Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

30 Dalil Wafatnya Nabi Isa (as)

Kita mengetahui bahwa tiga agama besar, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam mempunyai pandangan dan anggapan yang berbeda-beda mengenai satu sosok yang bernana Yesus atau Al-Masih Isa Ibnu Maryam (as). Salah satu pandangan yang berbeda adalah mengenai kewafatan Nabi Isa (as).

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as) menulis dalam buku Izaalah Auham [1] 30 ayat-ayat Alquran yang menyatakan Nabi Isa (as) dari Nazaret itu telah meninggal dunia. Berikut kami sajikan ayat-ayat beserta dengan penjelasan singkatnya yang diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.

Dalil 01

Allah Ta’ala berfirman,

اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسٰۤی اِنِّیۡ مُتَوَفِّیۡکَ وَ رَافِعُکَ اِلَیَّ وَ مُطَہِّرُکَ مِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ جَاعِلُ الَّذِیۡنَ اتَّبَعُوۡکَ فَوۡقَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِلٰی یَوۡمِ الۡقِیٰمَۃِ ۚ ثُمَّ اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ فَاَحۡکُمُ بَیۡنَکُمۡ فِیۡمَا کُنۡتُمۡ فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿۵۶﴾

“Ingatlah ketika Allah berfirman, “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkan engkau secara wajar dan akan meninggikan kemuliaan engkau di sisi-Ku, akan membersihkan engkau dari tuduhan orang-orang yang ingkar kepada engkau, dan akan menjadikan orang-orang yang mengikuti engkau di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat, kemudian kepada-Ku kamu akan dikembalikan, lalu Aku akan menghakimi di antaramu tentang apa yang kamu perselisihkan.” (Alquran Surah Ali Imran [3]: 56)

Dalil: Kata ‘mutawaffiika’ (مُتَوَفِّيكَ) memiliki arti “Aku akan mematikan engkau”. Kapanpun Allah berkedudukan sebagai subjek atau pelaku (faa’il) dan manusia sebagai objek (maf’uul), maka kata ini selalu mengarah kepada kematian. Artinya bahwa Allah mengambil nyawa manusia tersebut. Dalam kasus ini, makna ini pun berlaku kepada Nabi Isa as yang berarti bawa beliau sudah wafat.

Berikut ini adalah 2 contoh dari penggunaan kata ‘tawaffa’ yang berarti kematian:

Allah Ta’ala berfirman,

وَ اِمَّا نُرِیَنَّکَ بَعۡضَ الَّذِیۡ نَعِدُہُمۡ اَوۡ نَتَوَفَّیَنَّکَ فَاِلَیۡنَا مَرۡجِعُہُمۡ ثُمَّ اللّٰہُ شَہِیۡدٌ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿۴۷﴾

“Dan jika Kami perlihatkan kepada engkau sebagian dari yang telah Kami ancamkan kepada mereka, atau jika Kami wafatkan engkau sebelum itu, maka kepada Kami juga tempat kembali mereka; dan engkau akan mengetahuinya di alam akhirat, dan Allah menjadi saksi atas segala yang mereka kerjakan.” (Alquran Surah Yunus [10]: 47)

Allah Ta’ala berfirman,

رَبِّ قَدۡ اٰتَیۡتَنِیۡ مِنَ الۡمُلۡکِ وَ عَلَّمۡتَنِیۡ مِنۡ تَاۡوِیۡلِ الۡاَحَادِیۡثِ ۚ فَاطِرَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۟ اَنۡتَ وَلِیّٖ فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ ۚ تَوَفَّنِیۡ مُسۡلِمًا وَّ اَلۡحِقۡنِیۡ بِالصّٰلِحِیۡنَ ﴿۱۰۲﴾

“Ya Tuhan-ku, Engkau telah menganugerahkan sebagian kedaulatan kepadaku, dan mengajarku ta’wil mimpi. Wahai Pencipta seluruh langit dan bumi, Engkau-lah Penolongku di dunia dan akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan patuh taat kepada kehendak Engkau dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (Alquran Surah Yusuf [12]: 102)

Dalil 02

Allah Ta’ala berfirman,

بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا ﴿۱۵۹﴾

“… Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Alquran Surah Al-Nisaa [4]: 159)

