan telah diberikan ganjarannya. Dan di dalam Quran Syarif sendiri Rasulullah s.a.w. itu disebut rahiim.

Kemudian, beliau (saw) juga merupakan manifestasi bagi sifat Maaliki Yaumiddiin (Pemiliki hari pembalasan). Manifestasinya yang sempurna adalah pada peristiwa Fatah Mekkah.

Penampilan yang begitu sempurna bagi keempat sifat utama tersebut, tidak ditemukan pada diri nabi lainnya.” [9]

Tradisi dan Cara-cara Mengenali Kebenaran

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

Di dalam Surah Al-Fatihah Allah Ta’ala telah berfirman: “Ghairil maghdhubi ‘alaihim wa laadh- dhaalliin (bukan jalan orang-orang yang telah dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat – Al-Fatihah, 7). Saya telah merenungkan ayat ini, dan dari itu diketahui bahwa di dalam diri tokoh yang akan datang itu penting adanya dua macam sifat ini. Yakni, pertama-tama sifat-sifat Isa, dan kedua sifat-sifat Muhammad. Sebab yang dimaksud dengan maghdhubi ‘alaihim (mereka yang telah dimurkai) adalah orang-orang Yahudi, sedangkan yang dimaksud dengan adh-dhaalliin (mereka yang resat) adalah orang-orang Nasrani. Ketika kejahatan orang-orang Yahudi telah meningkat maka Hadhrat Isa a.s. datang untuk mereka. Ketika kejahatan orang-orang Nasrani telah meningkat maka Rasulullah saw. pun datang. [10]

Islam adalah Paduan antara Tadbir (Upaya) dan Doa

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

Sebagaimana orang pertama tadi hanya melakukan doa dan tidak melakukan tadbir (upaya) ternyata dia itu salah, demikian pula orang kedua yang menganggap tadbir (upaya) saja sudah mencukupi, berarti dia itu sesat. Namun perpaduan antara tadbir (upaya) dan doa inilah yang merupakan Islam.

Oleh karena itu saya mengatakan, untuk terhindar dari dosa dan kelalaian hendaknya dilakukan tadbir (upaya) sepenuhnya serta dilakukan pula doa sepenuhnya. Untuk itulah dalam surah pertama Quran Syarif, Al-Fatihah, kedua hal itu ditekankan, “Iyyaaka na’buduu wa iyyaaka nasta’iin – “hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami meminta pertolongan” - Al-Fatihah, 5). Kata na’budu (kemi menyembah) mengisyaratkan pada tadbir (upaya) yang sebenarnya, dan itulah yang telah didahulukan. Yakni manusia pertama-lama harus memanfaatkan sarana-sarana yang ada dan melakukan upaya sepenuhnya. Namun seiring itu jangan pula tinggalkan aspek doa, dan tetaplah perhatikan hal itu (doa) beriringan dengan tadbir.

Ketika orang mukmin mengatakan, “Iyyaaka na’buduu – hanya kepada Engkau-lah kami menyembah,” langsung terlintas di kalbunya bahwa apalah artinya dirinya itu yang menyembah Allah Ta’ala, jika tidak ada karunia dan anugerah dari-Nya, oleh karenanya langsung dia mengatakan: “Iyyaaka nasta’iin – pertolongan pun hanya kepada Engkau-lah kami mohonkan.”

Ini suatu masalah halus, yang tidak dipahami agama mana pun selain Islam. Hanya Islam sajalah yang telah memahaminya. Agama Kristen telah bertumpu sepenuhnya pada darah kematian seorang manusia lemah, serta telah menjadikan manusia sebagai tuhan. Untuk memanjatkan doa, kapan pula di dalamnya dapat timbul gejolak dan keresahan, yang merupakan unsur penting dalam doa? Mereka justru menganggap dosa bila mengatakan “Insya Allah.” Namun ruh seorang mukmin tidak dapat menanggung satu detik pun bila mengucapkan suatu hal tanpa menyebut “Insya Allah.”

Jadi bagi Islam, ini suatu hal mutlak, yakni agar orang yang masuk ke dalamnya memegang prinsip ini dengan kuat. Lakukan jugalah tadbir (upaya) dan panjatkan serta mohonkan juga doa untuk menjauhkan kesulitan-kesulitan. Jika ada kelemahan pada salah satu dari kedua tiang ini, maka tidak ada yang dapat berjalan. Adalah penting bagi setiap mukmin mengamalkan hal ini.

Namun saya melihat di zaman sekarang, bahwa orang-orang memang melakukan tadbir (upaya), tetapi mereka lalai terhadap doa. Bahkan penyembahan terhadap sarana sudah sedemikian rupa, sehingga upaya-upaya duniawi itulah yang telah dijadikan tuhan, dan mereka mencemoohkan doa, serta menganggapnya tidak berguna.

Semua pengaruh ini timbul karena mengikuti Eropa secara buta. Ini merupakan racun berbahaya, yang sedang menyebar di dunia.” [11]

Shalat Kunci Mengatasi Kesulitan

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Janganlah mengerjakan shalat seperti ayam yang mematuk makanan, melainkan kerjakanlah dengan penuh khusyuk dan tadharu’, dan banyak-banyaklah berdoa. Shalat merupakan kunci untuk mengatasi kesulitan-kesulitan. Selain doa-doa dan kalimah-kalimah yang bersifat sunnah, banyak-banyaklah panjatkan doa dalam bahasa ibu masing-masing, supaya timbul getaran khusyuk dan tadharu’ itu. Dan selama khusyuk dan tadaharu’ ini belum timbul jangan sekali-kali tinggalkan shalat, sebab dari itu timbul tazkiyah nafs (pensucian jiwa), dan segala jesuatunya diperoleh.

