Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Permohonan Penting Bagi yang Siap Baiat

Wahai saudara-saudara Mukminin (ayyada- kumullaahu bi ruuhin minhu). Anda sekalian yang bermaksud melakukan bai’at [1] kepada saya, murni semata-mata demi Allah, hendaknya jelas, bahwa berdasarkan masukan dari Rabb Karim wa Jaliil, yang beriradah untuk membebaskan orang-orang Islam dari berbagai macam pertentangan dan kekacauan serta kerusuhan, keonaran dan fasad, kedengkian dan permusuhan, lalu supaya menjadi perwujudan

...فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا...

(Artinya: “Lalu jadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang yang bersaudara.” QS 003:104)

saya sudah mengetahui bahwa ada beberapa manfaat dan keuntungan bai’at yang ditetapkan untuk Anda sekalian. Pengorganisasian ini berkepentingan untuk (jika mungkin) mendata nama-nama Anda sekalian dalam sebuah buku, lengkap dengan data orangtua, alamat tetap dan sementara, serta keterangan ala kadarnya. Dan kemudian, jika nama-nama itu telah mencapai jumlah tertentu, maka semua nama tersebut ditampilkan dalam sebuah daftar, dicetak, lalu dikirimkan kepada segenap orang yang telah bai’at itu. Kemudian, pada kesempatan lainnya, jika ada satu kelompok besar lagi dari orang-orang yang hai’at, maka sama seperti itu daftar nama-nama mereka disiapkan lalu dibagikan di kalangan segenap mubayyi’in yakni orang-orang yang masuk bai’at. Dan akan terus demikian, sampai saat iradah Ilahi telah mencapai takarannya yang telah ditetapkan.

Pengorganisasian ini —yang melaluinya golongan orang-orang benar akan berjalan pada satu jalan, serta akan tampil di hadapan umat manusia sebagai suatu kesatuan, dan akan menzahirkan bermacam pancaran sinar kebenarannya dalam satu tulisan panjang— Allah (swt) senang sekali. Namun, dikarenakan pekerjaan ini tidak dapat berjalan dengan mudah dan tepat apabila para mubayyi’in sendiri —yang dengan tangan mereka, dengan tulisan bagus— mengirimkan tertulis rincian seluruh alamat dan data mereka, maka untuk itulah setiap orang yang siap melaku kan bai’at dengan hati jujur dan keikhlasan sempurna disusahkan (sedikit) agar memberitahukan dengan surat ter sendiri nama lengkapnya, data orangtua, alamat tetap serta alamat sementara dan sebagainya. Atau, mencatatkan semua hal itu ketika datang. Dan jelas, penerbitan buku semacam ini —yang di dalamnya tertera nama orang-orang bai’at serta alamat dan data lainnya— insya Allaahul Qadiir, akan dapat menimbulkan banyak sekali kebaikan dan berkat.

Salah satu dari sekian hal yang luar biasa itu adalah, dengan perantaraannya, orang-orang yang bai’at akan cepat saling kenal. Akan timbul sarana-sarana untuk saling surat menyurat dan saling memberikan manfaat. Dan dari jarak jauh satu sama lain saling mendoakan kebaikan sesama. Dan kemudian dengan saling mengenal ini, akan dapat menimbulkan solidaritas terhadap satu sama lainnya dalam setiap keadaan dan kesempatan, serta akan sibuk dalam berbagi duka satu sama lainnya bagai sahabat dan teman sejati. Dan setiap orang, dengan memperoleh informasi tentang nama orang-orang yang sepemahaman dengannya, akan mengetahui betapa banyak saudara rohaninya yang telah tersebar di dunia serta yang telah tampil dalam nuansa karunia-karunia lahi. Jadi, pengetahuan itu akan menzahirkan kepada mereka bagaimana Allah Taala secara luar biasa telah menyiapkan Jemaat ini, dan betapa laju serta cepatnya Dia telah menyebar-luaskan Jemaat ini di dunia.

Dan di sini, menuliskan nasihat berikut ini pun tampak nya tepat. Yakni, setiap orang hendaknya memperlakukan saudaranya dengan penuh rasa solidaritas dan kecintaan. Dan hormati mereka lebih dari saudara-saudara kandung Segeralah berdamai dengan mereka, dan jauhkanlah kotoran-kotoran kalbu, serta jadilah batin yang suci. Dan sama sekali janganlah bersikap iri serta dengki terhadap mereka.

