Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Pentingnya Membaca Buku-Buku Hadhrat Masih Mau’ud (as)

Membaca merupakan perintah Allah Ta’ala yang pertama kali diturunkan dalam kitab Alquran, yaitu kata “iqro”. Selain membaca Alquran sebagai kitabullah, membaca hadits-hadits atau kisah-kisah Rasulullah (saw) juga merupakan hal yang penting sebagai bentuk rasa cinta kepada beliau (saw).

Sebagai seorang Ahmadi, hendaknya kita juga membaca buku-buku karya Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang sebagian besar berisi mengenai penjelasan atau tafsir-tafsir dari Alquran-ul-karim, menceritakan keunggulan-keunggulan Islam dan Rasulullah saw, pembelaan dan sanggahan terhadap keberatan terhadap agama Islam dan lain-lain. Apa keutamaan membaca buku-buku beliau? Simak sabda-sabda beliau (as).

Menimba Ilmu Sehingga Menyadari Dosa-dosa

Sebagai manusia kadangkala kita tidak menyadari dan sudah merasa ‘nyaman’ dengan dosa-dosa yang kita lakukan. Dengan mengetahui, mengenal dan menyadari apa itu dosa, maka hal tersebut akan menghindarkan kita dari berbuat sesuatu yang mengandung dosa. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

Dan ada satu lagi cara menghindarkan diri dari dosa, yakni setiap hari membaca satu kali nasihat-nasihat yang telah tertulis di dalam Kasyti Nuh (Bahtera Nuh).” [1]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) Mendapatkan Pertolongan Allah ketika Menulis Buku

Hadhrat Masih Mau’ud (as) seringkali dengan sangat susah-payah menulis buku-buku sampai larut malam. Mengenai hal itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Saya, satu huruf pun tidak mampu saya tuliskan apabila kekuatan (taufik) dari Allah Ta’ala tidak menyertai saya. Berkah-kali saya memperhatikan ketika sedang sibuk dalam tulis-menulis, bahwa terdapat sesuatu ruh Allah yang sedang mengalir. Pena (tangan) memang menjadi letih, tetapi gejolak semangat yang ada di dalam [kalbu] tidak pernah penat. Hati saya merasakan bahwa kata demi satu kata mengalir dari Allah Ta’ala.”. [2]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyampaikan,

Saya merasa takjub, yakni apabila saya duduk untuk menulis artikel sebuah buku dan saya mengangkat pena, maka terasa seolah-olah ada yang berkata-kata dari dalam, dan saya terus saja menulis.

Sebenarnya ini adalah merupakan suatu rangkaian sedemikian rupa dimana seseorang yang ingin menghindarkan diri dari dosa, dia dapat meraih tujuannya dengan cara mengingat bahwa Allah Ta’ala itu Maha Mengetahui, serta dengan cara mengingat maut (kematian) bagi dirinya.” [3]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

Dan lihatlah di dalam buku Ayyāmu Shulh ini banyak sekali artikel muncul yang tidak ada sedikit pun di dalam tulisan-tulisanku sebelumnya. Dan Allah Ta’ala benar-benar mengetahui bahwa artikel-artikel itu tidak pernah sebelumnya terlintas di dalam pikiranku. Namun sekarang artikel-artikel itu muncul di dalam kalbu sedemikian rupa, sehingga tidak dapat aku pahami selama belum adanya dukungan Ilahi yang membuatnya demikian. Dan ini merupakan karunia Allah Ta’ala yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia maksudkan untuk suatu penugasan tertentu.

Ini juga suatu hal yang benar, bahwa untuk penulisan buku-buku, selama tidak ada kesehatan dan waktu yang luang maka pekerjaan itu tidak dapat berjalan. Dan karunia Allah Ta’ala ini diraih oleh orang-orang yang ditetapkan oleh-Nya untuk suatu penugasan (pekerjaan) tertentu. Kemudian barulah segenap sarana yang diperlukan untuk penulisan tersebut terkumpul dengan serta-merta” [4]

Beliau (as) menyampaikan bahwa banyak buku-buku yang ditulis walaupun beliau dalam keadaan sakit. Beliau (as) menjelaskan,

Mempersembahkan segala sesuatu untuk agama adalah suatu keberuntungan. Jika bisa, hendaknya persembahkanlah untuk agama. Apa lagi keberuntungan yang lebih hebat dari ini, yakni waktu, wujud, kekuatan, harta, dan jiwa manusia dipersembahkan untuk pengkhidmatan agama Allah.

