Pustaka Isa

Pustaka Pribadi Isa Mujahid Islam

BAB III

MASUKNYA AJARAN AHMADIYAH DI BANJARNEGARA

A. Sekilas Biografi Pembawa Ajaran Ahmadiyah di Kabupaten Banjarnegara

Ajaran Ahmadiyah pertama kali diperkenalkan di Kabupaten Banjarnegara pada tahun 1952, oleh tuan Ahmad Rusydi alias tuan Basroil (nama lahir).1 Beliau lahir di Krucil, Banjarnegara pada tahun 1910, anak H. Ali dan merupakan putra kelima dari tiga belas bersaudara. Berikut kedua belas saudara beliau mulai dari yang paling tua hingga yang termuda, yaitu H. Basrowi, H.M. Tahrir, Ny. Sa’dullah, Ny. Sadollah, Ny. Murtafiah, Ny. Salkiyah, Ny. Marinah, Bp. Ahmad Dahlan, Bp. Khotim, Ny. Siti Khasanah, Ny. Siti Masitah dan Ny. Supiyah.2

H. Ali adalah seorang tokoh masyarakat serta pengajar agama Islam yang cukup disegani dan beliau sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Demikian pula dengan tuan Ahmad Rusydi, beliau dapat mengenyam pendidikan yang cukup tinggi pada masa itu. Beliau sekolah sampai HIK atau setingkat SMU pada masa sekarang. Ketika beranjak dewasa, beliau mulai aktif ikut serta dalam perang kemerdekaan, karena masa itu penjajah masih bercokol di negeri ini. Beliau berperan sebagai agen rahasia, yang bertugas mengawasi gerak langkah musuh. Dengan tugas beliau sebagai agen rahasia, menyebabkan beliau selalu dikejar-kejar tentara musuh. Untuk menghindari pengejaran, beliau selalu berpindah-pindah tempat, bahkan bersembunyi sampai ke daerah Tangerang dan Jakarta. Untuk keamanan, beliau menyamar dengan cara mengganti nama, di daerah ini beliau lebih dikenal dengan nama Sanusi.3

Rupanya dalam masa pengejaran ini, beliau menerima karunia yang sangat besar dari Allah Ta’ala. Pada kesempatan tersebut, untuk pertama kalinya beliau dapat mengenal ajaran Ahmadiyah, yang dibawa langsung dari Qadian oleh tuan Maulana Rahmat Ali H.A.O.T.. Setelah beliau mempelajari dan memahami ajaran Ahmadiyah, akhirnya beliau bai’at pada tahun 1936. Beliau bai’at langsung ditangan tuan Maulana Rahmat Ali H.A.O.T. di Jakarta. Beliau mulai aktif dalam kegiatan Jemaat Ahmadiyah, yang pada waktu itu masih dalam masa merintis. Selain aktif dalam kegiatan Jemaat, beliau juga masih aktif dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan keadaan ini, pengejaran terhadap beliau, masih tetap dilakukan oleh tentara Belanda. Untuk menghindari hal ini, sekitar tahun 1937 beliau pergi keluar negeri. Beliau memilih pergi ke Qadian, karena merupakan pusat datangnya ajaran Ahmadiyah. Selain untuk menghindari pengejaran, beliau juga mempunyai tujuan untuk mempelajari Islam dan ajaran Ahmadiyah lebih dalam. Sebelum sampai di Qadian, beliau transit terlebih dahulu melalui Singapore.

Beliau datang di Qadian dengan tujuan utama menambah ilmu agama dan pengetahuan tentang ajaran Ahmadiyah. Untuk itu beliau masuk dan belajar di Jamiah Ahmadiyah Qadian. Beliau belajar di Jamiah Ahmadiyah selama 5 tahun, yaitu sampai tahun 1942.4 Setelah 5 tahun belajar, beliau berniat kembali ke Indonesia. Tetapi niat tersebut tidak terlaksana, karena situasi keamanan di Indonesia belum kondusif dan beliau masih menjadi target pengejaran tentara penjajah. Akhirnya beliau memutuskan transit untuk sementara waktu di Australia. Disini beliau tinggal selama kurang lebih 3 tahun, sampai tahun 1945. Setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan dan situasi keamanan di Indonesia lebih baik dari sebelumnya, beliau memutuskan untuk kembali ke Tanah Air.5

Sekembalinya ke Tanah Air, beliau tidak aktif lagi dalam perang kemerdekaan dan beralih tugas menjadi pengajar di SGB atau SPG. Tidak berapa lama kemudian beliau tidak aktif lagi sebagai seorang pengajar dan lebih aktif dalam kegiatan Jemaat Ahmadiyah. Selanjutnya pada tahun 1950 beliau aktif sebagai utusan, yang bertugas menyebarkan ajaran Ahmadiyah di daerah Karisidenan Banyumas dan sekitarnya.6 Pada tahun 1952 beliau menetap di Krucil dan aktifitas beliau lebih dioptimalkan di daerah ini.