Dalil: Ini berarti bahwa Nabi Isa as tidak menderita kematian yang terkutuk melalui penyaliban di atas kayu salib. Malahan Allah Ta’ala telah meninggikan kedudukan beliau kepada-Nya. Kata “rafa’a” di dalam ayat ini mengarah kepada semacam kematian yang mulia dan terhormat. Kata yang sama telah digunakan juga untuk Nabi Idris as berkenaan dengan kedudukan dan status mulia beliau. Allah Ta’ala berfirman,

وَ اذۡکُرۡ فِی الۡکِتٰبِ اِدۡرِیۡسَ ۫ اِنَّہٗ کَانَ صِدِّیۡقًا نَّبِیًّا ﴿٭ۙ۵۷﴾ وَّ رَفَعۡنٰہُ مَکَانًا عَلِیًّا ﴿۵۸﴾

Dan ceritakanlah kisah Idris seperti tercantum di dalam Kitab Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya kepada derajat yang sangat tinggi. (Alquran Surah Maryam [19]: 57-58)

Dalil 03

Allah Ta’ala berfirman,

...فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿۱۱۸﴾

“… tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkaulah Yang menjadi Pengawas atas mereka …” (Alquran Surah Al-Maidah [5]: 118)

Dalil: Di dalam seluruh Alquran, kata “tawaffa” berarti merenggut nyawa dan meninggalkan tubuh kasar sebagaimana yang telah disebutkan di dalam:

Kata yang sama atau kata lain yang terbentuk dari akar kata ini telah digunakan di 23 tempat berbeda di dalam Alquran dan selalu merujuk kepada makna kematian dan pengambilan nyawa/jiwa. Serupa itu juga, kata “tawaffii” telah digunakan untuk merujuk kepada kata kematian di dalam hadits, dan seluruh koleksi buku hadits Shihah Sittah (6 kitab hadits yang dianggap paling shahih).

Dalil 04

Allah Ta’ala berfirman,

وَ اِنۡ مِّنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ اِلَّا لَیُؤۡمِنَنَّ بِہٖ قَبۡلَ مَوۡتِہٖ ۚ وَ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ یَکُوۡنُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا ﴿۱۶۰﴾ۚ

“Dan tidak ada seorang pun dari Ahlikitab melainkan akan tetap mempercayai peristiwa itu sebelum ajalnya; dan pada Hari Kiamat, ia, Nabi Isa, akan menjadi saksi terhadap mereka.” (Alquran Surah Al-Nisaa [4]: 160)

Dalil: Ayat ini berarti bahwa tidak ada seorang pun dari berbagai grup Suku Bani Israil yang tidak percaya kepada Nabi Isa (as) sebelum kematiannya. Hal ini mengarahkan kita kepada kesimpulan bahwa Nabi Isa as telah melakukan perjalanan ke arah timur dengan tujuan untuk mencari suku-suku Bani Israil yang telah hilang dan untuk menyampaikan pesan yang beliau bawa kepada mereka. Secara keseluruhan, sekelompok orang dari setiap 12 suku Bani Israil telah percaya kepada pesan yang disampaikan oleh Nabi Isa (as). Beliau berhasil hijrah dan sampai di Kashmir (saat ini berada di India) dan makam beliau ada di Srinagar.

Dalil 05

Allah Ta’ala berfirman,

مَا الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ مَرۡیَمَ اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ ؕ وَ اُمُّہٗ صِدِّیۡقَۃٌ ؕ کَانَا یَاۡکُلٰنِ الطَّعَامَ ؕ ...

“Almasih ibnu Maryam tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu rasul-rasul sebelumnya, dan ibunya adalah seorang yang benar, keduanya dahulu biasa makan makanan …” (Alquran Surah Al-Maidah [5]: 76)

Dalil: Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa keduanya baik Nabi Isa as maupun ibunda beliau tidak lagi mengkonsumsi makanan sebagaimana yang bisa dipahami dari kata Bahasa Arab “kaanaa”, yang digunakkan untuk kegiatan di masa lalu. Sebagaimana Hadhrat Maryam as tidak lagi memakan makanan dan beliau telah wafat, demikian juga yang terjadi kepada Nabi Isa as.

