Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Sekelumit Kisah Khalifah ‘Utsman bin Affan (ra)

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 105, Khulafa’ur Rasyidin Seri 11)

Ringkasan Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 26 Februari 2021 (Sulh 1400 Hijriyah Syamsiyah/14 Rajab 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Yang Mulia, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad ayyadahuLlahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz menyampaikan bahwa beliau melanjutkan uraian mengenai kejadian-kejadian dalam kehidupan Hadhrat ‘Utsman (ra).

Hudhur ayyadahuLlahu menyebutkan mengenai Pertempuran Sawari yang terjadi antara pihak umat Muslim dengan pihak kekaisaran Romawi. Konstantin, Kaisar (Raja) Romawi mengirim 500 kapal berisi pasukan untuk memerangi pihak Muslim. Tapi pada akhirnya, umat Islam menang.

Demikian pula, Hudhur ayyadahuLlahu menyoroti kemenangan di berbagai wilayah dan negara yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada umat Muslim selama masa kekhalifahan Hadhrat ‘Utsman (ra). Ini termasuk tempat-tempat seperti Roma, Armenia, dan Afghanistan.

Pesan Islam Mencapai Anak Benua Hindustan (India)

Hudhur ayyadahuLlahu bersabda bahwa pesan Islam juga mencapai sub-benua India selama masa Hadhrat ‘Utsman (ra). Diriwayatkan bahwa Hadhrat ‘Utsman (ra) mengirim pasukan menuju Mukran dan Sindh di mana kaum Muslimin dapat menyebarkan pesan Islam. Demikian pula, seorang utusan dikirim ke tempat yang sekarang disebut Balochistan di Pakistan tempat penentang Islam kemudian dikalahkan. Begitu pula dakwah Islam disebarkan ke Kabul, yang menurut para sejarawan juga merupakan bagian dari anak benua India pada saat itu.

Penentangan terhadap Hadhrat ‘Utsman (ra) yang telah dinubuatkan oleh Nabi yang mulia (saw)

Hudhur ayyadahuLlahu bersabda bahwa Nabi Muhammad (saw) telah mengabarkan fakta bahwa akan ada penentangan dan permusuhan terhadap Hadhrat ‘Utsman (ra). Nabi (saw) bersabda kepada Hadhrat ‘Utsman (ra),

“Suatu hari, Tuhan akan memberi Anda sebuah mantel (jubah) untuk dipakai dan akan ada orang yang ingin agar Anda melepasnya. Namun, jika orang-orang munafik mencoba membuat Anda melepas jubah yang Tuhan berikan kepada Anda, Anda tidak boleh melepasnya.”

Menurut riwayat lain, Nabi (saw) pernah menyebutkan mengenai fitnah (kerusuhan) yang akan segera muncul. Saat itu, ada seorang pria yang menutup kepalanya [seperti berkerudung] dengan kain lewat. Nabi (saw) bersabda bahwa ketika kekacauan ini muncul, orang itu akan berada di jalan yang benar. [orang itu ialah Hadhrat ‘Utsman ra]

Hudhur ayyadahuLlahu bersabda bahwa pada hari-hari sakitnya, Nabi (saw) memanggil Hadhrat ‘Utsman (ra) dan mereka duduk sendiri dan Nabi (saw) berbicara dengan beliau (ra). Diriwayatkan bahwa ketika Nabi (saw) bersabda kepada Hadhrat ‘Utsman (ra), warna wajah beliau berubah. Kemudian, pada Yaumud Dar (hari ketika Hadhrat ‘Utsman (ra) menjadi syahid) Hadhrat ‘Utsman (ra) bersabda bahwa Nabi (saw) telah mengabarkan dan memperingatkannya tentang apa yang akan terjadi.

Hudhur ayyadahuLlahu bersabda bahwa pada masa Hadhrat ‘Utsman (ra) kekacauan di antara umat Islam mulai muncul.

Kutipan uraian dari Hadhrat Khalifatul Masih II (ra)

Hudhur ayyadahuLlahu bersabda bahwa mengutip Khalifah Kedua (ra), yang menguraikan bahwa beberapa orang menyalahkan baik Hadhrat ‘Utsman (ra) atau Hadhrat Ali (ra) sebagai alasan mengapa kekacauan ini dimulai, namun anggapan seperti itu sepenuhnya salah, karena keduanya adalah hamba terkemuka Islam dan telah mencapai keruhanian yang tinggi sehingga mereka tidak mungkin melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Selain itu, enam tahun pertama Kekhalifahan Hadhrat ‘Utsman (ra) adalah masa damai yang luar biasa. Hadhrat ‘Utsman (ra) sangat menginspirasi dan sangat dihormati di antara semua, karena layanan (pengkhidmatan) luar biasa yang beliau berikan untuk Islam. Hadhrat ‘Utsman (ra) juga dikenal sebagai orang yang memenuhi hak-hak orang lain.

