Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Sekelumit Kisah Khalifah ‘Utsman bin Affan (ra) (bagian-2)

Yang Mulia, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad ayyadahuLlahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz menyampaikan bahwa beliau melanjutkan uraian mengenai kejadian-kejadian dalam kehidupan Hadhrat ‘Utsman (ra).

Saran Amir Mu’awiyyah kepada Hadhrat ‘Utsman (ra)

Hudhur ayyadahuLlahu menyampaikan bahwa Hadhrat ‘Utsman (ra) melakukan haji terakhirnya sekitar satu tahun sebelum kewafatannya. Saat itu, para pemberontak sudah mulai membuat kekacauan. Amir Mu’awiyyah yang tengah menemani Hadhrat ‘Utsman (ra), menyarankan bahwa Hadhrat ‘Utsman (ra) harus pergi ke Suriah bersamanya, karena kekacauan telah meningkat. Hadhrat ‘Utsman (ra) menjawab bahwa dalam keadaan apapun beliau tidak akan meninggalkan kedekatan dengan Nabi (saw) termasuk dengan kota tempat beliau (saw) telah tinggal sekian lama dan wafat.

Kemudian Amir Mu’awiyyah menyarankan agar beliau diizinkan mengirim tentara Syam (Suriah dan sekitarnya) untuk memberikan perlindungan kepada Hadhrat ‘Utsman (ra). Hadhrat ‘Utsman (ra) menjawab bahwa beliau tidak akan membiarkan biaya seperti itu dikeluarkan oleh bendahara negara (Baitul Maal) hanya untuk perlindungannya.

Kemudian Amir Mu’awiyyah menanggapi bahwa satu-satunya alasan kekacauan ini bisa muncul adalah karena sahabat (awwalin) hadir di Madinah dan para pemberontak dapat berpikir jika mereka menyingkirkan Hadhrat ‘Utsman (ra) maka salah satu dari para Sahabat (awwalin) dapat mengurus masalah setelah beliau (ra). Karena itu, Hadhrat ‘Utsman (ra) harus meminta mereka keluar Madinah dan menyebarkannya di berbagai tempat. Hadhrat ‘Utsman (ra) menjawab bahwa beliau tidak dapat menyebarkan orang-orang yang telah dikumpulkan oleh Nabi (saw).

Atas hal ini, Amir Mu’awiyyah meneteskan air mata, dan mengatakan bahwa Hadhrat ‘Utsman (ra) setidaknya harus mengumumkan bahwa jika terjadi sesuatu padanya, Amir Mu’awiyyah memiliki izin untuk mengambil pembalasan. Hadhrat ‘Utsman (ra) menjawab bahwa apapun yang ditakdirkan untuk terjadi, akan terjadi, dan beliau (ra) juga tidak dapat melakukan hal ini.

Hadhrat ‘Utsman (ra) Menasihati para Pemberontak yang mengepung rumah beliau

Ketika Hadhrat ‘Utsman (ra) dikepung di rumahnya sendiri oleh para pemberontak, beliau bersabda kepada para pengepungnya bahwa mereka tidak boleh membunuhnya. Beliau bersabda bahwa jika mereka melakukannya, mereka tidak akan pernah bisa shalat berjamaah bersama, juga tidak akan pernah bersatu dalam melawan musuh. Beliau menasihati mereka untuk tidak bertempur. Namun para pemberontak tidak mengindahkan sabda Hadhrat Utsman (ra). Maka dari itu, Hadhrat ‘Utsman (ra) berdoa kepada Tuhan semoga Dia mencengkram semua orang yang telah mengepung rumahnya dan menyebabkan pemberontakan ini serta menghukum mereka setimpal dengan perbuatannya. Diriwayatkan bahwa semua yang pernah ikut dalam pemberontakan ini akhirnya dibinasakan segera.

Pada hari ketika rumah Hadhrat ‘Utsman (ra) dikepung, beberapa sahabat telah berkumpul di rumahnya, dan bersikeras bahwa sekelompok orang beriman hadir untuk membantu melindungi Hadhrat ‘Utsman (ra) dari pemberontak. Namun, Hadhrat ‘Utsman (ra) bersabda bahwa tidak boleh ada darah yang harus ditumpahkan hanya untuk melindungi diri beliau, dan juga tidak boleh ada orang yang menumpahkan darah orang lain demi diri beliau. Dengan cara ini, sampai akhir, Hadhrat ‘Utsman (ra) tidak memberikan para pemberontak bahkan sedikit pun kesempatan untuk membenarkan tindakan keji mereka atau untuk membenarkan berperang melawan beliau dan orang-orang beriman.

Detik-detik penyerangan dan kesyahidan Hadhrat ‘Utsman (ra)

Ketika para pemberontak melihat ada orang Muslim yang taat berkumpul di dekat pintu rumah Hadhrat ‘Utsman (ra), mereka tahu akan sulit untuk masuk ke rumah beliau. Karena itu, mereka memutuskan untuk pergi ke rumah tetangga dan memanjat tembok dari sana. Ketika mereka memasuki rumah Hadhrat ‘Utsman (ra), mereka menemukan beliau sedang membaca Al-Qur’an. Hadhrat ‘Utsman (ra) telah mengetahui dari sebelumnya ini adalah hari dimana beliau akan menjadi syahid, jadi beliau telah menugaskan dua orang untuk menjaga perbendaharaan (Baitul Maal), sehingga tidak peduli apa yang terjadi, tidak ada yang bisa mencuri dari perbendaharaan.