Dalil 06

Allah Ta’ala berfirman,

وَ مَا جَعَلۡنٰہُمۡ جَسَدًا لَّا یَاۡکُلُوۡنَ الطَّعَامَ وَ مَا کَانُوۡا خٰلِدِیۡنَ ﴿۹﴾

“Dan tidak Kami jadikan mereka jasad yang tidak makan makanan, dan mereka tidak hidup kekal.” (Alquran Surah Al-Anbiyaa [21]: 9)

Dalil: Tidak ada tubuh fisik atau tubuh manusia yang mampu bertahan tanpa mengkonsumsi makanan. Ini adalah sunnah Allah. Jika demikian lalu kenapa kita harus mempercayai bahwa Nabi Isa as adalah pengecualian bagi hukum Allah Ta’ala ini?

Dalil 07

Allah Ta’ala berfirman,

وَ مَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ ؕ اَفَا۠ئِنۡ مَّاتَ اَوۡ قُتِلَ انۡقَلَبۡتُمۡ عَلٰۤی اَعۡقَابِکُمۡ ؕ ...

“Dan Muhammad tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Apakah jika ia mati atau terbunuh kamu akan berbalik atas tumitmu? …” (Alquran Surah Ali Imraan [3]: 145)

Dalil: argument dari ayat ini adalah sebagai berikut; jika seandainya penting bagi seorang nabi untuk hidup selamanya di dunia ini, maka berikanlah sebuah contoh nabi yang semacam itu dari nabi-nabi terdahulu. Jika seandainya Nabi Isa as dianggap sebagai pengecualian kepada hal ini, maka ayat ini akan kehilangan makna sejatinya.

Dalil 08

Allah Ta’ala berfirman,

وَ مَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٍ مِّنۡ قَبۡلِکَ الۡخُلۡدَ ؕ اَفَا۠ئِنۡ مِّتَّ فَہُمُ الۡخٰلِدُوۡنَ ﴿۳۵﴾

“Dan Kami tidak pernah menjadikan seorang manusia pun sebelum engkau untuk hidup kekal. Maka jika engkau mati, apakah mereka akan hidup kekal?” (Alquran Surah Al-Anbiyaa [21]: 35)

Dalil: Ayat ini menjelaskan bahwa semua orang hanya memiliki satu jalan menuju kepada Allah. Tidak ada orang yang pernah lepas atau selamat dari kematian, begitu juga tidak akan ada orang yang mampu melepaskan dirinya dari kematian di masa depan nanti. Setiap orang akan menjadi tua dan akhirnya akan meninggal dunia, begitu juga Nabi Isa as tidak bisa dikecualikan dari peraturan Allah Ta’ala ini.

Dalil 09

Allah Ta’ala berfirman,

تِلۡکَ اُمَّۃٌ قَدۡ خَلَتۡ ۚ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ لَکُمۡ مَّا کَسَبۡتُمۡ ۚ وَ لَا تُسۡـَٔلُوۡنَ عَمَّا کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿۱۳۵﴾

“Itulah umat yang telah berlalu, baginya apa yang mereka usahakan dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan ditanya mengenai apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Alquran Surah Al-Baqarah [2]: 135)

Dalil: Semua nabi-nabi juga merupakan umat yang telah meninggal dunia.

Dalil 10

Allah Ta’ala berfirman,

وَّ جَعَلَنِیۡ مُبٰرَکًا اَیۡنَ مَا کُنۡتُ ۪ وَ اَوۡصٰنِیۡ بِالصَّلٰوۃِ وَ الزَّکٰوۃِ مَا دُمۡتُ حَیًّا ﴿۪ۖ۳۲﴾

“… dan telah memerintahkan kepadaku shalat dan zakat selama aku hidup.” (Alquran Surah Maryam [19]: 32)

Dalil: Jika seandainya Nabi Isa (as) belum wafat, maka artinya beliau memiliki kewajiban untuk terus mendirikan shalat dan juga membayar zakat. Namun, “karena beliau saat ini ada di atas langit”, maka beliau tidak bisa memberikan zakat dan juga tidak bisa untuk menganjurkan orang lain untuk memberikan zakat serta tidak bisa melaksanakan ibadah shalat sebagaimana beliau biasa melaksanakannya ketika beliau berada di bumi. Amal-amal perbuatan ini memiliki kaitan dengan tubuh jasmani manusia dan ini tidak bisa dilanjutkan di atas langit.