Penyebaran Kerusuhan dan Kejahatan

Ternyata pada masa Khilafat Hadhrat ‘Utsman (ra) ada sekelompok orang yang menyebarkan kebohongan tentang sahabat Nabi (saw). Mereka berkeliling dan mengungkapkan keluhan dan protes protes mereka kepada siapa pun yang mau mendengarkan. Perlahan, kelompok ini mulai berkembang dan bertambah. Anggota-anggota mereka mudah terpengaruh karena terperangkap oleh hasutan kelompok penghasut itu karena mereka baru menerima Islam dan karena keyakinan mereka lemah. Selain itu, mereka tidak pernah bertemu atau menghabiskan waktu [mendapat pendidikan] di dekat Nabi Muhammad (saw), atau bahkan sahabat senior beliau (ra). Dengan demikian mereka mudah terpengaruh. Mereka yang menyebarkan kebohongan ini mencakup beberapa dari antara orang-orang Yahudi dan juga orang-orang Muslim yang kurang terpelajar.

Sifat Pengampun dan Kebijaksanaan Hadhrat ‘Utsman (ra) Terhadap para Pengacau

Selama masa Hadhrat ‘Utsman (ra), gangguan ini sedang berkembang, namun bahkan para pelaku pemberontakan ini menyadari kenyataan bahwa mereka tidak akan dapat menyebarkan kekacauan ini secara terbuka selama Hadhrat ‘Utsman (ra) berkuasa. Faktanya, Hadhrat ‘Utsman (ra) mengumpulkan orang-orang yang mengacau ini serta para Sahabat (ra). Pada saat ini, mereka yang memunculkan kekacauan ini mulai mencari pengampunan [meminta maaf] dari Hadhrat ‘Utsman (ra). Para Sahabat (ra) mengatakan bahwa dibolehkan untuk membunuh [menghukum mati] mereka yang telah meningkatkan kekacauan ini. Namun, Hadhrat ‘Utsman (ra) bersabda bahwa beliau menerima permintaan maaf mereka dan tidak ada alasan untuk mengambil tindakan tersebut.

Beberapa Tuduhan Para Pemberontak terhadap Hadhrat ‘Utsman (ra) dan Klarifikasi beliau

Hudhur ayyadahuLlahu bersabda bahwa Hadhrat ‘Utsman (ra) menjelaskan kesalahan dan meluruskan berbagai tuduhan yang dilontarkan terhadap beliau (ra) oleh orang-orang munafik. Misalnya ada dugaan bahwa Hadhrat ‘Utsman (ra) saat bepergian tidak meng-qashar (mempersingkat) sholatnya seperti yang diinstruksikan oleh Nabi (saw). Hadhrat ‘Utsman (ra) mengklarifikasi bahwa ini hanya terjadi satu kali ketika beliau bepergian ke Mina, dan beliau tidak perlu mempersingkat shalatnya di sana karena beliau memiliki harta benda di sana, dan mertua beliau juga tinggal di Mina.

Selain itu, tuduhan lain adalah bahwa beliau akan mengangkat orang-orang berusia muda ke jabatan tinggi. Namun, beliau menjelaskan bahwa beliau hanya menunjuk mereka yang memiliki tingkat kesalehan tinggi dan memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas jabatan yang diberikan.

Meski Hadhrat ‘Utsman (ra) sedemikian rupa dengan sabarnya melayani tuduhan-tuduhan para pemberontak itu dan menjelaskan hal yang sebenarnya, para Sahabat (ra) lainnya bersikeras bahwa para pemberontak itu harus dibunuh [dihukum mati] karena gangguan dan kerusuhan yang mereka telah buat. Akan tetapi, Hadhrat ‘Utsman (ra) dengan tegas bersabda bahwa tindakan seperti itu tidak akan beliau ambil, karena beliau mengharapkan perbaikan orang-orang itu. Ini adalah tingkat luhur kemurahan, sifat pengasih dan pengampun yang ditunjukkan oleh Hadhrat ‘Utsman (ra).

Kejahatan dan pengacauan Para Pemberontak berlanjut meski berkali-kali dimaafkan

Sayangnya, bagaimanapun pengampunan dan belas kasihan yang Hadhrat ‘Utsman (ra) tampilkan kepada para pemberontak, hal itu tidak berpengaruh apa pun bagi orang-orang munafik itu, dan sebaliknya mereka terus menambah pertikaian dan pengacauan mereka.

Hudhur ayyadahuLlahu bersabda bahwa beliau akan terus menyoroti kejadian-kejadian dari kehidupan Hadhrat Uthman (ra) di masa mendatang.