Akan tetapi jika ada yang sengaja melanggar syarat syarat yang tertera dalam selebaran 12 Januari 1889 itu, dan dia tidak jera dari sikap-sikapnya yang lancang tersebut, maka dia akan dianggap keluar dari Jemaat ini. Silsilah bai’at ini hanyalah untuk menyatukan golongan orang orang muttaqi. Yakni, untuk mengumpulkan kelompok orang yang memiliki ketakwaan. Supaya, sebuah kelompok besar orang bertakwa dapat memberikan dampak baik mereka kepada dunia [2]. Dan supaya keterpaduan mereka dapat menimbulkan berkat, keagungan serta hasil bagi Islam. Dan dengan sepakat pada Kalimah Waahidah yang baik yang beberkat itu supaya mereka dapat segera berguna dalam pengkhidmatan-pengkhidmatan kudus dan suci terhadap Islam.

Dan hendaknya mereka jangan menjadi seorang Muslim yang malas, kikir, dan tak berguna. Dan jangan pula seperti orang-orang tidak layak, yang telah menimbulkan kemudaratan besar terhadap Islam melalui perpecahan dan ketidaksepakatan mereka serta yang telah mencoreng wajah cantik Islam dengan kondisi-kondisi mereka yang penuh keburukan. Dan jangan pula seperti para darwesy [3] ghafil serta petapa ghafil yang sedikit pun tidak tahu menahu akan kebutuhan-kebutuhan Islam; tidak memiliki sedikit pun rasa solidaritas terhadap sesama saudara sendiri, dan sedikit pun tidak memiliki gejolak semangat untuk kebaikan umat manusia.

Melainkan, supaya mereka begitu solidernya sehingga menjadi tempat berlindung orang-orang miskin; menjadi orangtua bagi anak-anak yatim, dan mereka siap berkorban untuk menyelesaikan tugas-tugas Islam seperti orang yang dimabuk cinta. Dan segala upaya mereka hendaknya dilakukan supaya berkat-berkat mereka menyebar merata di dunia, dan supaya mata air suci kecintaan terhadap Allah serta solidaritas terhadap makhluk Allah mengalir dari kalbu setiap orang, lalu menyatu di satu tempat, sehingga tampak dalam bentuk sebuah sungai yang mengalir.

Allah Taala telah bermaksud supaya doa-doa hamba dan konsentrasi hamba —semata-mata dengan karunia dan keberkatan-Nya— menjadi sarana untuk menzahirkan potensi-potensi suci tersebut. Dan Dzat Mahasuci serta Mahaperkasa ini telah memberikan gejolak semangat kepada saya supaya saya giat dalam memberikan tarbiyyat batiniah kepada para pencari itu, serta supaya saya berusaha siang-malam membersihkan karat-karat mereka, dan supaya saya memohonkan bagi mereka nur yang melaluinya manusia dapat terbebas dari perbudakan nafsu dan setan, lalu secara naluriah mulai mencintai jalan-jalan Allah Taala. Dan supaya saya mohonkan untuk mereka Ruhul-qudus yang terbentuk atas perpaduan sempurna antara Rabbubiyyat Taamah (Manifestasi Ketuhanan Yang Sempurna) serta ‘Ubudiyyat Khaalishah (Bentuk/kondisi penghambaan yang murni). Dan supaya saya memohonkan pembebasan mereka dari ruh khabits (ruh kotor) yang lahir akibat pertalian erat antara nafs amarah dan setan.

Jadi, dengan karunia Allah Taala, saya tidak akan pesimis dan malas. Dan saya tidak akan lalai terhadap permohonan ishlah sahabat-sahabat saya yang telah masuk ke dalam Jemaat ini dengan langkah yang jujur. Bahkan saya tidak takut mati demi hidup mereka. Dan supaya saya memohonkan bagi mereka kekuatan rohani dari Allah Taala yang efeknya akan berlari di sekujur wujud mereka seperti unsur petir.