Dalil 11

Allah Ta’ala berfirman,

وَ السَّلٰمُ عَلَیَّ یَوۡمَ وُلِدۡتُّ وَ یَوۡمَ اَمُوۡتُ وَ یَوۡمَ اُبۡعَثُ حَیًّا ﴿۳۴﴾

Terjemah: “Dan selamat sejahtera atasku pada hari aku dilahirkan dan pada hari aku wafat, dan pada hari aku akan dibangkitkan, hidup kembali.” (Alquran Surah Maryam [19]: 34)

Dalil: Di dalam ayat ini hanya ada disebutkan tiga episode kehidupan dari Nabi Isa as, yaitu kelahiran beliau, kewafatan dan kebangkitan beliau di hari kiamat nanti. Jika seandainya kenaikan beliau ke atas langit dan turunnya beliau dari langit dengan tubuh kasar beliau adalah hal yang harus terjadi, maka kejadian itu pun harusnya disebutkan di dalam ayat ini.

Dalil 12

Allah Ta’ala berfirman,

...وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّتَوَفّٰی وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّرَدُّ اِلٰۤی اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ لِکَیۡلَا یَعۡلَمَ مِنۡۢ بَعۡدِ عِلۡمٍ شَیۡئًا ؕ...

“…Dan di antara kamu ada yang diwafatkan secara wajar, dan sebagian dari kamu ada yang dipanjangkan umurnya hingga pikun, sehingga ia tidak mengetahui lagi sedikit pun setelah ia mempunyai pengetahuan sebelum itu…” (Alquran Surah Al-Hajj [22]: 6)

Dalil: Hanya ada dua hal yang telah ditetapkan untuk semua manusia:

  1. Kematian premature atau kematian yang terlalu dini,
  2. Kematian yang disebabkan oleh umur yang sudah lanjut. Hal ini juga tentu berlaku kepada Nabi Isa (as).

Dalil 13

Allah Ta’ala berfirman,

...وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ وَّ مَتَاعٌ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿۳۷﴾

“… dan di bumi inilah tempat kediaman bagimu dan perbekalan hidup sampai suatu masa tertentu.” (Alquran Surah Al-Baqarah [2]: 37)

Dalil: kata depan dalam Bahasa Arab “lakum” (artinya untuk kalian) ini ditujukan untuk semua umat manusia dan dengan sangat jelas berarti bahwa umat manusia hidup di bumi ini dengan tubuh jasmani mereka, dan mereka tidak naik ke alam akhirat nanti (dengan tubuh jasmani mereka).

Dalil 14

Allah Ta’ala berfirman,

وَ مَنۡ نُّعَمِّرۡہُ نُنَکِّسۡہُ فِی الۡخَلۡقِ ؕ اَفَلَا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿۶۹﴾

“Dan barangsiapa Kami panjangkan umurnya, tentu Kami melemahkan dalam kejadiannya, maka apakah mereka tidak menggunakan akal?” (Alquran Surah Yaasiin [36]: 69)

Dalil: “Ayat ini berarti bahwa barang siapa yang sampai pada umur tua, akan melihat penurunan pada kemampuan mereka. Artinya, mereka akan mulai kehilangan kekuatan-kekuatan mereka. Jika seandainya Nabi Isa as telah hidup dengan tubuh jasmani beliau selama lebih dari 2.000 tahun, maka artinya kekuatan dan kemampuan beliau pasti sudah habis semuanya, yang berarti bahwa keadaan beliau hanya akan mengarah kepada kematian.

Dalil 15

Allah Ta’ala berfirman,

اَللّٰہُ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ مِّنۡ ضُؔعۡفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۡۢ بَعۡدِ ضُؔعۡفٍ قُوَّۃً ثُمَّ جَعَلَ مِنۡۢ بَعۡدِ قُوَّۃٍ ضُؔعۡفًا وَّ شَیۡبَۃً ؕ ...