Hendaknya, sebagaimana bentuk gerakan-gerakan jasmani [tubuh], maka bersamaan dengan itu demikian pulalah gerakan yang diikuti kalbu. Jika secara jasmani [tubuh] sedang berdiri tegak maka seperti itu pulalah hendakya kalbu berdiri tegak untuk taat kepada Allah. Jika rukuk, maka seperti itu jugalah hendaknya kalbu juga rukuk. Jika bersujud, begitu jugalah hendaknya kalbu melakukan sujud. Sujudnya kalbu adalah tidak meninggalkan Allah dalam kondisi apa pun. Tatkala sudah demikian keadaannya maka dosa-dosa pun akan mulai menjauh.

adalah sesuatu yang menghalangi manusia dari dosa. Seperti halnya orang yang tahu bahwa [racun] warangan (arsenic), ular, dan harimau dapat mematikan, maka dia tidak mau mendekatinya. Demikian pula tatkala kalian memperoleh makrifat maka kalian tidak akan pergi mendekati dosa. Untuk itu yang diperlukan adalah tingkatkan keyakinan. Dan [keyakinan] itu akan meningkat melalui doa, sedangkan shalat itu sendiri merupakan doa. Semakin baik kalian melaksanakan shalat, semakin banyak pula kalian terlepas dari dosa.

Makrifat tidak dapat diraih hanya melalui ucapan saja, itulah sebabnya para pemikir (filsuf) besar telah meninggalkan Tuhan, yakni pandangan mereka hanya tertuju pada [penyelidikan] ciptaan-ciptaan saja, dan mereka tidak memberi perhatian ke arah doa. Sebagaimana telah saya singgung di dalam Barahiin Ahmadiyyah, melalui ciptaan-ciptaan memang manusia memperoleh bukti tentang perlunya keberadaan Sang Pencipta. Yakni harus ada pelakunya. Namun dari itu tidak terbukti bahwa Dia itu ada. “Seharusnya ada” merupakan hal lain, sedangkan “ada” merupakan hal yang lain lagi.

Nah, pengetahuan tentang “ada” itu tidak akan dapat diraih tanpa doa. Orang yang hanya menggunakan akal tidak akan memperoleh pengetahuan tentang “ada” itu…. Ini jugalah makna “Laa tudrikuhul abshaar – penglihatan tidak akan dapat mencapai-Nya.” Yakni, Dia tidak dapat dikenali hanya melalui akal semata, melainkan melalui sarana-sarana yang Dia beritahukan sendiri itulah Dia ingin dikenali. Dan untuk hal ini tidak ada doa yang lebih baik daripada doa, “Ihdinash- shiraathal- musthaqim, shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim – (tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka - Al-Fatihah, 6-7). [12]

Takwa

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

Melalui takwa segala sesuatu tumbuh. Al-Quran pun telah memulai dari itu. Yang dimaksud dengan “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin (Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan - Al-Fatihah, 5) adalah takwa juga adanya. Yakni, walau pun manusia melakukan amal-perbuatan, akan tetapi karena rasa takut dia tidak berani untuk mengaitkan (menghubungkan) amal itu pada dirinya. Dan dia menganggap amal yang dia lakukan itu adalah berkat bantuan dari Allah. kemudian untuk masa berikutnya dia pun memohon bantuan dari Allah juga. [13]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

Janji-janji besar dalam Quran Syarif yang ditujukan kepada orang-orang muttaqi, adalah orang-orang muttaqi yang telah menerapkan ketakwaan benar-benar sejauh kemampuan yang mereka miliki. Sejauh mana potensi (kekuatan-kekuatan )manusia turut menyertai mereka sejauh itulah mereka tetap teguh menerapkan takwa. Bahkan sampai potensi (kekuatan-kekuatan) mereka itulah yang justru kalah. Dan kemudian mereka memohon kekuatan lagi dari Allah Ta’ala, sebagaimana yang terbukti dari ayat, “Iyyaaka na’buduu wa iyyaaka nasta’iin – (hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan – Al-Fatihah, 5).

“Iyyaaka na’budu – hanya kepada Engkau kami menyembah”, yakni “sejauh kemampuan yang ada pada kami, telah kami lakukan, dan tidak ada yang tersisa sedikit pun. “Iyyaaka nastaiin - hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan”, yakni “untuk berjalan lebih maju ke depan maka kami memohon kepada Engkau kekuatan yang baru lagi.”

Jadi, ingatlah baik-baik, menjadi muttaqi pada pandangan Allah Ta’ala adalah suatu hal tersendiri, dan menjadi muttaqi pada pandangan manusia adalah hal yang lain lagi. Di masa Al-Masih a.s. golongan penentang yang timbul saat itu, penyebabnya juga adalah demikian. Yakni orang-orang yang dianggap muttaqi dan shalih di kalangan masyarakat Yahudi saat itu bersikap menentang. Jika mereka tidak menentang tentu golongan penentang dan sebagainya pun tidak akan terbentuk. Demikian pula halnya di zaman Rasulullah saw.. Kesombongan, kebakhilan, riya (pamer), ketenaran serta kemuliaan-kemuliaan dan sebagainya, adalah hal-hal yang telah menghalangi para tokoh masyarakat itu menerima kebenaran. [14]

Sopan Santun dalam Berdoa

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

Sopan santun adalah sesuatu yang penting dalam memohon kepada Allah Ta’ala. Dan orang-orang ketika memohon sesuatu kepada raja, maka mereka selalu memperhatikan sopan santun. Oleh karena itu Allah Taala telah mengajarkan di dalam Surah Al-Fatihah bagaimana cara memohon. Di situ diajarkan: Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin , yakni, segenap pujian hanyalah bagi Allah yang merupakan Tuhan sekalian alam. Ar-Rahmaan, yakni Yang memberi tanpa diminta. Ar-Rahiim, yakni yang memberikan imbalan dan buah-buah atas kecintaan hakiki manusia. Maaliki yaumid diin, yakni ganjaran pahala dan hukuman ada di tangan-Nya. Jika Dia kehendaki, Dia lestarikan, dan jika Dia mau maka dia matikan. Dan yang ada di tangan-Nya akan berlaku di akhirat, dan juga yang berlaku di dunia ini.

Tatkala manusia melakukan pemujian seperti itu, maka terbayang olehnya, betapa agungnya Tuhan itu. Yakni yang merupakan Rabb, Rahmaan, Rahiim, dan manusia semakin percaya akan sifat-Nya yang ghaib. Kemudian dengan meyakini-Nya sebagai sesuatu yang ada dan melihat, manusia itu memanggil-Nya, “Iyyaa ka na’budu wa iyyaa ka nasta’iin, ihdinash shiraathal mustaqiim.” Yakni, tunjukilah suatu jalan yang betul-betul lurus, dan tidak ada kebengkokan apa pun padanya.