Saya hanya mengalami ancaman serangan kembali penyakit yang saya idap. Jika tidak, maka hati saya menginginkan agar semua itu saya lakukan sampai sepanjang malam. Hampir semua buku saya, saya tulis dalam kondisi sakit. Pada waktu [penulisan] Izalah Auham pun saya mengalami alergi pada kulit. Hampir satu tahun saya mengalami hal itu.” [5]

Perintah Membaca Buku-Buku Hadhrat Masih Mau’ud (as)

Pada tanggal 8 Nopember 1902 Muhammad Raliq B.A. dan Muhammad Karim datang dari Mungghir. Pada waktu shalat Subuh mereka bai’at kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Setelah pengambilan bai’at, Hadhrat Masih Mau’ud (as) memberikan nasihat:

“Senantiasalah kalian sungguh-sungguh menelaah buku-buku saya, supaya kalian lebih mengenal, dan senantiasalah mengamalkan ajaran [yang terdapat dalam buku] Kisyti Nuh (Bahtera Nuh) serta selalulah mengirim surat kepada saya.” [6]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) memerintahkan minimal, sekali membaca buku-buku beliau (as) agar timbul kekuatan dan keberanian dalam menyampaikan (tablig) kebenaran. Beliau (as) bersabda,

Untuk semua kawan, adalah penting agar banyak menelaah buku-buku saya, paling tidak satu kali, sebab ilmu merupakan suatu kekuatan, dan dari kekuatan itu timbul keberanian. Seseorang yang tidak mempunyai ilmu, di hadapan pertanyaan seorang penentang akan menjadi bingung.” [7]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga bersabda,

…karena banyak sekali surat yang saya terima serta menanyatakan apa jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tertentu? Apa penjelasan bagi kritikan-kritikan tertentu? Sekarang, bagaimana dapat diberikan jawaban-jawaban demikian banyak terhadap surat-surat tersebut? Jika orang-orang ini sendiri dapat meraih ilmu yang benar dan pengenalan yang mendalam serta menelaah secara cermat buku-buku saya, maka tentu mereka tidak akan terjerat dalam kesulitan-kesulitan seperti itu.” [8]

Selain itu, Hadhrat Masih Mau’ud (as) menasehatkan,

“Berkali-kali telah saya katakan kepada Jemaat saya, jangan kalian hanya bertumpu pada bai’at ini semata. Selama kalian belum mencapai hakikatnya, selama itu pula tidak akan ada najat (keselamatan). Orang yang merasa cukup pada kulit akan luput dari isi. Jika murid sendiri tidak mengamalkan maka kesucian sang guru mursyid (pemberi petunjuk) tidak akan memberi manfaat sedikitpun.

Ketika seorang tabib memberi resep kepada seseorang, lalu orang itu mengambil resep tersebut dan meletakkannya di atas rak, maka sama sekali tidak akan bermanfaat bagi dirinya. Sebab manfaat timbul justru akibat melaksanakan apa yang tertulis pada resep tersebut, sedangkan orang itu sendiri tidak melakukannya.

Telaah lah berkali-kali [buku] Kisyti Nuh (Bahtera Nuh) dan diri kalian sesuai dengan itu. Qad aflaha man zakkaahaa (beruntunglah dia yang telah melakukan pensucian diri – Asy-Syams, 10). Kalau sekedar pengakuan begitu, terdapat ribuan pencuri, pezina, penjahat, pemabuk, dan orang bejad yang menyatakan diri mereka sebagai umat Rasulullah saw., namun apakah mereka pada hakikatnya memang demikian? Sama-sekali tidak! Umat adalah mereka yang disiplin menerapkan ajaran-ajaran beliau (saw)” [9]

Di tempat lain, beliau (as) memerintahkan,

Saya tidak membawa perkara baru, dan tidak pula saya membawa syariat baru. Saya datang untuk mengkhidmati dan melakukan tajdid (pembaharuan) pada syariat yang dibawa oleh Rasulullah (saw). Sebagai bukti kebenaran pendakwaan saya terdapat tanda-tanda dalam tata-cara kenabian. Saya sudah menyinggung hal itu di dalam buku-buku saya.