“Allah Yang menciptakan kamu dalam keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu setelah lemah, kuat, kemudian setelah kuat Dia menjadikanmu lemah dan tua…” (Alquran Surah Al-Rum [30]: 55)

Dalil: Ayat ini juga menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari pengaruh umur tua. setiap orang akan mengalami kehilangan kekuatan seiring dengan tumbuhnya mereka menjadi orang tua, sehingga akhirnya akan mati juga.

Dalil 16

Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّمَا مَثَلُ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا کَمَآءٍ اَنۡزَلۡنٰہُ مِنَ السَّمَآءِ فَاخۡتَلَطَ بِہٖ نَبَاتُ الۡاَرۡضِ مِمَّا یَاۡکُلُ النَّاسُ وَ الۡاَنۡعَامُ ؕ ...

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan dunia itu seperti air yang Kami turunkan dari awan, lalu bercampurlah tumbuh-tumbuhan bumi dengannya, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak …” (Alquran Surah Yunus: 25)

Dalil: Dalam ayat ini, manusia dibandingkan dengan hasil-hasil produksi bumi. Mereka lahir, diikuti dengan perkembangan, dan pada akhirnya mereka akan mati. Nabi Isa as juga tidak terkecuali dari hukum alam ini.

Dalil 17

Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ اِنَّکُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ لَمَیِّتُوۡنَ ﴿ؕ۱۶﴾

“Kemudian, sesudah itu kamu pasti akan mati.” (Alquran Surah Al-Mu’minun [23]: 16)

Dalil: Ayat ini menunjuk kepada hukum kudrat Allah Ta’ala lagi yaitu terjadinya kematian, dan tidak ada pengecualian dari hukum ini yang dibuat khusus untuk Nabi Isa as.

Dalil 18

Allah Ta’ala berfirman,

اَلَمۡ تَرَ اَنَّ اللّٰہَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَسَلَکَہٗ یَنَابِیۡعَ فِی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یُخۡرِجُ بِہٖ زَرۡعًا مُّخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہٗ ثُمَّ یَہِیۡجُ فَتَرٰٮہُ مُصۡفَرًّا ثُمَّ یَجۡعَلُہٗ حُطَامًا ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَذِکۡرٰی لِاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿٪۲۲﴾

“Apakah engkau tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari langit kemudian Dia mengalirkannya melalui sumber-sumber di bumi, kemudian Dia menumbuhkan dengannya tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam warnanya? Kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering, lalu engkau melihatnya menguning; kemudian Dia merubahnya menjadi jerami yang terpotong-potong. Sesungguhnya dalam yang demikian itu terdapat nasihat bagi orang-orang yang berakal.” (Alquran Surah Az-Zumar [39]: 22)

Dalil: Ayat ini memberikan indikasi bahwa sebagaimana tanaman akan menjadi kering dan akhirnya akan mati juga, demikian juga manusia hanya akan hidup untuk sementara waktu saja di bumi ini, lalu pada akhirnya akan mati juga.

Dalil 19

Allah Ta’ala berfirman,

وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا قَبۡلَکَ مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ اِلَّاۤ اِنَّہُمۡ لَیَاۡکُلُوۡنَ الطَّعَامَ وَ یَمۡشُوۡنَ فِی الۡاَسۡوَاقِ ؕ ...

“Dan tidak pernah Kami utus seorang dari rasul-rasul sebelum engkau, melainkan mereka akan makan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” (Alquran Surah Al-Furqan [25]: 21)

Dalil: Menurut ayat ini, para Nabi biasa mengkonsumsi makanan, namun sekarang mereka tidak lagi memakan makanan. Tubuh jasmani membutuhkan pemeliharaan dan perawatan melalui nutrisi dalam makanan jika ingin tetap utuh. Oleh karena itu, karena para Nabi saat ini sudah tidak lagi mengkonsumsi makanan, maka artinya mereka semua sudah wafat, termasuk Nabi Isa as.