Ada satu jalan yang merupakan jalan orang-orang buta. Yakni, mereka susah-payah menempuhnya lalu mereka menjadi letih, dan tidak ada hasilnya sedikit pun. Dan ada satu jalan’lagi yang dengan melakukan upaya gigih di dalamnya maka akan diperoleh hasil.

Kemudian lebih lanjut: Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim. yakni, jalan orang-orang, yang telah Engkau beri nikmat (anugerah) kepada mereka. Dan itulah jalan lurus yang dengan menempuhnya maka akan diperoleh nikmat (anugerah-anugerah).

Lalu: Ghairil maghdhubi ‘alaihim. Yakni, bukan jalan orang-orang yang telah Engkau murkai. Dan “Wa ladh-dhaalliin, “ dan bukan pula jalan orang-orang yang terkutuk.

Yang dimaksud dalam “Ihdinash shirathal mustaqiim” adalah alas bagi pekerjaan-pekedaan dunia dan agama. Misalnya, ketika seorang tabib mengobati seseorang, maka selama dia tidak merniliki tangan yang bersifat sirathal mustaqiim, maka dia tidak akan dapat mengobati. Demikian pula terdapat suatu sirathal mustaqiim bagi segenap pengacara, dan setiap profesi, serta bagi setiap ilmu pengetahuan. Ketika tangan yang bersifat sirathal mustaqiim itu telah ia miliki, maka pekerjaan dengan mudah akan dijalankan.

Pada tahap ini, ada seseorang y melontarkan kritikan, yakni, “Mengapa nabi masih perlu memanjatkan doa? Mereka itu kan memang sudah berada jalan yang lurus sejak sebelumnya?”

Jawabannya adalah, mereka melakukan doa ini untuk kemajuan dalam mencapai tahap-tahap dan derajat. Bahkan permohonan “Ihdinash shirathal mustaqiim ini pun akan tetap dipanjatkan di akhirat nanti oleh orang-orang mukmin., sebab sebagaimana Allah Ta’ala itu tidak terbatas, demikian pula tahap-tahap dan derajat-derajat yang ada pada-Nya juga tidak terbatas. Dikarenakan Allah Ta’ala itu tidak terbatas, maka berkat-berkat dan karunia karunia-Nya juga tidak terbatas. Untuk meraih karunia-karunia yang tak terbatas itulah para nabi tersebut memanjatkan doa ini.” [15]

Hakikat Doa

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Jangan kalian anggap bahwa doa itu hanyalah kata-kata kosong yang keluar dari mulut, melainkan doa merupakan sejenis maut (kematian) yang sesudahnya akan diperoleh suatu kehidupan…. Di dalam doa terdapat kekuatan magnetis yang menarik fadhl (karunia) ke arah kita.

Ini bukanlah suatu doa, yakni dari mulut terus saja mengucapkan “Ihdinash shiraathal- mustaqim – tunjukilah kami jalan yang lurus” (Al-Fatihah, 6), tetapi yang terpikir di dalam kalbu adalah, “Dagangan harus dilakukan begini dan begitu. Ada barang-barang yang tertinggal. Pekerjaan ini harus dilakukan demikian. Jika terjadi ini, maka begitu yang harus dilakukan.” Semua itu hanyalah membuang-buang umur saja.

Selama manusia tidak mendahulukan Kitabullaah dan tidak melakukan amal-perbuatan sesuai itu, maka selama itu pula shalat-shalatnya hanya akan merupakan bentuk penyia-nyiaan waktu saja.” [16]

Doa dan Kondisi Orang-orang pada Zaman ini

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

Sangat beruntunglah orang yang percaya pada doa, sebab dia akan menyaksikan qudrat-qudrat Allah Ta’ala yang luar biasa. Dan dengan menyaksikan Allah Ta’ala dia akan beriman bahwa Allah itu merupakan Tuhan Yang Mahakuasa.

Allah Ta’ala sendiri telah mengajarkan doa pada permulaan Al-Quran, dari itu diketahui bahwa doa merupakan sesuatu yang sangat agung dan penting. Tanpanya manusia tidak akan ada artinya sedikit pun. Allah Taala berfirman, “Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin, Arrahmaanir- rahiim, Maaliki yaumiddiin” (Al-Fatihah, 2-4).

Disitu telah dipaparkan empat sifat induk (sifat pokok/utama) Allah Ta’ala. Rabbul ‘aalamiin menzahirkan bahwa Dia menjalankan peran Ketuhanan bagi setiap zarah (partikel). ‘Aalam artinya sesuatu yang dapat diketahui. Dari itu dimaklumi bahwa tidak ada satu benda pun di dunia ini yang terlepas dari Ketuhanan-Nya. Allah Ta’ala memerankan Ketuhanan-Nya pada segenap ruh dan tubuh (jasad). Dia itulah yang membina segala sesuatu sesuai kondisi masing-masing. Dimana Dia membina tubuh maka disana Dia juga menganugerahkan makrifat-makrifat dan hakikat agar ruh menjadi kenyang dan puas.

Kemudian Allah berfirman bahwa Dia itu Rahmaan (Maha Pemurah), yakni sebelum ada amalperbuatan pun rahmat-rahmat-Nya sudah tersedia. Sebelum manusia dilahirkan, sekian banyak benda yang diperlukan bagi manusia – bumi, bulan, matahari, udara, air dan sebagainya – sudah tersedia terlebih dahulu.

Kemudian Allah itu Rahiim (Maha Penyayang), yakni Dia tidak menyia-nyiakan amal-perbuatan baik seseorang, melainkan Dia memberi ganjaran terhadap amal.

Lalu, Allah itu merupakan Maaliki yaumiddiin (pemilik Hari Pembalasan), yakni, Dia-lah yang akan memberi ganjaran pahala [sepenuhnya], dan Dia-lah yang memiliki Hari Pembalasan.

Setelah pemaparan sifat-sifat Allah sedemikian rupa, barulah diimbau untuk berdoa. Ketika manusia beriman pada Wujud Allah Ta’ala serta pada sifat-sifat tersebut, maka dengan sendirinya di dalam ruh (manusia] timbul suatu gejolak serta gerakan, dan ruh itu tunduk ke arah Allah Ta’ala untuk berdoa.