Dalam masa tugas beliau mengalami stroke, yang mengakibatkan kesehatan beliau semakin menurun dan tidak dapat pulih kembali seperti semula. Hal ini terjadi pada tahun 1968, ketika beliau berada di Purwokerto. Kemudian beliau pensiun setelah mengalami sakit tersebut dan meninggal dunia pada tanggal 24 Mei 1974 di Krucil.

Tuan Ahmad Rusydi mempunyai 7 orang anak, terdiri dari 6 orang laki-laki dan seorang perempuan. Diantara putera laki-laki beliau, ada yang sempat belajar di Jamiah Ahmadiyah Rabwah dan menjadi mubaligh Markazi. Beliau adalah tuan Ahmad Basyiruddin putera kedua beliau, lahir di Banjarnegara pada tahun 1952. Beliau belajar di Rabwah selama 8 tahun, yaitu sejak tahun 1978 sampai tahun 1986. Beliau dapat menjalankan tugas sebagai seorang mubaligh hanya kurang lebih 3 tahun, karena menderita liver dan hipertensi yang menyebabkan meninggal dunia. Beliau meninggal pada tahun 1989 di Jakarta.7

B. Proses Masuk di Kabupaten Banjarnegara

Ajaran Ahmadiyah pertama kali masuk di Kabupaten Banjarnegara pada tahun 1952, tepatnya di dusun Krucil. Dari dusun kecil ini, bibit-bibit ajaran Ahmadiyah mulai ditanamkan dan berkembang. Dusun Krucil merupakan bagian dari desa Winong, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara. Terletak sekitar 8 Km sebelah barat kota Banjarnegara. Ketika ajaran Ahmadiyah masuk di dusun krucil, masyarakat pada umumnya sudah mengikuti ajaran salah satu organisasi Islam yang sudah ada yaitu PSII. PSII masuk di dusun Krucil pada tahun 1927, yang dibawa oleh ulama dari kampung lain. Mereka menyebarkan pemahaman PSII pada mayoritas warga Krucil. Dengan demikian masyarakat Krucil sudah terbiasa menjalankan ibadah dan mengamalkan ajaran Islam.

Pada tahun 1952 tuan Ahmad Rusydi mulai memperkenalkan ajaran Ahmadiyah. Sampai tahun 1959 pertablighan masih secara kecil-kecilan atau dari rumah kerumah. Baru pada tahun 1960 pertablighan dibuka secara besar-besaran. Hal ini diawali ketika ada seorang ulama dari kampung lain, ingin memasukkan suatu paham baru dan ingin menjadi imam masjid. Karena tidak sesuai dengan pemahaman mereka, warga menolak. Tuan Ahmad Rusydi yang pada waktu itu sudah menjadi imam masjid, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertabligh secara terang-terangan. Hal ini juga didukung beberapa tokoh masyarakat yang telah mengenal Ahmadiyah lebih dahulu. Diantaranya Bp. Ahmad Dahlan, Bp. Harjono, Bp. Sudirjo dan Bp. Sukarjo. Mereka mengambil inisitif untuk mengadakan suatu pengajian akbar, dengan pembicara tuan Ahmad Rusdi. Pada tanggal 22 Juni 1960 diadakan tabligh akbar, yang dihadiri pula oleh Bp. Utusan Mian Abdul Hayyee HP. Setelah pengajian tersebut mereka semakin yakin akan kebenaran Ahmadiyah. Pada malam Selasa tanggal 24 Juni 1960 terjadi peristiwa yang bersejarah, yaitu bai’at masal. Sekitar 70 orang menyatakan bai’at menerima kebenaran Ahmadiyah.8

Pada tahun 1960 Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia, meresmikan pembentukan cabang Banjarnegara yang berkedudukan di Krucil. Pada masa awal tersebut terbentuk kepengurusan yang terdiri dari:

  1. Ketua cabang: Bp. Ahmad Dahlan.
  2. Sekrataris Khas: Bp. Hadi Wardoyo.
  3. Sek. Tar/T. Jadid: Bp. Harjono.
  4. Sek. Umur Amah: Bp. Sudirjo.
  5. Sek. Maal/Muhasib: Bp. Sukarjo.9

Para pengurus yang baru dibentuk ini mulai menjalankan tugas, dengan bimbingan tuan Ahmad Rusdi. Untuk membina cabang baru ini, dikirim para muballigh dan muallim yang ditugaskan ditempat ini secara periodik. Berikut para Mubaligh/Muallim yang pernah bertugas di Cabang Banjarnegara:

  1. Bp. Abdul Hasan: Tahun 1968- [Purwokerto dan sekitar]
  2. Bp. Yahya Sumantri: Tahun -1983
  3. Bp. Mughni: Tahun 1983-1988
  4. Bp. Tatang Hidayatullah: Tahun 1988-1992
  5. Bp. Cece Tahir Ahmad: Tahun 1992-2000
  6. Bp. Nurhadi: Tahun 2000-

Untuk kelangsungan aktifitas dan hidupnya cabang, maka setiap periode selalu dipilih ketua cabang. Berikut para ketua cabang yang pernah terpilih yaitu : Bp. Ahmad Dahlan [tahun 1960-1980] dan Bp. Pono Edi Sumargo [tahun 1980-1985]. Kemudian pada tahun 1985 cabang Banjarnegara dibagi menjadi tiga cabang. Krucil [Bawang] yang sebelumnya merupakan pusat cabang Banjarnegara, menjadi cabang tersendiri. Tiga cabang tersebut yaitu, cabang Bawang, Madukara dan Banjarnegara, ketiga cabang itu sebelumnya merupakan ranting cabang Banjarnegara.10

C. Latar Belakang Penerimaan Terhadap Ajaran Ahmadiyah

Masyarakat Banjarnegara terutama yang ada di dusun Krucil, sebelum datang ajaran Ahmadiyah adalah simpatisan PSII. Sehingga khabar-khabar tentang Imam Mahdi yang ada dalam ajaran Islam, sedikit banyak telah mereka ketahui. Mereka sudah lama mendengar khabar ghaib dan berita-berita mengenai kedatangan Imam Mahdi, selain yang ada dalam ajaran Islam juga dari orang-orang terdahulu. Diantaranya mereka mempercayai waktu kedatangan Imam Mahdi itu adalah pada masa akhir zaman, dengan tandanya yang terkenal pada masyarakat Jawa yaitu: “Nanti diakhir zaman pulau Jawa akan dibelit kalung besi”. Makna dari kalung besi yaitu rel kereta api, jadi pulau Jawa mulai dari ujung barat sampai ujung timur akan dibelit oleh jalur rel kereta api. Rel kereta api telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan sampai sekarang masih aktif digunakan. Tanda berikutnya adalah tanda yang sudah terkenal khusus di Kabupaten Banjarnegara, yaitu “Gunung Tampo Mas besanan dengan Gunung Prahu”.11 Maksud dari tanda ini adalah, bahwa kedua gunung itu akan disatukan dalam satu tempat. Ini terbukti dengan adanya bendungan waduk Mrica sungai Serayu, yang mana material dari bendungan ini berasal dari gunung Tampo Mas yang terletak di selatan sungai Serayu. Sedangkan gunung Prahu terletak di pinggir sungai Serayu bagian utara, dimana material tersebut diletakkan. Dengan demikian kedua gunung tersebut telah menyatu dan berfungsi sebagai bendungan. Tanda atau khabar orang tua dahulu yang lainnya yaitu, “Mega Sari [salah satu nama tempat di dusun Krucil] akan tumbuh layur [bendera] nya”.12 Khabar ini merupakan tanda khusus daerah lokal dusun Krucil. Khabar ini pada masa lalu sepertinya suatu hal yang mustahil, karena Mega Sari sebelumnya merupakan satu tempat yang rimbun dan banyak ditumbuhi dengan pohon-pohon liar. Dengan keadaan ini sepertinya tidak mungkin “tumbuh layur” di tempat seperti itu. Ternyata keadaan yang sebelumnya seperti mustahil, sekarang telah terjadi. Mega Sari yang dahulu mirip hutan, sekarang telah menjadi tempat yang indah dan telah berdiri satu gedung sekolah dasar. Dengan berdirinya sekolah dasar, maka layur yang ada dalam khabar orang tua dahulu tersebut, sekarang selalu berkibar setiap hari, ini artinya layur telah tumbuh. Dengan tergenapinya khabar-khabar orang tua terdahulu tersebut, semakin menambah keyakinan mereka akan kebenaran kedatangan Imam Mahdi tersebut. Apalagi khabar-khabar tersebut tergenapi bersamaan dengan datangnya ajaran Ahmadiyah, yang membawa kepercayaan akan kedatangan Imam Mahdi.

