Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Apa Arti Setan Dibelenggu di Bulan Ramadhan?

Rasulullah (saw) bersabda tentang syetan yang dibelenggu di bulan Ramadhan,

أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

…dia mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu langit dibuka sedangkan pintu-pintu jahannam ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu”. (H.R. Bukhari) [1]

Dalam hadits lainnya diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

…dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada malam pertama bulan Ramadhan syetan-syetan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta seorang penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan”. (H.R. Tirmizi) [2]

Huzur V atba bersabda,

…Maksud Hadhrat Rasulullah Saw sangat menganjurkan [ummat] untuk berpuasa, dan mengatakan, bahwa setan dibelenggu di bulan Ramadhan; dan pintu-pintu Surga dibukakan, sementara pintu-pintu Neraka ditutup, artinya hal ini menekankan, bahwa [ummat] haruslah banyak mengerjakan amal shalih. Dan sudah barang tentu, seseorang makan Sahur di pagi dini hari lalu berbuka [Iftar di waktu Maghrib]. Ada juga mereka yang berpuasa tanpa bangun dan makan Sahur di waktu dini hari. Hendaknya tidak boleh dianggap dari hal ini bahwa seseorang telah memperoleh faedah berpuasa, dan Setan telah dibelenggu baginya.

Orang yang akan memperoleh manfaat dari puasanya adalah hanya mereka yang banyak mengerjakan amal-amal saleh; mereka menjaga puasanya dengan penuh rasa takut kepada Allah dan menyesuaikan amal perbuatannya dengan segala apa yang diridhai Allah Swt. Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa puasa yang diterima adalah yang disertai dengan keimanan dan penuh introspeksi diri. [3] Puasa yang dikerjakan sambil banyak beramal-shalih itulah yang artinya dapat menutup perbuatan buruk mereka. Orang mu’min (beriman) haqiqi senantiasa berusaha untuk meningkatkan tahapan ibadah mereka kepada Allah Ta’ala, yakni, meningkatkan ibadah Salat-salat Nafal mereka sebagai tambahan atas Salat wajib lima waktu; meningkatkan pemenuhan hak-hak orang lain huquuqul ‘ibaad; pengorbanan harta benda dan terhadap fakir-miskin. Hanya dengan melalui cara itulah seseorang dapat memperoleh berbagai keberkatan dari puasanya. [4]

Huzur V (atba) juga bersabda,

Rasulullah bersabda bahwa pada bulan Ramadhan setan dibelenggu. Namun kenapa pada bulan tersebut orang-orang masih banyak yang melakukan keburukan? Jawabannya ialah berpuasa menjadi tameng dari serangan syaitan bagi orang-orang yang memahami hakikat puasa dan ia bertakwa. Inilah tujuan sebenarnya berpuasa yang harus kita perhatikan setiap saat. Memang, pada tempat lain Rasul juga bersabda,

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

“Ketika tiba bulan Ramadhan, pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan akan dibelenggu” [5], namun, meskipun demikian, Rasulullah juga menekankan, “Siapa yang mendapati Ramadhan, tetapi tidak diampuni dari dosa, lantas kapan lagi akan diampuni?” [6]

Sabda Nabi (saw) ini ditujukan kepada kita dan kepada mereka yang mengaku sebagai Muslim yang kepada mereka Allah Ta’ala berfirman, “Berpuasa telah diwajibkan bagi kalian supaya pada bulan tersebut kalian hanya dan hanya mengupayakan untuk meraih ketinggian dalam ibadah kepada Allah Ta’ala dan standar akhlaki. Namun jika tidak melakukannya, maka tibanya bulan Ramadhan, dibelenggunya syaitan, dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka tidak akan memberikan manfaat apa-apa.”