Setelah itu diberi petunjuk: “Ihdinash shiraathal- mustaqiim (tunjukilah kami jalan yang lurus).” Dari itu diketahui bahwa doa sangat diperlukan untuk penzahiran manifestasi-manifestasi (penjelmaan-penjelmaan) serta rahmat-rahmat Allah Ta’ala. Oleh karenanya kalian hendaknya selalu melaksanakan hal itu, dan jangan pernah penat lalu berhenti.

Ringkasnya, untuk ishlah nafs (perbaikanjiwa) dan untuk khatimah bilkhair (akhiryang baik), untuk memperoleh karunia kebaikan-kebaikan, aspek yang kedua adalah doa.

Seberapa banyak seseorang bertawakal dan yakin terhadap Allah Ta’ala, dan dia mengayunkan langkah yang tidak akan pernah penat di jalan itu, maka sebanyak itu pulalah dia akan memperoleh hasil dan buah-buah yang bagus. Segenap kesulitan akan hilang, dan orang yang berdoa itu akan mencapai tahap ketakwaan paling tinggi.

Ini memang benar, selama Allah Ta’ala belum mensucikan seseorang, maka tidak ada seorang pun yang bisa suci. Sebab dorongan-dorongan nafsu hanya bisa mengalami maut (kematian) melalui fadhal (karunia) dan daya-tarik Allah Ta’ala semata. Dan fadhal (karunia) serta daya-tarik ini terbentuk hanya melalui doa, dan kekuatan ini hanya diperoleh melalui doa.

Saya kembali mengatakan, bahwa orang-orang Muslim – dan khususnya Jemaat kita – sama-sekali jangan tidak menghargai doa. Sebab doa inilah satu-satunya yang seharusnya dibanggakan oleh umat Islam. Di hadapan agama-agama lain terdapat batubatu penghalang kotor yang meluputkan mereka dari doa, dan mereka tidak dapat memberi perhatian ke arah itu. [17]

Dua Macam Anugerah dan Sifat-sifat Allah Ta’ala

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Anugerah-anugerah-Nya meliputi kedua macam corak, yakni ruhani dan jasmani. Sebagaimana yang tertera di dalam Surah Al-Fatihah, yang merupakan surah pertama dan segenap Quran Syarif merupakan penjelasan dan tafsirnya, dan surah ini berkali-kali dibaca di dalam shalat lima waktu.

Nama-Nya adalah Rabbul ‘aalamiin, yakni dalam setiap kondisi dan di setiap tempat manusia memperoleh kehidupan dan kemajuan melalui rabbubiyyat-Nya. Dan jika diperhatikan dengan cermat, maka pada hakikatnya kelanggengan, kemudahan, ketenteraman, ketenangan hidup manusia berkaitan dengan sifat Ilahi yang satu ini. Jika Allah Ta’ala tidak menggunakan sifat Rahmaaniyyat-Nya, dan mencabut naungan Rahmaaniyyat-Nya dari dunia ini maka dunia akan hancur.

Kemudian di dalam surah ini juga Allah Ta’ala telah menamakan diriNya Rahmaan dan Rahiim. Saya ingin menguraikan tentang perbedaan antara sifat Rahmaan dan Rahiim Allah Ta’ala.

Hendakmya diingat, bahwa nama rahmat Allah Ta’ala ini – yang tampil tanpa berupa balasan atau tanpa adanya campur-tangan amal, upaya, dan usaha manusia – adalah Rahmaaniyyat. Misalnya, Allah Ta’ala telah menjadikan tatanan dunia. Dia menciptakan matahari, Dia membuat bulan, Dia menciptakan bintang-bintang, udara, air, dan biji-bijian. Untuk berbagai macam penyakit kita, Dia telah menciptakan obat-obat penyembuh.

Ringkasnya, terdapat ribuan anugerah lainnya yang seperti itu, yakni tanpa adanya suatu amal, upaya, atau usaha kita, Dia telah menciptakannya semata-mata melalui karunia-Nya. Jika manusia menelaahnya dengan saksama, maka manusia akan menemukan jutaan anugerah seperti itu, dan tidak ditemukan alasan untuk mengingkarinya, serta terpaksa diakui bahwa anugerah-anugerah dan sarana-sarana ketenteraman yang sudah ada sebelum kita berwujud, apakah itu merupakan hasil amal-perbuatan kita?

Lihat, bumi ini dan langit ini, serta seluruh benda yang ada di dalamnya, dan penciptaan kita serta kondisi ketika kita berada di dalam rahim ibu, dan kekuatan pada waktu itu, amal-perbuatan kita yang mana yang telah menghasilkan semua itu? Saya di sini tidak ingin membahas tentang orang-orang yang mempercayai masalah reinkarnasi. Namun, ya memang tidak dapat tanpa menguraikan sebanyak ini, bahwa tidak terhitung banyaknya anugerah serta karunia Allah Ta’ala yang ada pada kita, sehingga tidak dapat diukur dengan suatu ukuran atau timbangan apa. pun.

Nah, silahkan siapa saja yang dapat memberitahukan, bahwa anugerah-anugerah ini – yakni bulan diciptakan, matahari diciptakan, bumi dibuat, dan segala kebutuhan kita sebelum penciptaan kita telah disediakan terlebih dahulu – semua anugerah ini akan dapat diukur dengan amal perbuatan apa?

Jadi, secara mutlak terpaksa diakui bahwa Allah Ta’ala itu Rahmaan (Maha Pemurah). Dan juga terdapat jutaan karunia-Nya yang telah meliputi kita semata-mata karena Rahmaaniyyat-Nya. Semua anugerah-Nya ini bukanlah akibat suatu amal-perbuatan kita di masa lampau.

Orang-orang yang menganggap bahwa hal-hal itu merupakan hasil amal-perbuatan mereka yang lampau, itu murni kekeliruan mereka, dan mereka berbuat demikian karena ketidak-tahuan mereka. Karunia dan Rahmaaniyyat Allah Ta’ala adalah untuk tujuan kesempurnaan ruhani dan jasmani kita. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mendakwakan bahwa itu merupakan hasil amal-perbuatannya.