Dan saya yakin akan terjadi demikian bagi mereka yang masuk ke dalam Jemaat lalu menanti dengan sabar. Sebab, Allah Taala berkeinginan menciptakan dan kemudian mengembangkan kelompok ini untuk menzahirkan keperkasaan-Nya dan memperlihatkan kodrat-Nya, supaya di dunia menyebar-luaskan kecintaan akan Ilahi, tobat hakiki, kesucian, kebaikan sejati, kedamaian, perbaikan, dan solidaritas terhadap umat manusia. Jadi, kelompok ini akan merupakan kelompok-Nya yang murni. Dan Dia akan memberikan kekuatan kepada mereka melalui Ruh-Nya sendiri. Dan Dia akan membersihkan mereka dari kehidupan kotor, serta akan menganugerahkan suatu perubahan suci dalam hidup mereka.

Sebagaimana yang telah Dia janjikan di dalam kabar kabar ghaib suci-Nya, Dia akan sangat memajukan kelompok ini serta akan memasukkan ribuan orang shaadiq ke dalamnya. Dia sendiri yang akan mengairinya serta akan menumbuh-kembangkannya, sehingga jumlah besar serta berkat mereka akan menakjubkan di pandangan mata. Dan mereka akan menyebarkan cahaya ke segala penjuru dunia bagai pelita yang diletakkan di tempat tinggi. Dan mereka akan dicap sebagai suri tauladan untuk berkat-berkat Islam. Dalam segala macam berkat, Dia akan memberikan keunggulan kepada para pengikut sempurna Jemaat ini atas para pengikut golongan lainnya. Dan selamanya, hingga Hari Kiamat, dari kalangan mereka akan terus lahir orang orang yang akan dianugerahkan pengabulan serta pertolongan. Inilah yang dikehendaki oleh Sang Rabb Jaliil itu. Dia adalah Maha Kuasa, apa pun yang Dia inginkan, Dia lakukan. Pada-Nya-lah terdapat seluruh kekuatan dan kekuasaan.

fal-hamdu lahuu awwalan wa aakhiron wa dzhoohiron wa baathinan aslamnaa lah(u) - huwa mawlaanaa fid-dunyaa wal-aakhiroh - ni’mal mawlaa wa ni’man-nashiir

Hamba yang lemah, Ghulam Ahmad Ludhiana, Mahala Jadid, Di kediaman Akhi Mukarrami Haji Ahmad Jaan Sahib Marhum wa Maghfur 4 Maret 1889

(Majmu’ah Isytiharaat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani, Masih Mau’ud wa Mahdi Ma’hudas. Add. Nazir Isyaat, London, 1986, jld. I, h.193-198).

Catatan Kaki

  1. (Catatan kaki dari Hazrat Masih Mau’ud as) “Dari tanggal 4 Maret 1889 sampai 25 Maret, hamba menetap di Mahala Jadid, Ludhiana. Dalam masa itu jika ada orang yang ingin datang, datanglah setelah tanggal 20 di Ludhiana. Dan jika sulit serta susah datang ke tempat ini, maka boleh datang ke Qadian sesudah tanggal 25 Maret pada waktu kapan pun, untuk bai’at, setelah memberitahukan. Akan tetapi hendaknya tujuan bai’at ini betul-betul diingat, yakni menerapkan ketakwaan sejati dan berusaha menjadi Muslim hakiki. Dan jangan sampai terjerumus dalam keraguan bahwa jika yang menjadi persyaratan adalah terlebih dahulu harus takwa dan menjadi Muslim hakiki, maka sesudah itu apa pula perlunya lagi bai’at?

    Melainkan, hendaknya diingat bahwa tujuan bai’at adalah supaya ketakwaan yang dalam kondisi sebelumnya dilakukan secara dibuat-buat dan pura-pura, berubah dalam bentuk lain. Dan perhatian perhatian penuh berkat (yang dimiliki) para shaadiqiin serta gejolak para kaamiliin, supaya merasuk ke dalam jiwa dan menjadi unsur bagiannya. Dan supaya misykat nur (lentera cahaya) tercipta dalam kalbu, yang terbentuk berdasarkan pertalian mendalam antara ‘ubudiyyat dan Rabbubiyyat. Yaitu, yang dalam kata lain disebut Ruhul-qudus oleh orang-orang tasawwuf, yang sesudah terbentuknya itu maka ketidaktaatan terhadap Allah Taala akan terasa buruk secara naluriah, persis seperti buruk dan tidak disukainya hal itu di pandangan Allah Taala. Tidak hanya menimbulkan inqitha’ (kondisi putus total) dari makhluk Allah saja, melainkan diraih derajat pandangan kefanaan setelah menganggap segala sesuatu yang berwujud itu tidak berwujud, kecuali Sang Khaaliq dan Maalik.

