Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Bagaimana Makmum Membaca Alfatihah ketika Shalat?

Membaca Alquran surat Alfatihah ketika shalat merupakan hal yang sangat penting. Apakah hanya Imam yang membaca surat Al-fatihah, atau makmum juga harus membaca surat Al-Fatihah? Saya akan kutipkan berkenaan hal ini yang dikutip dari beberapa sumber.

Hadits

Rasulullah (saw) memerintahkan kita semua untuk membaca QS Al-Fatihah ketika shalat, karena surah ini adalah merupakan salah satu rukun Shalat. Diriwayatkan,

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

dari ‘Ubadah bin Ash Shamit dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau Shallallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Al Fatihah.” (H.R. An-Nasai) [1]

Pernah satu kali makmum ada yang membaca ayat Alquran mengikuti bacaan Rasulullah (saw), termasuk mengikuti membaca surat Alfatihah. Namun Rasulullah (saw) melarang membaca yang lainnya kecuali membaca surat Al-Fatihah. Diriwayatkan,

قَالَ نَافِعٌ أَبْطَأَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ عَنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ فَأَقَامَ أَبُو نُعَيْمٍ الْمُؤَذِّنُ الصَّلَاةَ فَصَلَّى أَبُو نُعَيْمٍ بِالنَّاسِ وَأَقْبَلَ عُبَادَةُ وَأَنَا مَعَهُ حَتَّى صَفَفْنَا خَلْفَ أَبِي نُعَيْمٍ وَأَبُو نُعَيْمٍ يَجْهَرُ بِالْقِرَاءَةِ فَجَعَلَ عُبَادَةُ يَقْرَأُ أُمَّ الْقُرْآنِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ لِعُبَادَةَ سَمِعْتُكَ تَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ وَأَبُو نُعَيْمٍ يَجْهَرُ قَالَ أَجَلْ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ الصَّلَوَاتِ الَّتِي يَجْهَرُ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ قَالَ فَالْتَبَسَتْ عَلَيْهِ الْقِرَاءَةُ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ وَقَالَ هَلْ تَقْرَءُونَ إِذَا جَهَرْتُ بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ بَعْضُنَا إِنَّا نَصْنَعُ ذَلِكَ قَالَ فَلَا وَأَنَا أَقُولُ مَا لِي يُنَازِعُنِي الْقُرْآنُ فَلَا تَقْرَءُوا بِشَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ إِذَا جَهَرْتُ إِلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ

Nafi’ berkata; ‘Ubadah bin Shamit terlambat dari shalat shubuh, maka Abu Nu’aim seorang Mu’adzin mengumandangkan adzan untuk shalat, lalu Abu Nu’aim mengimami shalat orang banyak, tidak lama kemudian Ubadah datang bersamaku hingga kami mengambil shaf di belakang Abu Nu’aim, sedangkan Abu Nu’aim mengeraskan bacaannya, sementara ‘Ubadah membaca Al Fatihah. Ketika shalat selesai, aku bertanya kepada Ubadah; “Aku mendengar kamu membaca Al Fatihah ketika Abu Nu’aim mengeraskan bacaannya.” Dia menjawab; “Ya, kami juga pernah melakukan ketika shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di sebagian shalat yang bacaannya di keraskan.” Katanya melanjutkan; “Hingga bacaannya bercampur, selepas shalat, beliau menghadap kami sambil bersabda: “Apakah kalian juga ikut membaca ketika aku mengeraskan bacaanku?” sebagian kami menjawab; “Kami melakukan hal itu.” Beliau bersabda: “Oleh karenanya aku berkata (dalam hati), kenapa ada yang membaca bersamaku dan mendahuluiku dalam membaca Al Qur’an?, janganlah kalian membaca sesuatu pun ketika aku mengeraskan bacaan, kecuali bacaan Al Fatihah.” (H.R. Abu Dawud) [2]

Fiqih Ahmadiyah

Membaca beberapa bagian Al-Qur’an bersama surah Al-Fatihah adalah wajib. Hukum ini ada supaya manusia waktu demi waktu – selain berbagai macam hukum Allah Ta’ala lainnya – juga mengetahui kewajiban-kewajibannya yang telah diterangkan dalam Al-Qur’anul Karim. Sebagai contoh dua surah yang telah disebutkan dalam pembahasan tata cara shalat. Beberapa bagian tambahan dari Al-Qur’anul Karim juga dituliskan supaya menambah kecintaan untuk mengingat Al-Qur’anul Karim.