Ar-Rahiim (Maha Penyayang), Dia memberikan imbalan (ganjaran) terhadap upaya dan usaha sejati manusia. Seorang petani sungguh-sungguh bekerja keras dan berusaha gigih. Sebaliknya, merupakan kebiasaan Allah bahwa Dia tidak menyia-nyiakan kerja-keras dan upaya itu, serta memberikan buah-buahnya (hasilnya)”. [18]

Sifat Maalikiyyat

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Maaliki yaumiddiin” (Pemilik hari pembalasan - Al-Fatihah, 4). Allah itu Maalik (Pemilik/Penguasa) hari pembalasan. Dalam satu corak tertentu, di dunia ini juga pembalasan itu diperoleh. Kita setiap hari menyaksikan bahwa pencuri melakukan pencurian. Satu hari dia tidak tertangkap, hari kedua tidak tertangkap, namun akhirnya suatu hari pasti dia akan tertangkap, dan akan masuk ke dalam penjara, serta menjalani hukuman atas perbuatannya.

Demikian pula halnya pelaku zinah, pemabuk, dan orang-orang yang hidup bebas tanpa aturan di dalam berbagai macam kefasikan (kedurhakaan) dan kejahatan. Yakni, hingga suatu masa tertentu sifat Sattaari (Yang Maha Menyelubungi dan Menutup-nutupi) Allah Ta’ala akan menyelubunginya. Akhirnya mereka akan terperangkap dalam berbagai macam azab. Dengan tenggelam dalam penderitaan-penderitaan itu hidup mereka menjadi hina, dan ini merupakan contoh hukuman neraka akhirat.

Seperti itu pula, orang-orang yang giat melakukan kebaikan dan taat terhadap perintah-perintah Allah Ta’ala, serta ketaatan merupakan kewajiban utama di dalam hidup mereka, maka Allah Ta’ala juga tidak akan menyia-nyiakan kebaikan mereka. Dan Dia memberikan buah kebaikan mereka itu pada waktu yang telah ditetapkan, serta di dunuia ini juga untuk mereka Dia berikan semacam surga sebagai contoh.

Ringkasnya, sekian banyak pelaku keburukan, orang fasik, pendosa, pemabuk, dan pezinah, mereka tidak ingat akan Tuhan dan hari pembalasan. Di dunia ini juga mereka kehilangan kesehatan dan kekuatan mereka. Kemudian dengan penyesalan serta putus asa mereka terpaksa menjalani hidup mereka. Mereka terkena berbagai macam penyakit berbahaya, lalu mereka sudah mengalami kematian sebelum kematian itu betul-betul terjadi, dan akhirnya penderitaan mereka itu menjadi suatu maut (kematian) yang telah datang terlebih dahulu dari waktunya.

Jadi, manusia hendaknya memikirkan dan mensyukuri kebaikan-kebaikan serta anugerah-anugerah Allah Ta’ala yang telah Dia sediakan untuk tarbiyyat dan kesempurnaan manusia. Dan manusia hendaknya merenungkan siapa yang telah menganugerahkan kepadanya potensi yang begitu hebat. Manusia – baik mensyukurinya atau tidak mensyukurinya – itu adalah kehendaknya sendiri.

Namun jika manusia memiliki fitrat baik, dan merenungkan hal itu dengan pemikiran yang mendalam, maka dia akan mengetahui bahwa segala macam potensi yang zahir maupun yang batin adalah anugerah pemberian Allah Ta’ala semata. Dan semua itu berada di dalam kekuasaan-Nya. Jika Dia mau, maka karena sikap syukur Dia akan meningkatkannya, dan jika Dia mau, maka karena sikap tidak bersyukur maka Dia dapat mencabut potensi-potetisi tersebut.

Ini merupakan titik untuk merenung dalam-dalam, yakni jika semua potensi ini berada di dalam ikhtiar dan kekuasaan manusia, maka siapa yang menginginkan kematian dirinya sendiri? Karena panasnya daya-tarik kecintaan dunia, kalbu manusia jadi tidak peduli dan dingin terhadap akhirat.

Manusia yang lalai begitu bodohnya, sehingga jika kepadanya datang pemberitahuan dari Tuhan bahwa: “Engkau akan memperoleh surga. Akan ada ketenteraman, akan dianugerahkan berbagai macam kebun dan sungaisungai. Diberikan izin kepada kamu, tergantung pada keinginan dan kesenangan kamu. Yakni, jika mau maka kamu dapat datang kepada Kami, dan jika mau maka kamu dapat tetap tinggal di dunia”, maka ingatlah, bahwa banyak sekali orang yang akan lebih memilih untuk tetap tinggal di dunia ini. Walau pun terdapat berbagai macam penderitaan dan kesulitan, mereka tetap saja sayang kepada dunia ini.

Lihat, kita tidak dapat bertumpu pada umur. Zaman ini sudah sangat genting. Kalian sendiri menyaksikan bahwa setiap tahun banyak kawan dan banyak musuh, serta banyak saudara dan banyak orang tercinta, saudara perempuan mau pun saudara laki-laki, yang pergi meninggalkan dunia ini. Dan dari antara mereka tidak ada satu orang pun yang paling tersayang dan yang paling dekat, yang dapat menjadi pemberi bantuan dalam kesulitan-kesulitan.

Namun walau demikian, sekian banyak kerja-keras dan upaya gigih serta mujahadah yang dilakukan manusia untuk mereka dan untuk urusan-urusan duniawi mereka, ternyata sangat sedikit yang mereka lakukan untuk Tuhan. Mereka sangat sedikit melakukan ibadah dan taat kepada Allah Ta’ala, serta sangat kurang berusaha serta bekerja-keras di jalan-Nya. Tidak seimbang. Dunia ini sudah melewati batas keseimbangan.

