Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Hukum Puasa - Meminta Maaf Sebelum Puasa

Ucapan maaf menjelang ramadhan banyak bersliweran di dunia maya khususnya menjelang bulan puasa atau bulan Ramadhan. Sudah menjadi tradisi bagi sebagian umat Islam untuk bermaaaf-maafan sebelum ramadhan. Hakikatnya meminta maaf tidaklah harus menunggu menjelang bulan puasa.

Dasar Bermaaf-maafan Menjelang Bulan Puasa

Orang-orang menyandarkan dari hadits berikut,

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ رقِيَ الـمِنْبرَ, فقال: آمينَ, آمينَ, آمينَ, قيل له: يا رسولَ اللهِ, ما كُنتَ تَصْنَعُ هذا! فقال: قال لـي جِبريلُ: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ أدرَكَ أَبَوَيْه أو أَحَدَهما لَـمْ يُدْخِلْه الجنةَ, قلتُ: آمينَ, ثم قال: رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عليه رَمضانُ لَـمْ يُغْفَرْ له, فقلتُ: آمينَ, ثم قال: رَغِمَ أنْفُ امْرِئٍ ذُكِرْتَ عِنْدَه فلَمْ يُصَلِّ عَليْك, فقُلتُ: آمينَ

Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda:

Aamiin, Aamiin, Aamiin’.

Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda,

“Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Aamiin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Aamiin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hamba yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Aamiin”.” (H.R. Al-Albany) [1]

Dari hadits di atas didapatkan perkataan Malaikat Jibril, “Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan”. Ini artinya bahwa seseorang sudah melewati Ramadhan, tetapi amal-amal shalehnya (termasuk puasanya) tidak diterima di sisi Allah sehingga ia tidak mendapatkan ampunan. Hal itu karena kesalahannya sendiri tidak mengamalkan puasa dengan benar. Di dalam hadits di atas tidak ada perintah untuk bermaaf-maafan.

Yang Berhak Mengampuni Dosa Hanya Allah

Kemudian, kita mengetahui bahwa yang berhak mengampuni dosa-dosa adalah Allah Ta’ala. Dalam hadits yang sahih, yaitu sahih bukhari diriwayatkan,

أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مِنْ عِنْدِكَ مَغْفِرَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

…bahwa Abu Bakar Ashshiddiiq radliyallahu’anhu berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku doa yang aku panjatkan dalam shalatku!” Nabi pun berkata: “Ucapkanlah: ALLAAHUMMA INII ZHALAMTU NAFSII ZHULMAN KATSIIRAN WALAA YAGHFIRUDZDZUNUUBA ILLAA ANTA FAHGHFIRLII MIN INDIKA MAGHFIRATAN INNAKA ANTAL GHAFUURURRAHIIM’ (Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, dan tidak ada yang bisa mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah bagiku dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha pengampun lagi Maha Penyayang) ‘.” (H.R. Bukhari) [2]

Jadi, yang berhak memaafkan dosa adalah Allah Ta’ala. Sehingga jika kita ingin diampuni dosa-dosa, maka mohonlah ampun (beristighfar) kepada Allah Ta’ala.

Meminta Maaf (kepada Manusia) Agar Amal Shaleh Kita Tetap Aman

Dalam hadits yang lain, berkenaan dengan dosa yang berkaitan dengan hablum-minan-naas, diriwayatkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ

…dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari qiyamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizholiminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (H.R. Al-Bukhari) [3]

Jadi, dengan kita meminta maaf terhadap sesama kita, maka amal shaleh yang telah kita kumpulkan selama di dunia akan “aman” di akhirat nanti. Tetapi di dalam hadits ini tidak didapati harus meminta maaf menjelang bulan puasa atau menjelang bulan Ramadhan. Kata yang berkaitan dengan ‘waktu’ untuk meminta maaf di hadits ini adalah “al-yaum” yang berarti “hari ini”. Ini sama artinya sesegera mungkin meminta maaf atau meminta maaf ketika seseorang masih hidup di dunia.

Mengkhususkan Suatu Amal yang Tidak Dicontohkan Rasulullah (saw)

Apakah boleh mengkhususkan amal tertentu (misalnya bermaaf-maafan, shalat nafal, puasa nafal dll)? Hadhrat Aisyah (ra) pernah ditanya mengenai hal ini.

عَنْ عَلْقَمَةَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْتَصُّ مِنْ الْأَيَّامِ شَيْئًا قَالَتْ لَا كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يُطِيقُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطِيقُ

…dari ‘Alqamah; Aku bertanya kepada ‘Aisyah radliallahu ‘anha apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan hari-hari tertentu dalam ber’amal?” Dia menjawab: “Tidak. Beliau selalu beramal terus menerus tanpa putus. Siapakah dari kalian yang akan mampu sebagaimana yang mampu dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? (H.R. Bukhari) [4]

Dari hadits di atas disebutkan bahwa mengkhususkan hari-hari tertentu dalam beramal itu tidak diperbolehkan. Namun selalulah mengerjakan amal shaleh secara rutin. Jadi tidak diperkenankan memohon maaf di hari-hari yang dikhususkan, tetapi minta maaflah segera ketika kita memiliki kesalahan terhadap yang lain.

Kesimpulan

Catatan Kaki