Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Orang yang Berhak Menerima Sedekah

Dalam istilah agama, kita mengenal istilah مُسْتَحِقّ (mustahiq), yang artinya: orang yang berjasa, orang yang berhak menerima, orang yang pantas menerima, orang yang patut untuk …, orang yang dapat dipilih, yang dibayar, dapat dibayar [1]

Mustahiq secara istilah bisa diartikan orang-orang yang berhak menerima zakat atau sedekah.

Delapan Orang yang Berhak Menerima Sedekah atau Zakat

Dimana zakat atau sedekah harus dibelanjakan? Siapa saja orang yang berhak menerimanya? Dalam kaitan ini, Allah Taala memberikan petunjuk utama dalam firman-Nya:

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلۡفُقَرَآءِ وَ الۡمَسٰکِیۡنِ وَ الۡعٰمِلِیۡنَ عَلَیۡہَا وَ الۡمُؤَلَّفَۃِ قُلُوۡبُہُمۡ وَ فِی الرِّقَابِ وَ الۡغٰرِمِیۡنَ وَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ ابۡنِ السَّبِیۡلِ ؕ فَرِیۡضَۃً مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ﴿۶۰﴾

Sesungguhnya sedekah-sedekah itu adalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, petugas-petugas dalam urusan itu, orang-orang yang dipikat hatinya, untuk membebaskan hamba sahaya, mereka yang terlilit hutang, para mujahid di jalan Allah, dan musafir, yang demikian itu ketetapan dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (QS At Taubah [9]: 60)

Dari ayat ini bisa diperoleh penjelasan bahwa terdapat delapan golongan orang yang berhak menerima sedekah (baik sedekah Wajib atau zakat maupun sedekah Sunnah) adalah sebagai berikut:

1. Fuqoroo’

Fuqoroo’ (فُقَرَاء) (Orang-Orang Fakir) Merupakan jamak dari kata faqiir (فَقِيْر) yang maksudnya adalah orang-orang yang membutuhkan bantuan orang lain untuk menjalani kehidupannya dan dia tidak memiliki apa-apa untuk keperluan sehari-hari.

2. Masaakiin

(orang-orang miskin) yaitu orang yang memiliki harta atau pekerjaan tapi hasilnya hanya bisa mencukupi lebih dari separuh kebutuhan pokoknya.

Masaakiin (مَسَاكِين) merupakan jamak dari kata miskiin (مِسْكِيْن) yang maksudnya adalah orang yang memerlukan, orang yang dihimpit oleh keadaan dan dibuat tidak memiliki apa-apa. Seolah-olah dia benar-benar nganggur/tidak memiliki pekerjaan karena keadaan. Misalnya, ada seorang pekerja yang baik. Akan tetapi, untuk menggunakan kemahirannya dia tidak memiliki alat-alat yang diperlukan dan tidak dapat menyediakannya dari tempat lain.

Salah satu arti miskin adalah dia tidak menceritakan keadaannya kepada seseorang dan tidak menampakkan kemiskinannya kepada seseorang. Seolah-olah dia menjadi tamsilan ayat Alquran:

...یَحۡسَبُہُمُ الۡجَاہِلُ اَغۡنِیَآءَ مِنَ التَّعَفُّفِ ۚ تَعۡرِفُہُمۡ بِسِیۡمٰہُمۡ ۚ لَا یَسۡـَٔلُوۡنَ النَّاسَ اِلۡحَافًا ؕ ...

“…Engkau dapat mengenali mereka dari raut wajah mereka dan mereka tidak suka meminta kepada manusia dengan mendesak-desak…” (Al-Baqarah [2]: 274)

Dalam ayat ini, pemerintah juga diarahkan perhatiannya supaya dia hendaknya jangan memilih cara untuk menyusahkan dan tuntutannya diterima. Mereka adalah orang yang memerlukan, meskipun dia berdiam diri, mereka harus tetap diperhatikan.

3. ‘Aamiliin

‘Aamiliin bisa diartikan Karyawan Penerima dan Pembagi (zakat). Mereka yang mengatur penerimaan dan pembagian zakat juga dapat diberi tunjangan hidup ala kadarnya dari pos zakat. Ringkasnya, karyawan pengatur zakat dan pekerja instansi pengelola harta dapat mengambil tunjangan hidup ala kadarnya dari penghasilan zakat.

4. Muallafati Quluubuhum

Muallafati Quluubuhum (para muallaf) yaitu orang yang baru masuk islam; yang masih lemah keislamannya. Di dalam Jemaat dikenal dengan sebutan mubayyi’in baru, yakni orang yang baru bai’at.

Membelanjakan sesuatu untuk memotivasi dan menunjang, baik tujuannya menarik seseorang kepada Islam atau manfaat politik negara atau agama menuntutnya, misalnya di suatu daerah ada beberapa orang yang telah masuk Islam, yang karenanya para penentang menghancurkan usahanya atau mereka cenderung pada Islam. Akan tetapi mereka takut terhadap kesulitannya. Membelanjakan dari pos zakat untuk menghibur hati orang-orang seperti ini, sungguh benar dan diperbolehkan.