Mereka berusaha untuk memajukan usaha-usaha duniawi, dan memang sedang mengalami kemajuan. Namun apakah ada yang mau berusaha sedemikian rupa, bahwa suatu hari tentu kematiannya telah ditetapkan? Apakah ada yang dapat menahan diri sendiri dari hal itu, ataukah ada orang lain yang dapat menahannya dari hal itu, atau menyelamatkannya? Sama-sekali tidak! Bahkan kalau pun ada orang yang mengingatkan mereka akan maut (kematian), mereka tetap tidak akan mempedulikannya, dan mereka akan mencemoohkan serta menertawakannya. Kebanyakan manusia berada dalam kesalahan.” [19]

Baiat Merupakan Benih Amal Shalih

Tgl.28 Oktober 1904, sesudah shalat Jumah, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Saya ingin menuturkan beberapa kalimat mencakup nasihat-nasihat bagi orang-orang yang telah baiat. Baiat ini merupakan penanaman benih amal-amal shalih. Sebagaimana seorang penjaga kebun menanam pohon, atau menyemaikan benih sesuatu, kemudian jika ada orang yang menanam benih atau pohon lalu dia berhenti sampai disitu saja dan berikutnya tidak dia airi maupun dia jaga maka benih itu akan punah.

Demikian pula halnya setan senantiasa menempel bersama manusia. Jadi jika manusia melakukan suatu amal shalih lalu tidak berusaha memeliharanya, maka amal tersebut akan sia-sia. Seluruh makhluk, misalnya orang-orang Islam, disiplin terhadap kewajiban-kewajiban agamanya, namun mereka tidak memperoleh kemajuan sedikit pun di dalamnya. Sebabnya adalah tidak terpikirkan oleh mereka bagaimana meningkatkan amal-amal shalih, dn lambat-laun amal tersebut berubah menjadi suatu adat-kebiasaan belaka. Jadi, [jika mereka] telah dilahirkan dalam keluarga orang-orang Islam maka mereka pun mengucapkan Kalimah [Syahadat], dan [jika] telah dilahirkan di dalam keluarga Hindu maka mereka pun menyebut, “Ram, Ram. “

Ingatlah, pada waktu baiat dalam ikrar taubat timbul suatu berkat. Jika bersamaan dengan itu dipenuhi syarat untuk mendahulukan agama daripada dunia maka akan timbul kemajuan. Akan tetapi mendahulukan hal itu bukanlah dalam ikhtiar (wewenang) anda, justru sangat diperlukan pertolongan Ilahi. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Wal- ladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa”, yakni, “barangsiapa berusaha di jalan Kami, maka akhirnya mereka akan memperoleh bimbingan.” (Al-Ankabut, 70).

Sebagaimana penanaman benih menjadi tidak beberkat tanpa penggarapan dan pengairan – bahkan [benih] itu sendiri yang akan punah – demikian pula [jika] kalian tidak mengingat ikrar [bai’at] ini dan kalian tidak memanjatkan doa, “Wahai Tuhan, tolonglah kami,” maka karunia Ilahi tidak akan turun. Dan tanpa pertolongan Ilahi perubahan pun tidak akan mungkin terjadi.

Pencuri, penjahat, penzina, dan para pelaku kriminal lainnya tidak selamanya hidup demikian. Kadang-kadang pasti timbul penyesalan. Memang begitu kondisi setiap orang yang berbuat keburukan. Darinya terbukti bahwa di dalam diri manusia pasti terdapat pikiran baik. Nah, untuk pikiran itulah orang sangat memerlukan pertolongan Ilahi.

Oleh karenanya diperintahkan membaca surah Al-Fatihah dalam shalat lima waktu. Di situ dikatakan, “Iyyaaka na’budu, “ kemudian “Iyyaaka nasta’fin.” Yakni, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”

Di dalamnya ada dua perkara yang diisyaratkan, yaitu setiap pekerjaan baik hendaknya dilakukan dengan takwa, pemikiran (perencanaan) serta upaya-upaya. Inilah yang diisyaratkan dalam na’budu (kami menyembah), sebab seseorang yang hanya melakukan doa tetapi tidak berusaha gigih dia tidak akan berhasil.

Seperti seorang petani yang menanam benih lalu tidak bekerja keras, bagaimana mungkin ada harapan untuk memperoleh hasil. Dan ini merupakan Sunnatullah (kebiasaan Allah). Jika benih ditanam kemudian hanya berdoa saja pasti akan gagal. Contohnya, ada dua orang petani. Seorang sangat gigih bekerja keras pasti dia akan lebih berhasil. Petani yang satu lagi tidak rajin atau kurang gigih maka hasil pertaniannya akan selalu tidak sempurna, dan mungkin dia tidak pula dapat membayar pajak pemerintah.

Demikian pula tugas-tugas keagamaan (keruhanian). Dari antara mereka terdapat orang munafik. Dari antara mereka terdapat orang yang tidak patut. Dari antara mereka terdapat orang shalih. Dari antara mereka ada orang suci, wali dan sebagainya, dan di sisi Allah Ta’ala mereka memperoleh derajat. Sebagian ada yang selama empatpuluh tahun terus mendirikan shalat, akan tetapi kondisi mereka seperti hari pertama saja. Tidak ada perubahan yang terjadi. Dengan puasa tigapuluh hari mereka tidak merasakan manfaat apa pun.

Banyak orang mengatakan, “Kami adalah orang-orang yang sangat muttaqi dan rutin mendirikan shalat sejak lama, namun kami tidak memperoleh pertolongan Ilahi.” Sebabnya adalah, mereka melakukan ibadah sebagai adat-kebiasaan dan taqlid. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka untuk meningkatkannya. Mereka tidak mengevaluasi dosa-dosa mereka, mereka tidak berupaya untuk bertaubat dengan sungguh-sungguh. Jadi, mereka masih tetap berada pada langkah pertama. Manusia-manusia seperti itu tidak lebih dari binatang. Shalat-shalat yang demikian membawa celaka dari Allah Ta’ala. Shalat adalah sesuatu yang membawa kemajuan.

Seperti halnya seorang pasien yang sedang diobati oleh tabib. Dia menggunakan sebuah resep ramuan selama sepuluh hari. Lalu setiap hari dia merasa semakin buruk. Setelah sekian hari tidak juga ada manfaat, maka pasien itu pun mulai ragu bahwa resep itu ticlak cocok untuk dirinya, dan seharusnya diganti. Jadi, ibadah yang dilakukan sebagai adat-kebiasaan semata, tidaklah baik.

Di dalam shalat terdapat doa-doa dan pujian. Itu dalam bahasa Arab. Akan tetapi ticlaklah haram bagi kalian untuk juga memanjatkan doa dalam bahasa kalian. Jika tidak, tidak akan ada kemajuan. Merupakan perintah Allah bahwa shalat adalah [ibadah yang] di dalamnya terdapat tadharu’ dan khusyuk. Dengan demikianlah baru dosa orang-orang akan hapus.