Awalnya, Muhammad putra Hadhrat Abu Bakr (ra) – setelah memasuki rumah Khalifah ‘Utsman (ra) lewat pagar rumah tetangga beliau – maju mendekati Khalifah ‘Utsman (ra), dan dengan kasar menarik jenggot Hadhrat ‘Utsman (ra). Atas hal ini, Hadhrat ‘Utsman (ra) bersabda kepadanya bahwa jika ayahnya (Hadhrat Abu Bakr (ra)) masih hidup, maka ia tidak akan pernah bertindak seperti itu. Setelah mendengar ini, ia mundur dan pergi.

Namun pemberontak lainnya maju, dan salah satu dari mereka memukul kepala Hadhrat ‘Utsman (ra) dengan tongkat besi, dan darah mulai menetes dari kepalanya. Para pemberontak, tanpa mempedulikan apapun, menendang salinan naskah Al-Qur’an yang dibacakan Hadhrat ‘Utsman (ra). Kebetulan, darah Hadhrat ‘Utsman (ra) jatuh ke ayat berikut:

... فَسَیَکۡفِیۡکَہُمُ اللّٰہُ ۚ وَ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿۱۳۸﴾ؕ

Allah pasti akan membalasmu terhadap mereka, karena Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.’ (Surah al-Baqarah, 2: 138) Kemudian para pemberontak terus menyerangnya. Mereka mulai menyerang dengan pedang mereka.

Hadhrat ‘Utsman (ra) mencoba menahan serangan yang berakibat serangan pedang mereka memotong tangan beliau (ra). Pada saat ini, Hadhrat ‘Utsman (ra) bersabda bahwa ini adalah tangan yang pertama kali menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an.

Pada saat itu, salah seorang istri Hadhrat ‘Utsman (ra) – bernama Nailah - maju dan berdiri di hadapan Hadhrat ‘Utsman (ra) demi melindungi beliau, tetapi para pemberontak itu bahkan tidak segan-segan menyerang seorang wanita, akibatnya jari-jari Nailah terpotong. Kemudian mereka terus menyerang Hadhrat ‘Utsman (ra) sampai beliau syahid. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun.

Penampilan Tidak Gentar Hadhrat Uthman (ra)

Hudhur ayyadahuLlahu melanjutkan mengutip buku karya Khalifah Kedua (ra) yang menceritakan kejadian tersebut dan menyampaikan bahwa ketika para pemberontak menyerang Hadhrat ‘Utsman (ra), mereka menggunakan bahasa yang kotor kepada istrinya, dan lebih jauh lagi, (mereka berbicara lancang) tentang Hadhrat ‘Aisyah (ra), istri Rasulullah (saw).

Namun terlepas dari itu semua, Hadhrat ‘Utsman (ra) tidak pernah takut meninggal dalam keadaan syahid. Bahkan sebelumnya, ketika beliau tahu bahwa gangguan ini sedang berkembang, beliau tetap pergi ke masjid sendirian untuk shalat.

Bahkan ketika beliau dikepung di rumahnya sendiri, beliau memerintahkan para sahabat (ra) untuk pulang, daripada tinggal bersamanya untuk melindunginya.

Bahkan ketika para pemberontak memasuki rumahnya, beliau terus membaca Al-Qur’an tanpa rasa takut.

Kemudian, bahkan ketika Muhammad putra Hadhrat Abu Bakr (ra) yang ikut gerombolan pemberontak maju untuk menyerangnya, beliau bisa dengan tenang membantunya membuat sudut pandangan yang berdasarkan akal sehat. Dengan demikian, semua kejadian yang mengarah pada kesyahidannya dengan jelas menunjukkan Hadhrat ‘Utsman (ra) sama sekali tidak memiliki rasa takut.

Setelah Hadhrat ‘Utsman (ra) syahid, orang-orang mulai memahami pentingnya Khilafat yang sebenarnya.

Hudhur ayyadahuLlahu selanjutnya menjelaskan kebajikan luar biasa yang dimiliki oleh Hadhrat ‘Utsman (ra). Yang Mulia (aba) menjelaskan kedudukannya yang terhormat, dan bahkan Nabi (saw) sangat menghormatinya. Misalnya, suatu ketika Nabi (saw) sedang berbaring, dan Hadhrat Abu Bakr (ra) masuk, tetapi Nabi (saw) terus berbaring. Kemudian Hadhrat Umar (ra) masuk tetapi Nabi Suci (saw) terus berbaring. Kemudian Hadhrat ‘Utsman (ra) masuk, dan Nabi (saw) segera mulai meluruskan pakaiannya, dan kemudian bersabda bahwa Hadhrat ‘Utsman (ra) adalah orang yang memiliki kesantunan yang luar biasa, dan karena itu beliau melakukan ini demi menghormati perasaannya.

Hadhrat ‘Utsman (ra) adalah salah satu dari enam orang yang menerima kabar suka derajat yang tinggi, dan beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang Nabi (saw) berikan kabar suka mendapatkan jaminan surga.

Pembahasan kejadian-kejadian dari kehidupan Hadhrat ‘Utsman (ra) insya Allah dilanjutkan di Jumat-Jumat mendatang.