Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Berjuang Dengan Pena

Menyampaikan kebenaran itu merupakan tugas para utusan Allah Ta’ala. Sebagai umat Rasulullah (saw), kita hendaknya mengikuti nasehat beliau (saw). Diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

…dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka”. (H.R. Al-Bukhari) [1]

Keutamaan Pena

Allah Ta’ala sangat menghargai data. Oleh karena itu, dalam satu riwayat, yang pertama kali Dia cipatakan adalah “pena” untuk menulis data rincian takdir ciptaan-Nya. Rasulullah (saw) bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ قَالَ رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ قَالَ اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena, lalu Allah berfirman kepadanya:

“Tulislah!”

pena itu menjawab,

“Wahai Rabb, apa yang harus aku tulis?”

Allah menjawab:

“Tulislah semua takdir yang akan terjadi hingga datangnya hari kiamat.”

(H.R. Abu Dawud) [2]

Dalam beberapa hadits tertera istilah, “telah digariskan oleh pena” itu berarti sesuatu yang telah ditentukan takdirnya oleh Allah Ta’ala. [3] Dan “Pena telah kering” itu berarti takdir sudah menjadi ketentuan Alllah dan tidak bisa diubah kembali. [4]. Selain itu pena juga digunakan dalam merekam amal perbuatan [5].

Pena atau tulisan bisa berfungsi mengingatkan kembali apa yang pernah kita lihat atau apa yang pernah kita dengarkan. Diriwayatkan,

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ يَدَيْهِ كَاتِبٌ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ ضَعْ الْقَلَمَ عَلَى أُذُنِكَ فَإِنَّهُ أَذْكَرُ لِلْمُمْلِي

dari Zaid bin Tsabit ia berkata; Aku masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara di hadapan beliau terdapat seorang juru tulis, aku mendengar beliau (saw) bersabda;

“Letakkanlah pena di atas telingamu karena itu dapat menguatkan ingatan orang yang mendikte.” (H.R. At-Tirmidzi) [6]

Pena dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj

Dalam satu riwayat dikisahkan dalam Kitab Sahih Muslim,

أَخْبَرَنِي ابْنُ حَزْمٍ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ وَأَبَا حَبَّةَ الْأَنْصَارِيَّ كَانَا يَقُولَانِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ عَرَجَ بِي حَتَّى ظَهَرْتُ لِمُسْتَوًى أَسْمَعُ فِيهِ صَرِيفَ الْأَقْلَامِ

telah mengabarkan kepada kami Ibnu Hazm bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah al-Anshari keduanya berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Kemudian Jibril naik bersamaku hingga aku menaiki tempat datar di mana aku mendengar suara pena.”

(H.R. Muslim) [7]

Dalam kitab Sahih Bukhari tertulis,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ وَأَبَا حَبَّةَ الْأَنْصَارِيَّ كَانَا يَقُولَانِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ عُرِجَ بِي حَتَّى ظَهَرْتُ لِمُسْتَوَى أَسْمَعُ فِيهِ صَرِيفَ الْأَقْلَامِ

Ibnu ‘Abbas dan Abu Habbah Al Anshari keduanya berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Kemudian aku dimi’rajkan hingga sampai ke suatu tempat yang aku dapat mendengar suara pena yang menulis.”

(H.R. Bukhari) [8]

Bertablig dengan Pena

Seseorang mengatakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as: “Orang-orang menyebut Tuan sebagai orang yang polos, sebab buku-buku dibagikan secara cuma-cuma”.

Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda:

“Saya memang membagikan buku-buku secara cuma-cuma, tetapi bukan karena saya orang yang polos. Bukan pula karena saya berada di pihak yang salah. Tujuan saya adalah tabligh. Jika seribu buku dibagi-bagikan, lalu satu orang saja pun yang kembali ke jalan benar, maka dengan demikian sudah terpenuhi tujuan saya” [9] [10]

Menggunakan Senjata Pena, Bukan Pedang

Hadhrat Masih Mauud (as) menjelaskan,

Kalian harus memahami betul, bahwa kebutuhan saat ini bukanlah menggunakan pedang, melainkan pena-lah yang harus digunakan. Keragu-raguan terhadap Islam yang telah ditimbulkan musuh-musuh kita, dan serangan yang disebabkan ilmu pengetahuan yang berbeda, telah menunjukkan kepadaku bahwa dengan bersenjatakan pena (tulisan), aku harus turun ke medan pertempuran, dan menjukkan kepada mereka keberanian Islam dan kekuatannya yang menakjubkan.