5. Riqoob

Riqoob (رِقَاب) merupakan jamak dari kata roqobah (رَقَبَة), yang artinya (batang) leher. Maksudnya adalah leher seseorang berada dalam genggaman orang lain karena terjadinya suatu peristiwa. Dia tidak dapat berkumpul tanpa keinginannya, misalnya terpenjara di tangan musuh atau dia terjerat dalam utang dan orang yang memberi utang membuatnya diam seribu bahasa. Orang seperti ini dapat dibebaskan dari pendapatan zakat.

6. Ghoorimiin

Ghoorimiin (غَارِمِين) merupakan jamak dari kata ghoriim (غَرِيْم). Yakni, orang yang didenda akibat kejadian mendadak yang menimpanya, dengan kesalahannya dia telah merugikan seseorang, dia bertanggungjawab atau salah seorang keluarga telah melakukan kesalahan dan dia mengambil alih tanggungjawab atas masalah dendanya. Orang yang terkena musibah seperti ini dapat dibantu dari pos zakat.

7. Sabiilillaah

Maksud dari Sabiilillaah (سَبِيْل اللهِ) (jalan Allah) adalah semua pekerjaan yang harus dikerjakan oleh pemerintah atau Jemaat untuk kebaikan Islam dan orang-orang Islam, yang mengatur, yang melindungi, yang membentengi dan keperluan-keperluan masyarakat yang lainnya. Semua keperluan ini dapat dipenuhi dari pos zakat.

8. Ibnus-Sabiil

Maksud dari Ibnu Sabiil adalah musafir. Keperluan mendadak dan tetap orang-orang musafir dapat dipenuhi dari pos zakat. Misalnya, membuat penginapan dan tempat tinggal, membangun persimpangan untuk penjagaan jalan, membuat jalan dan jembatan, membuat kantor informasi atau menyediakan makanan secara gratis. Ringkasnya, pengeluaran-pengeluaran penting untuk mensukseskan perjalanan dan perjalanan dagang, dapat dibayar dengan bantuan tersebut.

Untuk petunjuk umum, Allah Taala telah menjelaskan 8 orang yang berhak menerima zakat ini. Ini merupakan petunjuk prinsip. Jika tidak, Imam atau Khalifah memiliki wewenang bahwa sekiranya keadaan menuntut supaya semua zakat diberikan untuk suatu pengeluaran, maka melakukan demikian jaiz dan tepat sesuai dengan kehendak syariat.

Sedekah yang Utama

Dalam Hadits An-Nasai diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda: “Sedekah yang utama ialah yang diambil dari sisa kebutuhan sendiri. Dan tangan di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, dan mulailah -memberi- orang yang menjadi tanggunganmu.” (H.R. An-Nasai) [2]

Dalam riwayat yang lain,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dinar (harta) yang kamu belanjakan di jalan Allah dan dinar (harta) yang kamu berikan kepada seorang budak wanita, dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin serta dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu. Maka yang paling besar ganjaran pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (H.R. Muslim) [3]

Dari Hadits diatas, kita hendaknya menafkahkan bagi:

Dalam Hadits Sunan Abu Dawud diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّدَقَةِ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدِي دِينَارٌ فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ أَوْ قَالَ زَوْجِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ أَنْتَ أَبْصَرُ

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk bersedekah. Kemudian seorang laki-laki berkata; wahai Rasulullah, aku memiliki uang satu dinar. Kemudian beliau bersabda: “Sedekahkan kepada dirimu!” Ia berkata; aku memiliki yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan kepada anakmu!” Ia berkata; aku memiliki yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan kepada isterimu!” Ia berkata; aku memiliki yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan kepada pembantumu!” Ia berkata; aku memiliki yang lain. Beliau bersabda: “Engkau lebih tahu.” (H.R. Abu Dawud) [4]

Dari Hadits diatas, kita hendaknya menafkahkan bagi:

Nafkah kepada Keluarga Berpahala Sedekah

Berkenaan dengan menafkahi keluarga, Rasulullah saw cukup menekankan mengenai hal ini:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ فَقُلْتُ عَنْ النَّبِيِّ فَقَالَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَنْفَقَ الْمُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Adi bin Tsabit ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Yazid Al Anshari dari Abu Mas’ud Al Anshari maka aku berkata; Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jika seorang muslim memberi nafkah pada keluarganya dengan niat mengharap pahala, maka baginya hal itu adalah sedekah.” (H.R. Bukhari) [5]

Jadi, diharapkan memenuhi kebutuhan keluarga terlebih dahulu yang menjadi kewajiban baginya, baru kemudian penuhi lah kebutuhan orang lain.

Sedekah Diutamakan kepada Kerabat (Terdekat) Dulu

Dalam Hadits Sunan an-Nasai diriwayatkan,

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الصَّدَقَةَ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَعَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

Dari Salman bin ‘Amir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin pahalanya satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua; pahala sedekah dan pahala silaturrahim.” (H.R. An-Nasa’i) [6]

Sedekah kepada Tetangga

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ

Dari Abu Dzar dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Dzar, Apabila kamu memasak kuah sayur, maka perbanyaklah airnya, dan berikanlah sebagiannya kepada tetanggamu.” (H.R. Muslim) [7]

Catatan Kaki