Jika ini merupakan shalat fardhu maka di dalam raka’at ketiga atau keempat hanya membaca surah Al-Fatihah, tidak membaca surah lain atau bagian Al-Qur’an yang lain. Setelah membaca surah Al-Fatihah lalu melakukan ruku’ dan jika bukan merupakan shalat fardhu melainkan shalat sunat, witir atau nafal, maka pada raka’at ketiga dan keempat setelah surah Al-Fatihah harus membaca beberapa bagian dari Al-Qur’anul Karim.

Fatwa Hadhrat Masih Mau’ud (as)

Pada tanggal 16 Februari 1901 sedang berlangsung perbincangan mengani orang yang bergabung salat ketika sudah mulai rukuk, apakah baginya terhitung satu rakaat atau tidak? Hadhrat Masih Mau’ud a.s. meminta pandangan para maulwi (ulama) lainnya, maka dipaparkan pendapat berbagai firqah mengenai hal itu. Akhirnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memberi keputusan dan bersabda:

“Akidah saya adalah, “Laa shalata maa bifaatihatil-kitaab (Tidak ada shalat tanpa surah Al-Fatihah), tidak peduli apakah seseorang itu di belakang imam atau sendirian. Di setiap kondisi ia hendaknya membaca surah Al-Fatihah. Namum imam hendaknya jangan cepat-cepat membaca Surah Al-Fatihah, melainkan bacalah dengan perlahan-lahan supaya para makmum dapat mendengar dan membaca sendiri. Atau, setelah setiap ayat imam berhenti dalam jangka waktu sekian, sehingga makmum pun selesai membacanya.

Ringkasnya, kepada makmum hendaknya diberikan peluang untuk mendengar dan juga membacanya sendiri. Membaca surah Al-Fatihah adalah mutlak, sebab ia merupakan Ummul-Kitab (induk Kitab). Namun seseorang yang walau sudah berusaha untuk bergabung dalam salat dan ia bergabung pada waktu rukuk –serta tidak sempat membaca surah Al-Fatihah – maka baginya sudah dihitung satu rakaat, walaupun dia tidak membaca surah Al-Fatihah, sebab di dalam hadits disebutkan bahwa seseorang yang bergabung ketika rukuk maka baginya sudah terhitung satu rakaat.

Permasalahannya ada dua macam. Di satu tempat Hadhrat Rasul Karim saw. telah bersabda dan menekankan, bahwa harus membaca surah Al-Fatihah di dalam salat, sebab surah Al-Fatihah merupakan Ummul Kitab, dan itulah salat yang sebenarnya. Namun seseorang yang walaupun sudah berusaha serta menyegerakan dirinya untuk bergabung dalam salat, lalu dia bergabung ketika rukuk, maka dikarenakan dasar agama adalah kemudahan dan kelunakan, baginya Hadhrat Rasul Karim saw. bersabda bahwa untuknya telah terhitung satu rakaat. Tidak berarti bahwa orang itu mengingkari surah Al-Fatihah, melainkan karena terlambat tiba maka dia dia mengamalkan keringanan tersebut.

Allah Ta’ala telah menjadikan kalbu saya sedemikian rupa, sehingga merasa berat untuk melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan, dan kalbu saya tidak ingin melakukannya. Dan ini sudah jelas, ketika seseorang memperoleh sepenuhnya tiga bagian, sedangkan satu bagian tidak terkejar karena terlambat oleh alasan yang tak terhindarkan maka tidak mengapa. Manusia hendaknya mengamalkan keringanan.

Ya, seseorang yang secara sengaja berikap malas dan berlambat-lambat untuk bergabung dalam [salat] berjamaah maka salatnya itu sendiri tidak benar.”. [3]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Saya tidak mengatakan siapa yang tidak membaca Surah Al-Fatihah shalatnya tidak sah. Telah berlalu masanya di kalangan umat ini banyak sekali para Wali Allah yang berpandangan tidak harus membaca Surah Al-Fatihah di belakang imam, dan saya tidak dapat mengatakan shalat mereka itu sia-sia.’” [4]

Dalam rangka menjawab pertanyaan Munsyi Rustam Ali, Hadhrat Masih Mau’ud as menulis dalam suratnya,

“Shalat Ma-mum itu sah tanpa membaca Surah Al-Fatihah juga. Namun, suatu hal yang afdhal bila ia membacanya. Jika Imam membacanya dengan cepat-cepat, meski ketinggalan, Ma-mum dapat membaca ulang apa yang ia dapat dengar satu atau dua ayat. Tetapi, ia tidak boleh mengeraskan bacaannya tanpa bacaan Imam. (Artinya, Ma-mum harus tidak meninggikan suaranya dengan bacaannya yang menghambat orang-orang mendengar bacaan Imam) Jika ia tidak dapat mendengarkan apa-apa maka ia dalam keterpaksaan, jika ia mendengar bacaan Imam di tiap keadaan, maka shalatnya sah, namun ia tidak berada di derajat keluhuran.“ [4]