Aku tidak memiliki kemampuan untuk memasuki medan [pertempuran] ini, tetapi hanya karunia Tuhan yang menolongku, dan benar-benar merupakan rahmat yang besar bagiku, karena Dia menyukai seorang yang rendah seperti diriku untuk menjelmakan ketinggian agama ini.

Satu kali aku menghitung tuduhan-tuduhan yang ditujukan musuh terhadap Islam, dan menurut perkiraanku jumlahnya tidak kurang dari tiga ribu, dan jumlah ini pasti telah bertambah sekarang. Jangan biarkan seorangpun beranggapan bahwa Islam adalah agama yang sedemikian lemahnya sehingga menjadi sasaran tiga ribu tuduhan, Tidaklah demikian. Tuduhan-tuduhan ini diajukan oleh orang-orang bodoh dan tidak mengerti.

Aku ingin menyampaikan, bahwa selain aku menghitung tuduhan-tuduhan ini, aku juga mempelajarinya, dan sampai pada kesimpulan, bahwa terdapat kebenaran-kebenaran unik yang tersembunyi di balik tuduhan-tuduhan ini – kebenaran-kebenaran ini tidak dapat mereka lihat karena kurangnya penglihatan mereka, dan sesungguhnya hal itu merupakan sunnah Tuhan, bahwa di mana pun penuduh muncul maka di sana terdapat nilai kebenaran yang besar serta rahasia ruhani.

Aku telah ditugaskan untuk mengeluarkan harta tersebut dan menyingkirkan kotoran-kotoran tuduhan dari permata yang berkilauan. Tuhan sangat cemburu pada hal itu, Dia menghendaki agar ketinggian Al-Quran harus disucikan dan dimurnikan dengan menyingkirkan setiap tuduhan yang telah ditimpakan oleh orang-orang yang berhati kotor” [11].

Berperang dengan Pena

Hadhrat Masih Mauud (as) menjelaskan,

Ya, pada zaman kita ini pena telah dihunus dalam menentang kita. Melalui pena kita telah dibuat menderita dan diserang dengan keras. Oleh karena itu sebagai bandingannya senjata kita pun adalah pena [12].

Jihad di Zaman Ini

Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda,

Ada satu hal lagi, mengenai contoh yang pertama tadi, yakni yang menjadi tujuan pada saat itu adalah memperlihatkan keberanian. Itulah sikap yang pada masa itu dianggap paling terpuji dan paling dicintai, sedangkan pada masa sekarang ini peperangan sudah merupakan suatu teknologi, yang sambil duduk jauh-jauh pun seseorang dapat menembakkan meriam dan senapan. Namun pada masa dahulu itu pemberani yang sejati adalah orang yang tidak takut di hadapan pedang-pedang. Akan tetapi teknologi perang pada masa sekarang ini merupakan upaya untuk menutup-nutupi para pengecut. Yang ada sekarang ini bukanlah sikap pemberani, melainkan siapa saja yang memiliki peralatan perang baru dan meriam-meriam baru serta dia dapat menggunakannya maka dia bisa menang.

Maksud dan tujuan peperangan zaman dahulu adalah untuk menampilkan potensi keberanian terselubung yang dimiliki orang-orang mukmin. Dan sebagaimana yang Allah Ta’ala kehendaki potensi [keberanian] tersebut telah ditampilkan di hadapan dunia dengan cara yang sangat baik. Sekarang ini hal itu tidak dibutuhkan lagi, sebab sekarang peperangan teah berbentuk teknologi dan kelicikan serta taktik. Dan peralatan-peralatan perang baru serta teknologi yang pelik telah menghapuuskan potensi [keberanian] yang berharga dan patut dibanggakan itu.

Pada masa permulaan Islam, timbul kebutuhan untuk melakukan peperangan pembelaan diri dan peperangan jasmaniah, sebab para pengimbau kearah Islam pada masa-masa itu tidak dijawab dengan dalil-dalil mau pun argumentasi pula melainkan dijawab dengan pedang. Oleh karena itu tidak ada cara lain kecuali terpaksa menggunakan pedang.