Selain tanda-tanda kedatangan Imam Mahdi yang ada dalam khabar-khabar orang tua terdahulu, terdapat pula tanda-tanda yang ada dalam Al Quran, Hadits, atau literatur-literatur Islam. Tanda-tanda dari sumber tersebut juga mereka yakini, sehingga ketika dijelaskan oleh tuan Ahmad Rusydi, mereka dapat dengan segera mengerti dan selanjutnya menerimanya. Diantaranya ketika dijelaskan mengenai pertanda falak, yaitu berkenaan gerhana bulan dan matahari terjadi dalam satu bulan dan sudah ditentukan waktunya. Seperti yang terdapat dalam sebuah Hadits Darul Qutni, yaitu bahwa akan terjadi dua gerhana dalam satu bulan Ramadhan, pertama gerhana bulan pada malam pertama dan gerhana matahari pada hari pertengahan bulan itu. Tanda ini belum pernah terjadi semenjak Allah Ta’ala menciptakan langit dan bumi.13 Setelah mereka mendapat penjelasan yang cukup detail dari tuan Ahmad Rusydi, akhirnya mereka mengerti bahwa Imam Mahdi itu telah datang, dengan tergenapinya tanda-tanda tersebut.

Mayarakat Banjarnegara dapat bai’at dan menerima ajaran Imam Mahdi salah satunya memang karena telah tergenapinya tanda-tanda kedatangannya tersebut, tetapi ada sebab lain yang memperkuat keyakinan mereka. Masyarakat Banjarnegara memiliki adat “manutan” dan “nrimo” seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, dengan demikian mereka cenderung akan mengikuti apa yang dikatakan pemuka mereka. Sehingga ketika tuan Ahmad Rusydi menyampaikan ajaran Ahmadiyah, masyarakat lebih mudah menerimanya. Karena beliau merupakan pemuka di daerah tersebut. Lebih lagi diantara sebagian besar masyarakat Krucil, masih ada jalinan tali persaudaraan yang kuat, yang membuat mereka mudah disatukan dalam satu wadah seperti Jemaat Ahmadiyah.14

D. Reaksi Masyarakat Terhadap Ajaran Ahmadiyah

Ajaran Ahmadiyah datang di Kabupaten Banjarnegara ketika situasi masyarakat dalam keadaan aman dan tentram. Masyarakat tidak langsung menolaknya, bahkan mereka menjadi penasaran dan ingin tahu lebih jauh. Hanya segelintir orang saja yang tidak mau menerima ajaran Ahmadiyah ini. Walaupun mereka tidak mau menerima, tetapi mereka tidak memperlihatkan secara langsung, apalagi memberikan perlawanan. Mereka tidak tampil kemuka secara terang-terangan, tetapi menghasut secara diam-diam kesebagian masyarakat. Hal ini tidak memberikan pengaruh kuat, untuk mencegah terus tumbuh dan berkembangnya Jemaat Ilahi ini.

Suasana kondusif atas keberadaan Jemaat Ahmadiyah di kabupaten Banjarnegara berlangsung cukup lama. Dalam kurun waktu beberapa tahun perjalanannya, di cabang Banjarnegara tidak pernah ada suatu kejadian yang menggoncang keberadaan Jemaat. Sampai pada suatu waktu Allah Ta’ala berkehendak lain atas kondisi ini. Rupanya untuk memperlihatkan kadar keimanan setiap anggota Jemaat, perlu adanya suatu cobaan. Sudah menjadi Sunatullah, bahwa yang menunjukkan seseorang memiliki kwalitas keimanan atau tidak, salah satunya adalah dengan cobaan atau ujian. Keimanan seseorang diragukan jika dia tidak pernah mendapat cobaan dari Allah Ta’ala dan ini merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan derajat keimanan seseorang.15

Cobaan datang pada anggota Jemaat Ahmadiyah khususnya yang berada di dusun Krucil, terjadi sekitar tahun 1990.16 Pada waktu itu Krucil sudah terpisah dari cabang Banjarnegara dan telah menjadi cabang Bawang. Dimana di dusun Krucil terdapat seorang Kyai yang cukup keras menentang ajaran Ahmadiyah. Pada setiap kesempatan dalam forum umum, Kyai tersebut selalu menyampaikan fitnah dengan memburuk-burukkan ajaran Ahmadiyah. Diantaranya ia memfitnah bahwa Ahmadiyah keluar dari Islam, mempunyai Nabi baru, kiblat serta hajinya di Qadian dan masih banyak fitnahan lainnya.