Difirmankan, “Innal hasanaati yudz-hibnas sayyi-aati” (Hud, 115). Yakni, kebaikan-kebaikan itu akan menjauhkan keburukan-keburukan. Di sini yang dimaksud dengan hasanaat adalah shalat, yang dapat diraih dengan memanjatkan permohonan dalam bahasa sendiri secara khusyuk dan tadharu’. Jadi, kadang-kadang lakukan jugalah doa dalam bahasa sendiri. Dan doa yang terbaik adalah Al-Fatihah, sebab ia merupakan himpunan doa.

Tatkala seorang petani menguasai cara-cara pertanian, maka dia akan sampai pada shiraathal mustaqim jalan lurus) pertanian serta akan berhasil. Demikian pula carilah oleh kalian shiraathal mustaqim untuk berjumpa dengan Allah Ta’ala. Dan berdoalah: “Ya Allah! Aku adalah hamba-Mu yang penuh dosa dan tak berguna. Bimbinglah daku.”

Mintalah segala kebutuhan – yang kecil maupun besar – kepada Allah, tanpa segan, sebab Dia-lah Sang Pemberi yang sejati. Orang yang sangat baik adalah orang yang banyak berdoa, sebab jika seorang pengemis setiap hari meminta-minta di depan pintu seorang yang kikir sekali pun akhirnya suatu hari [orang kikir] itu akan malu juga. Lalu, mengapa pula seorang pemohon di hadapan Allah Ta’ala – yang tidak ada dua-Nya dalam hal kasih-sayang - tidak memperoleh suatu apa pun? Sebagaimana difirmankan: “Uduunii astajib lakum “ – (Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku kabulkan untukmu] (Al-Mukmin, 40:61). Kemudian difirmankan: “Wa idzaa sa-alaka ‘ibaadii ‘anii fainnii qariibun, ujibu da’watad daa’i idzaa da’aani” Yakni, “Tatkala hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku sangat dekat. Aku mengabulkan doa orang yang menyeru kepada-Ku tatkala dia berseru.” (Al-Baqarah, 187).

Sebagian orang ragu terhadap Dzat-Nya, oleh karenanya [Dia berfirman] “Tanda keberadaan-Ku adalah berserulah kepada-Ku dan mohonlah pada-Ku, Aku pun akan menyeru kepada engkau dan akan memberikan jawaban serta akan mengingat engkau.”

Jika dikatakan, “Kami sudah menyeru, tetapi Dia tidak memberikan jawaban,” nah perhatikan, jika kalian berdiri di suatu tempat lalu kalian menyeru kepada seseorang yang berada sangat jauh dari kalian, sedangkan pada telinga kalian terdapat kerusakan, maka orang itu pasti mendengar suara kalian dan memberikan jawaban, namun karena dia memberikan jawaban dari jauh serta telinga kalian pekak, maka kalian tidak akan dapat mendengarnya.

Jadi, apabila hambatan serta tabir dan jarak antara kalian dengan orang itu semakin dihapus maka pasti kalian akan semakin dapat mendengar suaranya. Semenjak dunia ini diciptakan selalu ada bukti-bukti bahwa Dia [Allah] bercakap-cakap dengan para hamba pilihan-Nya. Jika tidak demikian, lambat-laun pasti akan punah anggapan bahwa Dia itu ada. Jadi, sarana paling hebat sebagai bukti keberadaan Allah Ta’ala adalah kita mendengar suara-Nya, atau secara penglihatan, atau secara lisan. Nah, sekarang ini [komunikasi] secara lisan merupakan pengganti cara [komunikasi] secara penglihatan.

Ya, selama di antara Allah dan sang pemohon terdapat tabir (penghalang), selama itu pula kita tidak mendengar. Tatkala tabir penghalang itu hapus barulah suara-Nya akan terdengar. Sebagian orang mengatakan, sudah 1300 tahun mukaalamah dan mukhsatabah (percakapan) dengan Allah sudah tertutup. Sebenarnya artinya adalah, orang buta beranggapan bahwa semua yang lainnya juga buta. Sebaba mata mereka sendiri yang tidak mengandung nur. Jika di dalam Islam karunia ini tidak dapat diraih melalui doa-doa dan keikhlasan, maka Islam tidak bermakna sama-sekali. Ia akan sama saja seperti agama-agama lain yang telah mati.

Oleh karenanya, janganlah kalian beranggapan seperti orang-orang mati tersebut, yang mereka sendiri mati dan menjelaskan kepada orang-orang bahwa Islam itu mati. [Justru] ini adalah suatu agama yang di dalamnya manusia dapat maju dan bersalaman dengan para malaikat. Jika hal ini tidak ada, mengapa [Islam] mengajarkan, “Siraathal- ladziina an’amta ‘alaihim” (jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat - Al-Fatihah: 7)? Di situ yang diminta bukan harta-kekayaan jasmaniah, justru yang dimintakan adalah anugerah-anugerah ruhaniah. Jadi, jika kalian ingin tetap buta maka apa pula yang kalian minta [dalam doa tersebut]?

Doa Fatihah adalah suatu doa yang begitu lengkap dan luar-biasa, yang tidak pernah diajarkan oleh seorang nabi pun sebelumnya. Jadi, jika ia hanya sekedar kata-kata saja dan memang Allah Ta’ala tidak akan mengabulkannya, mengapa Allah Ta’ala mengajarkan kepada kita kata-kata demikian? Jika kalian memang tidak bakal mendapatkan derajat tersebut, untuk apa kita menyiakan-nyiakan lima waktu [shalat] kita?

Di dalam Dzat Allah Ta’ala tidak ada kekikiran, dan tidak pula para nabi itu datang agar disembah-sembah. Justru mereka datang untuk mengajar manusia bahwa, “Orang-orang yang menempuh jejak jalan kami akan masuk di bawah bayangan kami.” Seperti yang difirmankan, “Inkuntum tuhibbuunallaaha fattabi’uunii – jika kaliam mencintai All;ah maka ikutilah aku - Ali Imran, 3:32). Yakni, “Dengan mengikuti aku (Muhammad saw.) kalian akan menjadi orang-orang yang dicintai Allah.”

