Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Hakikat Bai’at

Pada tanggal 14 Mei 1900 Hz. Masih Mau’ud a.s bersabda:

Kalian melihat bahwa di dalam bai’at, saya meminta ikrar berupa “Aku akan mendahulukan agama daripada dunia. “Ini adalah supaya saya melihat apa yang diamalkan atas hal itu oleh orang yang hai’at.”

Tanah/Bumi yang Baru

(Jika) seseorang memperoleh sedikit tanah baru, maka dia akan meninggalkan keluarganya lalu pergi menetap di sana (untuk bertani). Dan dia tinggal di sana memang penting, supaya tanah itu berpenghuni. Seperti halnya Muhammad Husein [Batalwi] yang terpaksa perlu menetap di pengadilan.

Lalu, ada pun kami yang memberikan suatu tanah baru dan tanah itu jika dibersihkan serta diolah dengan rajin dapat tumbuh buah-buah abadi, mengapa orang-orang tidak datang dan membuat rumah di sini? Dan jika ada yang mengambil tanah ini dengan tidak sungguh-sungguh -yakni setelah bai’at, untuk datang ke sini dan menetap (di Qadian) —beberapa hari pun dia merasa susah serta sulit— maka bagaimana mungkin bisa diharapkan matangnya panen dan berbuah. Allah Taala juga telah menamakan kalbu sebagai tanah/bumi:

اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ...

(Artinya: “Ketahuilah bahwa Allah menghidupkan bumi sesudah matinya…” – QS Al-Hadiid [57]:18)

Betapa tanah itu harus diolah. Sapi/kerbau dibeli. Dibajak, ditaburi benih, diairi. Ringkasnya, benar-benar kerja-keras. Dan selama seseorang itu sendiri tidak terlibat di dalamnya, maka tidak akan ada hasilnya sedikit pun. Ada tertulis bahwa seseorang melihat tulisan pada batu: “Pertanian adalah emas dan emas.” Dia memang mulai bertani, namun dia serahkan kepada para buruh. Tetapi tatkala dia hitung, bukannya beruntung, justru dia harus bayar. Maka pada kesempatan itu timbullah keraguan dalam dirinya. Nah, seorang bijak menjelaskan padanya, “Nasihat itu memang benar, namun engkaulah yang bodoh. Jadilah pengelolanya sendiri, baru akan berhasil.”

Persis seperti itulah kondisi tanah/bumi hati. Barang siapa memandangnya dengan hina, dia tidak akan memperoleh karunia serta berkat Allah Taala. Ingatlah, saya datang untuk mengadakan ishlah/perbaikan pada manusia. Siapa-siapa yang datang kepada saya, dia akan menjadi ahli waris suatu karunia, sesuai kemampuan-kemampuannya. Akan tetapi saya katakan dengan jelas, orang yang bai’at sekedarnya lalu berangkat pergi dan kemudian tidak tahu dimana dia berada serta apa yang dia perbuat, dia tidak mendapat apapun. Sebagaimana dia datang dengan tangan kosong, dia pergi dengan tangan hampa.

Pergaulan dengan Para Shadiqiin

Karunia serta berkat ini diperoleh melalui pergaulan yang dekat. Para sahabah duduk di dekat Rasulullah (saw). Akhirnya, sebagai dampaknya, Rasulullah (saw) bersabda: “Allah Allah fii ash-habii.” Seolah-olah para sahabah itu sudah menjadi (perwujudan) wajah Allah. Derajat itu tidak mungkin mereka peroleh jika mereka jauh. Ini adalah suatu hal yang sangat penting. Qurub Allah Taala adalah qurub/kedekatan para hamba Allah. Dan perintah Allah Taala

... کُوۡنُوۡا مَعَ الصّٰدِقِیۡنَ

(…hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. QS At-Taubah, [9]:119)

menjadi saksi akan hal itu. Ini adalah suatu rahasia yang sedikit orang memahaminya. Ma’mur-minallaah (utusan Allah) tidak pernah dapat menerangkan seluruh permasalahan hanya dalam satu waktu. Melainkan, dengan memeriksa penyakit-penyakit para sahabatnya, sesuai dengan kesempatan saat itu, dia terus mengadakan ishlah/perbaikan pada diri mereka melalui anjuran dan nasihat. Dan tahap demi tahap dia terus mengobati penyakit-penyakit mereka.