Namun sekarang jawaban [lawan] tidak diberikan melalui pedang melainkan melalui pena (tulisan) dan dalil-dalil yang telah dilancarkan serangan-serangan terhadap Islam. Itulah sebabnya Allah Ta’ala pada zaman ini menghendaki agar fungsi pedang digantikan dengan pena. Dan supaya para penentang dihalau dengan melawan mereka menggunakan tulisan. Oleh karena itu sekarang tidak patut bagi siapapun untuk berusaha menjawab pena (tulisan lawan) dengan menggunakan pedang.” [13].

Pembelaan dengan Pena

Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda,

Dalam jaman ini, dengan pedang pena-lah kita diserang, dan tombak-tombak tuduhan diluncurkan pada kita. Kita hendaknya juga jangan membiarkan kekuatan kita terbuang percuma. Kita harus mengunakan pena kita untuk membuktikan kebenaran agama Tuhan dan kenabian Nabi terpilihnya-Nya (saw). Lebih-lebih ini adalah tugas kita untuk melakukannya, karena kita hidup di bawah sebuah pemerintah yang memberikan kebebasan beragama kepada setiap orang.

Mereka yang tidak mengerti prinsip bersyukur (berterimakasih) kepada seseorang yang melakukan kebajikan kepada orang lain, mereka menuduhku karena perkataanku yang seperti ini, yang memuji pemerintah [Inggris]. Tuhan-ku mengetahui bahwa aku tidak dapat bermulut-manis pada seseorang di dunia ini. Aku bukan orang semacam itu. Tentu saja tertanam dalam sifatku, bahwa aku harus menyampaikan terimakasih kepada orang yang berbuat baik. Hanya semata-mata karunia Tuhan maka Dia tidak menjadikanku orang yang memberontak dan tidak tahu terimakasih.

Aku menghargai kebaikan yang dilakukan pemerintah Inggris, dan aku menganggapnya sebagai karunia Tuhan, karena Dia telah menolong kita dari kekuasaan tirani Sikh, dan mengirim orang-orang (bangsa) lain dari jarak ribuan mil untuk mengurus Negara kita.

Jika bukan karena hal itu masalahnya, kami tidak akan dapat menjawab tuduhan-tuduhan [dari non-Muslim terhadap Wujud Tuhan dan kenabian Nabi Suci Muhammad (saw).” [14]

Dukungan Allah Ta’ala dalam Jihad dengan Pena

Berlangsung pembicaraan mengenai bagaimana Allah Ta’ala melalui karunia-Nya yang khusus senantiasa menolong Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam mempersiapkan tulisan-tulisan untuk menghadapi para penentang. Beliau a.s. sering sakit, dan kadang-kadang waktu yang telah ditetapkan dalam pertandingan sudah sempit, maka dalam kondisi seperti itu beliau dengan sangat susah-payah menulis buku-buku sampai larut malam. Mengenai hal itu Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda,

“Saya, satu huruf pun tidak mampu saya tuliskan apabila kekuatan (taufik) dari Allah Ta’ala tidak menyertai saya. Berkah-kali saya memperhatikan ketika sedang sibuk dalam tulis-menulis, bahwa terdapat sesuatu ruh Allah yang sedang mengalir. Pena (tangan) memang menjadi letih, tetapi gejolak semangat yang ada di dalam [kalbu] tidak pernah penat. Hati saya merasakan bahwa kata demi satu kata mengalir dari Allah Ta’ala.” [15]

Di lain kesempatan, Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda,

Saya merasa takjub, yakni apabila saya duduk untuk menulis artikel sebuah buku dan saya mengangkat pena, maka terasa seolah-olah ada yang berkata-kata dari dalam, dan saya terus saja menulis.

Sebenarnya ini adalah merupakan suatu rangkaian sedemikian rupa dimana seseorang yang ingin menghindarkan diri dari dosa, dia dapat meraih tujuannya dengan cara mengingat bahwa Allah Ta’ala itu Maha Mengetahui, serta dengan cara mengingat maut (kematian) bagi dirinya.” [16]

Kerja Keras Hingga Larut Malam

Pada tanggal 15 Januari 1903, waktu subuh, Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda,

“Saya tidak tidur sampai jam tiga malam memeriksa naskah-naskah. Kesehatan Maulwi Abdul Karim menurun, tetapi beliau tetap saja tidak tidur. Saat ini beliau tidak bisa datang. Ini juga merupakan sebuah jihad. Manusia memang kadang-kadang secara kebetulan terbangun pada malam hari. Namun betapa indahnya waktu itu, yaitu waktu yang digunakan untuk tugas-tugas [keagamaan].