    Jadi, untuk menciptakan nur tersebut terdapat syarat ketakwaan dasar, yang dibawa serta oleh pencari yang jujur. Seperti halnya tujuan Alquran Suci yang telah diuraikan oleh Allah Taala: “Hudal lil muttaqiin.” (petunjuk bagi orang yang bertakwa - QS 002:003). Dia tidak berfirman “Hudal lil faasiqiin” (Petunjuk bagi orang-orang yang fasiq) atau “Hudal lil kaafiriin” (Petunjuk bagi orang-orang yang ingkar). Ketakwaan dasar yang dengan meraihnya maka kata muttaqi dapat ditujukan kepada manusia, adalah suatu unsur fitrati yang telah ditanamkan dalam penciptaan orang-orang baik. Dan Rabbubiyyat Ulaa (Manifestasi Ilahiah Pertama) merupakan Murabbi (Pengayom, pelindung, patron) serta Pemberi wujud baginya, yang melalui-Nya orang muttaqi mengalami kelahiran pertama. Akan tetapi nur batiniah yang diistilahkan sebagai Ruhul qudus itu baru akan tercipta melalui pertalian dan ikatan sempurna antara unsur penghambaan murni yang sempurna dengan Rabbubiyyat Kaamilah yang sempurna, sebagai bentuk

    ثُمَّ اَنۡشَاۡنٰہُ خَلۡقًا اٰخَرَ

    (“Kemudian Kami menjadikannya satu bentuk yang lain.” – QS 023:015)

    Dan ini merupakan Rabbubiyyat Tsaaniah (Manifestasi Ilahiah Kedua) yang melalui-Nya orang muttaqi mengalami kelahiran kedua serta mencapai malakuti maqaam (tahap rohaniah). Dan setelah itu adalah derajat Rububiyyat Tsaalitsah (Manifestasi Ilahiah Ketiga) yang dinamakan khalqun jadid, yang melalui-Nya orang muttaqi mencapai tahap kefanaan dan dia mengalami kelahiran ketiga.” 

  2. (Catatan Dari Hazrat Masih Mau’ud as) “Sebagaimana umat manusia umumnya akan memperoleh manfaat dari dampak baik Jemaat ini, begitu pula dari wujud beberkat yang dimiliki oleh Jemaat yang berbatin suci ini (dapat) dibayangkan berbagai macam manfaat bagi Pemerintah Inggris. [4] Dan dari itu Pemerintah ini hendaknya bersyukur kepada Allah Taala. Salah satu dari sekian (manfaat tersebut) adalah, orang-orang ini akan menjadi orang-orang yang dengan gejolak semangat sejati dan ketulusan kalbu menginginkan dan mendoakan bagi kebaikan Pemerintah ini. Sebab, di karenakan ajaran Islam (penda’waan utama kelompok ini adalah mengamalkan ajaran tersebut) berkenaan hak-hak sesama manusia; tidak ada dosa, tidak ada jalan buruk dan jalan aniaya serta kotor yang lebih hebat daripada (sikap) manusia yang menginginkan keburukan serta ancaman bahaya bagi Kerajaan yang di bawahnyalah manusia dapat menjalani kehidupan damai dan sehat-sejahtera, serta berdasarkan pada dukungan Kerajaan itulah manusia dapat berusaha dengan bebas mencapai tujuan-tujuan duniawi dan agamanya. Justru selama tidak berterima kasih terhadap pemerintahan semacam itu, selama itu pulalah tidak ber terima kasih kepada Allah Taala. Kemudian manfaat lainnya yang diraih oleh Pemerintah dengan majunya kelompok beberkat ini adalah, amal-amal terapan mereka dapat meng halangi kejahatan-kejahatan. Pikirkan dan renungkanlah.” 

  3. Orang yang sengaja hidup miskin karena hendak mencapai kesempurnaan jiwa. 

  4. Saat itu India berada di bawah Pemerintahan Kolonial Inggris yang menjamin keamanan dan kebebasan beragama setiap golongan. Sebelumnya umat Islam mengalami penindasan hak untuk menjalankan agamanya -peny.