Kyai tersebut adalah seorang pendatang yang memperoleh istri di dusun Krucil. Ia membawa ajaran salah satu golongan Islam, yang cukup keras menentang ajaran Ahmadiyah dan disebarkan kesebagian kalangan masyarakat. Selanjutnya dia membentuk satu komunitas pengajian, yang rutin kegiatannya. Dalam pengajian-pengajian tersebut tiada kesempatan yang terlewat, untuk memfitnah ajaran Ahmadiyah. Bahkan tidak hanya dalam forum intern mereka saja, dalam kesempatan pengajian yang umum sifatnya dan dihadiri oleh masyarakat diluar dusun Krucil, dia tetap melancarkan fitnahan dengan keras. Seperti dalam kesempatan pengajian memperingati Maulud Nabi Muhammad S.A.W., Isro Mi’raj atau lainnya. Tidak jarang dalam kesempatan tersebut menghadirkan Kyai seniornya yang sepaham dengan dia. Hal ini semata-mata untuk memperkuat fitnahan yang selalu dia sampaikan.17 Walaupun serangan ini terus datang setiap waktu, hal ini tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap keimanan setiap anggota Jemaat. Mungkin hanya ada sebagian kecil anggota yang kemudian sedikit menjauh. Rupanya cobaan atau ujian berupa fitnahan tersebut masih belum cukup kuat untuk menggoyahkan keimanan para anggota Jemaat. Sehingga pada puncaknya datang suatu fitnahan lebih besar lagi, yang disampaikan pada suatu kesempatan pengajian akbar. Dalam pengajian tersebut ia mengundang seorang juru fitnah kenamaan, yang sudah malang melintang dalam memfitnah Jemaat Ahmadiyah. Dia adalah Haryadi mantan muallim Jemaat Ahmadiyah Indonesia, yang dahulu dipecat karena pelanggaran nizam Jemaat. Dengan pengalamannya memfitnah Jemaat Ahmadiyah, diharapkan para anggota Jemaat Ahmadiyah dapat terpengaruh dan akhirnya murtad.

Program pertama untuk memurtadkan para anggota Jemaat, yaitu dengan mendatangi langsung ketiap-tiap rumah anggota untuk mempengaruhi. Dengan kesiapan dan keyakinan keimanan yang kuat, para anggota menunggu kedatangan Haryadi dirumah masing-masing. Ternyata yang ditunggu-tunggu tidak memperlihatkan batang hidungnya, bahkan keluar dari tempat menginapnyapun tidak. Program tersebut hanya gertakan untuk menakut-nakuti saja. Pada akhirnya sampai pada program utama, berupa pengajian akbar yang diselenggarakan pada malam hari. Banyak pula para hadirin yang datang ingin mendengarkan pengajian tersebut. Mereka datang dari desa-desa lain disekitar dusun Krucil. Diantara para hadirin hadir juga beberapa anggota Jemaat, mereka bertujuan memantau jalannya pengajian tersebut, agar dapat mengetahui apa sebenarnya yang akan disampaikan oleh Haryadi tersebut. Selain itu untuk mengantisipasi kemungkinan adanya tindakan anarkis akibat fitnahan yang disampaikan dalam pengajian tersebut. Sebelumnya para anggota Jemaat telah dibekali nasehat-nasehat oleh Bp. Muallim Tatang Hidayatullah, agar mereka jangan memberikan perlawanan atau komentar-komentar secara langsung dalam pengajian tersebut, apalagi dengan tindakan kekerasan. Beliau mengatakan bahwa tidak ada gunanya melayani para penentang ini, kita cukup mengawasinya saja. Untuk mendokumentasikan jalannya pengajian tersebut, salah seorang khadim Jemaat ada yang membawa alat perekam. Dalam kesempatan pengajian tersebut Haryadi mendapat kesempatan penuh untuk menyampaikan ceramahnya. Dia menceritakan pengalaman-pengalaman selama menjadi muallim Jemaat Ahmadiyah Indonesia, yang ternyata isinya hanya kebohongan dan fitnahan saja. Tidak ada satu bagianpun dari isi ceramahnya yang memberikan kebaikan kepada umat.