Baru-baru ini saya telah menulis sebuah buku baru, Haqiqatul Wahiy. Telaah dan simaklah buku itu, yakni betapa banyaknya Tanda yang telah diperlihatkan oleh Allah Ta’ala untuk mendukung saya. Apakah hal-hal semacam, itu juga diperlihatkan untuk seorang pendusta? [10]

Pada tanggal 26 Desember 1903, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menerangkan tentang pengorbanan syahidnya Sahibzada Abdul Latif. Beliau (as) memerintahkan,

Jemaat hendaknya berkali-kali membaca buku [Tadzkiratusy Syahadatain] ini. Dan berdoalah, semoga memperoleh keimanan demikian. [11]

Sebelum bertablig, hendaknya membekali diri dengan membaca buku-buku karya beliau (as),

Melalui anjuran ini saya jadi teringat bahwa orang-orang yang pergi ke luar untuk penyebaran dan tabligh, hendaknya mereka jangan sampai memutar-balikkan perkataan saya, sehingga menjadi lain. Yakni yang sebenarnya lain, dan yang mereka terangkan lain lagi. Kepada orang-orang lain mereka mengabar tentang pendakwaan saya, tetapi mereka sendiri tidak pernah membaca buku-buku saya. Dengan begitu sering terjadi pergeseran makna/kata. Pada saat seperti itu hendaknya jangan hanya bertumpu pada lisan, melainkan harus bertumpu pada tulisan. [12]

Perintah Menyebarkan Buku Ajaranku

Penting untuk anggota Jemaat untuk menyebarkan dan menyampaikan mengenai bab Ajaranku kepada para anggota yang lain. Beliau (as) bersabda,

Di dalam Kisyti Nuh (Bahtera Nuh) saya telah menuliskan (bab) Ajaranku. Dan penting bagi setiap orang untuk mengerti hal itu. Hendaknya Jemaat di setiap kota mengadakan jalsah (pertemuan), lalu buku itu dibacakan kepada semua orang. Utuslah seseorang yang mampu dan memiliki kefasihan untuk membacakannya. Sebab jika dibagi-bagikan begitu saja maka 15.000 buku tidak akan cukup. Dengan cara ini maka buku itu akan tersebar juga, dan kesatuan yang kita inginkan akan mulai timbul di dalam Jemaat.” [13]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) Kecewa Jika Karya Beliau Tidak Dibaca Anggota Jemaat

Beliau telah menulis buku, tetapi jika dari kalangan Jemaat tidak membacanya, beliau (as) mengungkapkan kekecewaannya,

“Saya miskin dan lemah. Di tangan saya tidak ada pedang, dan tidak pula saya di utus untuk mengayunkan pedang, dan tidak pula pada saya terdapat perlengkapan perang. Namun pedang saya ada di Langit. Revolusi agung yang saya inginkan di dunia ini –yakni supaya orang-orang tunduk kepada Allah Ta’ala dan beriman padaWujud-Nya – itu tidak ada di dalam ikhtiar (upaya) saya. Dengan menulis buku-buku juga tidak ada artinya sedikit pun, walau pun saya telah mengumpulkan banyak dalil bagai sebuah kebun yang hijau subur, tetapi tidak ada yang mengerahkan perhatian ke arah itu. Allah Ta’ala akan melakukan sesuatu dengan karunia-Nya.

Kalbu saya merasakan bahwa saat ini dunia sedang tenggelam dalam kelalaian besar sedemikian rupa, sehingga tanpa azab yang pedih dan keras, orang-orang tidak akan beriman. Dari hadits-hadits terbukti bahwa Rasulullah (saw) juga tidak mengatakan bahwa Al-Masih yang akan datang itu bakal ke sana ke mari menghidupkan orang-orang mati, melainkan beliau bersabda bahwa Al-Masih akan mematikan orang-orang yang hidup [akibat azab]” [14]

Berbagai Tanda (Mukjizat) dan Nubuwatan-nubuwwatan dalam Buku Beliau (as)

Pada tanggal 17 Nopember 1901, petang hari, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Pendakwaan saya adalah, silakan kalian memaparkan seseorang di dunia ini yang memiliki Tanda (mukjizat) yang begitu banyak yang disaksikan oleh jutaan orang. Lebih dari seratus nubuatan agung telah dicantumkan dalam buku saya, Tiryaqul-Qulub.