Seseorang bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as: Apakah dengan tidak membaca Al-Fatihah di belakang imam membuat shalat seseorang itu tidak sah/tidak benar? Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Hendaknya jangan bertanya, ‘Jika tidak membaca di belakang imam shalat sah atau tidak?’ tapi hendaknya bertanya, ‘Apakah dalam shalat hendaknya membaca Al-Hamd (Al-Fatihah) di belakang imam atau tidak?’ Maka, saya berkata bahwa tentu perlu membaca. Sah atau tidak shalat seseorang, Allah-lah yang tahu. Ada orang-orang Hanafi dan ribuan waliullah yang mengikuti cara Hanafi yaitu tidak membaca Al-Hamd di belakang imam. Jika shalat mereka tidak sah, lalu bagaimana mereka bisa menjadi para wali Allah? Saya mempunyai sesuatu ikatan dengan Imam A’zham (Imam Besar, julukan penghormatan untuk Imam Abu Hanifah) Saya menghormatinya, maka saya tidak akan memberikan fatwa bahwa shalat tidak sah tanpa Al-Fatihah. Semua hadist belum ditulis pada zaman itu. Belum terungkap rahasia yang sekarang ini sudah terungkap maka mereka dianggap uzur [berhalangan]. Sementara itu, sekarang masalah ini sudah terpecahkan. Sekarang jika seseorang tidak membaca Al-Fatihah, maka tidak diragukan lagi, shalatnya tidak akan sampai ke derajat pengabulan. Untuk menjawab pertanyaan ini saya berkali-kali berkata sebagai jawabannya bahwa hendaknya membaca Al-Hamd (Al-Fatihah) dalam shalat di belakang imam.” [5] [4]

Riwayat Mirza Basyir Ahmad

Mirza Basyir Ahmad sebagai berikut:

“Shahibzadah Mirza Basyir Ahmad meriwayatkan bahwa Hafizh Nur Muhammad penduduk di Faidhullah Cak mengabarkan beliau melalui surat, ’Suatu kali kami bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as tentang hukum membaca Al-Fatihah di belakang Imam, rafa’ yadain dan mengucap aamiin dengan suara nyaring. Beliau as menjawab,

“Itu hal yang pasti terbukti dari Hadits-Hadits dan hendaknya beramal berdasarkan hal itu.”’

Membaca Al-Fatihah di belakang Imam terbukti jelas secara mutawatir dari amal perbuatan beliau as.” Yaitu membaca Al-Fatihah di belakang Imam saat shalat berjamaah, namun tentang rafa’ yadain dan mengucap aamiin dengan suara keras, saya tidak menyangka Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengatakannya. Sebab, jika beliau as memandangnya satu keharusan, pasti beliau mengamalkannya. Tapi, tidak terbukti beliau secara tetap mengamalkannya bahkan amalan sehari-hari beliau berlawanan dengan itu. Saya lihat suatu kali Tn. Hafiz bertanya kepada Hudhur as tentang hal ini dan karena pertanyaannya mengandung beberapa hal lain maka beliau as memperhatikan soal pertama, artinya beliau menjawab tentang membaca Al-Fatihah di belakang Imam saja. Wallahu a’lam Hanya Allah Yang Lebih Tahu.” [4]

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad ra menulis,

“Miyan Khairuddin Syaikhwani mengabari saya lewat surat, ‘Suatu kali saya bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai membaca Al-Fatihah di belakang Imam, beliau as bersabda,

“Sesungguhnya membaca Al-Fatihah di belakang Imam itu lebih baik.“

Lalu saya bertanya apakah jika Al-Fatihah tidak dibaca maka shalat itu sah atau tidak? Beliau as menjawab,

“Shalatnya tetap sah namun lebih baik Muqtadi (pengikut shalat) membaca Al-Fatihah di belakang Imam. Jika shalat tidak sah karena Al-Fatihah tidak dibaca maka bagaimana mungkin terdapat orang-orang saleh agung di kalangan Madzhab Hanafi. Di kalangan mereka terdapat banyak sekali orang saleh dan mereka tidak membaca Al-Fatihah di belakang Imam. Shalat tetap sah di kedua keadaan itu [yaitu membaca atau tidak membaca Al-Fatihah]. Persoalannya ialah pada mana yang afdhal (lebih baik). Madzhab Hanafi juga mengutamakan Ta-miin (membaca aamiin) dengan suara yang terdengar dibanding suara pelan.“ [4]

Catatan Kaki