Dalil 20

Allah Ta’ala berfirman,

وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَا یَخۡلُقُوۡنَ شَیۡئًا وَّ ہُمۡ یُخۡلَقُوۡنَ ﴿ؕ۲۱﴾ اَمۡوَاتٌ غَیۡرُ اَحۡیَآءٍ ۚ وَ مَا یَشۡعُرُوۡنَ ۙ اَیَّانَ یُبۡعَثُوۡنَ ﴿٪۲۲﴾

“Dan mereka yang diseru selain Allah mereka itu tidak menciptakan sesuatu pun, bahkan mereka sendiri yang telah diciptakan. Mereka itu mati, tidak hidup; dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (Alquran Surah Al-Nahl [16]: 21-22)

Dalil: Menurut ayat ini, semua wujud ataupun makhluk yang dianggap sebagai “Tuhan” adalah mati, tidak hidup. Nabi Isa as juga dipercaya sebagai Tuhan, dan artinya beliau sudah meninggal.

Dalil 21

Allah Ta’ala berfirman,

مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪۴۱﴾

“Muhammad bukan bapak salah seorang laki-laki di antaramu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khaataman Nabiyyin, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Alquran Surah Al-Ahzab [33]: 41)

Dalil: Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak ada nabi yang bisa datang untuk menghancurkan status Nabi Muhammad Saw sebagai Khataman-Nabiyyiin. Hanya seseorang yang berasal dari umat Rasulullah Saw yang benar-benar taat dan beriman lah yang mampu datang dengan membawa status kenabian. Oleh karena itu, Nabi Isa as tidak bisa datang lagi karena beliau adalah seorang Nabi yang diutus untuk Bani Israil.

Dalam Alquran Surah Ali ‘Imran ayat 46 Allah Ta’ala berfirman mengenai kelahiran Nabi Isa (as). Kemudian disusul beberapa ayat hingga ayat,

وَ رَسُوۡلًا اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ۬ۙ ...

“Dan Kami akan menjadikannya (Nabi Isa [as]) seorang rasul kepada Bani Israil…” (Alquran Surah Ali Imran [3]: 50)

Dalil 22

Allah Ta’ala berfirman,

وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ اِلَّا رِجَالًا نُّوۡحِیۡۤ اِلَیۡہِمۡ فَسۡـَٔلُوۡۤا اَہۡلَ الذِّکۡرِ اِنۡ کُنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ۴۴﴾

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelum engkau melainkan laki-laki yang telah Kami wahyukan kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang-orang ahli zikir itu, jika kamu tidak mengetahui.” (Alquran Surah Al-Nahl [16]: 44)

Dalil: Ayat ini menganjurkan kita untuk memeriksa kitab-kitab agama Yahudi dan agama Kristen jika ingin mempelajari dan mencari kebenaran. Kita melakukan hal ini dengan tujuan untuk mencari tahu apakah kembalinya seorang Nabi telah dinubuatkan untuk masa depan, apakah ia sendiri (dengan wujudnya yang sama) akan kembali ataukah nubuatan tersebut bersifat metafora? Dari kitab-kitab tersebut kita mempelajari bahwa Nabi Isa (as) sendiri telah menyatakan bahwa nubuatan-nubuatan semacam itu adalah metaforis. Kita harus memperhatikan dan meneliti contoh penyempurnaan nubuatan kembalinya Nabi Ilyas (as) yang terpenuhi secara metafora (dengan kedatangan Nabi Ilyasa [as]).

Dalil 23

Allah Ta’ala berfirman,

یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ۲۸﴾ ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ۲۹﴾ فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ۳۰﴾ وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪۳۱﴾

“Hai jiwa yang tentram! Kembalilah kepada Tuhan engkau, engkau ridha kepadaNya dan Dia pun ridha kepada engkau. Maka masuklah di antara hamba-hamba pilihan-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Alquran Surah Al-Fajr [89]: 28-29-30-31)

Dalil: Serangkaian ayat-ayat ini menjelaskan bahwa umat manusia tidak bisa bergabung ke dalam golongan orang-orang yang berada di dalam surga tanpa mengalami kematian terlebih dahulu. Di dalam sebuah hadits yang menjelaskan tentang peristiwa Mi’raj Rasulullah Saw (perjalanan rohani Rasulullah Saw yang beliau lihat di dalam kasyaf, dimana beliau pergi ke langit), Rasulullah (Saw) melihat Nabi Isa as berada di dalam surga.