Tatkala orang-orang ini tidak mampu memaparkan (mengemukakan) satu orang pun, kemudian mereka mengatakan bahwa saya mengaku memiliki kelebihan daripada Rasulullah (saw). Mereka tidak tahu bahwa ini bukanlah melebihi Rasulullah (saw), kesucian dan keagungan ini justru milik beliau (saw), sebab di luar Rasulullah (saw) tidak ada artinya sedikit pun. Justru dalam warna beliau (saw) itulah dan dari jubah kenabian beliau (saw). Tanda (mukjizat-mukjizat) ini tampil, dan ini berlaku melalui tangan beliau (saw).

Sebenarnya, sarana-sarana dan perlengkapan tabligh serta penyebaran yang saya peroleh dan yang telah tersedia pada zaman sekarang ini belum ada pada zaman dahulu, dan tidak pula di masa lalu agama-agama memiliki kekuatan begini hebat.” [15]

Beliau (as) juga menjelaskan,

Lihat, apabila Tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat diminta dalam bentuk tuntutan yang memaksa, maka jawaban yang diberikan adalah: “Hal kuntu illaa basyarar- rasuulaa” aku hanyalah seorang manusia yang diutus (QS Bani Israil [17]: 94). Sekarang pun terdapat ribuan Tanda (mukjizat) dari Allah Ta’ala yang tidak dapat dihitung banyaknya, dan tertera secara rinci di dalam buku-buku saya. [16]

Mengenai tanda-tanda kebenaran pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud (as), salah satu bagiannya beliau menulisnya dalam satu buku. Beliau (as) menjelaskan,

Tanda-tanda yang telah zahir dalam rangka mendukung saya, dan yang telah sempurna melalui tangan saya jumlahnya banyak, dan saat ini terdapat ratusan ribu orang saksi hidup akan hal itu. Di dalam buku saya Nuzulul Masih saya telah menuliskan hampir 150 Tanda. Dan sebagian baru saja telah saya terangkan. Tanda-tanda (mukjizat) yang telah zahir untuk saya tidaklah sedikit, dan bukan kekuatan manusia untuk dapat mengumpulkan hal-hal demikian bagi dirinya. [17]

Di ketika masih berlangsung penulisan buku-buku, beliau Beliau (as) juga menjelaskan,

Dalam rangkaian penulisan, saya telah menulis secara rinci sebanyak 70 atau 75 buah buku untuk memenuhi segala argumentasi, dan masing-masing buku begitu lengkapnya, sehingga jika ada pencari kebenaran dan peneliti mau menelaahnya dengan cermat, maka tidak mungkin baginya tidak tersedia khazanah untuk mengambil keputusan antara yang haq (benar) dengan yang batil (palsu/dusta)

Sampai akhir hayat beliau (as), terkumpul sebanyak 80-an buku-buku yang sudah dicetak dan didistribusikan.

Menghindarkan Diri dari Prasangka Buruk terhadap Hazrat Masih Mau’ud (as)

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Ingatlah baik-baik, segenap kekacauan dan keburukan timbul dari prasangka buruk. Oleh karena itu Allah Ta’ala sangat melarangnya: Inna ba’dhazh zhanni itsmun (sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa” – Al-Hujurāt, 13).

Seandainya para ulama tidak berprasangka buruk terhadapku, dan dengan hati yang benar serta teguh mereka mendengar ucapan-ucapanku; membaca buku-bukuku, serta menetap bersamaku dan menyaksikan keadaan-keadaanku, maka tentu mereka sama sekali tidak akan melontarkan celaan-celaan yang mereka tujukan kepadaku itu.” … Prasangka buruk adalah sesuatu yang memotong akar kebenaran. Oleh karena itu kalian harus menghindarkan diri darinya, dan banyaknya berdoa untuk meraih kemampuan-kemampuan sebagai orang shiddiq (benar/jujur)” [18]

Menghindarkan Diri dari Ingkar terhadap Hadhrat Masih Mau’ud (as)

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan,

“Kebanyakan orang bai’at di sini lalu kembali ke rumah mereka, dan dari sana mereka menuliskan surat keluar mereka (dari Jemaat). Sebenarnya penyebabnya adalah, mereka bertemu dengan seorang maulwi (mullah) yang mengatakan berbagai macam hal dan melontarkan berbagai tuduhan atas diri saya, sehingga akhirnya orang-orang itu menjadi tergelincir. Dan dikarenakan di dalam diri orang-orang itu pun masih tersisa sebagian besar pengaruh setan, karena itu mereka dengan cepat terperangkap dalam jeratan orang-orang yang berperilaku setan.