Ada kisah seorang sahabi (Khalid bin Walid r.a. – pent.). Ketika dia akan meninggal dunia dia menangis. Kepadanya ditanyakan apakah dia menangis karena takut? Dia menjawab, “Saya tidak takut mati, namun saya sedih karena saat ini bukanlah waktu sedang berjihad. Ketika dahulu saya melakukan jihad seandainya kewafatan ini terjadi pada waktu itu, betapa indahnya.”

Tubuh saya memang penat, tetapi hati tidak pernah lelah. Hati menghendaki supaya terus saja melakukan pekerjaan ini [17].

Lima Macam Perjuangan atau Mujahidah

Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda,

“Allah Ta’ala telah menetapkan lima [macam] perjuangan (mujahadah) di dalam agama Islam. Shalat, puasa, zakat, Haji, melawan musuh Islam dengan pedang maupun pena. Inilah lima perjuangan yang terbukti dari Al-Quran Syarif. Orang-orang Islam hendaknya berusaha keras di dalam hal-hal tersebut dan tekun mentaatinya.

Puasa itu hanyalah satu bulan dalam satu tahun. Beberapa waliullah memang secara nafal selalu melakukan puasa dan mereka melakukan mujahadah dalam hal itu. Ya, melakukan puasa secara abadi (terus-menerus) dilarang. Yakni hendaknya janganlah seseorang itu melakukan puasa untuk selamanya, melainkan hendaknya kadang-kadang melakukan puasa nafal dan kadang kadang meninggalkannya” [18].

Khadim atau Pengkhidmat Agama

Jika ada orang yang mengangkat pena (menulis artikel) untuk mendukung kebenaran, atau ada yang mau berusaha untuk itu, maka Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sangat menghargainya. Mengenai hal itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Jika ada yang untuk mendukung agama menuturkan suatu perkataan lalu menyampaikannya kepada saya maka saya menganggapnya jauh lebih berharga daripada mutiara-mutiara dan sekantung uang emas. Siapa saja yang menghendaki agar aku menyayanginya, dan doa-doaku dipanjatkan ke Langit untuknya sebagaia suatu keinginan dan penuh khusuk, maka ia hendaknya memberikan keyakinan kepada saya bahwa dia memiliki kemampuan kemampuan untuk menjadi khadim (pengkhidmat) agama. Aku menyayangi segala sesuatu hanya untuk Allah, baik itu istri, anak, sahabat, semuanya hubunganku hanyalah untuk Allah Ta’ala,” [19].

Catatan Kaki

  1. H.R. Al-Bukhari, Kitab Hadits-hadits yang meriwayatkan tentang para Nabi, Bab Bani Israil 

  2. H.R. Abu Dawud, Kitab Sunnah, Bab Penjelasan tentang takdir 

  3. H.R. At-Tirmidzi, Kitab Tafsir al Quran, Bab Diantara surat Hud 

  4. H.R. At-Tirmidzi, Kitab Iman, Bab Umat ini akan terpecah belah 

  5. At-Tirmidzi, Kitab Hukum Hudud, Bab Orang yang tidak terkena hukuman 

  6. H.R. At-Tirmidzi, Kitab Meminta zin dan Adab, Bab Tata urut alquran 

  7. Muslim, Kitab Iman, Isra’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ke langit 

  8. Al-Bukhari, Kitab Shalat, Bab Bagaimana shalat diwajibkam pada malam Isra’ 

  9. AL-BADR, Jld. II, No. 9, hlm. 25-26, 20 Maret 1903; 

  10. MALFUZHAT, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, Jld. V, hlm. 463 

  11. Malfuzāt, jld. I, hlm. 7 

  12. Malfuzat, jld I, hlm. 43-44 / Pidato Pertama Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada Jalsah Salanah, 25 Desember 1897 

  13. Malfuzat,jld.I, hlm. 58-59 

  14. Malfuzāt, jld I, hlm. 223 

  15. Malfuzat, jld IV, hlm. 164 

  16. Malfuzat, jld. V, hlm. 374 

  17. Malfuzat, jld, IV, hlm. 414 

  18. Malfuzat, jld. IX, hlm. 433 

  19. Malfuzat, jld. II, hlm. 7-8