Rasul bersabda, “Meskipun rahmat Allah maha luas, namun jika tidak memperoleh pengampunan, lantas kapan lagi kalian mendapatkan pengampunan?” Oleh karena itu, kita hendaknya tidak lantas merasa cukup mengucapkan Mubarak kesana-kemari atas datangnya Ramadhan, melainkan kita harus mengevaluasi diri apakah kita tengah berupaya untuk dapat meraih tujuan puasa Ramadhan seperti yang telah Allah jelaskan atau tidak? Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk dapat meraihnya dan semoga Allah Ta’ala menyelimuti kita dengan cadar ampunan dan maghfirah-Nya. [7]

Huzur V (atba) juga bersabda,

Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Ketika tiba bulan Ramadhan, pintu-pintu surga akan dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan akan dibelenggu.”[5]

Orang beriman lah yang dapat mengambil manfaat dari ini. Yang dapat mengambil faedah adalah orang yang beriman dengan benar dan mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala. Tipu daya setan pada hari-hari inipun tidak pernah berhenti. Di dunia ini begitu banyaknya hal yang sia-sia, ketiadaan rasa malu sudah menjadi rutinitas keseharian, dan itu tidak berhenti sekalipun pada bulan Ramadhan. Jadi, kabar suka ini diperuntukkan bagi orang-orang beriman dan bagi orang-orang yang bertakwa, bagi orang-orang yang mengambil bagian dari rahmat Tuhan yakni Allah Ta’ala telah memperluas lagi lebih dari sebelumnya bagi kalian. Untuk itu manfaatkanlah ini dan berusahalah untuk melaksanakan hak-hak Allah Ta’ala, berusahalah untuk mengamalkan segala hukum-hukum Nya.

Dalam menekankan kepada hal ini Hadhrat Rasulullah saw bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Orang yang bangun pada malam hari dengan tuntutan keimanan dan niat mendapatkan ganjaran, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.” (H.R Muslim) [3]

Huzur V (atba) juga bersabda,

Kemudian di sini pun ada orang-orang yang tenggelam dalam keburukan-keburukan, tenggelam dalam kekotoran dan terjerumus dalam keburukan-keburukan zina dan meminum minum-minuman keras. Ada juga orang-orang yang sedemikian rupa mereka berpuasa lalu atas nama agama mereka saling membunuh satu dengan yang lain. Ada juga orang-orang yang menganggap bahwa dalam bulan Ramadhan menyakiti orang-orang Ahmadi dan mensyahidkannya merupakan pekerjaan yang mendatangkan pahala. Maka apakah orang yang melakukan kebaikan-kebaikan ini dan orang-orang yang melakukan keburukan-keburukan hanya karena bulan Ramadhan yang penuh berkat mereka akan menjadi sama. Oleh karena itu untuk orang-orang yang melakukan kebaikan-kebaikan, pintu surga dibukakan. Apakah untuk orang-orang yang terjerumus dalam keburukan-keburukan juga pintu surga dibukakan? Sebagaimana bagi orang-orang yang melakukan kebaikan-kebaikan dan orang-orang yang melakukan ibadah mereka terselamatkan dari neraka jahannam dan syaitan-syaitan dipenjarakan? Jika syaitan-syaitan juga dipenjarakan, maka perilaku syaitan tidak akan menjerumuskannya di dalamnya, bahkan tentunya mereka akan melakukan kebaikan-kebaikan.

Jadi sebagian yang berkaitan dengan hal diatas terdapat syarat dengan amal perbuatan. Barangsiapa yang mencari karunia Allah Ta’ala, dia berusaha untuk memperoleh keberkatan dari bulan Ramadhan, maka untuknya Allah Ta’ala akan menyiapkan sarana lebih dari kondisi biasa. Karena orang yang berpuasa dan dia melakukannya dengan niat supaya dia dapat membuat Allah Ta’ala ridha padanya dan demi untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala, dia meninggalkan semua keburukan-keburukan, bahkan perkara-perkara yang jaiz (yang diperbolehkan) pun dia tinggalkan. Jadi untuk mengambil faedah dari kemudahan-kemudahan khusus yang Allah Ta’ala telah berikan itu, dengan memohon karunia-Nya ia perlu tunduk sujud di hadapan-Nya. [8]

Catatan Kaki