Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Wajibnya Menuntut Ilmu

Rasulullah (saw) memerintahkan kepada kita untuk menuntut ilmu. Diriwayatkan,

...عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ

…dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Dan orang yang meletakkan ilmu bukan pada pada ahlinya, seperti seorang yang mengalungkan mutiara, intan dan emas ke leher babi.” (HR. Ibnu Majah) [1]

Wajibnya Sebagian Kaum menuntut Ilmu Agama

Allah Ta’ala berfirman,

وَ مَا کَانَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لِیَنۡفِرُوۡا کَآفَّۃً ؕ فَلَوۡ لَا نَفَرَ مِنۡ کُلِّ فِرۡقَۃٍ مِّنۡہُمۡ طَآئِفَۃٌ لِّیَتَفَقَّہُوۡا فِی الدِّیۡنِ وَ لِیُنۡذِرُوۡا قَوۡمَہُمۡ اِذَا رَجَعُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ لَعَلَّہُمۡ یَحۡذَرُوۡنَ ﴿۱۲۲﴾٪

Dan, tidak mungkin bagi orang-orang mukmin keluar semuanya. Maka mengapa tidak keluar dari setiap golongan mereka satu rombongan supaya mereka memperdalam ilmu agama, dan agar mereka memperingatkan kaum mereka, apabila kembali kepada mereka supaya mereka takut dari kesesatan. (QS At-Taubah [9]:122)

Keutamaan Ilmu: Meninggikan Derajat Manusia

Ilmu dapat meningkatkan derajat seseorang di sisi Allah dan di pandangan manusia. Allah Ta’ala berfirman,

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا قِیۡلَ لَکُمۡ تَفَسَّحُوۡا فِی الۡمَجٰلِسِ فَافۡسَحُوۡا یَفۡسَحِ اللّٰہُ لَکُمۡ ۚ وَ اِذَا قِیۡلَ انۡشُزُوۡا فَانۡشُزُوۡا یَرۡفَعِ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ ۙ وَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ دَرَجٰتٍ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرٌ ﴿۱۲﴾

“Hai, orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Lapangkanlah tempat di dalam majelis.” Maka hendaklah kamu melapangkan bagimu, dan apabila dikatakan, “Berdirilah,” maka hendaklah kamu berdiri, Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan, beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah [58]: 12 dengan basmallah).

Keutamaan Ilmu: Allah Memudahkan Jalan Penuntut Ilmu Menuju Surga

Rasulullah SAW bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم :‏ "‏ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ ‏"

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berjalan di suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Tirmidzi) [2]

Murid saja akan mudah menuju Surga, apalagi gurunya?

Keutamaan Ilmu: Seorang Penuntut Ilmu adalah Orang yang Ada di Jalan Allah

Dalam Hadits Riwayat Tirmudzi tertulis bahwa Rasulullah saw bersabda,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏: "‏ مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ ‏"‏

Artinya : dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa keluar dalam rangka menuntut ilmu maka dia berada di jalan Allah sampai dia kembali.” (H.R. Tirmidzi) [3]

Keutamaan Ilmu: Sebagai Amal Jariyah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏: "‏ إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ‏"

dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim) [4]

Jadi jadikan ilmu kita bermanfaat bagi yang lainnya, sehingga ketika kita sudah tiada pun, kita masih dapat merasakan aliran ganjaran dari ilmu yang bermanfaat tersebut.

Keutamaan Ilmu: Menghindarkan diri dari Azab

Jika seseorang mau merenungkan nasehat-nasehat yang diberikan oleh para utusan Allah Ta’ala, maka ia akan mendapatkan keselamatan. Sayangnya sebagian orang tidak mau mendengarkan nasehat dan merenungkannya sehingga ketika azab telah tiba, maka hanya penyesalah yang didapat. Allah Ta’ala telah memeringatkan,

قَالُوۡا بَلٰی قَدۡ جَآءَنَا نَذِیۡرٌ ۬ۙ فَکَذَّبۡنَا وَ قُلۡنَا مَا نَزَّلَ اللّٰہُ مِنۡ شَیۡءٍ ۚۖ اِنۡ اَنۡتُمۡ اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ کَبِیۡرٍ ﴿۱۰﴾

“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mulk [67]: 10 dengan basmallah)

Keutamaan Ilmu: Hanya Orang yang Berilmu yang Bisa Menerima Nasehat

...وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿۸﴾

…Dan mereka yang matang dalam ilmu, mereka berkata, “Kami beriman kepadanya; semuanya dari Tuhan kami.” Dan, tiada yang meraih nasihat kecuali orang-orang berakal. (Ali ‘Imran [3]:8 dengan basmallah)

Keutamaan Ilmu: Orang yang Berilmu adalah yang Paling Takut kepada Tuhan

وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ ﴿۲۹﴾

Dan demikian juga di antara manusia dan hewan berkaki empat dan binatang ternak, bermacam-macam warnanya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. (Fatir [35]: 29 dengan basmallah)

Tafsir: Ungkapan, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama,” memberikan bobot arti kepada pandangan, bahwa ketiga kata itu menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara, mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu, takut kepada Tuhan.