Kini, sebagaimana pada hari ini saya tidak dapat menerangkan seluruh masalah, mungkin saja ada beberapa orang yang hanya pada hari ini mendengarkan ceramah lalu pergi. Dan ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan pembawaan serta kemauan mereka, maka mereka menjadi luput. Akan tetapi orang yang terus-menerus menetap di sini, dia secara beriringan terus mengadakan perubahan demi perubahan, dan akhirnya dia mencapai tujuannya. Setiap orang membutuhkan perubahan sejati. Barangsiapa di dalam dirinya tidak ada perubahan, maka dia menggenapi

وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ اَعۡمٰی ...

(Artinya: “Barangsiapa yang buta di dunia ini, maka di akhirat pun dia akan buta” QS Bani Israil [17]:73)

Perubahan Suci

Saya selalu risau memikirkan bagaimana supaya di dalam Jemaat timbul suatu perubahan suci. Ada pun gambaran yang terdapat dalam hati saya tentang perubahan di dalam Jemaat saya, masih belum terwujud. Dan menyaksikan kondisi ini keadaan saya adalah bagaikan

لَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ اَلَّا یَکُوۡنُوۡا مُؤۡمِنِیۡنَ ﴿۴﴾

(Artinya: “Boleh jadi engkau membinasakan dirimu dari duka cita karena mereka tidak mau beriman” QS As-Syu’ara, 26:4)

Saya tidak menginginkan supaya pada waktu bai’at (orang-orang) ikut mengucapkan beberapa kata seperti burung beo. Itu tidak akan memberikan faedah sedikit pun. Raihlah ilmu tazkiyah-nafs (pensucian jiwa). Sebab, itulah yang diperlukan. Maksud tujuan kami sama-sekali bukanlah supaya kalian keşana kemari bergaduh dan berdebat soal mati hidupnya Almasih (as). Itu hanyalah suatu perkara kecil. Jangan berhenti di situ saja. Itu adalah suatu kekeliruan yang telah saya perbaiki. Sedangkan maksud tujuan kami adalah masih sangat jauh dari itu. Yakni, ciptakanlah oleh kalian suatu perubahan dalam diri kalian. Dan benar-benar jadilah seorang insan yang baru. Oleh karena itu penting bagi setiap orang di antara kalian supaya memahami rahasia ini. Dan adakan perubahan sedemikian rupa sehingga dia dapat mengatakan bahwa “Saya sudah berubah.”

Saya sekali lagi mengatakan bahwa pada hakikatnya selama seseorang itu tidak tinggal menetap dalam pergaulan dengan kami untuk suatu masa tertentu, lalu dia tidak merasakan bahwa dia sudah berubah, maka tidak ada faedah baginya.

Arti Mendahulukan Agama daripada Dunia

Raihlah kesucian yang paling tinggi dalam kondisi fitrat, akal, dan gejolak-hati, barulah itu bermakna sesuatu. Jika tidak, berarti tidak ada sedikit pun. Bukanlah saya bermaksud supaya kalian meninggalkan kesibukan-kesibukan dunia. Allah Taala mengizinkan kesibukan-kesibukan dunia. Sebab, melalui jalan itu juga timbul ujian. Dan akibat ujian itulah orang menjadi pencuri, penjudi, penipu, perampok. Dan berbagai macam kebiasaan buruk ia lakukan.

Akan tetapi segala sesuatu memiliki batas. Lakukanlah kesibukan-kesibukan duniawi itu dalam batas sedemikian rupa yang dapat menciptakan sarana-sarana penolong bagi kalian di jalan agama. Sedangkan yang menjadi tujuan utama di dalamnya tetap harus agama.

Jadi, kesibukan-kesibukan duniawi pun tidak kami larang. Dan kami juga tidak mengatakan supaya kalian siang-malam tenggelam dalam mencari dunia serta dalam kehiruk-pikukan dunia, sehingga kalian memenuhi ruangan Allah Taala dengan dunia semata. Jika ada yang melakukan demikian, maka dia sendiri yang telah menciptakan sarana sarana keluputan atas dirinya. Dan yang ada di lidahnya hanyalah pernyataan belaka. Pendeknya, tinggallah di dalam pergaulan orang-orang yang hidup, supaya kalian menyaksikan penampakan Tuhan Yang Hidup.

(Al-Hakam jld. VI, No. 26, h.5-12, tgl. 24 Juli 1902; Malfuzhat, Add Nazir Ishaat, London, 1984, jld. II, h.70-73).