Dengan cara mencintai Rasulullah saw. itulah segenap kemuliaan itu diraih. Namun tatkala ada orang yang mencintai benarkah dia tidak akan memperoleh spa pun? Jika Islam agama yang demikian, sungguh miskin sekali Islam seperti itu. Akan tetapi, Islam sama-sekali bukanlah agama yang demikian. Rasulullah saw. telah membawa hidangan yang dapat diraih oleh siapa saja yang menghendaki. Beliau tidak membawa harta-kekayaan dunia, dan tidak pula beliau datang sebagai orang yang kaya-raya. Justru beliau membawa harta-kekayaan Allah Ta’ala, dan beliau sendiri yang telah membagibagikannya. Jadi, jika itu bukan harta dunia, apakah beliau telah menarik kembali karung [harta ruhani] tersebut?

Jadi benarlah, seorang buta yang tidak memiliki cahaya, bagaimana mungkin dia menyatakan bahwa dia memiliki cahaya dan dapat membagi-bagikannya? Perhatikan, Allah Ta’ala berfirman: “Wa man kaana fii haadzihii a’maa fahuwa fil aakhirati a’maa wa adhallu sabiilaa” – (Dan barangsiapa buta di dunia ini, maka di akhirat pun ia akan buta juga, dan bahkan akan lebih tersesat dari jalan - Bani Israil, 73).

Para nabi justru merupakan orang-orang yang memiliki bashirah (penglihatan ruhani) yang sangat tajam. Jadi orang-orang yang mengatakan bahwa bashirah itu tidak akan dapat diraih oleh siapa pun, sebenamya mereka sendirilah yang akan berangkat dari dunia ini dalam keadaan buta.

Jika seandainya iman mereka. terhadap Rasulullah saw. sejati, tentu mereka yakin bahwa beliau memang datang untuk membagi-bagikan harta-kekayaan samawi, dan tentu mereka berakidah bahwa umat ini akan meraih keunggulan atas seluruh umat lainnya. Padahal mereka percaya bahwa ibu Hadhrat Musa a.s. menerima wahyu. Nah, buktikanlah, apakah pernah kaum pria mereka menerima wahyu seperti itu?

Di Lahore terjadi perdebatan antara saya dengan seorang ulama, tentang kata muhaddats. Yakni di dalam hadis-hadis tertera bahwa muhaddats adalah orang yang dapat bercakap-cakap dengan Allah, dan itu hal yang berkaitan dengan Hadhrat Umar r.a.. Maka ulama tersebut menjawab bahwa dikarenakan sesudah Rasulullah saw. Islam tidak lagi memperoleh mukalamah Ilahiah, oleh sebab itu kedudukan tersebut tidak diperoleh Hadhrat Umar r.a., seakan-akan di dalam umat ini yang akan datang hanyalah dajjal-dajjal saja.” [20]

Ibadah dan Perintah-perintah Ilahi

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

Ibadah dan perintah-perintah Ilahi itu memiliki dua cabang, yaitu menjunjung tinggi perintah Allah, dan kepedulian terhadap sesama makhluk. Saya tadi sedang berpikir bahwa di dalam Quran Syarif banyak sekali dan dengan sangat jelas hal-hal tersebut dipaparkan, namun di dalam Surah Al-Fatihah bagaimana kedua cabang tersebut telah diuraikan?

Tadinya saya sedang berpikir, lalu tiba-tiba saja muncul di dalam kalbu saya bahwa hal itu terbukti dari ayat: “Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Arrahmaanir-rahiim, maaliki yaumid diin” (Al-Fatihah, 2-4). Yakni, segala sifat dan segala puji hanyalah bagi Allah Ta’ala, yang merupakan Rabb sekalian alam. Yakni yang merupakan Rabb di setiap alam, di dalam nuthfah, di dalam mudhghah, dan sebagainya. Kemudian, Rahmaan, lalu Rahiim, dan Maaliki Yaumiddiin.

Setelah itu “Iyyaaka na’budu “ yang diucapkan, adalah di dalam ibadah itu manusia hendaknya menyerap ke dalam dirinya pancaran cahaya sifat-sifat Rabbubiyyat, Rahmaniyyat, Rahimiyyat, dan Maaliki Yaumiddin itu. Sebab manusia yang merupakan penyembah yang kamil (sempurna) adalah yang dipenuhi oleh corak “Takhallaqu bi akhlaaqillaah “, yakni berbagai warna sifat-sifat Allah .

Jadi, dalam bentuk demikian kedua hal tersebut telah dipaparkan dengan sangat jelas dan jernih sekali. [21]

Catatan Kaki

  1. Malfuzat, jld. II, hlm. 124 

  2. Malfuzat, jld. II, hlm. 145 

  3. Malfuzat, jld. II, hlm. 145-146 

  4. Malfuzat, jld I, hlm 18-19 / Pidato Pertama Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada Jalsah Salanah, 25 Desember 1897 

  5. Malfuzat, jld I, hlm 19-20 / Pidato Pertama Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada Jalsah Salanah, 25 Desember 1897 

  6. Malfuzat, jld I, hlm. 44-45 / Pidato Pertama Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada Jalsah Salanah, 25 Desember 1897 

  7. Malfuzat, jld. I, hlm. 353-354 

  8. Malfuzat, jld. I, hlm. 355). 

  9. Malfuzat, jld. VI, hlm. 71 

  10. Malfuzat, jld.V, hlm. 407-412 

  11. Malfuzat, jld. VI, hlm/ 268-269 

  12. Malfuzat, jld. VI, hlm. 367-368 

  13. Malfuzhat, jld. IV, hlm. 251-253 

  14. ]Malfuzat, jld. VII, hlm. 72-76 

  15. Malfuzat, jld. IV, hlm. 399-400 

  16. Malfuzat, jld. X, hlm. 62-63 

  17. Malfuzat, jld VII, hlm. 263-269 

  18. Malfuzat, jld. X, hlm. 383-384). 

  19. Malfuzat, jld.x 385-387 

  20. Malfuzat, jld. VII, hlm. 224-229 

  21. Malfuzat, jld. V, hlm. 428