Dikarenakan telah saya jelaskan panjang-lebar mengenai pendakwaan saya dalam buku Haqiqatul Wahiy, dan kalian pun telah membacanya, untuk itu jika saya menjelaskan lagi mengenainya maka ceramah ini akan menjadi panjang. Jadi, kalian hendaknya mengingat tentang masalah kematian setan. Mengenai Hadhrat Isa yang dipercayai masih hidup, kalian telah berhasil mewafatkannya, namun setan (yang ada dalam diri kalian) sekarang masih harus dibunuh lagi.” [19]

Mengungkapkan Satu Permasalahan dalam Beberapa Buku

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan bahwa satu masalah kadangkala ditulis dalam beberapa buku. Beliau (as) menjelaskan maksud dan tujuannya,

“Buku yang saya tulis panjang-lebar, dan satu permasalahan itu saya paparkan dalam berbagai aspek/segi (sudut-pandang), maksudnya adalah supaya para penelaah yang berasal dari berbagai lapisan dan berbagai sifat dapat mengerti melalui cara tertentu, dan mungkin ada satu hal yang menyentuh ke dalam kalbu seseorang, sehingga dia memperoleh petunjuk dari itu.

Kebanyakan kalbu manusia yang tenggelam dalam berbagai macam kelalaian, maka untuk membangunkannya satu permasalahan itu perlu dipaparkan berkali-kali.” [20]

Cara Membaca Buku Beliau (as)

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan bagaimana cara membaca buku beliau agar bisa memberikan manfaat. Beliau bersabda,

Cara yang sesuai dengan kesopanan adalah, pertama-tama lihatlah buku-buku [karya saya], dan simaklah buku-buku itu dengan hati yang jujur serta dengan rasa takut terhadap Allah. Tanda-tanda (mukjizat) yang telah dituliskan di dalam buku-buku itu, renungkanlah. Dan saya yakin, jika seseorang dengan hati yang baik menelaah buku-buku saya, dan menyimak Tanda-tanda (mukjizat) tersebut, maka kalbunya akan bangkit mengatakan bahwa itu berada di luar kemampuan manusia untuk memperlihatkan Tanda (mukjizat) yang luar biasa demikian. [21]

Pengenalan Buku Hadhrat Masih Mau’ud (as)

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Masih Mau’ud telah menulis lebih dari delapan puluh-an buku yang sebagian besar dalam bahasa Urdu, Arab dan Parsi. Baru sebagian kecil saja buku-buku tersebut yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. [22] Buku-buku beliau yang dikumpulkan dalam 23 Jilid Ruhani Khazain [23] tersebut adalah:

Catatan Kaki

  1. Malfuzat, jld. IV, hlm. 58-59 

  2. Malfuzat, jld IV, hlm. 164 

  3. Malfuzat, jld. V, hlm. 374 

  4. Malfuzat, jld. I, hlm. 269-270 

  5. Malfuzhat, j1d. V, hlm. 138-139 

  6. Malfuzhat, jld. IV. hlm. 187 

  7. Malfuzat, jld. VIII, hlm. 8 

  8. Malfuzat, jld. III, hlm. 369-370 

  9. Malfuzat, jld. IV, hlm. 232-233). 

  10. Malfuzat, jld. X, hlm. 261-274 

  11. Malfuzat, jld. VI, hlm. 233-235 

  12. Malfuzat, jld. IX, hlm. 441-442 

  13. Malfuzat, jld. III, hlm. 408 

  14. Malfuzat, jld. VI, hlm. 440 

  15. Malfuzat, jld. II, hlm. 400. 

  16. Malfuzat, jld. X, hlm. 204-212 

  17. Malfuzat, jld. VII, hlm. 172-176 

  18. Malfuzat, jld, I, hlm. 373-374 

  19. Malfuzat, jld. X, hlm. 60-61). 

  20. Malfuzat, jld. X, hlm. 107-108 

  21. Malfuzat, jld. VI, hlm. 443-447 

  22. https://ahmadiyah.id/pustaka/buku/buku-hazrat-mirza-ghulam-ahmad 

  23. https://www.alislam.org/urdu/book/ruhani-khazain/