Selaras dengan itu, Rasulullah (saw) menyampaikan,

...وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“…Dan sesungguhnya Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud) [5]

Keutamaan Ilmu: Allah Akan Memberi Kebaikan Kepada Orang yang Berilmu

Diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa dikehendaki Allah untuk mendapat kebaikan, maka Allah akan memberikan pemahaman kepadanya tentang agama.” (H.R. Ibnu Majah) [6]

Keutamaan Ilmu: Ilmu Menjadi Investasi Ganjaran

Rasulullah (saw) bersabda,

...عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ

…dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal; Sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.” (H.R. Tirmidzi) [7]

Allah Ta’ala-lah yang Mengajarkan Ilmu

Allah Ta’ala berfirman,

قَالُوۡا سُبۡحٰنَکَ لَا عِلۡمَ لَنَاۤ اِلَّا مَا عَلَّمۡتَنَا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَلِیۡمُ الۡحَکِیۡمُ ﴿۳۳﴾

Berkata mereka, “Mahasuci Engkau! Kami tidak mempunyai ilmu selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui, Maha- bijaksana.” (QS Al-Baqarah [2]: 33 dengan basmallah)

Allah Ta’ala juga berfirman:

فَتَعٰلَی اللّٰہُ الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ قُلۡ رَّبِّ زِدۡنِیۡ عِلۡمًا ﴿۱۱۵﴾

Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Benar. Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al- Qur’an sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau, melainkan katakanlah, “Wahai Tuhan-ku! Tambahkanlah kepadaku ilmu.”(QS TaHa [20]: 115 dengan basmallah)

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

Dan untuk meraih setiap ilmu ada satu jalan yang dinamakan Shiraathal Mustaqim. Tiada suatu pun di dunia ini yang dapat diperoleh tanpa mengikuti peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh kudrat (kekuasaan Tuhan) baginya sejak awal. [8]

Jadi salah satu kunci untuk mendapatkan ilmu adalah berdoa dan memohon ilmu agar mendapatkan Shiraathal Mustaqim dalam menuntut ilmu.

Ikatlah Ilmu dengan Pena

Allah Ta’ala berfirman,

...وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّتَوَفّٰی وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّرَدُّ اِلٰۤی اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ لِکَیۡلَا یَعۡلَمَ مِنۡۢ بَعۡدِ عِلۡمٍ شَیۡئًا ؕ...

…Dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan sebagian dari kamu ada yang dipanjangkan umurnya hingga pikun, sehingga ia tidak mengetahui sedikit pun setelah ia mengetahui… (Al-Hajj [22]:6 dengan basmallah)

Oleh karena itu, “ikatlah” ilmu kita menggunakan pena, sehingga ketika ilmu itu sudah “ditarik” dari diri kita, kita masih mempunyai ilmu tersebut dalam bentuk tulisan-tulisan atau bahkan sebuah kitab.

Tujuan Ilmu

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyampaikan tentang tujuan Allah Ta’ala mengajarkan ilmu-ilmu kepada manusia. Beliau (as) bersabda,

Maksud sebenarnya semua ajaran ma’rifat —yakni ilmu-ilmu, nasihat dan sarana-sarana lainnya— ialah mengantarkan umat manusia dari keadaan-keadaan thabi’i (alami) yang memiliki corak biadab kepada keadaan-keadaan akhlaki hingga ke samudera kerohanian yang tiada bertepi. [9]

Tiga Macam Ilmu

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda,

Allah Ta’ala membagi ilmu dalam tiga tingkat, yakni: ‘IlmulYaqin, ‘Ainul Yaqin dan Haqqul-Yaqin. [10]

Nasehat Rasulullah saw Bagi Para Guru

diriwayatkan dalam At-Tabrani,

تعلَّموا العِلمَ وتعلَّموا للعِلمِ السَّكينةَ والوَقارَ وتواضَعوا لِمَن تَعلَّمونَ منه

Artinya :”Belajarlah kalian ilmu untuk ketentraman dan ketenangan serta rendah hatilah pada orang yang kamu belajar darinya.” (H.R. At-Tabrani)

Catatan Kaki