Dalil 24

Allah Ta’ala berfirman,

اَللّٰہُ الَّذِیۡ خَلَقَکُمۡ ثُمَّ رَزَقَکُمۡ ثُمَّ یُمِیۡتُکُمۡ ثُمَّ یُحۡیِیۡکُمۡ ؕ ...

“Allah yang telah menciptakan kamu, memberi rezeki kepada kamu, Dia mematikan kamu, kemudian Dia akan menghidupkan kamu …” (Alquran Surah Al-Rum [30]: 41)

Dalil: Menurut surah ini, hanya ada 4 peristiwa utama yang terjadi di dalam hidup seorang manusia. Yaitu,

  1. ia dilahirkan.
  2. ia mendapatkan pemeliharaan dan perawatan sehingga ia berkembang.
  3. ia akan meninggal.
  4. ia akan dibangkitkan.

Inilah keempat tingkatan peristiwa tersebut, dan tidak ada juga pengecualian yang dibuat hanya untuk Nabi Isa as.

Dalil 25

Allah Ta’ala berfirman,

کُلُّ مَنۡ عَلَیۡہَا فَانٍ ﴿ۚۖ۲۷﴾ وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ۲۸﴾

“Segala sesuatu yang ada di atasnya bumi itu akan binasa, dan yang akan kekal hanyalah Wujud Tuhan engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.” (Alquran Surah Al-Rahman [55]: 27-28)

Dalil: Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti mengalami kemunduran dan kebinasaan. Artinya tubuh jasmani manusia juga sedang mengalami perkembangan ke arah kematian. Allah Ta’ala menggunakan kata “faanin” (artinya berada dalam keadaan binasa), dan tidak kata “yafnee” (akan binasa). Artinya kemunduran dan kematian bukanlah suatu kejadian yang akan terjadi pada suatu waktu tertentu di masa depan nati. Melainkan, manusia sedang berada dalam keadaan binasa yang pasti. Tubuh jasmani Nabi Isa as juga tidak dikecualikan dari hal ini.

Dalil 26

Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ الۡمُتَّقِیۡنَ فِیۡ جَنّٰتٍ وَّ نَہَرٍ ﴿ۙ۵۵﴾ فِیۡ مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِنۡدَ مَلِیۡکٍ مُّقۡتَدِرٍ ﴿٪۵۶﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam kebun-kebun dan sungai-sungai. Dalam tempat tinggal yang kekal lagi mulia di sisi Raja Yang Mahakuasa.” (Alquran Surah Al-Qamar [54]: 55-56)

Dalil: Menurut surah ini, memasuki surga berarti bahwa seseorang sudah kembali kepada Allah Ta’ala. Oleh karena itu, jika Nabi Isa (as) telah diangkat ke sisi Allah, maka artinya beliau sudah kembali kepada Allah Ta’ala, yang dengan kata lain beliau sudah berada di dalam surga. Ini hanya bisa terjadi apabila beliau sudah wafat.

Dalil 27

Allah Ta’ala berfirman,

اِنَّ الَّذِیۡنَ سَبَقَتۡ لَہُمۡ مِّنَّا الۡحُسۡنٰۤی ۙ اُولٰٓئِکَ عَنۡہَا مُبۡعَدُوۡنَ ﴿۱۰۲﴾ۙ لَا یَسۡمَعُوۡنَ حَسِیۡسَہَا ۚ وَ ہُمۡ فِیۡ مَا اشۡتَہَتۡ اَنۡفُسُہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿۱۰۳﴾ۚ

“Sesungguhnya perihal orang-orang yang telah lebih dahulu mendapat janji ganjaran baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan dari neraka. Mereka tidak akan mendengar suaranya sedikit pun, dan mereka kekal dalam keadaan yang diri mereka sukai.” (Alquran Surah Al-Anbiyaa [21]: 102-103)

Dalil: Ayat-ayat ini juga berlaku kepada Nabi Isa (as) dan dengan jelas menyatakan bahwa beliau telah masuk ke dalam surga.

Dalil 28

Allah Ta’ala berfirman,

اَیۡنَ مَا تَکُوۡنُوۡا یُدۡرِکۡکُّمُ الۡمَوۡتُ وَ لَوۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ بُرُوۡجٍ مُّشَیَّدَۃٍ ؕ ...