Sebagai akibat dari pengajian tersebut, ada sedikit timbul kesinisan dari kalangan masyarakat terhadap para anggota Jemaat. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama dan tidak memberikan dampak yang serius, karena setelah itu para anggota Jemaat banyak yang turun langsung memberikan klarifikasi atas fitnahan tersebut kepada masyarakat. Masyarakat mulai mengerti akan duduk permasalahan yang sebenarnya dan mereka mulai tidak menghiraukan lagi fitnahan tersebut. Mereka lebih suka hidup berdampingan dengan tenang dan damai seperti sebelumnya. Justru dengan pengajian tersebut memberikan pengaruh positif terhadap para anggota Jemaat. Kecintaan terhadap Jemaat semakin kuat, rasa persatuan dan kebersamaanpun lebih terasa.

Akibat buruk tidak akan menimpa Jemaat Ilahi ini, justru akibat buruk akan menimpa orang yang telah menghinakan Jemaat. Sebagaimana nubuatan yang diterima oleh Hadhrat Masih Mau’ud AS dari Allah Ta’ala, bahwa Allah Ta’ala sendiri yang akan membalas setiap orang yang menghina Hadhrat Masih Mau’ud A.S. dan Jemaat Nya dengan kehinaan yang lebih besar lagi.18 Dan benar saja nubuatan tersebut telah benar-benar terjadi menimpa sang Kyai sebagai dalang utama, orang yang menghadirkan Haryadi untuk menghina Jemaat Ilahi ini. Ia ditimpa berbagai macam bencana yang menghinakan, mulai dari masalah intern dalam kelompoknya yang menyebabkan dia diusir oleh murid-muridnya hingga masalah keluarga yang memalukan. Ia begitu bernafsu ingin memusnahkan ajaran Ahmadiyah dari dusun Krucil, bahkan dengan orang-orangnya. Justru akibat perbuatannya tersebut berbalik menimpa dirinya. Setelah sekian lama tinggal di dusun Krucil pada akhirnya dia sendiri meninggalkannya dan menetap di desa lain. Sampai sekarang [tahun 2004] sudah tidak ada lagi orang yang berani tampil kemuka secara terang-terangan untuk menentang ajaran Ahmadiyah. Masyarakat sudah bisa menilai mana ajaran yang memberikan dampak baik terhadap kehidupan dan kemaslahatan umum.19

Catatan Kaki

  1. Munawar Ahmad, dkk., Bunga Rampai Sejarah Ahmadiyah Indonesia (1925-200), (Bogor: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 2000), cet. ke-1, h. 146 

  2. Muhjidin, Sekretaris Maal Jemaat Ahmadiyah Cabang Bawang,** Wawancara Pribadi**, Banjarnegara, 18 Januari 2004 

  3. _ Ibid._ 

  4. _ Ibid._ 

  5. _ Ibid._ 

  6. Ashari, Tokoh Jemaat Ahmadiyah Cabang Bawang, Wawancara Pribadi, Banjarnegara, 5 Mei 2004 

  7. Ibid

  8. Munawar Ahmad, dkk, loc.cit. 

  9. Ibid

  10. Sukarjo, Tokoh Jemaat Ahmadiyah Cabang Bawang, Wawancara Pribadi, Banjarnegara, 14 Januari 2004 

  11. Suripto H.S., Ketua Jemaat Ahmadiyah Cabang Madukara, Wawancara Pribadi, Banjarnegara, 5 Februari 2004 

  12. Sukarjo, loc.cit. 

  13. Bashiruddin Mahmud Ahmad, Da’watul Amir, (Bogor: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1989), cet. ke-1, h.126. 

  14. Sukarjo, loc.cit. 

  15. Ghulam Ahmad, Nasihat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud Mengenai Bai’at, (Bogor: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1997), h. 77 

  16. Sunarni,** “Sejarah LI Cabang Bawang“**, Makalah Sejarah LI, (Banjarnegara: Perpustakaan Cabang Bawang, 2003), h.4, t.d. 

  17. Sukarjo, loc.cit. 

  18. Ghulam Ahmad, Al Wasiat, (Bogor: Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 2001), cet. ke-8, h. 42 

  19. Ibid.