Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

Hukum Puasa - Perkara yang Tidak Membatalkan Puasa

Beberapa perkara yang tidak membatalkan puasa diantaranya:

Mencium Suami atau Istri

Mencium secara biasa tidak dilarang oleh Rasulullah (saw). Mencium memang tidak membatalkan puasa, akan tetapi jika mencium dengan nafsu birahi, maka hal itu bisa menghilangkan berkah/pahala puasa.

Jika dirasa dengan mencium suami/istri bisa menimbulkan nafsu, maka hendaklah ditahan karena salah satu arti puasa adalah menahan atau mengekang. Diriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُنِي وَهُوَ صَائِمٌ وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْلِكُ إِرْبَهُ

dari Aisyah radliallahu ‘anha, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menciumku saat beliau sedang berpuasa. Maka adakah diantara kalian yang mampu mengendalikan nafsunya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mampu mengendalikannya.” (HR. Muslim) [1]

Membelai Suami atau Istri

Dalam Hadits Jami’ Tirmidzi diriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَاشِرُنِي وَهُوَ صَائِمٌ وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لِإِرْبِهِ

Dari ‘Aisyah dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam mencumbuku ketika sedang berpuasa dan beliau orang adalah yang paling kuat dalam menahan dirinya. (HR. Tirmidzi) [2]

Muntah Tidak Disengaja

Dalam Hadits Sunan Abu Dawud diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَرَعَهُ قَيْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنْ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ قَالَ أَبُو دَاوُد رَوَاهُ أَيْضًا حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ عَنْ هِشَامٍ مِثْلَهُ

dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang muntah tanpa disengaja ketika sedang berpuasa, maka ia tidak berkewajiban untuk mengqadha, dan apabila ia sengaja untuk muntah maka hendaknya ia mengqadha.” (H.R. Abu Dawud) [3]

Bekam dan Mimpi Basah

Dalam Hadits Jami’ Tirmidzi diriwayatkan,

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثٌ لَا يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ الْحِجَامَةُ وَالْقَيْءُ وَالِاحْتِلَامُ

dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Ada tiga hal yang tidak membatalkan puasa yaitu: Hijamah (bekam), muntah dan ihtilam (mimpi basah).” (HR Tirmidzi) [4]

Masih dalam Keadaan Junub ketika waktu Shubuh

Dalam Hadits Sahih al-Bukhari diriwayatkan,

أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ فِي رَمَضَانَ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ غَيْرِ حُلُمٍ فَيَغْتَسِلُ وَيَصُومُ

bahwa Aisyah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapati fajar di bulan Ramadhan, padahal beliau dalam keadaan junub karena berhubungan. Lalu beliau mandi dan berpuasa.” (HR. Muslim) [5]

Makan dan Minum karena Lupa

Dalam Hadits Sahih al-Bukhari diriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang lupa lalu dia makan dan minum (ketika sedang berpuasa) maka hendaklah dia meneruskan puasanya karena hal itu berarti Allah telah memberinya makan dan minum”. (H.R. al-Bukhari) [6]

Bersiwak atau Menyikat Gigi

Dalam Hadits Jami’ Tirmidzi diriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَا أُحْصِي يَتَسَوَّكُ وَهُوَ صَائِمٌ

dari ‘Ashim bin ‘Ubaidullah dari Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah dari ayahnya dia berkata, saya sering melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersiwak ketika sedang berpuasa. (HR. Tirmidzi) [7]

Memakai Celak Mata

Dalam Hadits Jami’ Tirmidzi diriwayatkan,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ اشْتَكَتْ عَيْنِي أَفَأَكْتَحِلُ وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ نَعَمْ

dari Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata: seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata, mataku sedang sakit, bolehkah saya bercelak ketika sedang berpuasa? Beliau menjawab: “Iya.” (HR. Tirmidzi) [8]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Apa perlunya menggunakan celak mata pada waktu siang hari, gunakanlah pada waktu malam hari”. [9]

Catatan Kaki