“Di manapun kamu berada kematian akan menemukanmu, sekali pun kamu ada di dalam benteng yang kokoh…” (Alquran Surah Al-Nisa [4]: 79)

Dalil: Ayat ini kembali lagi menunjukkan kepada kita bahwa kematian dan faktor-faktor yang menyebabkan kematian selalu ada untuk tubuh jasmani kita. Ini adalah cara Allah Ta’ala, dan disini sekali lagi dijelaskan bahwa tidak ada pengecualian untuk Nabi Isa (as).

Dalil 29

Allah Ta’ala berfirman,

...وَ مَاۤ اٰتٰٮکُمُ الرَّسُوۡلُ فَخُذُوۡہُ ٭ وَ مَا نَہٰٮکُمۡ عَنۡہُ فَانۡتَہُوۡا ۚ...

“… Dan apa pun yang diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah itu, dan apa pun yang dilarangnya bagimu, maka hindarilah …” (Alquran Surah Al-Hasyr [59]: 8)

Dalil: Ayat ini mengajurkan kita untuk menerima sabda-sabda Rasulullah Saw. Berikut ini kami sampaikan satu contoh dari sabda-sabda Rasulullah Saw yang membuktikan bahwa Nabi Isa as telah wafat. Diriwayatkan:

أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ بِشَهْرٍ ‏ “‏ تَسْأَلُونِي عَنِ السَّاعَةِ وَإِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَأُقْسِمُ بِاللَّهِ مَا عَلَى الأَرْضِ مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ تَأْتِي عَلَيْهَا مِائَةُ سَنَةٍ ‏”‏ ‏.‏

Artinya, Hadhrat Jabir bin Abdullah ra meriwayatkan, “saya mendengar Rasulullah Saw mengatakan kalimat berikut ini satu bulan sebelum kewafatan beliau. Bersabda,

“Kalian bertanya kepadaku tentang as-Saa’ah (hari akhir), sesungguhnya ilmu mengenainya hanya ada di sisi Allah. Dan aku bersumpah atas nama Allah bahwa tidak ada satu pun makhluk yang ada di atas bumi ini mampu bertahan pada akhir seratus tahun.” (H.R. Muslim) [2]

Artinya, semua manusia yang hidup pada masa ketika beliau menyampaikan hal ini pasti akan mengalami kematian dalam waktu 100 tahun. Ini juga termasuk Nabi Isa (as).

Dalil 30

Allah Ta’ala berfirman,

اَوۡ یَکُوۡنَ لَکَ بَیۡتٌ مِّنۡ زُخۡرُفٍ اَوۡ تَرۡقٰی فِی السَّمَآءِ ؕ وَ لَنۡ نُّؤۡمِنَ لِرُقِیِّکَ حَتّٰی تُنَزِّلَ عَلَیۡنَا کِتٰبًا نَّقۡرَؤُہٗ ؕ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ ہَلۡ کُنۡتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا ﴿٪۹۴﴾

“Atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas atau engkau naik ke langit; dan sekali-kali tidak akan kami percaya kenaikan engkau ke langit, sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab yang dapat kami membacanya.” Katakanlah, “Mahasuci Tuhan-ku! Aku tidak lain hanyalah seorang manusia, yang diutus sebagai seorang rasul.” (Alquran Surah Al-Isra [17]:94)

Dalil: Kaum Kafir telah meminta Rasulullah (saw) untuk menaikkan diri beliau ke atas langit, dan mereka telah diberitahu melalui wahyu Ilahi bahwa mengangkat tubuh jasmani seseorang ke atas langit seperti itu bukanlah cara Allah Ta’ala. Jika – anggap saja – Nabi Isa as diangkat ke atas langit dengan tubuh jasmani beliau, maka ini malah akan membuat logika dari ayat ini menjadi tidak benar dan bahkan akan menjurus kepada kontradiksi di dalam Alquran. Oleh karena itu, kebenaran yang benar-benar telah terbukti di dalam perkara ini adalah bahwa Nabi Isa as tidak naik ke atas langit dengan tubuh jasmani beliau. Namun, beliau sudah wafat dan ruh beliau lah yang pergi ke surga.

Catatan

Catatan Kaki