Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Nasehat Bagi Mubalig (Seri 1)

Pada kesempatan Majlis Musyawarah tahun 1936, Hazrat Khalifatul Masih Tsani ra bersabda,

“Seorang muballigh hendaknya memiliki ruh agama yang lebih kuat dan kokoh dibanding orang lain. Dan mereka setiap saat harus siap berkorban demi agama. Seperti halnya sebuah gasing, muballigh pun harus berkeliling dari satu pelosok negeri sampai ke pelosok lainnya. Kami tidak menghendaki seorang muballigh pembuat gaduh, yang pergi ke arena perdebatan dan siap untuk bertanding dengan mengatakan, “Ayo, Lawanlah kami!” Biarkan ucapan mubarak/selamat ini hanya untuk orang hindu arya dan Kristen saja (memiliki debator-Pent). Kami menghendaki seorang muballigh yang menundukkan pandangannya dan memiliki rasa malu yang didalam hatinya terdapat rasa takut kepada Tuhan, sehingga dengan melihatnya, orang-orang akan berkata, “Apa yang mereka bisa jawab?” Kami tidak membutuhkan muballigh-muballigh yang unggul dalam perdebatan-perdebatan, tetapi kami membutuhkan para pengkhidmat agama, yang unggul dalam sujud (doa-doa). Kalaulah mereka kalah dalam perdebatan, bahkan kalah sampai 100 kali, maka apa perlunya kita berbangga sebagai tanda kagum (melihat kehebatan seorang muballigh-Pent), tapi sedikitpun dia tidak menjadi bagian dari kita. Kepala digoyangkan (sebagai tanda kagum), tapi kami mahrum. Saya yakin bahwa dalam hal ini terdapat kesalahan jemaat-jemaat luar negeri juga. Mereka mengajukan, ”Kirimkanlah muballigh fulan! Karena kami merasa tidak cukup dengan kedatangan muballigh fulan, karena dia tidak bisa berbicara dengan mengagumkan. Memanglah benar, tapi seorang pemimpin adalah dia yang memimpin didepan orang orang, bukan sebaliknya, orang-orang bisa membawanya kemana saja mereka suka.

Muballigh yang hakiki adalah yang bisa menciptakan ketakwaan, kesucian, mengishlah kalbu, tetapi muballigh yang beranggapan, bahwa saya adalah pegawai, yang akan pergi kemanapun diperintahkan.

Mau diapakan muballigh semacam itu yang bila dia mendapatkan pekerjaan/mata pencaharian yang lebih baik dari ini (muballigh), maka dia akan memilih pekerjaan itu. Kami menghendaki muballigh yang tidak menganggap dirinya sendiri sebagai pegawai, tapi dia yang bekerja untuk Allah Ta’ala dan kepada-Nya lah dia mengharapkan ganjarannya. Muballigh yang tidak mengamalkan hal itu maka dia bukanlah muballigh kami, melainkan muballighnya musuh kami, dia adalah muballighnya syaitan, karena syaitan sedang memberikan kekuatan kepadanya.

Ini adalah kekotoran yang disebabkan karena keterpaksaan zaman ini sehingga Hindu Arya dan Kristen memelihara orang-orang yang seperti itu yang bertujuan untuk merugikan Islam dan untuk melawan mereka. Apakah ada yang bisa mengatakan bahwa ketika ada orang yang buang hajat di toilet, itu adalah saat terbaiknya? Itu adalah saat saat keterpaksaan. Begitu juga halnya apabila dalam pertablighan ditempuh cara-cara seperti itu, maka itu adalah satu musibah dan satu keterpaksaan. Walhasil, para muballigh hendaknya memahami hakikat, bahwa mendapatkan sesuatu yang memadai bukanlah suatu aib, tapi kalau (seorang muballigh-Pent) bekerja untuk mendapatkan penghasilan (tambahan-Pent) maka itu adalah aib.

Muballigh adalah orang yang meskipun mendapatkan (penghasilan-Pent) sedikit ataupun tidak, kewajiban mereka adalah melakukan tugas tabligh! Seperti muballigh dahulu misalnya: Maulana Ghulam Rasul Shahib Waziir Aabady, Maulana Ghulam Rasul Rajeki, Maulana Muhammad Ibrahim Shahib Baqapury, telah melakukan tugasnya pada saat-saat mereka tidak mendapatkan bantuan dan disebabkan karena pekerjaan itu (Muballigh), sehingga mereka tidak mendapatkan penghasilan. Demikianlah mereka telah memberikan bukti amalan dalam pengorbanan dan memberitahukan bahwa mereka bisa mengkhidmati agama tanpa imbalan. Orang-orang seperti inilah yang kalaupun pada saat-saat terakhir hidupnya diberikan imbalan, maka pengkhidmatannya tidak lantas menjadi tidak bernilai dibanding itu (imbalan), malah sebaliknya imbalan itu akan dianggap rendah dibanding pengkhidmatan mereka, karena seberapa banyak pertolongan yang harus diberikan kepada mereka, itu tidak kita lakukan.

Dengan demikian diketahui bahwa setiap muballigh menganggap dirinya sebagai khalifah dan berfikir bahwa dia berhak untuk mengungkapkan apapun yang muncul dalam hatinya dan jika tidak diinginkan dia tidak mengungkapkannya. Padahal dia bagaikan sebuah seruling yang tugasnya adalah mengeluarkan setiap suara yang dimasukkan kedalamnya. Kalau seorang muballigh beranggapan bahwa itu adalah senjata saya, pikiranku/perbutanku bukan milik jemaat, maka hendaknya mereka mengambil/menyimak khutbah-khutbah saya lalu disampaikan di dalam jemaat sesuai dengan itu (khutbah saya), maka dengan demikian sampai saat ini sudah tercipta perubahan yang luar biasa. Tugas para muballigh adalah mendengarkan dan memahami setiap suara Khilafat lalu menyampaikan hal itu (suara Khilafat) di setiap tempat.

Sumber

Report Majlis Musyawarah Hal 24-27 dikutip dari tarikh ahmadiyah jilid 7 hal 307-308